top of page

Hasil pencarian

9725 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

    SNOUCK Hurgronje merupakan tokoh penting dalam pengembangan ilmu orientalisme, sebuah studi yang menggali gagasan dan cara pandang orang-orang di dunia Timur seperti Asia, Afrika Utara, dan Islam. Bahkan, dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia, Snouck kerap dipandang sebagai tokoh kunci kemenangan Belanda dalam Perang Aceh yang berlangsung selama bertahun-tahun dari akhir abad ke-19 hingga awal abad 20.  Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout, Belanda pada 8 Februari 1857. Di tahun 1874, dia belajar teologi di Fakultas Sastra Universitas Leiden, kemudian berpetualang ke Makkah, dan menulis disertasi tentang festival Makkah, Het Mekkaansche Fest .  Ketertarikan Snouck terhadap dunia Timur, khususnya Islam, tak dapat dilepaskan dari latar belakang keluarganya. Jurnalis Philip Droge mencatat dalam Pelgrim: Leven en Reizen van Christiaan Snouck Hurgronje Wetenshcapper, Spion, Avonturer , ada faktor menarik yang memengaruhi perubahan haluan pandangan Snouck semasa menempuh pendidikan di Leiden, di mana dia kemudian mempelajari bahasa Arab dengan penekanan pada agama Islam. Faktor menarik itu berkaitan dengan kakek dari pihak ibunya, Jan Scharp, yang menjadi salah satu orang Belanda pertama yang melakukan studi mendalam tentang Islam pada awal abad ke-19.  “Studi yang dilakukan Scharp bukan karena minat yang besar terhadap kehidupan spiritual umat Islam, tetapi justru dengan tujuan untuk memerangi agama tersebut; tujuannya adalah untuk mengkristenkan koloni Hindia Belanda... Hanya dengan mengenal musuh, Anda dapat mengalahkannya. Oleh karena itu, Scharp mendalami agama tersebut untuk menemukan kelemahannya. Di akhir studinya, dia menulis buku Een korte schets van Mohammed en de Mohammedanen  (Gambaran Singkat tentang Muhammad dan Umat Islam). Buku ini berkembang menjadi buku standar Belanda tentang Islam pada masa itu,” tulis Droge.  Perhatian besar terhadap kehidupan spiritual umat Islam kemudian menurun pada Snouck. Sesungguhnya, dia bukan satu-satunya akademisi yang tertarik dengan pembahasan ini, namun Snouck merasa tidak puas dengan hasil penelitian yang hanya mengandalkan informasi dari buku. Oleh sebab itu, ketika mendapat tawaran untuk pergi ke Arab Saudi demi kepentingan pemerintah kolonial, tidak butuh waktu lama bagi Snouck untuk menyetujui permintaan tersebut.  Peneliti sekaligus dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jajang A. Rohmana mengatakan, dalam konteks meneliti peran Snouck dalam Perang Aceh, perjalanan sang ilmuwan ke Arab Saudi menjadi salah satu periode penting dalam proses berpikir dan pandangannya terhadap kehidupan umat Islam.  “Penting untuk dicatat bahwa sebelum Snouck ke Hindia Belanda dia adalah sosok yang sedari muda sudah menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat doktoral, sebelum dia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1884 sampai 1885, yang mana dalam periode yang sangat singkat itu dia dikabarkan bisa masuk ke Makkah dan juga mendeklarasikan diri masuk Islam, bahkan ada kabar sampai disunat. Inilah yang kemudian menjadi titik awal perdebatan mengenai siapa Snouck dan untuk apa Snouck masuk ke pusat kota umat Islam di dunia itu,” ungkap Jajang dalam Dialog Sejarah Historia.ID bertajuk “Snouck Hurgronje: Agen Pengetahuan atau Spionase Belanda?”  Keberangkatan Snouck ke Jeddah hingga akhirnya berhasil memasuki Makkah tak dapat dilepaskan dari peran Johan Kruyt, konsul Belanda di Jeddah. Ketakutan bahwa orang Indonesia akan memberontak dan mengadakan pembalasan terhadap tuan-tuan kolonial tumbuh di kalangan orang Belanda selama bertahun-tahun. Di saat itulah mereka menyadari bahwa mereka hanya memiliki sedikit informasi tentang kehidupan penduduk lokal, khususnya berkaitan dengan agama rakyat koloni. Mereka tak tahu tentang aspek politik Islam atau apakah masjid menjadi pusat berkumpulnya para pejuang yang hendak melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda.  