- 17 Okt 2025
- 6 menit membaca
DI tempat persembunyian, sementara sejumlah pemimpin dan kader PKI ditahan dalam Razia Agustus 1951, D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto menganalisis politik dan masyarakat Indonesia. Banyak pelajaran dan kesimpulan yang ditarik dan menghasilkan strategi penting untuk perjalanan partai. “Ketika para pemimpin itu muncul, sebuah konsep front persatuan nasional telah dirumuskan yang memandu partai selama lebih dari satu dekade,” tulis Donald Hindley dalam The Communist Party of IndonesiaL 1951-1963.
Maka, PKI menawarkan dukungan kritis kepada PNI, dan kemudian Presiden Sukarno. Dengan strategi “front dari atas” ini PKI mendapatkan perlindungan, bisa mengembangkan organisasi partai, serta mengisolasi lawan-lawan politiknya, terutama Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Selain itu, demi meningkatkan bobot dalam perkembangan politik nasional, PKI harus memperluas basis pendukung independennya. Analisis Marxist-Leninis atas masyarakat Indonesia menunjukkan, tulis Hindley, ada beberapa sektor dan kelompok utama yang bisa menjadi sekutu nyata atau potensial. Dan untungnya, kelompok-kelompok ini bukan hanya dirampas secara ekonomi, tetap juga diabaikan organisasi-organisasi dari partai politik lainnya. Tapi karena kesadaran politik mereka rendah, mereka tak bisa didekati langsung oleh partai.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















