top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Badan-Badan Otonom NU

    SINEAS Misbach Yusa Biran tak kuasa menolak penunjukan dirinya sebagai ketua Komisariat Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), lembaga kebudayaan milik NU, di Jakarta. Tapi dia juga mengajukan syarat: tak mau menjadi anggota partai. “Motivasi atau niat saya hanyalah melawan PKI/Lekra,” tulis Misbach dalam testimoninya untuk buku Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan karya Choirotun Chisaan. Lekra atau Lembaga Kesenian Rakyat adalah lembaga kebudayaan yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Lesbumi dimotori tiga seniman terkemuka saat itu: Djamaluddin Malik, pengusaha dan pendiri Perseroan Artis Indonesia (Persari); Usmar Ismail, sineas dan pendiri Persatuan Film Nasional Indonesia (Perfini); serta Asrul Sani, seorang sastrawan sekaligus sutradara.

  • Khotbah dari Menteng Raya

    KH Mohammad Dachlan, wakil ketua Tanfidiyah PBNU, merasakan hari-hari yang sibuk selama Desember 1953. Awal bulan depan nomor perdana Duta Masjarakat  harus terbit. Dia sudah mengirim surat edaran ke seluruh pengurus cabang NU untuk berlangganan. Namun, dia malah mendapat balasan berisi permintaan nomor perkenalan, brosur langganan, hingga keagenan. Tak ambil pusing, Dachlan kembali menerbitkan surat edaran tertanggal 16 Desember 1953 beserta 20 lembar siaran tentang penerbitan Duta Masjarakat . Dia berharap, “siaran ini Saudara-saudara pasang di masdjid-masjid, surau-surau, madrasah-madrasah, dan di tempat-tempat yang penting sehingga dapat dibaca umum.”

  • Palu Arit di Ladang NU

    AGAR bisa menampung kegiatannya yang kian bejubel, PBNU pindah kantor ke Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Letaknya strategis. Masyumi, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI) juga berkantor di Jalan Kramat Raya. Suatu hari, KH Faqih Usman, tokoh terkemuka Muhammadiyah di Masyumi, berkunjung dan melihat-lihat kantor PBNU. Dari jendela, dia melihat kantor PKI di seberangnya. “Lho, ternyata NU ini amat dekat dengan PKI, ya?” ujar Usman setengah menyindir. “Habis… Masyumi dan PNI saling menjauhi, makanya PKI kami hadapi setiap hari setiap saat.” Keduanya tertawa. Penuturan Saifuddin Zuhri dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren itu bukanlah candaan semata, setidaknya bagi NU. Sejak lama mereka antipati terhadap PKI.

  • Memenangkan Bumi yang Diikat

    SEBUAH undangan sampai ke tangan Ali Mansur, konsul PBNU Wilayah Nusa Tenggara, pada September 1955. Isinya, Penyelenggara Rapat Bersama mengundang cabang NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Masjumi di Lombok untuk membuat pernyataan bersama demi kemenangan umat Islam. Sontak, Mansur heran. Dia tak pernah berunding dengan Masjumi maupun PSII. Tak lama, datang dua pengurus PSII cabang Lombok. Mansur mengatakan NU tersinggung karena namanya dicatut. Dia juga menyebut bagaimana Masjumi kerap memfitnah NU dan pemimpin-pemimpinnya. “Dengarkah saudara bahwa mereka di mana-mana berkata Ahlussunah wal PKI ?” ujar Mansur, dalam laporannya yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

  • Partai Tanpa Sopir

    SUATU ketika, Rais Am Majelis Syuriah NU Wahab Chasbullah ditanya Isa Anshari, tokoh Masyumi, tentang kesiapan kader-kader NU yang akan duduk di dalam Partai NU. Wahab menjawab dengan pedas: “Kalau saya akan membeli mobil baru, dealer mobil itu tidak akan bertanya, ‘Apa tuan bisa memegang kemudi?’. Pertanyaan serupa itu tidak perlu, sebab seandainya saya tidak bisa mengemudi mobil, saya bisa memasang iklan ‘Dicari Sopir’. Pasti nanti akan datang pelamar-pelamar sopir antre di muka rumah saya.” Obrolan itu terjadi di meja makan kafetaria Parlemen pada 1952. Wahab kelihatannya sedang bercanda. Tapi sesungguhnya tidak. “Wahab Chasbullah menjadi motor keluarnya NU dari Masyumi. Dia ingin NU mengekspresikan aspirasi dan kepentingan politik lewat posisi politik formal,” kata sejarawan Greg Fealy kepada Historia .

