Hasil pencarian
9791 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Pelanduk di Tengah Perang
KOPRAL Kees mengeluh dalam catatan hariannya. Sebagai anak muda Belanda, dia merasa tak beruntung harus menghadapi situasi yang kerap mengguncangkan jiwanya selama bertugas di Indonesia. Puncaknya saat dia harus menyaksikan dua gadis kecil tengah menangis seraya memeluk tubuh kaku ibu dan adik kecil mereka di sebuah parit dangkal. “Keduanya terbunuh oleh satu peluru yang sama,” ujar Kees, dikutip Gert Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1949. Kendati belum ada angka pasti, korban jiwa di pihak Indonesia sekitar 100.000 jiwa. “Tapi kalau pun jumlah itu betul, sudah bisa dipastikan sebagian besar rakyat sipil yang kadang-kadang tak paham mengapa mereka harus mati,” ujar Gert kepada Historia.ID.
- A Day of Terror in Rengat
THE day had just dawned over Rengat, the capital of Indragiri Regency, Riau Province, on the central eastern coast of Sumatra. That morning, at around 6, Junior Lieutenant Wasmad Rads, a TNI soldier from Battalion III Regiment IV Division IX Banteng Sumatra was taking his morning walk around the town. All of a sudden, a pair of red-painted planes flew low from the southeast of Rengat. Those P-51 Mustang bomber fighters had three colors painted on their fuselage: Red, White, and Blue. The Dutch had come to attack. "They dropped bombs on the streets, the market square where people gathered, and on people' houses. They even shot at people standing on the ground," Wasmad Rads recalled in his memoir Lagu Sunyi dari Indragiri (Song of Silence from Indragiri).
- Ayah Chairil Anwar Dieksekusi Tentara Belanda dalam Pembantaian Rengat
Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir Kami sekarang mayat Berilah kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi. Penggalan sajak berjudul “Krawang-Bekasi” di atas adalah karya sastrawan Chairil Anwar. Ditulis pada 1948, ketika perang mempertahankan kemerdekaan antara Indonesia dan Belanda tengah memuncak. Lewat puisi-puisi gubahannya, Chairil ikut menyalakan semangat heroisme para pejuang. Chairil Anwar dikenal sebagai sastrawan pelopor Angkatan ‘45. Ia kondang dengan julukan Si Binatang Jalang, persona yang ditampilkannya dalam sajak berjudul “Aku”. Riwayat kepengarangannya telah menjadi bahan studi banyak sastrawan maupun kritikus sastra. Semasa hidupnya, Chairil Anwar juga terkenal sebagai sastrawan bohemian bahkan terkesan urakan. Padahal, Chairil masih terbilang keponakan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Republik Indonesia. “Kedua orangtua Chairil Anwar berasal dari kalangan kelas atas. Ayahnya, Toeloes bin Manan, seorang controleur, pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Ibunya Saleha, putri bangsawan Koto Gadang, Sumatra Barat, yang punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir,” tulis Tempo, 21 Agustus 2016. Saleha adalah sepupu Sutan Sjahrir. Sementara itu, Tulus bin Manan merupakan pegawai birokrat pemerintah kolonial di Medan. Saat Chairil lahir pada 26 Juli 1922, Tulus sudah menjadi pegawai tinggi berpangkat kontrolir. Sebagai anak bungsu, Chairil begitu disayang oleh Tulus. Segala kebutuhan dicukupi, termasuk pendidikan dan minat terhadap seni. Sejak kecil, Chairil sudah gandrung bacaan sastra karena mendapat asupan buku bermutu dari orang tuanya. Sayang, menjelang Chairil dewasa, hubungannya dengan Tulus merenggang. Retaknya ikatan ayah dan anak itu lantaran Tulus menikah lagi dengan Romadona, wanita jelita putri dari camat terpandang di Guguak, Payakumbuh, Sumatra Barat. Ketika dinikahi Tulus, Romadona berstatus janda beranak dua. Rasa sakit hati kepada Tulus memicu Chairil untuk meninggalkan Kota Medan menuju Jakarta menjelang berakhirnya kolonial Hindia Belanda. “Saat itu ia menemani ibunya yang melarikan diri dari ketidakbahagiaan perkawinannya di Medan, Sumatra Utara,” catat Keith Foulcher, peneliti sastra Indonesia modern, dalam “Angkatan ‘45 dan Warisannya: Seniman Indonesia Warga Masyarakat Indonesia” termuat dalam buku Asrul Sani 70 Tahun. Kepindahan Chairil ke Jakarta, sambung Foulcher, sekaligus mengawali kiprahnya