Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jalan Sunyi Melawan Nazi
KEHENINGAN hutan sirna oleh derap langkah cepat seorang prajurit Jerman. Sambil sesekali menoleh ke belakang, Hans Quangel (diperankan Louis Hofmann) yang terpisah dari pasukannya terus berlari untuk menghindari pengejaran tentara Sekutu. Dor! Peluru tentara Sekutu memangsanya. Hans rubuh. Jasadnya disambut guguran dedauan. Di Paris, yang diduduki Nazi-Jerman, di tengah lalu-lalang tentara Jerman, seorang bocah menjajakan koran sembari berteriak “Victory over France ... victory over France”. Semangat perlawanan tengah tumbuh. Demonstrasi dan parade digelar penduduk Paris. Di tengah kemeriahan itu, seorang tukang pos mampir ke kantor militer lalu bergegas menuju rumah pasangan Otto Quangel (Brendan Gleeson) dan Anna (Emma Thompson). Anna terhenyak, merobek-robek surat yang baru dibacanya, lalu menangis. Otto terdiam, seakan tak percaya putra semata wayangnya takkan pernah kembali. Kematian Hans meninggalkan kepedihan mendalam bagi pasangan ini.
- Derita Djoko Pekik Sebelum Jual Celeng
WAKTU sekelompok prajurit Angkatan Darat (AD) menculik jenderal-jenderal Staf Umum Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965, Djoko Pekik masih seorang pelukis muda berusia 28 tahun; kelahiran Grobogan, 2 Januari 1937. Ia aktif di Sanggar Bumi Tarung yang dicap kiri. Lantaran itulah kemudian Djoko Pekik dijadikan tahanan politik (tapol) oleh rezim Orde Baru meski tak sampai ditahan di Pulau Buru. Djoko Pekik adalah kawan dari Amrus Natalsya, seorang perupa di Sanggar Bumi Tarung dan juga menjadi tapol. Bumi Tarung karib dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Keduanya doyan turun ke rakyat bawah (turba). Djoko Pekik dan Amrus, menurut Agus Burhan dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra, pernah hidup berbulan-bulan bersama para transmigran di Lampung, yang hidupnya menderita. Dengan rakyat sekitar Bantul pun dia juga pernah hidup. Militansi seniman maupun aktivis “kiri” dan kedekatan mereka dengan rakyat jelas mengusik rivalnya dalam kancah perpolitikan nasional, Angkatan Darat (AD), yang juga menebar cengkeramannya hingga ke pelosok lewat komando teritorial. Maka ketika isu sakitnya Presiden Sukarno merebak, persaingan AD-PKI kian meruncing untuk memperebutkan posisi paling “sah” sebagai pengganti Sukarno.
- Djoko Pekik dan Trilogi Celeng
PATUNG seosok lansia bertelanjang dada dengan jemari tangan kanannya mengapit rokok itu terduduk di atas sebuah batu. Bersanding di sisi kirinya dua sosok lain mengusung celeng atau babi hutan gemuk yang sudah tak berdaya. Kedua karya itu memang dihasilkan dari dua pematung berbeda tapi yang menyatukan keduanya adalah sama-sama terinspirasi seniman senior Djoko Pekik. Sosok patung seorang uzur itu tak lain adalah figur Djoko Pekik sendiri karya pematung Dunadi. Patung tersebut dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan untuk Djoko Pekik pada acara “Pekik’an Jejeran Djoko Pekik” di Taman Yakopan, kawasan rumah budaya Omah Petroek, Sleman, Yogyakarta, 29 Mei 2023. Adapun patung yang menggambarkan dua orang memanggul celeng dalam keadaan terbalik dengan keempat kaki terikat merupakan patung karya Pramono yang sudah dibuat satu dekade lewat. Patung ini terinpirasi dari karya Djoko Pekik paling dikenal, Indonesia 1998: Berburu Celeng.
- Pembersihan PKI di DPRD Yogyakarta
SEJAK Pemilu 1955, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi partai paling kuat di Daerah Istimewa Yogyakarta. PKI menguasai mayoritas kursi DPRD dari 1955 sampai 1965. Pada pemilu pertama itu, PKI meraih 10 dari 40 kursi DPRD. PKI merebut 14 kursi pada pemilihan anggota DPRD untuk menggantikan DPRD Peralihan pada 1957. Menurut Julianto Ibrahim, pada kampanye Pemilu 1955, PKI aktif melakukan agitasi, infiltrasi, dan penggalangan massa di desa-desa melalui organisasi onderbouw-nya. PKI juga melakukan pengkaderan terhadap para buruh perkotaan, mahasiswa, pelajar, guru, bahkan militer. Selain itu, dalam upaya menguasai pemerintahan, PKI lebih suka berkerja sama dengan PNI. “Upaya melakukan penggalangan massa di desa maupun perkotaan dan bekerja sama dengan partai lain terbukti membawa hasil yang baik pada Pemilu 1955,” tulis Julianto, “Goncangan pada Keselarasan Hidup di Kesultanan,” termuat dalam Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional Bagian II Konflik Lokal.
