Hasil pencarian
9659 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Saat Baret Merah Dilatih Pasukan Katak
SEORANG perwira Angkatan Laut (AL) berpangkat mayor datang menghadap Kolonel Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) Moeng Parahadimulyo pada awal 1962. Urusannya terkait pelatihan pasukan khusus oleh pasukan khusus lainnya, dalam hal ini RPKAD dan Kopaska. Mayor AL itu bertanggungjawab atas pelatihan bawah air dan peledakan ala Underwater Demolition Team (UDT) Navy SEAL. Waktu itu musim hujan, laut bergelombang dan lebih dingin dari biasanya. Urip Santoso, nama mayor AL itu, berharap agar peserta latihan mendapatkan extra voeding alias makanan tambahan.
- Bung Karno dan Jenderal S. Parman Penggila Wayang
PRESIDEN Sukarno gemar sekali nonton wayang. Selama menjabat presiden, Bung Karno menggelar pertunjukan nonton wayang secara berkala di Istana. Dalang-dalang ternama diundangnya untuk melakonkan cerita-cerita epos Mahabharata . Bila tiba harinya, maka pertunjukan bisa berlangsung semalam suntuk. Kalau mau berangkat nonton wayang dari Istana Merdeka ke Istana Negara, menurut Mangil Martowidjojo, ajudan pribadi Presiden Sukarno, Bung Karno selalu diantar Kepala Rumah Tangga Istana, Mayjen Soehardjo Hardjowardojo, ajudan, serta para pengawal pribadi.
- Cara Mulus Mendulang Fulus
ALI Sastroamidjojo, ketua umum PNI, menyebarkan surat bernomor 1079/ PEG/024/’64 yang ditujukan kepada setiap kader PNI. Isinya, perintah untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan gedung PNI/Front Marhaenis. Surat tersebut tertanggal 13 November 1964. PNI ingin membangun gedung lima lantai di Jalan Salemba Raya No. 73. Pembangunan diharapkan selesai dalam dua tahun. Biaya yang dibutuhkan amat besar, sekitar setengah miliar rupiah. Untuk itulah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PNI berupaya melakukan penggalangan dana.
- Sarung Tinju Muhammad Ali Punya Cerita
SEBUAH sarung tinju merah lusuh yang pernah dikenakan Muhammad Ali pada 1963 masuk Rumah Lelang Stuart Bull Auctions. Walau hanya sebelah, diyakini memorabilia penting petinju legendaris bernama lahir Cassius Marcellus Clay Jr. itu bakal laku puluhan miliar rupiah. “Kami meyakini itu sarung tinju Cassius Clay paling penting yang pernah dipakainya. Setahun kemudian ia mengubah namanya jadi Muhammad Ali, jadi jika bukan karena sarung tinju ini mungkin kita takkan pernah mendengar tentang dia,” klaim Stuart Bull, direktur sekaligus pemilik rumah lelang itu, dikutip BBC , Senin (30/9/2024).
- Kisah Letnan Nicolaas Silanoe
MENJADI tentara merupakan satu dari sedikit jalan cepat untuk meningkatkan status sosial sekaligus ekonomi. Untuk itulah banyak pemuda memilih mendaftarkan diri ke tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) begitu lepas dari masa remaja. Itu pula yang dilakukan Nicolaas Silanoe, pemuda kelahiran Pelabuhan Ambon tahun 1798. Dia bergabung dalam tentara kolonial sejak April 1817 ketika usianya masih 19 tahun.
- Perantau Tangguh yang Menaklukkan Batavia
TRIJNTJE tak tahu di mana letak pasti Batavia, kota yang didirikan Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619. Yang ia tahu, kota yang berada jauh dari Belanda dan hanya dapat dijangkau melalui pelayaran selama berbulan-bulan itu menawarkan sebuah kesempatan untuk memiliki hidup yang lebih baik. Seperti halnya orang-orang Eropa lain yang mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai VOC di wilayah koloni, mimpi untuk mengubah nasib itulah yang membuat Trijntje nekat mencari peruntungan di Batavia. Tak banyak informasi yang bisa didapat mengenai kehidupan Trijntje di Belanda. Namun, Herald Van der Linde mencatat dalam Jakarta: History of a Misunderstood City bahwa wanita yang berasal dari Amersfoort itu berlayar menuju Batavia dari Texel dengan menumpangi kapal Walcheren pada akhir tahun 1621. Setelah mengarungi lautan selama kurang lebih lima bulan, kapal yang ditumpangi Trijntje tiba di Batavia pada 27 Mei 1622. Di kota yang belum lama didirikan oleh Coen itulah ia memulai hidup barunya dan harapan untuk memiliki hidup yang lebih beruntung mulai terbuka ketika wanita muda itu berkenalan dengan Floris Hendricksz.
