top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kado Pahit Ulang Tahun Jenderal Moersjid

    Siti Rachma Moersjid akan menyiapkan jamuan besar. Dua hari lagi sang suami, Mayor Jenderal Moersjid merayakan ulang tahun ke-44. Tapi bak petir di siang bolong, hari itu mendadak berubah menjadi malapetaka. “Pada pagi hari 8 Desember 1969, ayah diminta menghadap Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan disitulah surat penahanan diberikan oleh KASAD, Pak Umar Wirahadikusuma,” tutur Siddharta Moersjid kepada Historia.id . Pada waktu itu, Moersjid baru saja mengakhiri masa dinasnya sebagai duta besar RI untuk Filipina. Setelah kembali ke Jakarta bulan Oktober, Moersjid dikembalikan ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tanpa jabatan. Kabar yang beredar, Moersjid terlibat konflik dengan Marshall Green, asisten menteri luar negeri Amerika Serikat urusan Timur Jauh. Insiden itu hampir berujung baku hantam sehingga Moersjid dipanggil pulang ke Indonesia. MBAD bukan tempat yang asing bagi Moersjid. Pada 1962, dia pernah menjadi orang nomor dua di sana ketika menjabat Deputi 1/Operasi Menteri Panglima Angkatan Darat. Waktu itu, pucuk pimpinan Angkatan Darat masih diemban Letnan Jenderal Ahmad Yani. Sepulangnya Moersjid dari Filipina, semuaya berubah. Rezim telah berganti dari Presiden Sukarno ke Jenderal Soeharto. Pimpinan Angkatan Darat kini dijabat oleh Umar Wirahadikusumah. Pemanggilan Moersjid juga berkaitan dengan upaya pihak militer menjadikannya saksi sehubungan dengan rencana untuk mengadili Sukarno. Bagi sebagian kalangan, Moersjid disebut-sebut sebagai salah satu jenderal yang pro-Sukarno. Jenderal Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru menyebutkan bahwa Moersjid adalah seorang perwira tinggi pengaggum Bung Karno. Dan sebaliknya, kata Nasution, Sukarno begitu mempercayai Moersjid. Entah intrik politik apa yang terjadi di belakang layar, tiada seorang pun yang mengetahui. Seperti diungkapkan sesepuh TNI AD Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia.id , “rupanya ada orang-orang di sekitar Presiden Soeharto yang menganggap Pak Moersjid seorang Sukarnois.” Sayidiman sendiri tidak tahu persis siapa “pembisik” tersebut. Kendati demikian, kejadian yang menimpa Moersjid pada 8 Desember 1969 masih terekam jelas dalam memori putranya, Siddharta. Saat itu, Siddharta baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, Moersjid sang ayah bergegas keluar rumah, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. “Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” demikian pesan pamit dari Moersjid. Sementara itu, ibunda Siti Rachma terpaku mengiringi kepergian sang suami. Air mata-nya meleleh di pipi.    “Saya selalu ingat, karena tanggal 10 Desember adalah ulang tahun Ayah. Dan saat Ayah saya kembali ke rumah untuk ambil pakaian dan pamit sama Ibu, saat itu Ibu sedang mempersiapkan masakan untuk tanggal 10,” kenang Siddharta. Hari itu jadi momen duka bagi Moersjid sekeluarga. Rencana selamatan ulang tahun dua hari lagi pupus seketika lantaran Moersjid berangkat ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo. Selama empat tahun Moersjid mendekam dalam tahanan tanpa melalui proses pengadilan. Peristiwa itu begitu mengecewakan hati sang istri sehingga dia memusnahkan semua atribut militer milik Moersjid lengkap dengan lencana dan tanda jasa. Sampai saat ini, mengapa Moersjid dijerumuskan ke dalam penjara rezim Orde Baru tetap menjadi tanya yang belum terjawab bagi keluarganya. Apalagi siapa yang terlibat di dalamnya pun masih seperti kabut gelap. Ketika Moersjid ditahan, tidak banyak informasi yang diperoleh oleh keluarganya. Moersjid sendiri hingga akhir hayatnya masih dikejar pertanyaan, “Siapa yang telah memfitnah diriku?” seperti dicatat wartawan senior Julius Pour dalam obituari Moersjid di Kompas , 25 Agustus 2008. Secercah terang barangkali dapat terkuak bilamana surat pemanggilan Moersjid ke Indonesia ditemukan. Surat tersebut berasal dari Kementerian Luar Negeri yang waktu itu dijabat oleh Adam Malik. “Banyak sekali yang saya tidak dapatkan,” kata Siddharta. “Yang sampai sekarang ingin saya ketahui adalah surat Pak Adam Malik saat memanggil pulang Ayah.” Keluarga besar masih berharap, suatu saat keadilan sejarah bagi mendiang Moersjid akan tersingkap. Dengan demikian, periode paling kusut dalam sejarah politik Indonesia ini perlahan-lahan kian benderang.

  • Mental Korupsi Pejabat Pribumi

    Salah seorang menteri dalam Kabinet Indonesia Maju lagi-lagi tersandung kasus korupsi. Setelah sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, kali ini penyalahgunaan kekuasaan dilakukan Menteri Sosial Juliar Peter Batubara. Ia bersama empat lainnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atas penyelewangan dana bantuan sosial penanganan Covid-19. Dugaan tindak korupsi itu terbongkar lewat Operasi Tangkap Tangan KPK pada Minggu (06/12/2020). Dilansir CNN Indonesia , para penyidik KPK berhasil mengamankan uang tunai sekitar 14,5 miliar rupiah dalam berbagai bentuk pecahan uang. Diketahui Juliar meminta jatah 10 ribu dari setiap paket bantuan senilai 300 ribu. “Itu uang rakyat, apalagi ini terkait dengan bansos, bantuas sosial dalam rangka penanganan covid dan pemulihan ekonomi nasional. Bansos itu sangat dibutuhkan untuk rakyat,” ujar Presiden Joko Widodo seperti dikutip laman resmi Sekertaris Negara RI. “Saya tidak akan melindungi yang terlibat korupsi dan kita semua percaya KPK bekerja secara transparan, secara terbuka, bekerja secara baik, profesional,” lanjutnya. Masyarakat pun ramai mengecam tindakan menteri sosial itu. Di media sosial Twitter , banyak masyarakat yang mengungkapkan kekecewaan terhadap penyelewengan dana bantuas sosial tersebut. Tindakan Juliari dan sejumlah pejabat di Kemensos begitu melukai kepercayaan rakyat. Terutama di tengah situasi bencana saat ini. Dalam sejarah, praktik memperkaya diri pernah menjadi bagian dari masyarakat tradisional Indonesia. Tindakan tersebut kerap dilakukan oleh pejabat tinggi dan bangsawan pribumi abad ke-17 sampai abad ke-19. Mereka menggelapkan dana pembangunan wilayah, hasil penggarapan tanah serta pajak yang disetorkan kepada pemerintah Belanda. Bahkan praktek tersebut dilakukan pula oleh pemilik lahan kepada para pekerjanya. Menurut Erlina Wiyanarti dalam Korupsi Pada Masa VOC dalam Multiperspektif , mental korup erat kaitannya dengan mental loyal terhadap keluarga, desa, atau kelompok berdasarkan agama, bahasa, etnik, dan kasta, baik di level lokal maupun nasional. Hal itu terlihat pada masyarakat Jawa abad ke-17 sampai ke-18 yang menganggap nilai-nilai solidaritas utama dilakukan pada sanak saudara dahulu, baru kemudian lingkungan masyarakat. Di dalam kehidupan bangsawan kala itu, kata Erlina, banyak orang menggantungkan hidup kepadanya. Tidak hanya sanak saudara terdekat, tetapi para abdi dan pelayan juga ada dalam tanggungan para bangsawan tersebut. Maka tidak heran, meski para bangsawan berusaha hidup sederhana, kebutuhan sehari-hari tetap banyak. Itulah yang membuat mereka terkadang harus berhutang kepada pejabat Belanda atau menggelapkan harta demi menyambung hidup. “Tradisi loyal terhadap family dalam budaya masyarakat Jawa merupakah salah satu etika kebangsawanan,” ungkap Erlina. “Kewajiban dia sebagai pegawai publik kepada kantornya adalah kewajiban kedua dari kewajiban mereka kepada keluarga dan komunitasnya. Loyalitas model tersebut jelas telah menjadi salah satu akar dari tumbuhnya bahkan menguatnya mental dan perilaku korup.” Ironinya, ada juga bangsawan dan priyayi yang melakukan korupsi karena kebiasaan mengikuti gaya hidup seorang raja. Sebagai pemilik kursi tertinggi birokrasi tradisional, kedudukan raja jelas lebih tinggi dari bangsawan. Mereka memiliki hak atas segala kemewahan yang ada di atas tanah kuasanya. Sedangkan seorang bangsawan memiliki derajat kemewahan yang terbatas. Meski begitu tidak sedikit dari mereka yang berusaha menghadirkan gaya hidup istana ke tempatnya. Sehingga memunculkan hasrat untuk terus mendulang harta yang terkadang tidak didapat dari jalan biasa. Dijelaskan Marwati Djoened Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia , lahan untuk para perjabat dan bangsawan berbuat culas begitu lebar. Mereka biasanya dipercaya oleh penguasa daerah untuk mengurusi pengelolaan lahan, upeti, hingga pemungutan pajak. Dengan tidak adanya pengawasan yang jelas, para pejabat bebas melakukan penyelewengan di dalam tugasnya tersebut. Seperti terjadi di wilayah Priangan antara abad ke-17 hingga abad ke-18, yang bupatinya banyak berprilaku korup. Erlina menyebut jika para bupati kala itu melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan diri sendiri dan memeras rakyatnya. Mereka seringkali membayar sangat rendah usaha para petani kopi, sementara mereka memperoleh harga tinggi dari para pejabat VOC. Harga perpikul kopi pun terkadang dinaikkan oleh para pejabat korup tersebut. “Para bupati itu –karena terikat oleh adat istiadat untuk menyokong sebagian besar sanak saudara dan sejumlah besar pengikut mereka dengan penghasilan yang bertambah itu, yang sering kali menyebabkan mereka menghabiskan lebih banyak uang daripada yang bisa mereka peroleh– segera jatuh dalam utang berat yang harus mereka bayar dengan bunga satu persen sebulan,” kata Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia . Keserakahan akan harta dan miskinnya integritas para pejabat, imbuh Erlina, merupakan mental yang menyuburkan korupsi. Namun dari perspektif budaya, yang dalam hal ini budaya Jawa di masa lalu, ia juga mencatat bahwa tindakan korupsi akibat gaya hidup hedonis tidak bisa disamakan dengan pengertian korupsi modern yang rasional. Ketika kekuasaan bertumpu pada pola birokrasi patrimonial, penyelewengan harta akan dianggap sebagai hal yang lazim dilakukan para pemilik kekuasaan. “Masyarakat Jawa yang feodal menganggap segala tindakan yang kini dianggap merupakan tindakan korupsi adalah sesuatu yang wajar, artinya selama masyarakat berpandangan seperti itu maka hal demikian tidaklah dilihat sebagai sesuatu yang salah,” kata Erlina.

