Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ulah Sukarni Akibatkan Soewarsih Diburu Aparat Kolonial
DUDUK dalam lembaga yang sama membuat Saifuddin Zuhri (menteri agama periode 1962-1967) menjadi dekat dengan Sukarni. Kendati telah saling kenal sejak masa pendudukan Jepang, Saifuddin dan Sukarni baru mulai dekat setelah sama-sama menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada paruh kedua 1960-an. Kedekatan itu membuat Saifuddin tak segan mengajak Sukarni, yang disegani dalam pentas politik nasional, bercanda. Dalam sebuah kesempatan, Saifuddin sengaja melontarkan pertanyaan pada Sukarni yang selama ini membuatnya penasaran. “Dengan nada kelakar saya tanyakan, ‘Apakah peci merah yang dikenakan di atas kepalanya itu lambang identitasnya yang antiimperialis, antimodal asing?’” kata Saifuddin dalam testimoninya untuk Sukarni, “Pejuang yang Nyaris Terlupakan”, dimuat dalam buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya . Namun, rasa penasaran Saifuddin tetap tak sirna. Pasalnya, sambung Saifuddin, “Pertanyaan saya itu tidak dijawab oleh Bung Karni. Ia hanya tertawa terkekeh-kekeh sambil mengacungkan ibu jarinya. Tak paham saya apakah yang ‘jempol’ itu pertanyaan saya, atau peci merahnya!” Sukarni tetaplah Sukarni yang misterius bagi banyak orang, termasuk yang mengenalnya seperti Saifuddin. Latar belakangnya sebagai aktivis perjuangan kemerdekaan yang selalu dimata-matai aparat kolonial membuat Sukarni harus kerap menyembunyikan identitas dirinya dengan menyamar. Kebiasaan menyembunyikan identitas itu terus terbawa ke masa-masa berikutnya. Tokoh PNI Hardi salah satu saksinya. Perkenalan Hardi dengan Sukarni terjadi setelah keduanya sudah bertemu dalam sebuah aksi pemuda yang –di dalamnya terdapat Hardi– digerakkan Sukarni ke sebuah rapat Komite Nasional Indonesia yang dilangsungkan di Tanah Abang. “Ketika saya bertemu muka dengan tokoh pelopor revolusi itu, saya belum mengetahui bahwa dia itulah Bung Karni,” kata Hardi dalam testimoninya, “Tokoh Pelopor Revolusi yang Terlupakan”, di buku yang sama. Hardi dan Sukarni akhirnya dekat kendati beda kendaran politik. Namun, bagi Hardi, sisi misterius Sukarni tetap saja bertahan. “Sejak dahulu, kalau ia menelepon kami, ia tidak mau menyebutkan nama yang sebenarnya. Kalau dalam suasana yang aman saja Mas Karni tidak mudah menyebutkan namanya lewat telepon, maka dapatlah dimengerti bahwa beliau tidak memberi kesempatan pada kami untuk saling berkenalan waktu kami bertemu muka untuk pertama kalinya pada akhir tahun 1945,” kata Hardi. Sebagaimana yang dialami mentornya, Tan Malaka, penyamaranlah yang membuat Sukarni kerap lolos dari penangkapan aparat, baik oleh kolonial maupun aparat negara setelah Indonesia merdeka. “Pejuang-pejuang kemerdekaan banyak yang menggunakan kamuflase atau penyamaran menjadi wartawan,” kata Adnan Buyung Nasution, yang sejak usia 10 tahun sering diajak ayahnya menemui Sukarni di kantor Antara , dalam otobiografi berjudul Pergulatan Tanpa Henti , Vol. 1. Tak hanya kerap membuat kaget rekan-rekannya, penyamaran Sukarni juga pernah membuat Soewarsih (kemudian dikenal sebagai Nyonya Soetarman), rekannya dari Keputrian Indonesia Muda (KIM), dibuat repot. Kisahnya dimulai setelah Sukarni terpilih menjadi ketua Pengurus Besar Indonesia Muda (IM) pada 1935. Lantaran terang-terangan menyuarakan gagasan Indonesia merdeka, aparat kolonial mencium gerakan “makar” mereka. Menjelang kongres IM, ketika atribut-atribut dengan logo baru IM diperbanyak dan disebarkan, aparat menangkapi anggota-anggota IM. Tempat tinggal Soewarsih, yang menumpang di rumah tokoh pendiri Kowani Ibu S. Kartowijono, ikut digeledah. Meski surat-surat penting berhasil disembunyikan terlebih dulu sehingga aman dari penyitaan aparat, Soewarsih menanggung akibat lanjutan. “Gara-gara aksi Sukarni itu selama tiga hari saya harus menghadap PID,” kata Soewarsih dalam testimoninya, “Gara-gara Sukarni Saya Dikejar-Kejar PID”. Sukarni sendiri berhasil melarikan diri ke Surabaya dengan menyamar sebagai perempuan. Dalam penyamaran itu, Sukarni dibantu Sudjono. “Saya ketika itu merasa dongkol sekali, ketika dia lari. Gara-gara dia saya dikejar-kejar PID.” kata Soewarsih. Sementara Sukarni selamat, Soewarsih terus menjadi target pengawasan aparat setelah interogasi tiga hari berturut-turut oleh PID itu, “Karena tekanan dari PID terlalu berat bagi saya, maka kemudian saya hijrahkan PB IM/PM KIM ke Surabaya dan pimpinan saya serahkan pada Roeslan Abdulgani dan N. Supijah.” sambungnya.*
- Pesan dari Kamp Interniran
MELALUI kartu pos, ibu ingin berkabar kepada ayah bahwa kami telah diangkut ke kamp interniran khusus keturunan Yahudi. Kartu pos yang tetap kami simpan itu penuh berisi sandi untuk menghindari sensor ketat; sebagai pengirim, ibu jelas tidak pernah tahu apa alasan balatentara pendudukan Jepang kalau sampai tidak mengirim kartu pos ini. Kamp yang ibu, kakak, adik dan saya tinggalkan adalah kamp interniran kaum perempuan Kramat, di jantung Batavia lama, ibu kota Hindia Belanda yang pada 1942 diduduki Jepang. Kami sempat menghuni kamp Kramat selama setahun dan selama itu kami tidak pernah mendengar kabar tentang ayah yang jauh berada di kamp pria.
- CIA, Filipina, dan Permesta
KETIKA bekerja di atase pers dan kebudayaan di Kedutaan Besar Indonesia di Manila, Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir, berteman dekat dengan beberapa jurnalis Filipina. Salah satunya Benigno “Ninoy” Aquino yang bekerja di The Manila Times sebagai koresponden perang termuda dalam Perang Korea pada 1950 dan koresponden asing di Indo-China sampai 1954.
