top of page

Awal Mula Ikan Mujair

Segera setelah ditemukan, ikan ini jadi favorit. Dibudidayakan pada masa kolonial hingga Orde Baru.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Makam Mudjair, penemu ikan Mujair.

  • 14 Apr 2016
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 1 Agu 2025

Sekali waktu pada 1936, Mudjair, seorang pegawai desa dari Desa Papungan, Kanigoro, Blitar, pergi ke Teluk Serang yang terletak di laut selatan. Di sana dia menemukan berbagai jenis ikan yang belum diketahui sebelumnya. Dia membawa pulang lima jenis ikan dan memeliharanya di kolam pekarangan rumah.


Ternyata, satu jenis ikan berkembang cepat, bahkan bisa bertelur dengan cara menyimpannya di dalam mulut hingga masa menetas jadi anak ikan. Seiring waktu, ikan ini mendapat perhatian warga desa.


Kabar itu sampai ke telinga Schuster, kepala penyuluhan perikanan di Jawa Timur. Dia berkunjung ke Papungan untuk melihat ikan temuan Mudjair. Ternyata ikan tersebut diidentifikasi sebagai Tilapia mossambica, yang berasal dari Afrika.


Dengan cepat ikan temuan Mudjair dibudidayakan karena cepat bertelur, pertumbuhannya cepat, dan mudah beradaptasi dengan segala lingkungan air mulai kolam hingga rawa-rawa.


Menurut K.F. Vaas dan A.E. Hofstede dalam Studies on Tilapia Mossambica Peters (ikan Mudjair) in Indonesia, ketika menghadiri Konferensi Ahli-ahli Perikanan Darat pada November 1939, Schuster mengemukakan mengenai ikan temuan Mudjair. 


Atas temuan ini, Tilapia mossambica mendapat nama lokal: ikan mujair. Pemerintah Hindia Belanda, tulis harian Pedoman edisi 27 Agustus 1951, mengapresiasi usaha Mudjair membudidayakan ikan mujair dengan memberinya santunan sebesar Rp6,- per bulan.


Saat pendudukan Jepang, ikan mujair kian populer. Pasukan Jepang, seperti tercatat dalam Tilapia: Biology, Culture, and Nutrition suntingan Carl D. Webster dan Chhorn Lim, membawanya ke seluruh daerah untuk dibudidayakan dalam tambak-tambak. Dan Mudjair diangkat sebagai pegawai negeri tanpa harus mendapatkan beban kerja.


Enam tahun setelah Indonesia merdeka, Mudjair menerima surat tanda jasa dari Kementerian Pertanian atas jasanya sebagai penemu dan perintis perkembangan ikan mujair.


Pada era Orde Baru, ikan mujair masih menjadi santapan favorit masyarakat. Sejak 1982, sebagaimana termuat dalam Laporan Pelita IV 1984-1989, program pengembangan aneka ikan dilaksanakan pemerintah dengan menyebarkan bibit ikan mujair dalam kolam pekarangan dan waduk-waduk.

3 Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Rekonstruksi Skenario Alternatif yang Lebih Masuk Akal

Berdasarkan semua data dan analisis, mari kita rekonstruksi skenario yang paling mungkin:

  1. Tahun 1933-1935: Seorang Belanda terpelajar dan kaya ("Mr. X") di Blitar memelihara Oreochromis mossambicus di kolam hias rumahnya. Ikan ini didapatkannya dari jaringan kolektor atau impor via Singapura/Surabaya.

  2. Motif Pelepasan/Transfer: Karena suatu sebab (pindah tugas, pensiun, atau bosan), "Mr. X" tidak bisa lagi memelihara ikannya. Namun, ia tidak tega membunuh koleksinya. Sebagai seorang naturalis, ia ingin ikannya tetap hidup dan berkembang.

  3. Pertemuan dengan Iwan Dalauk: Entah bagaimana (mungkin melalui rekomendasi kepala desa atau tetangga), "Mr. X" bertemu dengan Iwan Dalauk, seorang nelayan yang dikenal tekun. "Mr. X" menawarkan ikannya untuk dipelihara dan dikembangbiakkan.

  4. Transfer Pengetahuan (11 Kali Percobaan): "Mr. X" tidak…


Suka

Apakah Mbah Mujair Benar-Benar ke Muara Sungai Serang?

Mari kita bahas skeptisisme ini secara logistik. Mari kita hitung:

  1. Jarak Tempuh: Jarak 40-45 km di era 1930-an bukanlah perjalanan yang mudah. Dengan teknologi transportasi masa itu—jalanan yang belum beraspal mulus, kendaraan yang sangat terbatas—perjalanan dari pusat Blitar ke Pantai Serang bisa memakan waktu setengah hari penuh atau lebih.

  2. Profil Iwan Dalauk: Dari berbagai sumber, Iwan Dalauk (Mbah Moedjair) adalah nelayan sederhana, bukan orang kaya yang memiliki kendaraan pribadi . Bahkan ada sumber menyebut ia pernah bangkrut karena judi sebelum akhirnya bertobat . Dalam artikel anda, malah disebutkan sebagai pegawai desa. Sangat tidak masuk akal jika ia secara rutin bolak-balik menempuh perjalanan berat hanya untuk mengambil ikan.

  3. Moda Transportasi: Pada masa itu,…

Suka

Sebuah artikel di media berbasis sejarah, tetapi isinya sayangnya hanya alih bahasa saja dari artikel yang sudah banyak beredar di media online. Sungguh sangat disayangkan.


Padahal, kalau dikembangkan dengan pendekatan ilmiah, bahwa hipotesa Tilapia mossambica (ikan mujair) kemungkinan besar bukan "pendatang liar" yang kebetulan tertangkap di muara, melainkan "pelarian" dari koleksi eksotis orang kaya Eropa yang kemudian berhasil beradaptasi di alam liar Blitar oleh Mbah Mujair dikembangkan, justru akan semakin memperkaya khazanah pengetahuan kita tentang sejarah pangan di masa lalu. Awal 1930-an, di Eropa dan kota-kota besar kolonial (seperti Batavia, Surabaya, Singapura), memelihara ikan eksotis di akuarium adalah hobi populer di kalangan orang kaya. Tilapia yang masih "baru" dan memiliki perilaku unik (mengerami telur di mulut) sangat mungkin menjadi primadona…


Suka
bg-gray.jpg
Anak muda putus sekolah dan menganggur menjadi problem di banyak daerah di Indonesia. Di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, mereka diberikan keterampilan praktis dan praktik lapangan lalu dikirim ke Lampung dalam program Transmigrasi Pramuka.
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Tak ingin Indonesia mendominasi, Negeri Jiran menempuh jalan curang. Terbongkar oleh salah satu wasitnya.
Tak ingin Indonesia mendominasi, Negeri Jiran menempuh jalan curang. Terbongkar oleh salah satu wasitnya.
Brompton bukan sepeda lipat pertama di dunia. Tapi mengapa ia begitu terkenal?
Brompton bukan sepeda lipat pertama di dunia. Tapi mengapa ia begitu terkenal?
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
transparant.png
bottom of page