top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Petualangan Pelaut Prancis di Nusantara

    PADA 15 Juni 1526, dua kapal penuh muatan di pelabuhan Honfleur, Normandi, Prancis, tengah bersiap melakukan perjalanan jauh. Seorang penjelajah berkebangsaan Italia, Giovanni de Verrazano, dipercaya Raja Prancis memimpin rombongan tersebut. Dengan bekal catatan pelayaran Ferdinand Magellan pada 1520 yang tersebar di seluruh Eropa, Verrazane membawa puluhan awak kapal menuju kepulauan rempah-rempah di Timur jauh. Pada pelayaran pertama itu, sang kapten mencoba mengikuti jalur Samudera Pasifik, persis seperti yang dilakukan Magellan. Tetapi jalur yang berat membuatnya terpaksa membalikan kemudi kapal. Ia pun memutuskan mengambil jalur lain, yakni melalui bagian selatan Samudera Atlantik, menuju wilayah paling ujung Afrika, kemudian memasuki Samudera Hindia. Verrazane memanfaatkan gerak Angin Timur dalam pelayaran tersebut. “Tapi, para awak kapal yang sudah kelelahan dan tidak mendapatkan bayaran dalam perjalanan yang sia-sia itu memutuskan untuk memberontak. Mereka menuntut agar paling tidak satu di antara dua kapal itu tidak melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX.

  • Larbi Benbarek, Bintang Sepakbola Prancis yang Dilupakan

    SUATU hari yang cerah di bulan September 1992. Abdelkader Larbi Ben M’barek alias Larbi Benbarek (diperankan Mohamed Khashla) baru selesai mendirikan salat di kediamannya. Tak lama kemudian, Hassan (Abdelhamid Qarqouri) sahabatnya mengajaknya ke Stade Mohammed V di Kasablanka, Maroko untuk menyaksikan laga timnas Maroko. Namun sesampainya di tujuan, Larbi ditolak masuk. Ia tetap dilarang masuk ke stadion ketika menunjukkan selembar kartu pas berlogo FIFA. Penolakan itu jadi kali terakhir Larbi menengok stadion terbesar Maroko itu lantaran seminggu kemudian, pada 16 September 1992, Larbi mengembuskan nafas terakhirnya. Prolog film Larbi: Ou le destin d’un grand footballeur (2011) garapan sineas Driss Mrini itu dengan gamblang menggambarkan figur seberpengaruh Larbi Benbarek begitu cepat dilupakan. Tidak hanya dalam ingatan publik Prancis, negeri tempat Benbarek berkarier hingga bersinar di masa muda, namun juga di negeri kelahirannya, Maroko.

  • Empat Gerilyawan Korea di Palagan Garut

    NAMA Yang Chil Sung alias Komarudin saat ini sudah mulai dikenal banyak orang Indonesia. Sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia asal Korea, kiprahnya mulai terangkat tiga tahun belakangan ini, ketika beberapa media asal Korea Selatan seperti Radio KBS dan MBC TV membuat liputan khusus tentang kisah hidup lelaki asal kota Wanju tersebut selama berjuang sebagai gerilyawan Indonesia di Garut. Bahkan kepada Metro TV beberapa waktu lalu, Bupati Garut Rudy Gunawan pernah menyatakan akan memasukan Yang Chil Sung sebagai pahlawan lokal sekaligus menabalkan namanya untuk satu ruas jalan di kota Garut. “Beliau pantas mendapatkan penghormatan sehingga namanya akan kami abadikan sebagai nama jalan (di kota Garut),” ujarnya.

  • Sepuluh Fakta di Balik Pengepungan Konstantinopel

    PADA 6 April 1453, sekitar 80.000 prajurit merapatkan barisannya di bawah panji Turki Usmani pimpinan Sultan Mehmed II. Di balik tembok, Kaisar Byzantium, Constantine XI, tengah memberi perintah kepada 7.000 prajuritnya untuk mempertahankan tembok kota mati-matian. Salah satu konfrontasi militer paling bersejarah dimulai. Konstantinopel dikepung selama nyaris dua bulan, sebelum akhirnya takluk pada 29 Mei 1453. Berikut ini sepuluh fakta tentang pengepungan dan jatuhnya Konstantinopel. Bukan Kali Pertama Konstantinopel Ditaklukkan Sebelumnya, Konstantinopel sebagai ibukota Byzantium, kekaisaran Romawi Timur, dikepung beberapa kali oleh orang-orang Persia, Arab, Rusia, Bulgaria, dan lain-lain. Namun, bukanlah pasukan Usmani yang kali pertama menaklukkannya, melainkan pasukan Salib pada 1204.

