Hasil pencarian
9743 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menu Sederhana Presiden Pertama
MUSLIH bin Risan hafal salah satu santapan favorit Presiden Sukarno. Apalagi kalau bukan sambal pecel. Ia hampir selalu ada di meja makan keluarga sang presiden. “Kalau enggak ada, pasti Bapak menanyakan,” ujar Muslih (70), bekas pelayan pribadi keluarga Sukarno, kepada Historia . Sambal pecel selalu menemani santap siang Sukarno, biasanya disajikan bersama lele plus lalapan daun singkong dan pepaya. Sukarno akan mencomot langsung dari cobekan dan menyantapnya dengan tangan zonder sendok dan garpu. “Kalau lagi makan pecel lele, Bapak seperti ‘tidak ingat sekitarnya’,” kata Muslih sambil terkekeh.
- Anak KNIL Jadi Penyanyi
SUATU hari, Inspektorat Ketenagakerjaan Kerajaan Belanda menganggap seorang bocah telah dipekerjakan tanpa izin kerja. Bocah itu adalah Barbara Alexandra Reemer, yang bernyanyi dalam program TV KRO . Umurnya masih 15 tahun dan terhitung belum 10 tahun tinggal di Belanda. Ayah nona yang pandai menyanyi dan dikenal sebagai Sandra Reemer itu pun kesal. “Putri saya dan juga putra saya Frankie secara rutin tampil untuk orang sakit, dan tidak diperlukan izin kerja untuk itu. Saya menganggap itu standar ganda,” terang Franciscus Justinus Reemer alias Frans Reemer di Leeuwarder Courant edisi 22 September 1964. Frans tak berhenti di sana. Hingga dia membongkar masa lalunya yang sangar. “Tuan, seandainya Anda tahu. Saya adalah anggota KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger, red .). Saya pernah menjadi anggota Mahkamah Tentara... Saya bahkan pernah menjatuhkan hukuman mati,” sambungnya. Frans muda ikut dalam Perang Dunia II di Hindia Belanda (kini Indonesia). Dalam kartu tawanan perang Jepang atas nama dirinya, Frans disebut bertugas di Batalyon Depot Infanteri ke-7 di Purworejo, Jawa Tengah, pada 1942 dengan pangkat Vandrig. Pangkat itu setara letnan dua dan biasanya disandang para bekas taruna Akademi Militer Kerajaan di Bandung seperti Abdul Haris Nasution atau Tahi Bonar Simatupang atau taruna Corps Opleiding voor Reserve Officiern (CORO) yang mencetak perwira cadangan di Bandung. Frans yang kelahiran 12 Februari 1920 itu berayahkan Frans Chr. J. Reemer dan beribu Tjiaw Nio. Pada 1942, ayahnya sempat tinggal di Gedong Delapan Bandung. Sebelum masuk militer, Frans adalah pegawai perusahaan listrik Bandung NV Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO). Frans yang mengaku asal Batavia ini jadi tinggal di Bandung waktu mudanya. Namun ketika tentara Jepang menyerbu Jawa, Frans dan kawan-kawan tentara KNIL-nya tidak mampu menahan. Frans akhirnya ditawan. Sebabai tawanan yang hidup dalam kerangkeng besi, Frans tak terus-menerus disiksa. Kesempatan itu dia gunakan untuk belajar bahasa. “Selama pendudukan Jepang, saya bertugas sebagai penerjemah,” aku Frans di koran De Nieuwe Limburger tanggal 13 November 1963. Penderitaan Frans di kamp tawanan baru berakhir akhir 1945, jadi dia 3,5 tahun ditawan. Setelah tentara Jepang menyerah, Frans kemungkinan diaktifkan kembali sebagai militer dengan pangkat letnan. Pangkat terakhirnya di KNIL adalah letnan satu. Setelah 1945, mahkamah militer Belanda beberapa kali menjatuhkan hukuman mati kepada penjahat perang dari tentara Jepang. Frans termasuk di dalam mahkamah yang menjatuhkan vonis tersebut. Namun