- Sukarno Menyingkap Kejombloan
TAHUN baru atau saban hari lebaran kerap jadi ajang pertemuan keluarga besar. Pada momen itulah tali persaudaraan dipererat dengan mengunjungi kediaman sanak famili. Silahturahmi pun terjalin dengan saling bertanya kabar. Bagi orang tua kepada kerabat yang muda-mudi, lazim pula terlontar pertanyaan, “kapan menikah?” atau “siapa pacarnya sekarang?” Pertanyaan itu bisa jadi agak mengganggu bagi mereka yang masih betah melajang alias jomblo. Perihal kejombloan ternyata telah memantik perhatian Sukarno sejak dulu kala. Bung Karno membedah kegelisahan itu ketika dirinya menulis risalah berjudul Sarinah pada 1947. Siapa nyana, menurut sang presiden, hubungan sepasang insan yang tidak berujung pernikahan penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah kapitalisme. “Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin,” ujar Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Belenggu “Pintu Belakang” Kapitalisme menurut Sukarno adalah suatu pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Sementara itu, sektor-sektor produksi bertumpu kepada si pemilik modal. Dengan demikian, kapitalisme menyebabkan nilai tambah tidak jatuh kepada buruh atau kelas pekerja melainkan ke tangan kaum majikan. Dalam pidato pembelaannya berjudul “Indonesia Menggugat” tahun 1930, Sukarno mengatakan kapitalisme merupakan cikal bakal imperialisme modern; penindasan manusia atas manusia. Sementara itu, dalam Fikiran Ra’jat 1932, Sukarno menyebut kapitalisme menuju kepada Verelendung , yakni menyebarkan kesengsaraan. “Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan-tarif, peperangan, -- pendek kata menyebabkan rusaknya susunan dunia yang sekarang ini,” tulis Sukarno dalam “Kapitalisme Bangsa Sendiri?” termuat di Fikiran Ra’jat terbitan 1932 yang dikutip dari Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 . Lantas, bagaimana mungkin kapitalisme dapat menjadi benalu dalam percintaan? Sukarno menjawab bahwa pencaharian nafkah dan perjuangan hidup dalam masyarakat begitu berat. Banyak pemuda karena kekurangan nafkah tidak berani kawin ataupun kesulitan kawin. Perkawinan seolah hak istimewa bagi mereka yang punya kemampuan finansial mapan. “Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun,” kata Sukarno dalam Sarinah . Padahal, menurutnya pada periode itu seksualitas seseorang sedang menyala-nyala, berkobar-kobar sampai ke puncak jiwa. Kesukaran menunaikan hasrat kodrati itu, lanjut Sukarno, bikin perjaka masygul terlena mencari jalan keluar lewat “pintu belakang”. Mereka akan tersesat dalam perzinahan dengan sundal ataupun perbuatan keji lainnya. Bagi laki-laki, laku amoral tersebut dianggap lazim atau lumrah. Tapi, perbuatan serupa mendatangkan celaka bagi kaum hawa. Cap buruk dan hujatan akan melekat pada dahi perempuan yang terjebak di “pintu belakang”. Jari telunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja namun tidak menunjuk kepada laki-laki; tidak menunjuk kepada kedua pihak secara adil. Begitu kira-kira pemikiran Sukarno. Berat di Ongkos Dalam Sarinah , Sukarno membayangkan kondisi masyarakat yang dia cita-citakan. Disitu, tiap-tiap lelaki bisa mendapat istri. Dan sebaliknya, tiap-tiap perempuan bisa mendapatkan suami. Namun, menurut Sukarno kapitalisme merintangi imaji itu. “Tetapi kembali lagi kepada apa yang saya katakan tadi: masyarakat kapitalistis yang sekarang ini, yang menyukarkan sekali struggle for life bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan,” kata Sukarno. Sukarno merujuk keadaan di beberapa tempat. Di Batak, Sukarno mengutip tradisi uang “mangoli” atau disebut juga dengan “sinamot”. Di Lampung berlaku istilah adat “jujur” sedangkan di Bengkulu disebut adat “kulo”. Di Flores tradisi ini bernama uang “belis”. Semua itu pada hakikatnya adalah adat jual-beli perempuan. Di Sumatra Selatan misalnya. Sukarno menyaksikan gadis-gadis tua yang tidak mendapat jodoh. Roman mukanya gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada yang baru berumur 25, 30, atau 35 tahun. Jodoh yang tidak kunjung tiba lantaran adat yang memasang banyak penghalang, seperti uang hantaran yang selalu terlalu mahal. Adapun penyebab “muka tua” itu menurut Sukarno karena mereka terpaksa hidup sebagai gadis tua; “tak ada suami, tak ada teman hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alami.” “Alangkah baiknya sesuatu masyarakat yang mengasih kesempatan nikah kepada tiap-tiap orang yang mau nikah!,” demikian harapan Sukarno yang ditulisnya dalam Sarinah . Bung Karno sendiri dalam perjuangannya sedari zaman pergerakan hingga menjadi presiden Indonesia senantiasa memusuhi kapitalisme. Dalam berbagai pidato, sistem itu disebutnya sebagai penjajahan dalam bentuknya yang baru. Seperti disebut sejarawan Ong Hok Ham dalam “Sukarno: Mitos dan Realitas yang termuat di Prisma , 8 Agustus 1977, kapitalisme bagi Sukarno berarah ke pemiskinan. Dan selain itu, tentu saja, mempersulit orang untuk menikah karena terkendala biaya.*
- Riwayat Rudolf Höss Si Jagal Auschwitz
SEPERTI biasa, Bruno (diperankan Asa Butterfield) selalu menyelingi perjalanan pulang sekolahnya dengan bermain bersama tiga temannya. Tetapi sesampainya di depan rumah, Bruno mendapati suasana berbeda. Ia hanya berdiri terpaku. Pandangannya terkunci pada sejumlah serdadu yang membawa keluar barang-barang dari rumahnya. Saat duduk bersama ayah dan ibunya, Bruno menelan penjelasan bahwa mereka harus ikut sang ayah ke tempat tugas barunya di luar kota Berlin. Ayah Bruno merupakan perwira Schutzstaffel (SS/Paramiliter Nazi). Oleh karena itu demi menenangkan hati Bruno, sang ibu meyakinkannya bahwa toh nanti di rumah baru Bruno akan punya teman baru. Benar apa yang dikatakan sang ibu. Di rumah barunya di sebuah kawasan terpencil di Polandia yang diduduki Jerman, Bruno mendapat kawan baru, Shmuel (Jack Scanlon). Namun yang diherankan Bruno, Shmuel tak seperti anak biasa karena selalu memakai pakaian lusuh bermotif garis-garis yang dianggap Bruno sebagai piyama. Persahabatan mereka pun dipisahkan pagar berduri yang dialiri listrik. Adegan