Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ini Baru Namanya Mainan
STASIUN Purbalingga, 1979. Suasana tidak ramai. Rangkaian kereta api baru saja masuk dari arah timur. Dengan menenteng dua koper, Paijo bergegas menaikinya. Di dalam, pemuda itu duduk berhadapan dengan pemuda asal Klaten bernama Slamet. Mereka berkenalan lalu mengobrol. Tujuan mereka sama: kuliah di Jakarta. Jakarta tahun 1970-an sudah menjadi magnet bagi orang daerah untuk mencari kehidupan yang lebih baik atau menuntut ilmu. Paijo dan Slamet hanyalah sedikit di antaranya. Tapi mereka hanya bagian dari penggambaran realitas Jakarta kala itu. Kisah mereka hanyalah fiksi. Kehidupan mereka cuma bagian dari alur cerita film Mana Tahaaan, film perdana kelompok lawak ternama, Warkop. Cikal-bakal Warkop bermula dari persahabatan beberapa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Rawamangun. Awalnya Rudy Badil dan Nanu Mulyono, lalu Kasino Hadiwibowo bergabung. Mereka sama-sama hobi naik gunung atau aktivitas alam, bermusik, dan bercanda. Yang paling kocak adalah Nanu dan Kasino. Celetukan keduanya sering bikin teman-teman mereka terpingkal. Keduanya juga sering memelesetkan lirik lagu-lagu yang lagi populer. Alhasil, duet mereka menarik mahasiswa lainnya. Nanu-Kasino sering diundang menghibur acara-acara kampus maupun pecinta alam.
- Sujatin Penerus Kartini
DENGAN kebaya merah jambu, kain jarik motif kawung warna putih, dan rambut disanggul, Sujatin memerankan Kartini dalam sebuah tableau (penampilan tanpa dialog) mewakili seksi Perempuan Jong Java. Penampilan itu dia lakukan tahun 1923 pada pawai Perayaan 25 tahun Ratu Wilhelmina di Yogyakarta. Untuk perayaan itu, dia mendapat pinjaman sebuah truk dari bupati Kulon Progo yang juga pamannya. Bak truk kemudian disulap menjadi kamar Kartini lengkap dengan meja-kursi kuno. Beberapa lukisan dipajang di sebuah dinding yang dicat putih. Tak disangka, tableau Kartini itu mendapat sambutan meriah. Sujatin mendapat hadiah utama berupa lampu meja bertudung (schemerlamp) dari Sultan Hamengkubuwono VIII.
- Kartini dari Kacamata Masa Kini
JERIT tangis gadis cilik memecah keheningan malam. Bentakan kakak lelakinya tak menghentikan tangisnya, malah kian meronta. Ketika seorang kakak lelakinya menggendong paksa, gadis itu melawan dengan menggigit. Sang kakak kesakitan, mengumpat. Kartini, gadis cilik itu, tak ingin tidur terpisah dari Ngasirah, ibunya (diperankan Nova Eliza). Dia sama sekali tak tahu dan tak peduli aturan di rumah itu yang menentukan Ngasirah menjadi pembantu dan harus tidur terpisah dari suaminya, Adipati Ario Sosroningrat (Dedy Sutomo). Ngasirah turun status setelah Sosroningrat menikahi Raden Ajeng Moeriam (Djenar Maesa Ayu) demi mengejar jabatan bupati. Adegan perlawanan Kartini kecil itu menempati bagian awal film Kartini besutan sutradara Hanung Bramantyo. Di film, yang beberapa bagiannya menyajikan alur mundur, jiwa perlawanan Kartini sudah tampak semasa kecil.
- Buku Kartini dalam Beragam Bahasa
R.A. KARTINI mengirimkan puluhan surat kepada J.H. Abendanon, direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, sejak 1899 hingga 1904. Isi surat-surat itu meliputi tata cara kehidupan keluarga bupati di Jepara; sikap saudara-saudara Kartini; keinginannya meneruskan pendidikan seperti temannya bangsa Eropa; keadaan masyarakat sekeliling; dan imbauan kepada yang berwajib untuk mengangkat bangsa Jawa. Sepeninggal Kartini pada September 1904, Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini dengan judul Door Duistrnis tot Licht. Namun, tak semua surat diterbitkan. Buku itu dicetak pertama kali oleh N.V. Electrische Drukkerij “Luctor et Emergo” di ‘s-Gravenhage pada 1911. Setahun kemudian muncul cetakan kedua dan ketiga. Sementara cetakan keempat atau cetakan terakhir dari penerbit itu baru muncul pada 1923. Di bawah pengawasan Comissie voor Volk Bestuur, Door Duistrnis tot Licht diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Bagindo Dahlan Abdoellah, asisten bahasa Melayu di Universitas Leiden, dengan dibantu oleh tiga tenaga ahli.
