Hasil pencarian
9810 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian III)
JAM sudah menunjukkan pukul 6.15 petang ketika dua mobil sedan diikuti satu minibus tiba dan parkir di sebuah rumah di Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia pada 22 Juli 1994. Sesosok perempuan lalu turun dari salah satu mobil yang sontak disambut sanak keluarga yang menanti di pekarangan. Hari itu untuk kali pertama Shamsiah Fakeh, perempuan tadi, bersua kembali dengan keluarga besarnya. Haji Ramli, sang pemilik rumah sekaligus sang adik, adalah yang paling pertama menyambut perempuan yang hampir berusia 70 tahun itu dengan pelukan diikuti pertanyaan keadaan. “Sihat,” kata Shamsiah menjawab pertanyaan adiknya sebagaimana dikisahkan artikel “Bekas ketua komunis wanita pulang ke sisi keluarga” di Berita Harian edisi 23 Juli 1994. Mengenakan blouse sederhana dipadu kerudung putih dan kain batik sebagai bawahan, Shamsiah masuk dengan didampingi suaminya, Ibrahim Mohamad. Anak-anak dan para cucunya yang lebih dulu tiba sudah menanti di dalam rumah.
- Orang Batak Jadi Jenderal
ORANG Batak sempat tidak dipercaya menjadi anggota KNIL (Koninklijke Nederlandsche Indische Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Mereka baru bisa diterima dengan baik sebagai serdadu kolonial sejak tahun 1929. Jika pun ada sebelum 1929, orang Batak harus menjalani masa percobaan dulu. Suatu hari di tahun 1929, seorang Batak yang telah menjadi sersan KNIL datang ke Tarutung. Sumatra Post, 28 Desember 1929 memberitakan, ia datang dari Bandung dengan tujuan merekrut 60 orang Batak untuk menjadi serdadu KNIL. Satu dekade kemudian, KNIL memberikan kesempatan kepada dua pemuda Batak, satu dari Batak Toba dan satu lagi dari Mandailing, sebagai calon perwira di CORO (Corps Opleiding Voor Reserve Officieren atau Koprs Pendidikan Perwira Cadangan) dan KMA (Koninklijke Militaire Academie atau Akademi Militer Kerajaan) di Bandung.
- Polisi Paling Korup di Hong Kong
BERULANG kali aktor Andy Lau memerankan polisi kalem yang korup dalam beberapa film Hong Kong. Dia memerankan Lau Kim Ming dalam Infernal Affairs I (2002) dan Infernal Affairs II (2003). Begitu pula dalam Chasing The Dragon (2017), yang juga dibintangi Donnie Yen, Andy Lau berperan sebagai polisi kalem yang korup bernama Lee Rock. Sebelumnya, pada 1991 dia telah memerankan Sersan Polisi Lee Rock dalam trilogi Lee Rock I, II, dan III. Dalam film itu diceritakan, awalnya Lee Rock adalah polisi muda yang polos dan jujur, tapi miskin. Setelah berpisah dengan pacarnya, dia lalu menjadi polisi korup yang kaya raya dan berpengaruh, meski pangkatnya hanya sersan kepala.
- Raja Ali Haji, Sastrawan Besar Kesultanan Riau
PADA 1824, melalui Traktat London, Belanda mengakhiri perselisihannya dengan Inggris atas kawasan Malaka. Inggris diberi kekuasaan di Singapura dan Malaysia, sedangkan Belanda mengukuhkan kuasanya atas Nusantara. Peraturan baru pun ditetapkan para kolonialis di wilayah jajahannya, yang otomatis membawa dampak bagi kerajaan-kerajaan di sana. Kesultanan Riau Lingga salah satunya. Kerajaan yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Johor-Riau dengan pusat pemerintahan di Tumasik (Singapura) tersebut mengalami perkembangan yang lambat di segala bidang kehidupan, termasuk budaya, setelah Belanda berkuasa di wilayahnya. Di tengah perkembangan yang tidak menentu tersebut muncul nama Raja Ali Haji. Dia adalah seorang pujangga Riau Lingga yang karya-karyanya begitu menggugah minat kebudayaan masyarakat. Meski di bawah tekanan penjajahan, Raja Ali Haji berhasil membawa angin perubahan di alam kesusastraan Melayu, utamanya Riau.
