top of page

Hasil pencarian

9791 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dua Legenda Ludruk Indonesia

    NAMA Cak Gondo Durasim sudah melegenda di dunia kesenian ludruk. Ia memimpin Ludruk Genteng yang justru lebih terkenal dengan nama Ludruk Gondo Durasim. Ludruk ini melakukan pembaruan terhadap kesenian ludruk dan melakukan pertunjukan-pertunjukan revolusioner selama masa kolonial. Cak Gondo adalah seniman ludruk kelahiran Jombang, di mana diyakini juga merupakan tempat kelahiran kesenian ludruk itu. James L. Peacock dalam Ritus Modernisasi, Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia menyebut pada akhir abad ke-20, Cak Gondo telah mengorganisir sebuah rombongan ludruk yang jumlah anggotanya tak terbatas. Rombongan ludruk ini kemudian memainkan pertunjukan utuh dengan cerita, karakter dan tokoh yang beragam. Mereka juga tidak menggunakan lagi peran dan nama yang sama dalam semua pertunjukan.

  • Tugas Negara Harry Tansil

    INDONESIA dilanda krisis ekonomi sekitar tahun 1965–1966. Inflasi tinggi membuat pemerintahan Presiden Sukarno di ujung tanduk. Kala ekonomi sedang memburuk itu, Tan Tek Hoat, pemilik bank swasta malah membuat kekacauan. Tan Tek Hoat datang ke Indonesia dari Cina daratan pada 1930-an. Pada zaman Hindia Belanda itu, dia hanyalah penjaga toko “Wie Hong Liong” di Makassar yang khusus menjual onderdil sepeda dan becak. Dari sinilah kemudian naluri bisnisnya berjalan. Mula-mula Tan Tek Hoat menjual sepeda bekas. Tatkala datang era sepeda motor, dia berinisiatif menjadi importir motor merek DKW. Pemasarannya sukses. “Tan Tek Hoat lantas merambah dunia perbankan, dengan mendirikan Bank Benteng,” tulis majalah Gama, Juni 1999.

  • Negara Menak Sunda

    PADA 4 Mei 1947, Suria Kartalegawa, mantan bupati Garut periode 1929–1944, memproklamasikan Negara Pasundan di alun-alun Bandung. Sebelumnya, dia mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP). Proklamasi tersebut dihadiri ribuan orang yang dikerahkan dari Ujungberung dan Kiaracondong dengan truk-truk Belanda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook hadir. Juhana, anak Kartalegawa, heran dengan ulah ayahnya yang mendirikan Negara Pasundan. Padahal, baginya, sang ayah selalu berselisih paham dengan pembesar Belanda. Demikian juga orang tua Kartalegawa. Ibunya yang lanjut usia berbicara di corong radio untuk menyatakan tak setuju Kartalegawa mendirikan Negara Pasundan. Para pemuka Sunda bereaksi keras. Menak Sunda R.A.A. Wiranatakusumah mengirimkan surat kepada Sukarno bahwa keluarganya, yang umumnya menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan Republik, menolak Negara Pasundan dan berdiri di belakang pemerintah Republik.

  • Kisah Perwira TNI Sekolah di Luar Negeri

    UNTUK naik ke jenjang perwira tinggi, perwira menengah TNI diharuskan sekolah staf dan komando lebih dulu. Para perwira ini biasanya dikursuskan mulai dari pangkat mayor yang dipersiapkan menduduki jabatan staf dan komando setingkat lebih tinggi. Pada dekade 1950—1960-an, banyak perwira menengah TNI Angkatan Darat (AD) yang disekolahkan ke luar negeri. Pada 1957, enam orang perwira menengah TNI AD disekolahkan ke Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Mereka antara lain: Letkol Maraden Panggabean, Letkol Moersjid, Letkol Prijatna Abdurrasyid, Mayor Soehario Padmowirio, Mayor Subroto Brotosewodjo, dan Mayor Chris Sudono. Maraden dan kawan-kawan ditugaskan mengikuti kursus lanjutan perwira infantri selama delapan bulan hingga setahun. Mereka berangkat ke Amerika pada pertengahan April 1957.