ironis itu jadi salah satu adegan dalam film The Boy in the Striped Pyjamas (2008), film drama holocaust yang diangkat dari novel bertajuk serupa karya penulis Irlandia John Boyne. Novel yang dirilis dua tahun sebelum filmnya itu jadi best-seller di pasar global. Baca juga: Alkisah Bocah Nazi dan Piyama Yahudi Menurut Boyne dalam wawancaranya dengan BBC , 12 Maret 2009, ia meracik drama dalam novelnya berdasarkan secuil kisah nyata di Kamp Konsentrasi Auschwitz yang jadi ujung tombak pelaksanaan holocaust semasa Perang Dunia II. “Tidak ada satupun dalam ceritanya berdasarkan satu sosok yang spesifik, kecuali Rudolf Höss, komandan Auschwitz di masa perang, di mana faktanya dia membawa istri dan anak-anaknya ke kamp dan mereka tinggal beberapa tahun di sana. Tokoh bocah Yahudi, Shmuel, sekadar representasi jutaan anak yang diseret ke kamp-kamp konsentrasi,” ujar Boyne. Aktor David Thewlis (kiri) memerankan komandan kamp konsentrasi yang terinspirasi dari sosok Rudolf Höss. ( miramax.com / ushmm.org ). David Thewlis, aktor yang memerankan ayah Bruno bernama Ralf, mengakui bahwa karakter yang dimainkannya terinspirasi dari sosok Höss. Untuk itu, demi mendalami karakter Höss, Thewlis membaca novel karya Boyne maupun memoar yang ditulis Höss, Commandant of Auschwitz: The Autobiography of Rudolf Hoess. “Isi memoar itu, di mana ia diperintahkan pihak Inggris untuk menuliskannya di masa persidangan hingga eksekusinya, cukup membuat saya syok. Tetapi memoarnya sangat membantu saya memahami karakter ini. Dia pria yang mencintai keluarga dan faktanya di Auschwitz ia membesarkan kelima anaknya di rumah yang punya pemandangan langsung ke gedung kremasi,” kata Thewlis kepada RTÉ , 9 September 2008. Disiplin Agama dan Militer Lahir sebagai anak tertua dari tiga bersaudara pada 25 November 1901 di Baden-Baden, Rudolf Franz Ferdinand Höss sejak kecil dididik dalam kedisiplinan Katolik dan militer. Ibunya, Lina Speck, sangat ketat mendidik Höss dan kedua adik perempuannya dengan ajaran Katolik. Sementara sang ayah, Franz Xavier Höss, yang veteran perwira pasukan koloni Jerman di Afrika Timur, merujuknya ke sekolah militer. Maka ketika baru berusia 15 tahun, Höss sudah ikut angkat senjata di Perang Dunia I (1914-1918). Höss ditugaskan dalam Resimen Dragoons ke-21, Angkatan Darat Kekaisaran Jerman –tempat ayah dan kakeknya pernah bertugas. Höss yang menjadi perwira rendah termuda dengan pangkat feldwebel (setara sersan kepala), melanglang buana di beragam pertempuran, mulai dari Baghdad, Kut-el-Amara, Palestina, hingga Gallipoli. Baca juga: Reinhard Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi Pasca-Perang Dunia I, Höss bergabung ke satuan paramiliter berhaluan kanan Korps Sukarela Prusia Timur. Dia lalu masuk Freikorps “Rossbach” yang terlibat di Pemberontakan Silesia (1919-1921), untuk membebaskan wilayah Ruhr dari Polandia dan Prancis. Semasa di pasukan paramiliter nasionalis itulah Höss mulai mengenal ideologi Naziisme, dari kawan dekatnya, Martin Bormann, yang kelak jadi sekretaris pribadi Adolf Hitler dan ketua kantor pusat Partai Nazi. Höss pun jadi kader Partai Nazi pada 1922. Pembunuhan Walther Kadow pada 31 Mei 1923 menyeret Höss ke meja hijau dan kemudian penjara selama 10 tahun. Kadow jadi target pembunuhan atas perintah Bormann yang jadi informan bagi otoritas pendudukan Prancis semasa Pemberontakan Silesia. Meski begitu, Höss hanya empat tahun mendekam di Penjara Brandenburg lantaran mendapat amnesti. Rudolf Höss saat menemani Reichsführer Heinrich Himmler ke kamp konsentrasi (kiri) & surat penunjukannya sebagai komandan Auschwitz. (USNA/ ushmm.org ). Kehidupan militer kembali digeluti Höss selepas menghirup udara bebas. Ketika SS-Totenkopfverbände –unit khusus paramiliter Nazi yang kelak kondang sebagai kepanjangan tangan Hitler akan holocaust – berdiri pada Juni 1934, Höss turut bergabung. Dia lalu dikenal sejumlah petingginya, termasuk Heinrich Himmler. Penugasan pertamanya adalah memimpin sebuah pos keamanan di Kamp Konsentrasi Dachau, Desember 1934. Dachau jadi salah satu kamp konsentrasi pertama yang didirikan selepas Hitler naik jadi kanselir. Isinya adalah para interniran dan tahanan politik musuh Nazi. Empat tahun berselang, Höss dipromosikan jadi hauptsturmführer (setara kapten) dengan tugas jadi ajudan Kolonel Hermann Baranowski. Baranowski merupakan komandan Kamp Konsentrasi Sachsenhausen. Keluarga Bahagia di Auschwitz Di Dachau dan Sachsenhausenlah Höss mulai mendalami holocaust. Penguasaannya terhadap holocaust itu berguna kala dipromosikan jadi komandan Kamp Auschwitz di Polandia yang masih nol. “Saya diberi perintah dari otoritas yang lebih tinggi untuk mengubah bekas barak artileri Polandia dekat Auschwitz menjadi kamp karantina untuk tahanan yang datang dari Polandia. Setelah Himmler menginspeksi kamp pada 1941, saya menerima perintah memperluas kamp dan mempekerjakan para tahanan untuk mengembangkan distrik pertanian dengan menguruk rawa-rawa di area itu,” kata Höss sebagaimana dikutip John W. Primomo dalam Architect of Death at Auschwitz: A Biography of Rudolf Hoss. Baca juga: Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi Searah jarum jam: peta kompleks kamp, Auschwitz I, Auschwitz II-Birkenau, & Auschwitz III Monowitz. (NARA/ ushmm.org / yadvashem.org ). Kamp Auschwitz I mulanya hanya bisa menampung sekitar 10 ribu tahanan Yahudi dan ras-ras inferior lain. Setelah invasi Jerman ke Uni Soviet yang diikuti dengan kedatangan ratusan ribu Tentara Merah yang tertawan, Auschwitz kewalahan. Höss lalu diperintahkan membangun dua kompleks kamp baru yang kemudian dikenal sebagai Kamp Auschwitz II-Birkenau dan Kamp Auschwitz III-Monowitz. Höss selalu ingin tetap dekat dengan keluarga kendati berpindah-pindah tempat penugasan. Maka sejak memegang komando Garnisun Auschwitz dengan pangkat obersturmbannführer (setara letnan kolonel), Höss mengajak serta istrinya, Hedwig Hensel, dan empat anaknya: Klaus (10), Heidetraut (8), Inge-Brigitt (6), dan Hans-Jürgen (3). Anak kelimanya, Annegret, lahir di vila berlantai dua dekat