top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Sukarno Berdandan Perempuan

    PADA masa pembuangannya di Ende (1934–1938) dan Bengkulu (1939–1942), Sukarno tak hanya berdiam diri. Selain membaca buku tentunya, ia juga menulis naskah sandiwara. Hubungannya dengan sandiwara sudah terjalin sejak ia mondok di rumah H.O.S Tjokroaminoto , di Surabaya . Kala itu, Sukarno aktif dalam Jong Java yang sering mengadakan kegiatan sosial di kampung-kampung, sekolah, dan lokasi terdampak bencana alam. Untuk mengumpulkan uang demi menyokong kegiatan itu, Jong Java mengadakan pertunjukan sandiwara. Jong Java tidak banyak memiliki anggota perempuan. Sukarno yang tampan kelihatan seperti anak gadis. Maka, ia pun memerankan perempuan dalam banyak pertunjukan sandiwara. “Dan potonganku lebih banyak menyerupai seorang perawan cantik, kalau Jong Java mengadakan pertunjukan diserahi memainkan peran wanita. Aku betul-betul membedaki pipi dan memerahkan bibirku,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Untuk mendukung peran perempuannya itu, Sukarno menggunakan dua buah roti yang dimasukan ke dalam bajunya. Alhasil, jadilah payudara buatan yang membuat tubuhnya yang langsing semakin mirip perempuan. “Untunglah dalam peranku itu tidak termasuk adegan mencium laki-laki. Selesai pertunjukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu saja karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam baju dan kumakan,” kenangnya. Harsono Tjokroaminoto, anak H.O.S Tjokroaminoto juga terkenang dengan peran perempuan yang dilakoni Sukarno. Dalam Menelusuri Jejak Ayahku, Harsono menyebut bahwa Sukarno juga sering bermain sandiwara dalam acara-acara ulang tahun. Dari ulang tahun perkumpulan-perkumpulan di sekolah hingga organisasi. “Peran yang sangat digemari oleh beliau, anehnya bukan peran laki-laki melainkan justru peran sebagai wanita. Dengan badan yang tinggi, langsing orang tidak akan mengira kalau yang berperan itu seorang pria. Tetapi karena mendengar suaranya maka barulah penonton akan mengetahui bahwa yang berperan itu seorang pria sejati,” kata Harsono. Harsono sering kali dimintai bantuan oleh Sukarno untuk mencari roti dan rambut palsu. Saat itu susah sekali mencari rambut palsu karena termasuk barang langka. Yang ada hanyalah rambut palsu yang dirangkai dari benang. “Zaman dulu rambut palsu dibikin dari benang besar yang namanya suyet. Selain rambut palsu saya juga harus mencari dua buah roti karambol yaitu roti bulat yang berbentuk payudara wanita. Zaman sekarang roti karambol juga ada tetapi sekarang dinamakan roti manis, tanpa campuran kismis ataupun coklat. Dua buah roti karambol ini sangat dibutuhkan untuk dipasang pada dada beliau,” sebut Harsono. Kenangan Harsono itu membuatnya heran ketika Sukarno telah menjadi presiden. Kegemaran berperan sebagai wanita itu, menurutnya sangat berbanding terbalik dengan sosok Sukarno yang gagah dan disukai banyak perempuan ketika menjadi presiden. “ …sebab kalau dulu Bung Karno dalam masa remajanya dalam bermain sandiwara selalu ingin menjelma sebagai wanita, tetapi kemudian apalagi sesudah menjadi presiden beliau justru menjelma menjadi seorang perkasa seperti yang dikemukakan ibu-ibu, Bung Karno ‘ He is a man and that is why we like him ’,” katanya. Dari Surabaya, Sukarno membawa pengalaman bermain sandiwara ke pembuangan. Setidaknya ia membuat 12 naskah di Ende dan empat naskah di Bengkulu. Namun, dari semua naskah itu, tidak ada aktor perempuan yang dilibatkan. Peran perempuan dimainkan oleh laki-laki. Taufik Rahzen dalam diskusi bertajuk “ Drama Bung Karno ” di Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa, 30 Juni 2020 menyebut hal itu berasal dari tradisi ludruk yang bisanya hanya laki-laki yang bermain. “Kenapa perempuan tidak main dalam tonil-tonil Bung Karno itu mengikuti tradisi ludruk sebenarnya. Ludruk di Surabaya, kalau anda tahu, hanya laki yang main. Dan kalau perempuan, ya dimainkan oleh laki-laki,” kata Taufik. Sementara itu, Sukarno menyebut bahwa perkumpulan sandiwara di Ende hanya beranggotakan laki-laki karena para perempuan takut dituduh terlalu berani. Meski demikian, peran perempuan dalam sandiwara-sandiwara Sukarno, baik di Ende maupun Bengkulu, bukan berarti tidak ada. Menurut Taufik, perempuan pertama yang berjasa besar adalah Inggit Garnasih . Inggit Garnasih berhasil membuat gagasan dan ide Sukarno bisa tertuang dalam sandiwara. Periode ini disebut Taufik sebagai periode “Negara Teater”. Di mana Sukarno berada dalam dunia ide dan Inggit yang membantu menyalurkan ide-ide itu. “Inggitlah yang memungkinkan memproduksi seluruhnya. Memungkinkan membuat tonil Kelimutu, memungkinkan membuat tonil Monte Carlo di Bengkulu,” kata Taufik. Periode “Negara Teater” kemudian berubah menjadi “Teater Negara” setelah Sukarno bertemu Fatmawati . Dari dunia ide, Sukarno masuk ke dunia realitas pada periode ini berkat Fatmawati . Senada dengan Taufik, penggiat teater Faiza Mardzoeki juga menyebut bahwa Inggit memang memiliki peranan besar bahkan hingga hal-hal detil dalam sandiwara. “Peran Inggit itu harus ditulis lagi. Bahkan saya juga membaca, Inggit selalu juga melakukan penataan make up untuk terutama aktor (yang berperan) perempuan,” kata Faiza. Taufik menambahkan, meskipun tidak tampil di atas panggung, Sukarno justru menempatkan nilai-nilai yang memperjuangkan perempuan dalam naskah-naskahnya. “Peranan perempuan di dalam Sukarno itu besar, bukan hanya besar tapi amat besar sebenarnya. Dan seluruh dari karya-karya dia itu adalah karya yang mengidolakan (perempuan). Tanpa pemain (perempuan), tapi sebenarnya nilai-nilai dasar perempuan itu yang diperjuangkan atau yang muncul dalam karya-karya Sukarno,” kata Taufik.*