  • Gerakan Anti-Gundul Pelajar Masa Jepang

    Matahari bersinar terik pagi itu. Wajah murid-murid Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Jakarta penuh peluh. Mereka masih senam pagi atau taiso bersama seorang guru di lapangan. Mereka kelihatan senang meski lelah. Ini kebiasaan baru murid sekolah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tujuannya agar murid lebih disiplin dan fisiknya kuat.   Seorang pengawas sekolah ( minami san ) lalu memanggil guru di lapangan. Dia menyampaikan SMT Jakarta akan memberlakukan aturan kepala gundul untuk guru dan murid-murid lelaki. Guru meneruskan informasi itu ke para murid. Karuan wajah murid-murid lelaki berubah muram. Aturan menggunduli rambut berlaku umum di tiap jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. “Kita harus gundul seperti keadaan mereka,” kata Daan Jahja, mantan murid sekolah umum, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi dalam Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang mengalaminya . Tapi sekolah swasta seperti pesantren tak wajib mengikutinya. “Di sekolah agama kami belajar waktu itu, Balige, kami diberi kebebasan berpakaian seperti pakaian pemuda sekarang, celana panjang, baju putih, rambut tidak usah gundul, dan berpeci, tidak diharuskan memakai pakaian sebagaimana chugako  yang harus memakai pakaian Jepang,” sebut Darwis Abdullah, mantan murid sekolah swasta di Balige, Sumatra Utara. Menurut orang Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. “Hal demikian sudah menjadi tradisi di Jepang kali itu,” kata Eddy Djoemardi Djoekardi dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945. Kebijakan menggunduli kepala itu juga tak lepas dari orientasi pendidikan mereka di Indonesia. “Tujuan pendidikan pada zaman Jepang di Indonesia adalah menyediakan tenaga-tenaga buruh kasar secara cuma-cuma ( Romusha ) dan prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan Jepang,” catat Setijadi dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1974. Jepang semula menerapkan penggundulan kepala kepada murid-murid sekolah dasar, lalu menengah, dan mahasiswa perguruan tinggi. Sebermula murid-murid lelaki menerima saja kebijakan ini. Lagipula kalau tak mau gundul, mereka tak boleh masuk ke sekolah. Belakangan pengawas sekolah Jepang dan orang-orang Jepang seringkali bertindak memaksa dan main kasar. Pukulan kerap melayang kepada guru-guru dan murid yang dianggap bersalah. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Operasi penggundulan kepala itu sampai melibatkan tentara seperti menimpa mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran). “Pihak Jepang membawa sejumlah serdadu lengkap dengan senjata yang siap tembak. Tentu di antara mahasiswa ada yang mau dan ada yang tidak mau. Yang kontra mulai mangkir-mangkir ke kuliah dan bergabung dengan kelompok gerakan bawah tanah,” lanjut Eddy. Dari sini muncul penolakan terhadap penggundulan kepala ini secara luas. Antara lain dari murid-murid SMT Jakarta. Ada murid pelopornya, tapi dirahasiakan. “Karena di antara siswa SMT ada juga kaki tangan Jepang,” tambah Eddy. Dukungan anti-gundul muncul pula dari guru-guru bangsa Indonesia. Mereka mencoba memberi pengertian kepada pengawas sekolah Jepang bahwa rambut itu sakral bagi sebagian besar orang Indonesia. “Sehingga disentuh saja tidak boleh,” terang Eddy. Tapi pengawas Jepang justru tambah berang mendengar penjelasan itu. Dia menganggap alasan itu hanya dibuat-buat. Senyampang itu, dia menarik dan menjambak rambut guru tersebut ke belakang. Bruk. Guru itu jatuh ke lantai. Pengawas itu lalu berteriak pada murid lelaki. Murid perempuan juga kena hardik. Dia menganggap murid perempuan ikut mendukung gerakan anti-gundul di SMT. “Kami anak-anak perempuan ikut mendukung dan mogok belajar,” ungkap Indraningsih Wibowo kepada Eddy dalam Jembatan Antar Generasi. Akibatnya mereka semua kena hukuman. Karena gerakan anti-gundul ini, situasi SMT Jakarta sempat tegang. Sebagian kecil murid lelaki memilih jalan tengah dengan mencukur pendek rambutnya. Tapi tak sampai gundul. Sebagian besar mereka tetap berambut seperti biasa. Mereka berjaga di pintu masuk sekolah untuk melarang masuk murid-murid gundul. Sekolah akhirnya meliburkan aktivitas belajar-mengajar selama beberapa hari. Para murid, guru, dan orangtua sempat cemas dengan keputusan libur itu. Mereka mengira pengawas sekolah melaporkan urusan ini ke Kempeitai atau polisi rahasia Jepang yang terkenal suka menyiksa. Kecemasan mereka kian besar setelah mendengar Abdul Fatah, salah satu murid anti-gundul di Jakarta, dibawa ke rumah seorang penilik sekolah ( Shidokan ) selama sebulan. “Secara berganti-ganti diinterogasi oleh orang-orang Kempeitai ,” terang Eddy. Tapi kekhawatiran mereka sirna. Tak ada laporan ke Kempeitai . Pengawas sekolah mengalah dengan membiarkan murid-murid lelaki berambut seperti sediakala. “Kemenangan ada di pihak SMT Djakarta,” kenang Eddy.    Pendudukan Jepang di Indonesia berakhir pada 1945. Aturan sekolah pun berubah. Tak ada keharusan gundul pada masa revolusi. Malah rambut gondrong dipandang sebagai simbol perjuangan. Sebab para murid ikut berjuang ke palagan. Tak ada waktu untuk mengurusi rambut. Semakin gondrong, semakin berjuang.

  • Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua

    Pada awal 1927, ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) hendak lahir, Sukarno mendapat kiriman buku dari kawannya Samuel Koperberg. Meski baru membuka-buka halamannya, Sukarno sudah terkesan dengan buku De held en de schare  (Pahlawan dan Kawanan) karya Henriëtte Roland Holst itu. “Dan sekarang saya punya kesan bahwa ini buku yang bagus, ditulis oleh seseorang penuh semangat revolusioner seperti H. Roland Holst. Gairah ini sudah menyenangkan si pembaca; komunis atau sosialis, revolusioner atau konservatif. Iya kan?/bukan begitu?” tulis Sukarno dalam suratnya kepada Koperberg, 28 April 1927. Sukarno kelak membaca buku-buku lain Henriëtte seperti Kapitaal En Arbeid In Nederland  yang kini koleksinya tersimpan di Museum Kepresidenan Balai Kirti. Nama Henriëtte kemudian juga kerap disebut Sukarno seperti dalam Indonesia Menggugat  dan Sarinah . Sementara, para tokoh Perhimpunan Indonesia (PI) seperti Mohammad Hatta dan Ali Sastroamijoyo juga punya ikatan sendiri dengan Henriëtte. Politikus Militan Henriëtte Roland Holst lahir pada 24 Desember 1869 di Noordwijk, Belanda dengan nama Henriëtte Goverdina Anna van der Schalk. Ia adalah seorang sosialis militan sekaligus penyair dan penulis terkemuka pada paruh pertama abad ke-20. Pemikiran Henriëtte banyak dipengaruhi oleh Karl Marx melalui Das Kapital . Pada 1897 ia bergabung dengan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda). Henriete menjadi salah satu propagandis utama partai. Tak hanya aktif di Belanda, Henriëtte  juga malang melintang di kancah politik internasional. Ia bersahabat dengan Rosa Luxemburg dan Leo Trotsky, dua revolusioner yang kemudian dia tulis biografinya. Henriëtte  menerbitkan karya monumentalnya Kapitaal en Arbeid In Nederland (Capital and Labour) pada 1902. Meski sempat menarik diri dari politik sejak 1912, ia kembali aktif karena menentang Perang Dunia I. Henriëtte  juga ambil bagian dalam Konferensi Zimmerwald di Swiss pada 1915, tempat pertemuan sosialis internasional pertama digelar untuk menyerukan perdamaian dunia. Pada 1918, Henriëtte bergabung dengan Partai Komunis Belanda. Ia mengunjungi Russia pada 1921 dan menghadiri kongres Komunis Internasional. Namun, sejak itu ia justru mencatat kekecewaan terhadap situasi di Russia. “Sejak tahun 1918 dia memainkan peran utama dalam gerakan komunis Belanda, tetapi pada tahun 1927 dia keluar dari partai tersebut untuk mendukung sosialisme yang berwarna religius,” tulis Jaqueline Bel dalam Women’s Writing from the Low Countries 1880-2010 An Anthology. Dari Belanda, Henriëtte menaruh perhatian pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dekat dengan para mahasiswa PI. Moh. Hatta adalah salah satu anggota PI yang cukup mengenal perempuan yang kerap disapa Tante Yet itu. Keduanya sering bertemu dalam perdebatan yang membahas kolonialisme di Indonesia. Hubungan mereka masih terjalin ketika Hatta kembali ke Indonesia dan diasingkan ke Banda Neira. Dalam suratnya kepada Johannes Eduard Post, Hatta bahkan meminta bantuan Eduard Post untuk mendapatkan buku Das Kapital jilid II dari Henriëtte. “Apakah ibu Holst bisa membantu dalam hal ini. Dia kenal seluruh karya Marx dan tidak butuh Marx lagi untuk perkerjaan dia. Buat perkerjaan teoretis saya, saya membutuhkannya,” tulis Hatta kepada Eduard Post, 8 September 1939. Ali Sastroamijoyo juga punya kesan sendiri terhadap Henriëtte. Dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali bercerita sering mendapat buku dari Henriëtte dan sering mendengar pidato-pidatonya dalam berbagai pertemuan di Belanda. “Terkenal sebagai seorang sosialis berhaluan kiri, meskipun sosialismenya berdasarkan keagamaan . Sudahsejak kamidipenjara dia menaruh simpati pada pergerakan kita. Sering saya menerima buku dari dia yang berguna sekali untuk mengisi waktu saya di sel,”tulis Ali . Ali mengenang Henriëtte sebagai seorang singa podium. Ketika berpidato di depan kaum buruh, misalnya, Henriëtte selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ali terkesan dengan ini mengingat Henriëtte adalah seorang penyair. Penyair Sosialis Soal kepenyairan, sastrawan M.R. Dayoh punya pengalaman sendiri tentang Henriëtte. Ketika menjadi guru di Malang, ia membuat puisi-puisi bertema kelaparan dan kemelaratan. Malangnya, karena puisi-puisnya ia dimutasi dari Christelijke Kweekschool ke Ambonse School. Namun puisinya terus disebarkan di kalangan pegawai Pangreh Praja hingga sampai kepada Domine Jensen, seorang kepala gereja dan pecinta sastra. Jansen memuji puisi Dayoh yang menggunakan bahasa Belandaitu dan menyarankan Dayoh untuk menghubungi Henriëtte  agar mendapat bimbingan. Dayohpun kemudian bersurat kepada Henriëtte dan ternyata mendapat sambutan baik. “Permintaan Dayoh itu diterimanya dan Dayoh menganggap Henriëtte Roland Holst sebagai ‘ibu angkatnya’ dengan sebutan ‘Induk Ayam Belanda yang Tua’," tulis Anita K. Rustapa dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia, 1920-1950. Sejak itu, Dayoh makin dekat dengan Henriëtte melalui surat-menyurat. Dayoh kemudian mendapat hadiah buku-buku karangan Henriëtte seperti Het Eeuwige voor dan Tussen Tijd en Euwigheid. Menilik karya-karya Henriëtte, Jacqueline Bel menyebut jejak kepenyairan Henriëtte tak lepas dari pandangan politiknya. Tentu saja sosialisme menjadi topik utamanya. “Koleksinya dapat dibaca dengan sempurna sebagai produk sastra otonom, tetapi juga mencerminkan perkembangan politiknya. Dalam De Nieuwe Geboort (The New Birth), koleksi keduanya dari tahun 1902, misalnya, ia menggambarkan pelukannya terhadap sosialisme dalam puisi-puisi yang penuh harapan akan masa depan,” tulis Jacqueline Bel. Sajak-sajak Henriëtte ternyata telah menembus belantara hutan Digul, Papua, tempat para perintis kemerdekaan dibuang sejak 1926. Sajak Henriëtte muncul ketika Aliarcham meninggal. Pada sebuah papan tulis hitam, sajak Henriëtte dibubuhkan, menemani kepergian salah satu pemimpin komunis itu. Sebait sajak Henriëtte juga ditemukan dalam buku catatan di saku celana Subianto, adik ekonom Soemitro Djojohadikusumo yang menjadi salah satu prajurit yang gugur dalam Pertempuran Lengkong, Tangerang (1946). Selain puisi dan naskah drama, Henriëtte menulis biografi tokoh-tokoh seperti Jean-Jacques Rousseau (1912), Leo Tolstoy (1930), Romain Rolland (1946), dan Mahatma Gandhi (1947). Selama Perang Dunia II, Henriëtte aktif dalam perlawanan terhadap Nazi terutama melalui puisi-puisinya. Henriëtte alias Tan Yet, “ Sang Induk Ayam Belanda yang Tua” itu meninggal pada 21 November 1952 di Amsterdam.

