top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mencari Untung di Tanah Pembuangan Boven Digoel

    KAMP pengasingan Digoel, Papua menjadi momok tersendiri bagi siapapun yang coba-coba memberontak kepada pemerintah kolonial Belanda. Tak hanya dilingkupi hutan belantara sunyi, nyamuk-nyamuk penyebar malaria juga menghantui. Tunjangan minim juga tak cukup untuk penghidupan. Maka berjualan jadi salah satu cara untuk bertahan, sebagaimana dilakukan banyak penghuni Kampung C. Menurut eks Digoelis Muhammad Bondan seperti ditulis Molly Bondan dalam Spanning a Revolution: Kisah Mohammad Bondan, Eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia, Kampung C adalah kampung paling sibuk di Digoel karena sebagian besar penghuninya membuka warung kecil-kecilan di rumah mereka. “Wujud warung itu tidak lebih dari sebuah meja yang diberi taplak, diletakkan di depan pintu atau jendela yang terbuka, dengan di atasnya ditaruh barang-barang yang hendak dijual. Bagaimanapun kampung ini telah menjadi sesibuk seperti pusat perbelanjaan,” tulis Molly Bondan.

  • Sepakbola di Tanah Buangan Boven Digoel

    SEPAKBOLA memang olahraga sejuta umat. Dengan sebuah bola dan tanah lapang, orang-orang sudah bisa bermain sepakbola. Tak terkecuali para tahanan politik di Tanah Merah Boven Digoel, Papua. Sepakbola jadi andalan untuk memecah kesunyian kamp dan mengisi waktu luang. Sepakbola di Tanah Merah bermula ketika kaum buangan membentuk organisasi kesenian dan olahraga bernama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel (KSVD). KSVD dipimpin oleh buangan asal Bandung, Wiranta yang kemudian digantikan oleh Sabariman. KSDV seringkali mengadakan pertandingan. Selain sebagai olahraga, sepakbola juga sebagai hiburan. Tak butuh waktu lama, sepakbola menjadi olahraga favorit kaum buangan. Setelah KSVD, muncul kesebelasan-kesebelasan lain, seperti Sinar Perdamaian dan SH (Sport for Health).

  • Membuang Orang Pergerakan ke Boven Digoel, Papua

    MENTERI Sosial Tri Rismaharini lagi-lagi bikin sensasi. Dalam video yang belakangan viral, Risma terekam memaharahi beberapa anggota Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Wyata Guna, Bandung. Risma mengangap mereka tidak tangkas bekerja menyiapkan makanan di dapur umum. Kemarahan Risma kiranya dapat dipahami. Namun, yang menjadi sorotan, Risma mengancam akan memutasi anak buahnya yang lalai itu ke Papua. “Dengar, saya nggak main-main, nggak ada yang susah buat saya pindahkan ke Papua,” begitu kata Risma. Alih-alih menuai simpati, ucapan Risma lebih terkesan bernada diskriminasi. Papua merupakan daerah paling timur sehingga sangat jauh dari pusat pemerintahan. Tak dapat dipungkiri, Papua memang belum semaju daerah lain di Indonesia. Dari pernyataan Risma, Papua seolah-olah menjadi tempat pembuangan bagi mereka yang terhukum. Pernyataan Risma itu mengingatkan kita kepada sikap represif pemerintah Hindia Belanda pada waktu lampau. Di masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda merepresi orang-orang pergerakan dengan mengirimkannya ke penjara pengasingan di Papua. Penjara yang lebih mirip kamp interniran itu berlokasi di Boven Digoel, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

