Hasil pencarian
Cari di situs ini
10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika VOC Memburu Perompak Makassar
PADA 1673, VOC pusat di Batavia mendapat laporan tentang situasi gawat di perairan Nusa Tenggara. Sejumlah besar kapal dagang yang melintas di sana, antara September hingga Desember 1673, dilaporkan tidak pernah sampai ke tempat tujuan. Mereka menghilang dalam perjalanannya mengangkut komoditi dari pesisir Jawa menuju Nusa Tenggara. Berdasarkan laporan pejabat Belanda di Lombok (Daghregister, Oktober 1673), setidaknya ada 100 sampai 150 buah kapal yang dihancurkan di perairan tersebut. Hanya sedikit sekali kapal bisa merapat kembali ke pesisir Jawa. Kalau pun ada yang selamat, kondisi kapal rusak parah dan para awak kehilangan barang bawaan mereka. Bahkan tidak sedikit kru kapal yang terbunuh.
- Kue Bika Bernama Majelis Ulama
TELEPON di rumah Hamka berdering. Hamka beranjak menyongsong telepon, meninggalkan tayangan tinju Muhammad Ali vs Joe Bugner di televisi pada akhir Juni 1975. Si penelepon orang Departemen Agama. Dia menyampaikan pesan bahwa Menteri Agama Mukti Ali ingin segera bertemu Hamka. Pokok bahasannya seputar rencana pemerintah mendirikan majelis ulama dan menjadikan Hamka sebagai ketuanya. Hamka berjanji pertemuan bakal terlaksana dalam waktu dekat. Percakapan telepon berakhir. Gagasan pembentukan majelis ulama muncul dalam musyawarah alim ulama se-Indonesia di Jakarta pada 30 September–4 Oktober 1970. Gagasan itu berasal dari Pusat Dakwah Islam Indonesia, organisasi bentukan pemerintah. Mereka meminta partisipasi ulama dalam pembangunan dan pembinaan kerukunan antarumat beragama.
- Merayakan Keberagaman Imlek Kala Pandemi
ORANG Tiongkok datang ke Nusantara sejak puluhan abad lampau. Mereka yang datang umumnya para pedagang. Hal ini diketahui dari catatan Fa Hsien dari abad ke-4 dan I-Tsing pada abad ke-7. Gelombang kedatangan mereka kian banyak memasuki era kebangkitan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) pada abad ke-17. Gelombang ini berbeda dari gelombang sebelumnya. Orang-orang dari Tiongkok kali ini datang sebagai kuli atau pedagang. Hubungan mereka dengan VOC cukup baik. Tapi hubungan itu berubah jadi saling curiga sejak peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Pembantaian dipicu isu bahwa mereka akan memberontak terhadap VOC.
- Klenteng Hok Lay Kiong, Buah Pemberontakan Buruh Tionghoa Terhadap VOC
DUPA dinyalakan. Wanginya menyebar ke setiap sudut ruangan klenteng Hok Lay Kiong. Pak Osin, kemudian melanjutkan kewajibannya membersihkan dan merapikan klenteng. Aktivitas itu sudah dilakoni Pak Osin bertahun-tahun. Bedanya, Pak Osin bekerja dalam sepi. Sejak pandemi Covid-19, kegiatan di klenteng berkurang. Begitu juga dengan jumlah orang yang berkunjung. “Kalau dulu itu, ada saja orang datang setiap harinya, meski bukan suasana Imlek. Sekarang, ya seperti ini. Sepi,” ungkap Pak Osin.
- Ketika Berhaji Dilarang VOC
INDONESIA secara resmi telah mengumumkan untuk tidak mengirimkan jamaah haji tahun ini. Selain karena Kerajaan Arab Saudi belum membuka akses layanan penyelenggaraan ibadah haji pada 2021, juga (karena pandemi) Indonesia belum juga diundang untuk menandatangani nota kesepahaman tentang persiapan penyelenggaraan haji. "Pemerintah melalui Kementerian Agama menerbitkan Keputusan Menag Nomor 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 H 2021 M," ungkap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam konferensi pers yang disiarkan secara langsung oleh akun Instagram Kementerian Agama pada Kamis (3/6/2021). Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, pelaksanaan ibadah haji pernah sering tidak terselenggara. Menurut sejarawan Henri Chambert-Loir, sejak sebagian wilayah Nusantara dikuasai oleh VOC (Maskapai Dagang Hindia Timur) pada akhir 1600-an, izin berhaji ke Mekkah mulai dipersulit. Hal tersebut dilakukan karena adanya kekhawatiran pihak VOC terhadap pengaruh ajaran perang sabil yang didapat oleh para haji selama mengunjungi tanah Arab.
