top of page

Hasil pencarian

9659 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Awal Mula Kemunculan Permainan Scrabble

    PERTUMBUHAN ekonomi Amerika Serikat yang begitu pesat di sepanjang tahun 1920-an mendorong banyak orang mengalihkan tabungan ke saham. Kala itu, harga saham meningkat lebih dari empat kali lipat dari titik terendah pada 1921 hingga puncaknya pada Agustus 1929. Tak hanya orang-orang dari kalangan atas, para pekerja biasa dari golongan kelas menengah juga meramaikan pasar saham yang berpusat di New York Exchange, Wall Street, New York City. Namun , kemakmuran yang dirasakan orang-orang Amerika di dekade 1920-an berujung pada krisis ekonomi yang dikenal dengan The Great Depression atau Depresi Besar . Disebut sebagai krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modern, Depresi Besar melanda Amerika dari tahun 1929 hingga awal Perang Dunia II pada 1939. Gelombang PHK terjadi di mana-mana . S alah satu yang terdampak PHK adalah Alfred Mosher Butts, pekerja di sebuah firma arsitektur di New York City.

  • Elvis Menyanyi Dangdut

    PERNAH suatu masa celana cutbrai menjadi tren. Pedangdut Achmad Rafiq, yang meninggal 19 Januari lalu, didaulat sebagai orang yang mempopulerkannya. Dia memboyong goyang pinggul dan gaya kostum mencolok ke dangdut bersama celana panjang cutbrai khas yang dikenal sebagai “celana A. Rafiq.” Orang datang ke penjahit cukup bilang, “Tolong jahitin celana A. Rafiq. Orang (penjahit) sudah tahu. Itu tidak bisa hilang dalam sejarah,” kata A. Rafiq kepada Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia.

  • Pencipta Mars ABRI

    ROBERTUS ROBERT, aktivis demokrasi dan HAM, ditangkap polisi terkait orasinya dalam aksi Kamisan pada 28 Februari 2019. Dosen dan ketua jurusan sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu lantang menentang masuknya kembali militer aktif ke pemerintahan seperti pada masa lalu yang disebut dwifungsi ABRI . Dalam orasinya, Robet mengajak teman-teman muda untuk mengingat lagu yang dinyanyikan pada masa Reformasi tahun 1998. Lagu ini sudah populer sejak 1990-an.

  • Jalan Panjang Arca Bhairawa dan Arca Nandi Pulang ke Indonesia

    UNTUK kedua kalinya, kesepakatan kerjasama kebudayaan RI-Belanda sejak 2017 menghasilkan repatriasi 288 benda cagar budaya Nusantara. Dua di antaranya adalah Arca Bhairawa dan Arca Nandi yang merupakan warisan kecerdasan nenek moyang bangsa Indonesia. Sebelumnya pada 10 Juli 2023, sebanyak 472 benda repatriasi resmi diserahterimakan pasca-melalui provenance research (penelitian asal-usul) secara kolaboratif antara tim ahli Indonesia di bawah Komite Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda yang diketuai I Gusti Agung Wesaka Puja dan para pakar Belanda di bawah Commissie Koloniale Collecties pimpinan Lilian Gonçalves-Ho Kang You.Ke-472 benda itu meliputi sebilah Keris Klungkung, empat arca dari Candi Singhasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha, dan 335 harta jarahan Ekspedisi Lombok 1894.

  • Jenderal dari Cibitung

    NAMA Cibitung umum digunakan di Jawa Barat dan Banten. Dua provinsi tersebut memiliki daerah bernama Cibitung. Selain Cibitung di Bekasi yang terkenal dengan industrinya, ada pula Cibitung di Pandeglang atau di Bandung Barat. Di Cibitung, Bandung Barat itulah Henri Nicolas Alfred Swart dilahirkan pada 12 Oktober 1863. Henri merupakan gubernur Aceh era Hindia Belanda terlama. Koran Het Nieuws van den dag voor Ned. Indie tanggal 11 Oktober 1933 menyebut, Henri lahir di perusahaan perkebunan kina di Cibitung. Kemungkinan orangtuanya bekerja pada perkebunan tersebut.

  • PNI Lahir Kembali di Masa Revolusi

    TAK lagi menjabat sebagai menteri, Sartono mulai memikirkan tentang partai. Dia mengajak beberapa teman dekatnya berdiskusi tentang pembentukan sebuah partai nasionalis yang meneruskan cita-cita Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (Partindo), dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).   Diskusi kian intens setelah keluarnya Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945, ditandatangani Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang mendorong pembentukan partai-partai politik. Sartono mengumpulkan beberapa rekannya di kantor Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Jalan Cilacap, Jakarta. Mereka adalah Sarmidi Mangunsarkoro, Lukman Hakim, Wilopo, Sabillal Rasjad, dan Sudiro.

