- 5 Nov 2024
- 7 menit membaca
Diperbarui: 26 Apr
SEPUCUK surat berkop Sekretariat Negara diterima Partono awal 1980-an. Surat itu ditandatangani Gufran Dwipayana, kepala Pusat Produksi Film Negara (PPFN) –kini, Produksi Film Negara (PFN)– yang juga asisten menteri sekretaris negara bidang mass media/dokumentasi. Isinya, Partono diminta membantu PPFN dalam membuat film animasi.
Beberapa hari berselang, Partono mendatangi kantor PPFN di Jalan Otto Iskandardinata Raya, bilangan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Sesampai di sana, dia diterima Dwipayana, yang kemudian menjelaskan maksud undangannya dan keinginannya membuat sebuah film animasi yang akan diproduksi dan disokong penuh oleh PPFN.
“Pada pertemuan pertama itu belum tercetus tentang Si Huma. Baru sekadar ngobrol tentang kemungkinan produksi serial animasi di tivi saja,” kenang Partono, saat ditemui di studio animasinya di perumahan Pertamina, Rawamangun, Jakarta Timur. Studio animasi ini menempati sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai galeri lukisan untuk menyimpan karya beberapa pensiunan pegawai Pertamina.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















