top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tak Bisa Bayar Utang Dipenjara di Ruang Bawah Tanah

    MUSEUM Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta, merupakan bangunan bersejarah yang tak pernah sepi dikunjungi wisatawan. Bangunan yang memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta itu didirikan pada 1707 di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Joan van Hoorn (menjabat 1704–1709). Proses pembangunan gedung bertingkat dua itu, yang di masa silam disebut Stadhuis atau Balai Kota, memakan waktu lima tahun. Meski begitu, dua tahun sebelumnya pada 1710, bangunan tersebut sudah diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (menjabat 1709–1713), putra Jan van Riebeeck, pendiri Capetown, kota tertua di Afrika Selatan. Bangunan itu sesungguhnya bukan Balai Kota pertama yang dibangun VOC di Batavia. Menurut sejarawan Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, balai pertama didirikan secara tergesa-gesa pada 1620, tak lama setelah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen merebut dan mendirikan kota baru bernama Batavia.

  • Bentrokan Pelaku G30S di Penjara

    GERAKAN 30 September 1965, yang kata Orde Baru sebagai ulah PKI, dengan cepat digulung oleh Angkatan Darat yang dipimpin oleh Mayor Jenderal TNI Soeharto. Entah itu serdadu bawahan yang menculik di lapangan maupun pemimpin gerakan seperti Letkol Untung dan Kolonel Abdul Latief, semua disikat. Dengan cepat Untung disidang dan dihukum mati sebelum tahun 1967. Setelahnya, sebelum 1969, para pelaku di lapangan yang kebanyakan berpangkat sersan, juga disidang dan di antaranya terkena hukuman mati. Para pelaku di lapangan umumnya anggota Batalyon Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Komandan batalyon mereka adalah Letkol Untung. Anggota batalyon ini adalah pasukan pilihan dari batalyon elite Angkatan Darat di Jawa Tengah, Banteng Raider. Mereka yang dijatuhi hukuman mati itu kemudian ditempatkan di Penjara Cipinang, Jakarta Timur.

  • Matematikawan AS Dukung Indonesia Merdeka

    PASCA Perang Dunia II, banyak rakyat Amerika Serikat (AS) menentang imperialisme Eropa di Asia, termasuk upaya Belanda kembali bercokol di Indonesia. Mereka mengirimkan surat kepada Departemen Luar Negeri AS untuk menyatakan keprihatinan dan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Mereka juga menunjukkannya dalam bentuk demonstrasi yang digalang organisasi-organisasi prokemerdekaan Indonesia. Salah satunya organisasi Komite Amerika untuk Indonesia Merdeka (American Committee for Indonesian Independence). Salah satu aksi mereka terjadi pada 19 Oktober 1945. Kala itu kaum buruh pelayaran Indonesia melakukan pemogokan dan demonstrasi yang berhasil menahan sebelas kapal Belanda di pelabuhan New York yang akan mengangkut perlengkapan perang yang diperoleh dari pemerintah AS.

  • Ode Pejuang yang Kesepian

    KALIBATA, 23 Agustus 1972. Sekira pukul sembilan malam, terdengar suara ketukan. Muhammad Ali beranjak dan membuka pintu. Di hadapannya berdiri tetangganya. Ia mempersilakan masuk. Di ruang tamu, mereka berbincang hangat. Ali dan istrinya lebih banyak mendengar penuturan lelaki itu. “Cerita dagang, cerita dia di Eropa, cerita perjalanan dari Indonesia ke Amerika. Nggak bisa semuanya (saya ingat), nggak saya catat. Saya iya-iya aja,” ujar Ali, berusia 90 tahun, kepada Historia.ID. Malam kian larut. Si tamu mulai menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menyodorkan surat kuasa. Ali diminta mengambil tunjangan pemerintah bagi perintis kemerdekaan dan mengelola uang itu untuk istrinya. Ia beralasan hendak pergi tapi tak memberi tahu tujuannya.

