top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Soe Hok Gie dan Tentara

    RUDY BADIL masih ingat kata-kata sobatnya, Soe Hok Gie. Suatu hari, aktor intelektual gerakan mahasiswa 1966 itu bilang bahwa politik merupakan dunia yang sangat dihindarinya. Kalaupun pada akhirnya dia ada di dunia politik, Soe meyakinkan bahwa itu adalah jalan terakhir yang terpaksa harus diambilnya karena jalan yang lain sudah tertutup. “Orang lurus macam dia memang tak cocok ada di dunia politik,” ujar mantan jurnalis senior itu kepada . Soe memang pernah mengungkapkan hal tersebut dalam catatan hariannya yang dibukukan berjudul . Pada 16 Maret 1964, dia menulis bahwa politik adalah barang paling kotor, lumpur-lumpur kotor yang di dalamnya sama sekali tak mengenal moral.

  • Jadi Tentara karena Jailangkung

    SETIAP tentara memiliki motivasi masing-masing menjadi anggota TNI. Namun, Jenderal TNI (Purn.) Soemitro memutuskan menjadi tentara dengan alasan yang nyeleneh: petunjuk jailangkung. Soemitro lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur pada 13 Januari 1927. Waktu kecil, dia bercita-cita menjadi insinyur. Namun, ketika dia menginjak usia 15 tahun, ada sesuatu yang membelokkan cita-citanya dari insinyur menjadi tentara. Ketika itu, tentara Jepang baru masuk Indonesia. Dia dan Gatot Supangkat, kawan pondokan di Surabaya, iseng-iseng main jailangkung. “Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ‘besok saya akan jadi apa?’ Sang jailangkung menjawab dengan menunjuk huruf-huruf M A J O R,” kata Soemitro dalam memoarnya, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib. “Namanya garis hidup, saya betul-betul jadi tentara.”

  • Membentuk Tentara Rakyat

    SEJAK kaum bersenjata datang dari arah Jakarta pada awal 1946, Karawang yang tenteram berubah menjadi rusuh: perkelahian dan bentrok terjadi di mana-mana. Menurut Telan (91 tahun), biasanya mereka bertikai gara-gara masalah kecil. Misalnya satu kelompok laskar tidak mau bayar makanan di sebuah restoran, lalu pemilik restoran itu lapor ke pihak kelompok bersenjata lainnya. “Ya jadilah kemudian tawuran pakai peluru,” ujar mantan anggota laskar di Karawang itu. Soal itu dibenarkan oleh M. Kharis Suhud. Sebagai eks kombatan di Resimen Cikampek, ia menjadi saksi bagaimana dominannya kaum bersenjata di Karawang beberapa bulan setelah Indonesia merdeka. “Terutama sebuah lasykar yang hampir tiap waktu melakukan pamer kekuatan dengan senjata lengkap di kota sambil menyanyikan lagu-lagu menyeramkan seperti lagu 'Darah Rakyat',” tulis Kharis dalam Sekilas Pengabdian Resimen Cikampek dalam Perang Kemerdekaan.

  • Mengerjai Tentara Pelajar

    PADA akhir Januari 1946, satu seksi pasukan tentara pelajar di bawah pimpinan Murdoyo dan Poly Sulistio, dari Yogyakarta tiba di Jetis, asrama TRIP setelah mundur dari Surabaya. Mereka bermaksud bergabung dengan kesatuan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Setelah melalui latihan kemiliteran, pada suatu malam yang gelap, mereka dibangunkan agar bersiap-siap berangkat ke front untuk menyergap kedudukan Belanda. Semua anggota pasukan berangkat dengan hati berdebar-debar. Mereka bergerak dalam formasi satu-satu ke belakang dengan jarak 1-2 meter dengan teman di depannya. Perintah disampaikan secara beranting. Mereka berjam-jam bergerak terus, diselingi dengan menikung ke kiri dan kanan, melalui pematang-pematang sawah dan tegalan serta menerobos berbagai perkampungan penduduk. Sekitar jam 03.00 pasukan diperintahkan berhenti dan membentuk posisi pertahanan menyamping serta mencari perlindungan di balik pohon atau gundukan tanah.

  • Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa

    HARI ini, 25 Juli, 69 tahun silam di kediaman Komisaris Tinggi Belanda Hans Max Hirschfeld. Naiknya Letnan Jenderal (Letjen) Dirk Cornelis Buurman van Vreeden ke podium jadi momen paling ditunggu. Panglima terakhir Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL/Tentara Kerajaan Hindia Belanda) itu menyampaikan pernyataan di depan mikrofon lewat dua bahasa –Belanda dan Indonesia– yang menandakan bubarnya serdadu kolonial berusia 120 tahun itu. Benarkah 120 tahun? Pasalnya, monument KNIL di Bronbeek yang mengabadikan usia KNIL sudah direvisi dari penyebutan kurun waktu 1830-1950 menjadi 1814-1950. Perubahan itu dilakukan setelah muncul hasil riset Letkol (tituler) Willem L. Plink yang meyakini KNIL sudah lahir sejak 14 September 1814, bukan 4 Desember 1830 yang mengacu pada Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische Leger dari Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dikutip dari situs Vrieden van Bronbeek, Plink mendasarkan pernyataannya pada temuan sebuah panji Resimen Van Heutsz bertarikh 1814 di sebuah pameran di Museum Bronbeek. Panji tersebut memuat jahitan bertuliskan “Krijgsverrichtingen Koninklijke Nederlands-Indisch Leger 1816-1950” serta “Korea 1950-1954”.

  • Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris

    KETIKA Inggris kembali menjadi penguasa tunggal Maluku, rakyat diatur dalam suasana kebebasan. Inggris belajar atas kesalahan mereka di masa lalu, juga melihat kebijakan pemerintahan Belanda sebelumnya yang berhasil menyulut reaksi rakyat untuk melawan. Dampak pemerintahan baru Inggris di Maluku dinilai baik oleh semua kalangan. Rakyat tidak merasa adanya tekanan dari penguasa lama yang kembali tersebut. Hal itu dirasakan juga oleh Thomas Mattulesi dan teman-teman seperjuangannya di Lease, Kepulauan Maluku bagian tengah. Sesekali ia memanfaatkan kelonggaran peraturan pemerintah Inggris itu untuk bekayuh ke Ambon, mencari informasi sebanyak-banyaknya dari pusat pemerintahan Inggris di Maluku. “Kebebasan ini, terutama kebebasan kaum muda di seluruh negeri, nantinya mempunyai akibat buruk bagi Belanda yang kembali lagi sesudah pemerintah Inggris berakhir,” kata I. O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura.

  • Tentara Gurkha Teriak Merdeka

    LELAKI Nepal itu bernama Basin. Dia anggota British India Army (BIA) dari Batalyon 3/3 Gurkha Rifles Divisi ke-23 The Fighting Cock (Divisi Ayam Jago). Tahun 1945, Basin bersama rekan-rekannya ditugaskan untuk mengamankan jalur sepanjang Cianjur-Bandung dari para gerilyawan Indonesia. Akhir Maret 1946, Yon 3/3 Gurkha Rifles terlibat dalam pertempuran brutal dengan para gerilyawan Indonesia di tebing Ciranjang dekat Sungai Cisokan. Korban pun berjatuhan di kedua belah pihak. Lima tentara Gurkha menjadi tawanan perang termasuk Prajurit Basin. “Mereka kemudian kami amankan di suatu tempat, tetapi kami perlakukan secara manusiawi,” ujar Raden Makmur (93), eks gerilyawan Indonesia asal Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI).

  • Perkelahian Tentara Gurkha dengan Pejuang Indonesia

    AWAL 1946. Jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung kerap dilalui hilir-mudiknya konvoi pasukan Sekutu (Inggris) dari kesatuan British Indian Army (BIA). Pengerahan pasukan secara besar-besaran itu dilakukan guna mengawal pengiriman kebutuhan logistik untuk ribuan prajurit Inggris dan 60.000 bekas tahanan perang Jepang di Bandung. “Pengiriman dari Jakarta itu kerap berjalan tersendat-sendat karena para pejuang RI tidak pernah membiarkan upaya itu berjalan lancar,” ungkap R.H.A. Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali! Terganggunya jalur lalu lintas utama itu otomatis mempengaruhi juga keadaan prajurit-prajurit BIA yang menempati pos-pos sepanjang Cianjur-Ciranjang-Bandung. Tak jarang pasokan logistik terlambat hingga seminggu.