Menurut Droge, kekhawatiran terbesar orang Belanda adalah kebiasaan umat Islam menunaikan ibadah haji. Baik pemerintah kolonial di Batavia maupun Den Haag berpendapat bahwa penduduk pribumi di kota suci itu dipengaruhi oleh orang-orang Arab dalam menumbuhkan gagasan anti-Barat dan antikolonial. Oleh sebab itu, pemerintah kolonial membutuhkan informasi tentang agama yang dianut oleh rakyat jajahan. Informasi ini bukan sekadar tentang umat Islam yang tidak mengonsumsi daging babi atau pergi ke masjid pada hari Jumat. Lebih dari itu, pemerintah kolonial membutuhkan seorang ahli yang mampu memahami bagaimana ajaran-ajaran Islam dapat berselaras dengan pandangan sosial di masyarakat yang menentang eksploitasi dan penjajahan. Di sinilah, nama Snouck muncul dan menarik perhatian Johan Kruyt.  Suatu hari Kruyt membuka Java-Bode untuk mencari tahu tentang keadaan di wilayah koloni. Saat itu matanya tertuju pada artikel yang menulis liputan tentang ceramah seorang dosen muda dari program pendidikan untuk pejabat Hindia di Belanda. Dia memberikan kuliah umum tentang agama Islam. Dosen muda itu adalah Snouck Hurgronje.  “Belanda memiliki gambaran yang sepenuhnya tentang Islam dan umat Muslim, demikian ditulis koran tersebut mengutip perkataan Snouck. Apa yang tampak tenang di Hindia Belanda hanyalah sementara. Di sini: ‘Para pemeluk agama telah belajar untuk tunduk di hadapan musuh-musuh Allah.’ Namun, itu hanyalah tampilan di luar. Al-Quran ditulis sebagai kitab hukum, demikian penjelasan dosen muda itu. Dan kewajiban utama adalah memastikan Islam pada akhirnya menang,” tulis Droge.  Snouck menyetujui untuk pergi ke Arab Saudi untuk mengamati dan menggali informasi tentang umat Islam dari Hindia Belanda. Dia mendapatkan anggaran sebesar 4.000 gulden dari Kementerian Koloni dan Institut Kerajaan untuk Bahasa dan Antropologi Hindia Belanda untuk misi ke Jedaah. Dia diperbolehkan menyimpan 1.500 gulden sebagai gaji dan kompensasi karena harus meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen untuk sementara. Sisanya digunakan untuk biaya di tempat tujuan. Sebagai imbalan, kementerian menginginkan laporan tentang orang-orang Hindia Belanda yang melakukan ibadah haji.  Di Jeddah, Snouck menempati sebuah kamar di konsulat Belanda. Pada masa-masa awal kedatangannya dia menderita sakit, yang membuatnya tak banyak bergerak. Setelah sembuh Snouck memanfaatkan waktunya berjalan-jalan dan menjalin kontak dengan tokoh-tokoh yang dapat membantunya memasuki kota Makkah. Salah satunya seorang pria Jawa bernama Raden Abu Bakar Jayadiningrat yang bekerja untuk konsulat sebagai penerjemah.  Snouck juga bertemu dengan Pangeran Nur dari Pulau Bacan. Dari sang pangeran dia menggali informasi tentang fiqih hingga kehidupan umat Islam di wilayah koloni. Seperti halnya informasi yang dia dapat dari orang-orang Hindia Belanda yang ditemuinya di Jeddah, Snouck menyadari bahwa penduduk lokal sangat taat dan mengetahui aturan utama agama mereka. Akan tetapi, seringkali mereka tidak mengetahui detailnya. Oleh karena itu, jika mereka tidak mengetahui sesuatu, selama ada imam atau ahli Al-Quran lain yang memberikan nasihat.  Setelah menetap selama beberapa waktu di Jeddah, pada Januari 1885 Snouck memutuskan masuk Islam dan mengucapkan kalimat sahadat. Dia menggunakan nama Abd al-Ghaffar al-Laydini. Mimpinya untuk menginjakkan kaki di kota suci Makkah akhirnya terwujud.  Di Makkah, Snouck sempat tinggal di kediaman Abu Bakar Jayadiningrat. Di sana dia mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari ibu Abu Bakar. Sejak awal kedatangannya ke Makkah, Snouck tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia didampingi Abu Bakar melakukan perjalanan menuju Baitullah, bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam.  “Christiaan Snouck Hurgronje adalah salah satu orang Barat pertama yang melihat bangunan suci ini dengan mata kepalanya sendiri. Hanya segelintir orang Eropa yang berhasil mencapai area di sekitar Ka’bah selama berabad-abad... Christiaan takjub. Dia dapat berjalan bebas dan tak terhalang di pusat Islam ini, tak ada yang mencurigainya. Ini adalah kesempatan yang akan dibayar mahal oleh banyak ilmuwan,” tulis Droge.*