- Awal Mula Ritel Skala Besar di Indonesia
PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengumumkan telah menutup 26 gerai dan mem-PHK 532 karyawan pada awal tahun 2019. Manajemen HERO menyatakan penutupan dan PHK merupakan langkah efisiensi dan strategi bisnis demi mempertahankan laju perusahaan. Demikian rilis manajemen HERO kepada berbagai media pada 13 Januari 2019. Penutupan gerai dan PHK karyawan HERO memperpanjang masa suram bisnis ritel skala besar di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Lotus dan Debenhams, gerai ritel di bawah naungan PT Mitra Adiperkasa Tbk, telah lebih awal tutup pada 2017. Menyusul kemudian sejumlah gerai milik Grup Ramayana dan Matahari sepanjang 2018. Penyebab ritel berskala besar menutup gerai dan mem-PHK karyawannya tak pernah berasal dari satu faktor dominan. Ada keterkaitan dari soal perubahan cara orang berbelanja, kesalahan strategi pengembangan bisnis, penurunan daya beli masyarakat, perkembangan keruangan kota, sampai kepada persaingan dengan sesama pebisnis ritel.
- Awal Kejayaan Pasar Swalayan
SENIN sore 23 Agustus 1971 menjadi saat bersejarah bagi pasangan suami-istri Muhamad Saleh Kurnia dan Nurhajati. Mereka membuka supermarket pertama di Indonesia bernama HERO Mini Supermarket. “Belum pernah ada pedagang yang merintis atau mengelolanya,” kata Nurhajati kepada Wong Tung To dalam Perintis Ritel Modern Indonesia : Memoar Pendiri Grup HERO. Pesta kecil pun digelar. Kurnia dan Nurhajati mengundang sahabat, teman, dan mantan guru SMA-nya ke HERO di Jalan Falatehan 1 No. 23, Jakarta Selatan. Mereka bersulang cocktail dan melambungkan harapan untuk HERO. “Semoga laris manis dan banyak untung,” kata mereka.
- Jinarwa Raden Ngabehi Ranggawarsita
SHAKESPEARE pernah bilang: “Apalah arti sebuah nama? Mawar, jika diganti dengan nama lain, pasti akan sama harumnya.” Bagi Ki Herman Sinung Janutama, pekerja budaya dan pemerhati persoalan filsafat, tentu saja nama sangat berarti. Bahkan, dia membedah peran pujangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dari namanya. Menurut Ki Herman membaca makna nama Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan cara landa (Belanda) atau barat, akan mendapati simpulan yang tidak proporsional atau ala barat. Karena itu, dia menggunakan kajian budaya Jawa dari tradisi paramasastra atau jinarwa Jawi, yang telah dicontohkan oleh para leluhur Jawa yang tersebar dalam berbagai teks kejawen. “Inilah yang disebut alam kapujanggan Jawi. Di dalamnya terdapat banyak model operasi demi menggali maknanya (jinarwa). Kali ini saya hanya menggunakan beberapa saja di antara operasi-operasi tersebut. Yakni operasi jinarwa dasanama, jarwadhosok, kiratabasa, dan garba,” papar Ki Herman dalam kuliah umum bertajuk “Islam dan Mistisisme Nusantara: Ranggawarsita, Islam dan Kejawen,” di Salihara, 28 Juli lalu.
- Akibat Priyayi Berkunjung ke Eropa
PERKENALAN masyarakat pribumi dengan bahasa Belanda menjadi jalan untuk mengenal pengetahuan baru tentang negara lain. Selain itu, adanya pengajaran tentang atlas dunia juga turut mendorong hasrat para elite pribumi (termasuk bupati dan pejabat pemerintahan) untuk mulai berpergian ke luar negeri. Walau umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari bahasa, tetapi keinginan kuat telah mengantar mereka pada pengalaman besar yang tidak terlupakan. Biasanya setelah kembali ke tanah air, sebagian melanjutkan karir di pemerintahan sementara lainnya menjadi akademisi yang membangun tren intelektual Barat di dalam negeri. Dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid I, Denys Lombard menulis ada sejumlah elit Pribumi di Jawa yang diberi kesempatan pergi ke Eropa. Di sana mereka melihat dan mengadopsi kebiasaan yang tidak ada di negerinya. Kemudian memperkenalkannya kepada masyarakat.
