Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Di Balik Patung Jenderal Ahmad Yani
BERDIRI tegap dengan tangan ke belakang sambil menggenggam sebilah tongkat, sosok itu tampak gagah. Terik mentari ataupun deras terpaan hujan tak pernah dipedulikannya. Sudah 53 tahun ia setia menyambut tamu yang berkunjung ke rumahnya atau orang-orang yang melintas di persimpangan Jalan Latuharhari dan Jalan Lembang. Ialah Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani, menteri/panglima Angkatan Darat (1962-1965), dalam bentuk patung. Berbahan perunggu, patung setinggi tiga meter itu berdiri di atas sebuah relief setinggi satu meter yang dikitari kolam ikan. Relief itu menggambarkan kiprah Yani sejak Perang Kemerdekaan hingga hari-hari menjelang peristiwa berdarah 1 Oktober 1965.
- Para Prajurit Janda
KESULTANAN Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh. Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629. Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh.
- Dialog Tack dan Surapati
SAYA ingat Bung Karno di Surakarta pada 11 Juli 1960, mengkritik nama kota Solo, yang katanya itu salah eja, peninggalan dari salah kaprahnya Belanda. Kata Bung Karno, “Yang betul adalah Sala, bukan Solo.” Sertamerta sebagian penduduk kota –gerangan mereka dari golongan masyarakat yang pejah gesang nderek Bung Karno ditandai dengan genteng rumah-rumahnya bertuliskan kata USDEK yang nian besar– segera berinisiatif mengganti kata Solo menjadi Sala. Arkian Pak Moer yang fasih bercakap kareseh-peseh Belanda –tinggalnya di sebelah palang rel sepur dari Jl. Pasarnongko ke Jl. Tirtoyoso sebelum totogan Manahan– berkata kepada saya, “Kalau menurut cerita uthak-athik gathuk-mathuk, sejarahnya Solo itu terjadi pada zaman Kapiten Tack hendak menangkap Untung Surapati.”
- Demo Rusuh Tolak Malaysia
DI depan kantor Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, massa-rakyat meneriakkan “Hidup Sukarno!”. Aksi pada paruh pertama 1960-an itu merupakan bentuk dukungan kepada sikap Presiden Sukarno yang menolak pendirian Federasi Malaysia oleh Inggris dan Malaya. Aksi itu merupakan puncak penolakan terhadap pendirian federasi Malaysia. Sebelumnya, 23 September 1963, di Yogyakarta Sukarno menyatakan “Ganyang Malaysia” untuk pertama kali. Aksi protes di Jakarta itu tapi tak mendapat respons baik. Duta Besar Inggris untuk Indonesia Andrew Gilchrist tidak mau menerima para demonstran. Dia bahkan menunjukkan sikap tak mau kalah. Dia ingin menunjukkan Inggris tetap kukuh pada pendiriannya untuk mendukung Federasi Malaysia.
- Massa Melinggis Kedubes Inggris
KEDUTAAN Besar Inggris trending topic setelah mengibarkan bendera pelangi berdampingan dengan bendera Inggris. Simbol kaum LGBT+ itu dikibarkan untuk memperingati International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia (IDAHOBIT) pada 17 Mei 2022. Pengibaran bendera pelangi itu disertai pernyataan dukungan dipublikasikan di akun resmi sosial media Kedubes Inggris. Keberatan atas pengibaran bendera pelangi itu berdatangan dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, anggota DPR RI, anggota MUI, pakar hukum, dan tokoh-tokoh Islam. Mereka menilai Kedubes Inggris tidak sensitif sehingga menimbulkan polemik, melakukan tindakan provokatif, dan tidak menghormati nilai-nilai budaya dan agama di Indonesia. Akankah ada demonstrasi ke Kedubes Inggris?
- Pertemuan Terakhir Sukarno dan Abdurachim
ABDURACHIM seorang guru spiritual berasal dari Banten. Ia memiliki tempat penyembuhan bernama Darul Annam di Petojo Selatan, Jakarta. Pada 1937, ia berkenalan dengan dr. Soeharto saat mengobati pasien. Mereka kemudian menjadi akrab. Pada 1942, Soeharto menjadi dokter pribadi Sukarno dan Mohammad Hatta. Ia memperkenalkan Abdurachim kepada Sukarno. Abdurachim pun menjadi salah satu guru spiritual Sukarno sampai akhir hayatnya.
- Cut Nyak Dhien Berhijab?
