top of page

Bola-Bola Piala Dunia (Bagian I)

Menguak aneka si kulit bundar dalam pesta bola dari zaman old, sebelum eranya Adidas.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 28 Jun 2018
  • 5 menit membaca

KHUSUS Piala Dunia 2018, FIFA menggunakan bola resmi yang kembali menyandang nama Telstar, tepatnya Telstar 18. Nama Telstar, bola buatan produsen alat olahraga asal Jerman Adidas, pertama kali eksis sebagai bola resmi Piala Dunia di Meksiko 1970. Seperti Telstar 1970, Telstar 18 juga dibuat di Pakistan.


Sebelum Piala Dunia 1970, penetapan bola resmi dari FIFA belum ada. Lazimnya, bola dipilih tuan rumah. Desain panel bola zaman old umumnya mirip bola voli. Warna dasar bola juga bukan putih tapi beragam, dari kecoklatan hingga kekuningan.


Merek bola zaman baheula bermacam-macam. Berikut aneka bola Piala Dunia sebelum 1970 dengan beraneka kisah di baliknya:


Piala Dunia 1930: T-Model dan Tiento



Sebagai penyelenggara, Uruguay sejak awal sudah menyediakan bola bernama T-Model atau Modelo T. Bola kulit jahitan tangan buatan John Salter & Son asal Aldershot, Inggris itu diimpor perusahaan asal Montevideo Clericetti & Barrela. Di Inggris, bola ini awalnya dinamai “Wembley” tapi kemudian diubah jadi T-Model yang diambil dari bentuk “T” pada 11 panelnya. T-Model masih polos, tak ada cetakan nama bolanya atau logo brand pembuatnya.


Menjelang laga final kontra tuan rumah, 30 Juli 1930, Argentina memprotes penggunaan T-Model dan menuntut memakai bola sendiri bernama Tiento. Meski sama-sama punya ikatan tali kulit yang melekat, Tiento dengan desain 12 panel reguler ukurannya sedikit lebih besar dan berat ketimbang T-Model. Panitia akhirnya mengambil jalan tengah. “Penyelesaiannya ditengahi FIFA, di mana untuk babak pertama final, digunakan Tiento dan babak kedua diganti T-Model,” tulis Clemente Lisi dalam A History of the World Cup: 1930-2014.


Piala Dunia 1934: Federale 102



Untuk Piala Dunia Italia 1934, penyelenggara menyediakan bola Federale 102 buatan Ente Centrale Approvvigionamenti Sportivi (ECAS) asal kota Roma. Menurut Clemente Lisi, penunjukan manufakturnya tak lepas dari kehendak dedengkot fasis Italia, Benito Mussolini, yang meminta FIFA mengizinkan Italia menyediakan bola sendiri untuk Piala Dunia “di rumahnya”. 


Bola ECAS berwarna kecoklatan dengan desain 13 panel poligonal yang masih dijahit tangan. Setelah di-upgrade dengan mengganti ikatan tali jahitan dari bahan kulit ke bahan katun, bola ECAS jadi lebih soft dan lebih “ramah” untuk kepala pemain. Sebagai brand-awareness, satu sisi panel dilabeli nama dan pembuatnya sehingga ECAS menjadi bola pertama yang memampang nama produsennya. Bola-bola Piala Dunia setelahnya pun mengikutinya.


Piala Dunia 1938: Allen



Perjalanan waktu membuat bola berubah kian baik. Sebagaimana dimuat situs resmi Piala Dunia 2018, welcome2018.com, bola standar sudah mulai berubah sejak 1937, bobotnya antara 410-450 gram. Ukuran standar yang dipakai hingga sekarang itu  sudah digunakan pada di Piala Dunia Prancis 1938 lewat bola bernama Allen.


Bola Allen dibuat perusahaan Allen, produsen bola asal Prancis yang jadi supplier untuk beragam ajang sepakbola di negeri Napoleon itu sejak 1920-an. Bola Allen berdesain 13 panel jahitan tangan yang di setiap ujung panelnya dibuat berbeda –lebih membulat ketimbang sebelumnya. Efeknya, arah bola jadi lebih konsisten dibanding bola-bola sebelumnya. Bola Allen masih dilengkapi ikatan tali katun, tapi pada tali terdapat tulisan “Coupe du Monde. Allen Officiel”.


Piala Dunia 1950: Duplo T



Untuk Piala Dunia 1950 di Brasil, perusahaan Superball milik industrialis Luis Pole, Antonio Tossolini, dan Juan Valbonesi ditunjuk jadi produsen bola resminya. Superball lalu menciptakan bola yang lebih inovatif dari bola-bola sebelumnya, bernama Duplo T. Ke-12 panel Duplo T didesain tak memiliki jahitan sehingga Duplo T tak menyebabkan cedera pada pemain dan lebih konsisten jika disepak.