  • A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (2)

    Moving to the back of Petamburan Public Cemetery, we find one of the more magnificent graves. Although not as grand as Oen Giok Khouw's mausoleum, this grave is completely covered in marble. The gravestone is also large, providing a lot of information about the person buried there. Unfortunately, the glass frame holding the photo in the upper right corner of the gravestone is cracked, making the portrait unclear. "Here lies Dr. J.K. Panggabean. Age: 84 years old. Born: August 21, 1898 in Loboe Hole Tarutung. Died May 17, 1982 in Jakarta," reads the inscription on the tombstone. The same tombstone also bears J.K. Panggabean's titles and positions. They are listed as follows: Title of Sutan Mahopung Ompu Raja Pasang Batu II (a traditional title); Dr. Honoris Causa; MPRS (Provisional People's Consultative Assembly) in the Republic of Indonesia 1960-1968; Representative of HKPB (Batak Protestant Christian Church); GR. (teacher) Huria Menteng Lama HKBP; PT Piola Building. The last part of the tombstone describes J.K. Panggabean's extended family, which includes 16 children and in-laws, 60 grandchildren, and 12 great-grandchildren. The inscription on the gravestone closes with a verse from the Old Testament, Psalm 23:1.

  • Kiai Tunggul Wulung Menangkal Wabah Penyakit

    RAJA Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan pidato sapa aruh  untuk warga Yogyakarta dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19) pada 23 Maret 2020. “Berbeda dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata,” kata Sultan. “Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga. Menghadapi hal itu, kita selayaknya bisa menjaga kesehatan, laku prihatin, dan juga wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya.” Strategi mitigasi yang diambil Sultan dalam menghadapi bencana non-alam ini, bukan lock-down  melainkan calm-down  untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri, agar eling lan waspada . Sultan menjelaskan, waspada melalui kebijakan slow-down , yaitu sedapat mungkin memperlambat merebaknya pandemi penyakit corona, dengan cara reresik diri dan lingkungannya sendiri-sendiri. Kalau merasa kurang sehat harus memiliki kesadaran dan menerima kalau wajib mengisolasi diri pribadi selama 14 hari sama dengan masa inkubasi penyakitnya. Jaga diri, jaga keluarga, jaga persaudaraan. Jaga masyarakat, dengan memberi jarak aman, dan sedapat mungkin menghindari keramaian jika memang tidak mendesak betul. Bisa jadi kita merasa sehat, tapi sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa kita benar-benar sehat. Malah bisa jadi kita yang membawa bibit penyakit.

  • Sinema untuk Bangsa

    DI usia senjanya, Slamet Rahardjo Djarot tak mau menepi dari dunia seni. Dia masih menunjukkan kepiawaiannya sebagai aktor maupun sutradara. Dia naik pentas dalam pertunjukan teater. Setiap minggu, dia menyuguhkan guyonan bernada satir tentang perpolitikan di Indonesia dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta. Seniman serbabisa ini tak berhenti berkarya. Tak heran jika dia mendapat penghargaan Lifetime Achievement dalam Jogja Nefpac Asian Film Festival 2011 dan Festival Film Bandung 2012. Slamet Rahardjo, kini 64 tahun, memasuki dunia film lewat teater. Beberapa kali dia menerima Piala Citra, anugerah tertinggi insan perfilman tanah air, sebagai penata artistik, aktor, maupun sutradara. Sebagai tokoh perfilman, dia mengidolakan Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional . Usmar Ismail, lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 20 Maret 1921, dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, dan produser film. Pada 1950, dia keluar dari tentara dan uang pesangonnya digunakan untuk mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Ditemui di sesela kesibukannya, Slamet Rahardjo menyempatkan diri berbincang tentang idolanya. Sebagai seniman film, siapakah tokoh idola Anda? Jika tokoh idola dalam pemikiran, ya Sukarno. Tokoh idola dalam dunia teater ya Teguh Karya , wong saya ini muridnya. Namun, jika tokoh idola dalam dunia perfilman ya tentu saja Usmar Ismail . Dari film-film Usmar Ismail , saya belajar mengenai seluk-beluk pembuatan sebuah film, meski secara pribadi saya tak terlalu dekat dan belum sempat belajar langsung dari dia. Kapan pertama kali bersinggungan dengan sosok Usmar Ismail? Ya tentu saja pertama kali sebagai penonton. Ada beberapa filmnya yang saya suka, seperti Lewat Djam Malam , Enam Djam di Djogdja , Tiga Dara , dan Krisis . Saya juga pernah belajar di sekolah yang didirikan Usmar Ismail, yaitu Akademi Teater Nasional Indonesia (yang didirikan tahun 1955, dan menjadi akademi teater modern pertama di Asia Tenggara). Mengapa mengidolakan Usmar Ismail? Usmar Ismail adalah orang yang menyadarkan saya bahwa film bukan sekadar hiburan. Film adalah kredo atau pernyataan dari pembuatnya. Jika ingin membuat film, buka mata, pelajari kesusahan, pelajari kesuksesan, pelajari kehidupan dengan jernih. Harus jujur, jangan pura-pura. Seorang pembuat film tak dapat dihakimi oleh hakim; karyanya yang dapat menghakiminya. Jika seseorang membuat film sontoloyo , yang hanya bikin bodo rakyat, ya itulah harkat dia. Apa yang menarik dari sosok Usmar Ismail? Ada hal menarik yang pernah dia sampaikan: “Saya membuat film seukuran kesadaran nasionalisme saya. Saya membuat film dengan kesadaran bahwa ini adalah karya budaya. Saya ingin membuat film yang dekat dengan masyarakat karena saya seorang wartawan. Saya ingin bikin film yang berharkat dengan ceritanya karena saya seorang sastrawan. Dan, saya ingin membuat film dengan patriotisme karena saya seorang mayor.” Itu kan lengkap. Jadi ada alasan bagi saya untuk mengaguminya. Sejauh mana Usmar menginspirasi Anda? Usmar Ismail memberikan gambaran kepada saya bahwa film bisa digunakan sebagai nation character building . Misal, dia membuat film yang berpikiran Indonesia, problem indonesia, semangat membangun Indonesia. Dalam film saya, Ponirah Terpidana (1983), saya menggunakan simbolisasi situasi bangsa kala itu, saat Orde Baru, di mana tidak ada kebebasan untuk bicara. Akibatnya ya itu, Ponirah tetap sebagai terpidana, terbelenggu oleh kondisi. Film dapat menjadi vitamin jika dibuat dengan benar, dan bisa menjadi racun jika dibuat dengan sembrono.*

