top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • House of Ninjas dan Bayang-bayang Masa Lalu Ninja Hattori

    SEGALA perilaku nenek dan dua kakaknya yang sering menyelinap dalam kesunyian bak shinobi atau ninja menjadi pertanyaan yang memenuhi benak Riku Tawara (diperankan Tenta Banka). Bocah 10 tahun itu lama-lama tak tahan karena merasa sudah terlalu banyak misteri yang mengganggu pikirannya. Maka pada suatu hari ketika rumahnya sedang sepi, Riku diam-diam membuka kunci pintu rahasia yang selama ini membuatnya penasaran. Tak dinyana, pintu itu membawanya ke ruang bawah tanah yang sudah seperti kuil dan dojo. Di ujung ruangan itu Riku terpaku saat menengok sebuah lukisan besar sesosok samurai dari masa feodal Jepang. “Itu (lukisan) moyang keluarga kita, Hattori Hanzō,” celetuk suara perempuan tua dari belakang yang mengagetkan Riku.

  • Ibu dan Kakek Jenifer Jill

    ORANG hebat selalu punya guru. Tak terkecuali Kolonel Aloysius Sugianto, salah satu mantan anggota baret merah dan kenyang sebagai praktisi intelijen. Selain belajar dari Rokus Bernadus Visser yang mantan penerjun KNIL, Sugianto yang mantan bawahan Slamet Riyadi ini pernah pula belajar dari seorang bernama Lancelot yang pernah mendapat latihan pasukan khusus di luar negeri semasa Perang Dunia II, sekitar 1942-1945. Lancelot bukan orang Eropa. Dia orang Wonosobo. Nama aslinya Raden Mas Wachjo. Dia berada di Australia ketika tanah kelahirannya diduduki tentara Jepang. Waktu berada di luar negeri, Lancelot menikah dengan perempuan Australia, Jean Duncan. Pasangan Lancelot-Jean Duncan dikaruniai anak pada 1 Juni 1945. Lancelot dan keluarga kecilnya harus bergeser ke Ambon ketika PD II mulai mereda. Dari Ambon, keluarganya naik kapal ke Jakarta. Sekembalinya ke Jawa, Lancelot kemudian juga berdinas di Tentara Nasional Indonesia (TNI) –kelak, dia menjadi anggota MPR RI dan pengusaha butik top di ibukota. Lantaran kekuatan finansialnya itu, ada kalanya anak-istrinya pergi ke luar negeri. Koran De Vrije Pers, 13 Mei 1953, memberitakan, Nyonya Wachjo dan dua anaknya menuju Sidney, Australia.

  • Warrior, Prahara di Pecinan Rasa Bruce Lee

    KEHENINGAN di tengah malam itu pecah tatkala Ah Sahm (diperankan Andrew Koji) adu pukul dengan Li Yong (Joe Taslim) di aula rumah besar milik tong –organisasi kriminal– Long Zii. Keduanya nyaris saling bunuh jika saja si cantik Mai Ling (Dianne Doan) tak menengahi. Sebelumnya, Ah Sahm mengikuti salah satu begundal kelompok Long Zii karena ingin mencari kakak perempuannya, Xiaojing. Namun Ah Sahm terpaku diam saat bersua Mai Ling usai bertarung dengan Li Yong. Rupanya Mai Ling tak lain adalah Xiaojing yang sudah punya kehidupan baru di pecinan Frisco alias San Francisco, Amerika Serikat. Xiaojing kini bukanlah Xiaojing yang dulu, ketika ia masih istri dari seorang panglima brutal di daratan China. Di pecinan Frisco, Mai Ling bukan hanya kekasih Long Zii (Henry Yuk), bos besar kelompoknya, melainkan juga pemimpin de facto kelompoknya lantaran Long Zii yang renta sudah bermasalah kesehatannya. Makin runyam karena Ah Sahm sudah jadi tukang pukul Hop Wei, kelompok rival Long Zii.

  • Adolescence dan Fenomena Incel yang Mengerikan

    RUANG interogasi di kantor Kepolisian Heywood Street pagi itu berangsur sepi setelah dua penyidik selesai membeberkan sejumlah bukti. Menyisakan Eddie Miller (diperankan Stephen Graham) yang kian syok di samping putranya, Jamie Miller (Owen Cooper), yang dijadikan tersangka. Eddie, yang hanya tukang ledeng, tak habis pikir. Selama ini ia menganggap putranya tergolong cerdas secara akademik dan tampak seperti remaja usia 13 tahun pada umumnya dengan pergaulan yang biasa saja. Jamie pun tak pernah berulah di rumahnya di tengah keluarganya yang sederhana. Masih di pagi yang sama, keheningan di lingkungan rumah keluarga kelas pekerja itu dikejutkan oleh penggerebekan polisi bersenjata lengkap tak lama setelah fajar menyingsing. Todongan senjata di kamar tidur pun membuat Jamie sampai mengompol di kasurnya. Sang ibu, Manda Miller (Christine Tremarco), serta putrinya yang juga kakak Jamie, Lisa Miller (Amélie Pease), sampai histeris karena tetiba saja rumah mereka acak-acakan digeledah tanpa pemberitahuan lebih dulu.