Untuk Piala Dunia, Duplo T diproduksi dengan warna putih dan oranye untuk mempermudah visual para penonton di tribun stadion. Meski masih dibuat dengan jahitan tangan, Duplo T tidak memiliki jahitan luar. Jahitannya ada di sisi dalam bola. Menurut laman john-woodbridge.com, nama Duplo T diambil dari desain panel ganda yang berbentuk T. Duplo T juga jadi bola Piala Dunia pertama yang dilengkapi katup atau klep kecil agar bisa dipompa angin jika kempes.


Piala Dunia 1954: Swiss World Champion



Seperti bola-bola Piala Dunia sebelumnya, bola resmi Piala Dunia 1954 masih berbahan kulit dan dijahit tangan. Produsennya, Kost Sport yang berbasis di Basel. Oleh Kost Sport bola ini diberi nama Swiss World Champion (SWC).


Situs FIFA 20 April 2010 menyebutkan, jika biasanya bola dibuat dengan 12-13 panel, Kost Sport membuat bolanya dengan 18 panel. Tiap ujung panel dibuat zigzag dan saling terjalin satu sama lain. SWC dirilis dengan dua versi warna: kekuningan dan oranye. Kedua warna dipilih agar bola bisa lebih terlihat oleh pemain maupun fotografer saat hujan dan lapangan becek.


Piala Dunia 1958: Top Star



Ada yang menarik di balik bola resmi Piala Dunia 1958 di Swedia, Top Star. Diberitakan BBC 4 Desember 2013, Top Star merupakan hasil seleksi dari 102 pabrikan yang mengikuti sayembara FIFA. Pemilihannya dilakukan bersamaan dengan drawing (undian grup) oleh empat perwakilan FIFA dengan metode blind test –pengujian terhadap sejumlah bola tanpa menyertakan identitas produsen di Solna, 8 Februari 1958.


Bola Top Star yang terpilih ini hasil produksi Sydsvenska Läder och Remfabriken asal Ängelholm asal Swedia. Desain 24 panel reguler berukuran panjang dan pendek membedakan Top Star dari bola-bola terdahulu. Top Star memiliki lapisan lilin anti-air yang membuatnya tak menyerap air sehingga bobot bola tak bertambah ketika hujan. Untuk Piala Dunia 1958, Top Star dirilis dengan tiga warna: kuning, coklat terang, dan putih (khusus cuaca hujan).


Piala Dunia 1962: Crack



Selain warna yang mencolok, nyaris tak ada yang baru dari bola Piala Dunia 1962 di Cile: Crack. Sheridan Bird dalam uraiannya, “Classic Footballs: A Selection of the Best Footballs through the Ages”, dimuat The Blizzard 1 September 2012, membeberkan, Crack merupakan produksi pabrikan lokal asal Santiago, Señor Custodio Zamora. Produsennya ditunjuk langsung oleh penyelenggara sehingga tak mengikuti metode sayembara seperti di Piala Dunia sebelumnya.


Bola Crack dibuat dengan jahitan tangan dan memiliki desain 18 panel berbentuk heksagonal, heksagonal melengkung, dan persegi panjang. Bola Crack dirilis dengan warna kuning mencolok. Sayang, kualitasnya dipertanyakan. Lapisan warnanya cepat luntur dan kulit bola mudah rusak. Banyak kontestan Eropa mengeluh. Alhasil, lewat keputusan Ken Aston dari Komite Wasit FIFA, panitia mesti mendatangkan sekitar 100 bola Top Star untuk menggantikan bola Crack di beberapa laga. 


Piala Dunia 1966: Challenge 4-Star



Pemilihan bola yang buruk di Piala Dunia sebelumnya menjadi pelajaran tersendiri buat FA (induk sepakbola Inggris) jelang perhelatan Piala Dunia 1966 di rumah sendiri. Sebagaimana diungkapkan Sheridan Bird di The Blizzard, 1 September 2012, setahun jelang hari-H, FA mengadakan sayembara laiknya di Piala Dunia 1958 Swedia. Dari 400 bola pabrikan seluruh dunia, manufaktur Slazenger asal Derbyshire, Inggris yang lazim memproduksi peralatan cricket, memenangkan sayembara blind test FA.


Bola produksi Slazenger untuk Piala Dunia 1966 dengan warna putih, oranye, dan kuning serta berdesain 24 panel persegi panjang lalu dirilis dengan nama Challenge 4-Star. Bedanya dari bola-bola lawas, Challenge dilengkapi katup udara/angin yang terbuat dari karet lateks.


Ada kisah lucu di pengujung turnamen. Bola yang dipergunakan dalam laga final Inggris vs Jerman Barat sempat dibawa kabur pemain Jerman Helmut Haller. Setelah diambil kembali, bola ikonik itu disimpan dan dipamerkan di National Football Museum sejak 1996.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
transparant.png
bottom of page