top of page

Hasil pencarian

9725 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bunuh Diri Kelas Soegoro Atmoprasodjo

    PENJARA Kota Baru, Hollandia (kini Jayapura), 9 Juli 1946. Soegoro Atmoprasodjo dikunjungi oleh muridnya, Frans Kaisiepo dan Corinus Krey. Situasi penjagaan begitu ketat karena Soegoro termasuk tahanan kelas kakap. Beruntung, Frans Kaisiepo bisa melobi seorang penjaga yang sama-sama berasal dari Pulau Biak. “Tak usahlah saya jelaskan bagaimana susahnya untuk bertemu seseorang tahanan yang diberi cap komunis,” tutur Frans Kaisiepo dalam risalahnya berjudul “Irian Barat” yang ditulis di Kokonao pada 1 Oktober 1962. Risalah itu termuat dalam khasanah arsip pribadi Marzuki Arifin No. 383 yang saat ini tersimpan dalam Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).   Pertemuan keduanya berlangsung selama satu jam. Soegoro mewejangi Frans dan Corinus agar bersama teman-temannya yang lain terus berjuang melawan pemerintah Belanda. Di akhir perbincangan, haru menyelimuti pertemuan guru dan murid itu. Menurut Frans, pertemuan hari itu merupakan hari terbesar dalam sejarah Irian (kini Papua).

  • Soegoro Atmoprasodjo, Orang Pertama yang Memperkenalkan Nasionalisme Indonesia di Papua

    MARCUS Kaisiepo, siswa Sekolah Pamong Praja di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan di Jayapura), mendengar berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia dari radio. Dia bersama pelajar lain mendiskusikan Proklamasi itu. Silas Papare meminta Marcus memberitahu J.P.K. van Eechoud, residen Papua dan pendiri Sekolah Pamong Praja bahwa orang Papua tidak menghendaki apa pun dengan adanya Proklamasi itu. Tentu saja Van Eechoud senang karena dia lebih berupaya membangun identitas kepapuaan ketimbang turut mengikuti irama nasionalisme Indonesia. Namun, dia blunder dengan merekrut Soegoro Atmoprasodjo sebagai pengajar dan direktur asrama Sekolah Pamong Praja yang menghimpun para pemuda lokal untuk menjadi pegawai pemerintah Belanda. Beberapa di antaranya kemudian menjadi tokoh lokal terdidik dan elite pertama Papua, seperti Frans Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, Marthen Indey, Corinus Krey, Silas Papare, Baldus Mofu, O. Manupapami, dan Herman Wajoi.

  • Penangkapan Ulama Banten Abuya Dimyathi di Pemilu 1977

    JALANAN utama Kota Pandeglang, Banten, Jawa Barat, penuh massa. Tak ada kendaraan lewat. Massa memblokir jalan. Mereka siap menyerbu penjara Pandeglang dekat alun-alun kota. Mereka hendak mengeluarkan paksa K.H. Muchamad Dimyathi, ulama berpengaruh di Banten sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Cidahu, dari dalam penjara. Sehari sebelumnya, 14 Maret 1977, polisi menangkap Abuya Dimyathi. Penangkapan terhadap Abuya Dimyathi (lahir 7 Juni 1920) bermula dari laporan seorang Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Cadasari, Pandeglang. Dia mendengar Abuya Dimyathi berbicara di hadapan orang-orang sebelum Salat Jumat di Masjid Cidahu pada 11 Maret 1977. Isi pembicaraannya seputar kritik Abuya Dimyathi tentang intimidasi Golongan Karya (Golkar) kepada masyarakat Pandeglang menjelang Pemilu 1977.

  • Bung Hatta dan Misi Haji ke Tanah Suci (Bagian I)

    SELAMA ini, urusan umrah dan haji ditangani Kementerian Agama. Tapi tahukah Anda di balik sejarah berdirinya kementerian itu pada 79 tahun silam ada peran Wapres Mohammad Hatta di dalamnya? Begini kisahnya. Sampai tiga bulan Republik Indonesia berdiri, pemerintah belum menaruh perhatian pada sebuah lembaga yang mengurusi persoalan agama. Padahal, di zaman kolonial ada badan yang mengurusinya, Departement van Onderwijs en Eredienst, en Nijverheid (Departemen Pendidikan, Ibadah, dan Industri Kerajinan). Pun di masa pendudukan Jepang, ada Shubumu alias Kantor Urusan Agama. Persoalan itu menjadi concern  tiga tokoh Masyumi yang juga anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Karesidenan Banyumas: H. Moh. Saleh Suaidy, M. Sukoso Wirjosaputro, dan KH. Abu Dardiri. Isu itu dibawa ketiganya ketika mengikuti sidang pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Gedung Pendidikan Tinggi Kedokteran (kini Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) Salemba, Jakarta, pada 23-28 November 1945.

