Hasil pencarian
Cari di situs ini
10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Perwira TNI Sekolah di Luar Negeri
UNTUK naik ke jenjang perwira tinggi, perwira menengah TNI diharuskan sekolah staf dan komando lebih dulu. Para perwira ini biasanya dikursuskan mulai dari pangkat mayor yang dipersiapkan menduduki jabatan staf dan komando setingkat lebih tinggi. Pada dekade 1950—1960-an, banyak perwira menengah TNI Angkatan Darat (AD) yang disekolahkan ke luar negeri. Pada 1957, enam orang perwira menengah TNI AD disekolahkan ke Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Mereka antara lain: Letkol Maraden Panggabean, Letkol Moersjid, Letkol Prijatna Abdurrasyid, Mayor Soehario Padmowirio, Mayor Subroto Brotosewodjo, dan Mayor Chris Sudono. Maraden dan kawan-kawan ditugaskan mengikuti kursus lanjutan perwira infantri selama delapan bulan hingga setahun. Mereka berangkat ke Amerika pada pertengahan April 1957.
- Snouck Hurgronje in Jeddah and Mecca
Snouck Hurgronje was a key figure in the development of Orientalism, a field of study that explores the ideas and worldviews of people in the East, including Asia, North Africa, and the Islamic world. In fact, within the history of Dutch colonialism in Indonesia, Snouck is often regarded as a pivotal figure in the Dutch victory in the Aceh War, which raged for years from the late 19th century into the early 20th century. Snouck Hurgronje was born in Oosterhout, the Netherlands, on February 8, 1857. In 1874, he studied theology at the Faculty of Arts at Leiden University, then traveled to Mecca, and wrote a dissertation on the Mecca festival, titled Het Mekkaansche Feest. Snouck’s fascination with the East, particularly Islam, cannot be separated from his family background. Journalist Philip Dröge notes in Pelgrim: Leven en Reizen van Christiaan Snouck Hurgronje Wetenschapper, Spion, Avonturier (Pilgrim: The Life and Travels of Christiaan Snouck Hurgronje – Scholar, Spy, Adventurer) that there was a compelling factor influencing the shift in Snouck’s perspective during his studies in Leiden, where he later studied Arabic with a focus on Islam. His interest relates to his maternal grandfather, Jan Scharp, who was one of the first Dutch people to conduct in-depth studies of Islam in the early 19th century.
- Nasihat Istri untuk Soeharto dan Kemal Idris
KOLONEL Soeharto frustrasi berat kala dicopot dari jabatannya sebagai Pangdam Diponegoro. Markas Berkas Angkatan Darat (MBAD) mendakwanya bersalah karena melakukan bisnis ilegal. Untuk menambah pundi-pundi, Soeharto nekat berdagang dengan cara barter hasil bumi yang diselundupkan (smuggling). Sayangnya perbuatan itu terlarang dalam peraturan ketentaran. Aksi penyelundupan yang dilancarkan Soeharto ketahuan pada 1959. Hampir saja dia dipecat oleh KSAD yang waktu itu dijabat Letjen TNI Abdul Haris Nasution. Gara-gara terjerat kasus indisipliner itu, Soeharto dirundung malu. Soeharto yang kecewa berniat hengkang dari dunia militer. Setelah menimbang-nimbang sendiri, dia menjatuhkan pilihan profesi selanjutnya sebagai sopir taksi. Istrinya, Siti Hartinah –akrab disapa Tien– merespons kekalutan Soeharto dengan hardikan tapi tetap memancarkan kasih ala perempuan Jawa.
- Kemal Idris, Jenderal Gusar Pengirim Pasukan Liar
PAGI-pagi tanggal 17 Oktober 1952, dua buah tank, empat kendaraan berlapis baja, dan ribuan orang menyerbu dan memasuki pintu gerbang Istana Merdeka, kediaman Presiden Sukarno. Satu batalion artileri dengan empat buah meriam menderu di halaman istana. Kerumunan massa menggelar spanduk-spanduk bertuliskan “Bubarkan Parlemen!”. “Meriam-meriam 25-pon bikinan Inggris digerakkan dan dihadapkan kepadaku,” ujar Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Pameran kekuatan ini mencerminkan kelatahan dari zaman itu. Tindakan ini tidak dapat dikatakan bijaksana, karena para panglima yang memimpin gerakan itu berada bersamaku di dalam istana.” Di balik aksi pengerahan meriam itu tersebutlah nama Mayor Kemal Idris, Komandan Resimen Tujuh Divisi Siliwangi. Dengan memegang sepasukan kavaleri dan infanteri, Kemal diperbantukan memantau situasi kota Jakarta.
