Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Haji Agus Salim di Mata Natsir
PADA 1950, Indonesia kembali mengubah bentuk pemerintahannya dari Republik Indonesia Serikat (RIS) ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Masyumi Mohammad Natsir ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai perdana menteri. Jabatan itu menjadi yang tertinggi bagi Natsir sekaligus yang pertama. Kabinet Natsir mulai menjalankan aktivitas kenegaraannya pada September 1950. Dalam Biografi Mohammad Natsir, Lukman Hakiem menyebut ada tiga tokoh yang mempengaruhi alam pikir seorang Natsir, yakni: Ahmad Hassan (pendiri Persis), Syaikh Ahmad Soorkati (pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyah), dan Haji Agus Salim. Jika Ahmad Hassan adalah guru di bidang keagamaan, Agus Salim diakui Natsir sebagai guru di bidang politik. “Dalam mata rantai generasi kepemimpinan umat Islam Indonesia, M. Natsir adalah penerus kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto (1882-1934) dan H. Agus Salim (1884-1954). Karena itu dapatlah dikatakan bahwa sikap dan jejak langkahnya adalah kelanjutan sikap dan jejak langkah umat terdahulu,” tulis Thohir Luth dalam M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya.
- Kipas Hitam
SETELAH Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Departemen Propaganda (Sendenbu) di bawah pimpinan Hitoshi Shimizu berusaha melakukan perlawanan. Dia mendirikan perkumpulan rahasia Ular Hitam, berisi orang-orang Indo-Belanda bermarkas di Bogor; Chin Pan, menampung orang-orang Tionghoa; dan yang terpenting adalah Kipas Hitam. “Kipas Hitam dibentuk untuk mempersiapkan orang-orang Indonesia melakukan perang kemerdekaan di bawah bimbingan Jepang,” tulis Joyce C. Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang. Menurut Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol, Shimizu adalah seorang propagandis profesional yang memulai kariernya di China pada 1930-an. Dia kembali ke Jepang pada 1940 dan bergabung dengan Persatuan Pembantu Pemerintahan Kekaisaran (Taisei Yokusankai), organisasi massa bentukan pemerintah Jepang, yang kemudian menjadi model bagi Jawa Hokokai. Dia juga bergabung dengan Toa Remmei (Federasi Asia Timur).
- Dari Syal hingga Dasi
Muasal Penggunaan Syal Syal sekarang identik dengan fesyen. Ia digunakan sebagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Namun, siapa sangka dulu syal lebih sering digunakan lelaki ketimbang perempuan? Pada masa Romawi Kuno, lelaki diketahui kerap melilitkan sepotong kain di leher. Tujuannya untuk menyeka keringat. Ini sesuai dengan namanya, sudarium atau kain keringat. Tak heran, banyak yang memandang Romawi sebagai tempat muasal syal. Setelah kerap dipakai lelaki, barulah perempuan ikut melilitkan syal di leher. Umumnya, syal terbuat dari wol dan sutra. Sementara itu, di Tiongkok syal digunakan untuk mengukur kedudukan seseorang, terutama dalam pemerintahan dan militer. Pada abad ke-17, beberapa tentara Eropa melilitkan kain katun di lehernya untuk membedakan dengan tentara lainnya. Fungsi Kipas bagi Penguasa Beberapa abad lampau, kipas tak sekadar penyejuk badan kala cuaca panas. Kipas juga menunjukkan kemegahan. Penguasa Romawi Kuno biasa mempekerjakan budak-budak untuk mengipasi mereka. Tradisi ini terus bertahan di Eropa hingga Abad Pertengahan. Ratu Inggris Elizabeth I (1558–1603) tercatat gandrung terhadap kipas. Ia hampir tak bisa lepas dari kipas kesayangannya, terbuat dari bulu burung nan indah. Batu pualam atau kulit kerang menambah keindahannya. Louis XVI (1754–1793) tak mau kalah. Penguasa Prancis ini memiliki koleksi kipas yang berhiaskan intan berlian dan emas. [Hendaru Tri Hanggoro] Jas untuk Acara Resmi dan Santai Khalayak Eropa biasa menggunakan jas sejak abad ke-18. Dan memang awal penggunaannya ditujukan untuk acara resmi. Dress-coat atau frock coat adalah jas resmi pas badan yang bagian belakangnya memiliki ekor, sedangkan bagian depannya berbentuk meruncing atau kotak. Tapi itu berubah pada abad ke-19. Sejumlah pria mengenakan setelan jas baru untuk bersantai, disebut lounge. Potongannya