tak jelas siapa yang pernah divonis mati Letnan Frans. Begitu Bandung agak aman, Frans bertunangan dengan Petronella Cornelia Johanna Kuitems alias Nelly Kuitems. Perempuan kelahiran tahun 1925 –diperkirakan lima tahun lebih muda dari Frans– itu blasteran Jawa-Belanda. Frans sendiri selain mengalir darah Belanda di tubuhnya, juga darah Tionghoa dan darah Sumatra. Indische Courant voor Nederland tanggal 5 Februari 1949 memberitakan, mereka bertunangan di Bandung pada 12 Januari 1949. Setelah perang Indonesia dengan Belanda berakhir, Frans kembali menjadi orang sipil. Frans dan Nelly kemudian tinggal di Bandung. GEBEO menerimanya kembali bekerja. Di masa inilah, pada 17 Oktober 1950, Sandra lahir di Bandung. Frankie juga lahir di kota ini. Selain bekerja, di Bandung Frans bisa melampiaskan hobi bermusiknya dengan nyaman. Dia bisa bermain biola dan bernyanyi untuk sebuah orkes simfoni. Belakangan dia bermain gitar. Anak-anaknya juga diajarinya bermain gitar. Meski nyaman tinggal di Bandung, keluarga Indo dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu tak memilih kewarganegaraan Indonesia. Pada 1958, mereka ikut dideportasi buntut nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Keluarga itu pun kemudian tinggal di Belanda. Frans mendapat pekerjaan sebagai akuntan. Di Belanda, bakat musik Sandra dan Frankie terlihat dan hingga dapat panggung. Awal kariernya dirintis ketika masih belasan tahun, Sandra pernah merekam lagu Melayu macam “Nona-nona”, “Kopi Susu”, “Kapal Ladju” dan lain-lain di era 1960-an. “Saat ini, saya seorang akuntan, tetapi juga penulis lirik. Banyak lagu yang dinyanyikan Sandra adalah karya saya sendiri,” aku Frans di De Nieuwe Limburger tanggal 13 November 1963. Lagu-lagu Sandra ada pula yang berbahasa Jepang. Pengalaman Frans sebagai tawanan perang Jepang amat membantunya menyiapkan lagu untuk anaknya. Karier Sandra makin cemerlang di era 1970-an. Duetnya dengan Andres cukup sukses. Pada awal 1970-an lagu “Storybook Children” karya Chip Taylor dan Billy Vera yang mereka nyanyikan laris didengar publik Belanda dan juga Indonesia. Masa itu pula Sandra pernah berkunjung ke Indonesia dan sempat bertemu dengan Ahmad Albar, yang juga pernah sukses di Belanda sebelum menjadi rocker Indonesia yang legendaris. Sandra masih manggung sebagai penyanyi hingga era 1980-an.*
- Politik Gentong Babi di Parlemen
DALAM rapat Badan Anggaran DPR RI awal Mei 2010, sejumlah fraksi mengusulkan dana aspirasi yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp8,4 triliun atau tiap anggota DPR (560 orang) mendapat jatah Rp15 miliar. Fraksi yang paling gigih memperjuangkannya adalah Partai Golkar. Alasannya untuk program percepatan pembangunan di daerah pemilihan. Kritik pun berdatangan. Demonstrasi dilakukan, menyebut dana aspirasi ini sebagai “gentong babi”, yang rawan korupsi alias hanya memenuhi celengan para politisi. Istilah “gentong babi” ( pork barrel ) mengacu pada pengeluaran yang diusahakan oleh politisi atau anggota parlemen untuk konstituennya sebagai imbalan atas dukungan politik, baik dalam bentuk kampanye atau suara pada pemilihan umum. Tujuannya agar mereka dapat terpilih kembali dalam pemilu berikutnya. Praktik politik ini dikecam karena cenderung menguntungkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum serta rawan penyelewengan dan salah sasaran.