dalam dunia politik kaum nasionalis pada permulaan pendudukan Jepang tahun 1942. Sjahrir menampung Chairil dan ibunya ketika mereka pertama kali pindah ke Jakarta. Saat itu, Sjahrir baru bebas dari masa pengasingan dan menyewa rumah cukup besar milik wanita Belanda di Menteng. Di rumah itu pula Chairil bertemu dan berkawan dengan Des Alwi, salah satu anak angkat Sjahrir. “Ketika saya pertama kali datang ke Jakarta, Chairil Anwar dan ibunya tinggal di Jalan Latuharhari 19 bersama Paman Rir. Kemudian saya menyadari bahwa Chairil Anwar, yang kami panggil Nini, adalah seorang penyair berbakat,” kenang Des Alwi dalam memoarnya, Friend and Exiles: A Memoir of the Nutmed and the Indonesian Nationalist Movement yang disunting Barbara Sillars Harvey. Sementara Chairil mengukir kiprahnya sebagai penyair sambil sesekali menjadi kurir Sjahrir dalam perjuangan, Tulus bertugas sebagai bupati Indragiri Hulu, Riau. Daerah beribu kota Rengat ini diincar Belanda dalam perang menghadapi tentara Indonesia. Menurut buku Sejarah Daerah Riau terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Indragiri merupakan basis tentara Indonesia terkuat di Riau. Selain itu, di desa Lirik sebelah utara Rengat, terdapat kilang minyak yang diperlukan Belanda untuk meneruskan penetrasinya ke pedalaman Sumatra. Untuk menguasai Indragiri, Belanda harus memulainya dari Rengat. Pada 5 Januari 1949, Belanda menyerang Rengat dengan mengerahkan 24 pesawat tempur, 350 penerjun payung termasuk pasukan khusus Korps Specialle Tropen, dan tujuh kapal perang. Diperkirakan 2.000–2.600 orang warga sipil mati dalam operasi militer Belanda paling berdarah di Sumatra itu. Tragedi ini dikenal sebagai peristiwa Pembantaian Rengat. “Banyak rakyat dan pegawai pemerintah yang tewas oleh penyerangan tersebut. Di antaranya kepala daerah sendiri Patih Toeloes, ayah dari alm. pujangga muda Chairil Anwar, serta kepala polisi daerah yang mengadakan perlawanan sampai ke saat mereka gugur sebagai pahlawan,” sebut buku Republik Indonesia: Sumatra Tengah. Menurut Feni Efendi dalam Pacacombo: Ensiklopedia Birokrat dari Luhak Limo Puluah, Bupati Tulus ditembak oleh tentara Belanda di halaman rumah dinasnya bersama Sekretaris Daerah Yohanes Simatupang. “Ia ditembak oleh Belanda di hadapan anak dan istrinya dengan diseret keluar dari rumahnya dan ditembak di halaman dan jenazahnya dilemparkan ke Sungai Indragiri yang berada di seberang rumah dinasnya oleh Belanda,” catat Feni. Bupati Tulus diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Indragiri Hulu. Masyarakat Indragiri memperingati tanggal 5 Januari sebagai hari berkabung. Sementara itu, Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949, tiga bulan setelah kematian ayahnya. Hari wafatnya, 28 April, diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.*
- Pembantaian Kilat di Rengat
FAJAR menyingsing di Kota Rengat, ibu kota Kabupaten Indragiri, Riau. Pagi hari sekira pukul 06.00, Letnan Muda Wasmad Rads, prajurit TNI dari Batalyon III Resimen IV Divisi IX Banteng Sumatra, berjalan-jalan menyusuri kota. Dari arah tenggara kota, tiba-tiba sepasang pesawat bercocor merah terbang rendah. Pesawat tempur pengebom jenis Mustang P-51 itu berpanji triwarna: Merah Putih Biru. Belanda datang menyerang. “Mereka menjatuhkan bom di jalan-jalan, alun-alun pasar di mana orang-orang berbelanja, dan rumah penduduk. Mereka bahkan menembaki orang-orang yang berdiri di atas tanah,” kenang Wasmad Rads dalam memoarnya Lagu Sunyi dari Indragiri.
- Intel Indonesia Bantu Pelarian Intel Prancis
KAPAL Rainbow Warrior milik organisasi lingkungan, Greenpeace, menjadi andalan dalam kampanye menentang uji coba nuklir Prancis di Pulau Moruroa, Pasifik. Pihak Prancis tak terima. Pada 10 Juli 1985, kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan Auckland, Selandia Baru itu, diledakkan oleh anggota Dinas Intelijen Prancis (Direction Generale de le Securite Exterieure atau DGSE). Fotografer Greenpeace, Fernando Pereira, menjadi korban tewas. Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa keduanya adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, anggota Dinas Intelijen Prancis.