  • Wartawan Jadi Tentara Gurkha Dadakan

    SETELAH menempuh perjalanan panjang, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko tiba di Yogyakarta. Mereka baru saja selesai meliput Konferensi Malino dari Makassar. Rencananya hasil reportase itu akan disampaikan kepada Presiden Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta. “Setibanya di Stasiun Tugu, Yogya, saya bergegas ke Hotel Merdeka di Jalan Malioboro, saya jijnjing kopor pakaian dan saya kepit gulungan tikar sembahyang,” tutur Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950. Pada waktu itu Rosihan adalah redaktur yang bernaung di bawah harian Merdeka, media berhaluan nasionalis di masa revolusi. Menurut Rosihan keadaan di hotel kurang terpelihara karena banyak tamu yang datang silih berganti. Beruntung Rosihan masih mendapat kamar meskipun harus berbagi dengan Charles Tambu, pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Inggris Independen. Saat itu, Charles Tambu menghindari kejaran tentara Belanda, mengungsi ke Yogya dan diperbantukan di Kementerian Penerangan.

  • Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara

    SEJATINYA, Mas Tirtodarmo (MT) Haryono bercita-cita menjadi dokter. Namun, Perang Kemerdekaan memaksanya putar haluan menjadi tentara. Profesi inilah yang membingkai namanya menjadi Pahlawan Revolusi. MT Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924. Ayahnya, Mas Harsono Tirtodarmo, merupakan asisten wedana di Gresik pada masa penjajahan Belanda. Pada 1924, Mas Harsono mendapatkan tugas menjadi jaksa di Sidoarjo. Ia pun memboyong istrinya, Alimah, yang sedang mengandung Haryono. Dalam perjalanan dari Gresik ke Sidoarjo itulah Haryono lahir.

  • Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman

    SEMALAMAN Heinz Otto Fausten berjuang mati-matian melawan cuaca minus 30 derajat Celcius yang membekukan tubuh di tengah Operasi Barbarossa (invasi Jerman Nazi atas Uni Soviet). Bersama beberapa rekannya di batalyon intai panzergrenadier Divisi Lapis Baja ke-7, Fausten berdiam di sebuah kantung pertahanan di tepi barat stasiun dan Kanal Moskow-Volga. Titik itu merupakan posisi terdekat pasukan Jerman dari gerbang barat kota Moskow yang berjarak 30 kilometer dari Kremlin, pusat pemerintahan komunis Uni Soviet. Fausten berharap pagi 5 Desember 1941 membawakan sedikit kehangatan dari sinar mentari. Namun apa lacur, mata prajurit panzergrenadier (infantri mekanis) Jerman itu justru melihat gelombang manusia dari pihak musuh. “Kanal Moskow-Volga terhampar di hadapan kami dan di seberang tepiannya, terdapat gelombang pasukan Rusia yang tiba-tiba datang. Banyaknya jumlah mereka membuat kami tak bisa berkata-kata. Barisan mereka bergerak tanpa ujung, serdadu yang naik ski dengan mantel putih mereka. Ada juga barisan tank dan unit-unit artileri serta kendaraan tempur lain yang tak terhingga jumlahnya. Dari mana datangnya mereka?” kenang Fausten dikutip David Stahel dalam The Battle for Moscow.

  • Tentara Rusia di Kapal Selam Indonesia

    ANGGOTA Korps Hiu Kencana memanggilnya: Pak Zukov. Orangnya tidak begitu tinggi namun memiliki wajah keras khas Rusia. Berbeda dengan penampakan luarnya yang garang, Zukov yang konon merupakan seorang perwira Angkatan Laut Uni Soviet (soal itu memang sengaja dirahasiakan) keseharian-nya sangat ramah. “Dia mengajarkan saya banyak hal tentang dunia kapal selam, terutama mengenai detil yang terkait dengan kapal selam kelas Whiskey yang memang dibuat Uni Soviet,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana TNI-AL angkatan awal. Zukov adalah salah satu dari sekira 300 anggota AL Uni Soviet yang sempat “ditugaskan” untuk mengawaki 6 kapal selam jenis Whiskey yang dibeli Indonesia. Ceritanya, sekira Juni 1962, pihak intelijen Indonesia menginformasikan HNMLS Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Kapal induk yang memiliki nomor lambung R81 itu khusus datang dari pangkalan mereka di Den Helder demi memperkuat pertahanan laut militer Belanda di wilayah Irian Barat (sekarang Papua).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page