- Pelukis Jadi Pahlawan Nasional
SEJAK 1959, pemerintah Indonesia mulai memberikan gelar Pahlawan Nasional bagi para tokoh bangsa yang dianggap berjasa. Orang pertama yang mendapat gelar itu ialah Abdoel Moeis, seorang pejuang sekaligus sastrawan asal Solok, Sumatra Barat. Pada tahun yang sama diangkat pula bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara dan kakaknya R.M. Soerjopranoto, si raja mogok. Hingga 10 November 2020, Indonesia telah memiliki 191 Pahlawan Nasional. Namun, belum ada nama pelukis yang masuk dalam daftar itu. Isu inilah yang dipantik oleh sejarawan Asvi Warman Adam dalam Diskusi Publik Pra-Pameran Representasi #4 “Pahlawan Nasional dan Seni Rupa Tokoh Sejarah” yang diadakan oleh Pendhapa Art Space, Selasa, 7 September 2021. Asvi menyebutkan, beberapa sastrawan dan komponis telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Abdoel Moeis, selain seorang pejuang juga sastrawan. Ada pula Amir Hamzah, penyair yang meninggal dalam revolusi sosial di Sumatra Timur. Kemudian ada Muhammad Yamin dan Buya Hamka, selain politisi juga sastrawan.
- Raden Saleh Melawan dengan Lukisan
DI AWAL film Mencuri Raden Saleh (2022) seorang mahasiswa seni bernama Piko (Iqbaal Ramadhan), sedang asyik melukis ulang lukisan H. Widajat. Seniman muda itu mencari uang dengan memalsukan lukisan untuk membebaskan ayahnya dari penjara. Setelah lukisan palsu itu laku ratusan juta rupiah, Piko mendapat tawaran mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811–1880) yang dijaga ketat di Istana Negara. Piko menerima tawaran itu dan membentuk tim yang terdiri dari Ucup (hacker), Sarah (atlet bela diri), Gofar (mekanik), Tuktuk (pembalap liar), dan Fella (bandar judi kampus). Masing-masing mengincar uang yang ditawarkan sebagai imbalan dari pencurian tersebut. Film yang skenarionya ditulis dan disutradarai Angga Dwimas Sasongko ini lalu bergulir seru. Film drama laga ini masuk dalam sepuluh film Indonesia terlaris tahun 2022 dengan meraup lebih dari dua juta penonton. Dalam Festival Film Indonesia 2022, film ini mendapatkan Penghargaan Ratna Asmara kategori Film Pilihan Penonton. Ratna Asmara adalah sutradara perempuan pertama Indonesia.
- Raden Saleh Pulang Kampung
PADA pertengahan abad 19, saat masyarakat bumiputera masih mengalami diskriminasi, dia dengan mudahnya berdansa-dansi dengan para bangsawan Eropa. Saat seniman tanah air belum mengenal aklirik untuk melukis, dia dengan asyiknya menggoreskannya di atas kanvas. Bakat melukisnya membuatnya diterima di tengah pergaulan kaum elite Eropa. "Di Jerman dia pernah diundang makan malam oleh Ratu Victoria. Itu luar biasa. Kalau diibaratkan saat ini, sama halnya diundang makan oleh Obama. Luar biasa, hebat, dan orang itu berasal dari sini, pelukis Jawa," kata kurator asal Jerman, Werner Kraus. Menempuh pendidikan seni di Eropa, Raden Saleh Syarif Bustaman menjadi seniman Nusantara pertama yang melukis dengan disiplin lukis ala Barat. Dia mengembangkan teknik perspektif, kesempurnaan bentuk, proporsi, perwujudan yang fotorealistik, komposisi segitiga, dan juga nuansa klasik. Tak heran jika dia dinobatkan sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia.
- Fosil-fosil Raden Saleh
NAMA Raden Saleh sempat menjadi trending di Twitter belum lama ini. Hal ini dikarenakan tayangnya film Mencuri Raden Saleh karya Angga Dwimas Sasongko. Film yang ditonton hingga 2,2 juta orang ini menceritakan tentang pencurian lukisan fenomenal karya Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponogoro. Lukisan tersebut hanya satu dari banyak karya Raden Saleh yang memiliki cerita menarik. Namun, sejatinya Raden Saleh bukan hanya berjasa dalam seni lukis, tapi juga punya jasa di bidang arkeologi. Oleh karena itulah Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan sosok Raden Saleh dalam sebuah lukisan. “Lukisan tokoh Raden Saleh ada di ruang pamer kita, karena beliau ini (dalam kiprah soal, red.) masalah fosil di kita mungkin pionir dari bangsa kita beliau ini, meskipun beliau bukan arkeolog,” ujar Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Iskandar Mulia Siregar kepada Historia.ID melalui Zoom.




