- Lasykar Pelangi dan Operasi Setan
BEBERAPA waktu lalu (17/3), Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti mengunjungi kapal Rainbow Warrior (Lasykar Pelangi) yang tengah berlabuh di perairan Sorong, Papua. Kapal milik kelompok pecinta lingkungan Greenpeace tersebut tengah memulai muhibahnya yang bertajuk “Jelajah Harmoni Nusantara”. Papua Barat merupakan tujuan pertama mereka dalam kegiatan tersebut. Sejatinya kapal tersebut bukanlah Rainbow Warrior yang pertama. Nama Rainbow Warrior sendiri awalnya diambil dari sebuah buku berjudul Warriors of the Rainbow karangan William Wiloya dan Vinson Brown yang diterbitkan oleh Naturegraph pada 1962). Buku tersebut berkisah tentang suatu ungkapan dari para ahli nujum suku Indian Cree di Amerika Utara yang meramalkan akan datang suatu masa ketika planet Bumi sakit parah akibat ketamakan manusia. Dalam situasi kritis tersebut, Sang Dewa Agung lantas mengutus sekelompok manusia idealis yang datang dari berbagai latar budaya untuk melakukan suatu aksi nyata menyembuhkan Bumi yang tengah sekarat tersebut. Orang-orang Indian Cree menyebutnya sebagai Para Ksatria Pelangi (Warriors of the Rainbow).
- 10 Juli 1985: Akhir Tragis Kapal Greenpeace Penentang Nuklir Prancis
HARI ini, 10 Juli 1985, 34 tahun silam. Kesunyian dermaga Pelabuhan Auckland, Selandia Baru seketika berganti jadi menakutkan pada pukul 23.45 waktu setempat. Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kapal-kapal yang bersandar maupun yang berada di daratan. “Suara apa itu? Jelas bukan bagian dari kebisingan rutin kapal. Bahkan, tidak ada suara normal kapal yang bisa didengar. Generator, yang memasok listrik ke kapal, anehnya sunyi. Gempa bumi kah?” kata Peter Willcox, kapten kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace yang merupakan salah satu kapal di dermaga itu, dalam memoarnya yang dimuat dalam Greenpeace Captain: My Adventures in Protecting the Future of Our Planet. Rainbow Warrior merupakan kapal Greenpeace, organisasi pemerhati lingkungan yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978. Bekas kapal Sir William Hardy milik Skotlandia itu lalu direparasi ulang agar berfungsi untuk pekerjaan lingkungan. Untuk menyelaraskan dengan misi yang diembannya, cat kapal didominasi warna putih dan hijau tua.
- Teror Mahasiswa Kiri
PERANG DINGIN menimbulkan gelombang kegelisahan dan kekecewaan di kalangan generasi muda Republik Federasi Jerman, atau lebih dikenal dengan nama Jerman Barat. Mereka kecewa dan marah atas dukungan negaranya terhadap setiap langkah dan manuver Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, seperti di Vietnam dan Timur Tengah. Terlebih ketika Jerman Barat bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dengan konsekuensi adanya pangkalan dan personel militer Amerika Serikat. Mereka menuduh pemerintahnya dan pemerintah AS menjalankan agenda politik yang bercorak imperialistis, khususnya terhadap rakyat dan negara-negara di Dunia Ketiga. Pada saat bersamaan, mereka curiga bahwa pemerintah, partai-partai politik, dan aparat penegak hukum di Jerman Barat didominasi eks simpatisan Nazi. Faktor-faktor itulah yang mendorong radikalisasi, dan berujung pada kemunculan kelompok militan yang menamakan diri Rote Armee Fraktion (RAF) atau Tentara Merah Jerman. Ia lebih popular sebagai kelompok “Baader-Meinhof”, berasal dari nama dua orang pendiri dan tokoh utamanya: Andreas Baader dan Ulrike Meinhof.
- Akhir Pelarian Teroris Kiri
RUTINITAS normal Karina Ziegler di pagi itu, Senin (26/2/2024), berubah geger. Dia kaget bukan main ketika menengok barisan polisi bersenjata lengkap dekat tokonya di distrik Kreuzberg, Berlin, Jerman. Rupanya aparat-aparat itu tengah menciduk salah satu buron eks kelompok teroris kiri, Daniela Klette, di apartemen dekat toko tadi. Dalam daftar pencarian kepolisian Jerman dan Europol, Klette berstatus buron perempuan paling berbahaya. Mengutip Daily Mail, Selasa (27/2/2024), Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Lower Saxony, Daniele Behrens, menyatakan penangkapan itu menjadi salah satu milestone dalam sejarah kriminal Jerman. Klette sejak 1991 hidup secara sembunyi-sembunyi bersama Ernst-Volker Staub dan Burkhard Garweg. Belakangan, Klette menyamar dengan nama alias Claudia. Semenjak kelompoknya, Rote Armee Fraktion (RAF) atau Faksi Tentara Merah, bubar pada 1998, Klette dan dua koleganya itu beralih aktivitas menjadi perampok.
