Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Biaro-Biaro Padang Lawas dan Kerajaan Panai di Sumatra Utara
SETIDAKNYA 26 situs tersebar di Padang Lawas, Sumatra Utara. Di kawasan ini mengalir sungai-sungai, seperti Barumun, sungai induk yang mengalir dari arah barat laut ke tenggara kemudian berbelok ke utara. Lalu Batang Pane, anak Sungai Barumun, dan Sirumambe, anak Sungai Batang Pane, yang mengalir dari barat laut ke tenggara. Di tepi-tepi sungai itu ditemukan situs dari masa Hindu dan Buddha. Mulai dari hulu tepi Sungai Batang Pane, yaitu Situs Gunung Tua, Si Topayan, Hayuara, Haloban, Rondaman, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Lalu di tepi Sungai Sirumambe, yaitu Situs Batu Gana, Aek Korsik, Lobu Dolok, Si Soldop, Padang Bujur, Nagasaribu, dan Mangaledang. Hingga ke tepi Sungai Barumun, yaitu Situs Pageran Bira, Porlak Dolok, Si Sangkilon, Si Joreng Belangah atau Tandihat 1, Tandihat 2, Longgong atau Tandihat 3 dan Si Pamutung. "Tidak semua lokasi tersebut terdapat runtuhan bangunan, tetapi di beberapa situs ditemukan artefak seperti prasasti, arca, dan stambha," kataSukawati Susetyo, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam diskusi via zoom berjudul "Percandian di Padang Lawas Potensi Budaya untuk Kemajuan Bangsa" yang diadakan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh beberapa waktu lalu.
- Kerajaan Aru, Riwayat Negeri Perompak
LIMA abad lalu, pelaut Portugis Tome Pires menggambarkan penguasa negeri Aru sebagai raja paling besar di seluruh Sumatra. Ia memiliki banyak penduduk dan lanchara (kapal). Ia juga menguasai banyak aliran sungai di wilayahnya. Sang raja menguasai barang-barang rampasan hasil penyerbuan. Rakyat dan aparat kerajaan pergi melaut untuk merompak. Mereka membagi hasil jarahannya dengan raja. Aru bermusuhan dengan tetangganya, Malaka. Negeri lain pun memandang Aru dengan buruk. “Tanpa mencuri, mereka tak akan bisa hidup, karena itu tak ada yang bisa berkawan dengan mereka,” catat Pires dalam Suma Oriental.
- Perlawanan Kerajaan Siau Terhadap Belanda
PADA pertengahan abad ke-16, rakyat Kerajaan Siau dilanda kegelisahan. Gejolak perang mulai terjadi di banyak tempat di wilayah Sulawesi Utara tersebut. Tidak lama setelah raja pertamanya, Raja Lokongbanua (1510-1549) berpulang, kedua pangeran di negeri itu, yakni Angkumang dan Posumah, saling mengklaim hak atas takhta mendiang sang ayah. Melalui peperangan, Posumah keluar sebagai pemenang. Ia memerintah pada 1549-1587. Kerajaan Siau terletak di Sangir Talaud, Sulawesi Utara. Siau menjadi salah satu daerah paling utara di Nusantara, berbatasan langsung dengan Filipina. Tempat itu merupakan sengketa di antara pelaut Eropa pada abad ke-16. Spanyol dan Portugis berencana menjadikan Siau gerbang masuk ke wilayah Nusantara dari masing-masing basis kekuasaan mereka di Asia, yakni Filipina dan Malaka. Sementara Belanda ingin Sulawesi Utara, khususnya Siau, melengkapi monopoli rempah mereka di wilayah Timur Nusantara.