- Api Kartini dalam Perjuangan Petani Kendeng
SEPULUH petani pegunungan Kendeng mengecor kakinya di depan Istana Negara Jakarta pada 13 Maret 2017. Aksi pasung semen jilid dua ini sebagai bentuk protes terhadap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengeluarkan izin lingkungan baru kepada PT Semen Indonesia. Sebelumnya, sembilan petani perempuan menyemen kakinya pada 13 April 2016. Menurut aktivis perempuan, Dewi Candraningrum, perjuangan petani Kendeng menambah deretan perjuangan perempuan di Pantai Utara Jawa. Dimulai pada abad 14 dikenal Dewi Indu, Ratu Kerajaan Lasem. Pada abad 15 dikenal Nyai Ageng Ngerang, ulama perempuan wali nukbah. “Dia seorang sufi perempuan yang masjidnya ada di Pati. Di situ juga akan ada pabrik semen baru,” kata Dewi dalam seminar “Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: Reflections on R.A Kartini,” di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (13/3).
- Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Kartini Jenderal Kiri
R.A. KARTINI meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat –nama terakhir dari ayahnya, Raden Adipati Djojoadhiningrat, bupati Rembang. Soesalit diasuh oleh neneknya, M.A. Ngasirah, ibu Kartini. Soesalit sempat menjadi asisten wedana di Banyumas sebelum akhirnya meniti karier di kemiliteran. Pada masa pendudukan Jepang, Soesalit mengikuti pendidikan sekolah militer (Renseitai) di Magelang dan melanjutkan ke Pembela Tanah Air (Peta). Dia kemudian menjadi komandan batalion (daidancho) Peta di Banyumas II (Sumpiuh) pada 1943-1945. Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soesalit menjadi Komandan Divisi III/Yogyakarta. Pengangkatan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.
- Jalan Kartini Temukan Islam
SURAT bertarikh 6 Nopember 1899 dalam Habis Gelap Terbitlah Terang itu menandaskan betapa Kartini tak sreg benar dengan agamanya. Katanya, “Sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh mengenalnya? Quran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Quran, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetap tidak diajarkan makna yang dibacanya itu.” Ia, dengan jujur, juga menyatakan malas membaca Al-Quran. Dilahirkan dalam keluarga priyai, sebenarnya Kartini tak mendapatkan pengetahuan agama yang memadai. Namun, dasar orang haus pengetahuan, ia senantiasa ngangsu kaweruh, belajar. Sekitar tiga tahun kemudian setelah suratnya kepada Stella Zeehandelaar, pegiat feminis Belanda, di atas pandangannya terhadap Islam berubah. Selama ini, akunya, ternyata ia bebal dan angkuh. Namun, ia bersyukur bahwa dalam perjalanan hidupnya ia bisa menemukan Tuhan. “Betapa aman sentosanya di dalam diri kami sekarang ini, betapa terima kasihnya dan bahagianya, karena sekarang ini telah mendapat Dia; karena kini ini kami tahu, kami rasa, bahwa senantiasa ada Tuhan dekat kami, dan menjagai kami,” tulisnya pada 15 Agustus 1902.
- Benarkah Kartini Dipengaruhi Freemason?
R.A. KARTINI sohor karena surat-suratnya. Goresan pena kepada para sahabat di Belanda memperlihatkan beragam pemikiran yang modern pada zamannya. Namun, tak sedikit pula yang mencemoohnya bahwa ia hanyalah alat politik kolonial. Bahkan, belakangan ia juga disebut dipengaruhi oleh Freemason. Misalnya pada 2011, terbit buku berjudul Kartini Mati Dibunuh: Membongkar Hubungan Kartini dan Freemason yang ditulis oleh Efatino Febriana. Buku ini berawal dari kecurigaan mengenai kematian mendadak Kartini dua hari setelah melahirkan anaknya. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah Kartini mati dibunuh? Bagaimana hubungan Kartini dengan Freemason dan Yahudi?” pun muncul. Peneliti sejarah Freemason, Sam Ardi, menyebut bahwa beragam tuduhan memang muncul dan berawal dari surat-surat Kartini yang diterbitkan. “Orang kan memandang bahwa ini ada semacam tanda kutip pemberontakan. Baik dari sisi pemikiran, maupun kadang Kartini dalam suratnya juga menyinggung masalah agama. Nah, poin ini yang dihubungkan dengan Freemason,” kata Sam Ardi dalam dialog sejarah live instagram @Historiadotid, pada Selasa, 21 April 2020.
