Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Suka Duka Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza
SEBANYAK 559 prajurit TNI Batalion Garuda I disiapkan menuju Mesir. Dua kompi berasal dari Tentara Teritorium (TT) IV/Diponegoro dan satu kompi dari TT V/Brawijaya. Mereka terpilih mewakili Kontingen Indonesia dalam United Nations Emergency Force (UNEF/Pasukan Polisi PBB) untuk misi perdamaian di tengah Krisis Suez. Sebelum berangkat, Presiden Sukarno melepas mereka dengan amanat. “Adalah satu kebanggaan bagi kita bangsa Indonesia dapat menyumbangkan tenaga dalam membantu penyelesaian bersama di Mesir itu,” kata Presiden Sukarno seperti dikutip dalam “Sam Karya Bhirawa Anoraga”: Sedjarah Militer Kodam VII/Brawidjaja. “Tugas ini adalah berat,” lanjut Bung Karno, “Tetapi apabila anggota-anggota pasukan Garuda I itu menjalankan tugasnya dengan penuh kecintaan, sedikitpun tak akan terasa beratnya.”
- Pasukan Perdamaian Indonesia di Gaza
AKHIR pekan lalu, slogan bertuliskan “All Eyes on Rafah” memenuhi jagat media sosial seluruh dunia. Seruan yang artinya “Semua Mata tertuju pada Rafah” itu muncul menyusul serangan kejam tentara Israel atas warga Palestina di Rafah, perbatasan Jalur Gaza, dan Mesir. Aksi itu memakan korban jiwa di pihak rakyat sipil pengungsi Palestina, termasuk perempuan, anak-anak dan bayi. Dalam perang, kelompok rentan seperti itulah yang sepatutnya dilindungi. Dunia internasional mengecam tindakan Israel. Namun, sampai hari ini perang masih berkecamuk antara pasukan militer Israel dan milisi Hamas di Palestina. Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mewacanakan pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Palestina. Gagasan itu disampaikan Prabowo dalam dialog keamanan “Shangri-La Dialogue” ke-21 di Singapura, Sabtu, 1 Juni 2024. Selain itu, Menhan Prabowo juga menyatakan pemerintah Indonesia siap mengevakuasi warga Palestina yang terluka dan merawatnya di rumahsakit Indonesia.
- Prosa Mantri Pustaka
RUMAH berusia 125 tahun dengan arsitektur khas Jawa ini hancur. Menyisakan tembok dan sisa-sisa kayu, tumpukan genting, dan potongan batu bata. Sejumlah pekerja sibuk memindahkan material dari bangunan utama yang dikenal sebagai Ndalem Padmosusastro. Sesuai namanya, rumah ini adalah kediaman Ki Padmasoesastra, seorang pembaru sastra Jawa modern. Ndalem Padmosusastro berlokasi di Jalan Ronggowarsito No. 153, Timuran, Banjarsari, Solo. Pembongkaran dilakukan akhir Januari 2026, di tengah sengketa waris yang belum tuntas lantaran masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung. “Sedih. Sangat menyayangkan,” ujar Erwina Tri Sulistyanigrum, pegiat literasi digital di Solo, dalam percakapan via layanan pesan singkat. Erwina beberapa kali menyelenggarakan kegiatan literasi di lokasi tersebut.
- Hilangnya Martabak India Asli
SETIAP daerah punya makanan yang menjadi identitas dan terkenal di seluruh Indonesia. Misalnya, martabak, pasti Bangka. Semua pedagang martabak melabeli gerobaknya dengan martabak Bangka, meskipun dia bukan orang Bangka. Sebenarnya martabak Bangka adalah martabak manis. Ada beberapa nama untuk martabak Bangka: Hok Lo Pan artinya kue orang Hok Lo, salah satu marga Tionghoa; Pandekuk atau Pande Coek, dan kue tabok. Selain martabak manis, pedagang juga menyediakan martabak telor. Martabak ini berasal dari India. Dalam buku kuliner, Aneka Martabak Telur Panggang, disebutkan bahwa kata martabak ditengarai berasal dari bahasa Arab, murtabak atau mutabbaq, yang artinya lipatan. Ini tentu sesuai dengan bentuk makanannya yang dilipat menyerupai amplop. Martabak konon berasal dari India yang tersebar melalui perdagangan hingga Asia Tenggara. Selain di Indonesia, martabak juga bisa ditemukan di negara-negara lain, seperti Arab Saudi, Yaman, Thailand, dan Malaysia.