- Bung Karno dan Takhta Suci Vatikan
PAUS Fransiskus tiba hari ini, Selasa (3/9/2024), dalam rangka lawatan apostoliknya di Indonesia yang berlangsung hingga Jumat (6/9/2024) mendatang. Salah satu agendanya adalah pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membicarakan perdamaian dunia. “Saya kira itu yang sangat penting yang akan kita bicarakan dengan beliau agar perdamaian di seluruh konflik perang, baik yang ada di Gaza (Palestina), Ukraina, dan konflik-konflik lainnya juga bisa kita selesaikan,” ujar Jokowi, dilansir laman resmi kepresidenan pada Kamis, 29 Agustus 2024. Paus Fransiskus selaku pemimpin tertinggi Katolik dunia cum Takhta Suci Vatikan memilih Indonesia sebagai salah satu kunjungan apostolik dan kunjungan kenegaraannya ke kawasan Asia Pasifik. Selain Indonesia, Paus Fransiskus diagendakan juga bertamu ke Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura.
- Pertemuan Presiden Sukarno dan Paus Yohanes XXIII di Vatikan
PEMIMPIN Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia. Dalam lawatan selama tiga hari (3—6 September 2024), Paus diagendakan menjalani sejumlah kegiatan dan pertemuan. Selain bertemu Presiden Joko Widodo, Paus Fransiskus turut diagendakan dalam pertemuan antaragama di Masjid Istiqlal hingga perayaan Ekaristi di Stadion Gelora Bung Karno. Paus Fransiskus menjadi pemimpin Gereja Katolik ketiga yang datang ke Indonesia, setelah Paus Paulus VI (1970) dan Paus Yohanes Paulus II (1989). Hubungan antara Indonesia dan Vatikan sudah merentang panjang. Presiden Sukarno menjadi presiden Indonesia pertama yang berkunjung ke Vatikan. Tidak hanya sekali, Bung Karno berkunjung ke Vatikan sebanyak tiga kali. Ini menjadikannya sebagai pemimpin dari negara mayoritas Muslim penerima medali kehormatan terbanyak dari pemimpin Takhta Suci Vatikan. “Aku seorang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden dari Irlandia pun mengeluh padaku bahwa ia hanya memperoleh satu,” kenang Sukarno dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams (1966).
- Kegigihan Asa Bafagih
DI ANTARA perintis Kantor Berita Antara , Asa Bafagih kurang begitu populer. Sejak 1945 hingga sekarang, Kantor Berita Antara merupakan kantor berita dan lembaga penyiaran resmi milik Republik Indonesia. Nama-nama seperti Adam Malik, A.M. Sipahutar, Pandu Kartawiguna, dan Sumanang jauh lebih dikenal sebagai pendiri Antara. “Waktu Adam Malik dan Pak Asa berani menerobos, terus mengakali para penjaga dan redaktur Domei , itu hebat. Karena waktunya cepat sekali. Tiba-tiba [berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia] tersiar. Besoknya kita menerima pengakuan kedaulatan dari Mesir. Jadi, itu sebuah prestasi,” kata Dirut LKBN Antara, Benny Siga Butar-butar dalam diskusi buku Asa Bafagih: Diplomat & Tokoh Pers Indonesia karya Nabiel A. Karim Hayaze di Gedung Antara Heritage, Jakarta Pusat, 5 April 2026. Dari kiprah senyap Asa Bafagih, menurut Benny, Antara yang sudah menginjak usia lebih dari delapan dekade ini harus mencari akarnya. “Identitas itu tidak boleh hilang. Asa Bafagih adalah bagian dari harapan dan kehidupan Antara dulu, sekarang dan masa depan,” katanya. Asa Bafagih merupakan tokoh pers Indonesia berdarah Arab kelahiran Tanah Abang, Jakarta pada 14 Desember 1918. Nama lengkapnya Abdillah bin Syech bin Ali Bafagih yang kemudian disingkat menjadi Asa Bafagih. Karier jurnalistiknya diawali sebagai redaktur mingguan terbitan Medan, Pandji Islam untuk wilayah Jawa, kemudian suratkabar Pembangunan terbitan Jakarta dalam rentang waktu 1938–1942. Pada 1942, bertepatan dengan pendudukan Jepang, Asa Bafagih menjadi redaktur Kantor Berita Domei yang kemudian menjadi Antara setelah Indonesia merdeka. Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Asa Bafagih terlibat dalam penyiaran berita itu. Dia kemudian menjadi ketua Kantor Berita Antara cabang Jakarta. Dalam Lima Windu Antara disebutkan Adam Malik dari tempat persembunyiannya menelepon ke kantor Domei , mendiktekan bunyi Proklamasi yang baru saja dibacakan Sukarno. Asa Bafagih yang menerima telepon, meneruskannya kepada Pangulu Lubis untuk disiarluaskan. Pangulu mengirimkan naskah berita Proklamasi ke bagian radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei , di antara berita-berita yang telah dibubuhi izin Hodohan , semacam badan sensor pemerintah pendudukan Jepang. Dari situlah berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia tersiar sampai ke luar negeri. Setelah Antara , Asa Bafagih membesut berbagai surat kabar sebagai pemimpin redaksi sepanjang periode 1950-an. Mulai dari suratkabar Merdeka (1947–1951), Pemandangan (1951–1954), Duta Masjarakat (1954–1957), dan kembali lagi ke Merdeka (1957–1959). Selain berkarier di dunia jurnalistik, Asa Bafagih juga sempat berkiprah di politik sebagai anggota DPRD Jakarta di masa revolusi dan anggota DPRGR mewakili kelompok wartawan tahun 1959. Di samping kemampuannya sebagai penulis andal, Asa Bafagih juga seorang poliglot. Dia menguasai bahasa Inggris, Arab, dan Prancis. Kefasihan berbahasa dan intelektualitasnya menyebabkan Presiden Sukarno mengangkat Asa Bafagih sebagai duta besar untuk Srilanka pada 1960 dan duta besar untuk Aljazair hingga 1968. Asa Bafagih. (Dok. Keluarga). Saat Asa Bafagih bertugas di Srilanka, dua anaknya lahir yaitu Rusdi Jayaputra dan Fitri Budi Satria. Kedua nama anaknya mengambil unsur bahasa Sanskarta sebagai wujud diplomasi Asa Bafagih untuk mengenal negeri Srilanka. Dari pernikahannya dengan Salmah Shahab, keluarga Asa Bafagih dikaruniai delapan orang anak, empat laki-laki dan empat perempuan. Usai menunaikan tugas duta besar, Asa Bafagih kembali berkhidmat dalam dunia jurnalistik. Sebagai kolomnis, tulisan-tulisannya dimuat di koran-koran nasional seperti Merdeka , Angkatan Bersendjata , dan Kompas . Pembaca-pembaca harian tersebut begitu meminati artikel yang ditulis Asa Bafagih, terutama analisisnya tentang geopolitik Arab, termasuk isu Palestina. Sebagian besar kehidupan Asa Bafagih dikontribusikan untuk pers Indonesia bahkan hingga akhir hayatnya. Perhelatan Sidang Dewan Pers 1978 di Semarang menjadi agenda terakhir Asa Bafagih. Dalam perjalanan pulang, Asa Bafagih wafat di Solo pada 13 Desember 1978. Keesokan hari jasadnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Buya Hamka, yang juga sahabat Asa Bafagih, menjadi imam salat jenazah di acara perkabungan. Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, jejak hidup Asa Bafagih bersentuhan langsung dengan fase-fase paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Namanya disebut dalam perjuangan kemerdekaan, pers nasional generasi awal, konsolidasi demokrasi awal, hingga diplomasi internasional di panggung Asia Afrika. Kendati demikian, ketokohan Asa Bafagih hanya sekilas tercatat dalam historiografi nasional. “Nama Asa Bafagih tidak asing, namun juga tidak benar-benar hadir. Ia hidup dalam arsip, lembaran artikel di media, catatan kaki, dan fragmen-fragmen ingatan keluarga. Selama perjalanan hidupnya sebagai jurnalis, perintis pers Indonesia, dan diplomat, Asa Bafagih memiliki integritas yang sangat tinggi dan kesederhanaan. Sesuatu yang barangkali sangat mahal di zaman sekarang,” kata Nabiel. Pada 1982, Menteri Penerangan Harmoko, yang masih terhitung murid Asa Bafagih, menyematkan pengahargaan