Auschwitz I yang mereka tinggali sejak 1940. Baca juga: Josef Mengele dan Eksperimen Mengerikan di Kamp Konsentrasi Keluarga Hoss hidup nyaman di Auschwitz dengan menempati sebuah vila mewah berikut beragam fasilitasnya. “Villa dua lantai itu berada dekat dengan kamp dan sangat mudah melihat gedung kremasi Auschwitz I. Rumahnya didekorasi dengan barang-barang curian dari para tahanan. Keluarga Höss menikmati pelayanan juru masak, pengasuh, tukang kebun, sopir, pencuci pakaian, pemotong rambut, hingga pembersih rumah, di mana beberapa di antaranya tahanan kamp. Dari waktu ke waktu Höss juga menjamu Himmler dan para petinggi SS di vilanya,” sambung Primomo. Kolase para korban holocaust yang mayoritas berakhir di kamar-kamar gas. ( ushmm.org / yadvashem.org ). Meski begitu, keluarga Höss hidup di atas penderitaan para tahanan Auschwitz yang kemudian tewas disiksa, dieksekusi, dijadikan korban eksperimen maupun karena penyakit. Istri – Höss, Hedwig, baru mengetahui nasib para tahanan itu setelah dua tahun tinggal di vila mewah itu– dan anaknya tak ada yang tahu hal itu karena mereka semua tak paham apa sebetulnya pekerjaan Höss. Sebagai komandan kamp, Höss bertugas mengatur para pekerja paksa hingga memutuskan penggunaan zat kimia Zyklon B. Penggunaan Zyklon B di kamar-kamar gas merupakan pengejawantahan “Final Solution”, perintah Himmler dalam mengatasi persoalan Yahudi. Baca juga: Adik Hermann Goering Penyelamat Yahudi Perangai jagal Höss di kamp berkebalikan dengan perangainya di rumah. Di rumah, Höss seorang pria yang lembut dan mencintai keluarga. Itu diakui putrinya, Brigitt, kala diwawancarai Thomas Harding pada 2013 untuk bukunya, Hanns and Rudolf: The True Story of the German Jew Who Tracked Down and Caught the Kommandant of Auschwitz . “Dia pria paling baik di dunia. Dia sangat lembut dan mencintai kami. Saya ingat kala makan bersama, bermain di taman, dan membacakan buku cerita Hansel and Gretel ,” kata Brigitt mengenang. Rudolf Höss dan keluarganya ikut tinggal dekat Auschwitz. (IFZ). Namun kemewahan berikut kenyamanan keluarga Höss hanya seumur jagung. Seiring berakhirnya perang, Höss harus berpisah dengan keluarganya. Sementara keluarganya bersembunyi di sebuah rumah di pedesaan dekat pabrik gula Sankt Michaelisdonn, Höss melarikan diri ke perbatasan Denmark dengan menyamar sebagai personil Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) bernama Franz Lang. “Saya ingat ketika mereka (pasukan Inggris, red) datang ke rumah kami untuk menginterogasi. Mereka berteriak: ‘Di mana ayahmu? Di mana ayahmu?’. Mereka selalu mengulang pertanyaan itu yang membuat saya mengalami sakit kepala hebat. Sejak saat itu saya mengidap migraine ,” lanjut Brigitt. Baca juga: Albert Speer Arsitek Kebanggaan Nazi Hingga setahun pasca-Perang Dunia II, Höss alias Franz Lang tetap terpisah dari keluarganya. Höss hidup seorang diri dan bekerja sebagai tukang kebun di Gottrupel. Di sanalah Höss akhirnya ditangkap pada 11 Maret 1946 setelah tak bisa mengelak ketika ditemukan mengenakan cincin kawin yang di bagian dalamnya bertuliskan “Rudolf dan Hedwig”. Höss lantas diseret ke Pengadilan Nuremberg sebagai saksi terhadap terdakwa Ernst Kaltenbrunner, salah satu perwira tinggi Gestapo; dan Oswald Pohl, kepala Dinas Ekonomi SS yang jadi tokoh kunci “Final Solution”. Dalam kesaksiannya di Nuremberg, Hoss mengakui bahwa di tiga kamp Auschwitz (Auschwitz I, Auschwitz II-Birkenau, Auschwitz III-Monowitz) ada sekira tiga juta nyawa melayang. Sebanyak 2,5 juta di antaranya meninggal akibat dieksekusi secara konvensional dan lewat kamar gas, 500 ribu sisanya tewas akibat kelaparan dan penyakit. Setelah diadili di Polandia, hidup Rudolf Höss berakhir di tiang gantung di Auschwitz. ( yadvashem.org /Twitter @AuschwitzMuseum). Höss juga menerangkan cara kerja kamar-kamar gas. Dengan menggunakan Zyklon B, para tahanan paling lama bertahan 10 menit sebelum dijemput ajal. Dalam sejam, setiap satu kamar gas sudah bisa membunuh dua ribu tahanan. Angka-angka itu memang sekadar perkiraan Höss, lantaran ia tak bisa mengungkapkan detailnya. Akan tetapi, ketika sudah diserahkan ke Pengadilan Tinggi Nasional Polandia pada 25 Mei 1946, Höss meralat angka yang dia ungkapkan di Nuremberg. Di pengadilan tinggi itu, status Höss tak lagi saksi melainkan terdakwa. Baca juga: Adolf Eichmann, Perwira Nazi Spesialis Yahudi “Saya tak pernah tahu total angkanya. Saya hanya bisa mengingatnya berdasarkan ingatan dari angka-angka dari laporan (petinggi RSHA/ Obersturmbannführer Adolf) Eichmann atau para deputinya. Dari Silesia 250 ribu (tahanan), Jerman dan Theresienstadt 100 ribu, Belanda 95 ribu, Belgia 20 ribu, Prancis 110 ribu, Yunani 65 ribu, Hungaria 400 ribu, Slovakia 90 ribu, total 1.130.000. Saya tak bisa mengingat angka dari aksi-aksi yang lebih kecil. Tetapi total 2,5 juta terlalu tinggi karena Auschwitz punya keterbatasan kemampuan destruktifnya,” aku Höss. Pengadilan itu lalu menjatuhkan vonis hukum gantung pada Höss yang menjalani sidang sejak 11-29 Maret 1947. Eksekusinya digelar tepat di sebelah ruang kremasi Auschwitz I pada 16 April 1947. Sebelum dieksekusi, Höss sempat melakukan penebusan dosa kepada Pastor Władysław Lohn dan menuliskan surat untuk istri dan anak-anaknya. “ Kini aku bisa melihat lebih jelas dengan keadaan yang pahit, bahwa ideologi yang selama ini aku yakini faktanya berdasarkan premis-premis yang salah dan ternyata benar bahwa pada suatu hari akan tumbang. Tindakan-tindakanku semasa bertugas jelaslah salah. Keraguan sebenarnya selalu menghampiri ketika aku berpaling dari Tuhan. Itu menjadi pergulatan yang berat. Akan tetapi sekali lagi aku bisa menemukan keyakinanku pada Tuhan, ” kata Hoss dalam surat terakhirnya.
- Harga untuk Kemerdekaan Indonesia
PADA Selasa sore yang panas, 23 Agustus 1949, delegasi Republik Indonesia, beserta Serikat Federasi Indonesia (BFO) dan Belanda, berkumpul mengelilingi meja besar berbentuk oval di “Room of Knights” (Ridderzal) di Den Haag, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dipelopori oleh diplomat Amerika Merle Cochran.
