Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Adik Kandung Pindah Agama, Haji Agus Salim: Alhamdulillah
SEKALI waktu, seorang Belanda pernah bertanya kepada Haji Agus Salim, “Zeg Salim, bagaimana itu, adik Anda masuk agama Katolik?”. “God zij dank, Alhamdullilah, ia sekarang lebih dekat dengan saya,” jawabnya santai. “Mengapa Anda malah berterima kasih kepada Tuhan?” tanya orang Belanda itu semakin heran. “Dia dulu orang komunis, tidak percaya Tuhan, sekarang dia percaya Tuhan,” katanya.
- Kenangan Seorang Sahabat
SABTU, 8 Oktober 2011 pukul 01.30 waktu Amsterdam, Belanda, di tengah keheningan malam, kami mendengar telepon berdering. Ternyata dari Ninon, istri Umar Said, bicara dari seberang telpon. Kabar duka menerpa di malam hari. Seperti tersambar halilintar di tengah malam sunyi, saya terkejut. “Pak Isa,” terdengar suara Ninon bergetar, “Pak Umar sudah tak ada lagi.” Ayik, demikian saya memanggilnya, wafat pada pukul 22.50 waktu Paris, Prancis setelah sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit kota Paris sejak Rabu (5/10) yang lalu. Saya sangat berduka kehilangan seorang sahabat akrab. Perasaan yang sama persis muncul ketika kehilangan Joesoef Isak pemimpin penerbit Hasta Mitra, beberapa tahun yang lalu. Pada saat Joesoef Isak datang pertama kali ke Eropa secara klandestin, sekira tahun 1978, saya dan S. Tahsin (wartawan, mantan Pemred Bintang Timur, red.), pendiri dan pengelola penerbit dan toko buku "Manus Amici" di Amsterdam, selalu berkumpul di suatu tempat untuk saling cerita, tukar pengalaman dan berkonsultasi. Biasanya pertemuan itu berlangsung di rumah Ayik di Paris. Saat itu Ninon, istri Ayik dan dua orang putranya, Iwan dan Budi, masih belum diketahui keberadaannya di Indonesia.
- Adieu Monsieur Aumars!
SEPEKAN setelah Joesoef Isak wafat 15 Agustus 2008 lampau, Umar Said selalu menelpon saya. Tiga kali seminggu! Dalam setiap pembicaraan, dia selalu menekankan pentingnya merawat warisan intelektual Joesoef Isak. Ketika terlontar gagasan Joesoef Isak Award, Umar langsung menyambut gembira rencana itu. “Kalau Mochtar Lubis saja ada award-nya, mosok wartawan sekaliber Joesoef Isak ndak ada,” kata dia dari seberang nun di Paris sana. Tak henti-henti Umar selalu mengingatkan jasa penting sahabatnya itu dalam menjebol tembok kekuasaan yang mengekang kebebasan menyatakan pendapat di negeri ini. Persahabatan Umar Said dengan Joesoef Isak terjalin sejak lama, sejak mereka sama-sama wartawan muda yang penuh elan bahu membahu dalam kepengurusan Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA). Umar bekerja untuk koran Ekonomi Nasional, Joesoef untuk Merdeka. Kerjasama terakhir mereka terjadi pada 2008, saat Joesoef meminta tolong Umar untuk menemui Han Suyin, penulis biografi Zhou Enlai yang akan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasta Mitra.
- Dari Lenong ke Politik, Kiprah Pak Tile Engkongnya Si Doel
DI TERAS rumah keluarga Sabeni, Engkong Ali (diperankan H. Tile) dan Mandra sedang ribut-ribut seperti biasanya. Engkong Ali mewejangi Mandra yang masih jomblo alias melajang kendati sudah berusia matang. Namun, Mandra tak terima nasihat babe-nya itu. Engkong Ali pun jadi dongkol. “Mandra... Mandra... payah lo. Gua seumuran lu jadi anak muda, satu kampung abis gua babat semua. Jandanya, perawannya, nenek-nenek, gue sikat!” tandas Engkong Ali sambil melengos masuk ke dalam rumah. Begitulah sosok Engkong Ali dalam sinetron keluarga Si Doel Anak Sekolahan yang bicaranya suka nyablak tapi sebenarnya sayang kepada keluarga. Dia dikisahkan sangat sayang kepada kedua cucunya, Kasdullah alias Doel (diperankan Rano Karno) dan Atun (Suti Karno). Doel dan Atun merupakan anak-anak dari Leila (Aminah Cendrakasih) –putri sulung Engkong Ali– dan Sabeni (Benyamin Sueb).