- Akhir Tragis Sultan Ternate di Tangan Portugis
HARI ini, 28 Februari 1570, 448 tahun lalu Sultan Ternate Khairun Jamil dibunuh orang Portugis. Pembunuhannya terjadi menyusul perpecahan yang terjadi dalam tubuh kerajaan akibat campur tangan Portugis. Khairun Jamil, yang lahir pada 1522, naik takhta menggantikan kakak tirinya, Tabariji. Khairun jadi sultan ketika usianya masih 13 tahun. “Karena belum cukup umur, sebagai Mangkubumi (wali), ditunjuk Samarau, mantan Salahakan (gubernur) Kerajaan Ternate di Ambon,” tulis M. Adnan Amal dalam Tahun-Tahun yang Menentukan. Begitu meraih kembali takhtanya, yang sebelumnya direbut Tabariji lewat persekongkolan dengan Portugis, Khairun langsung membuat dua tindakan penting.
- Jahatnya Malam dan Sulitnya Tidur
UTNAPISTHIM, sang Pahlawan Air Bah, konon diberkati para dewa dengan hidup abadi setelah melewati malapetaka dahsyat itu. Ketika Gilgamesh, pangeran muda dari Mesopotomia pada 2700 SM berduka setelah ditinggal mati sahabatnya, ia mencari Utnapisthim untuk mendapatkan rahasia hidup abadi. “Jika kau bisa melewati tujuh hari dan tujuh malam tanpa tidur, kau pun terbukti pantas mendapatkannya,” tantang Utnapishtim, seperti tertulis dalam tabel kesebelas epos Gilgamesh versi bahasa Akkadia yang ditemukan sekitar 1870. Gilgamesh gagal memenuhi tantangan ini. Melewati waktu tanpa tidur kini melebihi sebuah keabadian. Ia adalah simbol modern pencapaian, dedikasi, dan kesuksesan. Contohlah mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, yang legendaris dengan kebiasaan tidur empat jam. Ia bahkan hampir “tak pernah tidur” selama masa perang Inggris-Argentina (Perang Malvinas atau Falkland) sepanjang April hingga Juni 1982. Bersama asistennya, Cynthia Crawford, Thatcher memilih berada di ruang kerjanya di Jalan Downing sepanjang malam.
- Sultan Baabullah, Pahlawan Nasional dari Ternate
SULTAN Baabullah, penguasa Kesultanan Ternate 1570–1583, memperoleh gelar Pahlawan Nasional secara resmi pada 10 November 2020. Keputusan tersebut berlandas pada perjuangannya melawan kesewenang-wenangan Portugis di Maluku. Dia menjadi tokoh Maluku Utara kedua yang menjadi Pahlawan Nasional setelah Sultan Nuku pada 1995. Rekomendasi menjadikan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional bermula pada November 1996. Kala itu diskusi ilmiah "Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra" digelar oleh tim gabungan dari Dirjen Kebudayaan Kemdikbud dan Pemda Provinsi Maluku. Para arkeolog dan sejarawan terkemuka seperti Hasan M. Ambary, Uka Tjandrasasmita, A.B. Lapian, dan R.Z. Leirissa menjadi pembicaranya. Tujuh rekomendasi keluar. Salah satunya tentang usul Sultan Baabullah agar menjadi Pahlawan Nasional. Tapi belum ada upaya untuk menindaklanjuti rekomendasi mereka. Hingga akhirnya upaya itu dimulai pada 2012.
