Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mongol, Penakluk Terbesar dalam Sejarah
DELAPAN ratus tahun yang lalu, masyarakat nomaden yang kecil tiba-tiba meledak, keluar dari padang rumput Mongolia yang dingin dan kering. Mereka menaklukkan beberapa kekuasaan di wilayah perbatasan dan menjadi penguasa terbesar dalam sejarah. Jenghis Khan memimpin bangsa Mongol menghancurkan beberapa dinasti kuat pada zamannya. Termasuk Dinasti Abbasiah di Baghdad, Dinasti Jin dan Dinasti Song di Cina, serta Kerajaan Khwarezmian di Asia Tengah. Kekuasaan Mongol menghubungkan Eropa dengan Asia dalam waktu kurang dari seabad. Pencapaiannya itu disebut Pax Mongolica atau era ketika wilayah Eurasia menyatu di bawah kekuasaan Mongol.
- Kekejaman Bangsa Mongol di Rusia
PADA paruh pertama tahun 1200-an, pemimpin Mongol, Batu Khan, cucu Jenghis Khan, menaklukkan bagian-bagian Rusia modern, Eropa Timur, dan Kaukasus. Dia menambahkan wilayah-wilayah itu ke kawasan yang kemudian dikenal sebagai Golden Horde atau Kekhanan Mongol-Turki. Batu Khan menyapu ke barat dengan pasukan 130.000 tentara. Bagi kota-kota yang berada di jalurnya, satu-satunya pilihan adalah menyerah atau disembelih. Smolensk, salah satu kota di Rusia, memilih menyerah dan membayar upeti kepada Khanate. Namun, 18 kota lain, termasuk Moskow dan ibu kota kerajaan itu, yang pada saat itu memerintah Yaroslavl, jatuh ke dalam api dan kibasan pedang.
- Kemenangan Raden Wijaya Mengusir Pasukan Mongol
Bagaimana siasat Raden Wijaya dalam mengalahkan Pasukan Mongol?
- Ekspedisi Khubilai Khan di Asia
Perjalanan Khubilai Khan di Benua Asia
- Ekspedisi Kubilai Khan ke Jawa
Perjalanan Khubilai khan menembus Nusantara.
- Tantangan Kubilai Khan di Jawa
MONGOL sukses mengembangkan imperium yang luas karena angkatan daratnya ulung, khususnya keahlian dalam berkuda. Imbasnya, pada abad ke-13 M, seluruh daratan Eurasia tak luput dari kehadiran orang-orang Mongol. Kesuksesan itu masih diwarisi oleh Kubilai Khan hingga dia menaklukkan seluruh Tiongkok. Namun, kelihaian mereka berperang tersendat ketika menghadapi kondisi wilayah Asia Tenggara. “Bala tentara China-Mongol di negeri-negeri itu hanya menemui kegagalan atau keberhasilan sementara,” tulis George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha.
- Kegagalan Kubilai Khan di Jawa
PENAKLUKKAN Dinasti Song pada 1279 oleh tentara Kubilai Khan membuat seluruh Tiongkok tunduk di bawah bendera Dinasti Yuan. Mungkin itu menjadi kesuksesan militer terbesar, sekaligus terakhir bagi Kekaisaran Mongol. Kendati demikian, hal itu masih selangkah lagi menuju ambisi utama Kubilai Khan, yaitu membuat dunia mengakui kejayaannya. “Tak ada alasan khusus kenapa harus menaklukkan suatu negara. Ia hanya harus melakukannya,” kata sejarawan Inggris, John Man dalam Kublai Khan. Kubilai Khan bukannya jenius secara intelektual. Tapi dia punya kemampuan, yang menurut John Man, sebagai CEO terbaik sepanjang masa. Dia mewarisi kemampuan mengorganisir dari kakeknya, Jenghis Khan. Ketika kakaknya, Mongke Khan berkuasa, dia dikirim ke selatan untuk menundukkan kerajaan Nan Chao di Yunan. Pada 1253 dia berhasil menguasai seluruh dataran tinggi Yunan sampai Hanoi.
- Alasan Kubilai Khan Menyerang Jawa
MEMPERLAKUKAN Meng Qi dengan buruk adalah dosa yang dibuat Raja Singhasari, Kertanagara, sehingga Kubilai Khan harus menghukumnya. Itulah alasan kedatangan bangsa Mongol ke Jawa sebagaimana dikisahkan dalam Sejarah Dinasti Yuan (Yuan Shi). Namun, tak hanya karena itu Kubilai Khan mengirim pasukan ke Jawa. David W. Bade, pakar perpustakaan di Joseph Regenstein Library Universitas Chicago, dalam Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century menjelaskan, sebelumnya banyak diyakini kalau ekspedisi Kubilai Khan ke Jawa sebenarnya demi menguasai perdagangan laut. Saat itu, Jawa menjadi negara terakhir di selatan Tiongkok yang menolak tunduk. Pengaruh Jawa semakin besar setelah mengirim utusan ke Malayu dalam ekspedisi Pamalayu. Belum lagi pengaruh Sriwijaya yang memang sudah semakin pudar. Pada masanya, Sriwijaya punya hubungan baik dengan Tiongkok.
