Hasil pencarian
9814 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bayi Revolusi Berbaju Sampul Buku
“Baju-baju bayi ini simbol revolusi.” Merapi Obermayer mengisahkan episode kelahirannya sekitar 74 tahun lalu, tepatnya 6 September 1947 di koloni penderita kusta Plantungan, Jawa Tengah. Julia Nessen dan Paul Wolfgang mengambil nama gunung Merapi yang pernah meletus pada 1930 untuk nama depan putrinya itu. Nama yang kental dengan sejarah, begitu juga kehidupannya yang penuh perjuangan untuk bertahan di tengah kecamuk revolusi di Jawa. Merapi mengisahkan kembali masa-masa sulit orang tuanya melewati periode kelam revolusi. Mereka menyaksikan mayat-mayat korban kekerasan bergelimpangan di antara arus sungai yang melewati koloni di Plantungan.
- Kesaksian Putri Tentara KNIL
MARTHA Anthony Akihary terdiam sejenak. Lalu bibirnya bergetar saat menceritakan tentang ayahnya, Sersan Mayor Petrus Akihary, komandan KNIL asal Maluku. “Sepanjang revolusi… dia bahagia Indonesia telah merdeka. Dan… sebetulnya, dia ingin kembali di kepulauan Maluku sebagai purnawirawan. Tapi yang terjadi tak sesuai harapan,” kata Martha. Kesaksian Martha tentang ayahnya itu ditayangkan di channel Youtube Rijksmuseum, saat pembukaan pameran Revolusi! Indonesia Independent di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, pada 11-12 Februari 2022. Martha adalah putri sulung dari Petrus Akihary, yang menjadi prajurit KNIL saat usia 18 tahun pada 1926. Petrus Akihary terdaftar sebagai prajurit KNIL dengan nomor 20574. “Saya bangga bila membaca nomor dog-tag-nya. Sebuah pencapaian luar biasa. Seorang biasa dari desa Aboru,” kata Martha.
- Muthia Datau dari Lapangan Kembali ke Lapangan
BETAPAPUN jauhnya melangkah hingga ke dunia perbankan dan hiburan, Muthia Datau tetap kembali ke lapangan. Namun bukan lagi sebagai pemain, tapi sebagai pegiat sepakbola putri. Muthia memulai karier sepakbolanya di usia belasan tahun bersama tim Buana Putri Jakarta. Perkembangannya yang pesat menjadikannya pilar inti di bawah mistar tim nasional PSSI putri sejak 1977. Kariernya berhenti setelah dia gantung sarung tangan di Buana Putri pada 1985. Seperti lazimnya pesepakbola putri, Muthia pensiun dari sepakbola lantaran menikah. Perempuan cantik itu dipinang Herman Felani, aktor yang beradu akting dengan Muthia antara lain di film Malu-Malu Kucing (1980), Sirkuit Kemelut (1980), dan Intan Mendulang Cinta (1981).
- Muthia Datau, Ikon Sepakbola Putri Indonesia
SEDARI kebetulan, malah jadi keterusan. Muthia Datau sejak kecil tak pernah menyangka dirinya bakal jadi tenar gara-gara sepakbola. “Dari sepakbola, semua orang mengenal saya. Orang (publik) kalau kenalnya, ya Muthia yang kiper itu ya?,” cetus Muthia saat berbincang dengan Historia di sela-sela syuting FTV-nya di Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan. Padahal, Muthia merintis karier lewat dunia hiburan di akhir 1970-an. Berawal dari foto model majalah, Muthia lalu menjuarai ajang Abang-None Jakarta Barat 1978, jadi Ratu Jakarta Fair, membintangi sejumlah iklan, dan terjun ke dunia layar lebar. “Ya kebetulan cocok ketika ada yang menawari main film, ya sudah (mulai membintangi film). Dulu pertamakali main film layar lebar, judulnya Sepasang Merpati (1979). Terus lanjut ada Malu-Malu Kucing, Sirkuit Kemelut. Banyak kok, sekitar enam film,” lanjutnya.