  • Akhir Perlawanan Haji Umar yang Kerap Merepotkan Pasukan Belanda

    TAK hanya sekali-dua, tentara kolonial Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) acapkali terpaksa menggunakan pasukan khusus antigerilya, Marsose, untuk memadamkan perlawanan-perlawanan yang sulit di berbagai daerah kekuasaannya. Termasuk di Jambi ketika menghadapi Haji Umar dan para pengikutnya pada abad ke-20. Sama seperti Raden Mattaher, Sultan Thaha dan yang lain, Haji Umar dianggap sebagai gangguan di Jambi. Kuatnya perlawanan Haji Umar ditengarai oleh Belanda lantaran adanya sokongan dari luar. Rumor yang beredar di kalangan orang Belanda, Kekaisaran Turki dan Jepang dianggap memberi pengaruh dalam perlawanan-perlawanan pribumi terhadap pemerintah Hindia Belanda di Nusantara. Mengutip Indisch Militair Tijdschrift tentang penaklukan Jambi 1901-1907, koran De Sumatra Post, 26 September 1916, menyebut Turki menjanjikan bantuan kepada kelompok Haji Umar dan ketika bantuan itu terlambat, mereka menjatuhkan harapan pada Jepang. Haji Umar bernama lengkap Pangeran Haji Umar bin Pangeran Muhamad Yasin. Belanda menyingkat namanya menjadi Dji Oemar (baca Ji Umar). Buku Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Jambi menyebut, Haji Umar adalah panglima yang berasal dari Sarolangun, Bangko yang terletak di pedalaman Jambi sekitar Kerinci. Ia, kata Mardanas Safwan dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan Sultan Thaha, terlibat dalam beberapa pertempuran seperti mempertahankan benteng Limbur Tebo bersama Raden Hamzah.

  • Iluminasi dalam Surat Raja-raja Melayu

    BEBERAPA waktu lalu, media sosial digegerkan dengan pernyataan Rahmat Baequni yang menyebut masjid Al-Safar (rancangan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil) yang terletak di rest area tol Cipularang kilometer 88, sebagai simbol iluminasi. Ia melihat bentuk segitiga pada bangunan masjid sebagai penggambaran simbol sekte keagamaan tersebut. Namun di Indonesia sendiri, tradisi penggunaan simbol-simbol telah ada berabad-abad lalu, salah satunya terlihat dalam teks-teks naskah milik kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dalam ilmu naskah dikenal istilah Iluminasi, berarti ‘penerangan’, yang merujuk pada hiasan berupa gambar sebagai bingkai sebuah surat atau naskah. Namun dalam perkembangannya, makna iluminasi tidak hanya mengacu pada hiasan saja tetapi meluas pada kandungan di dalam isi teks. "Iluminasi merupakan bukti kecerdasan dan beradaban yang tinggi dari masyarakat Indonesia," kata Mu'jizah, pakar filologi Melayu, saat mengisi acara diskusi "Iluminasi dalam Naskah-Naskah Nusantara" di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 4 Juli 2019.

  • Kekecewaan Pasukan Pembela Keadilan

    NO Korompis hadir dalam revolusi kemerdekaan di Sulawesi Utara. Ia membawa pesan kepada orang sipil pro-Republik Indonesia di Sulawesi Utara dari para serdadu KNIL di Manado yang ingin berontak kepada otoritas Belanda. Pemberontakan meletus tepat pada 14 Februari 1946. No Korompis tak hanya pembawa pesan, ia juga seorang kombatan. Ketika pemberontakan serdadu KNIL di Manado gagal, ia terus melawan bersama laskar Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) dan Tentara Republik Indonesia Sulawesi Utara (TRISU). Selama beberapa hari, ia dan kawan-kawannya mempertahankan Tondano. Mereka juga sempat berusaha merebut senjata di tangsi polisi di Tondano meski akhirnya tertangkap. Serdadu KNIL sekali lagi berontak, juga dibantu orang sipil, pada 3 Mei 1950. Setelah pemberontakan muncullah Batalyon 3 Mei bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), yang lalu menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