Perintis Pers Indonesia kepada Asa Bafagih. Namun, jurnalis senior Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirto menilai, ketokohan Asa Bafagih sepi dari ingatan apalagi pembicaraan. Namanya bahkan sayup-sayup di kalangan Nahdliyin atau orang-orang Nahdlatul Ulama, partai tempat Asa Bafagih berkiprah politik, maupun di lingkungan pers nasional. “Ini menjadi ironis. Orang yang kerjanya memberitakan peristiwa-peristiwa penting, tapi tidak terberitakan, padahal dia adalah orang penting,” kata Okky, buyut dari tokoh pers dan Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo, “Boleh jadi juga selaras dengan pembawaan Asa Bafagih yang memang tidak suka menonjolkan diri.”*
- Peran Lasminingrat dalam Pendidikan dan Penerjemahan
RABU, 29 Maret 2023, Google menampilkan doodle tokoh Lasminingrat untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-169. Putri menak Sunda ini memiliki perhatian besar terhadap pendidikan kaum perempuan dan penerjemahan buku-buku cerita untuk anak-anak dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda. Raden Ayu Lasminingrat lahir di Garut pada 29 Maret 1854. Ayahnya, Raden Haji Muhammad Musa, seorang kepala penghulu di Garut dan pendiri Sekolah Raja serta penasihat pemerintah kolonial Belanda. Menurut Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800–1942 , Haji Muhammad Musa menjalin persahabatan dengan sejumlah orang Belanda, di antaranya Karel Frederik Holle yang dikenal sebagai penasihat honorer pemerintah untuk urusan bumiputra dan seorang tuan tanah di wilayah Garut, serta Levyson Norman yang pernah menjadi controleur di Sumedang.
- Petugas Imigrasi Mesir Menahan Rombongan Agus Salim
PESAWAT yang membawa rombongan Haji Agus Salim mendarat di Lapangan Udara Kairo pada 10 April 1947. Kedatangan delegasi Indonesia ini dalam rangka memenuhi undangan Liga Arab sekaligus memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia secara de jure . Haji Agus Salim bertindak sebagai pemimpin delegasi didampingi A.R. Baswedan (Menteri Muda Penerangan), dan Dr. Mr. Nazir St. Pamuncak (Pegawai Tinggi Kemenlu). Sementara itu, H.M. Rasyidi (sekjen Kementerian Agama) dan Mayor Jendral Abdul Kadir (perwira tinggi Kementerian Pertahanan) duluan tiba di Mesir pada 5 April. “Pada masa inilah Republik Indonesia mengirimkan misi persahabatan ke negara-negara Islam yang dipimpin oleh Haji Agus Salim pada tanggal 4 April 1947,” sebut Mukayat dalam Haji Agus Salim: Karya dan Pengabdiannya .
- Melanggengkan Praktik Kamp Interniran
DI KAMP interniran Jepang di Cideng, Tanah Abang, orang-orang Belanda yang jadi tawanan hidup bak di neraka. Jepang memang tak pandang bulu. Tak hanya laki-laki, “Neraka Cideng” menjadi tempat interniran khusus bagi perempuan dan anak-anak Belanda maupun Eropa. Sogokan uang dari para interniran kaya tak berlaku untuk membayar kebebasan mereka di luar kamp interniran. “Bagi Jepang tidak ada salam tempel. Yang ada ditempeleng,” ujar Nunus Sapardi dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026. Nunus Supardi, pakar cagar budaya, menulis dua buku tentang kamp interniran Jepang: Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Buku pertama berisi riset mendetail mengenai ratusan kamp interniran bentukan Jepang di seluruh Indonesia. Sementara buku kedua berkisah tentang kehidupan para interniran dan dinamika sosial yang terjalin antara sesama interniran maupun dengan serdadu Jepang penjaga kamp. Dari 864 kamp interniran, menurut Nunus, kamp interniran yang paling keras bagi para interniran adalah kamp Cideng. “ Di Cideng itu, di Jati Baru, ada 200 perumahan orang Belanda kemudian dipagari dengan kawat berduri dan gethek (anyaman bambu). Jadi, mereka dibatasi tidak boleh keluar,” terang Nunus. Di kamp Cideng, para interniran harus berebut tempat tidur. Mereka hidup berdesak-desakan dalam hunian padat dan sempit. Untuk makan pun mesti berebut karena jatah yang terbatas. Begitu pula dengan sistem sanitasi yang kurang memadai, para interniran harus mengeluarkan kotoran dari ember-ember di tempat tidur. Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia. (Martin Sitompul/Historia.ID). Seorang kapten Jepang bernama Kenichi Sonei menjadi penguasa di kamp Cideng. Sonei terkenal dengan tindakannya yang kejam dan bengis terhadap para interniran. Sonei disebut tak segan-segan untuk menghajar penghuni kamp bahkan sampai mati. “Kalau diceritakan seram juga gitu ya,” kata Nunus. Menurut Dwi Mulyatari, sejarawan Universitas Indonesia yang mendalami studi masa pendudukan Jepang, para interniran yang masuk ke dalam kamp harus melalui proses pendaftaran terlebih dahulu. Selain untuk klasifikasi gender dan rasial, Jepang ternyata meraup keuntungan dari pendataan interniran. Bagi laki-laki dari ras Eropa dan Amerika dikenai biaya sebesar 150 gulden dan 80 gulden bagi perempuan. Sementara itu, dari kalangan Asia lainnya sebesar 100 gulden untuk laki-laki dan 50 gulden untuk perempuan. “Jadi selain pendaftaran, mendata berdasarkan gender dan ras untuk kemudian dikelompokkan mereka akan ditawan di kamp-kamp tertentu. Lalu dipungut juga biaya untuk itu,” kata Mulyatari. Tokoh-tokoh Belanda yang pernah mendekam dalam kamp interniran antara lain Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenborgh dan Panglima Angkatan Perang KNIL Jenderal Hein ter Poorten. Mereka diinternir di Perkemahan Batalion 10 di Batavia. Begitu pula dengan Alberta Erika Maureau, istri dari Hubertus van Mook, gubernur jenderal setelah Stakenborgh. Dari kelompok ilmuwan tersebut nama Roolof Goris, ahli epigrafi naskah kuno Bali, dan kurator Museum Batavia Genootschap (kini Museum Nasional) Adriaan van der Hoop. Mereka diinternir di Cimahi dan setelah bebas pada 1946 kembali ke Belanda. Beberapa tokoh lain di luar orang Belanda juga ada yang turut diinternir. Muriel Stuart Walker, jurnalis perempuan kebangsaan Skotlandia yang kemudian dikenal dengan nama K’tut Tantri, diinternir di penjara Kediri. Ia sempat mengalami siksaan dan pelecehan seksual. Di kemudian hari, K’tut Tantri dikenal sebagai sahabat Presiden Sukarno. Selain itu, Lauren van der Post, seorang perwira Inggris kelahiran Afrika Selatan yang bertugas di Hindia Belanda, diinternir tahun 1942–1945. Beberapa tokoh pemuka Indonesia juga mengalami interniran di masa pendudukan Jepang, antara lain K.H. Hasyim Asy’ari, Oerip Soemoardjo, Pramoedya Ananta Toer, Gusti Sulung Lelanang, dan lain-lain. Menurut Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, praktik kamp interniran tak lantas berhenti meski Jepang angkat kaki dan Indonesia telah merdeka pada 1945. Praktik pemenjaraan semacam kamp interniran masih terus berlanjut dalam konteks revolusi. Setelah Perang Dunia II, sebanyak 46.000 orang Belanda di Indonesia masih diinternir. Mereka secara berangsur dipulangkan ke Singapura kemudian Belanda. Sebaliknya, tentara Belanda yang kembali ke Indonesia untuk menegakkan kekuasaan juga menginternir orang-orang pejuang yang dianggap ekstremis atau pemberontak. “Praktik kamp interniran ini tidak berhenti di masa Jepang. Orang-orang pribumi terutama di masa Republik berdiri itu juga melakukan interniran,” terang Reza, “Pada masa revolusi kekerasan itu terjadi dari dua belah pihak, dari pihak Republik maupun Belanda. Revolusi yang sering kali tidak terkoordinasi dan carut-marut, serta kontrol pusat yang hampir tidak ada, tapi tetap bisa menghasilkan sistem kamp. Ini jadi suatu paradoks.” Ketika Belanda kembali ke Indonesia, opsir-opsir Jepang yang menangani kamp interniran ditangkap dan diadili. Mereka didakwa sebagai pelaku kejahatan perang. Kenichi Sonei, pemimpin kamp interniran Cideng, termasuk salah satu dari 200 perwira Jepang yang dieksekusi atas kekejaman perang di Hindia Belanda. Pada akhir 1946, Sonei dihadapkan ke regu tembak di penjara Glodok yang sekaligus mengakhiri hidupnya.*