  • Kisah Berlawan dari Benua Seberang

    DALAM sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia 1945-1949, pemerintah Australia merupakan satu dari sekian pemerintahan di dunia yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Bahkan Republik Indonesia yang masih muda belia menunjuk Australia jadi salah satu dari tiga anggota Commission of Good Offices (Komisi Jasa Baik yang lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara, KTN). Belanda memilih Belgia dan kedua negara, Indonesia dan Belanda, sepakat memlih Amerika Serikat sebagai negara ketiga. Anggota KTN Australia yang diwakili oleh Richard Kirby mulai bertugas di Indonesia pada Oktober 1947 untuk meninjau situasi. Pada saat itu pemerintah Australia berada di tangan Australia Labor Party (Partai Buruh Australia, ALP), sebuah partai sosial demokrat moderat. Sementara itu oposisi di dalam parlemen Australia dipimpin oleh Robert Menzies yang lebih berpihak ke pihak kolonial Belanda Sikap elite politik Australia menyoal Indonesia terbelah saat itu. Sejak awal abad 20 sampai sekarang, sejarah hubungan Australia dengan Indonesia selalu berada dalam situasi sikap yang terbelah. Acapkali hanya elite yang terbelah sikapnya, tetapi tidak demikian dengan sikap rakyat Australia secara keseluruhan. Baik penguasa maupun rakyat punya sejarahnya masing-masing, khususnya dalam soal hubungan dengan Indonesia. Kadang-kadang soal ini juga melahirkan berbagai jenis kontradiksi.

  • Aksi Dunia untuk Indonesia Merdeka

    MAKAM sederhana di bilangan Kalibata Tengah, Jakarta Selatan itu mulai dimakan waktu. Beberapa bagian marmernya mulai terkelupas. Tak ada seorang pun warga di sana yang megetahui jasad siapa yang ada di dalam makam usang tersebut, kecuali seorang sepuh bernama Mohammad Ali. “Itu makam Charles Bidien, orang Aceh yang kerjaannya ngejual obat,” ujar kakek kelahiran Pasar Minggu 94 tahun lalu itu. Sebelum meninggal pada akhir 1960-an, Bidien memang kerap datang ke rumah Ali yang merupakan tetangganya di Kalibata Tengah. Selain bercerita soal obat-obatan, kepada Ali Bidien juga sering bercerita tentang pengalaman hidupnya, termasuk saat dia menjadi seorang pelaut di Amerika Serikat (AS).

  • Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata

    DI KUIL Dewi Namagiri, Madras, Tamil Nadu, India, Srinivasa Ramanujan (diperankan Dev Patel) menuliskan teori-teori matematika yang ada di kepalanya ke lantai kuil dengan sebatang kapur pada suatu hari di tahun 1914. Sesaat kemudian, ia memandangi patung Dewi Namagiri di hadapannya dengan sebuah harapan besar: mendapatkan pekerjaan di Madras berbekal kemampuannya membayangkan teori-teori matematika di dalam otaknya. Hari demi hari berlalu. Ramanujan berulangkali mendapatkan penolakan karena tak punya satu pun ijazah pendidikan formal. Namun tiada masa sulit yang tak berakhir. Suatu hari, Narayana Iyer (Dhiritiman Chatterjee), deputi pembukuan perusahaan keretaapi, berkenan menerima Ramanujan. Narayana pula yang mengenalkan Ramanujan sebagai juru tulis baru kepada atasannya, Sir Francis Spring (Stephen Fry). Kendati acap memandang orang India sebelah mata, toh Sir Francis berkenan menerima Ramanujan.

  • Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian I)

    SEJAK 2025, Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia melarang peredaran puluhan judul buku fiksi maupun non-fiksi yang dikategorikan vulgar, berbau LGBTQ+, yang menistakan agama, dan buku-buku yang “berbau” komunis. Terbaru, dua buku lagi dilarang beredar, salah satunya memoar pejuang-aktivis kiri Shamsiah Fakeh. Menurut sejarawan Nasrul Hamdani, Malaysia tak ubahnya Indonesia. Nasrul yang pernah studi di Universiti Kebangsaan Malaysia mengungkapkan bahwa buku-buku yang berkaitan dengan kisah atau ideologi kiri masih sangat sensitif baik di tengah-tengah masyarakat maupun pemerintah. “Bukan cuma buku Shamsiah Fakeh dilarang, buku memoar Chin Peng juga dilarang. Isu komunisme masih sensitif di sana karena sepertinya luka masa lalu. UMNO (United Nalays National Organization, red.) pernah merasa dikhianati komunis, itu belum selesai dan kadang isu itu masih dipakai di politik di Malaysia,” kata Nasrul kepada Historia.ID. Memoar Chin Peng yang dimaksud adalah otobiografi pendiri Partai Komunis Malaya (PKM), Alias Chin Peng: My Side of History, yang terbit pada 2003.