  • Snouck Hurgronje in Jeddah and Mecca

    Snouck Hurgronje was a key figure in the development of Orientalism, a field of study that explores the ideas and worldviews of people in the East, including Asia, North Africa, and the Islamic world. In fact, within the history of Dutch colonialism in Indonesia, Snouck is often regarded as a pivotal figure in the Dutch victory in the Aceh War, which raged for years from the late 19th century into the early 20th century. Snouck Hurgronje was born in Oosterhout, the Netherlands, on February 8, 1857. In 1874, he studied theology at the Faculty of Arts at Leiden University, then traveled to Mecca, and wrote a dissertation on the Mecca festival, titled Het Mekkaansche Feest. Snouck’s fascination with the East, particularly Islam, cannot be separated from his family background. Journalist Philip Dröge notes in Pelgrim: Leven en Reizen van Christiaan Snouck Hurgronje Wetenschapper, Spion, Avonturier (Pilgrim: The Life and Travels of Christiaan Snouck Hurgronje – Scholar, Spy, Adventurer) that there was a compelling factor influencing the shift in Snouck’s perspective during his studies in Leiden, where he later studied Arabic with a focus on Islam. His interest relates to his maternal grandfather, Jan Scharp, who was one of the first Dutch people to conduct in-depth studies of Islam in the early 19th century.

  • Nasihat Istri untuk Soeharto dan Kemal Idris

    KOLONEL Soeharto frustrasi berat kala dicopot dari jabatannya sebagai Pangdam Diponegoro. Markas Berkas Angkatan Darat (MBAD) mendakwanya bersalah karena melakukan bisnis ilegal. Untuk menambah pundi-pundi, Soeharto nekat berdagang dengan cara barter hasil bumi yang diselundupkan (smuggling). Sayangnya perbuatan itu terlarang dalam peraturan ketentaran. Aksi penyelundupan yang dilancarkan Soeharto ketahuan pada 1959. Hampir saja dia dipecat oleh KSAD yang waktu itu dijabat Letjen TNI Abdul Haris Nasution. Gara-gara terjerat kasus indisipliner itu, Soeharto dirundung malu. Soeharto yang kecewa berniat hengkang dari dunia militer. Setelah menimbang-nimbang sendiri, dia menjatuhkan pilihan profesi selanjutnya sebagai sopir taksi. Istrinya, Siti Hartinah –akrab disapa Tien– merespons kekalutan Soeharto dengan hardikan tapi tetap memancarkan kasih ala perempuan Jawa.

  • Kemal Idris, Jenderal Gusar Pengirim Pasukan Liar

    PAGI-pagi tanggal 17 Oktober 1952, dua buah tank, empat kendaraan berlapis baja, dan ribuan orang menyerbu dan memasuki pintu gerbang Istana Merdeka, kediaman Presiden Sukarno. Satu batalion artileri dengan empat buah meriam menderu di halaman istana. Kerumunan massa menggelar spanduk-spanduk bertuliskan “Bubarkan Parlemen!”. “Meriam-meriam 25-pon bikinan Inggris digerakkan dan dihadapkan kepadaku,” ujar Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Pameran kekuatan ini mencerminkan kelatahan dari zaman itu. Tindakan ini tidak dapat dikatakan bijaksana, karena para panglima yang memimpin gerakan itu berada bersamaku di dalam istana.” Di balik aksi pengerahan meriam itu tersebutlah nama Mayor Kemal Idris, Komandan Resimen Tujuh Divisi Siliwangi. Dengan memegang sepasukan kavaleri dan infanteri, Kemal diperbantukan memantau situasi kota Jakarta.

  • Kemal Idris Terhipnotis “Marilyn Monroe” di Paris

    DI tengah kegalauannya akibat beberapa rencana penugasan yang diberikan KSAD Jenderal TNI AH Nasution padanya semua dibatalkan, Kolonel Kemal Idris dipanggil Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani. Kemal diberikan tugas baru oleh KSAD baru itu. “Kemal, sudahlah. Jangan dipikirkan. Cepat-cepatlah persiapkan diri. Saya baru senang kalau kamu naik pesawat terbang menuju Afrika!” kata Yani sebagaimana dikenang Kemal dalam otobiografinya yang ditulis Rosihan Anwar dan Ramhadhan KH, Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi. Kemal ditugaskan memimpin pasukan Garuda III yang bertugas menjaga perdamaian di Kongo. Sejak merdeka dari Belgia pada 1960, negeri di tengah Afrika itu dilanda perang saudara. Gerakan nasionalis yang dipimpin Patrice Lumumba tak hanya membuat Belgia sakit hati melepas bekas koloninya itu, namun juga mengganggu kepentingan Amerika Serikat (AS) yang telah lama menguasai kekayaan alam Kongo sebagai kompensasi atas dukungannya atas kolonialisme Belgia di sana.