- Kebrutalan Pertempuran Surabaya
DALAM Perang Dunia II, pasukan kavaleri Inggris dan Amerika Serikat menurunkan M4 Sherman di setiap palagan. Tank berwujud raksasa itu terbukti memang sukses memenangkan berbagai pertempuran terutama saat pihak Sekutu berhadapan dengan Jerman di palagan Afrika dan Eropa. Kegaharan Sherman dilukiskan secara ciamik dalam film Fury (2014) yang dibintangi oleh aktor kawakan Brad Pitt. Di film tersebut dikisahkan bagaimana Sherman dapat mengatatasi Tiger I, tank milik militer Jerman yang disebut-sebut memiliki tingkat kecanggihan luar biasa di zamannya. Namun tidak selamanya kisah Sherman adalah melulu kisah tentang kejayaan. Di palagan Surabaya, banyak Sherman dan para awaknya justru menjadi bulan-bulanan para pejuang Indonesia. “Serangan nekat pasukan bunuh diri pejuang Indonesia yang hanya menggunakan granat di tangan banyak meluluhlantakan tank-tank raksasa milik Inggris itu,” ungkap sejarawan Moehkardi. Pernyataan Moehkardi tentu saja bukan isapan jempol semata. Des Alwi, pelaku Pertempuran Surabaya, mengisahkan bagaimana mulai 10 November 1945 para pelaku bom bunuh diri mulai berkeliaran di seluruh wilayah palagan. Menjelang tengah malam, mereka yang terdiri dari anak-anak muda fanatik dan hanya bersenjatakan granat melakukan penyergapan massal terhadap tank-tank Inggris yang mulai keluar dari sarangnya. “Mereka ramai-ramai menaiki tank-tank tersebut, membuka kanopinya dan langsung menerjunkan diri masuk ke dalam tank: meledakan seluruh isinya, termasuk diri mereka,” ungkap Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945. Sementara itu guna membungkam artileri para pejuang Indonesia yang terus menyalak, para serdadu Inggris membakar sekaligus membombardir sejumlah perkampungan penduduk yang padat seperti terjadi di Pengapon, Pasar Turi, Kapasan, Semoet, Djagalan, Paneleh, Pasar Kembang, Tamarind Laan, Pasar Besar, Kebalen dan beberapa kampung lainnya. “Ratusan jasad yang terdiri dari manusia dan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kucing dan anjing bergelimpangan tanpa nyawa di jalanan,” kisah veteran Pertempuran Surabaya Letnan Kolonel (Purn) Moekajat kepada saya pada 2010. Praktis gang-gang di perkampungan itu musnah. Penduduknya yang masih hidup kocar-kacir sambil berusaha menyelamatkan nyawa mereka tanpa bisa membawa harta secuil pun. Saksi lain, Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik mengenang bagaimana saat dia dan pasukannya menghindari tembakan-tembakan artileri Inggris, di jalan menuju Bioskop Flora dia berpapasan dengan dua perempuan dan seorang lelaki tua. “Semula saya kira pria itu menggendong bayi, ternyata yang dipegang adalah ususnya yang keluar dari perut. Melihat pemandangan itu, salah seorang pejuang yang mengikuti saya muntah,” kenang Hario Kecik dalam otobiografinya, Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit . Selain duel artileri, tidak jarang terjadi perkelahian brutal satu lawan satu di tengah gang, jalanan dan bahkan di balik reruntuhan bangunan. Hario ingat beberapa hari sebelum meletus Peristiwa 10 November 1945, dia pernah tak berdaya mencegah gerombolan massa mengambil puluhan serdadu Inggris yang menyerah dari tangan pasukannya. Secara brutal, seluruh prajurit Inggris itu disembelih dan dipenggal di atas sebuah jembatan tua. “Seorang yang berbadan kecil maju ke arah saya, dan dengan wajah merah dan suara serak meminta agar saya meminjamkan pedang. Tampak senyuman sadis pada wajahnya. Tangannya memegang pedang berlumuran darah. Pedang itu bengkok, mungkin karena kualitas bajanya yang rendah dan tidak tahan untuk memotong tulang,” tutur Hario Kecik. Des juga masih ingat bagaimana sekumpulan serdadu Inggris yang mungkin beragama Islam terkepung oleh para pejuang Indonesia. Secara histeris dan panik mereka berteriak-teriak “Allahu Akbar”. Namun massa yang marah dan mengira mereka meneriakan takbir hanya untuk mencari selamat, tak lagi peduli: semua terbantai hanya dalam sekejap. Pertempuran Surabaya memang merupakan salah satu episode paling heroik, mencekam sekaligus brutal dalam sejarah pasca Perang Dunia II. Akibat Inggris bersikeras untuk tetap setia kepada Perjanjian Potsdam, di ujung Desember 1945 mereka harus kehilangan sekira 1.500 serdadunya (termasuk di dalamnya dua perwira terkemuka berpangkat brigadir). Jumlah orang Indonesia yang gugur dalam peristiwa itu sendiri diperkirakan berjumlah sekira 16.000 jiwa.*
- Pergi ke Gereja pada Masa VOC
SEBUAH gereja menjulang tinggi. Tujuh jendela besar tampak pada bagian muka bangunannya. Tanah lapang di sekitarnya penuh dengan orang. Para budak, pembesar dan pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), dan orang-orang mardjikers atau budak yang dimerdekakan baru selesai beribadah pada hari Minggu.
- Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran
PUTRI Diana kecil (diperankan Lilly Aspell) menggebu-gebu berpacu dengan sejumlah pendekar Amazon yang lebih dewasa dalam sebuah kompetisi. Di fase akhir, Diana tinggal melontarkan sebilah tombak untuk menang. Namun langkahnya dihentikan Antiope (Robin Wright), pendekar Amazon yang menjadi pengawas kompetisi, hingga akhirnya Diana urung juara.Diana kecil menangis sesenggukan sehingga harus ditenangkan ibunya, Ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Persoalannya, Diana hampir menang dengan cara yang culas dan mengambil jalan pintas di sebuah fase kompetisinya. Itu yang digarisbawahi sang ibu bahwa dalam keadaan apapun, perempuan Amazon tak boleh hanya mengandalkan kekuatan, melainkan harus memprioritaskan nilai-nilai kejujuran. Pesan inti dari prolog itu jadi kunci cerita film pahlawan super Wonder Woman 1984 yang diracik sineas Patty Jenkins. Film itu merupakan film kesembilan dari waralaba DC Extended Universe cum sekuel dari film pahlawan super serupa, Wonder Woman (2017). Adegan Diana kecil (kanan) dalam sebuah kompetisi halang rintang bangsa Amazon. ( warnerbros.com ). Nilai kejujuran dengan keras dipegang Diana ketika berangsur dewasa dan hidup di tengah manusia biasa di Washington DC pada 1984.Diana menyamar sebagai pakar antropologi dan arkeologi di Museum Smithsonian bernama Diana Prince. Suatu hari, di tengah rutinitas pekerjaannya, Diana dewasa (Gal Gadot) bertemu rekan baru yang acap rendah diri, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Keduanya saling bantu menyelidiki sejumlah temuan benda kuno. Salah satu benda itu akan mengubah persahabatan mereka maupun situasi dunia secara global. Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah Benda kuno itu adalah batu citrine dari peradaban Mediterania. Batu tersebut ternyata bisa mewujudkan keinginan siapapun yang memegangnya. Termasuk Diana , yang hatinya sangat mendambakan kekasihnya yang telah meninggal bisa kembali hidup, Steve Trevor (Chris Pine). Sayangnya keinginan yang terwujud itu turut mendatangkan konsekuensi. Adegan pertarungan Wonder Woman melawan Barbara Minerva alias Cheetah. ( warnerbros.com ). Cerita kian dramatis ketika batu itu dicuri seorang pebisnis minyak oportunis, Maxwell Lord (Pedro Pascal). Akibatnya, situasi geopolitik dunia yang tengah panas oleh Perang Dingin turut terimbas sebagai buah dari keserakahan Lord. “Kita tidak bisa memiliki segalanya. Yang bisa kita miliki adalah kejujuran dan itu sudah cukup,” ujar Wonder Woman kala menghadapi Lord dalam sebuah konflik. Bagaimana kelanjutan aksi Diana Prince alias Wonder Woman dalam menyelamatkan dunia dari keserakahan Lord yang dibantu Minerva alias Cheetah? Baiknya Anda tonton sendiri Wonder Woman 1984 yang sudah tayangterbatas di beberapa bioskop maupun streaming di HBO Max sejak Natal 25 Desember 2020. Kembali ke “Khitah” Wonder Woman Di beberapa adegan, tone film sarat sinar lampu neon.Diiringi music scoring orkestra yang bercampur disko garapan komposer Hans Zimmer, penonton bakal dibawa bernostalgia ke era 1980-an. Untuk alur ceritanya, film Wonder Woman kali ini tak mengikuti alur kisah Wonder Woman di komik manapun.Sang sineas seolah ingin membawa penonton kepada karakter sejati Wonder Woman sebagaimana yang diciptakan psikolog William Moulton Marston pada 1941. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Jenkins menyadari bahwa Wonder Woman tak seperti pahlawan super mainstream, yang menghajar habis-habisan, bahkan membunuh tokoh penjahatnya. Wonder Woman, bagi Jenkins, adalah karakter yang memprioritaskan kejujuran untuk membuat semua orang punya keputusan yang lebih baik. “Hal menarik dari Wonder Woman adalah dia jagoan super yang tidak sering menghabisi tokoh penjahat dan lebih kepada mengonfrontir perbaikan dalam segala aspek umat manusia. Jadi dia seperti halnya seorang dewi yang berusaha terlibat dengan manusia biasa dan berusaha membuat semua orang lebih baik. Dia tak banyak bertarung, namun lebih banyak mengonfrontasi sebuah sudut pandang,” ujar Jenkins dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly , 24 Desember 2020. Sketsa pertama karakter Wonder Woman (kiri) ciptaan William Marston yang dibantu ilustrator H. G. Peter yang kemudian muncul pertamakali di All Star Comics #8. (Comixology/ comiclink.com ). Sejatinya, ketangguhan, kekuatan, maupun kecepatan yang jadi keunggulan Wonder Woman berhulu dari nilai-nilai cinta dan kejujuran. Patty Jenkins sangat kentara menonjolkan premis-premis itu sedari awal hingga akhir. Jalan ceritanya terinspirasi dari bagaimana Marson melahirkan karakter Wonder Woman berikut nilai-nilai yang dibawanya dalam memerangi kejahatan. Selain berprofesi sebagai psikolog dan pencipta purwarupa poligraf atau alat pendeteksi kebohongan, Marston merupakan salah satu anggota tim konsultan edukasi di penerbit All-American Publicatio ns dan National Periodicals di era 1940-an. Pada 1946, kedua penerbit itu berfusi menjadi DC Comics . Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Sampai di awal tahun 1940, jagoan super dari dua penerbit cikal-bakal DC Comics itu masih berupa para pahlawan laki-laki, mulai Batman, Superman, hingga Green Lantern. Marston ingin berkontribusi menciptakan karakter pahlawan super tambahan. Namun, diungkapkan Marguerite Lamb dalam artikelnya yang dimuat Majalah Bostonia edisi September 2001,“Who Was Wonder Woman?”, oleh istrinya, Sarah Elizabeth Holloway, Marstondisarankan untuk menciptakan pahlawan super perempuan. “Marston, psikolog yang dikenal menciptakan poligraf mengajukan ide untuk pahlawan super baru, di mana kekuatan utamanya terletak pada kekuatan pukulan atau lontaran api, melainkan dengan cinta. Elizabeth kemudian mengatakan: ‘Baiklah, tapi buatlah pahlawan supernya perempuan,’” tulis Lamb. William Moulten Marston dan istrinya Sarah Elizabeth Holloway (kiri) & Mary Olive Byrne yang jadi inspirasi karakter Wonder Woman. (Smithsonian Library/Boston University). Saran Elizabeth kemudian dijalankan Marston dengan meracik latar belakangnya dengan menyiratkan agenda feminisme dan memadukannya dengan muasal Wonder Woman sebagai keturunan dewi-dewi dari mitologi Amazon. Menurut Clare Pitkethly dalam “Recruiting an amazon: The Collision of Old World Ideology and New World Identity in Wonder Woman” yang dimuat dalam The Contemporary Comic Book of Superhero , mitologi Amazon bagi Marston merupakan gagasan yang tepat untuk meng- counter narasi-narasi dari mitologi-mitologi klasik yang didominasi tokoh laki-laki. “Wonder Woman melanjutkan narasi (mitologi Amazon) itu, di mana dominasi kulturnya akan kedigdayaan perempuan ikut dibawa ke ‘rumah barunya’, Amerika. Pesan Marston akan karakternya: ‘Wonder Woman adalah mentor perempuan yang memperlihatkan kepada para gadis muda bahwa mereka mampu melepaskan diri dari batasan-batasan aturan-aturan tradisional’,” kata Pitkethly. Lantaran Wonder Woman diciptakan kala Perang Dunia II sedang berkecamuk, Marston lantas men- setting kisah pahlawan super beralter ego Diana Prince itu sedang membantu kekasihnya, Steve Trevor, di departemen intelijen Angkatan Darat Amerika. Jiwa patriotismenya sangat kentara ditonjolkan dengan atribut rok biru bermotif bintang putih seperti yang ada dalam bendera Amerika. Inspirasi Poliarmi Untuk mengkonstruksikan fisik tokoh pahlawannya, Marston berangkat dari kehidupan pribadinya yang kontroversial dan keluar dari norma-norma tradisional. Sosok perempuan jelita Wonder Woman diciptakan dengan mengambil inspirasi dari pacar selingkuhannya, Olive Byrne. Diungkapkan Jill Lepore dalam The Secret History of Wonder Woman , dari penampakan fisik Olivelah deskripsi kecantikan dan keanggunan Diana Prince alias Wonder Woman diciptakan Marston. Rambut hitam, bentuk tubuh seksi, hingga “ Bracelet of Submission ” alias gelang anti peluru yang dipakai Olive semua dipindahkan Marston ke sosok Diana. “Awal mula Wonder Woman bersumber dari kehidupan Marston dan kehidupan dua perempuan yang dicintainya; keduanya juga menciptakan Wonder Woman. Marston bukan lelaki