top of page

Hasil pencarian

9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Riwayat Pertapaan di Lereng Gunung Ungaran

    HUTAN pinus, hawa sejuk, udara yang bersih, jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan yang ruwet. Di kawasan semacam itulah Kompleks Candi Gedongsongo berada. Secara berkelompok candi-candi dibangun di atas bukit dan mengikuti kontur lereng Gunung Ungaran. Jika hari cerah, Gunung Telomoyo, Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Sindoro terlihat di kejauhan. Kompleks Candi Gedongsongo terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, dan Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat, yang dapat diartikan sebagai rumah ( gedong ) yang berjumlah sembilan ( songo ). Keberadaan candi-candi ini diungkapkan kali pertama oleh Joan Gideon Loten, pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), pada 1740. Th. Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java  mencatat kompleks tersebut dengan nama “Gedong Pitoe” karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Penelitian yang dilakukan para arkeolog Belanda awal abad ke-20 menemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo. Saat ini hanya lima kelompok candi yang masih utuh. Letaknya berpencar. Dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah sampai Candi Gedong V yang tertinggi. Semua kelompok candi didirikan di puncak-puncak bukit yang berbeda. Keberadaannya dibagi menjadi dua oleh ngarai sedalam 50 m. Di sanalah mengalir mata air panas belerang. Gedong I, II dan III terletak di sisi timur ngarai. Sementara kelompok candi lainnya berada di sebelah baratnya. Candi-candi Gedongsongo ini bersifat Hindu-Siwa. Sebuah yoni masih ditemukan di ruangan Candi Gedong I. Yoni melambangkan Dewi Uma atau Parwati yang merupakan pasangan dari Dewa Siwa. Arca Durga Mahisasuramardini juga masih bisa dilihat di relung utara candi. Ada pula arca Ganesa di relung sebelah timur dan Agastya di relung selatan Candi Gedong III. Kendati tak ada prasasti yang menyebutkan masa pembangunan candi, berdasarkan ciri-ciri arsitekturnya, Candi Gedongsongo mempunyai Gaya Klasik Tua atau disebut pula Gaya Mataram Kuno. “Candi Gedongsongo diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sedikit lebih muda dari Candi Dieng, yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno,” sebut Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Tempat Bagi Para Pertapa Arkeolog Veronique Myriam Yvonne Degroot dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains” berpendapat, ada alasan kuat untuk bilang bahwa Candi Gedongsongo, dan juga Candi Dieng, tidak berdiri di tengah permukiman. Areanya begitu luas. Wilayahnya berada di ketinggian yang tak cocok untuk budidaya padi basah. Sudah begitu letaknya terpencil. Degroot menyimpulkan, lingkungan di sekitar Gedongsongo lebih cocok sebagai tempat semedi bagi para pertapa dan atau tempat ziarah. Lydia Kieven, arkeolog asal Jerman, dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit menulis keterpencilan gunung menarik peziarah yang mencari kesunyian untuk inspirasi dan memahami pengetahuan religius. “Kemungkinan besar, peziarah dari semua bagian masyarakat, khususnya anggota aristokrasi dan bahkan raja-raja, menyepi ke pertapaan guna mencari pengetahuan dan kekuatan spiritual,” tulis Lydia. Degroot punya alasan lain kenapa Gedongsongo layak sebagai tempat semedi. Dia mencermati ada beberapa tahapan pembangunan percandian ini. Berdasarkan orientasi, denah, dan dimensinya, Candi Gedongsongo III, IV, dan VI adalah yang paling awal dibangun. Sementara Gedongsongo I dibangun pada masa berikutnya. “Gedongsongo II dalam hal ini tidak pasti. Secara denah dan dimensi jelas berbeda dari Gedongsongo I, tetapi tidak serupa pula dengan Gedongsongo III, IV dan VI,” jelas Degroot. Tak ada pola yang jelas dalam perencanaan pendirian kompleks percandian ini. Hubungan antarbangunan tampak longgar atau, paling banter, tidak terencana. Sangat mungkin tempat-tempat ini berkembang secara organik dari inti bangunan asli, berbeda dari kompleks candi yang berpola konsentris seperti Kompleks Candi Prambanan yang seluruhnya direncanakan sejak awal. Selain itu, candi-candi Gedongsongo memiliki masa huni yang sangat lama. “Sebuah prasasti abad ke-14 lebih jauh memberi kesaksian bahwa Gedongsongo masih digunakan kala itu,” kata Degroot. Penanaman pohon di area Candi Gedongsongo lewat program Candi Darling. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Rawan Longsor Suasana hening di lereng gunung memang mendukung pelaksanaan ritual yang sempurna.Namunsayangnya, karakteristik kawasan Gedongsongo merupakan ekosistem Gunungapi Ungaran yang punya permasalahan, yaitu rawan longsor. Bencana ini juga mengancam bagi keberadaan candi-candi di sana. Menurut Asmara Dewi Balai, peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, dalam “Implementasi Manajemen Risiko dalam Konservasi Kawasan Cagar Budaya (Studi Kasus Kawasan Candi Gedongsongo)” dimuat Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2, Desember 2015, selain rawan longsor, kawasan ini rentan oleh perubahan status hutan produksi menjadi hutan wisata dan pertanian yang tak sesuai kemampuan lahan. Sayuran wortel, kol, rumput gajah merupakan tanaman musiman di sana. “Pemanfaatan pertanian musiman oleh warga setempat yang sebenarnya tidak dibolehkan karena tidak sesuai karakteristik lingkungannya,” lanjut Asmara. “Perlu penyesuaian jenis tanaman dengan memperhatikan teknik penanaman dan jenis tanah.” Deddy Erfandi, peneliti Badan Litbang Pertanian pada Balai Penelitian Tanah, dalam “Sistem Vegetasi dalam Penanganan Lahan Rawan Longsor pada Areal Pertanian”, dimuat pada Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan , menjabarkan soal penanganan longsor melalui pengelolaan vegetasi. Tanaman keras yang dijadikan sebagai pagar pada pertanaman semusim bisa menghambat aliran permukaan dan erosi. Perakarannya juga bisa menjadi pengikat struktur tanah. Upaya pelestarian kawasan Kompleks Candi Gedongsongo pernah dilakukan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan). Lewat program Candi Sadar Lingkungan (Candi Darling),mereka menanami areal Candi Gedong I dengan bambu jepang, hujan mas, pucuk merah, tabebuia rosea , pinus, cemara, puspa, serta akar wangi. Lalu di kawasan Candi Gedong IV ditanami pinus, cemara, puspa, dan akar wangi. Euthalia Hanggari Sittadewi, peneliti Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB), dalam “Peran Vegetasi dalam Aplikasi Soil Bioeningeering ” di Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 12 No. 2, Desember 2017,mencatat lereng yang tertutupi vegetasi seperti rumput dan bambu membuat lapisan tanah paling atasnya terlindungi. “Untuk kasus tertentu, di mana lereng sangat curam sulit ditanami tanaman besar, maka untuk menstabilkan lereng masih dapat dilakukan dengan penanaman tanaman perdu atau semak kecil,” katanya. Menurutnya, tanaman akar wangi atau rumput vertiver merupakan salah satu yang dapat mengendalikan erosi. Akar wangi mempunyai sistem penetrasi akar yang dalam dan kemampuan mengikat tanah yang baik dan dapat hidup pada berbagai jenis tanah. Dengan begitu apa yang dilakukan gerakan Candi Darling di Gedong Songo kala itu diharapkan bisa mengedukasi, khususnya kepada generasi muda, untuk bisa ikut merawat dan menjaga lingkungan. Salah satunya dengan menghijaukan situs-situs bersejarah warisan leluhur. Gerakan ini telah mengajak 250 mahasiswa ikut serta merawat Kawasan Gedong Songo. Mereka berasal dari 54 universitas di Indonesia, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, dan Universitas Negeri Semarang. Bagaimanapun, seperti misalnya diCandi Gedongsongo, situs bersejarah dan lingkungan sekitarnya merupakan kesatuan yang tak terpisah. Bukan hanya candi yang harus dijaga. Kawasannya juga mesti dipelihara. Program penghijauan kawasan candi, karenanya, patut dilanggengkan.Tentunya demi mencegah suasana yang dulu dibangun para pembuat candi-candi Gedongsongo itu sirna.