  • Alkisah Foto Jenazah Aliarcham

    Engkau tidak hilang bagi kami, tidak!/ Masa kini kami tumbuh dari masa lampaumu/ Tangan kami menganyam terus/ Karya suci dan perjoanganmu/ Kami meneruskan kata gairah/ Kehidupanmu dengan rasa bahagia/ Obor yang menyala di malam kelam anda/ Kami sampaikan kepada angkatan kemudian. Sajak gubahan penyair Belanda Henriette Roland Holst itu (dalam bahasa Belanda) tertulis di sebuah papan tulis hitam yang diambil dari sebuah sekolah. Digambar pula simbol palu arit pada papan itu lalu ditempatkan di belakang kepala jenazah Aliarcham. Pemimpin Digoelis itu meninggal dunia karena penyakit TBC pada Juli 1933 di atas sebuah perahu motor. Di Tanah Merah, seruan “Aliarcham meninggal!” menjalar ke seluruh kamp ketika perahu dari Tanah Tinggi itu tiba. Kematian Aliarcham telah menimbulkan rasa kehilangan yang berat bagi para Digoelis.

  • Dalam Keadaan Sakit, Aliarcham Tetap Melawan

    KETIKA akhirnya dipindahkan ke Kamp Tanah Tinggi, Aliarcham mulai mengalami batuk-batuk. Kondisinya menjadi semakin parah dan diketahui ia mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC). Kian hari badannya semakin kurus. Mukanya pucat dan matanya juga cekung. Sukimah adalah istri Aliarcham yang pada 1926 ikut dalam pembuangan ke Okaba. Ia turut pula ketika Aliarcham dipindahkan ke Tanah Merah dan kemudian ke Tanah Tinggi. Anak laki-laki mereka yang bernama Aneksimander juga ikut dalam pengasingan ini. Di Tanah Tinggi ketika Aliarcham mulai sakit, istrinya diminta kembali Jawa. Sukimah yang saat itu tengah mengandung diminta pulang agar melahirkan di Jawa. Lagi pula akan sangat berbahaya jika penyakit Aliarcham menular ke keluarganya.

  • Nasib Mereka yang Terbuang di Theresienstadt dan Boven Digoel

    SUDAH tak terhingga peneliti sejarah atau sejarawan mengulik dan mempublikasikan tulisan-tulisan sejarah tentang kamp-kamp pengasingan di delapan penjuru mata angin. Tetapi yang mengkomparasikannya satu sama lain, terlebih menilik kesamaan kehidupan orang-orang buangan di Eropa dan daratan Papua mungkin baru Prof. Rudolf Mrázek. Mrázek, sejarawan yang juga guru besar emeritus University of Michigan itu sampai melintas belahan bumi untuk melakoni riset dan wawancaranya dari Israel hingga Papua. Puncaknya, ia terbitkan bukunya pada 2020 dengan tajuk The Complete Lives of Camp People: Colonialism, Fascism, Concentrated Modernity (terj. Keseharian Orang Buangan di Kamp Kolonial). Di dalamnya, Mrázek menyelami kehidupan para orang buangan di Kamp Ghetto Theresienstadt di kota Theresienstadt (kini Terezín, Czechia/Ceko) dan Kamp Pengasingan Boven Digoel di Tanah Merah, Papua yang berada di dua belahan bumi berbeda dengan jarak 13 ribu kilometer. “Mungkin bagi kalangan akademisi atau para ahli (sejarah), tidak masuk akal karena kedua kamp berada di dua sisi dunia yang berbeda. Satu kamp (Digoel) untuk para tahanan politik (tapol) komunis, orang-orangnya (Sutan) Sjahrir, pemuda liberal democrat, sosialis kiri, pemuda gerakan Islam yang semuanya musuh politik rezim (pemerintah Hindia Belanda). Dan (kamp) Theresienstadt untuk orang-orang Yahudi dan dijadikan propaganda politik (Nazi Jerman). Kedua orang-orang buangan itu memang kelihatan berbeda,” ujar Mrázek dalam Forum Diskusi Budaya Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional bertajuk “Keseharian Orang Buangan di Kamp Kolonial” secara daring di Youtube PMB BRIN, Senin (5/8/2024).

