top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bing Slamet Menebus Dosa

    DI sebuah pesta, Bing Slamet terpikat pada seorang gadis yang datang bersama sang kakak, teman dekatnya. Gadis itu masih menginjak sekolah menengah pertama dan pemalu. Bing mengutarakan isi hatinya kepada temannya. Pesan itu pun sampai ke telinga si gadis. Mendengarnya, R. Ratna Kamala Furi kaget dan kelabakan. Furi lahir di Cirebon, 21 Maret 1945, anak keenam dari tujuh bersaudara, putri pasangan Abdul Rachim dan Chairani. Sejak kecil suka menikmati dan menyanyikan musik-musik sentimentil. Dia sempat menjajal lomba nyanyi di RRI Jakarta. Suaranya terbilang lumayan. Penyanyi favoritnya siapa lagi kalau buka Bing Slamet. “Bing paling hebat, penyanyi tak ada banding,” ujar Furi kepada Pelita, 15 Januari 1976. Proses pendekatan terjadi selama masa liburan sekolah. “Waktu itu Bing masih pegawai RRI sedang cuti selama sebulan. Jadi waktu berkenalan saya pikir dia pengangguran. Apalagi katanya dia seniman,” ujar Furi, dikutip Kompas, 11 September 1975. “Yang saya heran adalah sikap orangtua saya. Biasanya mereka keras sekali dengan pergaulan anak-anaknya. Tetapi sama Bing mereka merasa kasihan. Sehingga perkenalan berlangsung kilat saja. Dalam sebulan kami sudah nikah dan tinggal beberapa tahun di rumah ayah saya.”

  • Kesenian Kelas Jongos

    LAWAK hanyalah kesenian kelas jongos. Orang-orang rendahan. Rakyat jelata. Metafora kelas itu digambarkan dalam pertunjukan Goro-goro, Limbuk-Cangik, dan Togog-Bilung di wayang kulit. Di kesenian tradisional lain seperti ketoprak atau ludruk, suasana penuh guyon juga hanya muncul ketika para abdi, pembantu, dayang-dayang berkumpul dan bercengkerama. Ungkapan mereka lewat bahasa egaliter, kadang kasar, menyentil, dan apa adanya menggambarkan tradisi sekaligus cap bagi posisi mereka. Tradisi melawak, geguyonan, berlelucon, bebodoran, selengekan, cengengesan hanya pantas dilakukan orang-orang dari kelas sosial tersebut. Orang-orang dari kelas sosial menengah atau tinggi harus serius atau tampak serius; karena itulah makna wibawa sebenarnya. Dalam cengkeraman feodalisme itulah tradisi lawak merangkak, tertatih-tatih, dan tumbuh. Dalam cibiran dan kerlingan sebelah mata “kaum terpelajar” pada masanya eksistensi lawak dianggap dan dinilai. Sangat berbeda dari seni lukis, seni sastra, dan seni suara. Kontras, bak bumi dan langit. Tak sulit menemukan nama Raden Saleh, Soedjojono, Affandi, atau Hendra Gunawan ketika orang menelusuri masa lalu seni lukis. Para seniman sendiri memiliki tradisi diskusi dan berliterasi, sehingga jejak-jejak sejarah semakin otentik. Para pengkaji juga aktif memberi warna dan peta. Seni sastra, lebih-lebih lagi. Sejak kelas satu SMP, kita “dipaksa” mengerti apa itu puisi, prosa, sajak, pantun, Poedjangga Baroe, Angkatan 45, hingga Chairil Anwar. Seni suara? Sejak TK bahkan anak-anak mengisi waktu dengan bermain dan bernyanyi. Sebuah anugerah yang melimpah.

