top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jepang Datang, Tentara Belanda Lari Tunggang Langgang

    LETNAN Didi Kartasasmita bingung. Setelah susah payah membawa pasukannya berlayar 18 jam dari Bula ke Ambon, dia tak mendapat penjelasan apa-apa dari komandan batalionnya, Letkol Kapitz. “Saya sudah mulai bingung, sebab tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Saya terus menunggu perintah dari komandan teritorial,” ujarnya dalam otobiografi Didi Kartasasmita: Pengabdian Bagi Kemerdekaan karya Tatang Sumarsono. Didi kemudian menjabat panglima Komandemen I Jawa Barat.

  • Pulihnya Kekuasaan Melayu

    KABAR proklamasi kemerdekaan Indonesia baru sampai ke Sumatra pada Oktober 1945. Tengku Muhammad Hasan, yang diangkat jadi gubernur, berusaha menjalankan pemerintahan lokal. Namun, tantangan datang dari sultan-sultan Melayu, yang bukan hanya tak mengakui eksistensi Republik Indonesia, tetapi juga membentuk Perkumpulan Anak Deli Islam untuk melindungi kerajaan. Untuk merangkul pihak kerajaan, Hasan mengangkat orang-orang kerajaan sebagai pejabat pemerintah. Hasan juga mengatakan Republik siap mengakui posisi istimewa raja-raja sebagai pengganti dukungan mereka kepada Republik. Tawaran itu tak mendapat tanggapan. Para pemuda gerah dengan kondisi ini. Meletuslah revolusi sosial pada Maret 1946.

  • Kompeni Bubar Karena Korupsi

    TIDAK kurang dari 290 kapal Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC, Verenigde Oostindische Compagnie, biasa disebut Kompeni) tenggelam di lautan Indonesia. Selain pertempuran dengan kongsi dagang pesaingnya maupun dengan penguasa-penguasa Nusantara, banyak kapal karam karena kelebihan muatan dengan barang dagangan pribadi. Perdagangan pribadi atau perdagangan gelap merupakan salah satu bentuk korupsi pejabat VOC. Korupsi sebagai penyebab keruntuhan membuat VOC diplesetkan menjadi Vergaan Onder Corruptie  (Runtuh Lantaran Korupsi).