  • Enam Muslim Pionir di Sepakbola Prancis

    PERSEPAKBOLAAN Prancis turut terguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Emmanuel Macron pada 2 Oktober 2020. Ia menyatakan akan menetapkan undang-undang (UU) tentang sekularisme lantaran menganggap Islam kini sudah menjadi agama yang berada di ambang krisis. Pernyataan itu diperparah dengan pidatonya pada 21 Oktober 2020 setelah munculnya kasus pemenggalan Samuel Paty, guru sejarah di Paris, oleh seorang imigran muslim Chechen. Paty dibunuh setelah memamerkan karikatur Nabi Muhammad SAW di hadapan murid-muridnya. “Kita tidak akan menghentikan kartun-kartun, gambar-gambar, bahkan jika yang lain menghentikannya. Sang guru (Paty) dibunuh karena ia mewakili republik. Kami akan melindungi kebebasan yang Anda ajarkan dan kami akan membawakan sekularisme,” cetusnya di Universitas Sorbonne, dinukil Euronews, 21 Oktober 2020.

  • AMX-13 Tank Prancis Rasa Amerika

    BAK mobil balap, tank ringan AMX-13 milik Batalyon Kavaleri 4 Kodam III/Siliwangi memacu kecepatannya saat berbelok dari arah PLTA Saguling ke arah Rajamandala, Kabupaten Bandung pada Kamis (10/9/2020). Deru mesinnya begitu sangar. Dasar sial, salah satu AMX-13 yang ngebut itu hilang kendali. Sebuah gerobak penjual tahu dan sejumlah sepeda motor yang terparkir di dekatnya langsung jadi korban serudukannya. Untung tiada jatuh korban jiwa. Menurut Kapendam III/Siliwangi Kolonel (Inf) FX Sri Wellyanto dalam keterangan tertulisnya, rombongan AMX-13 itu sedang melakoni latihan uji siap tempur setingkat kompi. Atas insiden itu, pihak batalyon akan mengganti rugi empat motor dan sebuah gerobak nahas itu.

  • Pulau Buru dalam Kenangan Penjelajah Prancis

    KEJADIAN pilu itu akan terkenang sepanjang hidupnya. Terombang-ambing di atas kapal tanpa sedikitpun makanan menjadi derita teramat pedih Louis de Bougainville. Penjelajah Prancis tersebut harus berjuang melawan rasa lapar dan ganasnya ombak samudera selama berbulan-bulan. Sejatinya mereka akan menuju Batavia, sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Namun, kondisi angin membuat para pelaut ini kehilangan arah hingga akhirnya tiba di sebuah pulau, yang kemudian mereka sebut Boero (Buru). Bagi mereka Buru adalah surga. Surga yang tergapai setelah terjerat jurang neraka. Sekira pukul 10 malam pada suatu hari di bulan September 1768, pijar api dari Pulau Buru telah menyelamatkan Bougainville dan anak buahnya. Para awak terus mengikuti keberadaan cahaya tersebut sampai nampak sebuah daratan. Namun Si Kapten tidak buru-buru menurunkan jangkarnya. Ia tidak ingin kedatangan mereka malah mengusik pemilik pulau tersebut. Dalam catatan perjalanannya, A Voyage Round the World: Performed by Order of His Most Christian Majesty in the Years 1766-1769, Bougainville menyebut kalau ia telah mengetahui jika Belanda berkuasa di sana. Tetapi karena kekurangan informasi tentang situasi politik di Eropa, maka ia harus berhati-hati dalam membuat keputusan. Meski begitu, keadaan di atas kapal memaksa Bougainville untuk segera mencari bantuan. Semua orang sudah benar-benar kelaparan. Ditambah setengah anak buahnya membutuhkan perawatan medis akibat penyakit kulit yang mereka derita.

  • Akhir Tragis Seorang Atlet Prancis

    SOROT matanya tajam. Meski posturnya hanya setinggi 5,5 kaki (165 cm), Violette Morris “memelihara” otot di berbagai bagian tubuhnya. Gadis Prancis itu perawakannya tak feminim. Hal itu membuat hidupnya kerap dikitari kontroversi. Namun, sejatinya dia dikenal sebagai atlet multitalenta. Lahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudari pada 18 April 1893, Violette dianugerahi fisik yang atletis. “(Fisiknya) digambarkan seperti raksasa. Ukuran bisepsnya hampir 14 inci –seukuran rata-rata leher wanita. Namun sebenarnya tingginya hanya 5,5 kaki. Fisiknya sangat, sangat kuat,” ungkap sejarawan Anne Sebba dalam Les Parisiennes: How the Women of Paris Lived, Loved and Died in the 1940s. Sejak belia hingga dewasa, Violette menggandrungi beragam cabang olahraga. Namun, dia terpaksa menghentikan hobinya menyusul pecahnya Perang Dunia I. Baru setelah perang usai Violette kembali menggeluti olahraga. Prestasi mulai berdatangan di cabang atletik nomor lempar lembing dan tolak peluru.