- Kartini Menggugat Snouck Hurgronje
DALAM salah satu suratnya untuk Rosa Abendanon, R.A. Kartini menitip pertanyaan buat Snouck Hurgronje. Pertanyaan itu seputar ukuran kedewasaan perempuan dalam hukum Islam terutama usia yang pantas untuk menikah. Snouck saat itu bekerja sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Islam. “Apakah di kalangan Islam ada undang-undang tentang umur dewasa seseorang, sebagaimana di kalangan Anda? Saya ingin sekali mengetahui ala kadarnya tentang hak dan kewajiban, atau lebih tepat tentang undang-undang sekitar perempuan Islam dan anak perempuannya?” tulis Kartini dalam suratnya, 18 Februari 1902. Surat itu ditulis pada usia Kartini yang mulai matang dan ada semacam keharusan bagi seorang perempuan Jawa seperti dia untuk segera menikah. Tampaknya dia belum rela melepas masa lajangnya.
- Di Bawah Bayangan Kartini
NAMANYA nyaris berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama kakaknya, Kartini. Padahal perjuangannya dalam meninggikan derajat perempuan dan menolong kaum lemah tak bisa dibilang sedikit. Salah satu penyebabnya, Kardinah tak seerat Kartini dalam bersahabat dengan Nyonya Abendanon atau Nyonya Ovink-Soer. Lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, Kardinah merupakan anak ke-7 Bupati Jepara RM Sosroningrat. Dia anak pertama dari selir (garwa ampil) bupati bernama M.A. Ngasirah. Ayahnya selalu menularkan kepekaan sosial kepada anak-anaknya. “Setelah sudah agak besar, kami sering disuruh oleh rama (bapak) untuk ikut meninjau tempat-tempat penderitaan rakyat. Maksud rama supaya kami melihat sendiri dari dekat bencana-bencana yang menimpa rakyat itu dan mendapat kesan bagaimana susahnya hidup mereka yang melarat dan hina itu,” tulis Kardinah dalam suratnya tanggal 25 Maret 1964 kepada Sitisoemandari Soeroto, penulis Kartini Sebuah Biografi.
- Saling Tuding Hitler-Stalin dalam Pembantaian Katyń
CUACA membekukan musim dingin yang terasa hingga ke tulang dirasakan Oberstleutnant (setara letnan kolonel) Friedrich Ahrens pada suatu hari di awal Februari 1943. Namun Komandan Resimen Komunikasi 537 dari Grup Angkatan Darat (AD) Tengah Jerman itu membulatkan tekad untuk meneruskan perjalanan memburu serigala bersama para pekerja Polandia dan Rusia dari markasnya dekat Stasiun Gniezdowo masuk ke Hutan Katyń. Alih-alih menemukan buruannya, Ahrens justru menemukan banyak gundukan tanah yang tertutup salju. Beberapa dari gundukan itu terdapat salib kayu dan bekas cakaran pertanda serigala pernah menggali gundukan tanah itu. “Sepanjang musim panas 1942 sebenarnya para pekerja Polandia di Hutan Katyń sudah mendengar banyak rumor tentang (pasukan) Soviet membunuh serdadu Polandia di area hutan itu. Bahkan beberapa dari mereka pernah menggalinya dan menemukan banyak jasad dan mereka menandainya dengan salib-salib kayu, walau kemudian mereka tak melaporkannya ke otoritas Jerman,” ungkap Kenneth F. Ledford dalam Mass Murderers Discover Mass Murder: The Germans and Katyn, 1943.
- Karl Doenitz, Panglima Singa Suksesor Hitler
SEJAK awal persidangannya di Pengadilan Nuremberg, 20 November 1945, Großadmiral Karl Doenitz (Dönitz dalam ejaan Jerman) tak goyah pada pendiriannya. Dia yakin tak bersalah meski tiga dakwaan dialamatkan majelis hakim padanya selaku Der Führer (pemimpin tertinggi) Jerman Nazi terakhir. Saat penjatuhan vonis setahun kemudian (1 Oktober 1946) pun, Doenitz duduk dengan sikap bersahaja di barisan para terdakwa bekas antek Jerman Nazi di ruangan yang penuh sesak. Air mukanya tenang. Dengan seksama, ia mendengarkan pembacaan vonisnya oleh hakim asal Prancis Henri Donnedieu de Vabres via alat penerjemah bahasa di telinganya. “Pengadilan Kejahatan Perang Internasional Nuremberg memvonis Laksamana Besar Doenitz 10 tahun penjara. Doenitz terbukti bersalah atas dua dakwaan, yakni Kejahatan terhadap Perdamaian (merencanakan perang yang ilegal di mata Hukum Internasional) dan Kejahatan Perang (pelanggaran hukum perang). Tetapi Doenitz tidak terbukti bersalah atas dakwaan Konspirasi Perang,” kata Henri sebagaimana tersurat dalam arsip Office of Navy Intelligence (Dinas Intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat) yang dirilis Oktober 1946.





















