Hasil pencarian
Cari di situs ini
10061 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dewaruci Menuju Negeri Laskar Pelangi
KRI Dewaruci “cerah” kembali sekeluar dari perawatannya. Pagi 7 Juni 2024 ini para awaknya sudah bersiap di geladak kapal. Untuk kesekian kalinya mereka akan berlayar kembali. Sekitar pukul 9.20, KRI Dewaruci bertolak dari dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamal) di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. KRI legendaris berusia lebih dari 70 tahun itu membawa lebih dari 40 peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah. Mereka dilepas oleh Kepala Staf Kolinlamal Laksamana Pertama Mohamad Riza dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid di lapangan Laksamana Moeljono Silam yang bersebelahan dengan dermaga. Kali ini tujuan pelayaran KRI Dewaruci adalah Belitung Timur. Diperkirakan pelayaran akan memakan waktu sekitar dua hari dua malam. Sesuai temanya, Muhibah Budaya Jalur Rempah, program ini hendak menggali dan memperkenalkan kebudayaan rempah. Bersama Bangka, Belitung Timur dikenal pula sebagai penghasil lada.
- Ketika Wartawan Dipalak Laskar Sumatra
SUWARDI Tasrif, Rinto Alwi, dan Muhamad Radjab adalah trio wartawan utusan pemerintah. Tasrif dari harian Berita Indonesia, Rinto dari harian Merdeka, sedangkan Radjab dari Kantor Berita Antara. Mereka dipimpin oleh Tuan Parada Harahap, pegawai tinggi pada Kementerian Penerangan. Rombongan itu bertugas meliput keadaan di Sumatra di tengah suasana perjuangan revolusi. Pada 14 Juni 1947, rombongan berangkat dari Yogyakarta. Mereka tiba di Medan pada 20 Juni. Beberapa kota di Sumatra Timur langsung disinggahi, di antaranya Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Brastagi. Di kota-kota itu perjalanan lancar-lancar saja, tiada halangan yang berarti. Hingga pada 28 Juni, rombongan melanjutkan perjalanan dari Brastagi menuju kota minyak Pangkalan Brandan. Pukul 09.00, rombongan bertolak menuruni lereng-lereng bukit di Tanah Karo. Petaka bermula di Pancur Batu. Di tengah jalan, mobil rombongan melewati gardu pengawalan. Beberapa orang laskar menghampiri mobil. Mereka meminta untuk diizinkan menumpang di mobil rombongan. “Caranya bukan meminta, tetapi mendesak dan bagaikan mengancam,” kenang Radjab dalam catatan perjalanannya Tjatatan di Sumatra.
- Wisata Sumatra Era Kolonial
SEBERKAS iklan pariwisata zaman kolonial menerangkan informasi yang menarik. Terlihat peta Pulau Sumatra dengan titik destinasi wisata andalan yang terhubung satu sama lain. Mulai dari keelokan Danau Toba di jantung Tanah Batak, pesona rumah gadang di Kota Padang, hingga Pulau Nias nan eksotis. Tempat-tempat wisata itu dapat dikunjungi lewat dua jalur rute perjalanan, yakni Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatra. “Sebuah tamasya yang indah untuk perjalanan liburan Anda berikutnya,” demikian pesan promosi yang ditawarkan Perusahan Pelayaran Belanda (KPM) bertitimangsa 1930 itu. Menurut sejarawan Achmad Sunjayadi, kegiatan kepariwisataan di Sumatra pada masa kolonial tidak kalah dengan kepariwisataan di Jawa. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke- 20, sejumlah destinasi wisata di Sumatra banyak tersua dalam buku catatan perjalanan maupun buku panduan turisme.
- Ratu Sima dalam Catatan Tiongkok
PADA zaman dulu, hiduplah seorang ratu yang memerintah negerinya dengan tegas. Dia diingat dengan nama Ratu Sima. Saking tegasnya, barang yang tergeletak di jalan tak kan ada yang berani mengambilnya. Penasaran dengan ketegasan sang ratu, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang. Tas itu diletakkan di perbatasan negara sang ratu. Meski melihat tas itu, orang-orang hanya melewatinya. Tak ada yang berani menyentuhnya. Tas itu tetap di sana hingga tiga tahun lamanya. Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima pun marah besar sampai ingin membunuh putranya itu. Namun, dia keburu dicegah para menterinya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu.