  • Ayah Suzzanna Gugur di Subang

    HINDIA Belanda menjadi tempat yang diimpikan banyak pria Belanda untuk mengubah nasib. Di tanah subur nan kaya yang diperintah “kaki-tangan” ratu Belanda itu, kehidupan sejahtera jauh lebih mungkin diwujudkan ketimbang di negeri asal mereka, Belanda. Terlebih, warna kulit putih mereka memungkinkan mendapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak didapatkan orang-orang kulit berwarna akibat sistem rasis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Faktor itulah yang mendorong Willem van Osch yang lahir pada 19 Juni 1910 rela bertaruh nyawa mengarungi samudera ribuan kilometer jauhnya demi bisa mencapai Hindia Belanda. Pria asal Rosmalen, Belanda ini kemudian menjalani kehidupan berbeda di tempat yang baru. Dia diterima menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Pangkatnya sudah sersan mayor (serma) infanteri, dengan nomor stamboek -nya 89068.

  • Suzzanna Bangkit dari Kubur

    SUTRADARA Anggy Umbara menggarap film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Film produksi Soraya Intercine Films ini dirilis tahun 2018. Dalam wawancara di media, Anggy mengatakan film ini bukan remake , reboot , maupun biopic. Formulanya mirip film garapan Anggy sebelumnya, Warkop DKI Reborn (2016) . Kendati demikian, Anggy berjanji akan menyuguhkan sentuhan nostalgia dari film-film lama Suzzanna. Termasuk adegan-adegan ikonik dalam film horor yang dimainkan Suzzanna. Suzzanna memang dikenal lewat film-film horor. Namun, kariernya tak dimulai dari genre film yang buat bulu kuduk merinding itu.

  • Raja Alam dari Sambaliung Melawan Belanda

    DARI sekian banyak kerajaan kecil di Kalimantan Utara di zaman Hindia Belanda, Kerajaan Berau termasuk kerajaan yang besar. Pada 1787, Kerajaan tersebut diserahkan oleh Kerajaan Banjar kepada Perusahaan Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kerajaan Banjar, yang berpusat di Kalimantan Selatan, besar penguruhnya hingga ke daerah utara Kalimantan.   Setelah VOC bubar, Kerajaan Berau terpecah-pecah. Hendrik Herman Juynboll dalam Gids voor de tentoonstelling van ethnographische voorwerpen van Goenoeng Taboer (Oost-Borneo) menyebut, Berau terbagi menjadi Gunung Tabur, Bulungan, dan Sambaliung. Sultan Aliuddin Raja Alam, yang masih keturunan raja di sekitar Berau, memimpin Sambaliung. Karajaan ini muncul pada 1810-an. De Locomotief tanggal 30 Januari 1888 menyebut, Kerajaan Sambaliung mulanya bernama Tanjung. Sambaliung berasal dari kata "Sembah" yang berarti merendahkan diri, dan "Liung" berasal dari bahasa Banjar yang berarti "tidak diberikan". Jika disatukan artinya "sembah yang tidak diberikan".   “Raja Alam mempunyai istana di Tanjung dan sebuah lagi dekat Kampung Bugis di Tanjung Redeb sekarang,” catat Sjahrial Hanan dkk. dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Koloniaisme dan Imperialisme di Kalimantan Timur . Wilayah kekuasaan Raja Alam termasuk luas. Batu Putih juga menjadi basis kekuatannya.   Di bawah Residen Chr. Galdman, pemerintah Hindia Belanda mengirim utusan ke Raja Alam guna menandatangani kontrak politik agar tunduk kepada kebijakan pemerintah kolonial. Seperti juga kepada kerajaan-kerajaan lain, Kerajaan Simbaliung juga dijadikan negara bawahan pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Belanda. Namun, Raja Alam sangat menjaga kedaulatannya. Dia ingin kerajaannya bebas dari pemerintah kolonial. “Sampaikan saja kepada atasanmu bahwa kami pantang bertuankan kulit putih,” kata Raja Alam dan sekutunya kepada utusan Belanda, seperti dicatat Moh. Noor dkk. dalam Cerita Rakyat Dari Kalimantan Timur . Selain berani, Raja Alam punya pendukung di daerah pesisir timur Kalimantan. Raja Alam dekat dengan orang Bugis dan Sulu. Orang-orang Bugis dipimpin Panglima Limbuti, yang masih keturunan La Madu Daeng Pallawa, pendiri Kampung Bugis Tanjung Redeb. Raja Alam menikah dengan Andi Nantu, perempuan campuran Bugis-Kutai, putri Pangeran Petta dengan Aji Bungsu. Selain dengan orang Bugis, Raja Alam bersahabat dengan orang-orang Sulu (kini bagian Filipina) yang dikenal sebagai bajak laut ulung di Selat Makassar. Orang-orang Sulu ditetuai oleh Syarif Dakula. Belakangan, Syarif menjadi menantu Raja Alam setelah menikahi putrinya, yakni Ammas Mira.   Akibat penolakan Raja Alam, pemerintah kolonial Belanda memberi hukuman. Pada 1834, pemerintah kolonial mengirim ekspedisi militer dengan beberapa kapal perang di bawah komando Kapten Laut Anemaelt ke Sambaliung. Militer Belanda menyerbu Daerah Batu Putih dan Tanjung Redeb. Kekuatan Raja Alam berhasil ditaklukan. Raja Alam tertangkap dan diasingkan ke Makassar. Untuk sementara, Belanda mempercayakan wilayah Sambaliung kepada Aji Kuning sebagai Sultan Gunung Tabur. Sebelumnya dia menganggap Raja Alam berbahaya.   Raja Alam dan keluarganya tidak lama di Makassar. Kesepakatan baru muncul. Raja Alam bersedia tunduk pada hukum pemerintah kolonial sehingga dia diperbolehkan kembali ke Sambaliung. Pada 24 Juni 1837, Raja Alam dan putranya, Simoeso Maharaja Dinda, mengucapkan sumpah setia di hadapan gubernur Sulawesi dan sekitarnya mewakili pemerintah Hindia Belanda. Raja Alam diperbolehkan berkuasa lagi di bekas Kerajaan Sambaliung di Batu Putih. Namun, wilayah kekuasaannya dijadikan bagian dari Gunung Tabur. Raja Alam berkuasa hingga tahun 1844 dan dilanjutkan para penerusnya. Raja Alam yang pemberani itu belakangan diabadikan sebagai nama Batalyon Raider 613 di Kalimantan Utara.*

