Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Emas untuk Perjuangan Republik
PEMERINTAH Indonesia tak punya banyak anggaran untuk membiayai pemerintahannya ketika merdeka pada 1945. Pendapatan negara saat itu berasal dari dana kemerdekaan (Fonds Kemerdekaan Indonesia) yang digalang sejak 1944. Bentuknya berupa uang dan perhiasan dari masyarakat. Indonesia menggunakannya untuk biaya pengamanan Sukarno dan Hatta, mencari atau merampas senjata dari Jepang, pengiriman kurir, pencetakan bendera dan kertas, dan modal kerja kepada Poesat Bank Indonesia (PBI, pendahulu Bank Negara Indonesia). Karena itulah, pemerintah berupaya mencari pendapatan dari sumber lain dari yang halal sampai yang haram seperti jual candu. Lama-kelamaan fonds kemerdekaan makin sedikit. Sementara sumber pendapatan lain dari produksi perkebunan belum bisa berjalan. Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia menyebut masa itu sebagai “kehancuran di sektor produksi”. Cara lain untuk mendapatkan pendapatan adalah dengan menjual emas.
- Huru-Hara 27 Juli 1996 dalam Ingatan Wartawan
MENJELANG tanggal 27 Juli 1996, kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat selalu tampak ramai. Sejak seminggu sebelumnya, basis PDI kubu Megawati Sukarnoputri itu selalu dipenuhi gelombang massa. Lukas Luwarso menggambarkan suasana saat itu. Siang hari suasana kantor sangat meriah, seperti festival demokrasi; mimbar bebas untuk menumpahkan aspirasi demokrasi. Tokoh-tokoh politik oposisi dan aktivis bergiliran pidato di panggung, menyuarakan demokrasi. “Saya ditugaskan memantau kantor PDI. Jadi, hampir setiap malam selalu stand by di kantor PDI,” ujar Lukas kepada Historia. Lukas saat itu bertugas sebagai wartawan majalah Forum.
- Asal-Usul Setan Gundul
MAKHLUK halus kembali muncul dalam politik terkini. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut genderuwo untuk politisi yang suka menakut-nakuti. Kali ini, Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief, yang beberapa kali menjadi pemberitaan, menyebut setan gundul. “Dalam Koalisi Adil Makmur ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya, muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi, dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen,” kata Andi Arief dalam akun Twitter-nya, Senin (6/5/2019). Dalam cuitan berikutnya, Andi Arief menyebut “Partai Demokrat hanya ingin melanjutkan koalisi dengan Gerindra, PAN, PKS, Berkarya dan Rakyat. Jika Pak Prabowo lebih memilih mensubordinasikan koalisi dengan kelompok setan gundul, Partai Demokrat akan memilih jalan sendiri yang tidak hianati rakyat.”
- Buru Sergap Pendukung Tan Malaka Imbas Penculikan Sjahrir
PASCA Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir meletakkan jabatannya, terjadi kekosongan pemerintahan. Anggota Badan Pekerdja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) Adam Malik melihatnya ada kesempatan untuk mengegolkan ambisi politiknya. Ia pun menemui Presiden Sukarno untuk mengusulkan agar Tan Malaka jadi penggantinya. Adam Malik merupakan simpatisan Persatuan Perjuangan (PP) yang digagas Tan Malaka. PP jadi oposan kabinet Sjahrir sejak Januari 1946. Tak hanya diampu para tokoh besar seperti Tan Malaka, Achmad Soebardjo, Iwa Kusuma Sumantri, dan Moh. Yamin, PP juga menghimpun banyak partai, laskar, maupun organisasi-organisasi perjuangan. Sebagai simpatisan PP, pemuda Adam Malik langsung mendatangi Bung Karno pasca-Sjahrir meletakkan jabatannya pada 28 Februari 1946. Dalam Mengabdi Republik, Jilid II: Angkatan 45, Adam mengisahkan bahwa ia mengusulkan pada Sukarno agar mengangkat Tan Malaka untuk membentuk kabinet koalisi baru.