- Kala Budak Memberontak
AKIBAT jatah kain pembagian VOC-nya dicuri, seorang budak terpaksa tidur di pojokan pekarangan. Nahas, seorang komandan tentara melihat budak itu dan mengira dia telah menjual jatah kain pembagian yang diberikan saban enam bulannya itu untuk mabuk-mabukan. Alhasil, si budak kemudian mendapat hukuman cambuk hingga kulitnya mengelupas. Dua hari kemudian, dia tewas. “Kurasa, selama dua hari kehabisan kekuatan ia tak pernah merasakan derita yang lebih besar daripada yang ditimbulkan dengan siksaan ini,” tulis Jean Baptiste Tavernier dalam memoar yang dihimpun Bernard Dorleans, Orang Indonesia dan Orang Prancis. Catatan Tavernier hanyalah satu dari sekian banyak catatan orang Eropa yang menggambarkan kekejaman tuan kulit putih terhadap budak dan pelayan mereka. Para budak sering menjalani hukuman berat dari majikan karena satu kesalahan kecil.
- Kala Budak Dibebaskan
PADA 1 April 1905, Raja Rama V atau dikenal pula Raja Chulalongkorn mengesahkan penghapusan perbudakan dan kerja paksa yang sudah dipraktikkan sejak masa Raja Ramathibodi II (1518). Ia juga menyatakan bahwa semua orang Siam yang lahir ketika ia berkuasa (1868-1910) adalah orang merdeka. Tanggal 1 April kemudian diperingati sebagai Hari Penghapusan Perbudakan di Thailand. Pada 1874, ia memberlakukan aturan yang menurunkan harga penebusan budak. Antonio L. Rappa dalam The King and the Making of Modern Thailand menyebut langkah Rama menjadi satu kemajuan untuk penghapusan perbudakan. Di beberapa negara, semisal Inggris Raya, aturan tentang pembatasan perbudakan dikeluarkan pada 1807 atas usulan William Wilberforce, anggota House of Commons. Inggris akhirnya mengeluarkan undang-undang penghapusan perbudakan pada 1833. Amerika Serikat mengikuti menghapus perbudakan dengan amandemen ke-13 konstitusi AS pada 1865.
- Budak Hindia di Negeri Belanda
ORANG Belanda yang tinggal dan bekerja di Hindia memiliki cara tersendiri untuk memamerkan kekayaannya. Selain dari besarnya tanah dan megahnya rumah, jumlah budak juga menjadi parameter kekuatan ekonomi mereka. Semakin banyak budak, maka status yang dimilikinya pun dianggap tinggi. Hal itulah yang membuat perdagangan budak di kota-kota besar masih sering dijumpai hingga abad ke-18. Sebagian dari orang-orang Belanda itu ternyata sudah begitu tergantung dengan keberadaan para budak. Ketika mereka kembali ke negeri Belanda kebiasaan tersebut tidak begitu saja bisa dihilangkan. Sehingga banyak dari mereka yang membawa serta budak peliharaannya. Ada yang hanya membawa satu, namun tidak sedikit yang membawa lebih. Namun kehadiran para budak dari Hindia itu tidak diterima oleh pemerintah dan masyarakat Belanda. Dalam tulisannya, “Utusan, Budak, Seorang Pelukis, dan Beberapa Siswa” dimuat Di Negeri Para Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, C. van Dijk menyebut banyak budak yang ditinggalkan begitu saja oleh majikannya setelah tinggal sebentar di Belanda.
- Harriet “Musa” Pembebas Budak
SUATU malam di tahun 1849, Araminta ‘Minty’ Ross (diperankan Cynthia Erivo) berlari ke dalam hutan. Nafasnya terengah-engah. Ketimbang ditangkap kembali oleh Gideon Brodess (Joe Alwyn), tuannya yang memburunya, Minty bertaruh nyawa dengan loncat ke Sungai Delaware. Minty beserta ibu, seorang saudari, dan keempat saudaranya merupakan budak selama turun-temurun di pertanian keluarga Brodess di Bucktown, Maryland. Sementara ayahnya, Ben Ross (Clarke Peters), dan suaminya, John Tubman (Zackary Momoh), sudah berstatus manusia bebas. Minty kabur lantaran ia hendak dijual pemiliknya, sebagaimana dua saudarinya beberapa tahun lalu. Tuhan memberi keajaiban dengan masih melindungi Minty. Ia selamat setelah loncat ke sungai dan dirawat Thomas Garret (Tim Guinee), seorang pandai besi kulit putih yang juga aktivis anti-budak di Wilmington. Garret pula yang lantas membantu Minty melintasi perbatasan Maryland menuju Philadelphia yang bebas perbudakan.