  • Ilmuwan Perang Dunia II dalam Pengembangan AI

    SAAT ini banyak orang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) untuk banyak hal, mulai dari mencari lokasi, mengatur keuangan, membantu menyelesaikan pekerjaan hingga sarana untuk edukasi. Namun, lebih dari delapan dekade lalu gagasan pengembangan kecerdasan buatan dianggap sebagai hal yang sulit, jika tidak bisa dibilang mustahil. Ilmuwan yang berperan dalam pengembangan kecerdasan buatan adalah Alan Mathison Turing. Ia dikenal sebagai ilmuwan yang membantu Sekutu memenangkan Perang Dunia II. Kriptografer di Sekolah Kode dan Sandi Pemerintah Inggris di Bletchley Park itu berpandangan bahwa sebuah mesin komputasi abstrak yang terdiri dari memori tak terbatas dan pemindai yang bergerak bolak-balik melalui memori, simbol, dan mampu membaca apa yang ditemukan serta menulis simbol-simbol tambahan mungkin akan tercipta. Pria kelahiran London, 23 Juni 1912 itu mengembangkan gagasannya mengenai sebuah mesin universal sejak tahun 1930-an sebelum Perang Dunia II. “Saat ini, mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bahwa komputer dapat menggantikan mesin lain, baik untuk pencatatan, fotograf, desain grafis, telepon, surat menyurat, atau musik, melalui perangkat lunak yang tepat yang diciptakan dan dijalankan... Namun, universalitas seperti itu belum terlihat seperti hal yang mungkin bagi siapa pun di tahun 1930-an... untuk menjadi komputer serbaguna, komputer harus memungkinkan penyimpanan dan penguraian program,” tulis matematikawan Inggris, Andrew Hodges dalam Alan Turing: The Enigma. Pengembangan komputer atau mesin elektronik universal membutuhkan tingkat kerumitan logika tertentu. Logika tersebut, yang pertama kali dibuat oleh Alan Turing pada 1936, diimplemetasikan secara elektronik pada 1940-an. Saat ini diwujudkan dalam microchip , yang merupakan ide matematis dari mesin universal. “Pada 1930-an, hanya segelintir kecil ahli logika matematika yang dapat memahami ide-ide Turing. Namun, di antara mereka, hanya Turing sendiri yang memiliki dorongan praktis, mampu beralih dari penjelasan definitif ke rekayasa perangkat lunak tahun 1946: ‘Setiap proses yang diketahui harus diterjemahkan ke dalam bentuk tabel instruksi.’... Donald Davies, salah satu rekan Turing pada 1946, kemudian mengembangkan tabel instruksi untuk ‘ packet switching ’, dan ini berkembang menjadi protokol internet,” jelas Hodges. Gagasan mengembangkan mesin cerdas tidak berhenti meski Alan Turing terlibat dalam upaya memecahkan sandi dan kode musuh pada masa Perang Dunia II. Di Bletchley Park, Turing menggambarkan ide tentang mesin cerdas dengan merujuk pada catur. Secara teori, komputer yang diprogram untuk bermain catur dapat bermain dengan mencari secara menyeluruh melalui semua langkah yang tersedia, tetapi secara praktis tidak mungkin karena akan melibatkan peninjauan jumlah langkah yang begitu banyak. Oleh sebab itu, heuristik diperlukan untuk mengarahkan pencarian yang lebih selektif. Meskipun Alan Turing bereksperimen dengan merancang program catur, ia harus puas dengan teori karena tidak memiliki komputer untuk menjalankan program caturnya. Dengan demikian, pengembangan program kecerdasan buatan baru dapat dilakukan dengan munculnya komputer elektronik digital yang dapat menyimpan dan menjalankan program. Sementara itu, menurut akademisi George F. Luger dan William A. Stubblefield dalam