top of page

Pramoedya dan Perlawanan Pemuda

Dalam karya-karyanya, Pramoedya memunculkan karakter pemuda yang berani melawan penindasan meski perlawanan tak selalu berakhir kemenangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri-kanan: Reza Muharam, Max Lane, Anwar Sastro, dan Roy Murtadho dalam diskusi "Mencintai yang Belum Tuntas dan Menuntaskannya: Pramoedya, Indonesia dan Kaum Muda" untuk memperingati seratus tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (8/2/2025). (Amanda Rachmadita/Historia.ID).

10 Feb 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 18 Apr

“SEJARAH Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, dari sejak Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945, sampai penggulingan diktator Soeharto. Banyak mereka menjadi korban. Hanya sayang mereka tidak melahirkan pemimpin,” kata Pramoedya Ananta Toer sebagaimana dicatat oleh adiknya, Koesalah Soebagyo Toer, dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali.


Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai sastrawan yang memiliki perhatian besar terhadap isu kemanusiaan. Dalam setiap karyanya, ia kerap memunculkan karakter pemuda sebagai tokoh sentral yang muncul untuk melawan penindasan. Hal ini bukan tanpa alasan, pengarang kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu dibesarkan dalam iklim perjuangan rakyat Indonesia yang telah lama dibelenggu oleh penjajahan Belanda dan Jepang.


Pramoedya menjadi saksi perjuangan rakyat Indonesia yang sebagian besar digerakkan oleh kaum muda. Pram sendiri di masa mudanya ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan yang membuatnya dijebloskan ke penjara ketika Belanda melancarkan agresi militer untuk kembali menguasai Indonesia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page