yang tidak resmi membuat setelan lounge sangat populer di kalangan seniman, bohemian, dan intelektual. [Hendaru Tri Hanggoro] Fungsi Dasi di Masa Lampau Sehelai kain yang menjuntai dari leher hingga dada ini sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Biasanya dipakai oleh juru bicara. Fungsinya sebagai pelindung tenggorokan dan dada. Mereka melilitkan seikat kain dari leher hingga ke dada untuk menjaga kualitas suara. Mereka menggunakan dasi kala berkumpul di agora, sebuah forum publik. Agora berlangsung dalam koloseum atau teater besar. Sementara di Tiongkok dasi berfungsi sebagai aksesoris prajurit. Prajurit Kroasia mengikuti cara ini pada abad ke-17 M. Dasi menjadi pembeda satu divisi tentara dengan divisi lainnya. Pada era Renaisans, masyarakat Eropa mengenal ruff, kerah kaku dari kain putih menyerupai piringan yang melingkari leher. Pemakaian ruff yang kerap menyebabkan iritasi tergeser oleh cravat, sehelai sapu tangan terbuat dari bermacam jenis kain yang diikatkan ke leher. Penggunaan cravat mencuat di Prancis pada medio 1600-an. Ia diperkenalkan orang-orang Kroasia yang jadi tentara sewaan Raja Louis XIII. Sehingga, kata cravat pun berarti “penduduk dari Kroasia”. Keindahan cravat mewarnai gaya berbusana di Eropa. Ia pun menjadi penanda status sosial si pemakai, hingga menjadi dasi yang kita kenal hari ini. [Martin Sitompul]
- Bertahan Hidup di Tanah Bencana
LIANGAN, berjarak 8 km dari Puncak Sindoro. Menyimpan jejak peradaban yang tumbuh fase demi fase sejak abad ke-6. Namun, erupsi hebat Gunung Sindoro menguburnya pada abad ke-11. Liangan merupakan kompleks permukiman di lereng timur laut Gunung Sindoro, tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs arkeologi ini terdiri dari permukiman luas dan kompleks. Di dalamnya ditemukan hunian, peribadatan, dan pertanian. Sugeng Riyanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Situs Liangan: Ragam Data, Kronologi, dan Aspek Keruangan”, Berkala Arkeologi Vol. 35 Edisi No. 1 Mei 2015, menjelaskan erupsi Gunung Sindoro menyebabkan Situs Liangan terkubur oleh aliran piroklastik bercampur dengan awan panas dan aliran lava yang terus berlangsung itu kemudian disusul dengan aliran lahar dingin dan membentuk Kali Langit yang akhirnya memisahkan bangunan-bangunan di Situs Liangan yang awalnya satu kesatuan.
- Bermukim di Tanah Bencana
KISAH hilangnya sebuah desa di wilayah yang kini bernama dusun Liangan terpatri di benak Istiarso, juru jaga Situs Liangan. Dia mendengar kisah turun-temurun kalau di wilayah itu pernah ada sebuah desa, bahkan pasar yang ramai, sebelum akhirnya terkubur bencana letusan gunung berapi. Berdasarkan kajian geologi yang dilakukan Isa Nurnusanto, geolog dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, materi vulkanik Gunung Sindoro adalah faktor utama yang mengubur permukiman Liangan Kuno. “Untuk sementara disimpulkan ada dua bencana yang pernah melanda Situs Liangan dengan tingkat rendah-sedang hingga tingkat tinggi,” tulis Isa dalam artikelnya, “Catatan Geologis Geologi Situs Candi Liangan” yang dimuat di Liangan, Mozaik Peradaban Mataram Kuno di Lereng Sindoro suntingan Novida Abbas.
- Menggali Liangan, Peradaban yang Hilang
MENDUNG bergelayut di atas Liangan, sebuah dusun di Temanggung, Jawa Tengah. Di tengah lahan pertanian, di sebuah lahan seluas sekira 6.000 meter persegi, terhampar kotak-kotak galian dengan pembatas semacam garis polisi. Tak ada aktivitas penambang pasir yang biasanya ramai. Tak ada pula aktivitas penggalian arkeologis yang mencoba menyibak misteri kejayaan masa lalu dusun itu. Sejak beberapa tahun belakangan ini, warga dusun dibuat penasaran dengan penemuan sisa-sisa rumah panggung, candi, dan artefak lainnya. Bayangan tentang desa yang hilang akibat gunung meletus, yang pernah mereka dengar turun-temurun, kembali muncul. Dahulu kala, di lereng timur laut Gunung Sindoro, berdirilah sebuah keraton yang diperintah seorang penguasa yang dikenal dengan sebutan Gopati –di masa kini mungkin merujuk pada bupati. Menurut kisah, hidup Sang Gopati begitu tercela. Ia gemar main perempuan.