Artificial Intelligence and the Design of Expert Systems , salah satu artikel pertama yang membahas pertanyaan tentang mesin cerdas secara khusus dalam kaitannya dengan komputer digital modern ditulis Alan Turing pada 1950. Turing, yang dikenal karena kontribusinya terhadap teori komputabilitas, mempertimbangkan pertanyaan apakah mesin sebenarnya dapat dibuat untuk berpikir. “Menyadari bahwa ambiguitas mendasar dalam pertanyaan itu sendiri (Apa itu berpikir? Apa itu mesin?) menghalangi jawaban rasional, Turing mengusulkan agar pertanyaan tentang kecerdasan digantikan dengan uji empiris yang lebih jelas didefinisikan,” tulis Luger dan Stubblefield. Alan Turing mengukur kinerja mesin cerdas dengan membandingkannya dengan manusia, yang dianggap sebagai standar terbaik dan satu-satunya untuk meninjau perilaku dan kemampuan berpikir cerdas. Uji ini, yang disebut Turing sebagai imitation game , menempatkan mesin dan manusia dalam ruangan terpisah dari manusia lain yang disebut penguji atau interogator. Dalam proses pengujian ini, interogator tidak melihat atau berbicara langsung dengan keduanya, sehingga tidak tahu mana mesin mana manusia, dan hanya berkomunikasi dengan mereka melalui keyboard dan layar tampilan. Dalam uji ini interogator diminta membedakan komputer dari manusia hanya berdasarkan jawaban mereka atas pertanyaan yang diajukan melalui perangkat tersebut. Ia bebas mengajukan pertanyaan seluas mungkin, dan komputer diperbolehkan melakukan segala upaya untuk memberikan identifikasi yang tidak sesuai –misalnya, komputer mungkin menjawab “tidak” ketika ditanya “apakah Anda komputer?” dan mungkin menanggapi permintaan untuk mengalikan dua angka besar dengan jeda panjang dan jawaban yang salah. Di sisi lain, manusia yang menjadi lawan bicara harus membantu interogator untuk melakukan identifikasi yang benar. Jika interogator tidak dapat secara tepat membedakan mesin dari manusia, maka, menurut Turing, mesin tersebut dapat dianggap cerdas. “Dengan memisahkan interogator dari mesin dan peserta manusia lainnya, uji ini memastikan bahwa interogator tidak akan terpengaruh oleh penampilan mesin atau sifat mekanis apapun dari suaranya. Namun, pewawancara bebas melakukan tugas pemecahan masalah yang bersifat simbolis. Uji ini tidak dilakukan untuk menguji kemampuan yang memerlukan keterampilan perseptual atau ketangkasan manual, meskipun komponen-komponen ini penting dalam kecerdasan manusia. Sebaliknya, kadang-kadang disarankan bahwa uji Turing secara tidak perlu membatasi kecerdasan mesin agar sesuai dengan pola manusia,” jelas Luger dan Stubblefield. Kecerdasan memang menjadi inti dari pengembangan AI, tetapi menurut ilmuwan komputer George Kuttickal Chacko dalam Robotics/Artificial Intelligence/Productivity , orientasinya lebih pragmatis daripada filosofis, di mana tujuan kecerdasan buatan adalah membuat komputer lebih berguna dan memahami prinsip-prinsip yang membuat mesin cerdas menjadi mungkin. Dalam hal ini, Alan Turing menyarankan bahwa mesin yang cerdas akan mampu membedakan antara jawaban sekelompok masalah yang diberikan oleh manusia dan mesin. Mesin Alan Turing, yang ditandai dengan kesadarannya akan dirinya sendiri, mencerminkan ciri khas pengetahuan yang diidentifikasi oleh Confusius bahwa, “ketika kamu tahu sesuatu, akui bahwa kamu tahu, dan ketika kamu tidak tahu sesuatu, akui bahwa kamu tidak tahu –itulah pengetahuan,” tulis Chacko.*