- Menelusuri Jejak Kerajaan Glang-Glang
Sri Jayakatwang berhasrat memerdekakan diri dari pengaruh Kerajaan Singhasari. Dari Glang-Glang di Bumi Wurawan, dia menyerbu istana Kertanagara, membawa nasib buruk bagi kekuasaan Singhasari. Pasukannya menyerang dari dua jurusan. Dari utara mereka menuju Jurang Angsoka. Sorenya mereka berkemah di Turan. Paginya menjarah Desa Memeling, membuat penduduknya lari mengungsi ke ibu kota. Pasukan yang menyerang dari selatan bergerak melewati Lawor dan Sridahabhawana. Dari sana mereka langsung masuk ke kota Singhasari. Demikianlah kisah itu menjadi akhir bagi Singhasari. Namun, ini adalah awal kekuasaan untuk Jayakatwang, raja dari Glang-Glang.
- Sersan Tolo dapat Bintang dari Kerajaan Belanda
SETELAH melancarkan agresi militer pertama, sejak 21 Juli 1947, tentara Belanda terus merangsek masuk ke Jawa Tengah. Militer Belanda juga mengerahkan serdadu KNIL yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Salah satunya Sersan Tolo. Dengan ditemani seorang juru tulis sipil, juru bahasa, dan pembantu, pada 3 Agustus 1947, Sersan Tolo bergerak memasuki daerah Republik Indonesia sejauh 25 km di daerah Tegal. Rombongan Sersan Tolo itu untuk melakukan penyelidikan. Tiba-tiba rombongan Sersan Tolo bertemu patroli tentara Republik Indonesia. Dalam sebuah pertempuran, Sersan Tolo membunuh dua tentara dan menawan seorang sersan. Sersan Tolo dapat menggali informasi dari sersan itu. Beberapa hari kemudian, berdasarkan informasi itu, tentara Belanda melakukan pembersihan yang dianggap sukses.
- KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis
KENANGAN masa kecil, apalagi yang jarang didapati, biasanya amat membekas pada diri seseorang dan akan terpatri dalam ingatan orang yang mengalaminya. Itu juga dialami Michael John Cleote Crawford Rutherford alias Mike Rutherford, musisi sekaligus pembetot bas grup rock Inggris Genesis. Pada April 1956, dirinya diajak ayahnya mengunjungi kapal perang besar yang sedang bersandar di Pelabuhan Portsmouth, Inggris. Meskipun tidak paham, Mike kecil amat senang bisa menjejakkan kaki di atas kapal tersebut. “Kapten minum teh di rumah kami, saya diundang untuk menghabiskan hari berikutnya di atas kapal sebagai balasan,” kenang Mike dalam The Living Years The First Genesis Memoir.
- Tudingan Kotor Pada Aturan Menyalakan Lampu Motor
SEIRING bertambahnya jumlah sepeda motor di Indonesia, meningkat pula angka kecelakaan di jalan raya. Pemerintah berupaya menekan angka kecelakaan dengan mengeluarkan peraturan sepeda motor wajib menyalakan lampu utama di siang hari. Peraturan ini tercantum dalam Pasal 107 ayat (1) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) No. 22 Tahun 2009. Sanksi bagi pelanggar adalah pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp100.000. Butuh waktu lama sebuah peraturan dapat diberlakukan. Peraturan sepeda motor menyalakan lampu utama di siang hari (Daytime Running Light/Lamp) pertama kali dikeluarkan oleh Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada 1988.
- Perkara Lampu, Sukarno Digampar Serdadu Jepang
ERA penjajahan Jepang (1942-1945) dikenang bangsa Indonesia sebagai masa-masa penuh kesengsaraan. Selain merampas bahan-bahan sandang seperti tekstil dan bahan pangan utama rakyat seperti beras, tentara Jepang pun tak segan-segan melakukan tindakan keras kepada rakyat yang dianggap tak patuh kepada peraturan mereka. “Paling ringan kalau tidak menurut, kita digampar oleh mereka,” ujar Atma (92 tahun), anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang tinggal di Bogor, kepada Historia.ID. Main tangan yang dilakukan militer Jepang itu tak saja dialami oleh rakyat kecil. Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno juga ternyata pernah mendapatkan gamparan dari seorang perwira Kenpeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) berpangkat kapten.