  • NU Meninggalkan Masyumi

    MOHAMMAD Saleh, walikota Yogyakarta yang juga tokoh Masyumi (dari Muhammadiyah), bikin perkara. Dalam Kongres Masyumi di Yogyakarta pada Desember 1949, dia menyindir para kiai. “Politik adalah luas. Politik ini saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope -nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja. Dia luas menyebar ke seluruh dunia,” kata Saleh. Terang saja orang-orang Nahdlatul Ulama tak terima. Mereka protes keras dan menuntut Saleh mencabut perkataannya. Saleh bergeming. Sekitar 30 orang NU pun meninggalkan ruang kongres. Dalam kongres, menurut sebagian kalangan NU, ada di antara peserta yang tak memperlihatkan rasa hormat kepada ulama. Peserta ini menganggap lulusan sekolah Belanda lebih superior ketimbang lulusan sekolah agama.

  • Bangkitlah Kaum Ulama

    SEJUMLAH orang berkumpul di rumah KH Abdul Wahab Chasbullah di Kampung Kertopaten, Surabaya. KH Hasjim Asy’ari, pendiri pesantren Tebuireng dan kiai yang sangat dihormati di Jawa, memimpin pertemuan. Mereka membahas perkembangan Islam, menyusul naiknya Abdul Aziz Ibnu Saud yang berfaham Wahabi sebagai penguasa baru Hijaz (Saudi Arabia). Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk Komite Merembuk Hijaz, yang hendak dikirim untuk menyampaikan pesan kepada Ibnu Saud agar memelihara tradisi dan praktik keagamaan di luar mainstream . Mereka menunjuk KH R. Asnawi dari Kudus dan KH Bisri Sjansuri dari Jombang sebagai delegasi ke Hijaz. Masalahnya, apa organisasi yang bertindak sebagai pengirim delegasi?

  • Derap Laju Partai NU

    SALAH satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU). NU bak bunga di taman yang dikerubuti kumbang-kumbang. Organisasi ini bukan partai politik tapi memainkan peran politik yang cukup penting di tengah arena pertarungan perebutan kekuasaan. Namun, sejak dibentuk sebagai organisasi sosial-keagamaan pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama (NU) tak begitu saja melepaskan perhatian pada isu dan kepentingan politik. Hingga pada satu titik, tahun 1952, ia keluar dari Masyumi dan menyatakan diri sebagai partai politik. Namun, selalu tak mudah menilai watak politik NU. Sebagian pengamat menilainya oportunis, sebagian yang lain menganggapnya luwes dan akomodatif. Pada kenyataannya, sikap apapun yang diambil tak bisa menyelamatkan NU dari permainan culas kekuasaan. Ia tak diberi porsi yang proporsional dari rezim yang dibelanya, dikucilkan, dipaksa berfusi dengan partai Islam lain, hingga digerogoti pengaruhnya sehingga harus mengambil keputusan untuk kembali ke Khittah 1926. Di dalam dirinya, NU juga tak bisa menghindari diri dari perbedaan pandangan dan orientasi, yang kemudian mewujud dalam apa yang dikenal sebagai NU kultural dan NU politik. Kini, yang disebut terakhir bertebaran di sejumlah partai, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Itulah yang membuat kami tertarik membahasnya: menampilkan masa lalu NU sebagai partai politik. Benar NU punya hubungan dengan PKB, namun seringkali lakon politik PKB tidak selamanya sejalan dengan NU. Masing-masing memainkan perannya. Maka, dalam laporan khusus ini kami hadirkan NU sebagai partai politik: Partai NU, juara kedua dalam Pemilu 1955. Menuliskan perjalanan partai nahdliyin ini dalam rentang sejarah di Indonesia, mulai Pemilu pertama 1955 sampai dengan Pemilu 1971, pemilu pertama di masa Soeharto sekaligus Pemilu multipartai terakhir sebelum akhirnya NU dilebur ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Liputan khusus ini sebuah ikhtiar untuk menelusuri peran politik yang dimainkan oleh NU dan sejauh mana peran itu mendatangkan hasil baik bagi NU sendiri maupun bagi bangsa Indonesia. Berikut ini laporan khusus Partai NU Bangkitlah Kaum Ulama NU Meninggalkan Masyumi Partai Tanpa Sopir Memenangkan Bumi yang Diikat Palu Arit di Ladang NU Khotbah dari Menteng Raya Badan-Badan Otonom NU NU Mengamankan Benteng Pertahanan Dasar NU Mendukung Bung Karno NU Seteru Orde Baru Setelah Lama Berpuasa Perburuan Sembilan Bintang