  • Aminah Cendrakasih Sebelum Jadi Mak Nyak

    MESKI punya glaukoma akibat diabetes dan lumpuh, Aminah Cendrakasih tetap hadir dalam film Si Doel The Movie  (2018), Si Doel The Movie 2  (2019), dan Akhir Kisah Cinta Si Doel  (2020). Aminah tetap memerankan Mpok Lela alias Mak Nyak, seperti dalam seri sinetron legendaris era 1990-an, Si Doel Anak Sekolahan . Sesulit apapun Aminah telah berjuang untuk membuat tiga film terakhirnya itu menjadi lebih hidup. Itulah yang dilakukan Aminah sebelum tutup usia pada 21 Desember 2022.

  • Cahaya Kristus di Pulau Nias

    NIAS sedang mengalami kesulitan hari ini. Harga barang melonjak meski pulau itu tidak terendam banjir seperti di Tapanuli, Sumatra Selatan. Penyebabnya, ketergantungan perekonomian Pulau Nias pada Tapanuli dengan pelabuhannya di Sibolga. Maka, harga barang-barang di Nias, yang lebih mahal dibandingkan di Sibolga sebelum banjir Tapanuli, kini menjadi semakin tinggi. “Jalur barang ke Nias nyaris dari Sibolga saja. Selama bencana ini barang-barang naik di Nias karena barang ke sana [kini] dikirim dari Padang,” kata Dian Purba, pengajar sejarah di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung.