  • Resep Ekonomi dan Moneter Hjalmar Schacht

    HJALMAR Schacht pernah menjabat presiden bank sentral Reichsbank dan menteri ekonomi pada masa Kanselir Adolf Hitler. Dia dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Usai perang, dia menjadi konsultan ekonomi dan keuangan untuk negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Schacht tiba di Jakarta pada 3 Agustus 1951. Sumitro Djojohadikusumo, penasihat Menteri Keuangan Jusuf Wibisono, kendati membantahnya, punya andil dalam mendatangkan Schacht. Setelah tiga bulan mempelajari bahan-bahan yang didapatkan dari sejumlah kementerian, berdiskusi dengan banyak pihak, dan mengunjungi beberapa daerah, Schacht menyelesaikan laporannya pada 9 Oktober 1951. Berikut ini resep ekonomi dan moneter dari Schacht. Valuta Memenuhi kewajiban utang dengan memperhatikan neraca pembayaran luar negeri; dan jika ada kesulitan devisen hendaknya diadakan penangguhan. Untuk memelihara keseimbangan dalam neraca pembayaran, impor tidak boleh melebihi jumlah hasil dari ekspor (devisen). Untuk menjaga keseimbangan dalam neraca pembayaran, perlu adanya pengawasan devisen oleh suatu dewan menteri. Perlu suatu armada kecil yang terdiri dari kapal-kapal polisi cepat untuk memberantas penyelundupan. Ciptakan ketertiban dan keamanan guna menghindarkan pelarian modal. Tiap-tiap bank peredaran harus dimasukkan ke dalam politik negara seluruhnya. Keuangan Negara Memelihara keseimbangan antara pengeluaran dan penghasilan negara. Pembukuan di Kementerian Keuangan harus diperbaiki. Politik pajak terutama bersandar pada perdagangan dan industri di kota-kota besar, hasil bumi, dan perkebunan. Perdagangan dan Perusahaan Bank Pedagang eceran perlu menjalin kerjasama guna mengadakan pembelian bersama-sama. Pertahankan firma-firma dagang Jerman dan Belanda. Bank industri harus mengembangkan diri, teurtama memusatkan perhatian pada pemberian kredit koperasi. Sistem Benteng masih dapat diteruskan, dengan perbaikan. Perlu suntikan modal pemerintah untuk berdirinya bank negara yang memberikan kredit perdagangan. Hapus sistem lisensi impor dan sistem sertifikat devisa. Campur tangan pemerintah terhadap Javasche Bank, yang dinasionalisasi, sebagai bank peredaran. Javasche Bank melepaskan usaha komersialnya. Efisiensi dan efektivitas birokrasi perdagangan. Pengusaha bumiputra mesti mempelajari teknik-teknik modern. Dirikan kamar-kamar dagang. Dasar-dasar Ekonomi Pertanian : Tingkatkan penanaman padi untuk kebutuhan dalam negeri; perluas sistem koperasi dan kredit petani; penangguhan pelunasan utang dan pengurangan bunga untuk petani. Pertukangan/Perburuhan : Perluasan sekolah dan kursus-kursus vak (keterampilan); dirikan balai-balai pertukangan; undang-undang perburuhan yang baik. Industri : Dorong investasi asing untuk mengolah bahan-bahan mentah. Perimbangan Ekspor dan Impor : Bentuk suatu panitia perancang yang menetapkan prioritas impor dan meningkatkan ekspor. Transportasi/Pengangkutan : Buat jalan-jalan raya; perluas tempat bongkar muat peti kemas; jalin kerjasama dengan perusahaan pelayaran Belanda; bentuk armada dagang sendiri. Transmigrasi : Dorong masyarakat bertransmigrasi dari Jawa ke Sumtara, Kalimantan, dan Sulawesi. Urbanisasi : Buat kota-kota penyangga dengan perhubungan yang teratur dan pabrik-pabrik. Listrik: Tingkatkan produksi listrik; adakan tenaga listrik baru, misalnya tenaga air; gunakan bis sebagai pengganti trem; undang perusahaan listrik asing.* Berikut ini laporan khusus Hjalmar Schacht: Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi Resep Basi Ekonom Nazi Saran dengan Muatan Modal Jerman Hjalmar Schacht Melawan Hitler

