top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bukan Sekadar Urusan Upah

    MASYARAKAT Nusa Tenggara Timur melakukan tabur bunga di makam para pahlawan pemberontakan kapal De Zeven Provincien di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, 4 Februari 2016. Dalam acara ini hadir keluarga dari pemimpin pemberontak, yaitu curu Martin Paradja serta anak, menantu dan cucu Josias Kolondam Kawilarang.   “Kami sudah lama mendengar bahwa kakek kami adalah pelaut hebat. Orang tua saya dulu beberapa kali mengajak saya ziarah ke sini. Namun, bagi kami anak keturunan Martin Paradja, merasa ada kurang perhatian dari pemerintah,” ujar Dominggus Benggu, cucu Martin Paradja kepada Historia .

  • Kesendirian Gajah Atraksi

    “DAME… Me… Ayo kita pulang Me,” suara lantang mahout (pawang gajah)   Wagino membelah keheningan sore. Dame berjalan menyeruak dari balik pepohonan. Seharian sudah gajah betina itu berjalan-jalan di bukit serta melahap rumput dan dedaunan. Belalainya menjelajah punggung sang mahout  yang membawa tas goni berisikan pisang. “Sebentar dulu Me. Jalan dulu kita balik ke rumah.” Dame berjalan bebas tanpa belitan rantai. Ekor pendeknya berkibas ke kanan dan kiri. “Ekor Dame pernah digigit gajah lain saat masih di sirkus. Bagian yang digigit akhirnya diamputasi untuk mencegah pembusukan,” tutur Wagino. Dame hanyalah satu dari banyak gajah Asia ( Elephas maximus ) yang pernah dipekerjakan sebagai gajah atraksi. Ia kini hidup bersama belasan gajah lainnya di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) , sebuah area konservasi gajah seluas 250 hektar yang berada di dekat Suaka Margasatwa Barumun, Sumatra Utara .

  • Setelah Peluit Kapal Berbunyi

    KAPAL Hr. Ms. De Zeven Provincien bertolak dari pelabuhan Surabaya pada 2 Januari 1933 untuk keliling Sumatra selama tiga bulan. Dalam pelayaran latihan ini, awak kapal terdiri dari 141 Eropa (30 perwira dan 26 perwira menengah) dan 256 pribumi (tujuh perwira menengah dan 80 siswa KIS atau Kweekschool voor Inlandse Schepelingen atau Pendidikan Dasar Pelaut Pribumi).   Sesaat sebelum berlayar, komandan kapal P. Eikenboom menyampaikan bahwa belum ada keputusan tentang pengurangan gaji. Dia berharap masalah itu tidak menjadi penghalang selama perjalanan. Untuk mengendurkan ketegangan, selama perjalanan akan diadakan pesta persaudaraan dan pertandingan sepakbola. Di Tanjung Priok diadakan pertandingan tolak peluru. Di Padang Panjang, Sumatra Barat, ada acara pesta persaudaraan marinir dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

  • Konflik Keluarga dalam Perang Dunia I

    SEJAK Minggu 4 November 2018 hingga 11 November 2018, Tower of London takkan gelap gulita di malam hari. Total 10 ribu lilin disulut para Beefeaters atau pengawal khusus Kerajaan Inggris untuk memperingati seabad gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I (PD I), 11 November 1918. Great War atau PD I (28 Juli 1914-11 November 1918) memakan korban total 19 juta jiwa, militer maupun sipil. Terlepas dari adanya Perjanjian Versailles 28 Juni 1919, Gencatan Senjata Compiègne pada 11 November 1918 jadi upaya awal mengakhiri perang yang mengglobal sampai ke Pasifik itu.

  • Kanker Masa Prasejarah

    KETIKA melakukan penggalian pada sebuah gundukan kuburan Scythian –masyarakat nomaden prasejarah Iran– di daerah Tuva di Rusia sepuluh tahun lalu, tanpa diduga para arkeolog menemukan “harta karun”. Dua tengkorak manusia, laki-laki dan perempuan, berjongkok di lantai sebuah ruangan di dalam kuburan. Mereka dikelilingi perlengkapan mewah dari 27 abad lalu; mahkota-mahkota dan jubah yang berhiaskan gambar kuda emas, macan kumbang, dan hewan suci lainnya. Namun bagi para paleopatolog, ahli penyakit purba, tengkorak punya nilai jauh lebih besar: tumor memenuhi sekujur tubuh tengkorak laki-laki. Diagnosis mereka: tumor itu kasus kanker prostat paling purba yang pernah ditemukan dalam sejarah peradaban manusia.