  • Setelah Gowa Dihidupkan, Musuh Dijadikan Raja

    PERANG antara Kerajaan Gowa bersama kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan lain terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat aparat kolonial bereaksi cepat dengan mengirim pasukan Marsose pimpinan Letnan Hans Christoffel. Pasukan itu bertugas memburu raja-raja yang dianggap pemberontak itu.   Upaya tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Pada 21 Desember 1906, pasukan Marsose telah berhasil menyergap rombongan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang alias Sultan Husein yang bertakhta di Gowa di Sidenreng. Raja Gowa itu pun terpisah dari anak dan adiknya. Adik Sultan Husein I, Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, juga dibuat terluka.   “Karaeng Bontonompo luka ditembus peluru Belanda, akhirnya ditangkap dan ditawan,” catat Manai Sophian dalam Perang Gowa Terakhir .   Selain adik sultan yang mendapat luka, di bahu, anak Sultan Husein yang bernama Andi Mappanyuki juga terpaksa menyerah di Parepare. Buntut dari semua itu, Kesultanan Gowa dibekukan setelah Sultan Husein terbunuh pasukan Marsose. Pusaka kerajaan juga disita selama beberapa tahun sebelum dikembalikan lagi ke pihak kesultanan.   Anak dan adik Sultan Husein itu kemudian dibuang. Het Vaderland  tanggal 30 November 1909 menyebut, Karaeng Bontonompo dibuang ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Bersama Andi Mappanyuki keponakannya, menurut Soerabaijasch Handelsblad  tanggal 10 April 1931, Karaeng Bontonompo pernah pula dibuang ke Selayar. Namun Karaeng Bontonompo dikembalikan ke Makassar setelah masa-masa pembuangannya itu.   Di masa pembekuan Kesultanan Gowa itu, para Karaeng yang dulu bawahan sultan Gowa tetap menjadi pemuka di daerah-daerah masing-masing. Mereka tetap dihormati rakyat masing-masing.   Sementara, upaya perlawanan terhadap Belanda tak pernah mati meski mereka dikalahkan pada 1905. Masih banyak bangsawan yang berusaha melawan Belanda. Di antaranya dengan bersekutu dengan bandit bernama Tolo’ Daeng Mangasing dan kelompoknya.   Tolo dulunya juga prajurit Kesultanan Gowa dalam perang melawan Belanda. Setelah Gowa dibekukan, dia bergerak independen. Pada 1915, Tolo mengadakan perlawanan lagi.   Di Sungguminasa, Belanda menempatkan pasukan keamanan seperti polisi bersenjata –yang terdiri mantan tentara– setelah 1905 di bawah Sersan Johan Rembet. pasukan polisi bersenjata Sersan Johan Rambet itulah kemudian kelompok Tolo’ diburu dan disergap. Tolo’ terbunuh tapi jadi legenda rakyat di Makassar. Salah satu keturunan pengikut Tolo’ dari garis ibu, Ihsan Harahap, sekitar 1915 menyebut: Tolo’ menjadi kata ganti untuk jago. Setelah lebih dari 20 tahun, pemerintah kolonial menghidupkan lagi beberapa kerajaan yang pada 1905 melawannya. Tentu saja dengan menandatangani Korte Verklaring yang amat menguntungkan Belanda. Pada 1931, giliran Bone –yang setelah 1905 juga dihukum– dihidupkan kembali. Putra Sultan Husein dan keponakan Karaeng Bontonompo, yakni Andi Mappanyuki, dijadikan rajanya. Ibu dari Andi Mappanyuki adalah putri Raja Gowa La Parenrengi Sultan Ahmad.   Lima tahun kemudian, barulah Kesultanan Gowa yang berpusat di Sungguminasa dipulihkan. Karaeng Mandale, Karaeng Bontonompo, dan Arung Batu menjadi calon raja Gowa. Dari  ketiganya, kemudian Karaeng Bontonompo yang ditunjuk.   Karaeng Bontonompo dinobatkan sebagai raja Gowa dengan gelar Sultan Muhammad Tahir –sehingga nama lengkapnya menjadi I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir– pada 1 Januari 1937. Banyak pejabat Belanda, macam  HJ Koerts, mengetahui siapa dia. Diakuinya dalam Kenang-kenangan Pangrehpraja Belanda 1920-1942 , dirinya tahu bahwa Karaeng Bontonompo adalah saudara raja Gowa yang pernah melawan Belanda dan raja baru ini dulu terluka tembak. Untuk itu, Koerts pernah bertanya pada sang raja ketika dia baru dilantik, apakah dia dendam karena dulu ditembak.   “Walaupun ada ini, selamanya saya setia kepada Kompeni,” kata Karaeng Bontonompo sang raja Gowa baru itu kepada Koerts sambil mengangkat baju untuk memperlihatkan luka di bahunya.   Beberapa tahun setelah Karaeng Bontonompo naik takhta, tentara Jepang menyerbu Hindia Belanda. Nusantara pun menjadi bagian dari pendudukan tentara Jepang. Sang sultan tak bisa berbuat banyak dalam mengatur kerajaannya meski kondisi perekonomian amat buruk era Jepang ikut dirasakan Gowa. Dirinya berkuasa hingga 1947, ketika pemerintah Belanda sudah kembali ke Sulawesi Selatan.*