  • Demi Gaji Tinggi, Orang Prancis Jadi Tentara KNIL

    REKRUTMEN anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) menarik minat orang Eropa, terutama dari Prancis. Mereka bersedia dikirim ke Hindia Belanda karena tergiur iming-iming gaji yang tinggi. Jean Roecher, mantan atase militer Prancis di Jakarta, mengungkapkan, sebelum akhirnya KNIL resmi terbentuk tahun 1830, Belanda memerlukan banyak orang untuk bertempur di Hindia Belanda. Mereka pun merekrut dan mendatangkan orang asing ke Hindia Belanda. “Khususnya untuk perang di Aceh butuh banyak serdadu. Di Nusantara sudah banyak yang meninggal karena pertempuran dan penyakit,” kata Roecher dalam bedah bukunya yang ditulis bersama Iwan Santosa, KNIL: Perang Kolonial di Nusantara Dalam Catatan Prancis, di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (2/6).

  • Duta Prancis di Kesultanan Banten

    JEAN BAPTISTE DE GUILHEN, Pilavoine, dan Calmel lalu mendapat tugas mengurus loji Prancis di Banten yang baru didirikan. Sultan Banten Ageng Tirtayasa memberi izin pendirian loji Prancis sebagai balasan atas niat baik Prancis yang berjanji membantu Banten dalam usahanya mengalahkan Palembang. Sultan juga berjanji akan memberikan konsesi di Bangka Belitung, yang meminta perlindungan Banten, kepada Prancis kelak ketika kepulauan itu sudah lepas dari Palembang. Tugas pertama, mencari muatan untuk kapal Saint Francois, berhasil diselesaikan Guilhen dengan baik. Dia mendapatkan 2500 bahar lada hitam, di antaranya didapatkan langsung dari Syahbandar Kaytsu. Perniagaan kompeni Prancis di Banten kian lancar berkat tangan dingin Guilhen, meski tak selalu semulus seperti diperkirakan sebelumnya. Guilhen, misalnya, dengan mudah mendapatkan pinjaman 20 ribu real dari sultan saat sebuah kapal Prancis tiba dengan muatan terlalu sedikit pada 28 Mei 1680.

  • Jejak Orang Prancis di Kesultanan Banten

    AKUNTAN sekaligus ahli tekstil Prancis, Jean Baptiste de Guilhen, masih menyelesaikan pembukuan perusahaannya. Suara langkah terdengar memasuki rumahnya pada malam di tahun 1668. Dia mengambil senjata dan menembak dua orang yang dia anggap rampok itu. Seorang tewas, seorang lagi berhasil diselamatkan. Ternyata, kedua orang itu anak buahnya yang tinggal serumah di Beaucaire, Prancis. Guilhen tak pernah menduga peristiwa itu bakal mengubah jalan hidupnya. Lahir di Tarascon, Foix, Prancis pada 8 September 1634, Guilhen merupakan anak keluarga borjuis kaya yang menganut Katolik taat. Sejak kecil dia dititipkan ke neneknya, seorang Katolik puritan, agar mendapat pendidikan yang baik. Selain itu, dia mendapat pendidikan ilmu umum dari guru privat. Minat belajar besar dan dia berbakat. Setahun setelah neneknya meninggal, dia berangkat ke Lyon. Menurut Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, pada 1649, ayahnya memutuskan untuk menghentikan pendidikannya dan mengirimnya ke Lyon untuk bekerja di sebuah perusahaan perdagangan tekstil ternama. Ayahnya menyuruh dia bekerja di perusahaan tekstil ternama. Dia memulai kariernya dari penjaga gudang.

  • Saat Michael Jackson Mendamaikan Gangster Bebuyutan

    KESUKSESAN single “Beat It” ternyata belum membuat Michael Jackson benar-benar puas. Ia pun menyempurnakannya dengan video klip yang berbeda. Namun, untuk mendapatkan video klip yang diinginkannya ternyata ongkosnya sekira 150 ribu dolar. Alhasil Jackson mesti berkorban. “Video musik ‘Beat It’, seperti juga (lagu) ‘Thriller’, cenderung ibarat film pendek ketimbang video lagu biasa. Perusahaan rekaman Jackson, CBS (yang menaungi label Epic), menolak menanggung biaya videonya saat itu jadi Jackson mesti menalangi seluruh ongkos produksi dari koceknya sendiri,” tulis Emmet George Price dalam Encyclopedia of African American Music. Berdurasi 4 menit 59 detik video klip itu digarap sutradara Bob Giraldi dibantu Ralph Cohen, Antony Payne, dan Mary M. Ensign dari rumah produksi GASP. Produksinya dilakukan pada 9-10 Maret 1983 di kawasan Skid Row di Los Angeles.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page