- Masa Lalu Lampu Lalu Lintas
LAMPU lalu lintas merupakan perangkat esensial dalam mengatur lalu lintas di jalanan. Keberadaannya mudah ditemukan di berbagai tempat, seperti di persimpangan jalan dan area penyeberangan bagi pejalan kaki (pelican crossing). Lampu lalu lintas terdiri dari tiga lampu dengan warna berbeda yang memiliki arti tersendiri bagi pengguna jalan. Lampu merah berarti berhenti atau tanda bahaya, lampu kuning untuk hati-hati atau bersiap untuk berkendara, dan lampu hijau menandakan pengendara diizinkan untuk jalan. Simon Leyland dalam A Curious Guide to London menyebut lampu lalu lintas pertama di dunia dipasang di depan gedung parlemen Inggris yang berlokasi di persimpangan George Street dan Bridge Street pada 1868, sebagai upaya untuk mengatur lalu lintas kereta kuda di jalanan London yang semakin padat.
- Awal Mula Zebra Cross di Indonesia
TAK ada lagi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di satu sudut Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta telah merobohkannya. JPO diganti pelican crossing, sejenis zebra cross dengan tombol dan lampu pengatur lalu-lintas. Ada empat petugas dinas perhubungan berjaga di sekitar pelican crossing untuk mengatur penyeberangan orang. Pelican Crossing menandakan cara orang menyeberang di Jakarta telah masuk era baru. Orang menyeberang semakin perlu panduan petugas dan alat. Pada awal abad ke-20, orang bisa menyeberang dengan mudah tanpa panduan. Jalanan masih lengang. Tak ada marka jalan dan zebra cross. Kendaraan paling banyak hilir-mudik di jalan adalah sado dan sepeda. Mobil tampak satu-dua saja. Trem melintas sesekali. Demikian tersua dalam album foto kartu pos Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 karya Scott Merrillees.
- Catatan Tentang Kerajaan Tulang Bawang
SECARA administratif, Tulang Bawang sebagai pemerintahan memang baru berdiri pada 1997. Namun, daerah yang dijadikan nama kabupatan tersebut sejatinya telah lama eksis. Di masa lalu, pernah ada Kerajaan Tulang Bawang yang kadang disebut sebagai Tulimbavan. Kerajaan Tulang Bawang dianggap kerajaan tertua di Lampung. “Dari sumber Cina dapat kita ketahui bahwa kerajaan yang pertama terdapat di daerah Lampung ialah Kerajaan Tulang Bawang,” tulis Bukri dkk. dalam Sejarah Daerah Lampung. Sumber tersebut mengatakan Kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad ke-7 di daerah Lampung bagian utara. Sumber itu menyebut ada nama To-lang dan Po-hwang, setelah disatukan keduanya menjadi Tulang-Bawang.
- Kerajaan Karo Itu Ada
MATAHARI masih bersinar terang pukul 06.10 sore tanggal 20 Juni 2024 di perairan Belawan, Medan, Sumatra Utara. Pada sore yang cerah ini, KRI Dewaruci sedang bergerak ke arah utara mengitari Selat Malaka. Beberapa kapal dagang dan kapal nelayan terlihat di sisi kiri Dewaruci. Belawan dikenal sebagai pelabuhan penting di sekitar Medan. Ibukota Sumatra Utara itu merupakan kota di Republik Indonesia paling ramai di kawasan Sumatra. Sejak lama hingga kini Medan menjadi daerah niaga penting di Indonesia bagian barat. “Medan itu ada di pertemuan Sungai Bapura dan Sungai Deli,” kata Nasrul Hamdani, sejarawan dari Balai Pelestarian Kebudayaan II Sumatra Utara.





