- Merunut Sejarah Yoga, Merelaksasi Jiwa dan Raga
BAGI Muthia Datau, mantan kiper timnas putri Indonesia yang kini aktris sinetron dan FTV, olahraga amat penting untuk menjaga vitalitas tubuh. Meski sudah lama gantung sepatu, perempuan berusia 58 tahun itu tetap rutin berolahraga. “Olahraga semua itu baik, tapi ya harus menyesuaikan umur kita,” ujarnya kepada Historia saat ditemui di lokasi syuting di Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan. Muthia memilih yoga sebagai olahraga yang ditekuninya. Dia bahkan sampai membuka sanggar di Warung Jati Barat, Jakarta Selatan sejak 2013. “Sejak menyenangi yoga tahun 2000, saya ambil program instruktur yoga juga. Saya ambil sertifikat, ikut workshop, sampai sekarang masih mengajar yoga,” sambung Muthia. Di saat perempuan lain seuisanya sudah direpotkan oleh bermacam penyakit, Muthia justru masih sibuk dengan bermacam aktivitas. Yoga membuat Muthia tetap fit kala menjalani jadwal syuting yang padat, mengajar, dan bermacam aktivitas lainnya.
- PRRI dan Rumah Makan Padang
DALAM suatu percakapan antara sejarawan Taufik Abdullah, antropolog Sjafri Sairin, dan sosiolog Ignas Kleden di sebuah dapur paviliun, Taufik nyeletuk, “Wah, ini ada bahan makanan yang bisa dimasak. Siapa yang bisa masak?” Sjafri menjawab bahwa dia sedikit-sedikit bisa masak. “Biarlah saya yang memasak,” kata Sjafri dalam Sejarah dan Dialog Peradaban. “Okelah kalau begitu. Sjafri yang masak, Ignas cuci piring dan saya sendiri duduk-duduk menyaksikan sambil bercerita,” kata Taufik. Taufik mengatakan bahwa dia memang orang Padang. Tetapi, orang Padang yang kurang lengkap. Alasannya karena tidak bisa berdagang dan tidak bisa masak. Padahal, kedua keterampilan itu merupakan ciri umum orang Padang, terutama yang pergi merantau.
- Sang Penangkap Diponegoro
WAKTU Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk, di Sulawesi Utara Residen D.E.W. Pietermaat minta orang Minahasa menolong Belanda dalam perang tersebut. Sebagai kelanjutan darinya, terbentuklah sebuah pasukan tempur berjumlah 1.421 orang yang disebut Serdadu Manado atau Pasukan Tulungan. Komandannya Tololiu Hermanus Willem Dotulong yang diberi pangkat mayor. Dotulong dibantu tiga kapten. “Mereka antara lain Benjamin Sigar (Langowan), D. Rotinsulu (Tonsea), dan Polingkalim (Tondano),” tulis Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) Minahasa ini adalah sebagian dari banyak hulptroepen yang membantu Belanda. Setelah terbentuk, pasukan itu langsung diberangkatkan ke Jawa.
- Bersepeda Keliling Dunia
HARI itu, 4 Januari 1887, sebuah kapal uap merapat di Pelabuhan San Francisco, Amerika Serikat. Kerumunan orang di pelabuhan seketika bersorak ketika penumpang yang paling dinanti, Thomas ‘Tom’ Stevens, turun dari kapal dengan menenteng sepedanya. Stevens menjawabnya dengan lambaian tangan. Segala lelah yang bersemayam di tubuh dan pikirannya buyar saat melihat semaraknya sambutan untuknya dari masyarakat dan para anggota San Francisco Bicycle Club. Stevens baru saja merampungkan perjalanan bersepeda keliling dunia. “Setelah kepulangannya di San Francisco, sebuah pesta makan malam besar dihelat di Hotel Baldwin untuk merayakan kesuksesannya mengelilingi dunia,” tulis Kevin J. Hayes dalam American Cycling Odyssey, 1887.