  • Konsep Toleransi Mohammad Natsir

    Oktober 1967. Ketegangan antar umat Islam dan Kristen terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal bulan itu, sekitar 20 gereja dan sekolah Kristen dirusak oleh sekelompok pemuda. Disinyalir perusakan dilakukan sebagai buntut pernyataan seorang guru sekolah Protestan di kota itu yang menghina agama Islam. Sebelumnya, Juni 1967, gesekan antar umat juga terjadi di Meulaboh, Aceh Barat dan Sumatera Selatan. Sebuah gereja di masing-masing daerah dibakar oleh penduduk Muslim. Pemicunya adalah pembangunan gereja itu dianggap tidak pantas karena dilakukan di tengah pemukiman Muslim yang hanya dihuni oleh sedikit umat Kristiani saja. “Sejak naiknya Orde Baru, hubungan umat Islam dan Kristen di Indonesia memperlihatkan perkembangan baru. Jumlah konflik Islam-Kristen menanjak tajam, terutama dalam bentuk penutupan, perusakan, dan pembakaran gereja,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi, dkk dalam Kontroversi Gereja di Jakarta . Kala itu, pembakaran gereja di Makassar menjadi isu nasional. Pemerintah berusaha keras mencari solusi penyesaian masalah yang ditakutkan terus menyebar. Tokoh-tokoh dari kedua agama pun diminta memberikan penjelasan dan membantu menyelesaikannya. Satu tokoh Muslim yang paling “diburu” tanggapannya terkait kejadian itu adalah Mohammad Natsir. Saat peristiwa pembakaran terjadi, Natsir tengah melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Mantan ketua Partai Masyumi itu baru tiba di tanah air pada Rabu, 4 Oktober 1967, tiga hari pasca kejadian. Setiba di Jakarta, beberapa wartawan media massa segera menyambangi kediamannya. Di antara wartawan yang mewawancarainya adalah J. Lasut dari Sinar Harapan . Diceritakan Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia , Lasut langsung menanyai soal tanggapan Natsir tentang tindakan pengrusakan gereja. Dengan spontan Perdana Menteri ke-5 Indonesia itu menjawab: “tidak baik”. Tetapi Natsir juga menekankan bahwa kejadian itu sebagai satu ekses. Begitu pula kegiatan kristenisasi terhadap orang-orang Islam merupakan satu ekses. Natsir lalu mengaitkannya dengan prinsip Pancasila, yang menyatakan adanya kebabasan menganut agama. “Ini bukan berarti bahwa mengkristenkan orang-orang Islam itu sesuai dengan Pancasila. Kalau toh mau berlomba-lomba akan mengembangkan agama masing-masing itu silahkan dilakukan di kalangan bangsa Indonesia yang belum menganut suatu agama. Kalau orang Islam dikristenkan, itu bertentangan dengan prinsip itu,” ujar Natsir. Natsir juga mempertanyakan pendirian gereja di Meulaboh, yang menurutnya di tempat itu hampir tidak dijumpai penduduk Kristiani. Ia menganggap bahwa kekuasaan materi dan keuangan yang dimiliki orang-orang Kristen bisa digunakan untuk upaya kristenisasi umat Islam yang kala itu hidup dalam kemiskinan. Kelemahan seperti itulah yang bisa menjadi ancaman bagi umat Islam Indonesia. Sebagai contoh, Natsir menyebut jika di Yogyakarta pernah ada pembagian beras oleh orang-orang Kristen kepada penduduk Muslim yang miskin dengan menganjurkan para penerima masuk Kristen. “Kebebasan seperti itu adalah satu ekses, sebagaimana merusakkan gereja-gereja yang dimaksud itu juga adalah satu ekses pula. Dan kalau hal-hal seperti itu diteruskan, maka berakhirlah Pancasila sebagai platform atau mimbar bersama,” lanjut Natsir. Perihal peristiwa pembakaran gereja, Natsir sadar bahwa hal itu pasti melukai umat Kristiani. Tetapi ia meminta kejadian tersebut jangan dilihat dari gejala yang terlihat saja, harus ditelusuri juga persoalan-persoalan yang ada di baliknya. Ibarat seorang sakit malaria, kepalanya panas, lantas diberi kompres es, tidaklah akan menghilangkan penyakitnya itu. Perlu dicari penyebab utama penyakit agar penanganannya tepat, karena kondisi panas hanyalah suatu gejala dari malaria saja. Kepada para wartawan, Natsir menegaskan agar identitas orang-orang Islam jangan diganggu. Begitu juga sebaliknya. Baginya, perdamaian nasional hanya dapat tercapai jika tiap golongan agama menghormati identitas golongan lain. Di samping sekuat tenaga memelihara identitasnya masing-masing. “Jiwa Kristus yang begitu murni jangan dipakai untuk tujuan yang tidak murni dan ikhlas jangan sampai menjadi sutau peaceful aggression , suatu penyerangan bersemboyan damai,” ucap Natsir. Pemerintah sendiri melakukan berbagai upaya mediasi untuk menyelesaikan konflik antar umat beragama di Makassar tersebut. Salah satunya mengadakan pertemuan pada 30 November 1967, bertajuk “Musyawarah Antar Umat Beragama”, di Jakarta. Menurut Andi Rahman Alamsyah, dkk dalam Gerakan Pemuda Ansor: Dari Era Kolonial hingga Pascareformasi , pemerintah mengundang tokoh-tokoh Islam dan Kristen untuk duduk bersama membahas penyelesaian masalah tersebut.

  • CIA dan Karikatur Bintang Timur

    TAMPANGNYA cakap, postur badannya tinggi, dan penampilannya   simpatik. Dia memakai pakaian lengkap dengan jas dan dasi. Sikapnya sopan dan bersahabat. Diplomat Amerika Serikat itu bernama Mr. Heyman. Sementara itu, Augustin Sibarani (1925–2014), pelukis dan karikaturis terkemuka Indonesia, hanya bersepatu sandal, berkemeja agak urakan dan keringatan. Dia datang dengan agak lari-lari dari kantor redaksi Bintang Timur .