- Soedarsono “Kudeta 3 Juli” dari Komisaris ke Komisaris Lagi
SETIDAKNYA sejak 1950 sudah ada Polisi Perairan (kini Polairud) di Indonesia. Menurut catatan 20 Tahun Perkembangan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia , orang yang diperintahkan membentuk Polisi Perairan itu adalah Raden Panji Soedarsono. Buku Sejarah Kepolisian di Indonesia menyebut dialah yang menjadi kepala institusi itu pertama. Dia pensiun pada 1958 dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi yang setara Kolonel. Setelah pensiun, dia tinggal di rumah kontrakan. “Saya tidak punya rumah, di sini saya menyewa sejak tahun 1952,” ujarnya dikutip buku Memoar Perjoangan Menegakkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 . Soedarsono berkarier di kepolisian sejak zaman Hindia Belanda. Laki-laki kelahiran Purbalingga, 6 April 1903 ini lulusan HIS (1920) dan MULO (1924). Setelah itu, pada 1925 dia masuk Sekolah Polisi Sukabumi. Dia kakak kelas Kapolri pertama Raden Said Soekanto Tjokroatmodjo. Setahun pendidikan di sana, dia menjadi Ajun Inspektur Polisi.
- Berpacu Melawan Waktu dalam 1917
PAGI 6 April 1917. Kopral Tom Blake (diperankan Dean-Charles Chapman) dan sahabatnya, Kopral Will Schofield (George MacKay), dari Batalyon ke-8 pasukan Inggris tetiba dibangunkan dari istirahat singkatnya oleh Jenderal Erinmore (Colin Firth). Keduanya diberi misi berbahaya: menyampaikan pesan berisi perintah langsung. Blake dan Schofield diperintahkan menerobos garis kubu Jerman guna mengantarkan pesan untuk Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch). Opsi itu diambil Erinmore lantaran jaringan telegram sudah diputus oleh Jerman. Sebelumnya Mackenzie, komandan batalyon ke-2 Resimen Devonshire, berencana mengejar sisa-sisa pasukan Jerman yang mundur. Namun laporan pengintaian udara menginformasikan, ternyata Jerman mundur secara teratur dan teroganisir membentuk kekuatan baru di Hindenburg Line. Jadi 1.600 pasukan Mackenzie, termasuk Letnan Joseph Blake, kakak Kopral Tom Blake, akan masuk ke perangkap Jerman.
- Raja Pontas Lumbantobing, Sang Penganjur Modernitas
Dr. Naek L. Tobing, SpKJ. meninggal dunia pada 6 April 2020 karena Covid-19. Ia dikenal sebagai seksolog atau pakar kesehatan seks terkemuka di Indonesia. Selain membuka praktik kesehatan seks, ia juga rajin menulis buku-buku tentang masalah reproduksi, seperti Problema Seks dalam Rumah Tangga (1989), Masalah Seks di Kalangan Remaja (1990), Seks dan Problemanya (1991). Dokter kelahiran Samosir, Tapanuli, 14 Agustus 1940 ini tamatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Sempat mendalami masalah kejiwaan sebelum akhirnya tertarik mendalami seksologi. Di balik sosoknya yang humoris, ternyata Naek mengagumi sosok raja dari tanah Batak, Raja Pontas Lumbantobing. Raja Pontas Lumbantobing lahir sekira 1835. Dikenal sebagai pelindung kaum misionaris seperti Gerrit van Asselt (1833–1910), dan I.L . Nommensen (1834–1918). Cerita beredar menyebutnya sebagai sosok pemberani, gemar mengembara tanpa rasa takut dari desanya di Silindung menuju daerah Toba atau Uluan, sekarang Porsea.