  • Bung Hatta dan Misi Haji ke Tanah Suci (Bagian II)

    SOSOK Mohammad Hatta alias Bung Hatta dikenal sebagai bibliofil (pecinta buku). Saat menikahpun, mahar sebuah buku karangannya sendiri. Pun kemudian, Bung Hatta bisa berangkat ibadah haji juga berkat buku.    Kecintaan Bung Hatta pada buku ditumbuhkan oleh pamannya, Mat Etek Ayub Rais, yang sering membelikannya buku-buku tentang ekonomi berbahasa Belanda. Sedikit-banyak itu berperan membuat Bung Hatta bisa mendapat beasiswa untuk kuliah di Belanda.    Seiring waktu, Bung Hatta tertarik pada ilmu filsafat hingga membuahkan buku karya perdananya berupa buku filsafat, Alam Pikiran Yunani (1941), yang ditulis ketika masih diasingkan di Boven Digul, Papua. Buku itu pula yang kemudian jadi mahar kala Wakil Presiden (Wapres) Hatta memperistri Siti Rahmiati pada 18 November 1945. Lalu, buku pula yang kemudian membuat Bung Hatta bisa menunaikan ibadah haji yang sudah lama diniatkannya.

  • Ayub Rais, Pengusaha Bumiputera Penyokong Bung Hatta

    MOHAMMAD HATTA dikenal sebagai dwitunggal proklamator bersama Sukarno. Ia seorang pemikir bidang ekonomi yang turut membangkitkan ekonomi rakyat lewat koperasi. Di balik itu, ada sosok pengusaha bumiputera yang berjasa pada studinya, yakni Ayub Rais.    Ayub Rais yang lahir di Bukittinggi pada 1895 termasuk salah satu kerabat Bung Hatta. Sosok yang dipanggil Mak Etek Rais oleh Bung Hatta itu dianggap paman dekat karena Rais atau Mak Gaek Rais, ayah Ayub Rais, bersahabat dekat dengan kakek Bung Hatta dari garis ibu, Haji Ilyas Bagindo Marah.    Menurut Yulian Harsono dalam Mohammad Hatta: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia , Ayub Rais terpaksa mengadu nasib dan merantau ke Batavia di usia muda untuk membantu kehidupan keluarganya. Pasalnya ayahnya, Rais, ditangkap gegara dianggap terlibat Peristiwa Kapang atau Perang Kamang (15-16 Juni 1908) di Agam akibat penerapan pajak yang tidak adil oleh pemerintah kolonial.

  • Kemerdekaan, Kado Ulang Tahun Hatta

    JENDERAL Terauchi, panglima angkatan perang Jepang di Asia Tenggara, bertemu dengan Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat di Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945. Dia menyampaikan keputusan pemerintah Jepang untuk menyerahkan soal kemerdekaan Indonesia kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).  “Tuan-tuanlah melaksanakannya dan terserah kepada tuan-tuan sepenuhnya menentukan pelaksanaannya,” kata Terauchi. “Kalau seminggu lagi kami laksanakan apa bisa?” tanya Sukarno. “Terserah kepada tuan-tuan,” jawab Terauchi.

  • Hatta Rajasa Keliru Kalpataru

    DALAM debat putaran terakhir di Hotel Bidakara, Jakarta, 5 Juli 2014, calon wakil presiden Hatta Rajasa menyerang calon presiden Joko Widodo mengenai kegagalan DKI Jakarta meraih penghargaan Kalpataru tahun ini. Padahal, Jakarta langganan penghargaan itu. Hatta juga menegaskan bahwa Solo juga belum pernah mendapatkannya. Calon wakil presiden Jusuf Kalla menyanggah pernyataan Hatta itu. “Pertanyaan bapak bagus, tapi keliru. Harusnya Adipura,” kata Kalla. Kalpataru dan Adipura merupakan penghargaan lingkungan hidup yang diberikan pemerintah setiap tahun kepada dua pihak yang berbeda. Sesuai namanya dari bahasa sanskerta yang artinya “kota yang indah dan agung". Adipura adalah penghargaan untuk kebersihan kota yang kali pertama diberikan pada 1986.