  • Ketika Dendam Hungaria Terhadap Soviet Terbalaskan di Australia

    Bersama teman-temannya di timnas polo air Hungaria, Ceszi Gyarmati, kapten tim, begitu antusias sore (6/12/56) itu. Mereka menunggu dimulainya laga semifinal polo air putra Olimpiade Melbourne 1956 yang akan mereka mainkan.  “Kami dipesankan harus menang, namun jangan berkelahi, jangan bertinju, dan jangan bermain kasar,” kata Gyarmati menirukan pesan pelatihnya, dikutip Suratkabar The   Age  edisi 7 Desember 1956. Tak hanya datang dari instruksi pelatih, tekad menang itu datang dari dalam diri masing-masing pemain karena lawan yang bakal mereka hadapi adalah Uni Soviet. Kurang dari sebulan sebelumnya, negeri pemimpin Blok Timur itu bertindak brutal memadamkan hasrat para pemuda-rakyat Hungaria untuk merdeka lewat aksi demonstrasi. “Pertandingan Olimpiade 1956 di Melbourne menawarkan kesempatan bagi Hungaria untuk membalas dendam terhadap Uni Soviet hanya sebulan setelah tank Soviet menghancurkan revolusi mereka dengan menyerang Budapest,” tulis Roger I. Abrams   dalam  Playing Tough: The World of Sports and Politics . Revolusi 1956 di Hungaria merupakan protes pemuda terhadap Republik Rakyat Hongaria yang menjadi kepanjangan tangan Soviet. Protes itu dimulai dengan aksi mahasiswa ke gedung parlemen di ibukota, Budapest, pada 23 Oktober. Mereka menuntut sistem politik lebih demokratis dan bebas dari penindasan Soviet. Aksi berubah menjadi kacau setelah sekelompok delegasi mahasiswa yang hendak menyiarkan tuntutan di kantor radio malah ditahan. Tuntutan pembebasan mereka oleh rekan-rekan demonstran justru dijawab dengan tembakan oleh aparat polisi rahasia Allamvedelmi Hatosag (AVH).   Kematian beberapa demonstran membuat kerusuhan segera menyebar. Para demonstran yang didukung rakyat segera membentuk milisi-milisi untuk memerangi AVH dan pasukan Soviet. Mereka membebaskan tahanan politik dan membunuh beberapa pemimpin AVH. Pemerintahan PM Andras Hegedus pun jatuh. Tuntutan para demonstran dikabulkan Partai Buruh Hungaria, yang pimpinannya direbut oleh para politisi pendukung aksi, lewat penunjukan kembali Imre Nagy –anggota partai yang dikeluarkan karena kritiknya terhadap kebijakan Stalinis– menjadi perdana menteri. Nagy melakukan sejumlah gebrakan dalam pemerintahan keduanya. Selain membubarkan AVH, Nagy meminta Soviet menarik pasukannya dari Hungaria, yang sudah berada di sana sejak usai Perang Dunia II; menyatakan keluarnya Hungaria dari keanggotaan Pakta Warsawa; dan ke dalam, menghapus aturan satu partai sebagai respon terhadap tuntutan perbaikan sistem politik lebih demokratis. Soviet yang merasa kehilangan kontrol atas Hungaria setelah kenaikan Nagy tak tinggal diam. Pada 4 November 1956, militer Soviet menginvasi Hungaria. Perlawanan gerilya yang datang dari para pemuda militan Hungaria segera dihancurkan pada 10 November, mengakibatkan tewasnya sekira 3000-an penduduk Hungaria dan pengungsian sekitar 200 ribu lainnya. Perlakuan kejam diberlakukan militer Soviet terhadap siapapun yang melawan, termasuk Nagy yang kemudian ditangkap dan digantung. Invasi dan kekejaman aparat militer Soviet itulah yang terpatri kuat dalam benak para anggota timnas polo air Hungaria. Invasi itu juga membuat tempat latihan mereka sampai dipindah mulai dari ke luar ibukota Budapest hingga ke Cekoslowakia. Kepastian mereka berangkat ke Olimpiade Melbourne didapat pada tanggal 30 Oktober ketika Nagy merestui keberangkatan mereka dengan misi mengusung Hungaria merdeka. Setelah itu, mereka tak mendapat berita lagi tentang situasi negerinya. Mereka baru dapat berita kembali, yang amat mengagetkan, setelah tiba di Melbourne pada 20 November. Meski benak mereka berkecamuk oleh berita buruk dari negerinya, tim polo air Hungaria berhasil bermain baik dalam olimpiade yang dibuka pada 22 November 1956 itu. Usai mengalahkan Amerika Serikat 6-2, mereka kemudian berturut-turut mengalahkan Jerman Barat dan Italia masing-masing 4-0. Kemenangan itu membawa mereka masuk ke semifinal, bertemu Soviet. Maka begitu mendapati lawan mereka di semifinal adalah Soviet, mereka begitu antusias untuk menang. “Mereka mulai menembak kami, para bajingan itu. Api dalam diri kami berdenyut sangat kuat,” kata Istvan Hevesi, anggota tim polo Hungaria, dikutip Simon Burnton dalam “50 Stunning Olympic Moments No7: Hungary v Soviet Union: Blood in the Water” yang dimuat theguardian . com . Meski pesan pelatih untuk bermain bersih terus dipegang masing-masing pemain Hungaria, mereka tetap mencari cara agar dapat memenangkan pertandingan melawan Soviet. “Kami membayangkan jika mereka akan marah, mereka akan mulai berkelahi, dan begitu mereka berkelahi mereka takkan bermain bagus dan jika mereka tak bermain bagus kami akan mengalahkan mereka, dan jika kami mengalahkan mereka kami akan memenangkan Olimpiade,” kata penyerang tengah Ervin Zador. Untuk dapat memenangkan pertandingan, para pemain Hungaria sepakat mesti menerapkan perang urat syaraf. “Saya memiliki cukup (kemampuan, red .) bahasa Rusia untuk melakukan apapun – kami menggunakan ucapan lisan, berharap mereka akan bereaksi secara fisik,” sambung Zador, dikutip Kirsty Reid dalam “Blood in the Water: Hungary’s 1956 Water Polo Gold” yang dimuat di bbc . com , 20 Agustus 2011. Ketika hari yang ditunggu tiba, 6 Desember, para pemain Hungaria telah siap secara mental. Mental mereka makin kuat dengan dukungan komunitas Hungaria di Melbourne yang datang ke stadion untuk menyaksikan laga tersebut. Begitu peluit tanda dimulainya pertandingan dibunyikan, pertarungan panas pun dimulai. Saling pukul dan tendang dari masing-masing tim mewarnai pertandingan tersebut. Wasit sampai mengeluarkan lima pemain akibat permainan kasar mereka. Suasana makin panas karena para fans Hungaria acap meneriakkan “Rusia pulang!” “ memainkan olahraga sama seperti mereka menjalankan hidup mereka –dengan kebrutalan dan mengabaikan fair play,” kata Zador sebagaimana dikutip Sheldon Anderson dalam The Politics and Culture of Modern Sports . Strategi para pemain Hungaria memancing emosi para pemain Soviet berjalan dengan baik. Mereka sudah memimpin 4-0, dua gol di antarnya dicetak Zador, ketika pertandingan masih menyisakan beberapa menit lagi. Namun di masa akhir  laga itulah Zador terlibat konflik dengan Valentin Prokopov. Akibatnya, bawah mata kanan Zador langsung ditinju Prokopov sehingga mengalirkan darah segar. Ketika Zador naik ke atas kolam, orang-orang Hungaria di stadion langsung marah tak terima. Sambil mencela dan meludahi para pemain Soviet, mereka menuju tepi kolam namun berhasil dicegah aparat keamanan yang memberi pengawalan pada tim Soviet. Wasit yang melihat langsung menghentikan pertandingan meski masih menyisakan beberapa menit. Hungaria dinyatakan menang. “Kami merasa kami bermain tidak hanya untuk diri kami sendiri tetapi untuk seluruh negara kami,” kata Zador, yang kemudian enggan pulang ke Hungaria setelah merebut medali emas usai mengalahkan Yugoslavia di final, dikutip Roger I. Abrams dalam Playing Tough: The World of Sports and Politics .

  • Operasi CIA di Indonesia dari Masa ke Masa

    CENTRAL Intelligent Agency (CIA) telah lama beroperasi di Indonesia. Berbagai peristiwa, mulai dari pemilihan umum pertama tahun 1955 hingga Peristiwa 1965 yang diikut penggulingan pemerintahan Presiden Sukarno, diduga turut melibatkan agen intelijen rahasia Amerika Serikat ini. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Dialog Sejarah “Spionase CIA dari Masa ke Masa” di saluran Youtube  dan Facebook   Historia , Kamis, 10 Desember 2020, menjelaskan bahwa embrio CIA bermula dari Office of Strategic Services (OSS), yang dibentuk pada 1942 untuk mengumpulkan informasi-informasi dari Uni Soviet. Namun, tampaknya hampir semua operasi OSS gagal. Bahkan, OSS sendiri malah diinfiltrasi oleh agen Inggris dan Soviet. OSS kemudian beralih target dari Uni Soviet ke negara-negara yang dianggap dekat dengan Soviet maupun negara-negara yang berideologi atau condong ke komunisme dan sosialisme. Setelah OSS dirombak beberapa kali, pada 1947 Amerika Serikat membentuk CIA. “Dalam perkembangan berikut, tujuannya diperluas. Tidak hanya melawan ideologi Soviet yang komunis tadi tetapi juga lalu memperjuangkan kepentingan ekonomi Barat,” jelas Baskara. CIA kemudian menjalankan berbagai operasi di negara-negara yang dianggap “kiri” dan memiliki pengaruh ekonomi. Pada 1953, CIA menjalankan operasi menurunkan Perdana Menteri Iran Mossadegh terkait isu nasionalisasi perusahaan minyak. Di Guatemala, pada 1954 CIA juga berhasil menjalankan misi melengserkan Presiden Jacobo Arbenz yang mendukung landreform . Di benua Afrika, pada 1961 CIA menjalankan operasi di Kongo untuk menggulingkan Patrice Lumumba yang dekat dengan Soviet. Pada tahun yang sama, di Kuba Fidel Castro juga dijadikan sasaran CIA namun gagal. Dan pada 1964, operasi CIA bershasil menjatuhkan Persiden Brazil Joao Gullard yang mendukung landreform  dan condong ke sosialis. Di Indonesia, redaktur Historia . ID  Hendri F. Isnaeni menyebut agen-agen Amerika Serikat telah diselundupkan sejak 1944 melalui Operasi Iceberg. Ketika Jepang sudah kalah, pada September 1945 agen OSS masuk ke Indonesia bersamaan dengan pendaratan pasukan Sekutu. Tujuan kedatangan agen OSS ialah untuk menggali informasi kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia. Namun, mereka pernah tak didengar oleh pemerintah Amerika Serikat karena pengaruh Belanda. Belanda menyebut para pemimpin Indonesia adalah komunis sehingga membuat Amerika mendukung Belanda kembali menduduki Indonesia. Padahal, menurut agen OSS sendiri, pemimpin-pemimpin Indonesia saat itu adalah para nasionalis. Amerika Serikat baru sadar bahwa pemerintah Indonesia saat itu bukan komunis setelah pecah Peristiwa Madiun. Agen CIA pertama, Arthur Champbell, kemudian dikirim ke Indonesia. Champbell kemudian memfasilitasi hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia terutama dalam urusan militer. Intervensi CIA di Indonesia terus berlanjut setelah itu. Pada Pemilu 1955, mereka membantu partai-partai Islam, rival Partai Komunis Indonesia (PKI). Operasi-operasi menjatuhkan Sukarno juga dijalankan. Yang paling menghebohkan adalah propaganda film porno Sukarno. “Sampai 1965, CIA terus melakukan operasi bagaimana caranya untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno yang dianggapnya cenderung ke kiri,” kata Hendri. Salah satu peristiwa yang secara gamblang memperlihatkan intervensi CIA di Indonesia ialah pemberontakan PRRI dan Permesta. Agen-agen CIA berkeliaran di Sumatra dan memasok senjata dengan operasi yang dinamakan Operasi HAIK. Namun, operasi yang medukung perlawanan terhadap pemerintah pusat ini gagal. Semenjak agen Allen Pope ditangkap, Operasi HAIK dibubarkan. Namun, menurut Baskara, satu hal penting di sini adalah bahwa AS kemudian menyadari bahwa Angkatan Darat ternyata anti-komunis. Dan sejak itu, sekira 2500 perwira AD disekolahkan di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Di Kansas, para perwira itu bertemu dengan perwira sejenis dari Brazil, Chile, hingga Argentina yang juga sama-sama disekolahkan. Mereka, kata Baskara, kelak menjadi bagian dari operasi CIA di negeri masing-masing. “Kalau misalnya ada kemiripan (penggulingan pemerintahan) antara Brazil, Indonesia, dengan Chile dengan Argentina, Bolivia, mungkin di situ titik temunya. Dan saya kira ini penting untuk digarisbawahi dan penting juga untuk diteliti menurut saya,” sebut Baskara. Baskara menegaskan bahwa penggulingan Persiden Brazil Joao Gullard pada 1964 menginspirasi CIA menggulingkan Sukarno pada 1965. Dalam konteks Brazil dan Indonesia, kedua negara sama-sama tengah menjalankan landreform . “Itu ancaman bagi Amerika. Maka dilakukan upaya untuk membantu menyingkirkan kelompok kiri. Presidennya yang kiri untuk diganti dengan sistem pemerintahan yang kanan dan pro-Barat dalam sistem ekonomi yang pro-modal asing,” ungkap Baskara. Peristiwa kelam 1965 yang berujung jatuhnya Sukarno kemudian menginspirasi penggulingan Salvador Allende di Chile pada 1973. Operasi ini bahkan dinamai Jakarta Method. Jurnalis Vincent Bevins meneliti dan menuliskannya dalam buku The Jakarta Method  (2020). Keberhasilan operasi di Chile berlanjut dengan Operation Condor. Burung kondor dipakai karena merupakan simbol Chile. Operasi ini merupakan operasi menyingkirkan aktivis-aktivis kiri di seluruh Amerika Tengah dan Amerika Selatan.*