  • Serba-serbi Pemburu Tikus, Pekerjaan Populer di Abad ke-19

    REVOLUSI industri yang berlangsung sejak paruh kedua abad ke-18 tak hanya merangsang pertumbuhan sejumlah kota di Inggris, yang mendorong perpindahan ribuan penduduk dari wilayah pedesaan ke kota-kota besar. Revolusi industri juga memicu persoalan baru, salah satunya berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan warga kota yang timbul akibat kepadatan penduduk. Seiring dengan pertumbuhan kota yang semakin besar, limbah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas di dalamnya juga bertambah. Limbah tak hanya memicu munculnya bau tidak sedap, tetapi juga mendorong pertumbuhan tikus, hama yang umum selama revolusi industri. Tikus membawa penyakit yang mematikan sehingga banyak keluarga kaya di Inggris berlomba-lomba mempekerjakan penangkap tikus untuk membasmi hewan pengerat yang merepotkan ini.

  • Simpang Jalan Milisi Partai

    JALAN sunyi di pusat kota Cianjur itu masih menyisakan masa lalu. Pohon-pohon mahoni tua berderet, menaungi rumah-rumah lama dan bangunan-bangunan toko. Sementara itu, di ujung jalan, beberapa gedung sekolah milik yayasan Katolik berdiri megah. Orang-orang Cianjur mengenal ruas jalan itu sebagai Jalan Barba (Barisan Banteng). “Nama itu diambil dari Laskar BBRI (Barisan Banteng Republik Indonesia) yang pada zaman revolusi pernah sangat berjaya di kota ini,” ujar Moeljadi, 77 tahun.

  • Jejak Berlawan dari Bumi Lorosa’e

    TAKSI kuning yang membawa saya dari Bandara Internasional Nicolau Lobato menuju Timor Hotel di kota Dili, Timor-Leste, melaju santai. Sepanjang jalan, beberapa toko atau restoran masih menggunakan papan nama berbahasa Indonesia.   Pengemudi taksi juga fasih berbicara bahasa Indonesia. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Mulai dari Basuki Thajaja Purnama atau Ahok dan Pilkada DKI hingga kasus kematian Mirna Salihin yang santer dibicarakan di sana.

  • Pembantaian dan Penjarahan di Bali Selatan

    SEBANYAK 288 benda cagar budaya Nusantara yang berada di Belanda resmi dikembalikan ke Indonesia. Lebih dari 200 di antaranya merupakan benda jarahan semasa Puputan Badung dan Tabanan seiring ekspedisi militer Belanda di Bali Selatan pada 1906. Ke-288 benda yang masuk daftar repatriasi tersebut meliputi empat arca: Ganesha, Brahma, Bhairawa, dan Nandi, serta 284 benda bersejarah yang dijarah usai pembantaian di Badung dan Tabanan. Peresmian serah terimanya diteken oleh Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Eppo Egbert Willem Bruins di Wereldmuseum, Amsterdam, Jumat (20/9/2024).

  • Makam Dua Jenderal Belanda dan Putra Iskandar Muda

    MUSEUM Tsunami berdiri megah di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh. Ia didirikan untuk mengenang mereka yang menjadi korban tsunami 2004. Tepat di sebelah Museum Tsunami terdapat permakaman. Orang menyebutnya permakaman Kerkhof Peucut. Isinya kebanyakan makam orang Belanda. Mereka itulah yang dulu ikut mengorbankan banyak orang Aceh. Tsunami bukan satu-satunya yang membuat ratusan ribu orang Aceh menjadi korban. Jauh sebelum itu, ratusan ribu orang Aceh jadi korban keganasan kolonial.

  • Wasit Sepakbola Digebuki Pemain Tempo Dulu

    LAGI-LAGI sepakbola Indonesia ternodai oleh aksi kekerasan. Insiden ini terjadi pada pertandingan perempat final sepakbola Pekan Olahraga Nasional (PON) di Aceh dua pekan lalu. Dalam laga yang mempertemukan kesebelasan Aceh lawan Sulawesi Tengah (Sulteng) itu, wasit jadi korban pemukulan oleh salah satu pemain. Sejak menit pertama kedua tim saling ngotot dan laga pun berlangsung keras. Beberapa kali pertandingan harus dihentikan karena keributan dalam lapangan maupun aksi penonton yang melempari botol ke lapangan. Hingga babak pertama usai, Sulteng unggul dengan skor 1-0. Memasuki babak kedua, masing-masing tim tidak mengendorkan tempo permainan. Nahas bagi Sulteng, dua pemainnya dikartu merah oleh wasit Achmad Hafid Hilmi.

bottom of page