Hasil pencarian
Cari di situs ini
10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Indonesia Dukung Palestina dengan Prangko
WARGA Palestina tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan ini dengan khusyuk. Tentara Israel menyerang warga Palestina, mulai dari anak-anak, perempuan, hingga orang lanjut usia di Masjid Al-Aqsha, Jerusalem. Negara-negara Eropa diam, tak seperti kepada Ukraina yang diserang Rusia. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sejak awal merdeka telah menunjukkan keberpihakan kepada Palestina. Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel hingga kini, meskipun Israel memberikan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia.
- Prangko, Si Kecil Sarat Arti
USAI memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Jakarta tetap bukanlah tempat yang aman. Tentara NICA-Belanda terus melancarkan aksi untuk menguasai Jakarta. Dalam rapat kabinet 3 Januari 1946 para pemimpin Republik memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta. Sejumlah upaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi negara yang baru merdeka dan berdaulat ini. Salah satunya menerbitkan prangko. “Indonesia mencetak prangko untuk kali pertama pada 1946 untuk memperingati setengah tahun kemerdekaan. Gambarnya banteng sedang menarik rantai, sebagai simbol telah terbebas dari penjajahan,” ujar Lutfie, ketua Bidang Pameran di Perkumpulan Filatelis Indonesia.
- Lelucon 1 April
PADA 31 Maret 1969, koran terbitan Jakarta, Indonesia Raya, menurunkan berita mengenai Ratna Sari Dewi, istri mantan Presiden Sukarno. Judul beritanya sih biasa-biasa saja. Namun subjudulnya, apalagi isinya, bikin orang tergoda membacanya. Isteri Sukarno ke-3 Sari Dewi Kembali ke Indonesia Tobat Atas Dosa2-nja–Akan Kembalikan Semua Harta Tjurian Untuk Dana Pendidikan Djakarta, Selasa (IR), - Sari Dewi, isteri wanita Djepang bekas Presiden Soekarno jang baru2 ini dihebohkan berada di Bangkok dan Hongkong, dan menjatakan kepada pers di sana, bahwa dia ingin sekali kembali ke Indonesia untuk menengok suaminja, menurut sumber2 jang mengetahui telah berada di Djakarta. Sari Dewi kini tinggal disuatu tempat yang belum dapat disebutkan didalam kota Djakarta, tak djauh dari rumahnja dahulu, tempat bekas presiden Soekarno kini dikenakan tahanan rumah.
- Jejak Cinta yang Terpahat di Bandara
KABAR melegakan itu pun datang. Setelah lama terbengkalai, eks Bandara Kemayoran akan dijadikan cagar budaya dan dibuka untuk publik. Selain merupakan bandara internasional pertama di Indonesia, ia menyimpan beberapa relief karya maestro Indonesia. Pada 17 hingga 21 Juli 2019, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran menggelar kegiatan Konservasi Karya Relief di eks Bandara Kemayoran. Mereka memamerkan tiga relief yang dulu menemani para penumpang di ruang VIP (Very Important Person) Bandara Kemayoran. Ketiga relief itu bercerita tentang Sangkuriang, flora dan fauna, serta manusia Indonesia.
- Ketika Hatta dan Pengusaha India Kerjai PM Nehru
SUDAH lima hari Wakil Presiden Mohammad Hatta berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Safari politik pada pertengahan 1947 itu merupakan kunjungan pertama ke kota kelahirannya setelah Indonesia merdeka. Kunjungan itu dilakukan Hatta untuk memberi penjelasan kondisi negara kepada rakyat atas permintaan beberapa anggota KNIP Daerah Sumatra. Pada hari kelima, Hatta kedatangan tamu seorang India bernama Biju Patnaik. Ia merupakan pengusaha penerbangan sekaligus sahabat Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru. Ia datang ke ibukota Indonesia, Yogyakarta, untuk membawakan bantuan obat-obatan dari Nehru sebagai bentuk dukungan terhadap revolusi Indonesia dan balas budi India atas tawaran bantuan beras dari Indonesia.
- Jasa Biju Patnaik untuk Republik
PADA masa Republik Indonesia belum lama lahir, India dengan tokoh nasionalisnya, Jawaharlal Nehru yang kemudian perdana menteri, merupakan salah satu pendukung terpenting. Banyak bantuan India tiba di Indonesia karena simpati, keberanian, dan kerja keras Biju Patnaik. Bijayananda Patnaik, lebih dikenal dengan Biju Patnaik, merupakan pilot sekaligus pengusaha maskapai penerbangan Kalinga Air. Pria kelahiran Orissa (kini Odisha, India), 5 Maret 1916 itu merupakan pejuang nasionalis India sejak muda. Kesamaan pandangannya dengan Nehru membuatnya menjadi salah satu sahabat yang dipercaya Nehru. Keduanya sama-sama bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itu menjadi pertimbangan Nehru memilihnya untuk memikul tanggung jawab dalam membantu perjuangan Indonesia.