- Emas Kegemaran Bangsawan Jawa
TRADISI mengoleksi emas telah lama hidup dan berkembang di Pulau Jawa. Pada suatu masa logam mulia itu pernah beredar di pasaran dengan harga yang sangat murah. Meski begitu, nilai emas ini tidak pernah jatuh. Para penguasa dan bangsawan pun menggunakannya sebagai simbol kekuasaan. Banyak benda koleksi mereka terbuat dari emas. Menurut kesaksian seorang pengembara Tiongkok, termuat dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa karya WP Groeneveldt, peralatan makan raja-raja di Jawa saat melakukan perjamuan seluruhnya terbuat dari emas. Bahkan khusus untuk raja, peralatan emasnya bertabur batu permata sehingga terlihat jelas perbedaan statusnya. Para penguasa itu hidup dalam kemewahan. Kesaksian utusan Tiongkok tersebut diperkuat dengan penemuan ribuan benda berbahan emas pada 1990 di ladang dusun Ploso Kuning, desa Wonoboyo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Terdapat hampir 7.000 koin emas dan perak, beragam perhiasan, beragam bejana, dan perkakas lainnya. Menurut buku yang disusun tim penulis Museum Nasional Indonesia dalam Treasures of the National Museum Jakarta, timbunan emas, yang kemudian dikenal sebagai “Harta Karun Wonoboyo” itu diketahui menjadi penemuan terbesar objek emas di Indonesia.
- Pulau Emas di Barat Nusantara
EMAS menjadi daya tarik para pendagang datang ke Sumatra. Sehingga, pulau di barat Nusantara itu pun dijuluki Suvarnadvipa atau Pulau Emas. Kekayaan ini juga jadi motif kedatangan orang India ke Asia Tenggara. Dalam Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII, OW Wolters mencatat pada pengujung abad sebelum Masehi India kehilangan sumber emas Siberia karena perpindahan bangsa barbar melintasi Asia Tengah. Pun pada pertengahan kedua abad pertama Masehi, orang Vespasia menghentikan pengiriman emas bongkahan dari Roma ke India. Hal itu diperkuat bukti kesusastraan. Karya-karya klasik India mencatat, wilayah Asia Tenggara merupakan sumber emas penting. Misalnya, dongeng-dongeng Jataka melukiskan pelayaran-pelayaran berbahaya ke Suvarnabhumi atau “Negeri Emas”. Kisah Ramayanna juga menyebut nama Suvarnadvipa. Syair cerita Tamil Pattinappalai, yang kemungkinan disusun pada abad pertama masehi, menceritakan perdagangan antara orang India dengan Kalagam yang sekarang dikenal dengan Kedah.
- Emas yang Dijarah Inggris
SELAIN menjarah manuskrip, bermacam benda budaya, dan batuan benteng ketika menaklukkan Yogyakarta, Inggris juga mengambil uang emas dan perak dari keraton. Sejarawan Peter Carey, dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan Facebook Historia.ID, Rabu (5/8/2020), menyebut jumlahnya 800.000 dolar Spanyol. Uang itu dibagi menjadi dua bagian: 400.000 dolar digunakan untuk membayar tunjangan (prize money) bagi perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang, 400.000 dolar sisanya dikirim ke Benggala untuk diberikan kepada keluarga perwira dan prajurit. Dalam istilah Inggris harta tersebut disebut loot (jarahan) yang berasal dari kata India. Dan yang terjadi di Yogyakarta, loot ini dipakai untuk memberi tunjangan kepada pasukan Sepehi. Mereka diberi persentase dari harta jarahan. Di mana dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar merupakan pasukan Sepehi dari India.
- Orang Tionghoa di Tambang Timah dan Emas
BANGKA sudah dikenal sebagai penghasil tambang timah sejak kedatangan orang Eropa pada abad ke-17. Timah laku dijual ke Eropa untuk bahan campuran genta dan lonceng gereja. Sebagian besar penambangnya adalah orang Tionghoa. Menurut Mary F. Somers Heidhues dalam Bangka Tin and Mentok Pepper, kedatangan massal orang Tionghoa terjadi pada 1710. Sultan Palembang tertarik mempekerjakan mereka karena melihat orang Tionghoa berhasil mengolah timah di Johor dan Perak. Hampir semua orang Tionghoa yang datang lelaki. Mereka biasa dipanggil orang Hakka dan tinggal di wilayah pertambangan timah, sedangkan masyarakat setempat berada di sekitar sungai karena mata pencaharian mereka berkebun dan berladang. Meski begitu, dua kelompok itu tetap berinteraksi dan melahirkan percampuran budaya, terutama bahasa dan arsitektur bangunan.