  • Koneksi India Ahmad Subardjo

    AWAL tahun 1927, kongres antikolonial berlangsung di Burssel, Belgia. Sebanyak 21 negara dari 5 benua mengirimkan utusannya, baik resmi atau pun sekadar mengirimkan aktivis perkumpulan yang aktif menentang imperialisme. Utusan dari Indonesia juga turut hadir, dengan Bung Hatta sebagai ketua rombongan. Bersama empat orang lainnya, Bung Hatta duduk sebagai perwakilan Perhimpunan Indonesia. Kongres yang berlangsung dari tanggal 10-15 Februari 1927 di Istana Egmont tersebut membahas masalah-masalah kolonial dari berbagai sisi. Para utusan juga mengemukakan kondisi di negaranya masing-masing, dan dampak yang ditimbulkan kolonialisme terhadap kehidupan masyarakat di tanah airnya. Di akhir rapat, kongres membentuk “League against Imperialism and for National Independence” dengan sekretariat tetap di Berlin, Jerman. “Karena saya menaruh perhatian mengenai perkembangan dari kongres ini, yang saya anggap sangat penting dalam sejarah dunia, saya mengambil keputusan untuk mengamati kegiatan sekretariat tersebut dari dekat,” kata Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Ahmad Subardjo datang bersama utusan dari Perhimpunan Indonesia. Namun sewaktu rombongan kembali ke Belanda, dia memilih tetap tinggal di Jerman. Di sanalah kemudian Subardjo bertemu seorang tokoh dari India yang selama kongres cukup menonjol bernama Virendranath Chattopadhaya (akrab dipanggil Chatto). Chatto merupakan keturunan keluarga terkemuka di Bengal, India. Dia telah menetap cukup lama di Jerman sebagai orang buangan setelah usahanya menyelundupkan senjata dari Eropa ke India dalam suatu upaya penggulingan pemerintah Inggris pada waktu Perang Dunia I gagal. Dia dijatuhi hukuman mati. Tetapi entah bagimana caranya Chatto berhasil meloloskan diri dan akhirnya hidup dalam pengasingan di Jerman. Menurut Subardjo, kawan Indianya itu adalah seorang yang pintar, periang, menarik, serta mengesankan. Kegemarannya pun cukup unik: membaca dan menyanyikan sajak Hindu. Chatto bekerja di kantor Sekretariat Kongres Liga. Dia bertugas mengerjakan hasil-hasil konferensi dan menerbitkannya. “Kami menjadi kawan baik. Inilah sebabnya kenapa saya suka pergi ke Berlin karena mempunyai Chatto sebagai penduduk lama dari kota tersebut dan penunjuk jalan yang berpengalaman dan pemimpin,” ucapnya. Chatto memberi banyak pelajaran tentang perjuangan kepada Subardjo. Pernah satu waktu, Subardjo mendengar kabar tentang penangkapan kawan-kawannya di PI oleh pemerintah Belanda. Tanpa pikir panjang, dia mempersiapkan kepulangan ke Belanda. Menurutnya itu adalah suatu bentuk rasa setia kawan. Namun segera dicegah oleh Chatto. Dia menyebut perasaan seperti itu sangatlah baik, tetapi dalam politik terkadang emosi berlebihan tidaklah baik, hanya akan mencelakakan. Maka Chatto pun menawarkan sebuah solusi. “Mengapa tidak menghadiri konferensi Liga yang sedang kami selenggarakan,” ujar Chatto. “Kamu harus berbicara di sana mengecam tindakan-tindakan penindasan dari pemerintah Belanda.” Subardjo setuju. Dia lalu pergi ke Brussel pada pertengahan 1927. Di depan para peserta Liga, Subardjo memberikan pidato tentang penindasan yang dilakukan Belanda di negerinya. Para hadirin memberi kesan baik terhadap pidatonya itu. Dukungan pun mengalir kepadanya. Bahkan banyak yang mendoakan nasib baik untuk kemerdekaan tanah airnya. Selama di Berlin, Subardjo rupanya memiliki hubungan istimewa dengan koneksi-koneksi India-nya yang lain. Mereka datang langsung dari India dan memutuskan menetap di Berlin akibat kondisi gawat di negerinya. Satu yang cukup dekat dengan Subardjo adalah keponakan Chatto bernama Naidu. Dia tercatat sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Berlin. Naidu juga ternyata putra Ny. Saroniji Naidu, seorang tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di India. Anggota keluarga lainnya adalah Harindranath Chattopadhaya, adik Chatto. Harin, biasa Subardjo menyapanya, diketahui seorang yang berbakat di bidang kesusastraan. Karya-karya syairnya banyak diterbitkan di India. “Saya suka kepadanya. Dia sangat periang, dan bisa mengambil hati saya, dan sebagai penyair dia bersemangat tinggi. Tetapi ia juga suka kepada segala apa yang baik di dunia, seperti saya, dia juga suka makan enak dan mendengarkan musik populer di café-café atau restoran-restoran di Kurfurstendamm, Jerman,” kata Subardjo.

  • Angin Muson, Mesin Perkembangan Budaya

    Angin muson memungkinkan budaya dan pengetahuan berpindah tempat. Tanpa angin ini pertukaran budaya dan perdagangan maritim di Nusantara sulit terjadi. “Mesin dari perkembangan budaya itu sebetulnya angin muson,” kata Iwan Pranoto, profesor pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, dalam diskusi daring Jaya Suprana Show, berjudul “Mengintip Matematika Sriwijaya-Nalanda”, Selasa (8/12/2020). Secara geografis, wilayah Asia Tenggara merupakan kawasan strategis. Letaknya di pertemuan dua lautan, Samudra Indonesia dan Pasifik. Wilayahnya berada di tengah rute pelayaran India dan Tiongkok. Faktor ini membuat perannya penting dalam sejarah hubungan perdagangan maritim antara Tiongkok dan India. “Kalau Tiongkok menggunakan narasi jalur sutra, kemudian Indonesia menawarkan jalur rempah, yang fundamental sebenarnya angin muson itu,” lanjut Iwan. Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan Universitas Diponegoro,menjelaskan soal angin muson dalam tulisannya, “Peran Masyarakat Nusantara dalam Konstruksi Kawasan Asia Tenggara sebagai Poros Maritim Dunia pada Periode Pramodern” yang terbit di Jurnal Sejarah Citra Lekha , Vol. 5, No. 1, April 2020. Menurut Singgih, angin muson memungkinkan orang-orang yang menghuni wilayah itu mengambil bagian penting dari pelayaran dan perdagangan maritim internasional. Perubahan arah angin muson sangat bisa diprediksi. Perubahan arahnya terjadi secara periodik dalam setiap tahun. Karenanya, perubahan angin muson dijadikan patokan para petani dalam menanam produk pertanian dan perkebunan. Pun oleh para pelaut dalam pelayaran, perdagangan maritim, dankepentingan migrasi. Selama musim kemarau, sekira April sampai Oktober, angin muson bergerak dari timur dan tenggara menuju ke barat. Kecepatan tertinggi terjadi pada Agustus. Di bagian selatan Asia Tenggara atau di tengah kepulauan Indonesia, khususnya di kawasan Laut Jawa, transisi dari musim hujan (muson barat) ke musim kemarau (muson timur) dimulai lebih awal , yaitu pada Maret dan April. Selama pancaroba ini arah angin sering berubah-ubah. Lalu pada Oktober, arah angin mulai berubah hingga November. Pada Desember, angin barat mulai bergerak ke arah yang konstan. Kecepatan tertingginya terjadi pada Januari dan Februari. Dalam pelayaran dan perdagangan maritim pergerakan angin muson sangat menentukan. “Aktivitas pelayaran dan perdagangan secara reguler diuntungkan dari perubahan periodik yang disebabkan oleh angin muson ini,” tulis Singgih. Bertukar Ilmu dan Budaya Lokasi geografis Asia Tenggara yang sangat strategis, tak cuma berkaitan dengan ekonomi, tapi juga politik dan budaya. “Posisi geografis yang strategis ini telah menempatkan Asia Tenggara sebagai pintu masuk vital dalam hubungan kuno pusat ekonomi, politik dan budaya antara India dan Cina,” catat Singgih. Misalnya, jalur perdagangan yang mengikutsertakan Selat Malaka dan Samudera Hindia seringkali dihubungkan dengan kemunculan kekuatan politik Melayu dan Sriwijaya. Sebagaimana pendapat sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, pelayaran yang berdasarkan angin musim inilah yang mengakibatkan lahirnya bandar-bandar perdagangan. Posisi Swarnadwipa (Sumatra) pada era Sriwijaya berjaya, sekira abad ke-7 sampai ke-12, merupakan titik yang strategis dalam pelayaran dunia. Titik temu antarnegara inilah kemudian yang membuat Sumatra menjadi tempat singgah para pelayar dari berbagai negara. Para pelayar yang melakukan perjalanan dengan rute Tiongkok-India biasanya akan singgah di Sumatra. Minimal mereka menghabiskan waktu setengah tahun. Mereka mengikuti musim angin yang berganti enam bulan sekali. Angin ini pula yang membawa I-Tsing atau Yi Jing mampir tiga kali ke wilayah yang dia sebut Laut Selatan. I-Tsing merupakan biksu asal Tiongkok dari masa Dinasti Tang yang melakukan perjalanan ziarah ke India. I-Tsing mendarat pertama kali di Fo-shi (Sriwijaya) pada 672 setelah berlayar 20 hari dari Guangzhou. Kedua kalinya dia ke Melayu yang sudah menjadi bagian dari Sriwijaya , setelah belajar sepuluh tahun (675-685) di Nalanda. Ketiga kalinya, dia kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama lima tahun (akhir 689-695) setelah tanpa sengaja terbawa kapal ke Tiongkok pada 689. “I-Tsing itu terdampar berhenti karena badai.Pada 672 tujuan utamanya nggak ke Nalanda, nggak berencana singgah dulu ke Melayu,” jelas Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam dialog sejarah “Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi” live di kanal Youtube dan FacebookHistoria.id . Demikian halnya dengan kedatangan Atisha Dipankara Sri Jnana ke Swarnadwipa pada 1012-1024. Dia merupakan guru Buddha dari Kekaisaran Pala yang melakukan perjalanan ke Swarnadwipa dengan menumpang kapal pedagang. Tujuan Atisha adalah menerima ajaran langsung dari Sherlingpa Darmakirti, guru Buddhis dari Swarnadwipa yang tersohor pada masa itu. Melihat masanya, kata Junus Satrio Atmodjo, arkeolog yang kini menjadi bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB), abad ke-11 adalah era ketika perdagangan maritim Nusantara, khususnya Sumatra, begitu ramai. “Kalau lihat banyaknya temuan keramik Tiongkok, dari Dinasti Sung, perdagangan saat itu lagi seru-serunya,” kata Junus. Karenanya dengan kembali mengutip Iwan Pranoto, embusan angin muson membuat hubungan antarkawasan menjadi cukup mudah. Khususnya dalam hal pertukaran barang, ilmu, dan budaya.

  • Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah

    SECANTIK Aphrodite, sebijak Athena, segesit Hermes, dan sekuat Hercules. Begitulah William Moulton Marston menciptakan karakter perempuan dahsyat Wonder Woman. Lama tak beraksi di versi live action , superhero ber-alter ego Diana Princes yang muncul sejak 1941 itu comeback  di bawah naungan waralaba DC Extended Universe (DCEU) dalam Wonder Woman 1984. Jagat maya sontak heboh selepas pihak distributor Warner Bros merilis trailer  terbarunya, Senin (7/12/2020). Wonder Woman 1984  yang tertunda penayangannya akibat pandemi COVID-19, baru akan tayang di bioskop-bioskop terbatas di Inggris mulai 16 Desember 2020 dan 25 Desember 2020 di Amerika Serikat. Pemutaran secara global akan dilakukan via streaming  di HBO Max, juga pada 25 Desember 2020. Aktris cantik Gal Gadot untuk ketiga kalinya memerankan Diana Princes alias Wonder Woman. Gal nongol pertama kali dalam Batman v Superman: Dawn of Justice  (2016), dilanjutkan di Wonder Woman  (2017) dan Justice League  (2017). “Di film pertama ( Wonder Woman , 2017) menjadi awal kelahiran Wonder Woman dan untuk pertama kali dia mengenali kekuatannya sendiri. Dari sosok Diana, dia menjadi Wonder Woman. Di film pertama dia melihat kemanusiaan dari sisi luar dan vokal saat melihat kejahatan, dan menegaskan tentang bagaimana cara melawannya,” ujar Gal kepada The Beat , Sabtu (5/12/2020). Bedanya, dalam Wonder Woman 1984 karakter Diana Prince mulai memahami kerumitan kehidupan manusia di beragam aspek yang ia selami. Diana Prince berbagi penderitaan dan guncangan kehidupan hingga merasakan yang namanya kesepian, sebagaimana manusia biasa lain. Peran pertama sebagai Wonder Woman (2016) terjadi dalam versi live action setelah hampir empat dekade karakter itu menghilang. Dari sekian aktris yang di- casting Zack Snyder, sutradara Batman v Superman , Gal jadi pilihan utama setelah menyisihkan sejumlah nama seperti Élodie Yung dan Olga Kurylenko. “Seperti yang dibayangkan publik, kami sudah mencoba sekumpulan aktris. Namun yang saya lihat dari Gal adalah, dia kuat, cantik dan sosok yang ramah, di mana hal itu menjadi menarik karena di saat yang sama dia juga sosok yang garang. Kombinasi antara garang dan ramah itulah yang kami cari,” papar Snyder dalam wawancaranya dengan FilmInk , 5 Januari 2016. Gal Gadot sebagai Diana Prince/Wonder Woman (tengah) dalam Batman v Superman.  ( warnerbros.com ). Sebagaimana Ban Affleck yang banyak diprotes fans DC Comics, pemilihan Gal sebagai Wonder Woman pun awalnya setali tiga uang. Namun seiring produksi selesai dan Batman v Superman dirilis, kritik-kritik dan protes itu berbalik jadi pujian. Termasuk dari sineas Patty Jenkins yang menggarap Wonder Woman (2017). Wonder Woman sendiri merupakan proyek yang mangkrak sejak 1996. Setelah silih berganti dipegang sineas mulai dari Ivan Reitman, Jon Cohen, hingga Joss Wheldon, akhirnya rumah produksi Warner Bros menjatuhkan pilihan pada Jenkins dan masuk produksi pada 2015. Pun dengan para aktris yang akan memerankannya. Sejak 1996, bermunculan nama-nama kondang mulai dari Sandra Bullock, Mariah Carey, Catherine Zeta-Jones, Lucy Lawless, Kate Beckinsale, Angelina Jolie, Jessica Biel, Élodie Yung, Olga Kurylenko. Akhirnya pilihan jatuh kepada Gal. Aktris kelahiran Petah Tikva, Israel, 30 April 1985 itu tergolong junior di Hollywood. Debutnya baru dijalaninya pada 2009. Kepopuleran Gal melonjak setelah membintangi empat film waralaba Fast & Furious: Fast & Furious (2009), Fast Five (2011), Fast & Furious 6 (2013), dan Furious 7 (2015). “Mereka mencari hal yang sama seperti yang saya inginkan – semua nilai-nilai yang dimiliki Wonder Woman. Dia (Gal) berbagi setiap kualitas yang dipunyai Wonder Woman. Hal seperti itu jarang ditemukan. Dalam casting biasanya semua akan terkuak apakah orang itu akan sangat otentik dengan karakternya, hingga karakter itu sendiri diidentikkan dengan mereka, seperti Christopher Reeve (pemeran Superman era 1980-an) dan Lynda Carter (pemeran Wonder Woman 1975-1979),” kata Jenkins, sineas yang kembali menyutradarai sekuel Wonder Woman 1984, kepada majalah Playboy , 1 Juni 2017. Lynda Carter Kolase Wonder Woman kala diperankan Lynda Jean Cordova Carter. ( ABC /Instagram @reallyndacarter). Empat dasawarsa sebelumnya, karakter Wonder Woman dipopulerkan Lynda Carter hingga menjadi identik dengannya selama empat tahun. Aktris kelahiran Phoenix, Arizona, Amerika Serikat pada 24 Juni 1951 itu terjun ke dunia hiburan pasca-memenangi kontes kecantikan Miss World USA 1972. Warner Bros berada di balik pengorbitan karakter Wonder Woman yang sebelumnya  hanya eksis di media komik-komik terbitan DC Comics. Warner memulainya dengan pilot project bertajuk The New Original Wonder Woman yang penyutradaraannya dipercayakan pada Leonard Horn. Kepopuleran Lynda sebagai ratu kecantikan se-Amerika pada 1972 jadi salah satu faktor utama pemilihannya oleh produser Douglas S. Cramer lewat beberapa kali casting . Proyek pilot itu sukses kala diputar pertama kali oleh stasiun TV ABC pada 7 November 1975 yang berujung pada kelanjutan proyeknya sebagai film seri. Dalam tiga season serial Wonder Woman periode 1975-1979, reputasi Lynda Carter turut melonjak. Terlebih karakternya muncul seiring derasnya arus gerakan feminisme gelombang kedua (1960-an hingga 1980-an), di mana dua isu paling penting yang disuarakan adalah diskriminasi gender dan persamaan hak. Lynda adalah salah satu simpatisannya dari golongan selebriti. “Menurut saya Wonder Woman adalah juara sejatinya kaum feminis. Saya pikir dia memberi citra diri yang lebih baik bagi para perempuan,” tutur Lynda dikutip Carney Maley dalam artikelnya, “Bonding in the Air” yang dihimpun dalam Bound by Love: Familial Bonding in Film and Television since 1950. Namun, kepopuleran film seri Wonder Woman tak hanya mengidentikkan Lynda dengan perempuan super itu tapi juga membuatnya perlahan dijadikan simbol seks oleh kaum Adam. Penyebabnya ada pada kostum vulgar Wonder Woman yang dipakai Lynda. Kostumnya berupa korset merah dengan belahan dada terbuka dan underpant ketat bercorak bintang-bintang. Kostum itu dibuat hampir sama dengan yang ada dalam komik. Kostum Wonder Woman dalam komik sejatinya berubah-ubah dari masa ke masa. Di era “Golden Era” 1940-an, wujud kostum berupa korset dan rok selutut. Pada masa “Bronze Age” di awal 1970-an, kostum bertransformasi menjadi korset dan celana ketat, seperti yang digambarkan Lynda Carter dalam film serinya. Adapun di masa modern di bawah DCEU, sejak era “The New 52” (2011), kostum yang dipakai Gal Gadot seperti gladiator, berupa korset pelindung dada dan rok mini. “Saya tak pernah bermaksud menjadi objek seks siapapun kecuali suami saya. Saya tak pernah berpikir sebuah poster tubuh saya terpajang di toilet pria. Saya benci pria memandangi saya dan memikirkan apa yang mereka pikirkan. Dan saya tahu apa yang mereka pikirkan tentang saya,” tutur Lynda dikutip Herbie J. Pilato dalam Glamour, Gidgets, and the Girl Next Door: Television’s Iconic Women from the 50s, 60’s, and 70’s. Cathy Lee Crosby Cathy Lee Crosby memainkan karakter Wonder Woman dengan kostum berbeda. (IMDb). Walau Lynda Carter paling diidentikkan dengan Wonder Woman, toh dia bukan yang pertama. Figur pertama yang memerankan Wonder Woman di versi live action tak adalah Cathy Lee Crosby. Aktris kelahiran Los Angeles, 2 Desember 1944 itu merupakan atlet tenis profesional pada 1960-an. Dia gantung raket setelah terjun ke dunia hiburan lewat drama seri It Takes a Thief (1968). Cathy dipilih Douglas S. Cramer, salah satu bos Warner Bros, memerankan Wonder Woman sebagai film percontohan Wonder Woman (1974). Pemilihan tersebut ditentang penulis skenario Stanley Ross hingga akhirnya memutuskan keluar dan posisinya digantikan John D.F. Black. “Cathy Lee Crosby adalah (pilihan) keliru! Wonder Woman rambutnya gelap. Cathy perempuan baik. Tetapi dia orang yang salah untuk peran itu. Saya takkan mau melakukannya,” kata Ross dikutip Mark Phillips dan Frank Garcia dalam Science Fiction Television Series: Episode Guides, Histories, and Casts. Sebagai Wonder Woman, Cathy tampil dengan deskripsi berbeda dari komik. Selain rambutnya pirang, kostumnya pun serba tertutup. Maka saat dirilis lewat pemutaran perdananya di stasiun TV ABC , 12 Maret 1974, Wonder Woman berdurasi 75 menit itu rating -nya tak meledak. Padahal, akting Cathy terbilang menawan. Terutama pada adegan-adegan action , di mana Cathy juga belajar beladiri untuk peran itu. “Itu kisah fantasi. Jika Anda ingin melihat sesuatu yang mencerminkan kehidupan nyata, Anda salah. Karena semua orang pun tahu itu hanya fantasi. Namun ini adalah waktunya di mana perempuan harus berada di atas pria. Saya juga tak melihat diri saya sebagai simbol seks potensial. Akan sangat konyol berpikir bahwa saya hanya mengandalkan wajah cantik namun tak bisa berakting,” kata Cathy kepada Suratkabar The Ledger , 17 Maret 1974. Dalam wawancaranya dengan Inside Edition , 1 April 2016, Cathy minim  berkomentar soal perbandingan kostumnya dengan yang dipakai Lynda maupun Gal. “Oh…kostum saya lebih ‘menarik’ dan ‘berwarna’” katanya merujuk cuplikan Wonder Woman dalam seri yang dimainkan Lynda dan Gal dalam Batman v Superman . “Tapi adalah hal yang besar bahwa saya adalah (pemeran Wonder Woman) yang pertama,” tandasnya. Ellie Wood Walker Ellie Wood Walker tercatat jadi aktris pertama yang memerankan Wonder Woman pada 1967. ( Hero-A-Go-Go ). Cathy boleh saja mengklaim sebagai pemeran Wonder Woman pertama. Namun, dia pemeran Wonder Woman pertama yang naik tayang. Sejatinya, aktris pertama pemeran Wonder Woman adalah Ellie Wood Walker. Menukil Michael Eury dalam Hero-A-Go-Go: Campy Comic Books, Crimefighters & Culture of the Swinging Sixties , Ellie dilibatkan produser William Dozier, bos rumah produksi Greenway Productions, dalam film percontohan Who’s Afraid of Diana Prince? (1967). Film parodi berdurasi lima menit itu disutradarai Leslie H. Martinson. Dozier ingin mengangkat karakter DC Comic lain ke versi live action terinspirasi dari kesuksesan film seri Batman (1966-1968). Namun, setelah pilot project itu rampung, filmnya justru ditolak pihak distributor 20th Century Fox sehingga  gagal ditayangkan di manapun. Alasan penolakannya  antara lain, pihak distributor tak tertarik dengan sosok Ellie. Pun dengan jalan cerita yang tak identik dengan edisi komik manapun. “Kegagalannya terletak pada pundak produsernya. Dozier seperti tak punya pemahaman yang jelas tentang nilai-nilai yang diperjuangkan karakternya,” tandas Eury.

