top of page

Hasil pencarian

Search this site

10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Darah 14 Suku di Tubuh Mira Lesmana

    MIRA Lesmana teringat peristiwa bullying yang dialaminya saat bersekolah di Australia dulu. Kakak kandung musisi Indra Lesamana ini mengaku sempat mendapat diskriminasi dari orang-orang sekitarnya. Terutama jika berada di luar lingkungan rumah dan sekolah. Mira berkulit gelap. Wajahnya tidak western seperti orang-orang Australia. Hampir setiap orang yang ditemui memberi pandangan aneh kepadanya. Sering kali di dalam bis saat hendak berangkat sekolah, Mira tidak diperbolehkan untuk duduk. “Dan mereka (anak-anak kecil) kebanyakan suka teriak-teriak: 'Keep Australia white',” tuturnya kepada Historia. Di Indonesia sendiri, Mira biasa dipanggil Si Ambon oleh kawan-kawannya. Padahal menurut cerita ayahnya, ia tidak mempunyai kerabat atau leluhur yang berasal dari Ambon, Maluku. Namun mengenai sebutannya itu, produser Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini mengaku tidak keberatan.

  • Ragam Cerita dari Tes DNA

    HISTORIA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional 15 Oktober–10 November 2019. Pameran ini menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia serta sejarah manusia ditinjau dari segi arkeologis dan antropologis. Pameran ASOI juga memaparkan sejarah DNA (Asam Deoksiribonukleat) dan bagaimana tes DNA bisa melacak asal-usul moyang seseorang. Untuk itu, Historia mengadakan serangkaian tes DNA terhadap sejumlah tokoh publik dari beragam panggung, dari politik sampai seni. Antara lain Ariel Noah, Grace Natalie, Najwa Shihab, Mira Lesmana, Riri Riza, Budiman Sudjatmiko, Ayu Utami, dan Hasto Kristiyanto. Hasil tes DNA tokoh publik tersebut ditampilkan secara gamblang dalam pameran ini. Juga tanggapan mereka tentang tes DNA dan hasilnya. Berikut ini sepenggal tanggapan mereka.

  • Asal-Usul Gen Asia Selatan Riri Riza

    RIRI Riza, sineas beken Indonesia, menghabiskan masa kecilnya selama sembilan tahun di Ujung Pandang (kini Makassar). Setelah itu, dia ikut orangtuanya ke Jakarta. Dia mengalami masa-masa rendah diri di awal menjadi anak baru di sekolah dasar di Jakarta pada 1979. “Saya sendiri punya perasaan inferior tentang asal-usul saya,” kata Riri Riza. Riri merasa tidak nyaman bercerita kepada teman-temannya tentang daerah asalnya. “Saya merasa ada semacam superioritas dari orang Jawa dibandingkan dari kami yang berasal dari Indonesia Timur,” tuturnya.

  • Mengurai Nenek Moyang Ayu Utami Via DNA

    JUSTINA Ayu Utami. Meski lahir dari orangtua asal Jawa, ia lahir dan tumbuh di lingkungan yang dominan orang Sunda. Maka perempuan kelahiran Bogor, 21 November 1968 itu pun kadang ia tak luput dari perundungan. “Sebagai orang Jawa, ya pernah sih saya di-bully. Karena saya tinggalnya di Bogor, kan daerah (orang) Sunda ya. Biasa pulang sekolah lewat di satu komplek perumahan yang dominan orang Sunda, suka dikatain: Jawa lu! Jawa kowek,” kata Ayu mengenang. Namun, Ayu jarang memasukkan perundungan itu ke dalam hati. Baginya, perundungan yang diterimanya tak separah yang diterima banyak temannya dari etnis Tionghoa maupun Arab.

  • Seperti Grace, Solihin Punya Gen Afghanistan

    SOLIHIN, seorang pedagang gorengan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak menyangka punya gen yang sama dengan Grace Natalie, Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia. Solihin memiliki 0,05% DNA Afghanistani, sedangkan Grace mempunyai 0,01% DNA Afghanistani. Solihin adalah salah satu responden Proyek DNA Historia. Laki-laki berusia 52 tahun ini merantau ke Jakarta sejak tahun 1989. Kampungnya berada di Randu Dongkal, Pemalang, Jawa Tengah. Setahu Solihin, jejak leluhurnya yang bisa ia ketahui berasal dari kampung yang sama. “Kalau kakek dan nenek dari Pemalang, Randu Dongkal. Waktu saya kecil nenek buyut sudah meninggal, jadi (kalau buyut) kurang tahu,” sebutnya.