- Sukarno: Republik Membutuhkan Sjahrir
SELAIN menyimpan berkas keterlibatan Mohammad Yamin, arsip pribadi Mohammad Yamin koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) juga menyimpan surat perintah Presiden Sukarno terhadap pelaku Peristiwa 3 Juli 1946. Surat perintah yang sudah dalam bentuk ketikan itu ditandatangani Sukarno pada 2 Juli 1946. Begini bunyi perintahnya: “Kami Presiden Republik Indonesia, Panglima Tertinggi Tentara Republik Indonesia, memerintahkan kepada Panglima Besar R. Soedirman untuk memerintahkan Kepala Staf Divisie III Oemar Dyoi supaya menahan major-jenderal Soedarsono dan Ak. Joesoef di Djokjakarta, sehingga sewaktu-waktu dapat diperiksa dalam voorloopig onderzoek (penyelidikan awal, red.).” Surat perintah penangkapan dari Sukarno itu sehubungan dengan diculiknya Perdana Menteri (PM) Sjahrir. Panglima Divisi III Mayor Jenderal Soedarsono dan anak buahnya, Komandan Batalion III Mayor Abdul Kadir Jusuf, dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab. Selain menuntut Sjahrir dikembalikan, Sukarno hendak menindak tegas para penculik.
- Sutan Sjahrir Diculik Pengikut Tan Malaka
SUARA ketukan di tengah malam membangunkan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang menginap di bekas gedung Javasche Bank di Solo. Dia bergegas membuka pintu kamar. Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari dan karena itu Sjahrir yakin ada hal mendesak yang harus segera dia ketahui. Sjahrir menginap di Solo setelah melakukan perjalanan dari wilayah Jawa Timur, bersama rombongannya, yakni Menteri Kemakmuran Darmawan Mangunkusumo, Menteri Sosial dr. Soedarsono, Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal Soedibjo, Sekretaris Kabinet Mr. Soemitro, sekretarisnya Soebadio Sastrosatomo, dan Soemitro Djojohadikoesoemo. Esok hari mereka akan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Begitu pintu terbuka, Sjahrir melihat beberapa orang berseragam militer dan bersenjata lengkap. Tanpa basa-basi, Sjahrir bertanya, “Ada apa?” “Saudara mesti saya tangkap,” kata Mayor Abdul Kadir Joesoef, pemimpin penangkapan, yang memperlihatkan surat perintah dari atasannya, Panglima Divisi III Jenderal Soedarsono.
- Pilot Berhati Lembut
DALAM otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno menirukannya: “Namaku Bob Freeberg. Aku orang Amerika. Aku seorang pilot dan menaruh simpati pada perjuangan Anda. Bantuan apa yang dapat kuberikan?” Bobby Earl Freeberg, anak petani yang berasal dari Parsons, Kansas, menjadi salah seorang penerbang asing yang melakukan penerbangan ke Indonesia di masa awal kemerdekaan. Dia adalah mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang setelah Perang Dunia II bekerja sebagai pilot komersial di CALI (Commercial Air Lines Incorporated) Filipina. “Dia jatuh cinta pada negara-negara dan budaya di Pasifik dan memutuskan untuk tak kembali ke Kansas,” tulis Jiya Sarma dalam “The Day the Air Force Vanished,” gather.com. Bob bisa terbang ke Indonesia berkat hubungannya dengan Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo, yang ditugaskan membuka jalur penerbangan Indonesia dengan luar negeri, baik untuk urusan politik maupun logistik. Pada Maret 1947, dipandu oleh Muharto, Bob melakukan penerbangan pertama ke Maguwo, Yogyakarta, dengan Dakota milik CALI Filipina. Setelah itu dia kembali ke Filipina, sembari membantu penerjunan pertama di Bukittinggi oleh Opsir Udara III Sudjono dan Opsir Muda Udara I Sukotjo. Tiga bulan kemudian, Bob kembali ke Indonesia. Sempat mendarat darurat di Pantai Cikalong, Tasikmalaya, Dakota C-47 yang diterbangkannya mendarat di Maguwo.
- DNA Yahudi pada Orang Indonesia
FARIDA Yuniar membaca empat lembar kertas hasil tes DNA. Salah satu kertas menggambarkan diagram lingkaran berisi komposisi DNA Farida. Masing-masing irisannya berbeda ukuran dan warna. Yang terbesar berwarna hijau, 67,12 persen. Irisan ini menunjukkan asal usul leluhurnya lebih dominan dari wilayah Asia Timur. Farida berusia 21 tahun, kelahiran Surabaya. Ayahnya lahir di Jakarta dari orangtua berdarah Jawa Tengah dan Sumatra. Melalui jalur ibu, darah Flores mengalir dalam dirinya. Silsilahnya menunjukkan keberagaman leluhur. Hasil tes DNA memperkuatnya. “Ibaratnya kalau benang, sudah kusut. Gak karu-karuan,” kata Farida. Komposisi DNA Farida secara berturut-turut adalah Diaspora Asia 30,41 persen, Asia Selatan (Bangladesh) 2,13 persen, dan Timur Tengah 0,34 persen.





