  • Serangan Udara Amerika yang Tergesa-gesa

    Kemarin, 4 Desember, 37 tahun silam, ada yang tak biasa di langit Bikfaya, 15 mil timur Beirut, Lebanon pada pagi. Dari rumahnya, Joe Cherabie melihat langit lebih terang dan berisik dari biasanya. Situasi mencekam. “Langit penuh dengan asap bola api dan tembakan anti-pesawat. Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan,” ujarnya sebagaimana dimuat The New York   Times , 5 Desember 1983.  Apa yang dilihat Joe merupakan pertempuran udara antara pesawat-pesawat AL Amerika Serikat (AS) melawan senjata-senjata anti-pesawat yang ditembakkan milisi-milisi Muslim yang didukung militer Syria. Pertempuran dibuka oleh AS sebagai pembalasan atas serangan bom terhadap barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut pada 23 Oktober 1983.  Kebaradaan pasukan AS di wilayah itu –sejak Agustus 1982– sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pasukan perdamaian itu dibentuk pada 19 Maret 1978 untuk memastikan penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon sehingga bisa memulihkan perdamaian. Lima hari sebelumnya, 14 Maret, militer Israel menginvasi Lebanon Selatan dengan alasan untuk memulihkan keamanan akibat seringnya dijadikan sasaran serangan oleh PLO. Sejak akhir 1960-an, militer Israel dan milisi PLO saling serang di Lebanon Selatan. Intensitas konflik meningkat setelah Israel memutuskan mendukung milisi Katolik Maronite dan milisi Kristen lain untuk merebut kekuasaan di Lebanon Selatan. Dengan dukungan itu Israel berharap dapat mengusir PLO dan mengeliminasi pengaruh Syria agar dapat mendudukkan Bachir Gemayel, pemimpin milisi Kristen, ke kursi penguasa Lebanon. Dengan begitu, Lebanon pro-Israel akan terbentuk. Namun, PLO yang disokong Syria –sekutu Uni Soviet– di samping Hezbollah dan milisi Islam lain tak pernah menghentikan perlawanan. Perang saudara di Lebanon pun berjalan mengerikan dengan banyak korban sipil. Bahkan milisi Druze, Syiah, dan Amal sepakat bahwa Amerika harus pergi dari wilayah konflik. Pasukan perdamaian PBB pun tak dapat berfungsi efektif. Banyak personil pasukan perdamaian malah jadi korban serangan baik dari kubu pasukan Israel maupun lawannya. Pada pagi 23 Oktober 1983, bom yang diangkut truk milisi Muslim Lebanon menghancurkan barak Marinir AS di Bandara Internasional Beirut. “Bom tersebut, menghasilkan kawah sedalam delapan kaki di lantai beton bertulang, menewaskan 220 Marinir dan 21 personil medis AL dan puluhan personil lain yang ditugaskan sebagai pasukan pendarat,” tulis Robert W. Love dalam History of the US Navy: 1942-1991 . Serangan terhadap pasukan AS berhenti sampai situ saja. “Sepanjang November, posisi Marinir AS di Bandara Internasional Beirut menjadi sasaran serangan penembak jitu serta serangan mortir, artileri, dan roket,” tulis David Locke Hall dalam The Reagan Wars: A Constitutional Perspective on War Powers and The Presidency . Meski begitu, militer AS tetap memilih bertahan. Berbeda dari militer Prancis yang sampai mengusulkan kepada AS untuk membentuk pasukan gabungan guna menyerang barak Baalbek, AS hanya memindahkan sebagian pasukannya ke kapal-kapalnya yang berlabuh di lepas pantai Beirut. Saat opsi serangan udara balasan sudah dikeluarkan Presiden Ronald Reagan pun, militer AS tetap berupaya menentangnya. Gabungan Kepala Staf maupun sejumlah jenderal lapangan, terutama panglima Marinir Jenderal Kelly yang khawatir pasukannya akan jadi sasaran lebih jauh, beranggapan bahwa serangan balasan hanya akan membuat pasukan AS di Lebanon dijadikan sasaran lebih jauh. Opsi pembalasan Reagan dikeluarkan setelah sebuah pesawat F-14 AL AS yang melakukan pengintaian rutin di atas Lebanon hampir dimangsa tembakan anti-pesawat dan rudal SA-7 milik Syria. Meski sempat ditentang sejumlah jenderalnya, opsi itu akhirnya dilanjutkan. Skema serangan udara itu pun dibuat dengan tergesa-gesa. “Diberitahu sebelumnya bahwa perintah serangan mungkin akan turun setiap saat, komandan udara angkatan laut di tempat kejadian, Laksamana Muda Jerry Tuttle, di atas kapal induk USSIndependence memulai perencanaan serangan menggunakan pesawat baik dari Independence maupun USSJohnF. Kennedy dengan target waktu maksimal pukul 11.00 waktu setempat keesokan paginya,” tulis Benjamin S. Lambeth dalam The Transformation of American Air Power . Sempat diinterupsi oleh European Command AS –bermarkas di Stuttgart, Jerman Barat– agar misi serangan udara dimulai pada pukul 06.30 pagi, serangan udara AS akhirnya dijalankan berdasarkan skema yang dibuat Tuttle dan Deputy Chief of Naval Operation Laksamana Madya James Lyons namun dengan waktu yang dimajukan. Menjelang pukul 8.00 waktu setempat, 28 pesawat –terdiri dari A-6 Intruder  dan A-7 Corsair – dari kapal induk USS Independence dan USS Kennedy berangkat menuju sasaran. Target mereka adalah situs radar Syria di dekat Beirut dan dua titik tempat dikerahkanya hampir 30 peluncur rudal mobil Syria. Sepanjang perjalanan menuju target, pesawat-pesawat mendapat beragam tembakan anti-pesawat dari darat. “Pesawat-pesawat AS melaporkan tembakan anti-pesawat dan peluncuran rudal SA-7 dan SA-9,” tulis David Locke. Tak satupun dari mereka yang tersentuh peluru lawan. Sebaliknya, pesawat-pesawat serbu AS itu berhasil mengebom situs pertahanan anti-serangan udara di Pegunungan Shuf dan Metu, timur-laut Beirut. Satu tempat penyimpanan amunisi, satu situs anti-pesawat, dan sebelas target lainnya juga berhasil dihancurkan. Yang terpenting, tulis Robert W. Love, “Serangan itu telah merusak situs radar dan melumpuhkan dua baterai rudal, tetapi Syria berhasil memperbaiki radar itu dan beroperasi dua hari kemudian.” Namun, dalam perjalanan kembali ke kapal induk, pesawat-pesawat itu mendapat serangan lebih hebat. Saksi mata Zouk Mikhael mengatakan bahwa sepasang pesawat AL AS yang hendak kembali usai menyelesaikan misi di pegunungan timur Beirut terus memuntahkan bola api ( flare ) agar membingungkan rudal-rudal pencari panas yang ditembakkan Syria. Perlawanan terhadap pesawat-pesawat AS juga disaksikan Joe Cherabie dari rumahnya di Bikfaya. “Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan. Mereka melakukan setidaknya dua kali melewati sasaran di belakang pegunungan. Ketika pesawat-pesawat itu kembali menuju laut, salah satunya terkena rudal, mulai berasap dan jatuh ke arah Beirut,” ujarnya sebagaimana dikutip The New York Times. Pesawat yang jatuh di dekat Pelabuhan Beirut itu merupakan pesawat A-7 Corsair yang dihantam rudal SA-7 saat hendak kembali ke USSIndependence . Pilotnya, Commander Edward T. Andrews, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar dan kemudian diselamatkan seorang nelayan sebelum dijemput helikopter AL yang membawanya ke Independence .   Pesawat AL kedua yang menjadi korban adalah A-6 Intruder kursi ganda yang berpangkalan di USS John F. Kennedy . Baik pilotnya, Letnan Mark Adam Lange, maupun navigatornya, Letnan Robert Goodman, berhasil keluar dari cockpit menggunakan kursi lontar saat pesawat mereka dihantam rudal. “Namun parasut Lange malfungsi dan dudukan kursi lontarnya mengamputasi kakinya ketika dia menyentuh tanah,” tulis Robert Love. Akibatnya, Lange kehabisan darah dan meninggal di tengah kepungan milisi lawan. Sementara, Goodman ditawan milisi tersebut dan dijadikan bahan propaganda oleh Syria di Lebanon. Goodman dibebaskan sebulan kemudian setelah kandidat presiden dari Demokrat Jesse Jackson berkunjung ke Lebanon dan menegosiasikan pembebasannya.

  • Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman

    SEMALAMAN Heinz Otto Fausten berjuang mati-matian melawan cuaca minus 30 derajat Celcius yang membekukan tubuh di tengah Operasi Barbarossa (invasi Jerman Nazi atas Uni Soviet). Bersama beberapa rekannya di batalyon intai panzergrenadier Divisi Lapis Baja ke-7, Fausten berdiam di sebuah kantung pertahanan di tepi barat stasiun dan Kanal Moskow-Volga. Titik itu merupakan posisi terdekat pasukan Jerman dari gerbang barat kota Moskow yang berjarak 30 kilometer dari Kremlin, pusat pemerintahan komunis Uni Soviet. Fausten berharap pagi 5 Desember 1941 membawakan sedikit kehangatan dari sinar mentari. Namun apa lacur, mata prajurit panzergrenadier  (infantri mekanis) Jerman itu justru melihat gelombang manusia dari pihak musuh. “Kanal Moskow-Volga terhampar di hadapan kami dan di seberang tepiannya, terdapat gelombang pasukan Rusia yang tiba-tiba datang. Banyaknya jumlah mereka membuat kami tak bisa berkata-kata. Barisan mereka bergerak tanpa ujung, serdadu yang naik ski dengan mantel putih mereka. Ada juga barisan tank dan unit-unit artileri serta kendaraan tempur lain yang tak terhingga jumlahnya. Dari mana datangnya mereka?” kenang Fausten dikutip David Stahel dalam The Battle for Moscow. Serdadu Jerman di garis depan front Timur di gerbang kota Moskow. (Bundesarchiv). Pagi itu jadi penanda berakhirnya laju ofensif Jerman sekaligus menutup buku Operasi Barbarossa. Itu juga  jadi penanda titik balik pertama dalam Pertempuran Moskow. Sebelumnya, Soviet acap jadi pihak yang bertahan. Gelombang Tentara Merah yang dilihat Fausten tak lain adalah lima divisi pasukan gelombang pertama Angkatan Darat (AD) ke-31 di bawah Kolonel Jenderal Ivan Konev yang berbasis di Front Kalinin. Gelombang kedua menyusul menjelang siang, memukul AD ke-9 Jerman di timur Kalinin. Jumlah itu baru sebagian kecil dari kekuatan Tentara Merah yang melancarkan serangan balik kolosal keesokannya, 6 Desember 1941, lewat Front Barat dan Front Barat Daya. Untuk memukul balik Jerman sekaligus menamatkan ofensif Barbarossa, Panglima Front Barat Soviet Marsekal Georgy Zhukov punya modal besar berupa 1,2 juta personil segar dari Siberia yang tersebar di 58 divisi infantri, 1.700 tank, dan 1.500 pesawat. Peta serangan balik Tentara Merah (kiri) yang dipimpin Kolonel Jenderal Ivan Stepanovich Konev. ( mil.ru ). Rencana serangan balik itu sudah dipersiapkan Marsekal Zhukov sejak akhir November. Setelah beberapakali bersurat dan mengontak Stalin via telepon, Zhukov bisa meyakinkan Stalin untuk memberikan puluhan divisi segar dari Siberia yang sebelumnya jadi barisan cadangan di bawah wewenang Stavka atau dewan tertinggi militer Soviet. “Tetapi apakah Anda yakin musuh telah mencapai situasi kritis dan mereka takkan punya kemampuan mengeluarkan kekuatan baru untuk melanjutkan ofensif?” tanya Stalin kepada Zhukov via telepon, dikutip Otto Preston Chaney dalam Zhukov: Revised Edition. Zhukov memaparkan lebih dalam bahwa Heeresgruppe Mitte (Grup AD Tengah) Jerman di bawah Generalfeldmarschall Fedor von Bock sudah kewalahan akibat cuaca yang membekukan. Kalaupun masih ada serangan, itu berasal dari sisa unit-unit Jerman dan bukan pasukan baru dari barat. Untuk menyapu pasukan Jerman yang kelelahan itu, Zhukov butuh pasukan baru yang lebih segar. Kekacauan Pasukan Jerman Sedianya Marsekal Bock hendak melanjutkan ofensif lewat Operasi Tyhpoon yang tertunda pada 6 Desember. Itu dia rencanakan tiga hari sebelumnya dengan bekal pasukan yang ada tanpa tambahan bantuan dari Adolf Hitler. Namun melihat situasi serangan balik Tentara Merah, pada 5 Desember malam Von Bock mengirim kabel ke Berlin bahwa Operasi Typhoon sudah berakhir. Pesan Bock ke Berlin diterima Kepala Staf Komando Tertinggi (OKH) AD Jerman Kolonel Jenderal Franz Halder. Bunyinya, sebagaimana dikutip Stahel, “Tidak ada lagi kekuatan (ofensif). Serangan besok oleh Grup Lapis Baja ke-4 mustahil dilancarkan. Terkait penarikan mundur yang dibutuhkan akan dilaporkan lagi esok hari.” Pada 5 Desember malam hingga menjelang 6 Desember dini hari itu Marsekal Bock juga mengizinkan Grup Lapis Baja ke-2 pimpinan jago tank termasyhur Jenderal Heinz Guderian untuk mundur dari garis selatan dekat kota Tula. Juga AD ke-2 yang diperintahkannya untuk mundur sejauh 50 kilometer dari Kursk untuk konsolidasi. Hampir semua pasukan baja di bawah Marsekal Bock mundur dari garis terdepan masing-masing demi mencegah pengepungan dan kehancuran total. Mulai dini hari 7 Desember 1941, inisiatif ofensif sudah resmi direbut Tentara Merah. Kolase gelombang serangan balik Tentara Merah memukul mundur Jerman dari gerbang kota Moskow. (Twitter @EmbassyofRussia/ mil.ru ). Sementara, sejak 6 Desember Hitler yang menerima laporan di markasnya di Wolffschanze, Polandia, tak terima alasan para perwira OKH yang merestui langkah mundur Marsekal Bock. Ia bersikeras setiap kubu terdepan dipertahankan sampai prajurit dan peluru terakhir. “ Fuhrer , seperti biasanya, mulai bermonolog tanpa akhir. Tak percaya akan pasukan segar Rusia, menganggap itu hanya gertakan belaka, berasumsi bahwa yang menyerang balik hanyalah pasukan cadangan terakhir,” kenang Mayor Gerhard Engel, ajudan Hitler, sebagaimana dikutpi Evan Mawdsley dalam December 1941: Twelve Days that Began a World War. Namun, Hitler akhirnya mau berkompromi. Pada 8 Desember 1941 ia mengeluarkan Instruksi No. 39. Menurut George E. Blau dalam The German Campaign in Russia: Planning and Operations, 1940-1042, isinya: semua pasukan Jerman di front Rusia untuk berada dalam status defensif, bukan untuk menarik mundur secara besar-besaran. Poin-poinnya, disebutkan Blau antara lain, Grup AD Tengah hanya menarik mundur beberapa divisi mekanis untuk dikonsolidasikan lagi, mempertahankan beberapa fasilitas di garis belakang dan jalur komunikasi, Grup AD Selatan agar membuat kubu pertahanan terkuat dengan merebut Sevastopol, dan Grup AD Utara agar menunggu kedatangan pasukan bantuan. Tiga tokoh penting Jerman di Pertempuran Moskow: Generalfeldmarschall Moritz Albrecht Franz Friedrich Fedor von Bock, Generaloberst Heinz Wilhelm Guderian & Adolf Hitler. (Bundesarchiv). Namun instruksi itu datang terlambat. Di berbagai kubu, pertahanan Jerman kian hari kian payah. Di hari yang sama dengan datangnya instruksi Hitler, pasukan baja Jenderal Guderian makin terdesak diserang dari tiga jurusan oleh AD ke-10 dan AD ke-50 Soviet di kota Tula. Ia menyesalkan keputusan OKH sebelumnya yang tak berdasarkan kenyataan di lapangan. “Saya tak pernah bisa percaya bahwa sebuah posisi militer yang amat brilian bisa dihancurkan hanya dalam dua bulan. Jika sebuah keputusan bisa diambil dalam waktu yang tepat untuk memencarkan kekuatan dan menahan diri di sepanjang musim dingin demi bisa beradaptasi lebih dulu, kami takkan berada dalam bahaya seperti sekarang,” tulis Guderian dalam suratnya tertanggal 8 Desember, dikutip Mawdsley. Yang lebih disesalkan Marsekal Bock adalah penolakan OKH terhadap permintaan pasukan bantuan segar dari Prusia Timur. OKH hanya mengizinkan Bock mundur hingga Sungai Oka pada 14 Desember. Namun karena keputusan OKH tak seizin Hitler, sang diktator justru membatalkan arahan mundur itu. Akhir Pertempuran Moskow Tentara Merah kian hari kian sukses mendesak Jerman mundur dari Moskow dan kota-kota penyangganya dengan serangan baliknya. “Sejak 6 Desember 1941, pasukan di front terdepan di hadapan musuh yang kelelahan, terus-menerus melancarkan serangan balik menentukan terhadap pasukan-pasukan sayap musuh. Hasilnya musuh terus mundur, meninggalkan persenjataannya dengan kekalahan besar,” kata Marsekal Zhukov dalam laporannya kepada Stalin, dikutip Chaney. Memasuki 16 Desember, Tentara Merah mampu membersihkan kota Kalinin, Klin, dan Yelets dari sisa-sisa pasukan Jerman. Saat Natal 25 Desember 1941, mereka bahkan bisa mengepung pasukan baja Guderian di Chern meski Guderian sendiri bisa meloloskan diri ke garis pertahanan Sushka-Oka. Pasukan Jerman yang kepayahan dipukul mundur Tentara Merah dari gerbang kota Moskow. (Bundesarchiv/ mil.ru ). Pasukan Jerman tak hanya kepayahan namun juga kondisi morilnya menurun drastis. Terlebih setelah banyak pergantian kepemimpinan. Di tanggal 25 Desember itu pula Hitler membebastugaskan para perwira lapangan yang menurutnya tak becus. Selain Marsekal Bock, yang dibebastugaskan Hitler yakni Jenderal Erich Hoepner (Panglima Grup Lapis Baja ke-4) dan Guderian. Hitler juga memecat Panglima Tertinggi AD Jerman Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch dan wewenang atas pasukan di Rusia dipegang Hitler sendiri. Keputusan Hitler itu menambah panjang daftar blundernya. Menurut Marsekal Bock, ketidakbecusan itu sudah terjadi sejak musim panas 1941 dengan pengalihan tujuan Operasi Barbarossa dari Moskow ke ke Leningrad di utara dan Kiev di selatan. Akibatnya, peluang menang lewat Blitzkrieg di musim panas terbuang percuma. “Sekian lama saya meminta otoritas OKH untuk langsung menyerang musuh ketika masih lemah. Kita bisa saja mengakhiri perlawanan musuh musim panas lalu. Agustus lalu jalan menuju Moskow masih terbuka; kita bisa masuk ke ibukota Bolshevik dengan kemenangan dinaungi cuaca musim panas. Kepemimpinan tinggi militer membuat kesalahan besar saat memaksa Grup AD mengadopsi posisi bertahan Agustus lalu. Sekarang kita harus membayar kesalahan itu,” tulis Marsekal Bock di buku hariannya, dikutip Alfred W. Turney dalam Disaster at Moscow: von Bock’s Campaign 1941-1942. Pemimpin tertinggi Uni Soviet Joseph Vissarionovich Stalin (kiri) & Marsekal Georgy Konstantinovich Zhukov yang puas mengusir Jerman dari gerbang kota Moskow. ( mil.ru ). Hitler akhirnya harus kehilangan muka di front timur, terutama kegagalannya merebut Moskow. Per 7 Januari 1942, Pertempuran Moskow berakhir dengan kemenangan besar Tentara Merah. Operasi Barbarossa pun musnah. Pertempuran Moskow berakhir setelah Zhukov menghentikan sementara ofensif terus-menerus sebulan penuh. Alasannya, makin mendesak posisi-posisi Jerman dengan garis ofensif yang makin melebar, makin tipis pula garis terdepan Soviet. Zhukov khawatir garis itu terputus jika sewaktu-waktu Jerman berinisiatif menyerang balik. Toh maksudnya untuk mengamankan Moskow sudah tercapai dengan memukul mundur Jerman hingga 160 kilometer dari barat ibukota. Selain itu, 58 divisi Tentara Merah butuh sedikit istirahat untuk melanjutkan gerak majunya menuju Warsawa dan Berlin. Zhukov akhirnya bisa terlelap setelah berhari-hari terjaga hanya dengan terus-menerus menenggak kopi. Telepon dari Stalin pun tak bisa membangunkannya. “Kita tak bisa membangunkannya. Biarkan ia terlelap,” kata Stalin kepada salah satu staf Zhukov di sambungan telepon, dikutip Chris Bellamy dalam Absolute War: Soviet Russia in the Second World War. Meskipun keinginan Stalin menghancurkan total Grup AD Tengah Jerman tak tercapai, baginya melihat Moskow aman dari ancaman Jerman sudah lebih dari cukup. Untuk itu Tentara Merah membayar mahal serangan baliknya dengan kehilangan hampir 139 ribu serdadunya yang tewas. Sementara, Jerman kehilangan lebih dari 60 ribu prajuritnya.

  • Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)