biasa, pun dengan keluarganya. Dia membimbing sebuah kehidupan rahasia dengan punya empat anak yang tinggal satu atap. Komik Wonder Woman jadi tempat favorit persembunyian kehidupannya,” tulis Lepore. Baca juga: Misteri Andromache of Scythia dalam The Old Guard "Lasso of Truth" atau tali laso kejujuran yang jadi senjata khas Wonder Woman. ( warnerbros.com ). Marston diketahui menganut poliarmi, suatu hubungan di mana seorang suami diperbolehkan istri resminya untuk memiliki seorang pacar. Marston diperbolehkan Elizabeth, yang juga seorang psikolog, punya hubungan dengan perempuan lain, Olive Byrne, yang sudah terjalin sejak 1925. Elizabeth dan Olive akur mengasuh empat anak Marston. Selain “Bracelet of Submission”, kelebihan lain milik Wonder Woman terletak pada senjata pamungkasnya, “Lasso of Truth”atau tali laso kejujuran. Senjata yang ditonjolkan Patty Jenkins itu dijadikan sebagai inspirasinya dalam menciptakan karakter sang pahlawan dalam Wonder Woman (2017) dan Wonder Woman 1984 (2020). Patty sengaja membedakan Wonder Woman ciptaannya dari Wonder Woman yang muncul di beberapa film lain keluaran DC Extended Universe, seperti Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) dan Justice League (2017) yang bersenjatakan pedang dan perisai. “Lasso of Truth” diciptakan Marston sejak karakter Wonder Woman muncul pertama kali diterbitkan di All Star Comics edisi ke delapan pada Oktober 1941. Tali laso yang merupakan kekuatan utama Wonder Women merupakan simbol nilai-nilai kejujuran. Marston menciptakannya terinspirasi dari sejumlah hasil poligraf ciptaannya, di mana dia mendapati perempuan lebih berkata jujur ketimbang laki-laki ketika dites dengan alat pendeteksi kebohongan. Dengan kekuatan kejujuran itulah maka Marston menciptakan Wonder Woman sebagai sosok pemimpin ideal yang bisa menciptakan perdamaian dunia. “Sejujurnya, Wonder Woman adalah propaganda psikologis untuk tipe perempuan (era) baru yang, saya yakini, mestinya pantas memimpin dunia,” tandas Marston, dikutip Lepore. Data Film: Judul: Wonder Woman 1984 | Sutradara: Patty Jenkins | Produser: Charles Roven, Deborah Snyder, Zack Snyder, Stephen Jones, Patty Jenkins, Gal Gadot | Pemain: Gal Gadot, Lilly Aspell, Chris Pine, Kristen Wiig, Pedro Pascal, Robin Wright, Connie Nielsen, Lynda Carter | Produksi: DC Films, Atlas Entertainment, The Stone Quarry | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: laga pahlawan super | Durasi: 151 Menit | Rilis: 25 Desember 2020. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker
- Senjata CIA untuk PRRI
SETELAH pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada Januari 1958, Sumitro Djojohadikusumo dan Letkol Ventje Sumual pergi ke Singapura. Ketika sedang makan di sebuah restoran, seorang asing mendekati mereka. Dia menawarkan senjata dengan cuma-cuma.
- Gedong Bagoes Oka Menapaki Jalan Gandhi
NI Wayan Gedong tak beruntung ketika berkesempatan mengunjungi India pada 1953. Tokoh panutannya, Mahatma Gandhi, telah meninggal lima tahun sebelumnya. Alhasil, Gedong tak bisa bertemu langsung tokoh yang banyak menginspirasinya itu. Kendati begitu, Gedong yang lahir di Karangasem, Bali pada 3 Oktober 1921 sebetulnya termasuk orang beruntung. Lahir dari keluarga pejabat kolonial, Gedong punya kesempatan yang tak dimiliki kebanyakan anak sebayanya, yakni mendapat pendidikan layak. Gedong bersekolah di Holands Inlandsche School (HIS) Klungkung, lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Yogyakarta dan Algemeene Middelbare School (AMS) Batavia. Meski menikmati banyak keistimewaan, Gedong didik keras oleh ayahnya, I Wayan Komang, yang merupakan sekretaris Karangasem Raad. Komang termasuk orang yang menentang sistem kasta di Bali. Pendirian ini kemudian ditanamkannya pada Gedong sehingga membentuk karakter Gedong menjadi seorang yang egaliter. Selesai menempuh pendidikannya, Gedong mengajar di beberapa sekolah di Bogor, Singaraja, dan Denpasar. Ia juga sempat menjadi kepala sekolah SMA pertama di Bali, SMA Negeri Singaraja (1956-1963). Sastrawan Putu Wijaya dan aktor Ikranegara adalah termasuk murid-muridnya. Pada 1943, Gedong menikah dengan I Gusti Bagoes Oka, sekretaris di Paruman Agung yang kemudian menjadi wakil gubernur Provinsi Sunda Kecil. Semenjak menikah, Ni Wayan Gedong menggunakan nama Gedong Bagoes Oka. “…penambahan Bagoes Oka pada namanya sendiri menjadi tanda bahwa ia ingin sejajar dengan suaminya, dan tetap dipakainya nama Gedong sebagai tanda bahwa ia juga ingin mempertahankan jati diri dan kepribadiannya sendiri,” tulis Frederik Lambertus Bakker dalam The Struggle of the Hindu Balinese Intellectuals . Pada 1953, Gedong melakukan perjalanan ke Eropa dan India. Di India, ia mengunjungi Gandhi Ashram yang didirikan Mahatma Gandhi sejak 1915. Gandhi merupakan salah satu tokoh panutan Gedong, terutama karena ajaran Swadeshi, Ahimsa, Satya dan Karuna-nya. Meski tak bertemu Gandhi karena telah meninggal pada 1948, Gedong bertemu dengan Vinoba Bhave (1895-1982) yang dianggap sebagai ahli waris spiritual Gandhi. Gedong kemudian menghabiskan waktunya belajar di Ashram Gandhi selama di India. Ajaran-ajaran Gandhi kemudian disebarkan Gedong ketika ia pulang ke Indonesia. Pada 1976, ia mendirikan Ashram Gandhi Candidasa di bawah Yayasan Bali Canti Sena yang ia bangun pada 1970. Meski mengikuti model Ashram Gandhi di India, ashram ini memadukannya dengan keadaan masyarakat Hindu Bali. Ashram Gandhi Candidasa tidak hanya untuk mereka yang beragama Hindu. Semua orang diterima. “Ashram ini memang tidak mengenal perbedaan suku dan agama. Siapa yang berkenan ikut dapat masuk ke situ,” tulis Egy Massadiah dkk. dalam Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi. Bahkan, di ashram ini pula tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, YB Mangunwijaya, Th. Sumartana dan tokoh-tokoh lintas agama lain sering bertemu dan berdiskusi dengan Gedong. Ashram Gandhi kemudian juga didirikan di Denpasar dan Yogyakarta. Sebagai pluralis, Gedong telah malang melintang di bidang kemanusiaan dan perdamaian agama-agama baik di tingkat nasional maupun internasional. Gedong pernah menjadi direktur eksekutif Konferensi Asia untuk Perdamaian dan Agama. Pada 1994, Gedong menerima Jamnalal Bajaj Peace Award dari India karena telah mempromosikan ajaran Gandhi di luar India. Gedong juga memiliki perhatian terhadap isu perempuan dan anak. Ia merupakan ketua Yayasan Kosala Wanita, yang bergerak