  • Kado Pahit Ulang Tahun Jenderal Moersjid

    Siti Rachma Moersjid akan menyiapkan jamuan besar. Dua hari lagi sang suami, Mayor Jenderal Moersjid merayakan ulang tahun ke-44. Tapi bak petir di siang bolong, hari itu mendadak berubah menjadi malapetaka. “Pada pagi hari 8 Desember 1969, ayah diminta menghadap Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan disitulah surat penahanan diberikan oleh KASAD, Pak Umar Wirahadikusuma,” tutur Siddharta Moersjid kepada Historia.id . Pada waktu itu, Moersjid baru saja mengakhiri masa dinasnya sebagai duta besar RI untuk Filipina. Setelah kembali ke Jakarta bulan Oktober, Moersjid dikembalikan ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tanpa jabatan. Kabar yang beredar, Moersjid terlibat konflik dengan Marshall Green, asisten menteri luar negeri Amerika Serikat urusan Timur Jauh. Insiden itu hampir berujung baku hantam sehingga Moersjid dipanggil pulang ke Indonesia. MBAD bukan tempat yang asing bagi Moersjid. Pada 1962, dia pernah menjadi orang nomor dua di sana ketika menjabat Deputi 1/Operasi Menteri Panglima Angkatan Darat. Waktu itu, pucuk pimpinan Angkatan Darat masih diemban Letnan Jenderal Ahmad Yani. Sepulangnya Moersjid dari Filipina, semuaya berubah. Rezim telah berganti dari Presiden Sukarno ke Jenderal Soeharto. Pimpinan Angkatan Darat kini dijabat oleh Umar Wirahadikusumah. Pemanggilan Moersjid juga berkaitan dengan upaya pihak militer menjadikannya saksi sehubungan dengan rencana untuk mengadili Sukarno. Bagi sebagian kalangan, Moersjid disebut-sebut sebagai salah satu jenderal yang pro-Sukarno. Jenderal Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru menyebutkan bahwa Moersjid adalah seorang perwira tinggi pengaggum Bung Karno. Dan sebaliknya, kata Nasution, Sukarno begitu mempercayai Moersjid. Entah intrik politik apa yang terjadi di belakang layar, tiada seorang pun yang mengetahui. Seperti diungkapkan sesepuh TNI AD Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia.id , “rupanya ada orang-orang di sekitar Presiden Soeharto yang menganggap Pak Moersjid seorang Sukarnois.” Sayidiman sendiri tidak tahu persis siapa “pembisik” tersebut. Kendati demikian, kejadian yang menimpa Moersjid pada 8 Desember 1969 masih terekam jelas dalam memori putranya, Siddharta. Saat itu, Siddharta baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, Moersjid sang ayah bergegas keluar rumah, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. “Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” demikian pesan pamit dari Moersjid. Sementara itu, ibunda Siti Rachma terpaku mengiringi kepergian sang suami. Air mata-nya meleleh di pipi.    “Saya selalu ingat, karena tanggal 10 Desember adalah ulang tahun Ayah. Dan saat Ayah saya kembali ke rumah untuk ambil pakaian dan pamit sama Ibu, saat itu Ibu sedang mempersiapkan masakan untuk tanggal 10,” kenang Siddharta. Hari itu jadi momen duka bagi Moersjid sekeluarga. Rencana selamatan ulang tahun dua hari lagi pupus seketika lantaran Moersjid berangkat ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo. Selama empat tahun Moersjid mendekam dalam tahanan tanpa melalui proses pengadilan. Peristiwa itu begitu mengecewakan hati sang istri sehingga dia memusnahkan semua atribut militer milik Moersjid lengkap dengan lencana dan tanda jasa. Sampai saat ini, mengapa Moersjid dijerumuskan ke dalam penjara rezim Orde Baru tetap menjadi tanya yang belum terjawab bagi keluarganya. Apalagi siapa yang terlibat di dalamnya pun masih seperti kabut gelap. Ketika Moersjid ditahan, tidak banyak informasi yang diperoleh oleh keluarganya. Moersjid sendiri hingga akhir hayatnya masih dikejar pertanyaan, “Siapa yang telah memfitnah diriku?” seperti dicatat wartawan senior Julius Pour dalam obituari Moersjid di Kompas , 25 Agustus 2008. Secercah terang barangkali dapat terkuak bilamana surat pemanggilan Moersjid ke Indonesia ditemukan. Surat tersebut berasal dari Kementerian Luar Negeri yang waktu itu dijabat oleh Adam Malik. “Banyak sekali yang saya tidak dapatkan,” kata Siddharta. “Yang sampai sekarang ingin saya ketahui adalah surat Pak Adam Malik saat memanggil pulang Ayah.” Keluarga besar masih berharap, suatu saat keadilan sejarah bagi mendiang Moersjid akan tersingkap. Dengan demikian, periode paling kusut dalam sejarah politik Indonesia ini perlahan-lahan kian benderang.