  • Grace Natalie Ternyata Punya Gen Afghanistan

    GRACE Natalie, mantan jurnalis dan pembaca berita di sejumlah stasiun televisi, mengenang hari pertamanya bekerja sebagai jurnalis. Dia memperoleh perlakuan rasis dari sesama jurnalis. Saat itu dia berada di Cikeas, menunggu Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pernyataan kepada pers setelah terpilih menjadi Presiden Indonesia 2004—2009. Grace berwajah oriental. Kulitnya terang. Seorang jurnalis lelaki memperhatikan ini. Dia mendekati Grace dan berbincang sekadarnya. Lalu pernyataan mengganggu keluar dari jurnalis lelaki itu. “Ngapain Lojadi wartawan? Kenapa gakbuka toko aja?” kata jurnalis lelaki, sebagaimana cerita Grace kepada Historia. Ucapan jurnalis lelaki itu berbekas sangat dalam. “Teringat sampai sekarang,” kata Grace. Ucapan itu termasuk stereotip terhadap orang-orang keturunan Tionghoa. Stereotip berarti penilaian orang hanya berpijak pada keyakinan subjektifnya, yaitu pengalamannya semata.

  • Pernah Diolok Onta, Gen Arab Najwa Hanya 3,4 Persen

    KENANGAN itu muncul di ingatannya. Nana, sapaan akrab jurnalis Najwa Shihab, kembali teringat candaan teman-teman semasa kanak-kanaknya dulu. Onta, begitulah mereka memanggil Nana yang memang memiliki wajah dan darah Arab. Alih-alih tersinggung dengan olokan itu, putri cendekiawan muslim Quraish Shihab ini, menanggapinya biasa, malah mewajarkannya. “Itu yang kemudian saya rasakan berbeda dengan sekarang. Dulu rasanya santai-santai saja. Dipanggil julukan apapun yang berkaitan dengan orang tua atau garis keturunan, saya merasa hal yang wajar dan biasa, tidak pernah tersinggung, karena tidak pernah dilakukan untuk tujuan menyakiti. Hanya sebatas julukan atau bercanda anak kecil saja. Jadi saya tidak pernah terganggu dengan itu,” kata Nana. Siapapun yang melihat Nana pasti akan berpikir ia berasal dari keturunan Arab murni. Karena secara fisik Nana memang terlihat seperti kebanyakan orang-orang dari wilayah jazirah Arab, terutama bentuk wajahnya. Namun, apakah betul demikian? Historia mencoba menjawabnya.

  • Asal Gen Yunani-Siprus dalam DNA Ariel

    NAZRIL Irham atau yang populer disapa Ariel Noah mengaku kerap menerima celetukan “rasis” dari teman-temannya. “Ah pelit lu, Padang!” Begitulah celetukan yang jamak diterima oleh musikus kelahiran 16 September 1981 itu. Namun alih-alih menanggapi, Ariel tak ambil pusing dengannya. Ia menganggapnya semata selorohan saja. “Nggak sampai bully, hanya ejekan ringan,” kata Ariel pada Historia sambil terkekeh. Lahir di Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara, Ariel tumbuh sebagai remaja di lingkungan berbahasa Sunda di Bandung. Keluarganya berasal dari Sumatera. Ariel mengidentifikasi dirinya sebagai orang Padang. Garis leluhur dari pihak ibunya berasal dari Padang, sementara ayahnya campuran Padang-Batak. Kakek Ariel dari pihak ayah merupakan orang Padang dari Bonjol, sementara neneknya seorang Batak bermarga Siregar.

  • Elvis Menyanyi Dangdut

    PERNAH suatu masa celana cutbrai menjadi tren. Pedangdut Achmad Rafiq, yang meninggal 19 Januari 2013, didaulat sebagai orang yang mempopulerkannya. Dia memboyong goyang pinggul dan gaya kostum mencolok ke dangdut bersama celana panjang cutbrai khas yang dikenal sebagai “celana A. Rafiq.” Orang datang ke penjahit cukup bilang, “Tolong jahitin celana A. Rafiq. Orang (penjahit) sudah tahu. Itu tidak bisa hilang dalam sejarah,” kata A. Rafiq kepada Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Dilahirkan di Semarang pada 1949, A. Rafiq dibesarkan dalam keluarga religius yang memiliki leluhur dari Timur Tengah, India, dan Turki. Dia mahir membaca Alquran. Ketika dia memutuskan berkarier di dunia musik, keluarganya menentang. Tapi dia nekat. Dia pergi dari Semarang untuk bergabung dengan orkes Melayu Sinar Kemala di Surabaya.