- Charlie Chaplin Berkunjung ke Garut
PRESIDEN Joko Widodo mengadakan kunjungan kerja ke Bandung, Jawa Barat (17/1). Dari Bandung, Jokowi menuju Kabupaten Garut dengan kereta api untuk meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut. Dalam akun twitter-nya, Jokowi mencuit: “Komedian legendaris abad ke-20 Charlie Chaplin pernah dua kali berlibur ke Garut dengan kereta api. Jalur yang dilewati Charlie Chaplin di Garut kini jadi rel mati dan akan kita hidupkan lagi untuk pengembangan kawasan wisata dan perekonomian.” Menurut Haryoto Kunto, yang dijuluki “kuncen Bandung”, dalam Seabad Grand Hotel Preanger, 1897-1997, Garut merupakan kota kecil yang sering dikunjungi kaum preangerplanters (tuan-tuan perkebunan), yang dihubungkan oleh jalur kereta api, di mana Stasiun Cibatu merupakan tempat alih kereta rute Bandung-Surabaya.
- Invasi Kelinci
PEMANDANGAN yang menyambut mata para peternak domba di sejumlah wilayah di Selandia Baru, sungguh mengerikan. Padang rumput berubah menjadi hamparan tanah tandus. Rumput, tanaman herba, hingga kulit kayu pohon-pohon muda lenyap oleh kawanan kelinci bak “mesin penyedot”. Nyaris tak ada yang tersisa bagi domba-domba penghasil wol. Produksi peternakan terkena dampaknya. Di Pulau Utara, suratkabar Poverty Bay Herald edisi 18 Desember 1922 melaporkan, jumlah domba berkurang drastis hampir 100.000 ekor di beberapa peternakan besar antara Taihape dan Hawke's Bay. Salah satu peternakan yang sebelumnya mampu memelihara 30.000 domba saat itu hanya menampung 8.000 ekor.
- Aksi Para Sailor untuk Emperor
MINGGU, 15 Mei 1932 di Kuil Yasukuni, Tokyo. Setelah turun dari dua taksi yang membawa ke depan pintu masuk samping kuil, sembilan perwira muda Angkatan Laut (AL) Kekaisaran Jepang langsung membungkuk ke arah Dewa Matahari. Usai melakukan ritual, mereka membeli sebuah jimat kepada seorang pendeta Shinto dan kembali ke dua taksi tadi. Mereka menuju kediaman resmi Perdana Menteri (PM) Tsuyoshi Inukai, politisi senior berpandangan moderat dari partai Rikken Seiyukai. Tak lama kemudian, mereka tiba di tujuan. “Di sini mereka memaksa melewati seorang sersan polisi dan masuk ke kamar Perdana Menteri Tsuyoshi Inukai, lelaki kecil berjenggot berumur 75 tahun,” tulis John Toland dalam The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire, 1936-1945. Sejurus kemudian, peristiwa penting dalam sejarah Jepang yang ikut membentuk sejarah dunia pun diciptakan para perwira AL itu.
- Daun Kuping dan Isi Kepala van Gogh
ARLES, bagian selatan Prancis, pada malam sebelum Natal yang dingin tahun 1888. Paul Gauguin, pelukis pascaimpresionis Prancis, berjalan-jalan sendiri untuk menghirup udara segar yang bercampur aroma pohon salam yang berbunga. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki yang familiar. Ketika berbalik, ia melihat Vincent van Gogh berlari ke arahnya sambil memegang pisau cukur yang terbuka. Ia bingung soal apakah ia mesti menenangkan van Gogh dan melucuti senjatanya atau tidak. Namun, van Gogh, pelukis pascaimpresionis Belanda, kemudian berbalik ke Rumah Kuning, tempat kumpul seniman yang didirikannya setelah meninggalkan tanah kelahirannya dan pindah ke Arles pada 19 Februari 1888.
- Nobar Film Terlarang di Rangkasbitung
TUA-muda, pria-wanita, bule-kulit berwarna, semua “tumplek-blek” jadi satu mengarahkan pandangan mereka ke sebuah layar putih bujur sangkar di depan. Tak ada kesan formal sama sekali. Banyak yang di bagian depan, termasuk seorang bule, duduk berselonjor kaki di atas hamparan karpet hijau. Itulah suasana “Nonton Bareng Film Max Havelaar: Saidjah dan Adinda (1976) karya Sutradara Fons Rademakers” di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Rabu (24/4/24) malam. Pemutaran film berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.30 WIB. Acaranya dihelat Museum Multatuli Lebak bekerjasama dengan Historia.id dan Arjanodw Foundation. Dalam pemutaran film ini, hadir Fonds Rademaker Jr., yang dulu ikut serta dalam pembuatan film tersebut.
- Film Nasional Rasa “Asing”
SEPASANG kakinya melangkah, menyusuri kegelapan, di tengah gerimis hujan. Iskandar bergeming saat langkah bertemu genangan air, tak menghindar. Namun, selembar kertas pengumuman di dinding berhasil menarik perhatiannya. Langkahnya terhenti. Sehelai kertas itu berisi pengumuman jam malam yang diberlakukan tentara pada 1950-an di Bandung. Usia membaca, dia lanjut melangkah. Tak lama, bunyi serupa suara lonceng terdengar. Enam anggota Corp Polisi Militer (CPM) yang tengah berpatroli menghentikannya. Dia berlari ketakutan. Ternyata sudah lewat jam malam. Dia lolos dari kejaran. Saat memasuki sebuah rumah, tunangannya sudah menunggunya. “Is...,” sapa Norma, mesra.





