  • Empat Tokoh Islam di Indonesia

    EMPAT tokoh Islam berikut ini berperan besar dalam menjaga dan memperbarui Islam di Indonesia. Mereka mendirikan organisasi Islam sebagai sarana perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. KH Ahmad Dahlan Melampaui Abduh ”Sejak umur 15 tahun, saat saya berdiam di rumah Tjokroaminoto,” cerita Bung Karno, “saya telah terpukau dengan KH Ahmad Dahlan.” Bung Karno bahkan menjadi anggota Muhammadiyah dan pernah menyatakan keinginan “dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan.” Muhammadiyah, salah organisasi Islam terpenting di Indonesia, didirikan Ahmad Dahlan pada 18 November 1912. Tujuannya, “menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputera” dan “memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya”. Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan, kesehatan, dan pendidikan ketimbang politik. Dari ruang gerak terbatas di Kauman, Yogyakarta, organisasi ini kemudian meluas ke daerah lain, termasuk luar Jawa. Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1 Agustus 1868 dengan menyandang nama kecil Muhammad Darwis. Ayahnya, KH Abubakar, seorang khatib masjid besar di Kesultanan Yogyakarta, sedangkan ibunya, Siti Aminah, putri seorang penghulu. Praktis, sejak kecil, dia mendapat didikan lingkungan pesantren serta menyerap pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ketika menetap di Mekah, di usia 15 tahun, dia mulai berinteraksi dan tersentuh dengan pemikiran para pembaharu Islam. Sejak itu, dia merasa perlunya gerakan pembaharuan Islam di kampung halamannya, yang masih berbaur dengan sinkretisme dan formalisme. Mula-mula dengan mengubah arah kiblat yang sebenarnya, kemudian mengajak memperbaiki jalan dan parit di Kauman. Robert W Hefner, Indonesianis asal Amerika Serikat, menyebut Dahlan merupakan sosok pembaharu Islam yang luar biasa di Indonesia, bahkan pengaruhnya melampaui batas puncak pemikiran Muhammad Abduh dari Mesir. Ahmad Dahlan wafat di Yogyakarta pada 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta. Ahmad Surkati Mempercepat Kemerdekaan Dalam Muktamar Islam I di Cirebon pada 1922, terjadi perdebatan antara Ahmad Surkati dari Al-Irsyad dan Semaun dari Sarekat Islam Merah. Temanya mentereng: “Dengan apa Indonesia ini bisa merdeka. Dengan Islamismekah atau Komunisme?” Perdebatan berlangsung alot. Masing-masing kukuh pada pendapatnya. Toh, ini tak mengurangi penghargaan di antara mereka. “Saya suka sekali orang ini, karena keyakinannya yang kokoh dan jujur bahwa hanya dengan komunismelah tanah airnya dapat dimerdekakan,” ujar Surkari. Ahmad Surkati dilahirkan di pulau Arqu, daerah Dunggulah, Sudan, pada 1875. Sempat mengenyam pendidikan di Al-Azhar (Mesir) dan Mekah, Surkati kemudian datang ke Jawa pada Maret 1911. Ini bermula dari permintaan Jami’at Khair, organisasi yang didirikan warga keturunan Arab di Jakarta, untuk mengajar. Karena ketidakcocokkan, dia keluar serta mendirikan madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah di Jakarta pada 6 September 1914. Tanggal pendirian madrasah itu kemudian menjadi tanggal berdirinya Perhimpunan Al-Irsyad. Tujuan organisasi ini, selain memurnikan Islam, juga bergerak dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Sejarawan Belanda G.F. Pijper dalam Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950  memandang hanya Al-Irsyad yang benar-benar gerakan pembaharuan yang punya kesamaan dengan gerakan reformis di Mesir sebagaimana dilakukan Muhammad Abduh dan Rashid Ridha. Dengan demikian, Surkati juga seorang pembaharu Islam di Indonesia. Sukarno bahkan menyebut Surkati ikut mempercepat lahirnya kemerdekaan Indonesia. Ahmad Surkati wafat pada 6 September 1943. Sejak itu, perkembangan Al-Irsyad tersendat, sekalipun tetap eksis hingga kini. Ahmad Hasan Rujukan Kajian Islam