  • Menghidupkan Kembali Spirit Patrice Lumumba

    ADA yang tak biasa dalam gelaran Piala Afrika 2025 di Maroko yang berlangsung 21 Desember 2025–18 Januari 2026. Setiap tim Kongo bermain, di tengah-tengah euforia dan tabuhan genderang suporter di tribun stadion, berdiri dengan tenang dan tak bergerak hampir 90 menit dengan mengangkat tangan. Ya, “Patrice Lumumba” hadir menyemangati dan memberi spirit kepada timnas Kongo di lapangan. Tentu ia bukan sosok asli Bapak Pendiri Republik Demokratik Kongo itu. Ia dikenal para suporter Kongo sebagai Lumumba Vae. Nama aslinya Michel Nkuka Mboladinga. Pria berusia 49 tahun itu sudah melakukan pose Lumumba sejak 2013 meski baru viral belakangan pada Piala Afrika 2025. Lumumba Vae acap hadir dengan gaya rambut khas 1960-an dan kacamata browline atau kadang dijuluki kacamata aktivis HAM Malcolm X. Ia hadir mengenakan kemeja kuning, jas biru muda, dan celana merah khas warna bendera Kongo. Lumumba Vae berdiri di atas sebuah pedestal untuk bisa berdiri lebih tinggi di antara kerumunan penonton dengan mengangkat tangan kanannya khas pose patung Patrice Lumumba di ibukota Kinshasa. “Ia [Lumumba] adalah orang yang memberikan kami kebebasan untuk mengekspresikan diri kami. Ia mengorbankan jiwanya untuk kami, untuk memberikan kami kemerdekaan. Ia pahlawan bagi kami. Lumumba adalah spirit dan teladan buat kami. Saya berdiri dalam diam untuk memberi kekuatan kepada tim, untuk memberi energi kepada para pemain,” ujar Lumumba Vae kepada Associated Press , Rabu (7/1/2026). Sayangnya, Lumumba Vae akhirnya menangis dan menurunkan tangannya tatkala Kongo disingkirkan Aljazair di babak 16 besar pada 6 Januari 2026. Kendati pihak penyelenggara Piala Afrika 2025 menawarkan Lumumba Vae untuk tetap berada di Maroko sampai turnamen berakhir dengan kompensasi uang per pertandingan, ia memilih pulang ke negerinya di Kongo. Sosok asli Patrice Émery Lumumba (kiri) dan patungnya di ibukota Kinshasa (Independant edisi 13 Maret 1960/Fondation Carmignac) Sukarno dan Patrice Lumumba Patrice Émery Lumumba lahir pada 2 Juli 1925 di Katakokombe, Kasai, saat Kongo dijajah Belgia. Meski dibesarkan sebagai seorang Katolik yang taat, ia tumbuh di sekolah-sekolah Protestan. Di usia muda, Lumumba melalui buku-buku berkenalan dengan banyak tokoh pembaru Eropa seperti Jean-Jacques Rousseau, François-Marie Arouet alias Voltaire, hingga para penyair dan sastrawan semisal Jean-Baptiste Poquelin alias Molière dan Victor Hugo. Tak heran kemudian ia sering membuat puisi-puisi bertemakan anti-kolonialisme sembari bekerja serabutan jadi juru tulis kantor pos hingga sales minuman bir. Lumumba kemudian turut mendirikan organisasi yang menjadi partai beraliran sosialis, Mouvement National Congolais (MNC) pada 1958. Sejarawan Belgia, David van Reybrouck menyebut, aktivisme Lumumba memerdekakan negerinya terpapar inspirasi dan kaitan langsung dengan Bandung Spirit atau Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Reybrouck, dalam public lecture berjudul “Sukarno and the Making of the New World” di Jakarta pada 22 Oktober 2025 mengungkapkan, gagasan gerakan dekolonisasi di Afrika mulanya dibawa pemimpin Mesir, Gamal Abdel Nasser yang hadir di KAA. Gagasan itu ditularkan kepada pejuang kemerdekaan Ghana, Kwame Nkrumah. Ia pula yang menginisiasi All-African People’s Conference (AAPC) di Accra, Ghana pada Desember 1958 dengan merujuk pada manifesto Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Semangat Bandung. “Nkrumah mengorganisir konferensi itu pada 1958 untuk para aspiring activists  dari [negeri-negeri] Sub-Sahara. Salah satu yang turut datang adalah pemuda dari Kongo bernama Patrice Lumumba. Jadi, ini semua dilihat sebagai pilar-pilar bagi lahirnya gerakan Pan-Afrika. Ketika Lumumba pulang ke Kongo, ia ikut menyebarkan Semangat Bandung. Beberapa bulan kemudian kebangkitan dan kemerdekaan terpicu di Kinshasa. Jadi, ada direct connection di situ, bahwa Semangat Bandung sangat menular,” terang Reybrouck. Kongo, negara terluas kedua di Benua Afrika setelah Aljazair, akhirnya meraih kemerdekaannya dari Belgia pada 30 Juni 1960. Lewat hasil pemilu pertamanya, Lumumba terpilih menjadi perdana menteri merangkap menteri pertahanan nasional di usia 34 tahun. Nahas, pergolakan politik dan konflik terjadi di Kongo yang baru merdeka. Dalam Krisis Kongo (1960-1962) pemerintahan Lumumba dikudeta dan diburu pemerintahan separatis Katanga pimpinan Moise Tshombe yang didukung pasukan bayaran Gendarmerie Belgia. Sudah sejak lama Lumumba jadi target Belgia, Inggris, dan Amerika Serikat. “Amerika dan Belgia sempat merencanakan pembunuhan, beberapa negara Barat juga meyakini Lumumba adalah sosok berbahaya bagi perusahaan neokolonial mereka di Afrika. Pada 19 September 1960 Presiden Amerika [Dwight Eisenhower] dan Menteri Luar Negeri Inggris [Alec Douglas] membahas Krisis Kongo. Sang presiden menyatakan keinginannya ‘bahwa Lumumba akan jatuh ke sungai penuh dengan buaya’,” tulis sosiolog Belgia, Ludo De Witte dalam The Assassination of Lumumba. Hanya enam bulan memerintah, Lumumba ditangkap pasukan Kolonel Joseph Mobutu pada 1 Desember 1960. Lumumba dibawa dan ditahan di Katanga. Setelah disiksa, Lumumba dan dua rekannya dieksekusi regu tembak di bawah sebuah pohon pada 17 Januari 1961 malam. Hingga kini, jasad Lumumba tak diketahui rimbanya. Kelak, pada Juni 2022, Pemerintah Belgia mengembalikan sebuah gigi emas kepada keluarganya, sekaligus menyampaikan pengakuan dan permohonan maaf atas keterlibatan Belgia dalam pembunuhan Lumumba. Jalan Patrice Lumumba di Padangsidempuan, Sumatera Utara (Tangkapan Layar Google Maps) Kabar pembunuhan Lumumba sampai ke telinga Presiden Sukarno. Pemerintahan Sukarno mengabadikan namanya jadi nama jalan di Jakarta, Surabaya, dan Padangsidempuan, Sumatra Utara. “Pada 1961, Sukarno menamakan sebuah jalan di Jakarta Pusat setelah pembunuhan pemimpin Kongo Patrice Lumumba sebagai solidaritasnya kepada rakyat Kongo. [Namun] pada 1970-an, seiring adanya protes teroganisir terhadap nama jalan yang dianggap nama pemimpin kiri, pemerintahan anti-komunis Soeharto mengganti nama jalannya,” tulis Christophe Dorigné-Thompson dalam Indonesia’s Engagement with Africa. Pada medio 1977, Jalan Patrice Lumumba di Kemayoran, Jakarta Pusat diganti menjadi Jalan Angkasa. Begitu pula di Surabaya kembali diganti menjadi Jalan Raya Darmo. Mengutip begandring.com , Jalan Patrice Lumumba bergeser ke Jalan Ngagel, tetapi tidak lama diganti kembali menjadi Jalan Ngagel. Yang tersisa kini hanya gang kecil yaitu Kampung Lumumba Dalam dan Lumumba Buntu, keduanya masuk Kelurahan Ngagel, sedangkan Lumumba Timur masuk kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo. Sementara itu, Jalan Patrice Lumumba di Padangsidempuan tetap bertahan.*