- Riwayat Partai Ummat
AMIEN Rais, salah satu pendiri dan mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), mendirikan partai baru bernama Partai Ummat pada 1 Oktober 2020. Partai ini bertekad akan melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Sebelum itu, untuk dapat mengikuti Pemilu yang akan datang tahun 2024, Partai Ummat harus melalui verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum. Partai Ummat menjadi partai baru kedua setelah Partai Gelombang Rakyat Indonesia yang dideklarasikan pada 28 Oktober 2019. Partai Gelora Indonesia ini telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM pada 2 Juni 2020. Dalam sejarah, partai-partai Islam bermunculan pada Pemilu pertama tahun 1955. Namun, pada masa Orde Baru, partai-partai Islam dipaksa berfusi menjadi PPP (Partai Persatuan Pembangunan), sedangkan partai-partai nasionalis menjadi PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Sehingga, dari Pemilu 1977 hingga Pemilu 1997 hanya diikuti oleh tiga partai politik: PPP, Golkar, dan PDI. Hasilnya, partai penguasa, Golkar, selalu keluar sebagai pemenang.
- Partai Islam ala Bung Hatta
SEJAK mengundurkan diri sebagai wakil presiden, Mohammad Hatta menjadi warga negara biasa dan menjadi tumpuan bagi berbagai kalangan yang menginginkan demokrasi, kebebasan, dan hak berpolitik. Terlebih Presiden Sukarno semakin berkuasa dengan Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu, Bung Hatta kerap mengadakan pertemuan dengan para pemuda dari organisasi Islam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Partai Syarikat Islam Indonesia, dan Nahdlatul Ulama. Dari sekian hal yang dirundingkan, tercetus ide mendirikan partai politik Islam.
- Pengungkapan Kebenaran Dulu, Baru Rekonsiliasi
GUBERNUR Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo kembali mengemukakan pendapatnya mengenai tragedi 1965 di Indonesia. Menurutnya tragedi itu meninggalkan bekas luka dendam yang belum bisa disembuhkan dan masih sulit untuk berdamai dengan masa lalu. “Nah, jika ini tidak bisa dipecahkan, dendam akan terus berlanjut. Kecurigaan yang mendalam akan berlanjut. Segala sesuatu yang berasal dan terwujud dalam bentuk balas dendam, serta kecenderungan curiga dan percaya bahwa kita satu-satunya yang benar –dan ini salah– tentu akan menciptakan rintangan pada kemampuan bangsa untuk maju secara maksimal,” ujar Agus kepada Johannes Herlijanto, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pelita Harapan, seperti termuat dalam artikelnya The 1965 Tragedy, China, and the Ethnic Chinese: Interview with Lieutenant General (Retired) Agus Widjojo (Part II).
- Pasukan Liar Sang Ratu
HAJI Sidin, 88 tahun, masih ingat kejadian itu. Dengan matanya sendiri, ia menyaksikan dari arah Tambun tentara Belanda merangsek masuk Karawang pada Juli 1947. Kendati sempat dihalau pasukan Republik, gelombang serangan tersebut tak tertahankan jua. “Mereka berhasil menyeberangi jembatan Kedunggedeh yang melintasi Sungai Citarum terus menusuk jantung Karawang,” ujar Sidin yang kala itu jadi pedagang beras. Yang tak terlupakan bagi Sidin, iring-iringan konvoi militer Belanda itu didahului barisan prajurit bumiputra. Mereka terdiri dari anak muda Betawi dan Sunda. “Ada di antaranya saya kenal sebagai centeng dan jawara yang biasa mangkal di Pasar Tambun,“ ujar Sidin.
- Jasa Aletta untuk Hindia
PASCA depresi selama setahun akibat kematian suaminya, Carel Victor Gerristen, pada 1905, Aletta Jacobs bangkit. Aletta kembali aktif mengampanyekan hak-hak perempuan dalam pertemuan internasional. Pada 1911, Aletta melakukan tur keliling dunia selama 16 bulan bersama rekannya, Carry Chapman Catt. Aletta Henriëtte Jacobs merupakan dokter perempuan pertama di Belanda yang aktif dalam gerakan feminisme Eropa. Lahir di Sappemeer pada 9 Februari 1854, ayahnya, Abraham Jacobs, merupakan seorang dokter. Pun saudara-saudara lelakinya, kebanyakan berkarier di bidang medis. Namun hanya Aletta dan sudara perempuannya, Charlotte, yang jadi dokter dan apoteker sekaligus aktif dalam gerakan perempuan.





