- Demonstrasi Menolak Olimpiade Berujung Pembantaian
PLAZA de las Tres Culturas di Distrik Tlatelolco, Mexico City masih disesaki sekitar 10 ribu massa mahasiswa dan pelajar di pengujung petang 2 Oktober 1968. Unjuk rasa dan orasi menolak penyelenggaraan olimpiade masih bergema ketika aparat militer Meksiko mulai mengepung. Menjelang pukul 6 petang, tetiba saja dua peluru suar ditembakkan ke arah massa yang memicu kepanikan dan berujung tragedi. Di hari itu, ribuan mahasiswa kiri dari UNAM, IPN, serta beberapa kampus lain dan pelajar dari berbagai sekolah menengah atas yang tergabung dalam Consejo Nacional de Huelga (CNH) atau Dewan Mogok Nasional menggelar demonstrasi besar-besaran. Sudah sejak Juli CNH menentang pemerintah yang dikuasai rezim otoriter Partai Revolusioner Institusional (PRI) yang sudah berkuasa sejak 1944.
- Mendulang Suara dari Desa
ALI Sastroamidjojo begitu sibuk. Dia berkeliling daerah untuk berkampanye demi kemenangan PNI; dari Jakarta hingga Bali, dari Sumatra Utara hingga Kalimantan. Dia berpidato dalam rapat-rapat umum. Dan untuk menarik perhatian massa, PNI menggunakan berbagai macam cara. Dewan Daerah PNI Jawa Tengah, misalnya, mengorganisasi perkumpulan para dalang. Mereka ditugaskan mengadakan pertunjukan-pertunjukan wayang dengan cerita yang disadur sesuai kepentingan PNI dalam pemilu. Temanya tentulah pahlawan pewayangan, misal Gatutkaca, yang dengan semangat “banteng” (lambang PNI) selalu menang dalam perjuangan membela rakyat kecil.
- Ke Mana Perginya Barisan Sentot Pengikut Diponegoro?
SENTOT Alibasah Prawirodirdjo (1808-1855) merupakan salah satu komandan andalan Pangeran Diponegoro. Dengan pasukannya yang –oleh Belanda disebut Barisan Alie Bassa Prawiro Derdjo– tangguh, Sentot menopang pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Namun, Sentot tidak berperang sampai habis. Pada 1829, Sentot sudah berhenti melawan tentara Belanda. Sentot bersama pengikutnya lalu pergi ke kulon . De Javasche Courant tanggal 23 Agustus 1831 menyebut Barisan Alie Bassa, yang terdiri dari 450 orang, naik kapal uap Van Der Capellen ke Batavia (kini Jakarta) dari Semarang pada 15 Agustus 1831.
- Awal Mula Istilah Kuda Hitam
ISTILAH dark horse atau “kuda hitam” tentu sudah tak asing bagi kebanyakan orang. Alih-alih menggambarkan seekor kuda berwarna gelap, istilah ini justru marak digunakan dalam lingkup perlombaan –baik olahraga ataupun kontestasi politik– untuk menggambarkan sebuah kemenangan tidak terduga dari kandidat maupun peserta yang semula tak diunggulkan atau tidak banyak dikenal. Merunut sejarahnya, istilah yang muncul pada abad ke-19 ini memiliki kaitan erat dengan kebiasaan bertaruh dalam pacuan kuda. Para petaruh biasanya akan menjagokan kuda-kuda pacuan yang dianggap kuat atau telah memenangkan banyak pertandingan. Para petaruh itu yakin kuda pacuan yang mereka pilih akan kembali memenangkan perlombaan dan mereka berpeluang besar untuk memenangkan pertaruhan.
- Cerita Malari Versi Judilherry
RAUT riang Judilherry seketika berubah tegang. Percakapan kami tetiba membangunkan kembali ingatannya tentang malapetaka 15 Januari 46 tahun lalu itu. Masih segar dalam ingatannya, malam itu ia bersama kawan-kawan sesama mahasiswa bergerak menentang kebijakan ekonomi pemerintahan Orde Baru. Kejadian itu memang sudah sangat lama, tapi masih melekat begitu dalam di ingatan Judilherry. “Saya bersama kawan-kawan mahasiswa bergerak demi menyampaikan hati nurani rakyat, menentang ketidakadilan. Tidak ada maksud lain di balik semua itu,” tegas Judilherry saat ditemui di Gedung Ganeca, Kalibata, Jakarta Selatan (14/1/2020).
- Malapetaka Politik Pertama
PENGULANGAN sejarah merupakan lelucon pada kali pertama dan akan menjadi tragedi pada pengulangan yang kedua. Demikian disampaikan oleh Daniel Dhakidae , mengutip Karl Marx, dalam sambutannya di acara mengenang 40 tahun peristiwa Malari pagi tadi (15/01) di Jakarta. Turut pula hadir dalam acara itu Rahman Tolleng, Adnan Buyung Nasution dan sahibul hajat Hariman Siregar. "Indonesia dijajah oleh Belanda, kemudian oleh Jepang. Dulu yang datang Jan Pieter Coen, kemudian datang Jan Pronk, seorang new left tapi datang sebagai Ketua IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) untuk melihat pembangunan di Indonesia. Kemudian Tanaka seorang shogun , datang menemui Soeharto,” ujar Dhakidae.






