    SUDAH tujuh dasawarsa Formula One (F1) bergulir sejak ajang perdananya pada 1950. Sejak itu pula bermunculan regenerasi pembalap dari ayah ke anak yang meramaikan pentas balap mobil kasta teratas itu. Ada 13 pasang ayah-anak yang membalap di lintasan F1. Mick Schumacher jadi yang teranyar. Mick adalah putra Michael Schumacher, pemilik tujuh gelar dunia F1 (1991-2012). Rekor itu belum bisa dipecahkan pembalap manapun saat ini. Namun, tim Haas F1 memastikan perekrutan Mick pada musim 2021 bukan semata untuk jadi bayang-bayang sang ayah. “Mick memenangkan banyak balapan, mengoleksi raihan podium dan membuktikan punya bakat luar biasa pada 2020 (di Formula 2, red. ). Saya yakin dia pantas mendapatkan kesempatan balapan di Formula 1 berdasarkan performanya sendiri dan saya sangat menantikan kontribusi Mick di dalam maupun di luar trek,” ujar team principal Haas F1 Guenther Steiner di laman resmi tim , Selasa (1/12/2020). Dari ke-13 pasangan ayah dan anak di pentas F1, tak semuanya punya kiprah cemerlang baik si ayah maupun si anak. Empat pasang ayah-anak dengan karier tak moncer adalah Manfred (1980-1985) dan Markus Winkelhock (2011-2012), Jonathan 1983-1989) dan Jolyon Palmer (2016-2017), Satoru (1987-1991) dan Kazuki Nakajima (2007-2009), serta Jan (1995-1998) dan Kevin Magnussen (2014-2020). Sisanya, sembilan pasang ayah-anak, punya tinta emas dalam sejarah F1. Sebelumnya sudah diuraikan empat pasang ayah-anak pembalap F1 nan gemilang. Berikut empat lainnya: Wilson dan Christian Fittipaldi Wilson Fittipaldi Júnior (kiri) & Christian Fittipaldi. ( formula1.com / forzaminardo.com ). Seperti halnya keluarga Brabham atau Schumacher, nama Fittipaldi juga turut menggurita di kancah F1 lantaran hampir semua anggota keluarganya bersentuhan dengan dunia balap. Wilson Fittipaldi Jr. yang lahir di Hari Natal tahun 1943 di São Paulo, Brasil, jadi pionirnya. Olahraga balap sejak kecil bukan barang baru baginya mengingat sang ayah, Wilson Fittipaldi Sr., merupakan jurnalis dankomentator balap motor dan mobil. Namun, karier Wilson di F1 sepanjang 1972-1975 bersama tim Brabham dan Copersucar –yang didirikannya sendiri– justru berada di bawah bayang-bayang sang adik Emerson Fittipaldi. Emerson dua kali merebut gelar juara dunia F1, musim 1972 dan 1974. Satu-satunya podium yang dicicipi Wilson hanya juara ketiga di Grand Prix Brasil pada musim 1972. Meski begitu, putranya, Christian Fittipaldi, bisa jadi kebanggaan buat Wilson yang pensiun sejak 1976. Lahir pada 18 Januari 1971 di kota yang sama dengan Wilson, Christian beruntung punya dua mentor hebat, ayahnya dan pamannya, untuk meniti kariernya yang dimulai di ajang gokar. Debut Christian di F1 dilakoni pada musim 1992 bersama tim Minardi. Ian C. Friedman dalam Latino Athletes menuliskan, Christian bisa promosi ke F1 setelah menjadi pembalap termuda yang lulus dan mendapatkan FIA Formula One Super License pada usia 18 tahun. Tetapi sialnya beberapa kali problem teknis mobil dan kecelakaan yang mengakibatkannya patah kaki membuat kiprah Christian di F1 tak berumur panjang. Seiring pulih dari cedera, Christian beralih ke ajang lain pada 1994 dan menunjukkan tajinya di ajang balap Championship Auto Racing Teams (CART) sepanjang 1995-2004. Dia juga menjadi pembalap non-Amerika Serikat pertama di NASCAR pada 2002, menjuarai 24 Hour Daytona 2004 di tim Bell Motosports, dan mempopulerkan ajang Stock Car di Brasil pada 2005-2010, serta dua kali kampiun WeatherTech Sports Car pada 2014 dan 2015. “Dengan berbagai alasan, saya memang tak punya kesuksesan besar sebagaimana yang saya harapkan (di F1 dan NASCAR, red. ). Tetapi saya senang punya kesempatan di Brasil di mana kini semua orang mengenal balapan Stock Car yang berkembang pesat,” tutur Christian dikutip Friedman. Gilles dan Jacques Villeneuve Joseph Gilles Henri Villeneuve (kanan) & Jacques Joseph Charles Villeneuve. ( formula1.com / redbull.com ). “Takkan ada yang mengingat juara dua.” Ungkapan familiar di beragam kompetisi itu untuk beberapa saat jadi tekanan bagi Gilles Villeneuve. Lahir di Sain-Jean-sur-Richelieu, Quebec, Kanada pada 18 Januari 1950, Gilles bersama sang adik, Jacques-Joseph Villeneuve, sudah menggilai balap mobil sejak muda. Gilles menembus F1 pada 1977 dengan direkrut tim Marlboro McLaren. Sebelum datangnya Niki Lauda, Gilles jadi saingan terberat pembalap legendaris Inggris James Hunt. Di luar trek, Gilles dikenal sebagai pribadi santun dan ramah. Tetapi ketika sudah masuk kokpit jet darat, ia berubah jadi sosok nekat sebagaimana James Hunt. “Dia (Gilles) pembalap tergila dan ternekat yang pernah saya temui di Formula 1. Padahal faktanya, pribadinya punya karakter yang sensitif dan menyenangkan di luar trek dan tak terlihat seperti pembalap nekat, tetapi itu yang membuatnya jadi seseorang yang unik,” kenang Lauda dalam otobiografinya, To Hell and Back . Musim 1979 jadi puncak karier Gilles bersama Ferrari. Hampir sepanjang musim dia bersaing ketat dengan Jody Scheckter untuk berebut gelar. Sial, Gilles harus puas sebagai juara dua. Kesialan puncak Gilles tiba beberapa musim kemudian. Di GP Belgia, 8 Mei 1982, Gilles mengalami kecelakaan hebat yang kemudian merenggut nyawanya. Kala Gilles wafat, Jacques, putranya, baru berusia 11 tahun. Ia tumbuh jadi pemuda yang juga menyenangi balapan di bawah bimbingan sang paman, Jacques Sr., hingga melakoni debutnya di F1 pada 1996 bersama tim Williams. Seperti ayahnya, Jacques tipe pembalap yang cepat namun selalu berusaha tampil elegan. Meski Jacques paling anti melakoni manuver-manuver kontroversial, tetap saja dia kena sial mobilnya jadi korban manuver kotor Michael Schumacher di GP Eropa musim 1997. Jacques bahkan sampai bertengkar dengan Schumi gara-gara itu . Musim 1997 itu juga jadi musim di mana Jacques akhirnya juara dunia.Gelar itu menjadikannya pembalap Kanada pertama yang mampu jadi kampiun F1. “Ayah pembalap yang sangat cepat. Dia penyuka kecepatan dan adrenalin, selalu terburu-buru ingin menyalip pembalap lain. Dan dia mengalami kecelakaan hebat. Sulit mengatakan kemampuan saya didapat dari ayah tapi yang pasti saya punya perasaan kecepatan dan kemampuan itu darinya,” kenang Jacques, dikutip Gerald Donaldson dalam Gilles Villeneuve: The Life of the Legendary Racing Driver. Nelson dan Nelson Piquet Jr. Nelson Piquet Souto Maior (kiri) & Nelson Angelo Tamsma Piquet Souto Maior Jr. ( sfcriga.com / nascar.com ). Nelson Piquet merupakan satu dari lima pembalap F1 yang punya tiga koleksi juara dunia. Ia juga pembalap legendaris Brasil kedua yang juara dunia setelah Emerson Fittipaldi. Lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada 17 Agustus 1952, Piquet terjun ke dunia balap karena terinspirasi Fittipaldi yang dua kali juara dunia F1. Tiga gelar Piquet masing-masing diraih saat memiloti kokpit Brabham pada musim 1981 dan 1983, serta mobil Williams di musim 1987. “Untuk jadi juara dunia Anda butuh banyak keberuntungan di mana itu hal terpenting. Ada banyak pembalap hebat yang jadi juara dunia. Namun Anda juga butuh mobil, mesin, pilihan ban dan tim yang tepat. Saya memiliki itu semua,” jelas Piquet sebagaimana dikutip Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 70 Years of Legendary F1 Drivers. Selepas Piquet pensiun dari F1 pada 1991, baru 17 tahun berselang nama Piquet kembali nongol di grid F1. Nama itu disandang putranya, Nelson Piquet Jr. Mobil dan dunia balap baru jadi hobi Piquet Jr. di usia delapan, usia di mana dia baru mengenal ayahnya. Ayah dan ibunya berpisah saat Piquet Jr. masih bayi dan ia dibawa tinggal bersama ibunya, Sylvia Tamsma, di Monaco. Saat umur delapan, dia pindah tinggal dengan ayahnya di Brasil. Meski begitu, Piquet Jr. mengaku awal kariernya tak di bawah bimbingan sang ayah. Piquet Sr. hanya menyokong dana saat Piquet Jr. memulai kariernya dari ajang gokar pada 1993. Debutnya di F1 baru terjadi pada 2008. “Saya memang menyandang namanya. Tetapi saya selalu berusaha sendiri. Ayah hanya sekadar melihat saya balapan namun saya tak pernah bergantung padanya, terlepas dari sisi finansial. Semua hal teknis, hanya bergantung pada saya dan para mekanik,” terang Piquet Jr. kala diwawancara The Guardian , 5 Oktober 2005. Akan tetapi, Piquet Jr. gagal menyamai apalagi melewati reputasi sang ayah. Menduduki kokpit tim Renault di musim 2008 dan 2009, Piquet Jr. hanya mampu sekali naik podium sebagai runner-up di GP Jerman 2008. Pada GP Singapura di musim yang sama, Piquet Jr. bahkan jadi sorotan komisi disiplin FIA setelah diduga menabrakkan mobilnya sendiri demi memberi kesempatan rekan setimnya, Fernando Alonso, untuk menang. Piquet Jr. mengakuinya lantaran ia diperintahkan bos timnya dan itu jadi titik konfliknya dengan tim Renault. Pada musim 2009, Piquet Jr. hanya bertahan hingga paruh musim. Beralih dari F1, Piquet Jr. memilih ajang NASCAR hingga Formula E dan keluar sebagai juara dunia di musim 2014/2015 bersama tim China Racing/NEXTEV. Jos dan Max Verstappen Johannes Franciscus 'Jos' Verstappen (kanan) &  Max Emilian Verstappen. ( formula1.com / redbull.com ). “Jos the Boss” julukannya. Salah satu maestro balap asal Belanda yang malang-melintang di F1 sepanjang 1994-2003. Sebagaimana pembalap kebanyakan, Johannes Franciscus ‘Jos’ Verstappen yang lahir di Montfort, 4 Maret 1972 itu memulainya di ajang gokar sejak usia delapan tahun. Namun, kegemilangan di F1 hanya terjadi di musim perdananya ( 1994). Dia dua kali berdiri di podium sebagai juara ketiga di GP Hungaria dan Belgia. Selebihnya ia bak pembalap penggembira di hampir setiap seri hingga pensiun pada 2003. Seperti para seniornya, ia pun menurunkan bakat balapnya ke putra sulungnya, Max Verstappen. Max yang lahir di Hasselt, Belgia, 30 September 1997, bersentuhan dengan dunia balap sejak dini mengingat sang ibu, Sophie Kumpen, juga pembalap gokar semasa mudanya. Meski kemudian ayah dan ibunya berpisah dan Max tinggal dengan Sophie di Maaseik, kota perbatasan Belgia dengan Belanda, hampir setiap hari dia menghabiskan waktu bersama ayahnya di seberang perbatasan. “Sebenarnya saya tinggal di Belgia hanya menumpang tidur. Seharian saya selalu ke Belanda ke tempat ayah dan menemui teman-teman saya. Saya dibesarkan sebagai orang Belanda dan hingga sekarang itu yang saya rasakan,” ujar Max, disitat GP Fans , 3 Juli 2019. Berangsur-angsur Max membangun kariernya dari Formula Renault pada 2013, Formula Three setahun berselang. Puncaknya, dia mendapatkan kursi di F1 bersama tim Scuderia Toro Rosso juga pada 2014 selepas lulus dari tim junior Red Bull. Debutnya dilakoninya musim 2015. Sedikit demi sedikit dia melejit hingga jadi salah satu pesaing serius langganan juara Lewis Hamilton, utamanya setelah Max dipromosikan ke tim utama Red Bull pada 2016. Pada musim 2019 ia mencuat jadi juara tiga. Kini di musim 2020 yang menyisakan dua seri, Verstappen di posisi yang sama masih sikut-sikutan dengan Valtteri Bottas untuk berebut status runner-up lantaran Hamilton di puncak klasemen takkan terkejar. Namun peluang Verstappen untuk punya capaian melebihi sang ayah –juara dunia F1– masih terbuka di musim 2021.