Sekalipun kerap berpolemik, Bung Karno pernah berpolemik dan melakukan surat-menyurat dengan Ahmad Hassan, sebagaimana tersurat dalam surat-surat dari Endeh dalam buku di Bawah Bendera Revolusi . Tak heran jika Bung Karno begitu menghargai pemikiran Islam Hassan. Nama kecilnya Hassan bin Ahmad, lahir di Singapura pada 1887 dari keluarga campuran, Indonesia dan India. Semasa remaja dia melakoni beragam pekerjaan; dari buruh hingga penulis, di Singapura maupun Indonesia. Hassan pernah tinggal di rumah Haji Muhammad Junus, salah seorang pendiri Persatuan Islam (Persis), di Bandung. Ketika pabrik tekstilnya tutup, dia mengabdikan diri di bidang agama dalam lingkungan Persis, dan segera popular di kalangan kaum muda progresif. Di Bandung pula Hassan bertemu dengan Mohammad Natsir, kelak jadi tokoh penting Persis, yang kemudian bersama-sama menerbitkan majalah Pembela Islam  dan Al-Lisan . Dia juga mendirikan pesantren Persis, di samping pesantren putri, untuk membentuk kader, yang kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur. Persis didirikan di Bandung pada 12 September 1923 oleh aktivis keagamaan yang dipimpin Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus, keduanya pedagang. Dalam Persatuan Islam: Pembaharuan Islam Indonsia Abad XX , Howard M. Federspiel menulis bahwa Persis adalah organisasi biasa, kecil, tak kukuh serta tak bergigi dalam percaturan politik saat itu. Namun, Persis berusaha keras memperbarui umat Islam saat itu yang mengalami stagnasi pemikiran dan penuh bid’ah, tahayul, dan khurafat. Ahmad Hasan dikenal sebagai ulama pembaharu. Pikiran-pikirannya sangat tajam dan kritis terutama dalam cara memahami nash (teks) Alquran maupun hadits. Keahliannya dalam bidang hadits, tafsir, fikih, ushul fiqih, ilmu kalam, dan mantiq menjadikannya sebagai rujukan para penanya dan pemerhati kajian Islam. Dia juga ulama yang produktif menulis. Ahmad Hassan tutup usia pada 10 November 1958 dalam usia 71 tahun. KH Hasyim Asy'ari Menjaga Tradisi Pesantren “Jangan kamu jadikan semuanya itu menjadi sebab buat bercera-berai, berpecah-belah, bertengkar-tengkar, dan bermusuh-musuhan... Padahal agama kita hanya satu belaka: Islam!” ujarnya dalam kongres Nahdlatul Ulama di Banjarmasin, Kalimantan, pada 1935. KH Hasyim Asy’ari sadar perlunya menghapus pertentangan antara kalangan tradisi maupun pembaharu. Lahir pada 14 Februari 1871 di Desa Nggedang-Jombang, Jawa Timur, Hasyim Asy’ari adalah pendiri Nahdlatul Ulama, artinya kebangkitan ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dia mendirikannya bersama Kyai Wahab Chasbullah pada 31 Januari 1926 guna mempertahankan faham bermadzhab dan membendung faham pembaharuan. Hasyim pernah belajar pada Syaikh Mahfudz asal Termas, ulama Indonesia yang jadi pakar ilmu hadis pertama, di Mekah. Ilmu hadits inilah yang kemudian menjadi spesialisasi Pesantren Tebuireng, yang kelak didirikannya di Jombang sepulangnya dari Tanah Suci. Lewat pesantren inilah Hasyim melancarkan pembaharuan sistem pendidikan keagamaan Islam tradisional. Dia memperkenalkan pengetahuan umum dalam kurikulum pesantren, bahkan sejak 1926 ditambah dengan bahasa Belanda dan sejarah Indonesia. Dalam buku Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai , Zamakhsyari Dhofier manggambarkan Hasyim Asy’ari sebagai sosok yang menjaga tradisi pesantren. Di masa Belanda, Hasyim bersikap nonkooperatif. Dia mengeluarkan banyak fatwa yang menolak kebijakan pemerintah kolonial. Yang paling spektakuler adalah fatwa jihad: “Wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia berperang melawan Belanda.” Fatwa ini dikeluarkan menjelang meletusnya Peristiwa 10 November di Surabaya. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947. Dalam perjalanannya, Nahdlatul Ulama larut dalam politik praktis hingga akhirnya kembali ke khitah 1926.*