- Nasi dalam Centhini
DIET mengurangi konsumsi nasi sedang tren belakangan ini. Banyak yang meyakini, mengurangi karbohidrat dari nasi membuat tubuh semakin sehat. Ahli Gizi UGM Rahadyana Muslichah mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan karbohidrat saat diet tidak hanya bisa didapat dari nasi putih saja. “Variasikan dengan bahan pangan lain seperti singkong, ubi, atau beras merah yang mengandung serat,” kata Rahadyanan, dilansir dari berita ugm.ac.id, 11 Januari 2022. Pada 2012, Pemerintah Kota Depok bahkan mengeluarkan peraturan, SK wali kota Depok No. 010/27-um, yang menganjurkan warganya tidak mengonsumsi nasi setiap hari Selasa. Melalui program ber-tagline “One Day No Rice”, warga Depok diharapkan mencari alternatif makanan mengandung karbohidrat seperti umbi-umbian. Konon, peraturan itu terinspirasi dari kesuksesan program serupa di Korea Selatan.
- Nasi Sejak Dulu Kala
SAAT itu pukul enam pagi. Penduduk Desa Rukam bergerak ke tempat upacara, duduk berkeliling di halaman menghadap batu sima dan kulumpang. Pagi itu, acara peresmian desa sebagai penerima augerah sima digelar. Beragam penganan sudah siap. Ada skul paripurna timan dan beragam lauk pauk. Semua dipersilakan mencicipi. Begitu Prasasti Rukam mengisahkan pesta rakyat yang terjadi ribuan tahun lalu (829 saka/907 M). Bukan cuma mencatat bagaimana jalannya upacara penetapan sima, prasasti itu juga menyebutkan beragam penganan yang disediakan ketika acara berlangsung. Yang paling menarik adalah penyebutan skul paripurna timan. "Skul paripurna atau nasi paripurna kalau di prasasti itu seperti nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya," jelas Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ketika ditemui di kantornya.
- Antara Kartu Merah Balogun dan Garrincha
MIMPI tuan rumah Amerika Serikat (AS) untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 kandas. Senasib dengan dua co-host lainnya, Kanada dan Meksiko, Timnas AS gugur di babak 16 besar. Kendati tetap memainkan bintangnya yang sempat diprotes banyak pihak karena sebelumnya terkena kartu merah, Folarin Balogun, AS tetap dipecundangi Belgia, 1-4. Kala AS meladeni Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar di San Francisco Bay Area Stadium, 2 Juli 2026 (WIB), Balogun dikartu merah di menit ke-62. Wasit Raphael Claus asal Brasil mengganjar striker yang berkarier di klub Prancis, AS Monaco, tersebut dengan kartu merah setelah menginjak engkel kanan bek Bosnia-Herzegovina Tarik Muharemović. Dengan kemenangan 2-0 atas Bosnia, AS mestinya meladeni Belgia di perdelapan final –di Seattle Stadium, 7 Juli 2026 (WIB)– tanpa Balogun. Sebagaimana aturan kartu merah, si terhukum otomatis dilarang tampil di laga berikutnya. Namun, Presiden AS Donald Trump yang tak terima –menganggap kartu merah kepada Balogun tidak adil– langsung mengintervensi dengan menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino.
- Kriuk Sejarah Kerupuk
MENTERI Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu memastikan Indonesia akan membeli sebelas unit pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia senilai Rp15 triliun. Pembelian ini dengan cara barter berbagai komoditas. Menariknya, salah satu produk yang akan dibarter adalah kerupuk. Mungkin ini kali pertama alutsista dibarter dengan kerupuk . Kerupuk merupakan makanan ringan yang disukai banyak orang. Selain bisa dimakan langsung, kerupuk biasanya melengkapi berbagai jenis makanan. Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman kerupuk sudah ada di Pulau Jawa sejak abad ke-9 atau 10 yang tertulis di prasasti Batu Pura. Di situ tertulis kerupuk rambak (kerupuk dari kulit sapi atau kerbau) yang sampai sekarang masih ada dan biasanya jadi salah satu bahan kuliner krecek.
- Penemuan Kota Emas yang Hilang
TAHUN lalu, tim peneliti yang dipimpin oleh arkeolog Zahi Hawass memulai penggalian di daerah antara kuil Ramses III dan Amenhotep III dekat Luxor, sekira 500 km di selatan ibu kota Mesir, Kairo. Pencarian ini dilakukan dengan harapan menemukan kuil bagi Firaun Tutankhamun. “Tim memilih untuk mencari di wilayah ini karena kuil Horemheb dan Ay ditemukan di daerah ini,” kata Zahi Hawass yang juga mantan menteri negara urusan barang antik Mesir, sebagaimana dikutip Live Science, 10 April 2021. Namun, para peneliti justru dikejutkan oleh temuan hebat ketika formasi bata lumpur mulai bermunculan dari bawah tanah yang mereka gali. Mereka menyadari baru saja menemukan sisa-sisa kota besar yang kondisinya masih sangat baik. Tampak jalan-jalan kota diapit oleh rumah-rumah. Beberapa tempat dindingnya setinggi 3 m. Rumah-rumah itu memiliki ruangan yang dipenuhi pernak-pernik dan perkakas kehidupan sehari-hari orang Mesir Kuno.





