  • Sebelum Jack Ma Tiba

    TAWARAN dari pemerintah Indonesia untuk menjadikannya sebagai penasehat e-Commerce Indonesia akhirnya diambil Jack Ma, orang terkaya di Tiongkok. Kesediaan Jack Ma dinyatakan usai pertemuannya dengan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution serta Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Beijing, Tiongkok. Pertemuan itu merupakan kelanjutan dari pertemuan tahun lalu. Tawaran dari pemerintah Indonesia dilakukan menyusul keluarnya Peraturan Presiden No. 74/2017 mengenai Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik Tahun 2017-2019 atau juga disebut SPNBE 2017-2019, yang dimaksudkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi berbasis elektronik. Jack Ma adalah pendiri dan executive chairman Alibaba, raksasa e-commerce asal Tiongkok. Di Indonesia, Alibaba menanamkan dana besar di Lazada dan Tokopedia. Merekrut ahli asing untuk membantu memetakan jalan perekonomian nasional bukanlah hal baru. Pada 1950-an, pemerintah Indonesia meminta Hjalmar Schacht, ahli keuangan Jerman, untuk memberikan resep untuk memulihkan perekonomian Indonesia yang masih terpuruk usai pengakuan kedaulatan. Hjalmar Schacht pernah menjabat presiden Reichsbank dan menteri ekonomi pada masa Kanselir Adolf Hitler. Dia dikenal dunia karena berhasil menjinakkan hiperinflasi yang melumpuhkan Jerman, menstabilkan mark (mata uang Jerman), dan memotong angka pengangguran. Usai perang, dia bergiat sebagai konsultan ekonomi dan keuangan untuk negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Schacht tiba di Jakarta pada 3 Agustus 1951. Setelah tiga bulan mempelajari bahan-bahan yang didapatkan dari sejumlah kementerian, berdiskusi dengan banyak pihak, dan mengunjungi beberapa daerah, Schacht menyelesaikan laporannya pada 9 Oktober 1951. Tak sampai di situ. Schacht membuat saran-saran praktis mengembangkan sumber daya alam. Saran itu dipakai dalam industri pertambangan melalui apa yang dikenal sebagai “ production-sharing agreement ” (PSA) atau kontrak bagi hasil produksi, formula khas Indonesia yang diadposi banyak negara. Schacht mendorong pengusaha-pengusaha Jerman untuk berinvestasi di Indonesia. Dia juga membantu Indonesia memenangkan kasus lelang tembakau di Bremen, Jerman, tahun 1959. Sumitro Djojohadikusumo , kendati membantahnya, punya andil dalam mendatangkan Hjalmar Schacht. Saat itu dia penasehat Menteri Keuangan Jusuf Wibisono . Sumitro pula, kali ini sebagai menteri keuangan, yang mendorong kedatangan ahli-ahli asing untuk membantu Biro Perantjang Negara (kini, Badan Perencana Pembangunan Nasional atau Bappenas). Yang terkemuka adalah Benjamin Howard Higgins, ahli keuangan Kanada. Selain Indonesia, Higgins menjadi penasihat ekonomi untuk pemerintah Kanada, Australia, Amerika Serikat, Libya, Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Yunani, Brasil, dan lain-lain. Higgins tiba pada Juli 1952. Dia jadi penasehat kebijakan fiskal untuk membantu mempersiapkan pembentukan Biro Perantjang Negara tahun 1952 dan Rencana Pembangunan Lima Tahun pertama tahun 1956.* Berikut ini laporan khusus Hjalmar Schacht: Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi Resep Basi Ekonom Nazi Saran dengan Muatan Modal Jerman Hjalmar Schacht Melawan Hitler