- Film, Teror Negara, dan Luka Bangsa
DUNIA mencatat pembantaian 1965–1966 sebagai salah satu peristiwa paling biadab dalam sejarah modern. Tetapi di negerinya sendiri, peristiwa itu lenyap dari buku teks sejarah dan diskusi publik. Mayoritas generasi pelaku, korban dan saksi-mata cenderung bungkam. Dua generasi pasca-1965 menjadi korbannya. Mereka menderita buta-sejarah tentang masyarakat sendiri, walau bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Dalam kebutaan, berkali-kali mereka gagap, atau ikut-ikutan kalap, ketika berkobar militansi kebencian dan kekerasan komunal dalam skala yang sulit dicari duanya sebelum 1965. Tulisan ini menengok kembali sejarah terorisme negara sejak 1965, dan pentingnya peran film dalam sejarah tersebut. Juga akan mencatat beberapa upaya sineas pasca-1998 untuk menggugat sejarah 1965 yang sengaja dikubur hidup-hidup atau dipalsukan oleh negara.
- Teror DI/TII Mengintimidasi Sampai Terbawa Mimpi
SEJAK dideklarasikan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menebar teror ke mana-mana. Dari Tasikmalaya, gerombolan DI bergerak ke beberapa daerah di Jawa Barat. Mereka acapkali mengacau keamanan dengan kekerasan. Mulai dari menyerang basis TNI hingga menghabisi rakyat sipil yang kedapatan memihak TNI atau terindikasi pro-pemerintah. Selain mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), tujuan mereka jelas hendak memisahkan diri dari Republik Indonesia. “Darul Islam yang biasa orang ucapkan atau baca di surat-surat kabar, dengan macam-macam terornya, ialah Darul Islam yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia komplit dengan organisasi ketentaraannya yang disebut Tentara Islam Indonesia. Mereka adalah terang-terangan melanggar gezag (kewibawaan) Republik Indonesia. Menantangnya. Dan melanggar kedaulatan rakyat Indonesia. Darul Islam ini adalah Darul Islam Kartosuwiryo cs. yang dahulunya adalah salah seorang pemimpin PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia),” catat Kementerian Penerangan dalam Republik Indonesia: Propinsi Jawa Barat (1953). Keberadaan DI/TII, seturut Kementerian Penerangan, meresahkan kehidupan masyarakat Jawa Barat. Mereka yang tinggal berdekatan dengan kantong-kantong pasukan TII hidup di bawah tekanan teror. Gerombolan DI/TII tak segan merampok, membunuh, hingga membakar kampung dan desa-desa. Akibatnya, sebagian rakyat menjadi miskin, kehilangan mata pencaharian dan terlantar.
- Saat Bernadotte Dihabisi Teroris Israel
UNTUK kesekian kalinya, perjalanan kapal bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza, Palestina, diserang Israel. Aktivis lingkungan dan kemanusiaan Greta Thunberg asal Swedia beserta 11 koleganya dicegat dan diculik militer Israel di perairan internasional. Di masa lalu, pendahulunya yang diplomat Swedia, Count Folke Bernadotte, juga pernah dicegat dan bahkan jadi korban pembunuhan milisi-teroris Israel. Thunberg dan 11 aktivis berlayar dengan kapal layar Madleen yang mengusung kampanye lembaga kemanusiaan Freedom Flotilla Coalition (FFC). Ke-11 koleganya yang jadi penumpang dan kru adalah anggota Parlemen Eropa Rima Hassan (Prancis), Baptiste Andre (Prancis), Pascal Maurieras (Prancis), Yanis Mhamdi (Prancis), jurnalis Al Jazeera Omar Faiad (Prancis), Reva Viard (Prancis), Suayb Ordu (Turkiye), Thiago Avila (Brasil), Sergio Toribio (Spanyol), Marco van Rennes (Belanda), dan Yasemin Acar (Jerman). Kapal Madleen berlayar dengan menggunakan bendera Inggris sejak 1 Juni dan berangkat dari Catania, Italia pada 1 Juni 2025. Ia membawa susu formula, sekitar 100 kilogram tepung, 250 kilogram beras, suplai popok dan keperluaan kewanitaan, hingga sejumlah alat-alat kesehatan. Dalam perjalanannya, Madleen sempat menyelamatkan empat imigran Sudan yang terombang-ambing pada 5 Juni.




