- Munculnya Si Doel (Bagian III)
SAYUP-SAYUP terdengar lantunan adzan mengiringi monolog Sabeni (diperankan Benyamin Sueb) sembari menatap hampa ke langit petang di halaman belakang rumahnya. Di belakangnya, Kasdoellah alias Si Doel (Rano Karno) menyarungkan goloknya usai memotong kayu bakar lalu ikut hanyut mendengarkan ocehan Sabeni, babenya itu. “Doel, biar babe tukang ngomel, namenye ame anak, biar kate kaki bakal kepale, kepale bakal kaki, demi elu babe ikhlas. Ini emang kemauan babe, Doel. Supaya elu bisa pinter sekolahnye, bisa tinggi sekolahnye, bisa jadi orang pangkat. Jangan kayak babe, sopir. Bukan itu yang gue mau, Doel. Sekali-sekali elu jadi gubernur, gitu,” celetuk Sabeni dengan logat khas Betawinya. Potongan adegan sinetron Si Doel Anak Sekolahan (1994-2003) episode 4, season 1, itu seolah doa buat Rano. Bertahun-tahun kemudian ketika sudah terjun ke panggung politik, Rano menjadi pelaksana tugas gubernur (2014-2015) dan resmi menjabat gubernur (2015-2017) meski bukan di DKI Jakarta, melainkan di Banten.
- 27 Januari 1997: Kerusuhan di Pasar Tanah Abang
PADA Senin, 27 Januari 1997, tepat 30 tahun yang lalu, kerusuhan hebat melanda wilayah Tanah Abang. Pasar Tanah Abang yang biasanya disesaki pedagang dan pengunjung tampak mencekam. Api berkobar dari kendaraan-kendaran yang luluh-lantak. Hari itu, para pedagang Tanah Abang berada di puncak kemarahannya sebagai bentuk perlawanan terhadap pungli atau pungutan liar. “Tanah Abang rusuh,” lansir Berita Yudha, 28 Januari 1997, “7 mobil, 1 sepeda motor, dan Kantor Kecamatan Tanah Abang dibakar dan dirusak.” Dari tujuh mobil plat merah yang dibakar, enam milik Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) serta satu mobil milik wakil camat Tanah Abang. Sebagai pusat perputaran uang di Jakarta Pusat, kerusuhan di Pasar Tanah Abang menyebabkan roda ekonomi lumpuh.
- Cerita Tercecer dari Masjid al-Makmur Tanah Abang
KERUSUHAN di kawasan Tanah Abang pada 21-22 Mei menyisakan sejumlah cerita sumir. Misalnya tentang Masjid al-Makmur Tanah Abang. Dua tokoh nasional sempat berbicara di masjid ini. Mereka adalah Sjafrie Sjamsoeddin dan Amien Rais. Pilihan politik mereka jatuh pada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kedatangan dua tokoh tersebut ke masjid al-Makmur mengarahkan orang pada dugaan bahwa masjid ini mempunyai hubungan dengan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tapi Habib Hasan bin Zainal Abidin al-Habsyi, sekretaris masjid, lekas meluruskan dugaan itu. “Masjid ini sebenarnya masjid yang netral. Jadi masjid ini menjadi tempat singgah siapa pun orang muslim. Termasuk kepada laskar Hizbullah yang berjuang pada tahun 1945 itu. Masjid al-Makmur memang berdiri di atas dasar ahlussunnah wal jama’ah. Itu sudah jadi ketetapan dari awal pendirian masjid ini,” kata Habib Hasan kepada Historia.ID.
- Pasang Surut Pasar Tanah Abang
KERUSUHAN melanda kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 21—22 Mei 2019. Selama dua hari berikutnya, Pasar Tanah Abang terdampak. Para pedagang menutup kiosnya. Mereka jatuh rugi. Perputaran uang senilai Rp200 miliar per hari hilang. Tapi tiga hari setelah kerusuhan, Pasar Tanah Abang buka kembali. Pengunjung pun menyesaki pasar untuk membeli pakaian Lebaran. Sejarah Pasar Tanah Abang ialah sejarah bangkit berkali-kali dari hantaman bala. Kerusuhan dan kebakaran pernah menimpa pasar ini silih berganti. Tapi pasar ini mampu bertahan. Bahkan kemudian menjelma pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Pasar Tanah Abang bermula dari permintaan Justinus Vinck, pejabat kaya VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), untuk mendirikan pasar di atas dua lahan miliknya pada 1733. Satu di wilayah Weltevreden (sekarang Pasar Senen), lainnya berada di Tanah Abang.