- Melihat Kolonialisme Bekerja lewat Teropong Sastra
BAGAIMANA kolonialisme bekerja tak hanya bisa dilihat dari tulisan-tulisan sejarah. Ada karya sastra yang berangkat dari kisah sejarah, yang dapat menyuguhkan potret-potret masa penjajahan yang tak tertangkap oleh narasi sejarah. Karya-karya itu dibuat penulis sezaman maupun penulis pasca-kemerdekaan. Peneliti imagologi dan penerjemah Widjajanti Dharmowijono dalam Dialog Sejarah "Wajah Kolonialisme dalam Sastra" di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 19 Maret 2021, menyebut bahwa ada ratusan karya sastra yang disebut sebagai sastra Indis-Belanda yang merepresentasikan kondisi tanah jajahan pasa masanya. Widjajanti, yang akrab disapa Inge, menyelesaikan disertasinya di Universiteit van Amsterdam dengan judul Van Koelies, Klontongs en Kapiteins, Het Beeld van de Chinezen in Indisch-Nederlands Literair Proza 1880-1950 yang kemudian diterjemahkan menjadi Bukan Takdir, Kisah Pencitraan Orang Tionghoa di Nusantara. Disertasi Inge menyoroti bagaimana orang Tionghoa dicitrakan dalam karya-karya sastra yang dibuat oleh penulis-penulis Belanda dan satu penulis Hungaria.
- John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra
NAMA David John Moore Cornwell mungkin terdengar asing bagi penikmat novel bertema intelijen, apalagi tema non-intelijen. Padahal hanya satu sosok yang menyandang namanya. Cornwell tutup usia pada Sabtu (12/12/2020) malam waktu setempat di Rumahsakit Royal Cornwall di Truro, Inggris. Dalam pernyataan keluarganya, Cornwell meninggal setelah lama menderita pneumonia. Sejumlah sejarawan dan novelis Inggris pun terpukul mendengar wafatnya salah satu novelis sohor Inggris era Perang Dingin itu. “Hati saya terasa sakit. Dia (Cornwell) adalah figur besar dalam sastra Inggris,” tutur sejarawan dan novelis Simon Sebag Montefiore sebagaimana dikutip BBC, Senin (14/12/2020).
- Ketika Paus Sastra Indonesia Menerjemahkan Max Havelaar
H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia, telah meninggal dunia 20 tahun lamanya (11 Maret 2000). Tapi amalnya semasa hidup terus kekal hingga kini. Dia berjasa mengembangkan kehidupan, dokumentasi, dan penerjemahan sastra di Indonesia. Di bidang terakhir, amal Jassin paling kesohor ialah menerjemahkan novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli serentang 1971–1972. Sastrawan Eka Budianta berpendapat terjemahan Jassin sangat halus. Bahkan cenderung melankolik. “Dia mengarahkan Max Havelaar ke bacaan keluarga,” kata Eka kepada Historia, usai mengisi acara "H.B. Jassin Sang Penjaga Sastra" di Bentara Budaya Jakarta, 12 Maret 2020. Eka mencontohkan bagian ini. Aku tidak tahu di mana aku akan mati. Kulihat lautan luas di pantai selatan. Ketika aku membuat garam di sana bersama ayahku. “Saya terpesona pada nyanyian Melankolis Saidjah yang terasa mendalam di hati Havelaar. Saya tidak menyangka bahwa untuk membuat garam di masa kolonial diperlukan keberanian. Mengapa? Karena produksi garam dimonopoli oleh pemerintah,” catat Eka dalam “Harapan, Keberanian, Kemanusiaan Kita”, makalah pada Festival Multatuli di Rangkasbitung, 10 September 2019.
- Sastra Dakwah tentang Hari Kiamat
JAMAAH calon haji dari Indonesia pada masa kolonial menempuh perjalanan laut hampir enam bulan untuk mencapai Mekkah. Dari Indonesia, mereka singgah dulu di Singapura. Di sini mereka biasanya membeli sejumlah bahan bacaan. Tema yang paling diminati adalah tentang hari kiamat. "Pas sebagai bacaan dalam perjalanan akbar menunaikan haji untuk mawas diri mengenang mati atau pelipur hati menghadapi kematian," kata Edwin Paul Wieringa, guru besar filologi Indonesia dan kajian Islam dari Universitas Cologne, Jerman, dalam kuliah umum bertajuk "Dari Kudus ke Bombay dan ke Jawa Lagi: Sastra Keagamaan tentang Hari Kiamat" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2020. Bacaan bertema kiamat itu tercetak dalam tulisan tangan. Mereka terbit antara masa 1900-1920-an. Aksaranya Arab dengan bahasa Melayu atau Jawa. Edwin menemukan buku kuno bertema kiamat ketika meriset di Perpustakaan Nasional Singapura, Oktober 2019–Januari 2020. Jumlah buku semacam itu ada belasan.