  • Mental Korupsi Pejabat Pribumi

    Salah seorang menteri dalam Kabinet Indonesia Maju lagi-lagi tersandung kasus korupsi. Setelah sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, kali ini penyalahgunaan kekuasaan dilakukan Menteri Sosial Juliar Peter Batubara. Ia bersama empat lainnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atas penyelewangan dana bantuan sosial penanganan Covid-19. Dugaan tindak korupsi itu terbongkar lewat Operasi Tangkap Tangan KPK pada Minggu (06/12/2020). Dilansir CNN Indonesia , para penyidik KPK berhasil mengamankan uang tunai sekitar 14,5 miliar rupiah dalam berbagai bentuk pecahan uang. Diketahui Juliar meminta jatah 10 ribu dari setiap paket bantuan senilai 300 ribu. “Itu uang rakyat, apalagi ini terkait dengan bansos, bantuas sosial dalam rangka penanganan covid dan pemulihan ekonomi nasional. Bansos itu sangat dibutuhkan untuk rakyat,” ujar Presiden Joko Widodo seperti dikutip laman resmi Sekertaris Negara RI. “Saya tidak akan melindungi yang terlibat korupsi dan kita semua percaya KPK bekerja secara transparan, secara terbuka, bekerja secara baik, profesional,” lanjutnya. Masyarakat pun ramai mengecam tindakan menteri sosial itu. Di media sosial Twitter , banyak masyarakat yang mengungkapkan kekecewaan terhadap penyelewengan dana bantuas sosial tersebut. Tindakan Juliari dan sejumlah pejabat di Kemensos begitu melukai kepercayaan rakyat. Terutama di tengah situasi bencana saat ini. Dalam sejarah, praktik memperkaya diri pernah menjadi bagian dari masyarakat tradisional Indonesia. Tindakan tersebut kerap dilakukan oleh pejabat tinggi dan bangsawan pribumi abad ke-17 sampai abad ke-19. Mereka menggelapkan dana pembangunan wilayah, hasil penggarapan tanah serta pajak yang disetorkan kepada pemerintah Belanda. Bahkan praktek tersebut dilakukan pula oleh pemilik lahan kepada para pekerjanya. Menurut Erlina Wiyanarti dalam Korupsi Pada Masa VOC dalam Multiperspektif , mental korup erat kaitannya dengan mental loyal terhadap keluarga, desa, atau kelompok berdasarkan agama, bahasa, etnik, dan kasta, baik di level lokal maupun nasional. Hal itu terlihat pada masyarakat Jawa abad ke-17 sampai ke-18 yang menganggap nilai-nilai solidaritas utama dilakukan pada sanak saudara dahulu, baru kemudian lingkungan masyarakat. Di dalam kehidupan bangsawan kala itu, kata Erlina, banyak orang menggantungkan hidup kepadanya. Tidak hanya sanak saudara terdekat, tetapi para abdi dan pelayan juga ada dalam tanggungan para bangsawan tersebut. Maka tidak heran, meski para bangsawan berusaha hidup sederhana, kebutuhan sehari-hari tetap banyak. Itulah yang membuat mereka terkadang harus berhutang kepada pejabat Belanda atau menggelapkan harta demi menyambung hidup. “Tradisi loyal terhadap family dalam budaya masyarakat Jawa merupakah salah satu etika kebangsawanan,” ungkap Erlina. “Kewajiban dia sebagai pegawai publik kepada kantornya adalah kewajiban kedua dari kewajiban mereka kepada keluarga dan komunitasnya. Loyalitas model tersebut jelas telah menjadi salah satu akar dari tumbuhnya bahkan menguatnya mental dan perilaku korup.” Ironinya, ada juga bangsawan dan priyayi yang melakukan korupsi karena kebiasaan mengikuti gaya hidup seorang raja. Sebagai pemilik kursi tertinggi birokrasi tradisional, kedudukan raja jelas lebih tinggi dari bangsawan. Mereka memiliki hak atas segala kemewahan yang ada di atas tanah kuasanya. Sedangkan seorang bangsawan memiliki derajat kemewahan yang terbatas. Meski begitu tidak sedikit dari mereka yang berusaha menghadirkan gaya hidup istana ke tempatnya. Sehingga memunculkan hasrat untuk terus mendulang harta yang terkadang tidak didapat dari jalan biasa. Dijelaskan Marwati Djoened Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia , lahan untuk para perjabat dan bangsawan berbuat culas begitu lebar. Mereka biasanya dipercaya oleh penguasa daerah untuk mengurusi pengelolaan lahan, upeti, hingga pemungutan pajak. Dengan tidak adanya pengawasan yang jelas, para pejabat bebas melakukan penyelewengan di dalam tugasnya tersebut. Seperti terjadi di wilayah Priangan antara abad ke-17 hingga abad ke-18, yang bupatinya banyak berprilaku korup. Erlina menyebut jika para bupati kala itu melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan diri sendiri dan memeras rakyatnya. Mereka seringkali membayar sangat rendah usaha para petani kopi, sementara mereka memperoleh harga tinggi dari para pejabat VOC. Harga perpikul kopi pun terkadang dinaikkan oleh para pejabat korup tersebut. “Para bupati itu –karena terikat oleh adat istiadat untuk menyokong sebagian besar sanak saudara dan sejumlah besar pengikut mereka dengan penghasilan yang bertambah itu, yang sering kali menyebabkan mereka menghabiskan lebih banyak uang daripada yang bisa mereka peroleh– segera jatuh dalam utang berat yang harus mereka bayar dengan bunga satu persen sebulan,” kata Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia . Keserakahan akan harta dan miskinnya integritas para pejabat, imbuh Erlina, merupakan mental yang menyuburkan korupsi. Namun dari perspektif budaya, yang dalam hal ini budaya Jawa di masa lalu, ia juga mencatat bahwa tindakan korupsi akibat gaya hidup hedonis tidak bisa disamakan dengan pengertian korupsi modern yang rasional. Ketika kekuasaan bertumpu pada pola birokrasi patrimonial, penyelewengan harta akan dianggap sebagai hal yang lazim dilakukan para pemilik kekuasaan. “Masyarakat Jawa yang feodal menganggap segala tindakan yang kini dianggap merupakan tindakan korupsi adalah sesuatu yang wajar, artinya selama masyarakat berpandangan seperti itu maka hal demikian tidaklah dilihat sebagai sesuatu yang salah,” kata Erlina.

  • Gerakan Anti-Gundul Pelajar Masa Jepang

    Matahari bersinar terik pagi itu. Wajah murid-murid Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Jakarta penuh peluh. Mereka masih senam pagi atau taiso bersama seorang guru di lapangan. Mereka kelihatan senang meski lelah. Ini kebiasaan baru murid sekolah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tujuannya agar murid lebih disiplin dan fisiknya kuat.   Seorang pengawas sekolah ( minami san ) lalu memanggil guru di lapangan. Dia menyampaikan SMT Jakarta akan memberlakukan aturan kepala gundul untuk guru dan murid-murid lelaki. Guru meneruskan informasi itu ke para murid. Karuan wajah murid-murid lelaki berubah muram. Aturan menggunduli rambut berlaku umum di tiap jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. “Kita harus gundul seperti keadaan mereka,” kata Daan Jahja, mantan murid sekolah umum, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi dalam Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang mengalaminya . Tapi sekolah swasta seperti pesantren tak wajib mengikutinya. “Di sekolah agama kami belajar waktu itu, Balige, kami diberi kebebasan berpakaian seperti pakaian pemuda sekarang, celana panjang, baju putih, rambut tidak usah gundul, dan berpeci, tidak diharuskan memakai pakaian sebagaimana chugako  yang harus memakai pakaian Jepang,” sebut Darwis Abdullah, mantan murid sekolah swasta di Balige, Sumatra Utara. Menurut orang Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. “Hal demikian sudah menjadi tradisi di Jepang kali itu,” kata Eddy Djoemardi Djoekardi dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945. Kebijakan menggunduli kepala itu juga tak lepas dari orientasi pendidikan mereka di Indonesia. “Tujuan pendidikan pada zaman Jepang di Indonesia adalah menyediakan tenaga-tenaga buruh kasar secara cuma-cuma ( Romusha ) dan prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan Jepang,” catat Setijadi dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1974. Jepang semula menerapkan penggundulan kepala kepada murid-murid sekolah dasar, lalu menengah, dan mahasiswa perguruan tinggi. Sebermula murid-murid lelaki menerima saja kebijakan ini. Lagipula kalau tak mau gundul, mereka tak boleh masuk ke sekolah. Belakangan pengawas sekolah Jepang dan orang-orang Jepang seringkali bertindak memaksa dan main kasar. Pukulan kerap melayang kepada guru-guru dan murid yang dianggap bersalah. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Operasi penggundulan kepala itu sampai melibatkan tentara seperti menimpa mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran). “Pihak Jepang membawa sejumlah serdadu lengkap dengan senjata yang siap tembak. Tentu di antara mahasiswa ada yang mau dan ada yang tidak mau. Yang kontra mulai mangkir-mangkir ke kuliah dan bergabung dengan kelompok gerakan bawah tanah,” lanjut Eddy. Dari sini muncul penolakan terhadap penggundulan kepala ini secara luas. Antara lain dari murid-murid SMT Jakarta. Ada murid pelopornya, tapi dirahasiakan. “Karena di antara siswa SMT ada juga kaki tangan Jepang,” tambah Eddy. Dukungan anti-gundul muncul pula dari guru-guru bangsa Indonesia. Mereka mencoba memberi pengertian kepada pengawas sekolah Jepang bahwa rambut itu sakral bagi sebagian besar orang Indonesia. “Sehingga disentuh saja tidak boleh,” terang Eddy. Tapi pengawas Jepang justru tambah berang mendengar penjelasan itu. Dia menganggap alasan itu hanya dibuat-buat. Senyampang itu, dia menarik dan menjambak rambut guru tersebut ke belakang. Bruk. Guru itu jatuh ke lantai. Pengawas itu lalu berteriak pada murid lelaki. Murid perempuan juga kena hardik. Dia menganggap murid perempuan ikut mendukung gerakan anti-gundul di SMT. “Kami anak-anak perempuan ikut mendukung dan mogok belajar,” ungkap Indraningsih Wibowo kepada Eddy dalam Jembatan Antar Generasi. Akibatnya mereka semua kena hukuman. Karena gerakan anti-gundul ini, situasi SMT Jakarta sempat tegang. Sebagian kecil murid lelaki memilih jalan tengah dengan mencukur pendek rambutnya. Tapi tak sampai gundul. Sebagian besar mereka tetap berambut seperti biasa. Mereka berjaga di pintu masuk sekolah untuk melarang masuk murid-murid gundul. Sekolah akhirnya meliburkan aktivitas belajar-mengajar selama beberapa hari. Para murid, guru, dan orangtua sempat cemas dengan keputusan libur itu. Mereka mengira pengawas sekolah melaporkan urusan ini ke Kempeitai atau polisi rahasia Jepang yang terkenal suka menyiksa. Kecemasan mereka kian besar setelah mendengar Abdul Fatah, salah satu murid anti-gundul di Jakarta, dibawa ke rumah seorang penilik sekolah ( Shidokan ) selama sebulan. “Secara berganti-ganti diinterogasi oleh orang-orang Kempeitai ,” terang Eddy. Tapi kekhawatiran mereka sirna. Tak ada laporan ke Kempeitai . Pengawas sekolah mengalah dengan membiarkan murid-murid lelaki berambut seperti sediakala. “Kemenangan ada di pihak SMT Djakarta,” kenang Eddy.    Pendudukan Jepang di Indonesia berakhir pada 1945. Aturan sekolah pun berubah. Tak ada keharusan gundul pada masa revolusi. Malah rambut gondrong dipandang sebagai simbol perjuangan. Sebab para murid ikut berjuang ke palagan. Tak ada waktu untuk mengurusi rambut. Semakin gondrong, semakin berjuang.

  • Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua

    Pada awal 1927, ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) hendak lahir, Sukarno mendapat kiriman buku dari kawannya Samuel Koperberg. Meski baru membuka-buka halamannya, Sukarno sudah terkesan dengan buku De held en de schare  (Pahlawan dan Kawanan) karya Henriëtte Roland Holst itu. “Dan sekarang saya punya kesan bahwa ini buku yang bagus, ditulis oleh seseorang penuh semangat revolusioner seperti H. Roland Holst. Gairah ini sudah menyenangkan si pembaca; komunis atau sosialis, revolusioner atau konservatif. Iya kan?/bukan begitu?” tulis Sukarno dalam suratnya kepada Koperberg, 28 April 1927. Sukarno kelak membaca buku-buku lain Henriëtte seperti Kapitaal En Arbeid In Nederland  yang kini koleksinya tersimpan di Museum Kepresidenan Balai Kirti. Nama Henriëtte kemudian juga kerap disebut Sukarno seperti dalam Indonesia Menggugat  dan Sarinah . Sementara, para tokoh Perhimpunan Indonesia (PI) seperti Mohammad Hatta dan Ali Sastroamijoyo juga punya ikatan sendiri dengan Henriëtte. Politikus Militan Henriëtte Roland Holst lahir pada 24 Desember 1869 di Noordwijk, Belanda dengan nama Henriëtte Goverdina Anna van der Schalk. Ia adalah seorang sosialis militan sekaligus penyair dan penulis terkemuka pada paruh pertama abad ke-20. Pemikiran Henriëtte banyak dipengaruhi oleh Karl Marx melalui Das Kapital . Pada 1897 ia bergabung dengan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda). Henriete menjadi salah satu propagandis utama partai. Tak hanya aktif di Belanda, Henriëtte  juga malang melintang di kancah politik internasional. Ia bersahabat dengan Rosa Luxemburg dan Leo Trotsky, dua revolusioner yang kemudian dia tulis biografinya. Henriëtte  menerbitkan karya monumentalnya Kapitaal en Arbeid In Nederland (Capital and Labour) pada 1902. Meski sempat menarik diri dari politik sejak 1912, ia kembali aktif karena menentang Perang Dunia I. Henriëtte  juga ambil bagian dalam Konferensi Zimmerwald di Swiss pada 1915, tempat pertemuan sosialis internasional pertama digelar untuk menyerukan perdamaian dunia. Pada 1918, Henriëtte bergabung dengan Partai Komunis Belanda. Ia mengunjungi Russia pada 1921 dan menghadiri kongres Komunis Internasional. Namun, sejak itu ia justru mencatat kekecewaan terhadap situasi di Russia. “Sejak tahun 1918 dia memainkan peran utama dalam gerakan komunis Belanda, tetapi pada tahun 1927 dia keluar dari partai tersebut untuk mendukung sosialisme yang berwarna religius,” tulis Jaqueline Bel dalam Women’s Writing from the Low Countries 1880-2010 An Anthology. Dari Belanda, Henriëtte menaruh perhatian pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dekat dengan para mahasiswa PI. Moh. Hatta adalah salah satu anggota PI yang cukup mengenal perempuan yang kerap disapa Tante Yet itu. Keduanya sering bertemu dalam perdebatan yang membahas kolonialisme di Indonesia. Hubungan mereka masih terjalin ketika Hatta kembali ke Indonesia dan diasingkan ke Banda Neira. Dalam suratnya kepada Johannes Eduard Post, Hatta bahkan meminta bantuan Eduard Post untuk mendapatkan buku Das Kapital jilid II dari Henriëtte. “Apakah ibu Holst bisa membantu dalam hal ini. Dia kenal seluruh karya Marx dan tidak butuh Marx lagi untuk perkerjaan dia. Buat perkerjaan teoretis saya, saya membutuhkannya,” tulis Hatta kepada Eduard Post, 8 September 1939. Ali Sastroamijoyo juga punya kesan sendiri terhadap Henriëtte. Dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali bercerita sering mendapat buku dari Henriëtte dan sering mendengar pidato-pidatonya dalam berbagai pertemuan di Belanda. “Terkenal sebagai seorang sosialis berhaluan kiri, meskipun sosialismenya berdasarkan keagamaan . Sudahsejak kamidipenjara dia menaruh simpati pada pergerakan kita. Sering saya menerima buku dari dia yang berguna sekali untuk mengisi waktu saya di sel,”tulis Ali . Ali mengenang Henriëtte sebagai seorang singa podium. Ketika berpidato di depan kaum buruh, misalnya, Henriëtte selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ali terkesan dengan ini mengingat Henriëtte adalah seorang penyair. Penyair Sosialis Soal kepenyairan, sastrawan M.R. Dayoh punya pengalaman sendiri tentang Henriëtte. Ketika menjadi guru di Malang, ia membuat puisi-puisi bertema kelaparan dan kemelaratan. Malangnya, karena puisi-puisnya ia dimutasi dari Christelijke Kweekschool ke Ambonse School. Namun puisinya terus disebarkan di kalangan pegawai Pangreh Praja hingga sampai kepada Domine Jensen, seorang kepala gereja dan pecinta sastra. Jansen memuji puisi Dayoh yang menggunakan bahasa Belandaitu dan menyarankan Dayoh untuk menghubungi Henriëtte  agar mendapat bimbingan. Dayohpun kemudian bersurat kepada Henriëtte dan ternyata mendapat sambutan baik. “Permintaan Dayoh itu diterimanya dan Dayoh menganggap Henriëtte Roland Holst sebagai ‘ibu angkatnya’ dengan sebutan ‘Induk Ayam Belanda yang Tua’," tulis Anita K. Rustapa dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia, 1920-1950. Sejak itu, Dayoh makin dekat dengan Henriëtte melalui surat-menyurat. Dayoh kemudian mendapat hadiah buku-buku karangan Henriëtte seperti Het Eeuwige voor dan Tussen Tijd en Euwigheid. Menilik karya-karya Henriëtte, Jacqueline Bel menyebut jejak kepenyairan Henriëtte tak lepas dari pandangan politiknya. Tentu saja sosialisme menjadi topik utamanya. “Koleksinya dapat dibaca dengan sempurna sebagai produk sastra otonom, tetapi juga mencerminkan perkembangan politiknya. Dalam De Nieuwe Geboort (The New Birth), koleksi keduanya dari tahun 1902, misalnya, ia menggambarkan pelukannya terhadap sosialisme dalam puisi-puisi yang penuh harapan akan masa depan,” tulis Jacqueline Bel. Sajak-sajak Henriëtte ternyata telah menembus belantara hutan Digul, Papua, tempat para perintis kemerdekaan dibuang sejak 1926. Sajak Henriëtte muncul ketika Aliarcham meninggal. Pada sebuah papan tulis hitam, sajak Henriëtte dibubuhkan, menemani kepergian salah satu pemimpin komunis itu. Sebait sajak Henriëtte juga ditemukan dalam buku catatan di saku celana Subianto, adik ekonom Soemitro Djojohadikusumo yang menjadi salah satu prajurit yang gugur dalam Pertempuran Lengkong, Tangerang (1946). Selain puisi dan naskah drama, Henriëtte menulis biografi tokoh-tokoh seperti Jean-Jacques Rousseau (1912), Leo Tolstoy (1930), Romain Rolland (1946), dan Mahatma Gandhi (1947). Selama Perang Dunia II, Henriëtte aktif dalam perlawanan terhadap Nazi terutama melalui puisi-puisinya. Henriëtte alias Tan Yet, “ Sang Induk Ayam Belanda yang Tua” itu meninggal pada 21 November 1952 di Amsterdam.

  • Konsep Toleransi Mohammad Natsir

    Oktober 1967. Ketegangan antar umat Islam dan Kristen terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal bulan itu, sekitar 20 gereja dan sekolah Kristen dirusak oleh sekelompok pemuda. Disinyalir perusakan dilakukan sebagai buntut pernyataan seorang guru sekolah Protestan di kota itu yang menghina agama Islam. Sebelumnya, Juni 1967, gesekan antar umat juga terjadi di Meulaboh, Aceh Barat dan Sumatera Selatan. Sebuah gereja di masing-masing daerah dibakar oleh penduduk Muslim. Pemicunya adalah pembangunan gereja itu dianggap tidak pantas karena dilakukan di tengah pemukiman Muslim yang hanya dihuni oleh sedikit umat Kristiani saja. “Sejak naiknya Orde Baru, hubungan umat Islam dan Kristen di Indonesia memperlihatkan perkembangan baru. Jumlah konflik Islam-Kristen menanjak tajam, terutama dalam bentuk penutupan, perusakan, dan pembakaran gereja,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi, dkk dalam Kontroversi Gereja di Jakarta . Kala itu, pembakaran gereja di Makassar menjadi isu nasional. Pemerintah berusaha keras mencari solusi penyesaian masalah yang ditakutkan terus menyebar. Tokoh-tokoh dari kedua agama pun diminta memberikan penjelasan dan membantu menyelesaikannya. Satu tokoh Muslim yang paling “diburu” tanggapannya terkait kejadian itu adalah Mohammad Natsir. Saat peristiwa pembakaran terjadi, Natsir tengah melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Mantan ketua Partai Masyumi itu baru tiba di tanah air pada Rabu, 4 Oktober 1967, tiga hari pasca kejadian. Setiba di Jakarta, beberapa wartawan media massa segera menyambangi kediamannya. Di antara wartawan yang mewawancarainya adalah J. Lasut dari Sinar Harapan . Diceritakan Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia , Lasut langsung menanyai soal tanggapan Natsir tentang tindakan pengrusakan gereja. Dengan spontan Perdana Menteri ke-5 Indonesia itu menjawab: “tidak baik”. Tetapi Natsir juga menekankan bahwa kejadian itu sebagai satu ekses. Begitu pula kegiatan kristenisasi terhadap orang-orang Islam merupakan satu ekses. Natsir lalu mengaitkannya dengan prinsip Pancasila, yang menyatakan adanya kebabasan menganut agama. “Ini bukan berarti bahwa mengkristenkan orang-orang Islam itu sesuai dengan Pancasila. Kalau toh mau berlomba-lomba akan mengembangkan agama masing-masing itu silahkan dilakukan di kalangan bangsa Indonesia yang belum menganut suatu agama. Kalau orang Islam dikristenkan, itu bertentangan dengan prinsip itu,” ujar Natsir. Natsir juga mempertanyakan pendirian gereja di Meulaboh, yang menurutnya di tempat itu hampir tidak dijumpai penduduk Kristiani. Ia menganggap bahwa kekuasaan materi dan keuangan yang dimiliki orang-orang Kristen bisa digunakan untuk upaya kristenisasi umat Islam yang kala itu hidup dalam kemiskinan. Kelemahan seperti itulah yang bisa menjadi ancaman bagi umat Islam Indonesia. Sebagai contoh, Natsir menyebut jika di Yogyakarta pernah ada pembagian beras oleh orang-orang Kristen kepada penduduk Muslim yang miskin dengan menganjurkan para penerima masuk Kristen. “Kebebasan seperti itu adalah satu ekses, sebagaimana merusakkan gereja-gereja yang dimaksud itu juga adalah satu ekses pula. Dan kalau hal-hal seperti itu diteruskan, maka berakhirlah Pancasila sebagai platform atau mimbar bersama,” lanjut Natsir. Perihal peristiwa pembakaran gereja, Natsir sadar bahwa hal itu pasti melukai umat Kristiani. Tetapi ia meminta kejadian tersebut jangan dilihat dari gejala yang terlihat saja, harus ditelusuri juga persoalan-persoalan yang ada di baliknya. Ibarat seorang sakit malaria, kepalanya panas, lantas diberi kompres es, tidaklah akan menghilangkan penyakitnya itu. Perlu dicari penyebab utama penyakit agar penanganannya tepat, karena kondisi panas hanyalah suatu gejala dari malaria saja. Kepada para wartawan, Natsir menegaskan agar identitas orang-orang Islam jangan diganggu. Begitu juga sebaliknya. Baginya, perdamaian nasional hanya dapat tercapai jika tiap golongan agama menghormati identitas golongan lain. Di samping sekuat tenaga memelihara identitasnya masing-masing. “Jiwa Kristus yang begitu murni jangan dipakai untuk tujuan yang tidak murni dan ikhlas jangan sampai menjadi sutau peaceful aggression , suatu penyerangan bersemboyan damai,” ucap Natsir. Pemerintah sendiri melakukan berbagai upaya mediasi untuk menyelesaikan konflik antar umat beragama di Makassar tersebut. Salah satunya mengadakan pertemuan pada 30 November 1967, bertajuk “Musyawarah Antar Umat Beragama”, di Jakarta. Menurut Andi Rahman Alamsyah, dkk dalam Gerakan Pemuda Ansor: Dari Era Kolonial hingga Pascareformasi , pemerintah mengundang tokoh-tokoh Islam dan Kristen untuk duduk bersama membahas penyelesaian masalah tersebut.