  • Djojotoegimin dan Musik yang Menghidupkan Digoel

    BUTUH waktu tiga hari naik kapal untuk mencapai Digoel dari Merauke. Nyamuk malaria atau keganasan buaya di Sungai Digoel dan bermacam gangguan alam lain akan selalu menjadi ancaman begitu sampai. Belum lagi, di tahun 1927 hinga 1940 itu, kesunyian Digoel yang terletak di pedalaman belantara Papua tak kalah menakutkan. Di sanalah mereka yang terkait Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) November 1926 dan Januari 1927 ditempatkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Atas nama Rust en Orde (Keamanan dan Ketertiban), mereka dikucilkan agar tak mengganggu apalagi merongrong penguasa. Di tempat seperti Digoel itulah kehadiran Djojotoegimin seharusnya menjadi penting. Setidaknya dia bisa menjadi “pembunuh” kesunyian Digoel. Sebab, sebelum dibuang ke Boven Digoel, dia memang seorang musisi profesional.

  • Digoelis Makassar Itu Bernama Paiso

    PERINGATAN kematian Sun Yat Sen dihelat orang-orang Tionghoa Makassar di sebuah sekolah di daerah Baloeng pada 1925. Tak hanya dihadiri 200 orang Tionghoa, sekira 30 orang bumiputra juga hadir di sana. Salah satunya yang bernama Paiso. Namun ketika di sana, Paiso langsung diamankan polisi. Paiso dikaitkan dengan komunisme. Meskipun menurut Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers, 1925 no. 20 (14 Mei 1925) dalam pertemuan itu komunis sedang tidak menjadi bahasan, Paiso –yang disebut-sebut sebagai orang Jawa kelahiran 1894– sudah kadung dianggap orang berbahaya. Paiso, disebut Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 8 Februari 1924, adalah sekretaris Sarekat Rakjat daerah Makassar. Sarekat Rakjat Makassar itu berdiri pada November 1923. Ketuanya Alibin, seorang guru sekolah milik Sarekat Islam yang berasal dari Minangkabau; Wakilnya Mohamad Ali, pekerja di kantor syahbandar Makassar; dan bendaharanya Abdul Maki. Sarekat Rakjat terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

  • Digoelis Masuk Parlemen

    NAMA pria kelahiran Blora tahun 1912 ini mirip dengan nama seorang jenderal mayor Kementerian Pertahanan yang dieksekusi negara pada Desember 1948. Djokosudjono, nama pria ini, sejak usia 17 tahun sudah aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan ikut Partai Nasional Indonesia (PNI) dan aktif di serikat buruh. Di serikat buruh, antara 1931-1934 dia menjadi Sekretaris Persatuan Sarekat Sekerdja seluruh Indonesia. Dia pernah pula memimpin kongres buruh pertama di Surabaya. Sekitar 1935, bersama Musso, Pamudji, dan Achmad Sumadi, Djokosudjono membangun Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam gerakan bawah tanah. PKI kemudian dikenal sebagai PKI Ilegal. Namun perjuangan mereka tetap terendus aparat kolonial yang sejak 1934 menggalakkan penindakan terhadap gerakan nasionalis. Pada 1938, Djokosudjono ditangkap aparat hukum kolonial dan dibuang ke Boven Digoel. Untuk mencapai Boven Digoel yang terletak di pedalaman Papua, kala itu mesti ke Merauke dulu. Setelah itu dilanjutkan naik kapal sekitar 3 hari dari pelabuhan Merauke. Sebab, jalan darat belum ada.

  • Kesatria Ratu Belanda Menjaga Boven Digoel

    THOMAS Najoan merupakan orang buangan di Tanah Merah, Boven Digoel, yang suka bercanda. Orang-orang buangan suka dengan humornya. Suatu kali, dia ditanya kenapa kabur ke Australia tapi kembali lagi ke Digoel. “Australia tidak menyukai saya, maka kembalilah ke Om Bintang,” kata Thomas Najoan. Dalam pelarian berikutnya, Thomas Najoan tertangkap lagi. Mantri polisi yang dikenal sebagai Om Bintang lalu bertanya padanya kemana dia akan pergi. “Saya sedang mencari Stalin dan Trotsky, tapi rupa-rupanya saya selalu hanya bisa menemukan Om Bintang,” kata Thomas Najoan sebagaimana dicatat Sutan Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan.