DI internet dan media sosial beredar foto yang diklaim sebagai foto asli Cut Nyak Dhien(1850-1908). Di bawah foto tercantum keterangan: “Foto Asli Cut Nyak Din, lengkap dengan hijab dari Kerajaan Islam Aceh Darus Salam. Bedakan dengan gambar di buku sejarah sekolah!” Sebuah akun facebook Seuramoe Mekkah menganggap lukisan Cut Nyak Dhien, dan pejuang perempuan Aceh lainnya seperti Cut Meutia dan Laksamana Malahayati yang digambarkan bersanggul, sebagai skenario penjajah dan pemerintahan sekuler. Foto yang diklaim sebagai Cut Nyak Dhien berhijab tersebut jelas salah. Foto yang diambil tahun 1903 tersebut, sebagaimana dikoleksi KITLV Belanda, adalah foto istri Panglima Polim . Pada foto lain, berpose bersama adik dan ibu mertuanya (Potjoet Awan), istri Panglima Polim tidak berhijab. Lihat foto di bawah ini. Agar lebih yakin silakan cek sendiri ke digitalcollections.universiteitleiden.nl. Panglima Polim dan Muhammad Daud Syah, sultan kerajaan Aceh Darussalam, memimpin pertempuran melawan pasukan Belanda di bawah Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler pada perang Aceh pertama (1873-1874). Istri dan anak Sultan ditangkap Belanda pada 26 November 1902. Sedangkan Panglima Polim dengan istrinya ditangkap Belanda pada 6 September 1903. Sultan pun menyerah dan menandatangani perjanjian damai pada 10 Januari 1903. Cut Nyak Dhien sendiri melanjutkan perjuangan setelah suami keduanya, Teuku Umar, gugur. Suami pertamanya, Teungku Ibrahim Lam Nga, juga wafat ketika melawan Belanda. Cut Nyak Dhien, yang telah tua, rabun, dan berpenyakit encok akhirnya ditangkap Belanda. Inilah foto Cut Nyak Dhien (duduk di tengah) yang diambil tahun 1905 setelah ditangkap. Foto koleksi KITLV. Cut Nyak Dhien dibawa ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Dia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Dia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akhirnya, Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, meninggal pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.*
- Riwayat Konglomerat Dasaad
SEBUAH gedung megah berdiri di tepi Kali Besar, Taman Sari, Jakarta. Dari kejauhan, bangunan itu memancarkan pesona kejayaan masa lalu. Pilar-pilarnya berdiri kokoh. Arsitekturnya menampilkan gaya Art Deco yang elegan. Sementara bagian fasadnya terpahat tulisan Dasaad Musin Concern. Dasaad Musin Concern merupakan sebuah konglomerasi bisnis milik Agus Musin Dasaad. Di bawah naungannya, terdapat berbagai perusahaan yang bergerak di multisektor, mulai dari ekspor-impor, perkebunan, keagenan, pabrik tekstil, kertas, hingga radio. Keberhasilan Dasaad dalam mengelola beragam bisnisnya membuat namanya melambung dan dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
- Moerdiono, Jubir Loyalis Tutup Usia
SUATU hari Moerdiono menelpon sejarawan Sartono Kartodirdjo. Menteri Sekretaris Negara yang terkenal bicara terbata-bata kala diwawancara wartawan itu meminta Sartono mengoreksi buku putih terbitan Sekretariat Negara RI soal “Pemberontakan G.30.S/PKI”. Sartono menjawab singkat, “tugas sejarawan bukan mengoreksi buku putih.” Tapi toh Moerdiono tetap mengirim kurir ke Yogyakarta, membawakan naskah “buku putih” untuk Sartono. Sartono kemudian melakukan beberapa koreksi dan memberikan catatan ihwal aspek metodologis yang digunakan dalam menulis buku tersebut. Betapa pun dililit persoalan metodologis, buku tersebut tetap terbit. Moerdiono memberi kata pengantar. Dalam buku ini disajikan biografi sebuah institusi bernama PKI yang disebut telah berkali-kali melakukan pemberontakan mulai 1926/1927, 1948 dan kemudian 1965. Rentetan peristiwa itu tak disertai penjelasan kepada siapa dan apa latar belakang pemberontakan, misalnya dalam soal peristiwa 1926.
- Harmoko dan Aneka Safari
HARMOKO mengadakan safari Ramadan semasa menjabat menteri penerangan pada 1983 berlanjut hingga dia menjadi ketua DPP Golkar (1993-1998). Tujuannya komunikasi politik dengan kegiatan keagamaan. Tapi ujung-ujungnya: kampanye pemenangan pemilihan umum partai berkuasa, Golkar. Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Harmoko melakukan safari Ramadan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia sambil bertemu kader-kader Golkar. Perjalanan itu dibiayai Departemen Penerangan tapi digunakan pula untuk kepentingan kampanye partai. Beberapa ulama dibawa dalam kunjungan dengan tujuan ganda tersebut.
- Harmoko, Hari-Hari Omong Konfrontasi
DUA pria berhidung mancung mengenakan jas dan bertopi bak pesulap. Salah satunya, yang topinya bertuliskan Union Jack, memecutkan cambuk ke seorang pria yang sedang menunggang kuda lumping. Pria berkumis dan berpeci itu, dengan baju bertuliskan Tengku, seketika mengucapkan kata: “Perang... Perang”. Karikatur bertajuk “Circus from Malaysia” itu dimuat di harian Merdeka, 28 April 1964. Temanya seputar Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia yang sedang hangat-hangatnya saat itu. Pesannya jelas: penggambarnya ingin menunjukkan bahwa Tengku Abdurahman Putra, perdana menteri Malaysia, adalah boneka Inggris, negara yang mendorong pembentukan Federasi Malaysia yang ditentang Sukarno.
- Harmoko Anak Senen
LELAKI muda itu turun dari kereta. Wajahnya kucel setelah menempuh perjalanan belasan jam Solo-Jakarta. Dia menyeret kopor kulitnya dan berjalan keluar Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Becak-becak menyambutnya. Dia memilih satu untuk mengantarkannya ke daerah Planet Senen. Di sini dia akan tinggal sementara untuk mencari pekerjaan dan belajar kepada seniman Senen. Harmoko, lelaki muda yang kelak menjadi menteri penerangan 1983–1997 itu, telah lama mendengar tentang keajaiban di Pasar Senen. Selama belajar mendalang wayang dan karawitan di sanggar Himpunan Budaya Surakarta, Solo, pada 1950-an, dia diberitahu oleh kawannya tentang tempat berkumpulnya para seniman di Jakarta. Semacam Rue de Montmarte-nya Jakarta.





















