Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Para Pramugari Garuda di Sisi Sukarno
KECANTIKAN dan aura pramugari memang bisa mempesona siapa saja. Karyawati yang menjadi kru pesawat ini dilatih untuk melayani penumpang. Selain piawai melayani penumpang, pramugari juga dituntut berpenampilan menarik. Bertubuh jenjang semampai, pintar, mampu berbahasa asing, dan jago berdandan biasanya kualifikasi yang harus dimiliki setiap pramugari. Figur sekaliber Presiden Sukarno pun pernah kecantol dengan pramugari. Perempuan itu bernama Kartini Manoppo, gadis asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Pertemuan pertama Sukarno dan Kartini Manoppo berlangsung di atas udara dalam suatu penerbangan pada 1958. Bung Karno menumpang pesawat Garuda menuju Malang untuk meresmikan proyek pabrik tenun di Batu Ceper. Di saat yang sama, Kartinilah yang menjadi pramugarinya. Tiada kesan istimewa dalam pandangan pertama, kecuali Kartini mendapat kenang-kenangan berupa sehelai kain tenun Malang dari Bung Karno usai penerbangan itu.
- Satu Episode Tim Garuda di Olimpiade
TIM Nasional Indonesia U-23 tengah menggila. Skuad “Garuda Muda” yang ditukangi Shin Tae-yong (STY) melibas lawan-lawan yang selama ini jadi momok di ajang AFC Cup U-23 2024 demi berebut tiket ke Olimpiade Paris 2024. Sebelumnya, Witan Sulaeman cs. lolos dari babak penyisihan sebagai runner-up Grup A hasil menang atas Australia U-23 (1-0) dan Yordania U-23 (4-1). Lantas di perempatfinal, setelah melalui laga sengit kontra Korsel U-23 pada Kamis (25/4/2024), Garuda Muda sukses memulangkan negeri asal STY itu lewat kemenangan adu penalti, 11-10, usai imbang 2-2 di waktu normal. Pada semifinal, Garuda Muda ditantang tim besar lain, Uzbekistan U-23, pada Senin (29/4/2024). Laga ini tentu menjadi penentu menuju Olimpade Paris 2024.
- Mula Tim Garuda
PERJUANGAN Timnas Indonesia (senior) bakal kian berat. Setelah keok 0-1 dari Singapura di laga perdana di Grup B Piala AFF 2018 dan menang 3-1 kontra Timor Leste, tim besutan Bima Sakti Tukiman itu akan menantang juara bertahan Thailand, Sabtu (17/11/2018) di Stadion Rajamangala, Bangkok. Timnas Garuda dan Tim Gajah Putih terakhir bentrok di laga puncak Piala AFF 2016. Kala itu Indonesia kalah agregat 3-2 sehingga untuk kelima kalinya harus puas jadi finalis sejak perhelatan sepakbola se-Asia Tenggara itu dimulai 1996 dengan nama Piala Tiger .
- Teroris Membajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
JUMAT pagi, di Bandara Talang Betutu, Palembang, 28 Maret 1981. Seperti biasa, Kapten Herman Rante, pilot berusia 38 tahun bersiap-siap menerbangkan pesawat yang dikemudikannya. Setelah transit di Palembang, pesawat Garuda DC-9 “Woyla” bernomor penerbangan 206 rute Jakarta-Medan itu akan menuju Bandara Polonia. Beberapa menit setelah lepas landas, terdengar kegaduhan dari arah belakang. Lima laki-laki telah menguasai pesawat bagian tengah. Seorang dari komplotan itu menuju kokpit. Pistol jenis revolver cal 38 ditodongkan ke kepala Herman Rante. Herman Rante menyadari pesawat yang dikemudikannya sedang dibajak.