  • Lelucon Jojon Tepi Jurang

    KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena pertunjukan komedi tunggalnya bertajuk “Mens Rea” dianggap menghasut dan menodai agama. Dalam penampilan itu, Pandji tak sekadar berkomedi, tapi juga melempar kritik sosial kepada penyelenggara negara seperti Polri dan TNI, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan secara umum pemerintahan Prabowo Subianto.  Salah satu sentilannya yang menuai sorotan menyebut Wapres Gibran mengantuk karena matanya sayu. Cara Pandji dalam berkomedi pun menuai pro dan kontra. Ada yang mengatakan komedi Pandji mengarah ke penghinaan secara fisik, pencemaran nama baik, dan sebagainya. Bagi yang membelanya, materi itu sebagai ekspresi kritik sosial dengan bumbu komedi.  Komedi bertujuan untuk menghibur penonton. Ia bisa juga menjadi alat kritik sosial. Namun, komedi terkadang menimbulkan masalah bagi komedian. Entah karena silap lidah atau memang blunder yang disengaja. Hal ini pernah terjadi kepada pelawak Jojon di masa Orde Baru.  “Pelawak Jojon juga pernah silap saat melucui gambar di lembar uang kertas dengan perumpamaan yang terkesan merendahkan martabat. Buntutnya Jojon lama tidak muncul melawak di televisi,” demikian diberitakan Analisa , 16 Maret 1997.  Jojon yang bernama lengkap Djuhri Masdjan adalah salah satu pentolan Jayakarta Grup. Kelompok lawak ini beranggotakan Cahyono, Jojon, Suprapto alias Ester, dan Uuk. Sebagai maskot Jayakarta Grup, Jojon dikenal dengan banyolannya yang kocak dibalut aksi culun dan lugu. Selain itu, penampilannya dalam berkomedi juga terbilang nyentrik. Jojon selalu mengenakan kumis tengah menyerupai Charlie Chaplin serta celana kodok yang dipakai ketinggian. Gaya busana Jojon ini melahirkan jenama fesyen “celana Jojon” yang populer pada dekade 1990-an.  Hari nahas bagi Jojon datang ketika grupnya tampil di salah satu televisi swasta pada 1994. Dalam sebuah sketsa komedi, Jojon terlibat tebak-tebakan dengan tandemnya, Suprapto. Bermula dari pertanyaan Suprapto tentang gambar-gambar pada pecahan uang kertas rupiah.  “Uang 500 gambar apa?” tanya Jojon.  “Monyet,” kata Jojon.   Uang kertas pecahan 500 rupiah saat itu bergambar orang utan sebagai kampanye satwa nasional yang dilindungi. Ikon orang utan dalam uang 500 emisi tahun 1992 beredar hingga 1999.  “Kalau uang 50.000?” Suprapto melempar umpan lagi.  Jojon yang terdesak nyeletuk, “bapaknya monyet.”  Punchline dari Jojon begitu berani dan mengejutkan. Uang pecahan 50.000 itu bergambar Presiden Soeharto yang baru saja dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan. Apalagi Grup Jayakarta tampil rutin dalam program komedi di stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) milik Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto.  Pentas pun dihentikan. Para personel Jayakarta saling menyalahkan satu sama lain. Akibatnya lebih fatal bagi Jojon.  Lelucon Jojon memang tak sampai membuatnya kena cekal atau diseret ke dalam tahanan. Namun, menurut Adi Jojon, anak sulung Jojon, kejadian itu membuat Jojon kehilangan “periuk nasi” untuk sementara waktu. Tak ada stasiun televisi yang mau mengundang Jojon untuk manggung.  “Akhirnya sempat dirumahkan. Sempat tidak ada show kemana-mana,” tutur Adi dalam siniar Humoria Indonesia berjudul “ Kesaksian Putra Jojon tentang 500 Monyet dan Soeharto ”.  Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah tawaran melawak sepi, Jojon tak lagi menjadi bagian dari Jayakarta Grup. Menurut Cahyono, keluarnya Jojon karena perbedaan prinsip di antara mereka, khususnya dalam soal keuangan. Posisi Jojon pun digantikan oleh orang lain.  “Ya, sejak kasus itu mencuat di media massa, kami sudah positif tidak menggunakan Jojon, jadi Jojon bukan anggota Jayakarta lagi,” kata Cahyono dalam Bali Post , 14 April 1996.  Masa karantina Jojon baru berakhir pada 2003. Setelah rezim berganti, Jojon kembali melawak. Tak lagi bersama Jayakarta, Jojon bersolo karier sebagai pelawak tunggal.  Jojon tentu belajar dari pengalaman sebelumnya untuk lebih hati-hati dalam melempar guyonan. Dengan ciri khasnya yang tak lekang, ia perlahan-lahan eksis lagi di panggung hiburan. Tak hanya di pentas lawak, Jojon mulai merambah ke dunia film dan serial televisi. Ia juga langganan mengisi acara televisi untuk program komedi. Pada 2006, Jojon memenangkan nominasi SCTV Award untuk kategori Lifetime Achievement Award (Penghargaan Prestasi Seumur Hidup). Hingga akhir hayatnya, Jojon terus berkiprah sebagai komedian, menjadikannya sebagai salah satu pelawak legendaris Indonesia. Jojon wafat pada 6 Maret 2014 dalam usia 66 tahun.*