  • Perwira Prancis di Pemakaman Jenderal Soedirman

    PEMAKAMAN Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman di Semaki, Yogyakarta pada 29 Januari 1950 tidak hanya dihadiri oleh orang Indonesia. Biografi Djenderal Sudriman terbitan Biro Sedjarah Angkatan Darat menulis bahwa Mayor Jenderal Mollinger, perwakilan KNIL dan mantan lawan Sudirman, juga memberikan penghormatan terakhir kepada sang panglima. Selain Mollinger, ada seorang perwira Prancis yang turut melayat. Perwira Prancis tersebut adalah Letnan Kolonel Pierre André Ansidei. Solichin Salam dalam Djenderal Soedirman Pahlawan Kemerdekaan menulis bahwa Ansidei adalah seorang mayor. Namun, Journal officiel de la République Française , 24 September 1947 yang termuat di retronews.fr  menerangkan bahwa Ansidei seorang letnan kolonel. Meskipun Ansidei seorang perwira artileri, ia hadir di pemakaman Soedirman sebagai perwira peninjau utusan Konsulat Prancis yang diperbantukan pada UNCI (United Nations Commission for Indonesia).

  • Bintang Telenovela Venezuela di Layar Kaca Indonesia

    ARTIS Venezuela pernah memesona penonton Indonesia. Salah satunya bintang telenovela Gabriela Spanic. Ia sampai berkunjung ke Indonesia untuk menemui penggermarnya pada 2000. Gaby disambut bak ratu. Kemanapun ia pergi selalu dirubungi para penggemarnya.  “Saya senang berada di Indonesia. Hingga penerbangan selama 14 jam dari Venezuela ke Jakarta, lelahnya hilang semua,” tutur Gaby dalam bahasa Spanyol, seperti dikutip Bali Post , 2 April 2000.  Gabriela “Gaby” Spanic lahir di Ortiz, negara bagian Guarico, Venezuela, 10 Desember 1973. Gaby mempunyai saudari kembar, Daniela yang berprofesi sebagai model. Gabriela Spanic mengawali kariernya sebagai artis telenovela setelah memenangi kontes kecantikan Miss Guarico pada 1992. Namanya melejit di Indonesia setelah sukses membintangi telenovela La Usurpadora  pada 1998.  La Usurpadora ( Wanita Perampas Kekuasaan ) diproduksi oleh Televisa, rumah produksi telenovela asal Meksiko, sebanyak 102 episode. Ketika tayang di Indonesia pada 1999, serial telenovela ini lebih dikenal dengan Cinta Paulina yang tayang di stasiun televisi TPI setiap hari Senin sampai Jumat pukul 18.00-19.00. Dalam Cinta Paulina , Gaby berpasangan dengan aktor asal Meksiko, Fernando Colunga, yang dijuluki raja telenovela.  Cinta Paulina  berkisah tentang Paola Bracho dan Paulina Martinez, sepasang saudari kembar yang tak saling kenal. Paulina hidup miskin bersama ibunya di kota tepi pantai Cancun, Meksiko. Sementara itu, Paola diadopsi keluarga kaya yang kemudian dinikahi sebagai istri kedua oleh pengusaha tajir, Carlos Daniel Bracho, yang diperankan Fernando Colunga.  Konflik bermula ketika Paola tidak sengaja berpapasan di hotel mewah langganannya dengan Paulina yang bekerja sebagai pelayan hotel. Kesempatan itu dimanfaatkan Paola untuk memaksa dan menjebak Paulina untuk mengisi perannya di rumah keluarga Bracho. Paulina menyamar sebagai Paola di tengah keluarga Bracho, sedangkan Paola bersenang-senang dengan lelaki lain.  Gabriela Spanic dalam serial telenovela La Usurpadora . (IMDb). Namun, Paulina dengan karakternya yang tulus justru diterima oleh keluarga Bracho, termasuk Abuela Piedad (Libertad Amarque), nenek Carlos Daniel Bracho, serta Carlitos (Sergio Miguel) dan Lisette (Maria Solares), anak-anak Carlos Daniel Bracho dari pernikahan pertamanya dengan Elizabeth. Berbeda dengan Paola yang dibenci karena sifatnya yang arogan dan suka foya-foya, terutama oleh iparnya seperti Estafania (Chantal Andere), adik angkat Carlos Daniel Bracho. Jalan cerita kian pelik setelah Paola kembali dari plesirannya dan meminta Paulina untuk hengkang. Di sisi lain, Paulina telah berhasil merebut hati keluarga Bracho yang menginginkannya tetap tinggal.  Atas kepiawaiannya memainkan dua peran antagonis dan protagonis sekaligus di Cinta Paulina , masyarakat Indonesia terutama kaum ibu begitu menggandrungi sosok Gabriela Spanic. Selain itu, Gaby berparas jelita bak bidadari, dengan mata bulat dan senyum menawan khas wanita Venezuela. Begitu populernya telenovela yang dibintangi Gaby ini sampai melahirkan fenomena “demam Cinta Paulina” , ketika orang tak ingin melewatkan jam tayangnya dan sudah bersiap di depan televisi pukul enam sore.  “Gabriela Spanic atau Gaby yang dalam Cinta Paulina  berperan sebagai si jahat Paola sekaligus si baik Paulina, menjadi populer berkat La Ususpadora  yang telah ditayangkan di lebih dari 12 negara. La Usurpadora  yang ditayangkan di AS awal tahun 1999, menurut KMEX-TV termasuk disukai pemirsa dan berada di atas telenovela populer lainnya, Acapulco Cuerpo y Alma ,” lansir Kompas , 11 November 1999.  Miguel de Leon, aktor telenovela Venezuela, yang kemudian menjadi suami Gabriela Spanic. Berkunjung ke Indonesia   Pada 2000, Gabriela Spanic diundang ke Indonesia dalam rangka jumpa penggemar. Gaby menyinggahi sejumlah tempat wisata seperti Candi Borobudur, Candi Prambaranan, Keraton Yogyakarta, dan Malioboro. Setelah penayangan perdananya, Cinta Paulina ditayangkan bergiliran oleh stasiun televisi swasta Indonesia lainnya. Di stasiun televisi lokal seperti JTV Surabaya, telenovela ini bahkan ditayangkan dalam sulih suara bahasa Jawa.  Tak hanya di Indonesia, popularitas La Usurpadora  menyebar ke berbagai negara. Telenovela ini sukses dan dijual ke 57 negara. Menurut Bali Post , Gaby dan pasangan mainnya, Fernando Colunga diberi gelar superstar oleh Univision Communications Inc., jaringan televisi berbahasa Spanyol terbesar di Amerika. Dari polling yang mereka lakukan, Cinta Paulina terpilih sebagai telenovela terfavorit dan Gaby sebagai bintang utamanya menyabet gelar bintang yang paling digemari. Corraima Torres dalam serial Kassandra. (IMDb). Selain Gabriela Spanic, Miguel de Leon, yang tak lain suami Gaby sendiri, merupakan aktor asal Venezuela yang cukup dikenal di Indonesia. Aktor kelahiran Caracas ini paling diingat atas karakternya dalam serial telenovela Carita de Angel  yang tayang di RCTI pada 2000. Dalam C arita de Angel , Miguel berperan sebagai Luciano, ayah dari pemeran utama Dulcemaria (Daniela Aedo). Pernikahan Miguel dengan Gaby berakhir setelah mereka bercerai pada 2003.  Sebelum Gabriela Spanic, beberapa artis Venezuela lainnya juga berhasil merebut perhatian penonton Indonesia, seperti Coraima Torres dan Astrid Carolina Herrera. Coraima Alejandra Torres lahir di Valencia, Venezuela pada 1973. Ia dikenal atas peran utamanya dalam serial Kassandra  (1992) dan kemudian Suenosy Espejos ( Cermin Impian , 1995).  “Banyak permintaan dari pemirsa penggemar telenovela yang menanyakan kapan lagi SCTV menampilkan Kasandra (Corraima Torres) dalam telenovela yang lain. Namun, permintaan itu baru dapat kami penuhi sekarang,” ungkap Uki Hastama, humas stasiun televisi SCTV dikutip Berita Yudha , 27 Desember 1996.  Astrid Carolina Herera, saat menjadi Miss World 1984. Sementara itu, Astrid Carolina Herera termasuk artis Venezuela yang lebih dulu malang melintang dalam dunia telenovela. Astrid yang lahir di Caracas, Venezuela pada 23 Juni 1963 memenangkan kontes kecantikan dunia Miss World pada 1984. Setelahnya, ia membintangi sejumlah serial telenovela. Salah satunya yang paling terkenal di Indonesia ialah Morena Clara ( Si Cantik Clara ) pada 1995, yang tayang di SCTV pukul 11.00-12.00 WIB setiap Senin-Jumat. Astrid berperan sebagai Clara, pemeran utama, yang berkisah tentang perjuangan mencari jati diri sebagai anak yang terbuang. Tayang sebanyak 137 episode, serial ini termasuk telenovelanya yang paling sukses di dunia.  Astrid juga pernah berkunjung ke Indonesia pada 1995. Seperti dilansir Berita Yudha , 27 Juni 1995, kedatangan Astrid ke Indonesia dalam acara temu penggemar di Plenary Hall Jakarta Hilton Convention Center. Astrid mengunjungi sejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.  Namun, dari semuanya, Gabriela Spanic barangkali artis telenovela Venezuela yang paling dikenal dan berkesan bagi masyarakat Indonesia. Sampai saat ini, Gaby masih eksis di dunia hiburan Amerika Latin. Meski terlihat menua karena faktor usia, sisa-sisa kecantikannya masih terpancar.*