  • Melawak Tanpa Babak

    JOEY Adams, komedian Amerika, terpana begitu melihat papan reklame dan iklan-iklan suratkabar bertuliskan “Joey Adams, pelawak top Amerika, versus Bing Slamet, pelawak top Indonesia” setibanya di Jakarta. Dia pun bertanya-tanya. “Bing Slamet,” kata Howard Palfrey Jones, dutabesar AS untuk Indonesia, “menyebut dirinya sebagai Joey Adams dari Indonesia.” “Bahkan meski belum melihatnya, Joey kini jadi penggemarnya seumur hidup,” celetuk Cindy, istri Adams. “Dia harus menjadi seorang kawan yang lucu,” ujar Adams. “Mulai sekarang aku akan menyebut diriku sebagai Slamet Bing dari Amerika.”

  • Bing Slamet Sang Bintang

    BERHASIL mengocok perut banyak orang, kelompok lawak Los Gilos, beranggotakan Mang Cepot, Mang Udel, dan Bing Slamet, merambah dunia film pada 1956. Mereka tampil dalam Raja Karet Dari Singapura. Sejumlah pelawak seperti Kuncung, Poniman, D. Harris, dan Srimulat ikut beradu akting. Alih-alih meraup sukses, film ini justru dipertanyakan mutunya. Secara komersial, film ini tak laku. Tapi Bing tak kapok main film. Tahun 1957, Nya’ Abbas Akub, sutradara muda, mempersiapkan film keduanya, Tiga Buronan. Film ini diproduksi Perfini Jakarta. Bing menjadi salah satu pemerannya. Selagi proses produksi, Nya’ Abbas didatangi produser. Ia diberi tahu soal kelakuan Bing. “Hati-hati sama dia, orangnya tidak disiplin,” ujar produser itu. Nya’ Abbas pun bimbang karena Bing bukan cuma pemeran, tapi juga tokoh utama. Belum lagi ada cibiran publik. Nya’ Abbas dianggap menggunakan popularitas Bing semata. Sebelumnya, Bing lebih sohor sebagai penyanyi atau pelawak.

  • Bing Slamet Musisi Sosial

    “SAYA mau ke Jakarta, Mas. Mau ikut lomba Bintang Radio tingkat nasional,” pinta Sudarwati alias Titiek Puspa ke kakaknya, Sumarno, pertengahan 1954. Khawatir orangtua mereka marah, Sumarno tak mengizinkan adiknya pergi. Titiek tak putus arang dan berkeras meyakinkan mereka. Hati kakak dan orangtuanya pun lumer. Mereka mengizinkan gadis berusia 17 tahun itu pergi. Begitu mendapat restu, Titiek berangkat ke Jakarta dari Semarang. Siapa sangka tujuan sebenarnya bertemu Bing Slamet. “Apa salahnya?” Titiek membela diri dalam hati. Dia ingin berguru.

  • Bing Slamet Pejuang Penghibur

    USAI bertemu Sam Saimun, Bing Slamet dan kelompok Pantjawarna ke Semarang. Berkasad tampil menghibur publik, mereka justru mengalami peristiwa menyeramkan. Bing tak ingat pasti hari dan tanggalnya. Yang jelas, tentara Jepang tiba-tiba menangkap mereka di sebuah hotel terkenal Du Pavilion pada 1944. Alasan penangkapannya tak jelas. Tentara Jepang lekas membawa mereka ke penjara di bawah todongan bayonet. Bing ingat lantai penjara itu dingin. Satu per satu diinterogasi. Suasananya mencekam. Sudah beredar kabar bahwa sesiapa yang masuk penjara Jepang hanya akan tinggal nama. Ketakutan, bulu roma para anggota sandiwara itu berdiri. Di kampungnya, ibunda Bing cemas. Ditinggal bertahun-tahun, dia sudah lama tak bertemu Bing. Apalagi Bing tak pernah memberi kabar. “Hubungan dengan anak tercinta, sementara terputus,” tulis Kartini, No. 17, April 1974. Maka perempuan itu memenuhi hari-harinya dengan doa. “Memohon kepada Tuhan agar anak sulungnya selamat.”