- Sri Lanka Tempat Pembuangan VOC
SETELAH melihat Singapura dan Malaysia, banyak orang Indonesia yang percaya negara-negara jajahan Inggris lebih baik nasibnya ketimbang jajahan Belanda. Jajahan Inggris lain, India, saat ini terhitung maju industrinya. Namun, kabar buruk datang dari Sri Lanka, jajahan Inggris yang dulu disebut Ceylon. Negara itu bangkrut. Meski dikenal sebagai jajahan Inggris, namun Sri Lanka pernah dikuasai VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Daerah itu dijadikan tempat pembuangan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh VOC dari Jawa, Sulawesi, dan Maluku. VOC membuang salah seorang raja Mataram ke Sri Lanka sekitar tahun 1708. “Amangkurat III ditawan dan dibuang ke Sri Lanka, tempat dia wafat pada tahun 1734,” tulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008.
- Gubernur Jenderal VOC Dijatuhi Hukuman Mati
HAKIM menjatuhkan hukuman mati kepada Ferdy Sambo, mantan Kadiv Propam Polri, karena terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap ajudannya, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Sambo dinyatakan bersalah melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Ia juga dinyatakan melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Hukuman mati bukan hal baru dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia. Sejarawan dan arkeolog Belanda, Hans Bonke, sebagaimana kutip Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi, menyebut hukuman mati kerap diberlakukan di Hindia Belanda sejak awal abad ke-18, bahkan jumlahnya jauh lebih besar daripada di Belanda. “Di awal abad ke-18, di Amsterdam yang berpenduduk 210 ribu jiwa, dilakukan lima kali hukuman mati per tahun. Di Batavia yang berpenduduk 130 ribu jiwa, angka ini dua kali lebih besar dan kadang-kadang malah lebih,” tulis Alwi.
- Perbudakan di Bawah Koloni VOC
MESKI bernama Kampung Bali, penduduk kelurahan di Tanah Abang, Jakarta Pusat itu terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Entah itu Betawi, Jawa, Sunda, dan sebagainya. Toponimi Kampung Bali tak lepas dari akar sejarahnya. Sekira empat abad silam, hanya orang-orang Bali yang tinggal di sini. Mereka mengikuti kebijakan segregasi yang diterapkan otoritas kongsi dagang Belanda di Hindia Timur (VOC). Kebanyakan dipekerjakan sebagai budak belian. Raja-raja Bali suka berperang satu sama lain. Tawanan perang saudara itu kemudian dijual sebagai budak. Di samping budak, orang Bali dikenal sebagai serdadu bayaran yang tangguh. “Orang Belanda takut kepada satu komunitas yang memiliki identitas komunal yang sama. Karena begitu menyatu, mereka bisa menjadi oposisi yang membahayakan pemerintah kolonial,” ucap Bondan Kanumoyoso, sejarawan sekaligus dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia kepada Historia.ID.