- Kubilai Khan dan Putri Tumapel
“KALAU sudah kalah raja di Daha, saya akan memberikan seorang putri dari Tumapel yang cantik tiada bandingan di Pulau Jawa, itulah yang akan saya katakan kepada Raja Tatar sebagai alat memperdayakan Raja Tatar.” Begitu ucapan Aria Wiraraja, seorang adipati di Madura, dalam Pararaton yang ditulis pada abad 17. Berbagai sumber naskah Jawa menyebutnya sebagai sahabat bangsa Tatar, sebutan sumber Jawa untuk Mongol. Kira-kira seperti itu sumber naskah Jawa menjelaskan sebab musabab Majapahit kemudian melawan sekutunya sendiri, bangsa Tatar. Putri raja menjadi iming-iming kepada Raja Tatar agar mau membantu melibas sang pengkhianat, Jayakatwang.
- Kisah Hidup Ibrahim Isa
LELAKI yang rambutnya memutih itu duduk di hadapan saya. Jarak kami berdua dibatasi sebuah meja, dengan dua cangkir kopi terletak di atasnya. Ketika pembicaraan dimulai, dia tampak berhati-hati. Saya lebih banyak bertanya, dia menjawab seperlunya. Rupanya jarak di antara kami berdua lebih dari sekadar ukuran meja pada sebuah kafe yang terletak di stasiun sentral Amsterdam itu. Ibrahim Isa, lelaki yang saya temui pada sebuah hari di bulan Juni 2004 itu, seperti sedang menahan diri supaya tak terlalu lepas menderas cerita. Mungkin dia cemas. Barangkali juga sedang berhati-hati menghadapi seorang pemuda yang belum dikenalnya. Terlebih pertanyaan yang dilontarkan kepadanya lebih banyak mengenai kisah terdamparnya dia di negeri orang karena peristiwa G30S 1965. Peristiwa yang selalu disangkut-pautkan pada PKI itu mulai terbuka untuk dibicarakan, tapi bagi sebagian orang, ia adalah kisah yang tabu, juga membikin was-was.
- Francisca Fanggidaej, Perempuan Pejuang yang Terbuang
FRANCISCA C. Fanggidaej, nenek dari aktor kenamaan Reza Rahadian ini jarang disebut dalam narasi sejarah resmi. Ia telah menentang kolonialisme sejak muda dan turut berjuang pasca kemerdekaan. Jejaknya hilang pasca 1965 karena dekat dengan Sukarno dan stigma komunis yang melekat padanya. Perempuan asal Timor ini lahir dari pasangan Magda Mael dan Gottlieb Fanggidaej. Ayahnya bekerja sebagai kepala pengawas Burgerlijke Openbare Warken (BOW), sekarang Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Hal inilah yang membuat status keluarganya dianggap sama secara hukum dengan orang Belanda. Namun, status yang didapat keluargannya itu tidak membuat Francisca hidup dalam buaian keistimewaan. Sejak kecil, ia justru sering kali mempertanyakan ketimpangan antara keluarganya dan orang-orang sebangsanya. Muncul kesadaraan akan ketidakadilan yang dialami orang-orang yang warna kulitnya sama dengan dirinya.
- Orang-orang Indonesia yang Kehilangan Tanah Airnya
SASTRAWAN Martin Aleida mewawancarai 19 orang Indonesia yang terpaksa kehilangan tanah airnya setelah peristiwa 1 Oktober 1965. Mereka menyeberangi berbagai negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menghindari pengejaran dari rezim Orde Baru yang berkuasa lebih dari tiga dasawarsa. Mereka, yang oleh Gus Dur disebut “orang-orang klayaban”, tidak menyangka akan kehilangan kewarganegaraan. Padahal, mereka berada di negara lain dengan tujuan kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan kemampuannya bagi kemajuan Indonesia. Akhirnya, mereka mendapat suaka dan tinggal di berbagai negara Eropa. Meski sudah menjadi warga negara lain, kecintaan terhadap Indonesia tidak pudar. Mereka tetap merasa Indonesia sebagai tanah airnya.





