  • Asal-Usul Malioboro

    MALIOBORO merupakan jalan dan kawasan yang terkenal dan menjadi ciri khas Yogyakarta. Mungkin ada saja yang menebak asal nama ini –karena penulisan dan pelafalannya mirip– dari Marlboro, merek rokok produksi Philip Morris International.   Namun, bila dikaitkan dengan sejarah, umumnya menyebut Malioboro berasal dari nama Marlborough yang diberikan oleh Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Ternyata, ada nama lain yang lebih mungkin.  Menurut sejarawan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan , Raffles pertama kali berkunjung ke Yogyakarta pada 27–29 Desember 1811 untuk berunding dengan Sultan Hamengkubuwono II. Sultan meminta Raffles tidak membawa pasukan pengawal yang besar karena akan menimbulkan ketegangan.   Jika Raffles bersikeras membawa pasukan pengawal yang besar, maka akan menimbulkan perlawanan bersenjata dari kesultanan. Sementara Raffles meminta disambut dengan istimewa dan upacara penuh. Raffles membawa 400 serdadu (100 kavaleri dan 300 infanteri) ketika tiba di Yogyakarta pada 27 Desember 1811.   Peter Carey menyebut Raffles memasuki Kota Yogya lewat jalan raya utama (kelak jadi Jalan Malioboro) dengan pasukan Sultan sebanyak 10.000 memenuhi kedua sisi jalan lengkap dengan tombak dan bedil siap tembak. Kunjungan Raffles itu nyaris menjadi malapetaka. Dalam pertemuan di kamar singgasana Wisma Residen, Sultan menolak duduk di kursi yang disediakan untuknya, tetapi duduk di singgasana perak miliknya yang di bawahnya ditaruh dingklik sehingga bisa duduk lebih tinggi dari Raffles.  Ketika ajudan Raffles menyingkirkan dingklik itu dengan kakinya, beberapa pengawal Sultan menghunus keris. Para perwira Inggris pun masuk ke ruangan. Ketegangan itu berhasil dilerai oleh putra mahkota yang didukung Raffles.  Sultan Hamengkubuwono II menolak tunduk dan diatur oleh Raffles. Sultan menginginkan Mangkudiningrat sebagai penggantinya. Namun, Raffles menolak dan memilih Raden Mas Surojo yang naik takhta karena lebih ramah dan penurut dibanding ayahnya.  Intervensi Raffles berujung penyerangan dan penjarahan Keraton Yogyakarta yang dikenal dengan Geger Sepehi pada 20 Juni 1812. Sultan diasingkan ke Pulau Pinang (Malaysia). Putra sulungnya, Raden Mas Surojo diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono III yang bertakhta dua tahun.  Tim Hannigan dalam Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa menyebut bahwa di Yogyakarta, bukan ingatan pahit akan penjarahan dan penghinaan yang menjadi kenangan dari masa pemerintahan Inggris di Jawa, tetapi kisah populer tentang nama jalan yang ternyata tidak benar.  “Tanyalah kepada salah satu pemilik kios...di sepanjang trotoar Jalan Malioboro... dan mereka mungkin akan memberi tahu kita jalan tersebut diberi nama oleh orang Inggris –mungkin diambil dari nama merek rokok Amerika– pada suatu waktu terdahulu,” tulis Tim Hannigan. Namun, menurut Tim Hannigan, tidak ada catatan dalam sumber orang Inggris pada zaman itu mengenai pergantian nama jalan yang menuju Keraton Yogyakarta, dan pada dasawarsa kedua abad ke-19, Duke of Marlborough kecil kemungkinannya menjadi inspirasi untuk nama jalan kolonial.  “Malioboro tampaknya paling mungkin berasal dari malyabhara , istilah Sanskerta yang berarti ‘dihiasi dengan karangan bunga’ yang merujuk kepada para pelayan penyebar bunga yang menyambut Sultan ketika dia lewat jalan itu,” tulis Tim Hannigan.  Peter Carey dalam tulisannya tentang “Jalan Maliabara” di jurnal Archipel 27, 1984, menjelaskan bahwa pada masa lalu jalan Malyabhara (yang “berhiaskan karangan bunga”) adalah jalan di mana warga atau masyarakat Yogyakarta dapat menyambut atau melihat “tontonan” bilamana ada rombongan tamu asing yang akan berkunjung ke keraton Sultan Hamengkubuwono. Di beberapa tempat di kanan dan kiri jalan tersebut ditempatkan hiasan dari daun kelapa, musik gamelan, dan barisan pengawal keraton dengan tombak terhunus. Namun, ada pula sumber yang menyebut bahwa Malioboro, ruas jalan sepanjang kurang lebih 900 meter, berasal dari bahasa Jawa, maliyo atau "perubahan menjadi wali" dan  bara dari  ngumbara artinya "perjalanan atau pengembaraan".* Tulisan ini diperbarui pada 8 Mei 2024

  • Cikal Bakal Bursa Saham

    SEBAGAI salah satu jalan tertua di Amsterdam, Belanda, Warmoesstraat menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah, di antaranya kemunculan bursa saham pertama di dunia. Pada abad ke-16, Warmoesstraat tak hanya jalur transportasi penting, tetapi juga tempat tinggal para pedagang. Mereka hanya perlu ke luar rumah untuk bertemu pedagang lain atau melakukan transaksi jual beli. Seiring berjalannya waktu, makin banyak pedagang dari berbagai kota datang ke sana untuk berbisnis. Kawasan itu seakan tak pernah berhenti berdenyut, terlebih setelah Amsterdam menjadi pusat perdagangan di Eropa. Tak jarang para kuli angkut yang membawa gerobak kesulitan mencari jalan di antara kerumunan pengendara dan pedagang. Menyadari keadaan tersebut tidak dapat terus berlanjut, pada 1561 Dewan Kota menetapkan New Bridge sebagai tempat untuk berdagang. Di sana, selain melakukan transaksi, para penjual maupun pembeli juga bisa mengetahui berbagai informasi terkait pelayaran dan perdagangan berbagai perusahaan.

bottom of page