- Teroris Hendak Membajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” Sampai Sri Lanka
KEPALA Bakin (kini BIN) Jenderal Yoga Soegama berang bukan kepalang. Bagaimana tidak, Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” jurusan Jakarta-Palembang-Medan yang sedang transit di Bandara Bayan Lepas, Penang, Malaysia dibajak sekelompok teroris. Celakanya, kedutaan Indonesia di Malaysia sedang kosong sehingga tidak ada yang dapat dihubungi. Kekesalan itu ditumpahkan Yoga kepada B.S. Arifin, Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri. “Buatkanlah suatu cara dan kebiasaan menghadapi keadaan darurat. Saya tidak meminta para duta besar harus selalu ada di tempat tugas. Juga wakilnya. Tapi setidak-tidaknya kalau hendak bepergian tinggalkanlah pesan, tinggalkanlah petunjuk di mana mereka bisa dihubungi. Bisa dikontak,” kata Yoga mengeluh seperti dikutip B. Wiwoho dalam Operasi Woyla: Sebuah Dokumen Sejarah .
- Kisah Bule Nekat dalam Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
SIANG, 29 Maret 1981 itu begitu terik di Bandara Don Mueang, Bangkok. Panasnya cukup untuk menembus jendela pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang sedang dibajak. Kendati demikian, para pembajak melarang kru pesawat menyalakan mesin pendingin udara. Alih-alih berbelas kasih, mereka mengintimidasi penumpang. Makan dan minum dibatasi. Begitupun akses ke toilet. Rasa gerah, lapar, dan dahaga menyiksa para penumpang yang disandera itu. Begitulah keadaan di pesawat Garuda DC-9 “Woyla” memasuki hari kedua pembajakan. Dari 41 sandera terdapat enam penumpang warga negara asing. Tiga di antaranya warga Amerika serikat: Karl Schneider, Ralph Hunt, dan Raymond Heischman. Sementara itu, tiga penumpang warga negara asing lain ialah Robert Wainwright (Inggris), Hengky Siesen (Belanda), dan Hiromi Higa (Jepang).
- Pembajakan 19 Hari
DESA De Punt, Glimmen, Belanda, 11 Juni 1975 pukul 05 pagi. Keheningan suasana desa disobek suara enam pesawat F-104 Starfighter AU Belanda yang terbang rendah di atas sebuah keretapi. Para personil Bijzondere Bijstands Eenheid/BBE Marinir Belanda di dekat kereta itu langsung menyerbu kereta. Mereka berupaya membebaskan penduduk sipil yang disandera sekelompok pemuda pejuang Republik Maluku Selatan (RMS) di dalam kereta tadi. Pembajakan kereta dan penyanderaan itu jadi imbas tak langsung dari Pengakuan Kedaulatan di pengujung 1949 dan penguasaan Kepulauan Maluku oleh Tentara Nasional Indonesia setahun berikutnya. Banyak mantan personil KNIL yang jadi pejuang dan simpatisan kemerdekaan RMS lalu memilih tinggal Belanda. Selain adanya ikatan emosional kuat antara mereka dengan Belanda, jaminan bantuan pemerintah Belanda untuk mewujudkan RMS menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih tinggal di Belanda.
- Benny Moerdani Menangani Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
MENGENAKAN baju safari warna gelap, Letnan Jenderal Benny Moerdani memasuki pesawat Garuda DC-9 “Woyla”. Serbuan gerak cepat dari pasukan elite anti-teror Kopassandha baru saja mengakhiri aksi pembajakan pesawat yang dilakukan teroris dari kelompok Jamaah Imran. Setelah melakukan pengecekan di sana-sini, Benny memberi isyarat “Oke” lalu turun dari tangga pesawat. Seluruh pasukan komando itupun meninggalkan lokasi. “Pasukan komando diangkut dengan bis menuju hanggar Angkatan Udara Muangthai, dan segera masuk ke dalam pesawat DC-10 ‘Sumatra’ yang sedang parkir sejauh lima kilometer dari lokasi penyerbuan,” demikian berita Sinar Harapan , 2 April 1981. Begitulah suasana setelah drama pembajakan pesawat Garuda “Woyla” berakhir pada 31 Maret 1981. Pesawat itu dibajak pada 28 Maret dalam penerbangan dari Jakarta menuju Medan, transit di Palembang, kemudian tertahan di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand. Kendati sempat terjadi baku tembak, operasi anti-teror itu berlangsung hanya kurang dari tiga menit.