  • Kisah Penyanyi Pengelana

    ARBAIYYAH, seorang guru sekolah di Cilegon, tak henti memberikan semangat kepada Bing Slamet agar kelak menjadi penyanyi. Kala itu, Bing baru menginjak usia enam tahun. Seperti orang-orang di kampungnya, Arbaiyyah mengetahui kegemaran Bing: menyanyi. Arbaiyyah seperti sudah melihat bakat besar pada diri Bing. Saat mengenyam pendidikan dasar di Hollands Indische School (HIS), Bing dipanggil “Abdullah kecil”. Nama “Abdullah” mengacu pada seorang penyanyi tenar masa itu. Suara penyanyi itu khas. Pun demikian dengan Bing. Di antara teman sebayanya, tawa Bing yang paling unik: berderai-derai. Bing juga mulai berlatih menirukan suara penyanyi yang didengarnya dari gramofon ayahnya. Kegemaran Bing mendengarkan gramofon menarik perhatian tetangganya, Laurens. Dia seorang polisi tanpa anak. Dia terkesiap melihat Bing menggonta-ganti piringan hitam, sesuatu yang langka untuk anak seusianya. Laurens mencoba mendekatinya, membimbingnya bernyanyi. Laurens bukan polisi biasa. Dia mempunyai sedikit bekal pengetahuan soal vokal. Pendekatan Laurens bersambut. Bing menyukai pembimbing musik pertamanya.

  • Anak Kolong dari Cilegon

    GADIS itu cantik dan pintar. Mukanya bulat telur dengan mulut mungil. Warna kulitnya kuning langsat. Dia sempat mengecap bangku Holland Indische School (HIS) di Cilegon, Banten. Maka banyak jejaka kampung terpikat dengan Hadijah, nama gadis itu. Mereka berkasad memperistri Hadijah. Tapi tak mudah meluluhkan hati Hadijah. Apalagi ayahnya memasang syarat berat: calon menantu harus lebih berpangkat darinya. Pangkat ayah Hadijah cukup mentereng untuk tingkat kampung. Dia seorang komandan veldpolitie (polisi lapangan). Kesatuan ini dibentuk selama periode 1911–1922 di wilayah pedalaman, termasuk Cilegon, oleh pemerintah Hindia Belanda. “Mereka terlatih secara profesional, dapat bergerak cepat, dan dipusatkan di tangsi-tangsi kepolisian,” tulis Marieke Bloembergen dalam Polisi Zaman Hindia Belanda. Walhasil, banyak jejaka memilih mundur. Tapi tak begitu dengan Raden Entik Ahmad. Juru tulis polisi ini gigih bertahan. Apalagi dia beroleh tanda Hadijah menyukainya. Ujian terakhirnya tinggal menaklukkan hati ayah Hadijah. Entik memperjuangkan cintanya selama setahun. Hadijah pun sabar menunggu restu sang ayah.

  • Moskva, Kapal Kebanggaan Rusia yang Tinggal Nama

    SESOSOK prajurit Ukraina berdiri tegap di tepi pantai menghadap Laut Hitam. Tangan kirinya menyandang senapan serbu AK-47 sementara tangan kanannya mengacungkan jari tengah pada sebuah kapal kebanggaan Rusia. Adegan itu dijadikan gambar perangko yang diterbitkan sebanyak satu juta oleh otoritas Ukraina sebagai simbol perlawanan negeri itu terhadap operasi militer Rusia sejak Februari 2022. Prangko itu sejatinya sudah dirilis pada 24 Februari 2022 untuk menggambarkan perlawanan garnisun Ukraina di Ostriv Zmiinyi (Pulau Ular) di Laut Hitam. Ia kian viral setelah kapal yang digambarkan di perangko tersebut, kapal penjelajah kawal rudal Moskva (121), dilaporkan mengalami kebakaran dan tenggelam di 111-120 kilometer lepas pantai Odesa pada Kamis (14/4/2022). Kubu Ukraina dengan bangga menyatakan bahwa pasukan merekalah yang menghancurkan Moskva. Penghancuran ibarat pembalasan dendam atas serangan-serangan Rusia di berbagai kota Ukraina dan penghancuran pesawat terbesar dunia yang jadi kebanggaan Ukraina, Antonov An-225 “Mriya”, di tengah Pertempuran Bandara Hostomel, 24-25 Februari 2022.