  • Mengintip Kegiatan Sekolah Masa Jepang

    Sembilan bulan pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Sekolah merumahkan siswanya dan mengganti sistem kelas tatap muka dengan sistem dalam jaringan untuk menekan penyebaran virus. Mendikbud, Menag, Mendagri, dan Menkes berencana membolehkan sekolah kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021 dengan persyaratan ketat. Sembilan bulan bukan waktu singkat bagi siswa menjalani hari-hari bersekolah yang berbeda. Hal serupa juga pernah terjadi pada masa Jepang. Menjelang kedatangan Jepang pada akhir 1941, sekolah-sekolah di Hindia Belanda meliburkan siswanya tanpa berbatas waktu. Para guru berbangsa Belanda kembali ke negerinya.    Maret 1942, Jepang mengambil alih Hindia Belanda. Pemerintah militer Jepang menutup semua jenis dan jenjang sekolah. Mereka ingin merombak ulang pendidikan di Indonesia. Buku-buku sekolah berbahasa Belanda disita, diperiksa, dan dinilai ulang. “Semua itu dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh Barat,” catat tim Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam Di Bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang Mengalaminya . Selama masa perumusan ulang pendidikan itu, murid-murid telantar. Murid-murid tingkat akhir di sekolah menengah atas terpaksa mengubur mimpinya memperoleh ijazah untuk mencari kerja. Ujian kelulusan ditunda. Mereka hanya memperoleh ijazah darurat. Murid-murid tingkat lebih rendah juga bernasib serupa. Mereka gagal naik kelas. Sebab tak ada ujian kenaikan kelas. Berbulan-bulan lamanya para murid merindukan dunia sekolah. Sebagian menghabiskan waktu dengan berdagang. Sisanya bermain-main saja. Hingga datanglah kabar gembira itu. Jepang akan membuka sekolah lagi untuk murid menengah pertama dan atas. “Pembukaan Sekolah Menengah besok jam 9 pagi. Besok hari Selasa tanggal 8 September 2602 (1942, red .) dari pukul 9 pagi. Sekolah Menengah Tinggi dan Sekolah Menengah Pertama di Jakarta akan dibuka dengan mengadakan upacara,” demikian pengumuman surat kabar Asia Raya , 7 September 2602. Sekolah Menengah Tinggi Jakarta menjadi sekolah tingkat atas pertama yang dibuka di seluruh Indonesia. Semua murid dari berbagai jenis sekolah di seluruh Indonesia boleh mendaftar. Ini membedakan sekolah masa kolonial. Kala itu sekolah terbagi dalam beberapa jenis berdasarkan latar belakang sosial dan ras orangtua atau wali murid. “Di situlah untuk pertama kali murid-murid Indonesia yang berasal dari bermacam-macam sekolah menengah dan dari berbagai lapisan masyarakat kelas menengah ke atas, berkumpul dan belajar bersama dalam situasi yang bagi sebagian besar murid merupakan keadaan yang jauh berbeda daripada yang pernah dialami,” sebut Miriam Budiardjo, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia yang pernah menjadi murid SMT, dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Jakarta 1942–1945. Jepang merombak kebijakan pendidikan masa sebelumnya. Misalnya mengganti bahasa Belanda dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di sekolah. Bagi murid-murid sekolah swasta, keputusan ini tak berarti banyak. Sekolah mereka telah menerapkannya sebelum kedatangan Jepang. Tapi bagi murid sekolah elite milik pemerintah kolonial Belanda, jadi pengalaman baru. “Jadi di situ pertama sekali belajar dengan seorang Empu yang mengajar bahasa Indonesia,” ungkap Peki Sanyoto, menuturkan pengalamannya bersekolah pada masa Jepang dalam Di Bawah Pendudukan Jepang . Murid-murid sekolah elite itu menggunakan bahasa Belanda dalam kesehariannya, termasuk di sekolah. Mereka asing sekali dengan bahasa Indonesia. Mereka lantas belajar bahasa Indonesia. Beberapa dari mereka mempelajarinya dari novel-novel terbitan Volkslectuur atau Balai Pustaka. Dari mempelajari bahasa Indonesia, rasa kebangsaan murid-murid itu mulai muncul. Terlebih lagi pembukaan sekolah memungkinkan mereka bergaul kembali dengan rekan-rekannya dari berbagai lapisan masyarakat. Setelah membuka SMT di beberapa kota, Jepang menyelenggarakan lagi sekolah-sekolah khusus seperti teknik, kedokteran, kemiliteran, dan khusus remaja putri ( wakaba ). Sekolah-sekolah swasta juga diizinkan beroperasi kembali. “Namun harus memasukkan pelajaran bahasa Jepang, olahraga ( taiso ), dan kerja bakti dalam kurikulumnya,” sebut tim ANRI. Jepang tak mengubah drastis mata pelajaran di tiap jenjang. Mereka tetap mempertahankan pelajaran umum seperti ilmu pasti, sejarah, ilmu bumi, kimia, fisika, ekonomi, dan seni. Tapi Jepang menghapus mata pelajaran bahasa Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Yunani Kuno, dan Romawi. Di dalam kelas, para murid lebih banyak mencatat apa yang diomongkan guru. Sebab waktu sekolah kembali dibuka, Jepang belum menyiapkan buku-buku pelajaran baru. Jepang menambah porsi mata pelajaran fisik seperti olahraga untuk semua jenjang sekolah. Murid-murid wajib ikut senam pagi ( taiso ), baris-berbaris, dan lari. Penekanan porsi fisik ini bertujuan mempersiapkan para murid menghadapi perang Asia Raya demi kepentingan Jepang. “Oleh karena itu pelajar-pelajar diharapkan mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi ketat,” catat tim Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1974. Para murid juga mengalami upacara bendera tiap senin pagi, penggundulan rambut bagi siswa laki-laki, dan mengenakan seragam sekolah untuk kali pertama. Tiga hal ini tak pernah tersua di sekolah umum pada masa kolonial. Pengalaman baru murid-murid lainnya ialah tindakan keras para pengawas sekolah dalam pendidikan. Pengawas sekolah terdiri dari orang-orang Jepang. Tangan mereka mudah berayun ke kepala murid dan guru yang berbuat salah dalam pandangan mereka. Semua guru sekolah zaman Jepang berasal dari Indonesia. Sebagian terdiri atas bekas mahasiswa tingkat terakhir perguruan tinggi masa kolonial. Dengan demikian, jarak usia mereka sangat dekat dengan para murid sekolah menengah tinggi. Tak jarang ada pula guru berasal dari satu angkatan yang sama dengan salah satu murid. “Jadi memang dari sudut gurunya tentu tidak mempunyai tingkat kualitas sama seperti Belanda punya,” kata Daan Jahja, mantan murid SMT Jakarta, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Meski kualitas pendidikan guru-guru Indonesia jauh di bawah guru Belanda, secara personal hubungan mereka dengan para murid jauh lebih dekat dan kuat. Ini terbentuk setelah perilaku keras para pengawas sekolah dan orang-orang Jepang kepada orang Indonesia. “Antara guru dan murid, antara kami sesama murid demikian dekatnya karena menghadapi ancaman yang sama dari luar... Hubungan erat seperti itu belum pernah kami rasakan di sekolah manapun di zaman Belanda,” ungkap Eddy Djoemardi Djoekardi dalam Jembatan Antar Generasi. Pendidikan bikinan Jepang berakhir setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada Agustus 1945. Murid-murid pun kembali menghadapi dunia sekolah yang baru.

  • Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I)