- Jenderal Nasution Terseret Kasus Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”
SETELAH drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” berakhir, pemerintah menggelar konferensi pers. Pangkopkamtib Laksamana Soedomo didampingi Menteri Penerangan Ali Moertopo mengungkap para pelaku pembajakan merupakan buron kasus penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Cicendo, Bandung. Mereka, sebut Soedomo, melakukan teror untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. “Dengan demikian jelas bahwa kelompok ini adalah kelompok ekstrim yang telah menafsirkan ajaran agama secara salah dan mencemarkan agama,” ucap Soedomo dikutip harian Angkatan Bersenjata , 1 April 1981. Sementara itu, Ali Moertopo mengatakan keberhasilan pemerintah menangani pembajakan mengangkat citra Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, Indonesia adalah negara ketiga yang berhasil menyelesaikan masalah pembajakan secara gemilang. Atas pencapaian itu, Ali mengajak semua yang hadir dalam jumpa pers mengagungkan nama Allah. Seruan takbir pun diserukannya, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”
- Pembajak Pesawat Garuda Woyla Tuntut Tebusan 1.5 Juta Dolar Amerika
KELOMPOK Kriminal Bersenjata (KKB) Papua dikabarkan meminta Rp5 miliar sebagai tebusan untuk membebaskan pilot Susi Air bernama Philips Mark Mehrtens yang disandera Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egianus Kagoya sejak Februari. Panglima TNI Laksamana Yudo Margono memberikan lampu hijau perihal uang tebusan. Namun, isu uang tebusan dibantah oleh Egianus Kagoya. Kelompoknya hanya menginginkan kemerdekaan Papua untuk ditukar dengan Philips. Kapolda Papua Irjen Pol. Mathius Fakhiri mengklarifikasi bahwa uang Rp5 miliar merupakan arahan darinya kepada pejabat bupati Nduga. Apabila negosiasi membuahkan hasil, dia meminta bupati menyiapkan uang dari kas pemerintah daerah. Berbeda halnya dengan pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” pada 28 Maret 1981, pemerintah lebih memilih opsi militer meski pembajak mengajukan tuntutan uang disertai ancaman peledakan pesawat. Pembajak meminta tebusan sebesar US$1,5 juta. Selain itu, mereka juga meminta pembebasan rekan-rekannya yang ditangkap karena menyerang Polsek Cicendo. Itulah syarat yang mereka ajukan untuk ditukar dengan penumpang pesawat yang disandera.
- Indonesia Dukung Palestina dengan Prangko
WARGA Palestina tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan ini dengan khusyuk. Tentara Israel menyerang warga Palestina, mulai dari anak-anak, perempuan, hingga orang lanjut usia di Masjid Al-Aqsha, Jerusalem. Negara-negara Eropa diam, tak seperti kepada Ukraina yang diserang Rusia. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sejak awal merdeka telah menunjukkan keberpihakan kepada Palestina. Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel hingga kini, meskipun Israel memberikan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia.
- Prangko, Si Kecil Sarat Arti
USAI memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Jakarta tetap bukanlah tempat yang aman. Tentara NICA-Belanda terus melancarkan aksi untuk menguasai Jakarta. Dalam rapat kabinet 3 Januari 1946 para pemimpin Republik memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta. Sejumlah upaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi negara yang baru merdeka dan berdaulat ini. Salah satunya menerbitkan prangko. “Indonesia mencetak prangko untuk kali pertama pada 1946 untuk memperingati setengah tahun kemerdekaan. Gambarnya banteng sedang menarik rantai, sebagai simbol telah terbebas dari penjajahan,” ujar Lutfie, ketua Bidang Pameran di Perkumpulan Filatelis Indonesia.






