  • Oerip Soemohardjo yang Kecewa

    LETNAN Jenderal TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprojo tak melupakan sosok Jenderal TNI (Anumerta) Oerip Soemohardjo. Baginya, Oerip patut menjadi teladan. “Di awal-awal menjadi kadet, saya pernah sekitar dua kali bertemu beliau. Kesan saya, Pak Oerip tipikal militer sejati: loyal dan penuh disiplin,” ujar Sayidiman, salah satu lulusan terbaik Akademi Militer Yogyakarta tahun 1948. Sikap loyal dan disiplin Oerip bukan isapan jempol semata. Komodor Suryadi Suryadharma, kepala staf Angkatan Udara Republik Indonesia pertama, pernah kena sentil soal ini. Ceritanya, suatu hari Suryadharma “menolak” ditempatkan Oerip di Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat (MBTKR) dengan alasan “lebih dibutuhkan” kawan-kawannya di Jawa Barat. Dengan marah, seperti dikisahkan Rochmah Soemohardjo Soebroto, istrinya, dalam Oerip Soemohardjo: Letnan Jenderal TNI (22 Pebruari 1893-17 November 1948), Oerip berujar: “Kau ini berdinas untuk Jawa Barat atau untuk Republik?” Terlahir dengan nama Mochamad Sidik di Purworejo pada 22 Februari 1893, semula Oerip diarahkan orangtuanya untuk jadi pamongpraja; bupati seperti sang kakek. Namun, ketertarikan pada dunia militer mendorongnya masuk Sekolah Militer Meester Cornelis di Batavia (kini, Jakarta). Kariernya di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) terbilang moncer. Buktinya, dia berhasil meraih pangkat mayor; pangkat tertinggi di antara tentara bumiputra. Namun, kariernya seakan tamat setelah Jepang masuk. Bersama ribuan anggota KNIL dia jadi tawanan perang. Setelah dibebaskan, Oerip kembali menjadi warga sipil biasa. Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menyeret Oerip kembali ke dunia militer. Ucapannya yang terkenal: “Aneh, negara zonder (tanpa) tentara” menginspirasi para pendiri Republik Indonesia untuk membentuk organisasi tentara resmi, Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada Oktober 1945, Oriep didapuk sebagai Kepala Staf Oemoem (KSO) TKR. Pada 12 November 1945, Oerip membuat semacam konferensi yang dihadiri eks KNIL dan eks PETA di Yogyakarta. Dari konferensi inilah muncul nama Soedirman sebagai panglima besar TKR, sementara Oerip tetap menjabat KSO. Sebagai tentara profesional, Oerip kerap menanggung kecewa karena sikap politik pemerintah. Kekecewaan itu berujung pada niat Oerip mengundurkan diri. Namun, Presiden Sukarno keburu “memecatnya” sebagai KSO dan memindahkannya ke Dewan Pertimbangan Agung, suatu posisi yang disadari Oerip hanya untuk membuatnya “tak berdaya”. Sejak itu Si Tua melalui hari demi hari dengan memendam kecewa. Hingga pada suatu senja November 1948, Oerip Soemohardjo wafat. Perannya dalam pembentukan tentara nasional Indonesia seolah terlupakan.* Berikut ini laporan khusus Oerip Soemohardjo: Brandalan dari Sindurejan Ndoro Oerip Dadi Soldadu Jalan Terjal Serdadu Kolonial Oerip Soemohardjo di Mata Belahan Jiwa Agar Negara Tak Lagi Zonder Tentara Kunjungan ke Garis Depan Gebrakan Pertama Si Opsir Tua Sang Jenderal di Rapat Koboy Sang Teknokrat Militer Purna Karena Kecewa Melepas Mas Oerip Bekas Rumah-Vila Itu

  • Misi Klandestin Pangeran Oranye

    PERTENGAHAN 1950-an, Pangeran Bernhard von Lippe-Biesterveld, suami Ratu Belanda Juliana, terjebak di pusaran kemelut panas yang berpotensi menyulut skandal nasional dan internasional. Kalangan yang dekat dengan Perdana Menteri Willem J. Drees mencium indikasi keterlibatan pangeran yang satu ini dalam sebuah komplotan –yaitu rencana rahasia yang dirancang Kapten Raymond Westerling, untuk menjatuhkan Presiden Sukarno pada 23 Januari 1950– nyaris sebulan setelah Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda. Apabila kecurigaan itu terbukti, skandal tersebut dapat mengguncang dunia; bahkan juga dapat mengancam kelangsungan Dinasti Oranye dari Kerajaan Belanda. Arsip mengenai peristiwa itu baru dibuka dan tiga tahun lalu menimbulkan kontroversi di Belanda. Apakah sesungguhnya niat pangeran Belanda yang menggandeng tangan Westerling itu? Hingga akhir 1950-an, Westerling adalah sebuah nama yang dikagumi di Belanda. Komandan pasukan elite yang patriotik ini menjadi ikon zaman. Di sekolah-sekolah menengah di Hilversum, misalnya, para siswa dan siswi memuji-muji dan setiap pagi menggelar doa bersama demi keselamatannya. Sentimen publik ini mencerminkan betapa kental dan mendalam ikatan emosional dan kepentingan politik masyarakat Belanda di masa itu dengan jajahannya, Indonesia. Jelas, sulit bagi mereka untuk membayangkan bahwa negerinya, Belanda, sebenarnya telah kehilangan tanah jajahannya yang amat berharga di Asia itu.