  • Kanker Payudara dari Masa ke Masa

    ARTIS komedi televisi Amerika Serikat Christina Applegate gemetar ketika pada April 2008 dokter rumah sakit menelepon dan mengabarkan hasil diagnosis keberadaan sel kanker di payudara sebelah kirinya. Kata-kata itu adalah mimpi buruk bagi semua perempuan. Applegate saat itu berusia 36 tahun. Sebagai anak seorang survivor kanker payudara, ia dengan sadar rutin melakukan pemeriksaan tahunan dengan mammogram  (alat pemindai kanker pada payudara) sejak berusia 30 tahun. Hingga 2008, dokter memintanya menjalani screening MRI (Magnetic Resonance Imaging, alat diagnostik) dan tes biopsi sebagai tambahan. Vonis dokter membenarkan ketakutannya.

  • Dunia yang Terhubung Kabel

    IMPERIUM mulai terbentuk di Eropa pada akhir abad ke-18. Mereka butuh berhubungan dengan koloni-koloninya untuk tujuan politik dan militer –juga memperluas pasar. Tapi, saat itu, dengan sebuah kapal, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengirimkan pesan dari koloni ke ibu kota imperium, atau sebaliknya. Di darat, kurir atau kuda tak kalah lambat. Cuaca dan keamanan juga jadi kendala. Keterbatasan itu bisa berdampak luar biasa. Salah satu pertempuran dalam Perang Amerika Serikat-Inggris yang menimbulkan banyak korban adalah Pertempuran New Orleans pada 8 Januari 1815. Padahal Perjanjian Ghent (Belgia) yang mengakhiri perang sudah ditandatangani pada 24 Desember 1814 –sekira dua minggu sebelum pertempuran. Tak ada pihak yang menyadari bahwa perang sudah berakhir.

  • Getah yang Nyaris Punah

    ADA pertautan antara teknologi dan lingkungan dalam kisah pembangunan kabel bawah laut. “Persis pada saat telegraf listrik diciptakan,” kata sebuah manual di masa itu, seperti dikutip Simon Wenchester dalam Krakatau , “saat itu juga ditemukan gutta-percha , bahan yang sangat dibutuhkan untuknya.” Ketika telegraf ditemukan, mudah untuk membangun jalur telegraf di darat. Tapi di laut, butuh pelapis kedap udara untuk kabel-kabel yang menghantarkan listrik. Bahan itu juga mesti lentur serta tahan tekanan tinggi dan suhu dingin di bawah laut. Timah, lilin, tar, dan karet sudah dicoba tapi tak berhasil. Hoplah , gutta-percha  memberikan solusi. Dengan gutta-percha , kabel-kabel telegraf tak lagi terputus di tengah laut dan pengiriman sinyal jadi bisa diandalkan.

  • 4 Februari 1921: Tjong A Fie Meninggal Dunia

    SEORANG tokoh asal Tiongkok, Tjong A Fie pergi meninggalkan duka bagi kota Medan. Ia berperan dalam bidang ekonomi hingga pembangunan dan sosial. Tjong A Fie lahir pada 1869 di Distrik Meixian, Guang Dong, Tiongkok, dengan nama Tjong Fung Nam. Ia juga dikenal sebagai Tjong Yiauw Hian. Terlahir dari keluarga yang tergolong miskin, sehingga ia tidak menyelesaikan pendidikannya. Aktivitas kesehariannya bekerja di toko kelontong milik keluarganya.