- Sorak-Sorak Bergembira Keliling Kota
PADA masa revolusi 1945, komponis Cornel Simanjuntak membuat lagu berjudul “Sorak-Sorak Bergembira” yang kemudian menjadi populer dan banyak dinyanyikan para pejuang. Pada suatu hari, Cornel mengajak kawan-kawannya berkeliling Jakarta. Mereka lalu berkeliling dari kampung ke kampung menggunakan mobil bak terbuka. “Di sepanjang jalan, dengan iringan sebuah gitar kami menyanyikan lagu-lagu perjuangan Sorak-Sorak Bergembira, Maju Tak Gentar dan lain-lain, sambil melambai-lambaikan bendera merah putih,” kisah Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Dalam rombongan itu turut serta Suryo Sumanto, D. Djajakusuma, Gayus Siagian, hingga Usmar Ismail. Belakangan, rombongan ini menjadi tokoh-tokoh kebudayaan ternama di Indonesia dari bidang musik hingga perfilman.
- Yang Muda yang Keliling Dunia (Bagian II)
SEBUAH sedan merek Studebaker meluncur pelan ke halaman Istana Negara. Penumpangnya empat orang: tiga pemuda dan seorang lelaki tua. Sedan berhenti di dekat anak tangga Istana. Penumpangnya turun dan menuju sebuah ruangan. Lukisan Pangeran Diponegoro menunggang kuda terpajang di dinding salah satu ruangan Istana. Dua orang pemuda lain telah lebih dulu hadir di sana. Mereka adalah Saleh Kamah dan Damardjati, pemuda Indonesia yang berhasrat keliling dunia naik sepeda. Sedangkan para penumpang mobil Studebaker terdiri atas Rudolf Lawalata, Abdullah Balbed, dan Sudjono, anak muda yang berkehendak jelajah dunia dengan jalan kaki. Mereka ditemani Tjokrodiningrat, petugas protokoler DKI Jakarta suruhan Walikota Sudiro.
- Yang Muda yang Keliling Dunia (Bagian I)
TAHUN-tahun belakangan ini, sejumlah usaha ritel terkenal menutup gerainya di Indonesia. Analisis bisnis menduga perubahan tren belanja sebagai penyebabnya. Generasi milenial, terlahir antara 1980 dan 1990, lebih memilih belanja pengalaman baru dengan menjelajah tempat-tempat asing di antero bumi ketimbang berbelanja ritel. Hasrat seperti itu pernah ngetren di Indonesia pada 1950-an. Rudolf Lawalata, pemuda kelahiran 1930 asal Maluku, punya hasrat mengelilingi dunia dengan berjalan kaki. Dia ingin memperkenalkan Indonesia kepada warga dunia. Pada tiap jengkal tanah tempatnya bertapak di negeri asing, dia akan tancapkan bendera merah putih. “Di samping dia sendiri juga ingin menambah pengalaman-pengalaman di luar negeri nantinya,” tulis Aneka, 1 Desember 1954. Orang-orang sekitarnya sempat terperanjat dan menganggap Lawalata gila. Ah, kau pergi untuk mati, kata seorang saudaranya. Mereka tak berkenan dengan impian Lawalata. Apalagi Lawalata sudah beranak dua dan beristri satu. Istrinya pun lagi hamil tujuh bulan.
- Keliling Dunia dengan Sepeda dan Gitar
ADA pemandangan tidak biasa di Pelabuhan III, Tanjung Priok, Jakarta pada siang tanggal 18 Juli 1959. Ratusan orang hadir demi menunggu seorang yang kembali menjejakkan kaki di Indonesia. Sosok itu ditunggu karena mencuri perhatian setelah wajah dan kisahnya muncul dalam pemberitaan luar negeri. Nama orang yang ditunggu-tunggu itu adalah Petrus Jericho Lumakeki. Usianya 30 tahun dan kelihatan mencolok dengan tampang berengosan. Ia semakin menarik perhatian karena jaket yang dipakainya dihiasi aksara Tionghoa yang artinya “Kelana Dunia Indonesia”. Lumakeki turun dari kapal Tjiluwah sambil mendorong sepeda yang mengangkut gitarnya. Dua benda inilah yang setia menemaninya berkeliling dunia. Pada 1950-an, para pengeliling dunia dari Indonesia mendapat sorotan. Sebelum Lumakeki, ada Saleh Kamah yang juga menggunakan sepeda dan Rudolf Lawalata yang berjalan kaki. Mimpinya sama, keliling dunia. Keduanya mendapat restu dari Presiden Sukarno pada awal tahun 1955, tetapi misi mereka gagal karena “tersangkut” di tengah jalan.





