  • Serangan Udara Amerika yang Tergesa-gesa

    Kemarin, 4 Desember, 37 tahun silam, ada yang tak biasa di langit Bikfaya, 15 mil timur Beirut, Lebanon pada pagi. Dari rumahnya, Joe Cherabie melihat langit lebih terang dan berisik dari biasanya. Situasi mencekam. “Langit penuh dengan asap bola api dan tembakan anti-pesawat. Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan,” ujarnya sebagaimana dimuat The New York   Times , 5 Desember 1983.  Apa yang dilihat Joe merupakan pertempuran udara antara pesawat-pesawat AL Amerika Serikat (AS) melawan senjata-senjata anti-pesawat yang ditembakkan milisi-milisi Muslim yang didukung militer Syria. Pertempuran dibuka oleh AS sebagai pembalasan atas serangan bom terhadap barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut pada 23 Oktober 1983.  Kebaradaan pasukan AS di wilayah itu –sejak Agustus 1982– sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pasukan perdamaian itu dibentuk pada 19 Maret 1978 untuk memastikan penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon sehingga bisa memulihkan perdamaian. Lima hari sebelumnya, 14 Maret, militer Israel menginvasi Lebanon Selatan dengan alasan untuk memulihkan keamanan akibat seringnya dijadikan sasaran serangan oleh PLO. Sejak akhir 1960-an, militer Israel dan milisi PLO saling serang di Lebanon Selatan. Intensitas konflik meningkat setelah Israel memutuskan mendukung milisi Katolik Maronite dan milisi Kristen lain untuk merebut kekuasaan di Lebanon Selatan. Dengan dukungan itu Israel berharap dapat mengusir PLO dan mengeliminasi pengaruh Syria agar dapat mendudukkan Bachir Gemayel, pemimpin milisi Kristen, ke kursi penguasa Lebanon. Dengan begitu, Lebanon pro-Israel akan terbentuk. Namun, PLO yang disokong Syria –sekutu Uni Soviet– di samping Hezbollah dan milisi Islam lain tak pernah menghentikan perlawanan. Perang saudara di Lebanon pun berjalan mengerikan dengan banyak korban sipil. Bahkan milisi Druze, Syiah, dan Amal sepakat bahwa Amerika harus pergi dari wilayah konflik. Pasukan perdamaian PBB pun tak dapat berfungsi efektif. Banyak personil pasukan perdamaian malah jadi korban serangan baik dari kubu pasukan Israel maupun lawannya. Pada pagi 23 Oktober 1983, bom yang diangkut truk milisi Muslim Lebanon menghancurkan barak Marinir AS di Bandara Internasional Beirut. “Bom tersebut, menghasilkan kawah sedalam delapan kaki di lantai beton bertulang, menewaskan 220 Marinir dan 21 personil medis AL dan puluhan personil lain yang ditugaskan sebagai pasukan pendarat,” tulis Robert W. Love dalam History of the US Navy: 1942-1991 . Serangan terhadap pasukan AS berhenti sampai situ saja. “Sepanjang November, posisi Marinir AS di Bandara Internasional Beirut menjadi sasaran serangan penembak jitu serta serangan mortir, artileri, dan roket,” tulis David Locke Hall dalam The Reagan Wars: A Constitutional Perspective on War Powers and The Presidency . Meski begitu, militer AS tetap memilih bertahan. Berbeda dari militer Prancis yang sampai mengusulkan kepada AS untuk membentuk pasukan gabungan guna menyerang barak Baalbek, AS hanya memindahkan sebagian pasukannya ke kapal-kapalnya yang berlabuh di lepas pantai Beirut. Saat opsi serangan udara balasan sudah dikeluarkan Presiden Ronald Reagan pun, militer AS tetap berupaya menentangnya. Gabungan Kepala Staf maupun sejumlah jenderal lapangan, terutama panglima Marinir Jenderal Kelly yang khawatir pasukannya akan jadi sasaran lebih jauh, beranggapan bahwa serangan balasan hanya akan membuat pasukan AS di Lebanon dijadikan sasaran lebih jauh. Opsi pembalasan Reagan dikeluarkan setelah sebuah pesawat F-14 AL AS yang melakukan pengintaian rutin di atas Lebanon hampir dimangsa tembakan anti-pesawat dan rudal SA-7 milik Syria. Meski sempat ditentang sejumlah jenderalnya, opsi itu akhirnya dilanjutkan. Skema serangan udara itu pun dibuat dengan tergesa-gesa. “Diberitahu sebelumnya bahwa perintah serangan mungkin akan turun setiap saat, komandan udara angkatan laut di tempat kejadian, Laksamana Muda Jerry Tuttle, di atas kapal induk USSIndependence memulai perencanaan serangan menggunakan pesawat baik dari Independence maupun USSJohnF. Kennedy dengan target waktu maksimal pukul 11.00 waktu setempat keesokan paginya,” tulis Benjamin S. Lambeth dalam The Transformation of American Air Power . Sempat diinterupsi oleh European Command AS –bermarkas di Stuttgart, Jerman Barat– agar misi serangan udara dimulai pada pukul 06.30 pagi, serangan udara AS akhirnya dijalankan berdasarkan skema yang dibuat Tuttle dan Deputy Chief of Naval Operation Laksamana Madya James Lyons namun dengan waktu yang dimajukan. Menjelang pukul 8.00 waktu setempat, 28 pesawat –terdiri dari A-6 Intruder  dan A-7 Corsair – dari kapal induk USS Independence dan USS Kennedy berangkat menuju sasaran. Target mereka adalah situs radar Syria di dekat Beirut dan dua titik tempat dikerahkanya hampir 30 peluncur rudal mobil Syria. Sepanjang perjalanan menuju target, pesawat-pesawat mendapat beragam tembakan anti-pesawat dari darat. “Pesawat-pesawat AS melaporkan tembakan anti-pesawat dan peluncuran rudal SA-7 dan SA-9,” tulis David Locke. Tak satupun dari mereka yang tersentuh peluru lawan. Sebaliknya, pesawat-pesawat serbu AS itu berhasil mengebom situs pertahanan anti-serangan udara di Pegunungan Shuf dan Metu, timur-laut Beirut. Satu tempat penyimpanan amunisi, satu situs anti-pesawat, dan sebelas target lainnya juga berhasil dihancurkan. Yang terpenting, tulis Robert W. Love, “Serangan itu telah merusak situs radar dan melumpuhkan dua baterai rudal, tetapi Syria berhasil memperbaiki radar itu dan beroperasi dua hari kemudian.” Namun, dalam perjalanan kembali ke kapal induk, pesawat-pesawat itu mendapat serangan lebih hebat. Saksi mata Zouk Mikhael mengatakan bahwa sepasang pesawat AL AS yang hendak kembali usai menyelesaikan misi di pegunungan timur Beirut terus memuntahkan bola api ( flare ) agar membingungkan rudal-rudal pencari panas yang ditembakkan Syria. Perlawanan terhadap pesawat-pesawat AS juga disaksikan Joe Cherabie dari rumahnya di Bikfaya. “Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan. Mereka melakukan setidaknya dua kali melewati sasaran di belakang pegunungan. Ketika pesawat-pesawat itu kembali menuju laut, salah satunya terkena rudal, mulai berasap dan jatuh ke arah Beirut,” ujarnya sebagaimana dikutip The New York Times. Pesawat yang jatuh di dekat Pelabuhan Beirut itu merupakan pesawat A-7 Corsair yang dihantam rudal SA-7 saat hendak kembali ke USSIndependence . Pilotnya, Commander Edward T. Andrews, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar dan kemudian diselamatkan seorang nelayan sebelum dijemput helikopter AL yang membawanya ke Independence .   Pesawat AL kedua yang menjadi korban adalah A-6 Intruder kursi ganda yang berpangkalan di USS John F. Kennedy . Baik pilotnya, Letnan Mark Adam Lange, maupun navigatornya, Letnan Robert Goodman, berhasil keluar dari cockpit menggunakan kursi lontar saat pesawat mereka dihantam rudal. “Namun parasut Lange malfungsi dan dudukan kursi lontarnya mengamputasi kakinya ketika dia menyentuh tanah,” tulis Robert Love. Akibatnya, Lange kehabisan darah dan meninggal di tengah kepungan milisi lawan. Sementara, Goodman ditawan milisi tersebut dan dijadikan bahan propaganda oleh Syria di Lebanon. Goodman dibebaskan sebulan kemudian setelah kandidat presiden dari Demokrat Jesse Jackson berkunjung ke Lebanon dan menegosiasikan pembebasannya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page