  • Anjangsana Ahmad Subardjo di Negeri Persia

    IRAN sebagai pewaris Peradaban Persia kembali jadi tolok ukur pendidikan Islam secara menyeluruh dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES). Negeri yang sedang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel itu mampu bertahan berkat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. “Muslim Persia sudah menunaikan tugas kesejarahannya mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat. Maka mungkin inilah saatnya atau paling lama abad depan, adalah giliran Muslim Asia Tenggara,” ujar cendekiawan Din Syamsuddin dalam sambutannya pada gala dinner GIHES di Jakarta, sebagaimana disiarkan akun Youtube gontortv, Sabtu (6/9/2026). Tokoh pendidikan dari Muhammadiyah itu merujuk pada sejarah masa keemasan Islam (abad ke-8-abad ke-14). Persia sendiri melahirkan banyak tokoh yang sampai sekarang masih jadi rujukan sampai ke negeri-negeri Barat. Di antaranya matematikawan Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (780-850 Masehi) yang acap disebut “Bapak Aljabar” dan namanya diabadikan untuk “algoritma”. Lalu, Ibnu Sina (980-1037 Masehi) yang jadi pionir kesehatan modern.

  • Edutainment Kasih Paham Sejarah dengan Reenactment

    SANG dwiwarna sudah dikibarkan para pemuda dan rakyat jelata lepas pembacaan teks proklamasi. Tetapi belum lama menyesapi alam kemerdekaan, mereka digegerkan oleh kedatangan sebarisan prajurit bersenjata lengkap dengan mengusung bendera “Union Jack”. Dor! Dor! Dor! Bum! Letusan senjata dan ledakan pun menggema di halaman Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok), Jakarta. Di tengah situasi chaos, pasukan pejuang republik bermodalkan bedil-bedil rampasan serdadu Jepang menjawab tantangan itu. Nyawa mereka pertaruhkan karena tak rela pasukan Inggris sebagai kepanjangan tangan Sekutu itu menyokong kembalinya Belanda yang hendak’ balik menjajah bekas koloninya. Tetapi peristiwa itu bukan kejadian nyata yang terulang kembali, melainkan satu adegan dalam gelaran sosiodrama “Romansa Negeri” pada 16 Agustus 2023. Agenda Munasprok dalam memperingati HUT RI ke-78 itu dilakoni para reenactor (pereka ulang sejarah) lengkap dengan “impresian” atau seragam disertai atribut dan properti yang otentik sesuai masanya.

  • Gaza dalam Lintasan Sejarah

    BALASAN Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ke Jalur Gaza, Palestina lepas serangan roket Hamas pada 7 Oktober 2023 makin menggila. Tak hanya memutus semua akses kebutuhan hidup dasar untuk penduduk sipil Palestina, serangan-serangan IDF turut menyasar permukiman, kamp pengungsian, dan rumahsakit. Kementerian Luar Negeri Palestina dalam sejumlah posting-an di akun X-nya, @pmofa, pada Rabu (18/10/2023) mengungkapkan, sudah lebih dari tiga ribu jiwa yang tewas dan 12 ribu terluka. Jumlah itu sudah termasuk ratusan orang yang tewas kala Israel membombardir Rumahsakit Al-Ahli Arab atau Rumahsakit Baptist di pusat kota Gaza. Kecaman pun bermunculan. Tak hanya dari WCC atau Dewan Gereja Dunia tapi juga sejumlah badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “UNICEF mengecam keras serangan terhadap Rumahsakit Al Ahli Arab di Gaza yang menelan ratusan korban sipil yang tewas dan terluka. Kami menyerukan perlindungan terhadap semua warga sipil, termasuk anak-anak dan infrastruktur kebutuhan mereka. Kami mendesak gencatan senjata sesegera mungkin dan akses terhadap bantuan kemanusiaan,” ungkap badan dana amal anak-anak PBB di akun X-nya, @UNICEF, Rabu (18/10/2023).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page