- Permintaan Maaf Belanda atas Praktik Perbudakan di Masa Lalu
DI Gedung Nationaal Archief, Den Haag, Belanda, Perdana Menteri (PM) Mark Rutte berbicara dengan hati-hati dan cermat di podiumnya Senin (19/12/2022) waktu setempat. Sesekali ia memerhatikan berlembar-lembar kertas di hadapannya sebelum memberi penekanan pada beberapa kalimat yang menyesali dan meminta maaf perihal dosa-dosa perbudakan negerinya di masa lampau. “Di Arsip Nasional ini, sejarah berbicara kepada kita lewat jutaan dokumen. Dan meskipun kita tak bisa mendengar suara-suara dari masa lalu, cerita yang muncul dari semua dokumen itu tidak selalu indah. Justru seringkali buruk, menyakitkan, dan bahkan memalukan,” kata Rutte dalam pidatonya, dikutip laman resmi pemerintah Belanda. Rutte, dalam lanjutan pidatonya, mengakui dan menyesali peran Belanda baik lewat kongsi-kongsi dagangnya maupun pemerintahnya 250 tahun silam yang terlibat dalam praktik perbudakan sekaligus perdagangan budak. Itu jadi catatan kelam yang menimbulkan banyak penderitaan tiada terperikan dan Rutte mengutuknya sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
- Toko Merah dan Sejarah Kelam Perbudakan di Batavia
PERMINTAAN maaf Perdana Menteri Belanda Mark Rutte atas keterlibatan negaranya dalam perbudakan di masa silam pada akhir tahun 2022 menjadi sorotan publik karena Indonesia termasuk wilayah yang pernah dikuasai Belanda. Di masa awal kekuasannya di Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau Kongsi Dagang Hindia Timur), mengerahkan banyak budak untuk membangun Batavia. Dalam buku Dari Batavia Menuju Jakarta yang disunting Fitri R. Ghozally disebutkan, para budak di masa itu kebanyakan dikerahkan untuk pemenuhan tenaga kerja dalam pembangunan benteng Batavia saat benteng Jayakarta dapat dikuasai oleh pihak kolonial Belanda di bawah Jan Pieterszoon Coen pada 1619.
- Konflik Perbudakan Belanda-Portugis dari Mata João
JOÃO. Nama itu begitu umum diberikan orang-orang Portugis pada budak-budak mereka di Hindia Barat pada abad ke-17. Nama João sendiri berasal dari bahasa Ibrani, John, yang berarti Tuhan Maha Pengasih. Namun ketika seorang budak bernama João tertangkap Belanda di Hindia Barat, namanya acap berubah jadi Joan. Salah satu budak bernama João punya cerita populer, namanya João Mina. Pada 4 Oktober 1646, pelarian budak dari salah satu wilayah capitanias –atau provinsi kolonial Portugis– ke wilayah Belanda di Brasil itu ditangkap dan diinterogasi otoritas Kongsi Dagang Hindia Timur Westindische Compagnie (WIC). Dia dicatat dengan nama Joan Mina. Nama belakang Mina, tulis Stephanie Archangel dalam “João: Caught in the Crossfire in Dutch Brazil”, yang termaktub di katalog Slavery: The Story of João, Wally, Oopjen, Paulus, Van Bengalen, Surapati, Sapali, Dirk, Lohkay, juga umum diberikan pada budak-budak yang lazimnya datang dari pusat perbudakan di Elmina, Pantai Emas, pesisir barat Afrika (kini pesisir barat Ghana). Ia lantas dijadikan komoditas budak ke Hindia Barat.





