- Kemal Idris Terhipnotis “Marilyn Monroe” di Paris
DI tengah kegalauannya akibat beberapa rencana penugasan yang diberikan KSAD Jenderal TNI AH Nasution padanya semua dibatalkan, Kolonel Kemal Idris dipanggil Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani. Kemal diberikan tugas baru oleh KSAD baru itu. “Kemal, sudahlah. Jangan dipikirkan. Cepat-cepatlah persiapkan diri. Saya baru senang kalau kamu naik pesawat terbang menuju Afrika!” kata Yani sebagaimana dikenang Kemal dalam otobiografinya yang ditulis Rosihan Anwar dan Ramhadhan KH, Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi. Kemal ditugaskan memimpin pasukan Garuda III yang bertugas menjaga perdamaian di Kongo. Sejak merdeka dari Belgia pada 1960, negeri di tengah Afrika itu dilanda perang saudara. Gerakan nasionalis yang dipimpin Patrice Lumumba tak hanya membuat Belgia sakit hati melepas bekas koloninya itu, namun juga mengganggu kepentingan Amerika Serikat (AS) yang telah lama menguasai kekayaan alam Kongo sebagai kompensasi atas dukungannya atas kolonialisme Belgia di sana.
- Duka Kemal Idris Dibuang ke Yugoslavia
BEOGRAD, Yugoslavia, suatu hari di tahun 1974. Duta Besar Kemal Idris terlibat perdebatan sengit dengan Menlu Yugoslavia Melos Minie. Perdebatan mereka berkisar tentang reschedule utang Indonesia pada Yugoslavia. Kemal bersikeras agar Menlu Yugoslavia meneruskan ke pimpinannya agar mau reschedule utang Indonesia. “Pemerintah Indonesia akan membayar hutang itu semampu Indonesia mengembalikan tanpa ada pembatasan jumlah dan waktunya karena terikat dengan aturan IGGI,” kata Kemal sambil menggebrak meja, dikutip Rosihan Anwar, dkk. dalam biografi Kemal Idris Bertarung dalam Revolusi. Kemal menyadari sikap emosionalnya itu salah. Oleh karenanya dia langsung meminta maaf kepada menlu dan pejabat lain yang hadir. Namun, di luar dugaannya, upayanya tersebut membuahkan hasil. Pemerintah Yugoslavia bersedia mengadakan pembicaraan tentang reschedule utang Indonesia.
- Cerita Sukarno Nonton Kabaret di Beograd
KTT Non Blok di Beograd, Yugoslavia pada September 1961 mempertemukan Presiden Sukarno dengan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Sebelumnya, Bung Karno telah tiga kali berkunjung ke Yugoslavia, yakni pada 1956, 1958, dan 1960. Tito selalu menyempatkan diri untuk kunjungan balasan. Saling kunjung itu membuat Tito jadi kenal betul dengan pribadi Sukarno. “Waktu ada Konferensi Non Blok di Beograd yang namanya Presiden RI kalau mau pergi ke gedung konferensi kerjanya ‘nebeng’ mobilnya presiden tuan rumah, berbeda dengan kepala-kepala negara lain yang disediakan mobil-mobil khusus untuk mereka,” kenang Guntur, putra sulung Bung Karno yang turut serta, seperti dikisahkannya dalam Bung Karno dan Kesayangannya. Walhasil, Tito punya peran tambahan menjadi tukang antar-jemput Sukarno selain sebagai tuan rumah penyelenggara konferensi. Dia menjemput Bung Karno dari Hotel Metropol, tempatnya menginap ke gedung konferensi. Setelahnya, dia mengantar kembali dari gedung konferensi ke Hotel Metropol.
- Tito Sahabat Sukarno
SOAL gaya berbusana Presiden Sukarno termasuk salah satu pemimpin negara yang paling necis di abad ke-20. Apakah itu dalam balutan seragam militer maupun pakaian sipil, ketika menghadiri hajatan formal Sukarno selalu terlihat dendi. Barangkali yang mampu menandingi Sukarno perkara fesyen ialah Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Penyandingan ini diakui sendiri oleh putra Bung Karno, Guntur Soekarnoputra. “Aku rasa nggak ada yang bisa ngalahin rapihnya dan menterengnya cara berpakaian Presiden; Pemimpin Revolusi Yugoslavia Josip Broz Tito, baik kalau ia sedang berpakaian secara sipil ataupun militer. Benar-benar bukan main ‘kemepyarnya’ cara dandanan pakaian ‘Banteng Neretva ini’,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya.
