- 6 Mei 2015
- 2 menit membaca
Diperbarui: 27 Apr
TERIAKAN orang kesakitan terdengar dari penjara Nusakambangan, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1959 pukul 14.00. Seorang sipir ambruk terkena sabetan parang narapidana. Seorang sipir lainnya mencoba menghentikan upaya pelarian narapidana itu. Kalah cepat menekan picu senapan, sipir itu tertembak dan tewas. Narapidana berhasil kabur. Para sipir berduka.
Besoknya para sipir melepas kepergian rekannya. Mereka minta perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki kehidupan para sipir di penjara. Sebab risiko pekerjaan mereka sangat tinggi. “Tiap-tiap detik ada kemungkinan berjumpa dengan malaikat el maut,” tulis Suara Buruh Kependjaraan, Oktober-November 1959.
Kehidupan sipir jarang tersorot, terhalang oleh ketebalan dan ketinggian tembok penjara. Pada masa kolonial Belanda, para sipir bumiputera tak punya kedudukan berarti. “Pekerjaan hanya terbatas pada penjagaan keamanan di dalam lingkungan, aspirasi untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi tidak ada, karena kesempatan untuk itu tidak diberikan,” tulis Suara Buruh Kependjaraan, Desember 1954-Februari 1955.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