  • Kesedihan di Hari Lebaran

    SUARA takbir menggema. Para tahanan politik (tapol) muslim di Kamp Plantungan sibuk menyiapkan zakat fitrah untuk penduduk sekitar kamp. Meski dalam kondisi serba kekurangan, mereka masih sanggup untuk berzakat. Mereka mengumpulkannya dari penjualan barang-barang produksi selama di kamp. Kamp Plantungan memang dibuat agar para tapol bisa memproduksi kebutuhan sendiri. Lahannya yang luas di lereng Dieng membuatnya mudah ditanami. Itu dilakukan karena pemerintah kekurangan dana usai transisi kekuasaan sementara jumlah tahanan terlalu banyak akibat penangkapan membabi buta.

  • Sindiran Lagu Hari Lebaran

    IDUL FITRI tiba. Ada banyak lagu yang mengetengahkan suasana Idul Fitri tercipta. Misalnya saja lagu “Lebaran” (1959) yang dilantunkan Oslan Husein, “Lebaran Sebentar Lagi” (1984) karya Bimbo, dan “Selamat Lebaran” (2006) oleh grup musik Ungu. Namun, lagu “Hari Lebaran” karya Ismail Marzuki barangkali yang paling populer terdengar dan banyak didaur ulang para musisi. Bahkan, pada 1977 seniman Malaysia, P. Ramlee, menyanyikan lagu ini dengan penyesuaian lirik berbahasa Melayu. Terakhir, lagu yang diciptakan Ismail pada 1950 itu dibawakan grup musik Sentimental Moods. Grup musik ini kembali membawakan versi pertama lagu “Hari Lebaran” untuk menyambut Idul Fitri 2018.

  • Menentukan Hari Lebaran pada Masa Kolonial

    BULAN puasa hampir pergi. Lebaran sebentar lagi datang. Sebagian umat Islam menunggu pengumuman resmi Pemerintah tentang kapan pastinya hari Lebaran. Baik melalui televisi, radio, ataupun internet. Lainnya mengikuti keputusan ormas dan tarekat masing-masing. Bagaimanakah umat Islam pada masa kolonial mengetahui hari Lebaran? Snouck Hurgonje, penasihat Urusan Bahasa-Bahasa Timur dan Hukum Islam di Hindia Belanda pada 1897, mengemukakan dua cara umat Islam dalam menentukan akhir Ramadan sekaligus awal bulan Syawal (Lebaran). “Yang pertama, selain berdasarkan perhitungan penanggalan, juga didasarkan pada penglihatan pancaindera terhadap bulan baru (hilal, red. ). Dan metode ini menurut orang-orang Mohammadan (umat Islam,  red. ) yang agak terpelajar di Nusantara ini berlaku sebagai satu-satunya yang benar,” tulis Snouck dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 Jilid VIII.

  • Ledakan Mercon Blanggur saat Ramadan dan Lebaran

    SAAT ini, kita dapat dengan mudah mengetahui waktu berbuka. Petujuk waktu seperti jam maupun pemberitahuan waktu berbuka datang dari berbagai saluran, dari media massa sampai masjid-masjid terdekat. Namun, orang Indonesia zaman dulu sangat menanti suara ledakan sebagai tanda berbuka puasa. Ledakan itu dari mecon besar di masjid-masjid. R.D. Sadulah dalam roman Zuster Hayati menulis bahwa mengambil hasil kebudayaan bangsa lain yang berguna bagi kita diperbolehkan, “seperti mengambil hikmat dari kebudayaan mesiu Cina dalam bentuk mercon blanggur, itu boleh kita manfaatkan. Mercon blanggur sangat berguna bagi orang yang berbuka puasa di bulan Ramadan, sebagai tanda berbuka puasa. Tidak semua orang mempunyai jam atau alat pengukur waktu yang lain.”

  • Kemenangan Tentara Sukarno di Hari Lebaran

    FEBRUARI 1958, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dimaklumatkan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Beberapa saat usai pengumuman itu, Presiden Sukarno segera memanggil Kolonel Ahmad Yani ke Istana Negara. Sebuah tugas militer penting dilontarkan: operasi militer menumpas PRRI, sekaligus meminta Yani untuk memimpin pendaratan pasukan TNI di Padang. Perintah itu langsung direspons secara positif. Yani mengatakan kepada Presiden Sukarno, “…bagi saya hanya ada dua alternatif, pertama: terkubur di dasar lautan dan kedua, mendarat di Padang,” demikian seperti dituturkan Kolonel Suhardiman kepada istri Yani, Yayu Rulia Sutowiryo dikemudian hari dalam Ahmad Yani: Sebuah Kenang-kenangan.