  • Greenland Dikuasai Denmark, Diancam Amerika Serikat

    GREENLAND, pulau terbesar di dunia itu luasnya 2,16 juta kilometer persegi, sekitar 19,6 persen lebih besar dari luas wilayah Indonesia. Menariknya, Indonesia punya hubungan perdagangan dengan negeri yang berada di bawah kedaulatan Denmark itu meski nilainya relatif kecil. Mengutip data Market Inside , per Oktober 2024-September 2025 nilai perdagangan kedua negara ini mencapai US$146 ribu atau setara Rp2,46 miliar. Indonesia mengekspor berbagai macam produk besi dan baja, mesin dan peralatan elektronik, produk-produk keramik, tekstil, hingga furnitur. Meski masih di bawah Denmark, Greenland bisa mengatur negerinya sendiri sejak 2009, termasuk soal perdagangan. Hak otonom mereka dapatkan lewat Undang-Undang Pemerintahan Mandiri sehingga mereka punya parlemen dan perdana menteri (PM). Suatu perubahan yang selangkah lebih dekat menjadi negara merdeka. Hanya saja belakangan ini Greenland mulai diusik. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mencaploknya dengan alasan keamanan nasional. Ia cemas dengan jalur perdagangan baru di kawasan Arktik yang dilalui kapal-kapal Rusia dan China. Dampaknya, Denmark meradang. Hubungan antara AS dengan Denmark, yang sama-sama bersekutu di NATO atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara, menimbulkan ketegangan. Menjadi menarik karena rupanya Greenland juga punya sejumlah kekayaan alam berupa mineral tanah jarang. “Jika AS memilih untuk menyerang negara [anggota] NATO secara militer, maka segalanya akan berakhir, termasuk NATO dan keamanan yang telah dijaga sejak akhir Perang Dunia II,” kata PM Denmark Mette Frederiksen, dikutip CNN , 9 Januari 2026. Terbaru, Menteri Luar Negeri (Menlu) Denmark Lars Løkke Rasmussen dan Menlu Greenland Vivian Motzfeldt terbang ke Washington DC untuk bertemu Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Menlu Marco Rubio pada Rabu (14/1/2026). Hasilnya inkonklusif. Baik AS maupun Denmark dan Greenland tidak menyepakati beberapa hal fundamental. Sementara Presiden Trump melalui akun media sosial  Truth Social , @realDonaldTrump pada Rabu (14/1/2026), bersikukuh Greenland harus berada di bawah kendali AS. Di Greenland, AS punya Pangkalan Antariksa Pituffik yang berjarak sekitar 1.500 kilometer dari ibukota Nuuk, sebagai basis sistem peringatan misil penting di kawasan Arktik. “AS butuh Greenland demi keamanan nasional. Vital bagi Golden Dome yang kami bangun. NATO semestinya jadi ujung tombak kami. JIKA TIDAK, RUSIA ATAU CHINA AKAN DAN ITU TIDAK BOLEH TERJADI! Secara militer tanpa kekuatan besar AS, yang sudah saya bangun sejak periode pertama, NATO tidak akan jadi kekuatan efektif atau kekuatan penangkal –bahkan tak secuil pun! Mereka dan saya tahu itu. NATO jadi jauh lebih kuat dan efektif bersama Greenland di tangan AMERIKA SERIKAT. Kurang dari pada itu tidak bisa diterima,” kata Trump. Tanah Orang Inuit Dalam usaha meyakinkan dunia internasional bahwa AS berhak berada di Greenland, sebelumnya Trump pernah berseloroh dan menyinggung sejarah, bahwa meskipun orang-orang Denmark pernah mendaratkan kapal di Greenland 500 tahun lalu, bukan berarti mereka bisa memilikinya. Faktanya, daratan Greenland mulai dihuni manusia sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi (SM) yang datang dari daratan lain dari barat yang kini menjadi wilayah Kanada. Masyarakat itu bertransformasi jadi pribumi Inuit. Makanya tak sedikit orang-orang Inuit ada di kawasan Arktik seperti Kanada, Greenland, Siberia di Rusia, hingga Alaska di AS. Mereka terkenal dengan sebutan “Orang Eskimo”. Dalam lidah orang Inuit, negeri itu disebut Kalaallit Nunat artinya “Tanah Orang Inuit Kalaallit”. Adapun pemukim dari Skandinavia atau Viking dari Eropa Utara baru datang kemudian. Dikisahkan dari manuskrip saga Eiríks saga rauða dari abad ke-13, Erik Thorvaldsson alias “Erik Si Merah” dari Norwegia adalah orang Skandinavia pertama yang datang ke negeri itu dengan membawa 14 kapal pada tahun 982. Ia pula yang menamakan negeri itu sebagai Grœndland. “Pada musim panas, Erik pergi untuk bermukim di negeri yang ia temukan, di mana ia menamakannya Greenland dengan alasan orang-orang akan tertarik datang jika negeri itu dinamai dengan nama yang disukai,” tulis saga tersebut. Erik mendirikan tiga pemukiman awal di pesisir timur, barat, dan pedalaman tengah, serta di beberapa fjord atau teluk panjang yang menyempit. Sedangkan Kerajaan Norwegia Lama baru mengklaim Greenland sebagai wilayah kekuasaannya pada tahun 1261 di masa Raja Haakon IV Haakonsson. Sebaran masyarakat pribumi Inuit dari Greenland sampai Alaska. (X @GreenlandRepDC). Denmark dan AS di Greenland Pada 1380 terjadi Persatuan Kalmar sebagai unifikasi Norwegia dan Denmark. Jauh kemudian Denmark-Norwegia berpisah dan melalui Traktat Kiel 1814, Kerajaan Denmark mengklaim Greenland, Islandia, dan Kepulauan Faroe dari Kerajaan Norwegia. Maka, sejak 1814 itulah Greenland resmi dikuasai Denmark. Meski begitu sempat ada kekosongan kekuasaan ketika Denmark diduduki Jerman pada Perang Dunia II (1939-1945). Di saat itulah militer AS menduduki beberapa wilayah Greenland dengan alasan mencegah invasi Jerman. Samuel Eliot Morison dalam History of United States Naval Operations in World War II, Volume 1: The Battle of Atlantic September 1939-May 1943 mencatat, AS sampai membangun Pangkalan Udara Bluie West-1 di Narsarsuaq di pesisir selatan dan Pangkalan Udara Bluie West-8 di Søndre Strømfjord di pesisir barat. Uniknya, pendudukan AS itu tanpa persetujuan pemerintahan Denmark yang masih diduduki Jerman. Pendudukan itu tercapai setelah Duta Besar Denmark untuk AS Henrik Kauffman menyerahkan kendali pertahanan Greenland yang bikin kaget pemerintahan Denmark sendiri. Baru pada 1953, pemerintah Denmark menyatakan Greenland bukan lagi koloni, melainkan wilayah yang terintegrasi. Di tahun itu pula Denmark dan AS dalam kerangka NATO, menyepakati persetujuan Greenland Defense Agreement, di mana AS diberikan keleluasaan mendirikan basis militer, yaitu Pangkalan Udara Thule (kini Pangkalan Antariksa Pituffik). Greenland Ingin Merdeka Terlepas dari banyaknya tuntutan untuk merdeka, Denmark memberikan status otonomi kepada Greenland pada 2009. Greenland pun punya pemerintahan sendiri, sebagaimana juga Kepulauan Faroe. Meski begitu Denmark masih mengendalikan sektor hubungan internasional dan keamanan. Meskipun demikian bukan berarti keinginan masyarakat Greenland untuk merdeka dari Denmark sirna begitu saja. “Greenland mengalami ‘Denmark-isasi’ setelah Perang Dunia II hingga memunculkan gerakan kemerdekaan meski baru menghasilkan ‘Home Rule’ atau pemerintahan mandiri pada 1979 hingga lebih jauh menghasilkan Undang-Undang Pemerintahan Mandiri pada 2009,” tulis Ulrik Pram Gad, Uffe Jakobsen, dan Jeppe Strandsbjerg dalam “Politics of Sustainability in the Arctic: A Research Agenda” yang termuat dalam Northern Sustainabilities: Understanding and Addressing Change in the Circumpolar World Satu dari sekian kasus “Denmark-isasi” yang kontroversial adalah penetapan kebijakan perempuan Inuit di Greenland untuk menggunakan alat kontrasepsi secara paksa untuk membatasi pertumbuhan populasi pada 1960-an dan 1970-an. Baru pada September 2025, PM Denmark Mette Frederiksen menyampaikan permintaan maaf atas nama Pemerintah Denmark. “Hari ini, hanya ada satu hal yang bisa dikatakan: Maaf. Maaf atas segala hak yang dirampas dari Anda dan rasa sakit disebabkan oleh itu. Sebuah bab dalam sejarah bersama kita yang seharusnya tak pernah tertulis. Atas nama [Pemerintah] Denmark. Maaf,” ujar PM Frederiksen, dilansir ABC , 25 September 2025. Kini, dengan adanya ancaman aneksasi dari Trump, masyarakat dan politikus yang terus mengupayakan kemerdekaan Greenland seolah mendapat musuh baru. Salah satunya sebagaimana yang disuarakan Aki-Matilda Høegh-Dam, anggota Parlemen Greenland termuda (22 tahun) dari Partai Naleraq yang pro-kemerdekaan. “Dalam banyak cara, kami terisolasi dari dunia selama 300 tahun, terutama dalam hal hubungan luar negeri. Namun sekarang kami terpojok dan ini semua membuat masyarakat gelisah. Semua partai di Greenland menyatakan bahwa kami tidak ingin jadi orang Amerika –dan kami juga tidak ingin jadi orang Denmark. Kami ingin jadi orang Greenland. Kami sudah punya satu penjajah; kami tidak butuh penjajah baru,” tandas Høegh-Dam, dilansir Al Jazeera , Selasa (13/1/2026).

bottom of page