  • Sutan Sjahrir dan Manifesto Antifasis

    SUTAN Sjahrir tak banyak meninggalkan warisan. Sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan yang pernah menjabat perdana menteri pertama Indonesia, Sjahrir hanya meninggalkan sedikit harta bagi keluarganya. Partai yang dibentuknya, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dibubarkan oleh rezim Sukarno. PSI pun hanya menyisakan segelintir kader intelektual.  “Partainya kecil banget tuh PSI. Tapi, dia (Sjahrir) sebut ini partai kader. Jadi tidak perlu besar. Dia fokus pada kaderisasi. Itu PSI zaman dulu,” kata intelektual publik Rocky Gerung dalam diskusi Sutan Sjahrir “Perjuangan Kita” di Perpustakaan Nasdem, Jakarta Pusat, 30 Januari 2026.  Semasa mudanya, Rocky teridentifikasi sebagai “Orkit” alias “Orang Kita”, sebutan untuk jaringan kelompok intelektual yang berafiliasi dengan PSI. Selain berorientasi pada pedagogi, menurut Rocky, salah satu ciri intelektual Sjahrir ialah pemikirannya tentang antifasisme. Sjahrir menerangkannya dengan gamblang dalam pamflet perjuangan berjudul Perjuangan Kita  yang terbit pada 1945, sebelum PSI terbentuk.   Sjahrir menulis Perjuangan Kita  dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, sekitar Oktober 1945. Risalah ini diterbitkan sebulan kemudian pada 10 November 1945. Dan pada 14 November 1945, Sjahrir dilantik sebagai perdana menteri pertama Indonesia. Sebagai negara Republik yang baru terbentuk, keadaan Indonesia saat itu masih cukup rapuh. Aksi-aksi sepihak sebagai dampak euforia kemerdekaan kemudian melahirkan revolusi sosial di beberapa daerah. Terdorong oleh situasi genting itu, Sjahrir menuliskan manifesto perjuangan Perjuangan Kita . Dalam pengantarnya, Sjahrir menggambarkan suasana revolusi yang mencekam dua bulan pasca proklamasi kemerdekaan. “Rakyat jelata turut tergolak ke dalam gerakan kemerdekaan, didorong oleh kegelisahannya yang disebabkan oleh suasana masyarakatnya [...] Ucapan-ucapan kegelisahan rakyat yang kerap kali merupakan perbuatan-perbuatan yang kejam serta pelanggaran hak milik dengan kekerasan, dapat dimengerti, jika dicari sebab-sebabnya yang lebih dalam,” tulis Sjahrir dalam Perjuangan Kita .  Menurut Sjahrir, Perjuangan Kita  merupakan suatu program berkelanjutan untuk menjelaskan posisi Indonesia sehubungan dengan apa yang telah dicapai dan langkah perjuangan selanjutnya. Lebih jauh lagi, pamflet politik ini mempunyai tiga tujuan. Pertama , menjelaskan kepada rakyat Indonesia agar aktif mencegah Republik yang baru lahir jatuh ke tangan musuh-musuh radikal. Kedua , membersihkan rakyat dari elemen-elemen fasis, sebab tiga tahun pendudukan Jepang berhasil menanamkan pikiran fasis ke segala lapisan. Ketiga , untuk memperoleh kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia.  “Jepang datang dengan menghunus bayonet, memotong kepala orang. Itu periode 3,5 tahun. Jadi mental yang ditinggalkan oleh fasistis itu melekat sebagai fondasi untuk menghasilkan Indonesia merdeka. Nah, Sutan Sjahrir membayangkan itu, bayangkan misalnya Indonesia merdeka dengan mental yang fasis. Itu saya kira pendalaman filosofisnya,” terang Rocky.  Kendati terbit dalam bentuk pamflet, Perjuangan Kita  terbilang sebagai sebuah karya monumental. Sejarawan Bennedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution ( Revoloesi Pemoeda ) menyebutnya sebagai satu-satunya manifesto pada masa revolusi untuk menganalisis secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang mempengaruhi Indonesia. Perjuangan Kita  juga memberikan perspektif yang masuk akal bagi arah kemerdekaan di masa depan.  “Lingkungan Sjahrir adalah lingkungan intelektual. Yang berupaya untuk menertibkan cara berpikir. Dengan reasoning  yang bagus dan dengan retorik yang teratur,” ujar Rocky Gerung.  Rocky Gerung (tengah) dalam diskusi "Sutan Sjahrir: Perjuangan Kita” di Perpustakaan Nasdem, Jakarta Pusat, (30/1). (Martin Sitompul/Historia.ID). Sjahrir Antifeodalisme  Selain antifasis, menurut Ahmad Taufan Damanik, Sjahrir dalam Perjuangan Kita  juga memperlihatkan corak pemikiran antifeodalisme. Padahal, Sjahrir merupakan anak bangsawan. Ayahnya Mohammad Rasad bergelar Maharadja Sutan adalah seorang jaksa sekaligus tokoh terkemuka di Koto Gadang, Sumatra Barat.  “Tapi, [Sjahrir] menarik juga. Dia tidak pernah mengedepankan status kebangsawanannya. Dalam sejarah yang saya baca dari bukunya [Rudolf] Mrazek [ Sutan Sjahrir: Politik and Exile in Indonesia ], Sjahrir ini kawan dengan semua orang, dengan segala macam suku, dan segala macam ras,” kata Taufan, mantan ketua Komnas HAM periode 2017-2022. Seperti Rocky, Taufan juga masuk jaringan kelompok Orkit.  Menurut Taufan, dalam pandangan Sjahrir, struktur kekuasaan lama yang berisi nilai-nilai fasisme dan feodalisme harus dirombak terlebih dahulu untuk membangun Indonesia yang baru merdeka. Sebab, fasisme dan feodalisme juga sebetulnya bagian dari jaringan kapitalisme-imperialisme. Di samping kaum buruh dan tani, Sjahrir menyinggung peran pemuda sebagai ujung tombak mencapai revolusi kerakyatan dalam Perjuangan Kita . Pada saat itu tidak banyak tokoh politik yang menempatkan pemuda sebagai harapan.  Namun, pemuda yang dimaksud Sjahrir bukan mereka yang berasal dari sisa-sisa rekrutan milisi Jepang. Dalam Perjuangan Kita , Sjahrir menyebutnya pemuda yang hanya tahu baris-berbaris, menyerang, menyerbu, dan berjibaku. Mereka tidak pernah diajarkan untuk memimpin.  “Generasi muda pasca kemerdekaan itu sebagian adalah produk-produk fasisme Jepang. Mereka ini dulu ikut PETA (Pembela Tanah Air), sekaligus dia juga menyinggung Sukarno dan Hatta yang menjadi kolaborator Jepang. Sjahrir bilang harus lahir pemuda-pemuda yang kritis,” terang Taufan.  Hadirnya Sjahrir sebagai perdana menteri berikut gagasannya dalam Perjuangan Kita  mengikis stigma fasis warisan Jepang. Ia sekaligus menyelamatkan wajah Indonesia di panggung internasional sebagai bekal untuk memperoleh pengakuan kedaulatan dari negara lain. Perjuangan Kita  yang ditulis Sjahrir diakui sebagai salah pemikiran terbesar pendiri bangsa. Majalah Tempo memasukkan Perjuangan Kita ke dalam 100 catatan yang membentuk Indonesia.*

  • Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno

    DALAM suasana yang khidmat di ruang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), New York pada 18 April 2024, Duta Besar (Dubes) Malta untuk PBB yang memimpin sidang, Vanessa Frazier, dengan cermat membacakan pernyataan menjelang pengambilan suara terkait resolusi pengajuan Palestina sebagai anggota penuh PBB. Resolusi itu diajukan Aljazair di saat Israel masih melancarkan aksi-aksi brutalnya terhadap warga sipil di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina sejak Oktober 2023. “Bagi mereka yang mendukung draf resolusi di dalam dokumen S224/312, silakan mengangkat tangan,” ujar Dubes Frazier kepada 15 perwakilan anggota DK PBB dalam potongan video yang dilansir The Guardian , 18 April 2024. Secara kompak dan serempak, 12 perwakilan mengangkat tangan. Ke-12 perwakilan itu yakni Malta, Aljazair, Ekuador, Guyana, Jepang, Mozambik, Sierra Leone, Slovenia yang merupakan anggota tidak tetap DK PBB, serta Rusia, China, dan Prancis yang merupakan tiga dari lima anggota tetap DK PBB pemilik hak veto selain Inggris dan Amerika Serikat (AS).

  • Sukarno Tantang PBB

    AMNESTI Internasional merilis laporan berjudul "The State of the World′s Human Rights" pada 24 Mei 2012. Laporan itu menyoroti kegagalan Dewan Keamanan PBB dalam menjaga perdamaian global. Salah satu akibatnya, menurut laporan itu, pelanggaran HAM meningkat. Bukan barang baru sebetulnya bila Dewan Keamanan atau PBB secara keseluruhan mendapat kritik keras. Sejak akhir 1950-an Sukarno berulangkali mengkritisi PBB. Dalam pandangannya, PBB sudah tak netral. Kepentingan bangsa-bangsa baru selalu dikalahkan oleh negara besar. Sukarno memberi contoh, PBB tak menghukum Amerika Serikat, Inggris, atau negara besar lain yang mencampuri bahkan mengganggu urusan dalam negeri negara lain.

bottom of page