    SUDAH delapan tahun lamanya nama Schumacher tak lagi menghiasi kontes Formula One (F1). Mulai musim 2021 nanti, nama Schumacher bakal muncul lagi di grid  lintasan F1. Namun Schumacher yang bakal muncul bukanlah Michael Schumacher, melainkan Mick Schumacher, putra Schumi –sapaan akrab Michael Schumacher. Mick bakal menyambung keterikatan nama keluarga besarnya dengan F1. Selain sang ayah, di keluarganya ada Ralf Schumacher (1997-2007) sang paman yang pernah mengaspal di F1. Mick terjun ke F1 musim 2021 pasca-menjuarai Formula 2 musim ini (2020) bersama tim Prema Racing. Di pentas F1, Mick mendapat kursi di tim Haas dengan kontrak berdurasi setahun. “Prospek menuju Formula 1 tahun depan membuat saya sangat bahagia dan tak bisa berkata-kata. Terima kasih kepada tim Haas F1, Scuderia Ferrari dan Akademi Pembalap Ferrari yang memberi saya kepercayaan. Saya juga ingin menyampaikan cinta kepada orangtua saya – saya tahu telah berutang segalanya,” ujar Mick sebagaimana dilansir laman resmi F1 , Rabu (2/12/2020). Capaian itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama fans. Mick pun menyatakan terimakasihnya kepada mereka. “Saya selalu percaya bahwa saya pasti bisa memenuhi mimpi saya balapan di Formula 1. Terima kasih teramat besar kepada semua fans balap yang selalu mendukung sepanjang karier saya. Seperti biasa, saya akan memberikan usaha maksimal dan saya menantikan perjalanan bersama mereka dan tim Haas F1,” imbuhnya. Mick dan Michael Schumacher hanyalah salah satu dari delapan pembalap yang mengikuti jejak ayah mereka di F1. Berikut empat di antaranya: Jack dan David Brabham Sir Arthur John 'Jack' Brabham (kanan) & David Brabham. ( formula1.com ). Jack Brabham yang lahir pada 2 April 1926 di Hurtsville, New South Wales, Australia, sempat jadi mekanik di Angkatan Udara Australia pada masa Perang Dunia II sebelum terjun ke dunia balap. Setelah memulainya di ajang balapan mobil midget pada 1946, pembalap berjuluk “Black Jack” itu menembus pentas F1 pada 1955 di kokpit mobil Cooper. Sepanjang kiprahnya di F1 (1955-1970), tiga kali Jack mendulang gelar juara dunia. Dua titelnya (1959 dan 1960) disabet bersama tim Cooper, gelar ketiganya (musim 1966) direngkuh Jack dengan tim Brabham Racing Organization yang didirikannya pada 1962. Tiga anak hasil pernikahannya dengan Betty Evelyn Beresford mengikuti jejak ayahnya. Namun, hanya dua yang mencuat hingga level F1. Jack tak pernah memperlakukan ketiga anaknya secara istimewa. Jack tetap seorang pendiam yang sukar berbagi saran, nasihat, tips, dan trik balapan sebagaimana semasa ia aktif membalap. “Suatu ketika ayah menatap kokpit mobil (Australian Formula Ford) saya dan dia hanya bilang: ‘Oke, itu ada rem, ada pedal gas, ada setir; jika kamu menabrak, jangan kembali!’ Sepanjang karier saya, dia tak pernah memberi saya nasihat selain itu,” kenang Geoff, dikutip Tony Davis dalam Brabham: The Untold Story of Formula One and Australia’s Greatest Ever Racing Driver. Pengalaman serupa dialami Gary, putra kedua Jack yang menembus F1 bersama tim Life Racing pada 1990 tanpa sekalipun pernah menang. Pun dengan David, putra ketiganya yang dua musim mengaspal di F1 bersama tim Brabham (1990) dan tim MTV Simtek Ford (1994) dengan capaian tertinggi finis urutan ke-10 di Grand Prix Spanyol musim 1994. “Ayah hanya menyarankan: ‘untuk melaju cepat, kamu hanya perlu mengurangi pengereman dan lebih sering injak gas’,” tandas David. Graham dan Damon Hill Norman Graham Hill (kiri) & Damon Graham Devereux Hill. ( grandprixhistory.org / redbull.com ). Sebagaimana Jack Brabham mentornya, pembalap legendaris Inggris kelahiran Hampstead, London, 15 Februari 1929 ini juga lebih dulu mengabdi di militer Inggris, tepatnya sebagai kru mekanik kapal penjelajah ringan HMS Swiftsure semasa Perang Dunia II. Sempat mencicipi ajang balap motor, Graham Hill akhirnya beralih ke roda empat pada 1954 setelah melihat iklan Universal Motor Racing Club yang menawarkan bayaran lima shilling di setiap satu lap yang dijalani. Graham meniti kariernya di F1 dari mekanik di tim Lotus sampai menduduki kokpitnya lewat debut di Grand Prix Monaco 1958. Perkembangan pesatnya baru dijalani selepas kepindahannya ke tim Owen Racing Organization pada 1960. Dua tahun berselang Graham merebut gelar pertamanya. Gelar keduanya diraih empat tahun kemudian. Graham pensiun pada 1975. Damon Hill, putra Graham yang lahir pada 17 September 1960 di kota yang sama dengannya, mengikuti jejak ayahnya bahkan sejak usia dini. “Saya lahir di kokpit. Melihat foto-foto masa kecil saya, hampir selalu berada dalam pose bersama mobil kecil atau mobil balap. Saya punya ayah yang terkenal. Lalu siapa yang kemudian tak ingin jadi pembalap seperti sang ayah? Beranjak usia, saya selalu ditanyakan pertanyaan serupa oleh orang-orang: ‘Apakah kamu akan jadi pembalap terkenal seperti ayahmu saat besar nanti?’,” ujar Damon dalam otobiografinya, Watching the Wheels. Damon memulainya di balap motor Clubman’s Championship kelas 350cc pada 1981. Tetapi karena kekhawatiran ibunya, Bette Hill, Damon kemudian beralih ke roda empat dan masuk Winfield Racing School pada 1983. Berangsur-angsur karier Damon Hill tak kalah moncer dari sang ayah sejak memulai debutnya di F1 bersama tim Brabham pada 1992. Empat tahun berselang, gelar juara dunia hadir ke pelukannya. Dia pun mencatatkan sejarah: dia dan ayahnya jadi pasangan ayah-anak pertama yang punya gelar juara dunia F1. Selepas pensiun pada 1999, Damon meneruskan tongkat estafet balapnya ke putranya, Joshua Damon Hill. Mario dan Michael Andretti Mario Gabriele Andretti (kanan) & Michael Mario Andretti. ( formula1.com ). Nama keluarga Andretti jadi salah satu nama keluarga di arena balap paling dikenal, Tak hanya di ajang F1, namun juga IndyCar dan NASCAR. Dinasti Andretti dimulai oleh Mario Andretti, pembalap legendaris Amerika berdarah Italia kelahiran Montona d’Istria (kini Motovun, Kroasia), 28 Februari 1940. Mario mengaspal di arena balap NASCAR pada 1966, F1 pada 1968-1982, dan IndyCar 1979-1994. Masa kejayaannya di F1 terjadi pada musim 1978, saat Mario bersama tim Lotus menyabet gelar juara dunia. Setelah beralih ke IndyCar, Mario pun tak kalah moncer hingga puncaknya juara PPG IndyCar World Series 1984 bersama tim Newman/Haas Racing. Kedua putranya, Michael dan Jeff, serta keponakannya, John Andretti, turut terjun ke dunia balap mengikuti jejak Mario. “Saya tumbuh dengan sering menyaksikan ayah saya balapan. Sejak saat saya masih kecil, satu-satunya hal yang saya inginkan hanyalah balapan,” ungkap Michael dalam otobiografinya yang dituliskan bersama Douglas dan Robert Carver, Michael Andretti at Indianapolis. Meski banyak keluarga Andretti yang mengaspal, hanya Michael yang paling gemilang dalam mengikuti karier ayahnya di pentas F1. Sayangnya, Michael gagal mengejar prestasi sang ayah. Michael hanya terjun satu musim (1993), bersama tim Marlboro McLaren. Hasil terbaiknya hanya berdiri di podium ketiga GP Italia. Keke dan Nico Rosberg Keijo Erik 'Keke' Rosberg (kiri) & Nico Erik Rosberg. ( formula1.com ). Finlandia yang berada di ujung utara benua Eropa juga kondang melahirkan banyak pembalap beken macam Mika Häkkinen dan Kimi Räikkonen. Namun sebelum keduanya mengharumkan “negeri seribu danau” itu, sudah ada Keijo Erik ‘Keke’ Rosberg. Lahir di Solna pada 6 Desember 1948, Keke jadi pembalap Finlandia ketiga di pentas F1 setelah Leo Kinnunen (1974) dan Mikko Kozarowitzky (1977). Namun, Keke pembalap Finlandia pertama yang mengecap gelar juara dunia F1. Gelar itu diraihnya di musim 1982 –atau empat tahun setelah debutnya–  bersama tim Williams. Sayangnya, banyak yang menganggap gelar juara Keke itu tak lebih dari suatu kebetulan. Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 17 Years of Legendary F1 Drivers mengungkapkan, banyak kecelakaan yang dialami para saingan Keke hingga akhirnya sering absen karena cedera atau gagal menyelesaikan balapan gegara mobilnya mengalami masalah, seperti Alain Prost, Niki Lauda, atau Nelson Piquet. Banyaknya kecelakaan mengakibatkan musim itu sampai memunculkan 11 juara berbeda. Di mobil Williams pun Keke sering mendapatkan masalah teknis. Hanya saja Keke lebih hoki lantaran hanya tiga kali gagal finis. Maka meski hanya sekali naik podium tertinggi di GP Swiss, Keke keluar sebagai juara dunia. “Musim di mana saya juara merupakan musim yang tak bisa dipercaya. Semua hal terjadi dalam semusim, dari pemogokan para pembalap hingga sejumlah keputusan diskualifikasi, hingga pemuncak klasemen (Didier Pieroni) yang kemudian cedera serius. Dan saya hanya menang di satu seri. Itu musim pertama saya bersama Williams dan saya dari zero menjadi hero ,” papar Keke dikutip Hamilton. Selepas Keke pensiun pada 1986, ajang F1 tak pernah diisi nama “Rosberg” lagi hingga pada 2006. Kala itu Nico Erik Rosberg, putra Keke, melakoni debutnya bersama tim Williams meengikuti jejak sang ayah di F1. Debut Nico dijalani setelah melalui penentangan dari kedua orangtuanya yang mengharapkannya sebagai anak semata wayang tak mengikuti jejak ayahnya menyabung nyawa di lintasan balap. Namun melihat putranya bersikeras, Keke akhirnya mendukung Nico memulai balapan di ajang gokart, tempat Nico berkawan dan bersaing dengan Lewis Hamilton. Sepanjang musim 2013-2016, keduanya yang tergabung di tim Mercedes bersaing keras hingga menimbulkan perpecahan di internal tim. Nico hinggap ke puncak kariernya, merebut gelar juara dunia, pada 2016 bersama tim Mercedes. Ia lantas mencatatkan diri jadi sepasang ayah dan anak kedua yang juara dunia F1 setelah Graham dan Damon Hill.

  • Arnold Mononutu dan Peci Palsu

    Arnold Mononutu atau yang akrab disapa Oom No punya peran penting dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Penguasaan bahasa Inggris, Belanda, dan Prancisnya membuatnya dipercaya menjadi jembatan komunikasi antar-cabang PI. Mononutu menjabat sebagai wakil ketua ketika PI dipimpin Sukiman. Menurut Sudiyo dalam buku Perhimpunan Indonesia sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda,  Mononutu bersama Ahmad Subardjo gigih mencari nama-nama yang menunjukkan identitas keindonesiaan. Selain nama organisasi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia, nama majalah yang sebelumnya Hindia Poetra  juga diubah menjadi Indonesia Merdeka . “Sebenarnya untuk mengubah nama majalah ini telah dilakukan sejak tahun 1924, namun pada kepemimpinan Sukiman juga diulang lagi dan dinyatakan secara resmi,” tulis Sudiyo. Di Belanda, Mononutu awalnya masih sering dipanggil Wilson. Pasalnya, menurut Abdul Kadir dalam “In Memoriam Oom No (87 Tahun) Pejuang dari Indonesia Timur” yang termuat dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur, nama asli Mononutu adalah Arnold Izaac Zacharias Wilson. Sementara Mononutu adalah nama marga kakeknya yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. “Ia tukar namanya Arnoldus Izaac Zacharias degan Arnold Mononutu dan sejak ia kembali ke Indonesia lebih terkenal dengan Oom No hingga sekarang ini. Dan kartu namanya berisi: Arnold Mononutu, Pejuang,” tulis Abdul Kadir. Penggunaan nama Mononutu terkait pula dengan kesadaran identitas keindonesiaan-nya. Sebelumnya, dia dikenal sebagai mahasiswa parlente yang tidak berminat pada politik, suka dansa-dansi dan hidup berkecukupan. Kawan sejawatnya di Belanda, Sunario yang pernah mengunjungi kediaman Mononutu di Den Haag, menyebut bahwa kamarnya “serba lux untuk seorang student.” Pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa progresif dalam Indiche Vereeninging ternyata mengubah Mononutu. Jika dulu ia merasa dirinya sama seperti orang Belanda, ia lalu sadar bahwa dirinya adalah bagian dari bangsa Indonesia yang tengah berjuang menuju kemerdekaan. Mononutu ternyata juga tak hanya ikut-ikutan dalam PI. Ia termasuk salah satu orang yang keras prinsipnya. Ketika Noto Suroto, seorang seniman anggota PI, bersikap pro Belanda dan memuji Jenderal Van Heutz, Mononutu bertindak sebagai penuntut umumnya. Noto Surotopun akhirnya dipecat dari PI. Gara-gara aktivitasnya di PI, ayah Mononutu bahkan sampai mengirim surat ke Belanda yang mengatakan bahwa Mononutu harus mundur dari PI atau uang kiriman untuknya dihentikan. Padahal, dalam sebulan ia mendapat kiriman f 300 yang cukup untuk banyak hal. Namun, ia memilih tetap bergabung dengan PI dan tak peduli pada uang kiriman. Sunario dalam “Mengenang Saudara Arnold Mononutu (Oom No) dan Cita-citanya” yang termuat dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur punya cerita menarik tentang Mononutu di Den Haag. Tak lama setelah pengurus PI di Belanda dipilih, mereka hendak mengabadikan dengan potret bersama. Tapi sebelum itu, mereka harus memakai peci yang telah disepakati untuk menunjukan identitas keindonesiaan. Padahal, tidak semua orang punya peci saat itu. Mayoritas yang memiliki peci adalah mereka yang berasal dari Sumatra seperti Mohammad Hatta. Maka mereka mencari akal. Mereka mancari topi vilt, topi dengan pinggiran melingkar, untuk dikorbankan. Pinggiran topi dipotong sedemikian rupa dan dipakai menggantikan peci. Hasilnya, peci palsu pun tampak seperti sungguhan di dalam potret. “Oom No yang beragama Kristen Protestan pun memakai pici palsu. Inilah asalnya sampai sekarang pici dipakai di Indonesia sebagai kelengkapan pakaian resmi oleh semua menteri, gubernur, duta besar dan lain-lain, meskipun di antara mereka ada yang beragama Kristen, Hindu, dan lain sebagainya,” tulis Sunario.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page