  • Ratna di Pulau Buru

    NUN jauh di Pulau Buru sana, tempat para tahanan politik (tapol) yang dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), ditampung demi Orde Baru. Di tahun 1970-an, salah satu  komandan dalam Proyek Tempat Pemanfaatan Tahanan Politik (Tefaat) Pulau Buru adalah Letnan Kolonel Agus Salim Rangkuti. Sekitar 1971, para tapol mendapat perintah untuk menjemput ibu-ibu yang konon dari Persatuan Istri Tentara (Persit). Salah satunya istri komandan Tefaat itu. “Kami diperintahkan untuk menjemput istri Letnan Kolonel Rangkuti ke Pantai Sanleko,” kata Tedjabayu dalam Mutiara di Padang Ilalang .

  • Ratna Asmara Jadi Nama Penghargaan FFI

    NAMA Ratna Asmara, sutradara perempuan pertama Indonesia menjadi salah satu nama penghargaan pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2022. Penghargaan Ratna Asmara diberikan untuk pemenang kategori Film Pilihan Penonton. Malam Anugerah Piala Citra FFI 2022 sendiri digelar pada Selasa, 22 November 2022. Penghargaan Ratna Asmara FFI 2022 kategori Film Pilihan Penonton diberikan kepada film Mencuri Raden Saleh .  “Sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia, sosoknya menginspirasi banyak sineas saat ini. Ia menunjukkan bahwa di zaman apapun, perempuan berhak untuk bebas berkarya,” tulis akun Instagram resmi FFI,  @festivalfilmind . Sebagai sutradara perempuan, nama Ratna Asmara memang cenderung dilupakan oleh insan perfilman. Ratna Asmara lahir dengan nama Suratna pada 1913 di Sawah Lunto, Sumatra Barat. Sejak bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Ratna telah memiliki bakat sandiwara.

  • Ratna Assan, Gadis Cilik Penyambut Sukarno di Amerika

    SEWAKTU mendarat di Bandara Los Angeles, Bung Karno semringah atas sambutan hangat yang diterimanya. Sejumlah pembesar setempat bersama Dubes AS untuk Indonesia Howard Jones dan Dubes Indonesia untuk AS Mr. Zairin Zain menyongsong kedatangan rombongan Bung Karno. Hati Bung Karno kian bungah ketika seorang gadis cilik yang manis mengalungkan bunga di leher Bung Karno. Si gadis rupanya berdarah Indonesia.   “Dengan rasa penuh kasih, Presiden Sukarno telah membelai gadis cilik Indonesia ini, Ratna Assan, yang telah mengalungkan bunga di leher presiden ketika pemimpin besar Indonesia itu tiba di pelabuhan udara di Los Angeles, California, pada tanggal 20 April,” dilansir harian Suluh Indonesia , 27 April 1961.

  • Ratna Assan, Perempuan Indonesia Pertama Tampil di Majalah Playboy

    “SAYA baru bertemu dengan wanita tercantik yang pernah saya lihat,” kenang Wimar Witoelar. Wimar terdiam sejenak. Matanya menengadah ke atas seakan membayangkan kembali perjumpaan dengan Ratna Assan. “Cantik!” serunya lagi. “Dibandingkan dengan orang kulit putih, kulitnya cenderung gelap tapi kalau dibandingkan dengan orang Indonesia lebih putih.” Tawa pun menggelak dari pria yang kini berusia 72 tahun itu. Pada dekade 1990-an, Wimar dikenal sebagai pemandu acara talkshow yang kondang dan pernah menjadi juru bicara kepresidenan era Abdurrahman Wahid. Kepada Historia , Wimar menuturkan pengalamannya mewawancarai Ratna yang tengah di puncak popularitas.

  • Dari Uang Panas hingga Selebritas

    MASYARAKAT Indonesia pernah dibikin geger oleh sebuah video hubungan mesum pada 2006. Kalau pelakunya orang biasa barangkali tak terlalu heboh. Pasalnya “aktor” di video itu seorang anggota DPR RI, Yahya Zaini. Sementara artisnya adalah Maria Eva, seorang penyanyi dangdut. Keduanya bukan pasangan suami-istri yang sah. Geger hampir serupa kembali melanda. Ahmad Fathanah, yang dekat dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishak, diketahui punya beberapa istri dan berhubungan dengan banyak perempuan. Kepada mereka, Fathanah sungguh royal. Segala rupa harta diberikan: rumah, mobil, jam tangan mahal. Padahal itu semua asalnya dari duit negara yang diselewengkan. Selain Fathanah, beberapa perempuan itu pun jadi bahan pemberitaan bak selebritas.

bottom of page