- Yati Aruji Kartini Revolusi
YATI dilahirkan di Pekalongan pada 1918 dari keluarga pejuang. Lima saudaranya perempuan. Ayahnya, Kadhol, aktif menjadi anggota Sarekat Islam. Sementara Ibu Kadhol mendirikan dapur umum untuk karyawan kereta api dan kantor pegadaian yang tergabung dalam Sarekat Islam ketika mereka melakukan pemogokan menuntut penurunan pajak oleh penguasa Belanda. Karena aktivitas mereka, dua reserse Belanda berjaga-jaga di depan rumah. Tapi Kadhol merasa kasihan kepada kedua penjaga itu dan membuatkan “rumah-rumahan” untuk mereka. Tak jarang ia mengajak kedua penjaga itu untuk ngambeng atau kenduri. “Ibu Aruji dan adik-adiknya masih ingat kedua reserse sering pula mendapat dan membawa pulang berkat dari selamatan itu,” tulis Annie Bertha Simamora dalam Satu Abad Kartini 1879–1979. Seingat Saartje, postur tubuh Yati kecil. “Bicaranya suka campuran Belanda, padahal orang Jawa dari Pekalongan. Kalau Pak Aruji orang Garut,” kata Saartje. Meski bertubuh kecil, “Yati keras dan tegas, mungkin karena tidak punya anak, jadi disiplin sekali. Ia juga keras dalam soal agama, entah orang tuanya atau kakeknya, tokoh PSII,” Tuti menambahkan. “Kalau Pak Aruji bageur (baik hati) dan merakyat, Yati agak menjaga jarak.” PSII singkatan dari Partai Syarikat Islam Indonesia, di mana Yati dan suaminya aktif di sana.
- Skandal Putri Gubernur Jenderal VOC
JAN Pieterszoon Coen, pendiri Batavia, ingin membangun koloni yang dihuni oleh orang-orang baik. Gubernur VOC ini tidak suka dengan pergundikan, perzinaan, dan pelacuran. “Menurut Coen, pergundikan mengakibatkan pengguguran kandungan, pembunuhan bayi, dan terkadang peracunan suami oleh gundik yang cemburu. Di samping melahirkan anak-anak jadah,” tulis Alwi Shahab dalam Betawi Queen of The East. Jacques Specx, anggota Dewan Hindia yang kelak menjadi Gubernur Jenderal VOC, menitipkan putrinya, Sara Specx kepada Coen. Specx menganggap telah menitipkan putrinya di tangan yang tepat.
- Gubernur Jenderal VOC Jadi Korban Wabah Penyakit
WABAH penyakit yang menyerang penduduk Batavia pada abad ke-18, tak hanya menewaskan ribuan jiwa, tetapi juga mengubah kota itu,dari yang tersohor dengan sebutan Koningin van het Oosten(Ratu dari Timur) menjadi Graf der Hollanders(kuburan orang Belanda). Ada beberapa pendapat mengenai penyebab Batavia menjadi tidak sehat dan tidak layak dihuni. John Crawfurd, orientalis Skotlandia, beranggapan bahwa kondisitersebut terjadi akibat keputusan kurang tepat yang diambil VOC saat membangun Batavia. “Orang Belanda, tanpa menghiraukan perbedaan garis lintang sekitar 45 derajat, memutuskan untuk memiliki sebuah kota dengan model Belanda, dalam jarak enam derajat dari garis khatulistiwa dan di permukaan laut. Sungai tersebar di kota dalam bentuk kanal yang indah namun kemudian kehilangan arusnya, mengendapkan sedimennya yang melimpah, dan menimbulkan penyakit malaria,” tulis Crawfurd dalam A Descriptive Dictionary of the Indian Islands & Adjacent Countries.
- Panjat Sosial Zaman Kolonial VOC
BAGI sebagian orang di negeri Belanda, bekerja sebagai pegawai VOC di Batavia memberi harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, kenyatannya mengubah nasib tak semudah membayangkannya. Tak jarang para imigran laki-laki dari Belanda maupun Eropa kesulitan mendaki puncak karier dan menembus lingkaran pergaulan pembesar dan orang-orang penting di Batavia. Menurut Ulbe Bosma dan Remco Raben dalam Being “Dutch” in the Indies: A History of Creolisation and Empire, 1500–1920, sistem patronase yang mengakar di wilayah koloni Belanda merupakan poros pembuatan karier. “Di bawah kekuasaan kompeni, kehidupan di Hindia Timur belum dikuasai oleh hasrat akan ijazah dan sertifikat yang nantinya akan menancapkan cakarnya ke setiap kelas sosial. Alih-alih ijazah, surat rekomendasi sudah cukup,” tulis Bosma dan Raben.





