  • Operasi Monte Carlo, Misi Intelijen Koes Bersaudara

    LANTAI Penjara Glodok yang dingin lebih tepat menjadi tempat meringkuknya penjahat ketimbang pemusik. Tapi, di tempat hukuman itulah grup musik legendaris Koes Plus pernah ditahan pemerintahan Sukarno. Waktu itu nama band ini masih Koes Bersaudara. Personelnya terdiri dari kakak-beradik: Koestono Koeswoyo (Tonny), Koesnomo Koeswoyo (Nomo), Koesyono Koeswoyo (Yon), dan Koesroyo Koeswoyo (Yok). “Tahun 1965 sangat mengesankan bagi Koes Bersaudara. Bukan karena kami masuk Penjara Glodok, tapi tentang rencana negara di balik itu,” celetuk Yok sang gitaris dalam Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia yang ditulis Ais Suhana. Di tengah gebyar slogan Trisakti “berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia” yang digaungkan Presiden Sukarno, Koes Plus dituding mengusung aliran musik kebarat-baratan. Gaya bermusik mereka sekilas memang mirip dengan musikus pop Barat masa itu seperti Elvis Presley dan The Beatles. Bung Karno menyebutnya musik “ngak ngik ngok”. Sebuah label musik yang tidak mencerminkan kebudayaan Indonesia.

  • Kisah Pergerakan yang Abu-abu

    AHAD, 29 Juni 1958. Sejak pagi berduyun-duyun orang datang ke acara pembukaan penggilingan beras di Jatisari, Cikampek, yang dihelat Jajasan Badan Sosial Pusat Buruh Kereta Api (BSP-BKA). Hidangan makanan sederhana sudah disiapkan. Beragam hiburan memeriahkan suasana, dari pertunjukkan tari-tarian sampai reog dan wayang golek modern. Di antara hadirin, sejumlah tokoh penting hadir. Antara lain Perdana Menteri Djuanda Kartawidjaja, Wakil Perdana Menteri III Leimena, Menteri Dalam Negeri Sanoesi Hardjadinata, Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Abdulmutalip Danuningrat, Penguasa Perang Daerah Swatantra I Jawa Barat Kolonel R.A. Kosasih, Kepala Daerah Swatantra I Jawa Barat Oja Soemantri, dan Wakil Ketua DPD Karawang Djunaedi. Koesna Poeradiredja, ketua Dewan Pimpinan Jajasan BSP-BKA, memberikan pidato pembukaan. “BSP didirikan atas kekuatan buruh sendiri dengan tidak mempergunakan kontribusi tetapi uang simpanan paling sedikit Rp250 per bulan,” ujarnya. Kemandirian ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi organisasi yang dipimpinnya.

  • Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro

    PUBLIK Spanyol patut kecewa. Di hadapan publik sendiri, timnas Spanyol asuhan Luis Enrique ditahan imbang 0-0 oleh Swedia dalam laga pembuka Euro 2020 Grup E yang dimainkan di Stadion La Cartuja, Sevilla, 14 Juni 2021. Bahkan akibat membuang beberapa peluang emas, bomber Álvaro Morata mendapatkan siulan dan ejekan dari fans. Padahal, Morata salah satu pemain senior yang paling diharapkan bisa memecah kebuntuan sekaligus memimpin tim muda Spanyol mengulang sukses di Piala Eropa 1964, 2008, dan 2012. “Akan lebih baik ketika publik bisa mengapresiasi Anda ketimbang memberi siulan. Saya ingin bertarung bersama orang-orang yang mengapresiasi kami dan membantu kami melewati masa-masa sulit. Jika kami bermain dengan cara yang sama melawan Polandia, saya yakin peluang-peluang itu akan berubah jadi gol. Saya pikir Morata paham bagaimana mengatasinya dan di laga berikutnya dia akan mencetak gol,” ujar rekan setim cum pemain debutan Pedri González kepada Marca, 15 Juni 2021.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page