  • Tri Ramidjo, Kecil di Digoel, Muda di Buru

    RUMAH berpagar kuning itu terletak berhadapan dengan lapangan serbaguna di sebuah perumahan di bilangan Kunciran, Tanggerang. Gerbang pagar setinggi dada orang dewasa itu segera dibuka setelah beberapa kali terucap salam. Seorang pria senja berkemeja putih dan bercelana panjang batik tampak berdiri di pintu menyambut dengan senyum dikulum. Tangan kirinya berpegangan pada tembok, menopang tubuh rentanya. “Tangan kanan saya kena stroke, tak bisa lagi digerakkan. Silahkan masuk,” katanya mempersilahkan. Dia pun menyeret langkahnya untuk duduk di kursi. Lelaki itu adalah Tri Ramidjo, biasa disapa Trikoyo, 85 tahun. Sakit tak pernah menghalanginya untuk beraktivitas. Trikoyo melek teknologi. Dia tak gagap menggunakan komputer dan akrab dengan internet. Sampai hari ini dia aktif sebagai anggota jejaring sosial Facebook dan kerapkali membagi pengalaman hidupnya di berbagai mailing list. Semangatnya tak pernah pudar. “Tubuh saya sakit, tapi semangat saya masih selalu ada,” kata dia. Senyumnya selalu mengembang saat bercerita tentang pengalaman masa kecilnya di Boven Digoel, Papua. Pria kelahiran Kutoardjo, 27 Februari 1926 itu dibawa saat masih bayi oleh kedua orangtuanya, Kyai Dardiri Ramidjo dan Nyi Darini Ramidjo, ke Tanah Merah, Digoel. Kyai Dardiri dibuang ke Digoel karena turut aktif dalam pemberontakan komunis melawan pemerintah kolonial pada 1926. Dardiri dan Darini masih sepupuan. Mereka adalah cucu dari Kyai Hasan Prawiro, pengikut setia Pangeran Diponegoro yang mengobarkan perang Jawa pada 1825-1830.

  • Timnas Indonesia Digulung Jepang Bukan Cerita Baru

    USAI sudah perjalanan Timnas Indonesia dalam ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Di klasemen akhir Grup C, Indonesia menduduki peringkat ke-4 dan berhak lanjut ke babak selanjutnya. Namun, perjuangan masih panjang. Asa terus menyala bagi Timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat-Kanada-Meksiko. Kendati demikian, pelatih Patrick Kluivert dan jajarannya mesti melakukan evaluasi, sebab di laga terakhir Indonesia dibantai Jepang dengan skor telak 0-6. Secara kelas dan kualitas pemain, Indonesia memang kalah dari Jepang. Namun, kekalahan dengan selisih gol setengah lusin tanpa balas tentu menyedihkan sekaligus membuktikan rapuhnya pertahanan Jay Idzez dkk. Ini menjadi kekalahan terbesar Indonesia selama putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia. Bila dijumlah dari pertemuan pertama, maka gawang Indonesia telah dibobol Jepang 10 gol. Dengan skor dan lawan yang sama, Indonesia juga pernah mengalami kekalahan serupa di turnamen Merdeka Games Cup 1976. Harian Kompas, 11 Agustus 1976 memberitakan Timnas Garuda Indonesia “digunduli” Jepang 0-6 dalam pertandingan kedua turnamen tersebut di Stadion Negara Kuala Lumpur pada 10 Agustus 1976. Kekalahan ini merupakan kekalahan terbesar Indonesia dalam pertandingan-pertandingan sepanjang turnamen tersebut.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page