- Lempar Kebakaran Sembunyi Tangan
TARAWEH berjamaah baru sampai rakaan keenam di masjid At-Taqwa, Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Sebuah kegaduhan memecah kekhusyukan. Dari seberang masjid, sekelompok warga berlari dan berteriak, “Kebakaran… kebakaran…!” Tersentak, jemaah seketika bubar. Mereka keluar dan melihat api berjelanak dari permukiman padat yang tak jauh dari masjid. Kemiyem, seorang jemaah, cepat lari ke rumahnya. Dia menyelamatkan apa saja yang mampu dia bawa. Api hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya yang sebagian besar terbuat dari kayu dan beratapkan seng. “Untung, waktu itu api belum sampai rumah saya. Keluarga saya akhirnya selemat,” kenang Kemiyem. Meski warga sigap, api lebih cepat membesar. Mobil pemadam kebakaran sulit menjangkau lokasi, tertahan di luar permukiman, karena jalan yang sempit. Tanpa ampun, si jago merah melahap permukiman itu pada 6 agustus 2012. Tercatat 286 rumah dan 400 ruko luluh lantak. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Meski tak ada korban jiwa, sebagian warga harus mengubur keinginan pulang kampung. Termasuk Kemiyem.
- Hikayat Demang Lehman dari Kesultanan Banjar
GENDERANG perang itu akhirnya ditabuh. Seluruh Banjarmasin dilanda kekacauan hebat pada 1859. Rakyat yang tersulut amarah sudah tidak bisa lagi menmaklumi sikap keterlaluan orang-orang Belanda. Setelah seenaknya melakukan monopoli perdagangan, mereka malah turut campur dalam proses pergantian takhta Kesultanan Banjar. Mulanya kebencian rakyat ditujukan kepada Sultan Tamjid, pemimpin Banjar yang diangkat pemerintah Belanda. Selain dianggap boneka kolonial, perangai sang sultan juga tidak disenangi rakyat. Ia kerap menjalankan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Namun pertentangan berubah menjadi keinginan mengusir para kolonial setelah keberadaan mereka semakin memberatkan kehidupan rakyat Banjarmasin. Pucuk perlawanan rakyat dipegang oleh Pangeran Hidayatullah, satu-satunya pewaris takhta yang diakui rakyat. Ia berjuang bersama pahlawan besar Banjarmasin, Pangeran Antasari, dan sejumlah bangsawan serta pemuka agama. Sang pangeran juga didampingi salah seorang pengikutnya yang paling setia: Demang Lehman.
- Lapor Kebakaran Berhadiah Uang
KEBAKARAN terjadi di kawasan permukiman padat penduduk di Tambora, Jakarta Barat, Kamis (27/10/2022) siang. Warga bahu-membahu memadamkan api dengan ember serta menghubungi petugas pemadam kebakaran. Kebakaran menyebabkan lima rumah hangus. Berbeda dengan masa kini di mana kebakaran dapat dilaporkan melalui telepon atau aplikasi pesan di ponsel pintar. Di masa lalu, informasi kebakaran kerap terlambat diketahui oleh brandweer atau pemadam kebakaran karena terbatasnya alat komunikasi. G.H. Von Faber dalam Oud Soerabaia menyebut rumah pribumi di Surabaya pada abad ke-18, yang sebagian besar dibangun dari bahan-bahan yang mudah terbakar, membuat upaya memadamkan api membutuhkan waktu yang lama. Alat yang digunakan untuk memadamkan api pun biasanya ember, panci, hingga wajan yang mudah ditemukan di dapur.
- Agar Si Jago Merah Tak Lagi Marah
BELAKANGAN ini Pemadam Kebakaran (Damkar) naik daun. Kendati semua orang tahu tugas dinas berslogan “Pantang Pulang Sebelum Padam” itu memadamkan kebakaran, masyarakat lebih memilihnya untuk bermacam urusan lantaran ketidakpercayaan terhadap polisi begitu tinggi. Terlebih, beberapa tahun terakhir masyarakat mulai tahu Damkar bisa melakukan pertolongan di luar bidangnya, mulai dari urusan remeh seperti mengganti bohlam lampu, melepaskan cincin, atau mengatasi sarang tawon hingga urusan yang menyangkut keselamatan jiwa-raga seperti melepas besi yang menjerat tubuh ataupun menangkap ular. Lantaran itulah baru-baru ini seorang perempuan asal Pekalongan yang menjadi korban penipuan mendatangi Damkar untuk mencurahkan isi hatinya. Putri, gadis itu, kecewa laporannya ke polisi sebelumnya tidak diindahkan dan dia malah ditawarkan membeli kue nastar buatan salah satu anggota di sana.




