  • Nanlohy Bersaudara di Kapal Maut Junyo Maru

    SEBAGAI orang tua, Hendrik Nanlohy dan Magdalena Watimurij boleh bangga dengan anaknya. Dua di antaranya jadi orang berpangkat dan mapan, sama seperti harapan kebanyakan orang tua zaman sekarang. Kedua anak mereka penghasilannya di atas 100 gulden ketika harga emas sekitar 2 gulden untuk satu gram. Selain tanah yang luas, mereka juga bisa membeli mobil. Mathijs Nanlohy, kerap disebut Thijs Nanlohy, lahir pada 3 Februari 1909. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950, Mathijs sudah jadi perwira sejak 1931 setelah lulus dari Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Belanda. Setelah jadi perwira, dia menikah dengan Jeane Amalia Angenetta Niels pada 1937. Sementara itu, adiknya, Benoni Pedro Anthoni Nanlohy, kelahiran 29 Desember 1909, juga lulusan Akademi Militer Breda tahun 1933. Tak lama setelah dilantik, dia menikahi Sytske Baron. Pada 1936, Benoni kawin lagi dengan A.E.A. Felinger. Setelah lulus dari Akademi Militer Breda, Mathijs dan Benoni menjadi letnan dua infanteri tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) di Hindia Belanda.

  • Melindungi Kenangan Kapal Perang

    SETELAH melarung karangan bunga di Selat Sunda pada Juni 2014 lalu, Armada Pasifik AL AS akan melakukannya lagi pada 1 Maret 2019 untuk untuk mengenang kapal penjelajah USS Houston (CA-30) beserta para awaknya yang tenggelam dalam Pertempuran Laut Jawa tahun 1942. Ritual itu akan dilakoni para awak kapal penyapu ranjau USS Chief (MCM-14) dan beberapa kolega mereka dari AL Australia. “Kami senang dan merasa terhormat untuk bisa mengenang mereka. Sampai sekarang masih banyak pahlawan perang Amerika yang hilang di sana (Selat Sunda),” ungkap komandan USS Chief Lieutenant Commander (setara mayor) Frederick Crayton dalam diskusi “Defense of Java and the Dutch East Indies: World War II” di @America, Mal Pacific Place, Jakarta, Selasa (26/2/2019). Para personel AL AS berharap bisa terus melakukannya tanpa harus khawatir bangkai kapal USS Houston bakal senasib dengan sejumlah bangkai kapal perang Belanda dan Inggris yang raib di dasar beberapa perairan Indonesia. NLMS De Ruyter, Java, dan Kortenaer milik AL Belanda maupun HMS Electra dan HMS Exeter milik AL Inggris bangkainya sudah raib dirongsok para pedagang besi bekas.

  • Panglima ABRI Sidak Polisi Koboi

    SEKALI waktu, Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal TNI M. Jusuf meninjau markas Komdak (kini Polda) Metro Jaya. Jusuf mendapat laporan mengenai kinerja kepolisian yang kurang memuaskan. Keluhan itu terutama ditujukan kepada aparat polisi yang bertugas di jalanan. Jusuf juga sekaligus hendak memeriksa kesiapsiagaan para polisi mengatasi keamanan di ibu kota. Inspeksi demikian lumrah sebab angkatan kepolisian masih berada di bawah ABRI. Jusuf sendiri baru saja menjabat Menhankam/Pangab. “Kalau polisi lalu lintas itu jaga, harus dia jaga betul-betul. Jangan duduk-duduk di bawah pohon, nongkrong di tempat jual cendol atau merokok di kios rokok. Belum tentu rokoknya bayar lagi,” kata Jusuf dikutip Kompas, 8 Mei 1979.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page