- 3 Sep 2025
- 8 menit membaca
Diperbarui: 20 Mei
SEBAGAI bagian dari strategi penguatan tata kelola Koperasi Desa Merah Putih, Kementerian Koperasi mempersiapkan dan menggelar pelatihan untuk meningkatkan kapasitas para pengurus dan pengelola koperasi. Dalam pelatihan, para pengurus koperasi dibekali beragam keterampilan, dari manajerial, kewirausahaan, transformasi digital, hingga praktik koperasi modern.
Kendati niatnya mulia, hal itu perlu dicermati. Sebab, mencetak kader dan tenaga-tenaga koperasi yang mumpuni dan profesional tak bisa secepat membalikkan telapak tangan. Tak cukup dengan pelatihan-pelatihan saja. Di masa lalu, pembinaan kader didukung oleh akademi dan sekolah-sekolah koperasi.
Mengurus koperasi juga bukan sekadar mengembangkan program-program usaha, melainkan juga bagaimana memitigasinya di saat-saat sulit.
“Tempo hari saya ikut diskusi di Ikopin. Saya usulkan supaya Ikopin mendirikan lab koperasi sehingga ketika ada koperasi desa yang sakit maka harus diberikan solusinya. Begitupun koperasi yang sehat, harus diberikan solusinya agar bertahan lama dan berkembang. Karena koperasi itu juga bisa mati ketika sehat karena salah investasi. Walaupun dana terkumpulnya banyak tapi kalau salah investasi bisa juga mati,” ujar sejarawan Iip D. Yahya kepada Historia.ID dalam kesempatan berbeda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