  • Duka Kemal Idris Dibuang ke Yugoslavia

    BEOGRAD, Yugoslavia, suatu hari di tahun 1974. Duta Besar Kemal Idris terlibat perdebatan sengit dengan Menlu Yugoslavia Melos Minie. Perdebatan mereka berkisar tentang reschedule utang Indonesia pada Yugoslavia. Kemal bersikeras agar Menlu Yugoslavia meneruskan ke pimpinannya agar mau reschedule utang Indonesia. “Pemerintah Indonesia akan membayar hutang itu semampu Indonesia mengembalikan tanpa ada pembatasan jumlah dan waktunya karena terikat dengan aturan IGGI,” kata Kemal sambil menggebrak meja, dikutip Rosihan Anwar, dkk. dalam biografi Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi. Kemal menyadari sikap emosionalnya itu salah. Oleh karenanya dia langsung meminta maaf kepada menlu dan pejabat lain yang hadir. Namun, di luar dugaannya, upayanya tersebut membuahkan hasil. Pemerintah Yugoslavia bersedia mengadakan pembicaraan tentang reschedule utang Indonesia.

  • Cerita Sukarno Nonton Kabaret di Beograd

    KTT Non Blok di Beograd, Yugoslavia pada September 1961 mempertemukan Presiden Sukarno dengan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Sebelumnya, Bung Karno telah tiga kali berkunjung ke Yugoslavia, yakni pada 1956, 1958, dan 1960. Tito selalu menyempatkan diri untuk kunjungan balasan. Saling kunjung itu membuat Tito jadi kenal betul dengan pribadi Sukarno. “Waktu ada Konferensi Non Blok di Beograd yang namanya Presiden RI kalau mau pergi ke gedung konferensi kerjanya ‘nebeng’ mobilnya presiden tuan rumah, berbeda dengan kepala-kepala negara lain yang disediakan mobil-mobil khusus untuk mereka,” kenang Guntur, putra sulung Bung Karno yang turut serta, seperti dikisahkannya dalam Bung Karno dan Kesayangannya. Walhasil, Tito punya peran tambahan menjadi tukang antar-jemput Sukarno selain sebagai tuan rumah penyelenggara konferensi. Dia menjemput Bung Karno dari Hotel Metropol, tempatnya menginap ke gedung konferensi. Setelahnya, dia mengantar kembali dari gedung konferensi ke Hotel Metropol.

  • Saat Jenderal Gatot Soebroto Beraksi di Yugoslavia

    SEPTEMBER , 1961. Presiden Sukarno berkunjung ke Yugoslavia dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok. Selain didampingi Letjen TNI Gatot Soebroto, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, Bung Karno juga mengajak putra sulungnya, Guntur. Rombongan Bung Karno menumpang pesawat carter Pan Am DC-707. Selain untuk menghadiri KTT Non-Blok, tujuan muhibah Sukarno adalah meninjau kapal perang pesanan Indonesia yang sedang dibuat di Yugoslavia. Sehubungan dengan kepentingan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Abdul Haris Nasution telah tiba duluan di Yugoslavia. Adapun kapal perang yang tengah dipesan itu adalah jenis Submarin chaser buatan Yugoslavia, kapal anti kapal selam yang mampu bergerak cepat sebagai kapal pemuburu. Dalam penerbangan, Sukarno menuturkan betapa canggihnya kapal tempur pesanan TNI itu. Guntur antusias mendengarnya dan menanyakan berbagai hal, mulai dari meriam, radar, hingga daya tempuh tembakan. Sayangnya, Sukarno kurang begitu paham soal seluk-beluk alustista. Dia menyarankan Guntur untuk bertanya lebih lanjut kepada Jenderal Gatot.

  • Tito Sahabat Sukarno

    SOAL gaya berbusana Presiden Sukarno termasuk salah satu pemimpin negara yang paling necis di abad ke-20. Apakah itu dalam balutan seragam militer maupun pakaian sipil, ketika menghadiri hajatan formal Sukarno selalu terlihat dendi. Barangkali yang mampu menandingi Sukarno perkara fesyen ialah Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Penyandingan ini diakui sendiri oleh putra Bung Karno, Guntur Soekarnoputra. “Aku rasa nggak ada yang bisa ngalahin rapihnya dan menterengnya cara berpakaian Presiden; Pemimpin Revolusi Yugoslavia Josip Broz Tito, baik kalau ia sedang berpakaian secara sipil ataupun militer. Benar-benar bukan main ‘kemepyarnya’ cara dandanan pakaian ‘Banteng Neretva ini’,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page