dalam bidang kesehatan ibu dan anak , periode 1956-1963. Gedong juga merupakan anggota Komisi Hak-hak Asasi Wanita Asia. Di Bali, Gedong termasuk salah satu pembaharu Hindu Bali. Dalam tulisannya “Spiritualitas Baru dalam Agama Hindu” yang termuat dalam Spiritualitas Baru: Agama dan Aspirasi Rakyat, misalnya , Gedong mengkritik masyarakat Hindu yang mementingkan ritual daripada spiritual. Hal itu menurutnya perlu dibenahi karena akan memberatkan rakyat kecil. “Perubahan hanya dapat diharapkan dari kehidupan spiritual kalangan terpelajarnya. Tekanan beban upacara yang dirasakan oleh cendekiawan Hindu mendorong mereka untuk memperdalam isi dari kitab-kitab suci demi menjernihkan pengertian mereka tentang agama sendiri,” tulis Gedong. Kegusaran Gedong tak hanya terhadap Hindu Bali, tapi terhadap turisme Bali yang semakin berkembang pesat. Wisata budaya dan agama, di satu sisi memberi penghidupan, di sisi lain menggeser spiritualitas menjadi hanya sebatas komoditas. “Di sinilah letak tantangan yang berat bagi mereka yang mendambakan kehidupan rohani Hindu,” ungkapnya. Di dunia politik, Gedong pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (1968-1972). Setelah Orde Baru lengser, Utusan Golongan di MPR yang sebelumya didominasi Golongan Karya (Golkar) dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kemudian menjadi lebih beragam. Dari golongan agama, budayawan, hingga penyandang disabilitas. Gedong kemudian menjadi anggota Utusan Golongan Hindu MPR (1999-2002). Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Volume 3, pada 1950-an Gedong sangat dekat dengan tokoh-tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), mulai dari Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, hingga Soedjatmoko. “Di masa tuanya, bila datang ke Jakarta, Ibu Gedong saya lihat pasti mampir ke rumah Soebadio Sastrosatomo dan di sana bertemu dan berdiskusi dengan kawan-kawan sosialis,” tulis Rosihan. Gedong Bagoes Oka meninggal pada 14 November 2002 di Jakarta. Wajahnya kemudian muncul pada meterai Pos Indonesia keluaran 2004. Sepanjang hidupnya, Gedong telah menerjemahkan beberapa buku Gandhi seperti From Yeravda Mandir , Ashram Observances in Action, dan otobiografi Mahatma Gandhi .*
- Cerita Lucu dari Pertempuran Surabaya
AKHIR Oktober 1945. Tentara Inggris nyaris saja terbantai sia-sia di Surabaya. Guna mencegah situasi menyedihkan sekaligus memalukan itu terjadi, pimpinan militer Inggris kemudian meminta Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mengendalikan para pejuang Indonesia di timur Jawa tersebut. Seperti dikisahkan dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno-Hatta kemudian terlibat aktif secara langsung menghentikan aksi pertempuran di jalan-jalan kota Surabaya. Di setiap kerumunan massa dan pertahanan para pejuang republik, tak segan-segan Bung Karno menghentikan mobilnya dan berpidato dalam nada bersemangat. “Hentikan pertempuran! Kita mengadakan gencatan senjata dan tetaplah di tempatmu masing-masing! Jangan menembak! Itu perintah saya! Hentikan pertempuran segera!” seru Si Bung Besar dari atas mobil terbukanya. Bahkan karena pidatonya yang menyala-nyala itu pula, nyaris saja nyawa Bung Karno “lewat”. Ceritanya, saking bersemangat dan terpukaunya oleh gaya pidato Bung Karno, seorang remaja pejuang yang berdiri dekat Sukarno, secara tak sengaja menyenggol pelatuk senjata laras panjangnya yang tak terkunci. Akibatya: dor! “Senapan terkutuk itu meletus! Dan lagi tepat di belakang telingaku,” kenang Sukarno. Kendati sudah mendatangkan Sukarno dan Hatta, para pejuang Indonesia di Surabaya menganggap orang-orang Inggris hanya main-main saja saat berurusan dengan mereka. Hal itu semakin membuat kemarahan mereka kembali mencapai ubun-ubun, kala sepeninggal Sukarno, secara sepihak pihak Inggris justru memberikan ultimatum agar seluruh rakyat Indonesia yang bersenjata di Surabaya menyerah tanpa syarat. Tentu saja ancaman itu dianggap sepi oleh para pejuang republik. Alih-alih menyerah, pertempuran malah semakin dikobarkan dan mengakibatkan Brigadir A.W.S. Mallaby (pimpinan pasukan Inggris di Surabaya) tewas dalam suatu insiden di depan Gedung Internatio. Sejarah mencatat pada 10 November 1945, Inggris tanpa ampun membombardir Surabaya dari darat, laut dan udara. Serangan itu tentu saja disambut secara histeris oleh orang-orang Indonesia, kendati hanya sebatas sambutan lewat kekuatan infanteri dan artileri. Kegilaan orang-orang Indonesia itu memunculkan kengerian yang sangat di benak para serdadu Inggris. Kepada para wartawan, mereka menjuluki Surabaya sebagai “neraka” yang paling berdarah-darah pasca Perang Dunia II. Itu seperti diberitakan oleh New York Times , 15 November 1945. Namun di balik kengerian dan kebrutalan perang di Surabaya, terbuhul kisah-kisah lucu yang mungkin jarang diketahui khalayak. Salah satunya pengalaman yang pernah diceritakan oleh Suhario Padmodiwiryo dalam otobiografinya Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit . Dalam suatu pertempuran kota, seorang pejuang kecil berusia kurang dari 15 tahun tetiba harus berhadapan satu lawan satu dengan seorang prajurit Sikh berjanggut lebat yang tinggi besar dan bersorban dari Divisi India di suatu lorong. Kedua langsung tertegun. Sang bocah yang tengah memegang senjata langsung membidik dan menarik picu. Klik! Peluru kosong. Setelah lepas dari situasi panik, dengan tenang Si Prajurit Sikh itu mendekati sang bocah. Dia kemudian merampas senjata macet itu dan mengomel tanpa henti dalam bahasa Inggris. Awalnya, sang bocah hanya menangkap kata “mama” saja dari mulut sang prajurit. Namun dia kemudian cepat mafhum bahwa prajurit Inggris itu memintanya pulang dan menyuruh pergi saja ke pangkuan sang ibu daripada harus ikut-ikutan berperang. Sebelumnya yakni dalam Pertempuran Akhir Oktober ada suatu kejadian lucu lagi yang dikisahkan oleh Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 . Saat bergerak mundur, satu kompi pasukan Inggris tersudut ke Kebun Binatang Wonokromo. Situasi itu menyebabkan muncul “ide liar” di kalangan para pejuang untuk diam-diam melepaskan semua harimau dan binatang buas yang ada di kebun binatang itu. Semua setuju. Namun baru saja akan dibentuk tim pelepas binatang-binatang buas itu, tetiba seorang kawan Des Alwi yang lebih dewasa melarangnya. “Jangan dilepas! Nanti setelah mereka memakan orang-orang Inggris, giliran kita juga bakal mereka habisi!”*





