- Pidato Kebudayaan Karlina Supelli: Menuturkan Kisah Korban 1965-66 Lewat Sastra
DERU truk dan jip memecah kebisuan malam. Kilatan lampu menyelinap ke rumah-rumah yang tanpa penerangan. Kala itu listrik dipadamkan pemerintah sejak pukul enam petang dan baru menyala lagi pukul enam pagi seiring pemberlakuan jam malam. Lepas pukul 6 petang, tak ada lagi anak kecil bermain di halaman. “Seperti kebanyakan anak-anak yang mengalami tahun 1965-66, saya tumbuh dengan bertanya-tanya. Mulai suatu malam, orang tua saya hanya berani berbicara dengan berbisik,” kata Karlina Supelli, dosen STF Driyarkara dan astronom perempuan pertama, dalam pidato kebudayaannya di acara 80 Tahun Putu Oka Sukanta, Rabu (30/10/2019). Karlina menceritakan masa kecilnya yang tumbuh ketika terjadi masa peralihan pasca-Peristiwa 1965. Di masa itu, ia tidak diperbolehkan main di luar setelah jam malam tiba. Sebagai anak kecil, ia jelas tak memahami arti jam malam. “Apakah jam yang hanya berdentang ketika malam?” katanya.
- Kisah Nyai dalam Sastra
TANPA dilatari percekcokan atau pertengkaran, Nyai Dasima, gundik lelaki Inggris bernama Edward Williams, pergi meninggalkan tuan dan anaknya. Bukan hanya itu, ia bahkan mau dijadikan istri kedua lelaki pribumi bernama Samioen. Guna-guna Samioen ternyata yang membuat Dasima melakukan itu semua. Samioen sebenarnya hanya mengincar harta Dasima. Tak heran bila dalam pernikahan ini Dasima mendapat perlakuan buruk dari mertua dan istri pertama Samioen. Dasima akhirnya meninggal. Kisah itu terdapat dalam prosa Nyai Dasima karya G. Francis tahun 1896. Ada banyak versi tentang Nyai Dasima, yang kisahnya bahkan menjadi folklore. Dalam cerita karya Francis, semua tokoh jahat merupakan pribumi muslim yang menyalahgunakan agama untuk memuaskan keserakahan mereka.
- Sastrawan Peranakan yang Terlupakan
SEPASANG bocah sekolah bikin perkara kecil. Pulang kemalaman naik sepeda tanpa lampu, kedua bocah itu, Willem Tan (Candra Eko Mawarid) dan Johan Liem (Randi Anggara), iseng mengelabui politie agent Indo-Belanda dan Bugis dengan memberi nama dan alamat palsu. Namun keisengan itu justru menimbulkan masalah besar. Tan Tjo Lat (Derry Oktami) sang wijkmeester alias “bek”: atau pejabat kepala kampung nan pongah dan congkak memanfaatkan perkara itu demi mendapatkan promosi menjadi kapitan Tionghoa, jabatan tertinggi yang bisa dipegang orang Tionghoa di masa kolonial. Si bek bikin rekayasa dan hoax dengan mengaku bahwa dia menangkap dua pemuda yang dimaksud. Alih-alih berhasil mengambil hati Komisaris Polisi De Stijf (Aryo Bimo), si bek malah kena tulah. Ternyata yang dibawa ke kantor polisi bukan tersangka yang sebenarnya. Alhasil, sang bek dibui.
- Pemberontakan Terhadap Sastra India
KISAH Panji terpahat pada dinding candi-candi Kerajaan Majapahit. Kemunculannya menunjukkan pemberontakan terhadap sumber-sumber bacaan India. Karsono H. Saputra, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia menjelaskan Kisah Panji berawal dari tradisi lisan yang muncul sebelum 1400 M. Kisah ini kian dapat panggung pada era akhir Majapahit. Setidaknya ia dijumpai dalam bentuk seni rupa, relief, arca dan seni pertunjukkan. “Beberapa candi punya relief Kisah Panji. Misalnya, Candi Gambyok, Candi Panataran, Candi Gajah Mungkur, Candi Yuddha, dan Candi Sakelir. Semuanya dibangun era Majapahit akhir,” ujar Karsono dalam acara seminar internasional Kisah Panji/Inao 2018 di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/7).





