  • Sukarno-Hatta dan Kucingnya

    KUCING merupakan hewan yang banyak dipelihara. Nabi Muhammad Saw. menyukai dan menyayangi kucing. Sahabatnya, yang setelah masuk Islam bernama Abdul Rahman, lebih dikenal sebagai Abu Hurairah, artinya "bapak kucing", karena menyayangi kucing dan sering bermain-main dengannya. Karena itu, Islam melarang menyakiti kucing. Proklamator kemerdekaan Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, juga menyayangi dan memelihara kucing. Ketika diasingkan di Ende Flores, Sukarno memiliki sekelompok "sahabat" khusus, yakni kera dan kucing. Menurut Jae Bara, pengawal Sukarno selama di Ende dalam Bung Karno: Ilham dari Flores untuk Nusantara ,  " jumlahnya 35 ekor kucing. Kucing-kucing itu begitu dekat dengan Bung Karno. Kucing-kucing itu tidak pernah berkeliaran ke mana-mana. Walaupun sedemikian banyaknya, kucing-kucing tersebut tidak pernah ribut. Semuanya hidup bersama secara aman di atas loteng rumah Bung Karno."

  • Sukarno Murka Jika Ada Orang Mengusik Hatta

    HASJIM Ning, keponakan Bung Hatta yang menjadi pengusaha nasional berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, menyaksikan bagaimana banyak “serigala” di sekitar Presiden Sukarno ketika si bung berkuasa. Demi mencari muka dan tempat di hati presiden, para “serigala” itu saling memangsa kendati di permukaan terlihat selalu mesra. “Tradisi yang menjadi anggapan umum itu juga menjadi pedoman kerja para petugas intel dari berbagai instansi keamanan dan juga bagi instansi yang mengeluarkan izin, izin apa saja. Terutama oleh kalangan entrepreneur yang tidak mempunyai dukungan kekuatan politik, kondisi itu akan sama dengan penempatannya sebaga ‘mangsa’ yang setiap saat akan diserbu oleh para serigala yang kelaparan, yang sudah lama mengintai waktunya untuk melahap,” kata Hasjim dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang .

  • Pertemuan Terakhir Sukarno-Hatta

    WAJAH Meutia Farida Hatta tetiba berubah menjadi sayu. Tetiba saja ia terkenang kembali momen pertemuan dirinya dengan Sukarno untuk terakhir kali saat menemani sang ayah. Ada kesedihan dan kerinduan yang dia rasakan menohok ulu hatinya. “Sudah lama sekali, sejak Sukarno tak terekspos lagi kepada masyarakat, Hatta tidak pernah bertemu dengan kawannya itu,” kata perempuan berusia 72 tahun itu.  Bukan rahasia lagi jika hubungan dua bapak pendiri bangsa ini sempat meregang pasca Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, terutama dalam kurun masa 1950-an sampai 1960-an. Masalah utamanya adalah perbedaan pandangan mengenai masa depan revolusi Indonesia, di samping soal prioritas pembangunan negeri.

  • Mereka Saling Menjaga: Kisah Persahabatan Sukarno-Hatta

    KENDATI kerap berselisih paham, Sukarno dan Hatta tetap menjaga hubungan pribadi dengan baik. Bagi keduanya politik hanya jalan untuk mewujudkan idealisme, tidak untuk memecah persahabatan. Meskipun banyak yang menilai Sukarno dan Hatta bermusuhan, tetapi orang-orang di sekitar mereka menyaksikan sendiri keduanya memang memiliki kedekatan emosional yang khusus. Kisahnya terjadi saat Sukarno diasingkan ke Bengkulu pada 1938. Ketika itu Pengusaha Hasjim Ning –keponakan Hatta yang kelak menjadi sahabat Sukarno– tengah mengerjakan proyek rehabilitasi jalan raya Bengkulu-Manna. Suatu hari, Hasjim diberitahu ayahnya kalau ia telah dikirimi surat oleh Hatta yang sedang diasingkan di Banda Neira. Dalam surat tersebut Hatta berpesan agar ayah Hasjim bersedia membantu segala keperluan Sukarno selama menjadi tahanan di Bengkulu.

bottom of page