  • Mencipta Indonesia

    BUKU ini mengantarkan orang Indonesia untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada kurun 1950-an, sekaligus memberikan pengetahuan terhadap sebuah proses pencarian identitas keindonesiaan pada masa lalu. Dalam banyak soal, apa yang terjadi saat itu, yang terekam secara lengkap pada buku ini, masih sangat relevan sampai sekarang. Proses pencarian jatidiri bangsa Indonesia belum selesai. Pembangunan karakter orang Indonesia dan kebudayaan nasional Indonesia masih terus berjalan. Sebaliknya, alih-alih semakin mengkristal, malah semakin cair mengalir entah kemana. Mungkin bagi sebagian orang itu masalah, bagi sebagian lain bukan masalah. Satu hal yang pasti banyak tersisa adalah kekhawatiran. Buku yang disunting oleh Jennifer Lindsay dan Maya Liem ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama “Lalu lintas budaya dengan luar negeri”, mengangkat persoalan bagaimana kebudayaan Indonesia –sebagai bangsa yang baru itu– direnegosiasikan dengan dunia dalam rangka mencari posisi setara dengan bangsa-bangsa lain. Bagian kedua “Budaya dan Bangsa”, membahas bagaimana para pelaku kebudayaan mendefinisikan kebudayaan Indonesia dan kemana arah orientasi modernitas mereka?

  • Konglomerat Ciputra dan Pelukis Rakyat

    CIPUTRA, salah satu pengusaha ternama Indonesia telah berpulang. Chairman dan pendiri Ciputra Grup itu meninggal dunia pada 27 November 2019 pukul 01.05 waktu Singapura dalam usia 88 tahun. Ciputra lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada 24 Agustus 1931. Selain sebagai pengusaha, dia juga dikenal karena kecintaannya pada karya seni terutama seni rupa. Ia mengklaim banyak properti maupun proyek bisnisnya yang mendapat sentuhan seni. “Di hampir semua proyek berlabel Ciputra, bisa saya pastikan ada getaran seni yang saya alirkan di antara perhitungan-perhitungan terkait bisnis,” ujarnya dalam Ciputra The Entrepreneur.

  • Mengenang Bioskop Drive-In ala Ciputra

    CIPUTRA, konglomerat bidang properti dan konstruksi, telah berpulang 27 November 2019 lalu. Dia meninggalkan banyak karya. Dari pertokoan, perumahan, perkantoran, museum seni, kota satelit, sampai tempat rekreasi dan hiburan. Sebagian besar karyanya masih bertahan. Segelintir kecil lainnya sudah tak ada lagi atau bersalin rupa. Misalnya drive-in theatre atau teater kendara. Ciputra mulai membangun teater kendara di Pantai Binaria (sekarang Ancol), Jakarta, pada 1 April 1970. Pembangunannya seiring dengan pengembangan Ancol sebagai daerah perumahan, industri, dan rekreasi oleh PT Pembangunan Jaya, perusahaan di mana Ciputra menjadi salah satu direkturnya. Tadinya Ancol hanyalah sebuah rawa-rawa dan hutan. Penuh kera, ular, dan nyamuk. Tapi ada saja orang nekat menembus hutan dan rawa-rawa demi menikmati keindahan Pantai Ancol.

  • Masa Muda Ciputra

    CIPUTRA, chairman dan pendiri Ciputra Grup, meninggal dunia pada 27 November 2019 pukul 01.05 waktu Singapura. Informasinya disampaikan Rina Ciputra Sastrawinata, anak pertama Ciputra. Ciputra lahir di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada 24 Agustus 1931, dengan nama Tjie Tjin Hoan. Dia anak bungsu dari tujuh bersaudara dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio. Empat saudara tertuanya meninggal. Karena tak ada sekolah bagus di Parigi, ayahnya mengirim Nyong, panggilan Ciputra, ke Gorontalo. Dia dititipkan kepada seorang tante, Soei Tjeng Sioe, yang tinggal di rumah kakeknya di Gorontalo. Tante Sioe menerapkan disiplin yang ketat dan keras. Saking kerasnya, dia pernah dikurung dalam gudang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page