- Qaramitah, Negeri Sosialis di Jazirah Arab
JAUH sebelum sosialisme modern muncul di Abad Pencerahan (abad ke-17 dan akhir abad ke-18 usai Revolusi Prancis) atau sebelum adanya karya Karl Marx dan Friedriech Engels, Manifest der Communistischen Partei (1848), sebuah negeri di Jazirah Arab sudah mempraktikkan gagasan-gagasan sosialisme yang cenderung proto-komunisme di abad ke-10. Dinasti Qarmitah nama negeri itu (kini Bahrain). Eksistensi Dinasti Qarmitah (899-977) berawal dari gejolak-gejolak yang bermunculan di Kekhalifahan Abbasiyah (750-1517) pada abad ke-9. Tesis Fadi A. Fahes dari California State University, “Social Utopia in Tenth Century Islam: The Qarmatian Experiment” mengungkapkan, gejolak-gejolak itu muncul karena hadirnya beragam kekuatan-kekuatan ideologis, politis, etnis, filosofis, hingga relijius di abad sebelumnya. “Pada abad kesembilan terjadi tiga pemberontakan besar. Pemberontakan Babakian (816-838) yang merupakan perjuangan nasionalistik-utopia terjadi hampir dua dekade di barat laut Iran. Kedua, Pemberontakan Zanj (869-883) di Irak. Ketiga dan yang paling sukses adalah Revolusi Qaramitah pada 899,” tulis Fahes.
- Cerita di Balik Pengunduran Diri Bung Hatta
PARLEMEN gempar ketika Wakil Presiden Mohammad Hatta resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Tidak hanya di parlemen, berita pengunduran diri Bung Hatta mengisi halaman depan semua suratkabar nasional. Sejak Bung Hatta meletakkan jabatannya pada 1 Desember 1956, kepemimpinan dwitunggalnya bersama Presiden Sukarno telah pecah kongsi. “Mulai hari ini RI tak punya wakil presiden. Dr. Mohammad Hatta tetap pada pendiriannya meletakkan jabatan mulai tanggal 1 Desember 1956,” demikian diwartakan Kedaulatan Rakjat, 1 Desember 1956. Sebelum resmi meletakkan jabatan, wacana pengunduran diri Bung Hatta sejatinya telah bergulir cukup lama. Pada 1955, Bung Hatta telah mengajukan permohonan pengunduran diri. Namun, permohonan itu tidak mendapat tanggapan dari parlemen.
- Hikayat Gedung Para Kapiten
GEDUNG bergaya multi kultural (Tiongkok, Melayu dan Eropa) itu nampak terlihat tua. Di beberapa bagiannya, dinding tembok mengelupas, memamerkan batu bata merah tua yang terlihat masih kokoh. Kesan kuno semakin kuat, melihat letaknya yang ada di pinggiran Sungai Musi, tepatnya di Dermaga Tujuh Ulu, Palembang. Sisa-sisa kejayaan bangunan itu juga tercermin dari pilar-pilar kayu jati yang masih nampak kekar, dan lantai gedung yang terbuat dari kayu onglen. “Kami mengenalnya sebagai Gedung Kapiten,” ungkap Syukri (43), salah seorang warga kota Palembang. Masuk ke gedung itu lewat sebuah tangga kayu berundak 12, pemandangan bercorak Tiongkok terhampar: altar-altar tua, sebuah foto usang lelaki Hokian lengkap dengan seragam pejabat Hindia Belanda-nya.
- Seabad Maskapai KLM Menghubungkan Amsterdam-Jakarta
HARI ini, 7 Oktober, perusahaan penerbangan nasional Belanda, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM), resmi berusia 105 tahun. Maskapai penerbangan tertua yang masih beroperasi di dunia itu seabad silam (7 Oktober 1924) juga memberi bukti bahwa Eropa dan Asia bisa terkoneksi via udara dengan aman ketika membuka rute komersial Amsterdam-Batavia (kini Jakarta). Menilik catatan sejarah, KLM memang bukan maskapai pertama di dunia. Adalah Deutsche Luftschiffahrts-Aktiengesellschaft (DELAG) maskapai yang pertama didirikan, yakni 16 November 1909. Namun pada 1935 maskapai yang didirikan pabrikan pesawat Zeppelin Luftschiffbau itu terpaksa berhenti beroperasi lantaran Zeppelin sebagai korporasi induknya direstrukturisasi demi kepentingan pembangunan pesawat-pesawat militer untuk pemerintahan Nazi. Beda ceritanya dengan KLM. Maskapai yang kini beroperasi melayani penerbangan komersial ke 163 destinasi lintas benua itu berdiri atas prakarsa penerbang muda jebolan Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda, Letnan Albert Plesman.





