  • Ketika Pejabat jadi Bulan-bulanan Massa Rakyat

    SEJUMLAH anggota DPR RI jadi bulan-bulanan masyarakat akibat pernyataan dan tindakan kontroversial mereka melukai hati yang berujung pada gejolak pada akhir Agustus 2025 lalu. Tak hanya kediaman mereka disatroni dan dijarah massa, mereka juga dipermalukan para warganet di aneka media sosial.    Setidaknya ada lima anggota DPR yang lantas dinonaktifkan partai masing-masing usia gelombang demonstrasi yang berakhir ricuh dengan bentrokan massa demonstran dengan aparat keamanan. Selain Ahmad Sahroni dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem), lainnya adalah Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio, Nafa Urbach, dan Surya Utama (Uya Kuya) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), serta Adies Kadir dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar).

  • Orang Indonesia dalam Perang Korea

    KINI, lebih banyak orang tahu nama artis-artis K-Pop dibanding jurnalis Mochtar Lubis sebagai orang Indonesia yang pernah berada di Korea saat terjadi perang saudara di sana. Mochtar yang ke sana untuk meliput Perang Korea, kemuudian merilis sebuah buku berjudul Catatan Perang Korea. Namun, lebih sedikit lagi orang yang mengetahuibahwa selain Mochtar Lubis sebenarnya ada orang Indonesia lain di perang tersebut. Mereka sebagai tentara Kerajaan Belanda, yang merupakan bagian dari kubu Blok Barat pimpinan Amerika Serikat bersama Korea Selatan. Mereka melawan Korea Utara yang disokong Blok Timur (Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok) dalam perang tersebut.

  • Mahatma Gandhi, Pejuang tanpa Kekerasan

    MOHANDAS Karamchand Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat, sebelah barat India. Ayahnya menjabat perdana menteri di negara bagian tersebut, dan keluarganya banyak bekerja untuk pemerintah kolonial Inggris. Semasa kecil hingga beranjak remaja, Gandhi dikenal penakut. Dia takut ular, hantu, pencuri dan kegelapan. Sebagai penganut Hindu Waisnawa yang memuja Rama, dia diajarkan oleh Rambha, pembantu setianya, agar menyebut nama Rama untuk mengatasi ketakutan. “Penangkal yang efektif mengatasi ketakutan,” tulis Pascal Alan Nazareth dalam Keagungan Kepemimpinan Gandhi .

bottom of page