top of page

Sukarno’s Exile at the Batu Tulis House

After being expelled from the pavilion at the Bogor Palace, Bung Karno moved to Hing Puri Bima Sakti, also known as the Batu Tulis House, where he was placed under house arrest.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Signboard of the Batu Tulis House/Palace on the outer fence (Reproduction of Srihana Srihani)

31 Des 2025
11 menit membaca

THE sun had just risen over the city of Bogor that December morning in 1967. Breakfast was still being prepared in Pavilion II of the Bogor Palace Complex. But at 8 a.m. that morning, a letter suddenly arrived from Commander of the Jayakarta Military Command Major General Amir Machmud that shocked Siti Soehartini or Hartini, Sukarno's third wife.


The letter was an order, stating that President Sukarno was no longer allowed to stay at Pavilion II. In addition, the letter also contained an ultimatum that Hartini and Sukarno had to leave by 11 a.m.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page