top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cahaya Kristus di Pulau Nias

    NIAS sedang mengalami kesulitan hari ini. Harga barang melonjak meski pulau itu tidak terendam banjir seperti di Tapanuli, Sumatra Selatan. Penyebabnya, ketergantungan perekonomian Pulau Nias pada Tapanuli dengan pelabuhannya di Sibolga. Maka, harga barang-barang di Nias, yang lebih mahal dibandingkan di Sibolga sebelum banjir Tapanuli, kini menjadi semakin tinggi. “Jalur barang ke Nias nyaris dari Sibolga saja. Selama bencana ini barang-barang naik di Nias karena barang ke sana [kini] dikirim dari Padang,” kata Dian Purba, pengajar sejarah di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung.

  • Perwira Prancis di Pemakaman Jenderal Soedirman

    PEMAKAMAN Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman di Semaki, Yogyakarta pada 29 Januari 1950 tidak hanya dihadiri oleh orang Indonesia. Biografi Djenderal Sudriman terbitan Biro Sedjarah Angkatan Darat menulis bahwa Mayor Jenderal Mollinger, perwakilan KNIL dan mantan lawan Sudirman, juga memberikan penghormatan terakhir kepada sang panglima. Selain Mollinger, ada seorang perwira Prancis yang turut melayat. Perwira Prancis tersebut adalah Letnan Kolonel Pierre André Ansidei. Solichin Salam dalam Djenderal Soedirman Pahlawan Kemerdekaan menulis bahwa Ansidei adalah seorang mayor. Namun, Journal officiel de la République Française, 24 September 1947 yang termuat di retronews.fr menerangkan bahwa Ansidei seorang letnan kolonel. Meskipun Ansidei seorang perwira artileri, ia hadir di pemakaman Soedirman sebagai perwira peninjau utusan Konsulat Prancis yang diperbantukan pada UNCI (United Nations Commission for Indonesia). Perwira peninjau UNCI adalah anggota militer dari berbagai negara yang menjalankan misi perdamaian di tengah kecamuk Perang Kemerdekaan Indonesia. Para perwira ini dituntut netral dan jeli dalam mengawasi agar kedua kubu selalu mematuhi perjanjian yang telah disepakati. Beberapa mulai berdinas di Indonesia sejak Agresi Militer Belanda I. Salah satu di antaranya adalah Letkol Ansidei.

  • Setelah Gowa Dihidupkan, Musuh Dijadikan Raja

    PERANG antara Kerajaan Gowa bersama kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan lain terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda membuat aparat kolonial bereaksi cepat dengan mengirim pasukan Marsose pimpinan Letnan Hans Christoffel. Pasukan itu bertugas memburu raja-raja yang dianggap pemberontak itu. Upaya tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Pada 21 Desember 1906, pasukan Marsose telah berhasil menyergap rombongan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang alias Sultan Husein yang bertakhta di Gowa di Sidenreng. Raja Gowa itu pun terpisah dari anak dan adiknya. Adik Sultan Husein I, Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, juga dibuat terluka. “Karaeng Bontonompo luka ditembus peluru Belanda, akhirnya ditangkap dan ditawan,” catat Manai Sophian dalam Perang Gowa Terakhir. Selain adik sultan yang mendapat luka di bahu, anak Sultan Husein yang bernama Andi Mappanyuki juga terpaksa menyerah di Parepare.

  • Lima Pengusaha Masa Orde Lama 

    Lima taipan istana era Orde Lama yang dikenal sebagai loyalis Presiden Sukarno.

  • Orang Pertama yang Menjual Saham VOC

    NAMA Warren Buffet, Ken Griffin, dan James Harris Simons alias Jim Simons sudah tak asing bagi mereka yang berkecimpung di dunia saham. Ketiga tokoh itu kerap menjadi perbincangan karena berhasil membangun kekayaan melalui investasi saham. Namun, pernahkah anda mendengar nama Jan Allertsz? Jan Allertsz merupakan orang pertama yang menjual saham tahun 1603. Setahun sebelumnya, ia membeli saham VOC yang baru didirikan pada 20 Maret 1602. Pria yang berasal dari keluarga pengusaha kapal tongkang yang beroperasi antara Amsterdam dan London itu menjual sahamsenilai 2.400 gulden kepada Maria van Egmont tanggal 3 Maret 1603.Masih di hari yang sama, Allertsz kembali menjual sahamnya seharga 600 gulden kepada Nyonya van Barssum di Den Haag.

  • Dokumen Saham Tertua VOC Ditemukan

    KANTOR Arsip Amstedam menemukan andil (andeel, saham) unik VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, Kumpeni) bertanggal 6 Oktober 1606. Inilah salah satu dari dua andil tertua VOC yang dikeluarkan di Amsterdam, demikian menurut peneliti Harmen Snel kepada harian Belanda de Volkskrant. Surat saham senilai 600 gulden ini dibeli pada tanggal 6 Oktober 1606 oleh Theunis Jansz, seorang penjual rempah-rempah yang kemudian menjual ikan haring dan menetap di Vrouwensteeg (gang kecil antara Damrak dan Nieuwendijk, Amsterdam pusat). Pada tahun-tahun pertama, dia memperoleh bunga sebesar 10 persen, demikian Harmen Snel. Sekarang saham itu akan berharga 10 ribu euro, sekitar Rp160 juta. Pada 1602 VOC memperoleh izin untuk melakukan perdagangan ke Hindia Timur, tapi Kumpeni masih butuh banyak dana sebelum benar-benar bisa melakukan pelayaran itu. Mulai 1 Agustus 1602 kalangan partikelir bisa membeli saham VOC. Pembelinya mencapai 1143 orang, antara lain Theunis Jansz tersebut.

  • Lini Masa Bursa Saham Indonesia

    Di Asia Tenggara, kota pertama yang menjadi pusat perdagangan saham adalah Batavia (kini Jakarta). Seperti apa perkembangan bursa saham di Indonesia?

  • Teror Subuh di Timur Matahari

    SELASA, 28 Januari 1947, ketika matahari pagi sudah setinggi tombak, penduduk dikumpulkan di sebuah lapangan Suppa, ada suara pistol meletus dan ratusan orang terkapar, lalu dimakamkan dalam tiga liang besar. Saat itu, Sikati berusia sekitar 25 tahun, bersama seorang bayinya tidur dengan pulas di rumahnya di Kampung Ujung, Desa Malongi-longi, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang. Jaraknya sekitar 10 kilometer menuju Suppa. Ketika suara azan subuh dari surau-surau belum terdengar, tiba-tiba datang suara gaduh. Ada serdadu ramai teriak, memerintahkan semua penghuni rumah untuk keluar.

  • 28 Januari 1939: Ordonansi Kontrak Kopra di Manado

    PEMERINTAH kolonial Belanda telah mengajukan rancangan ordonansi kopra kepada Dewan Rakyat di Manado. Tujuan ordonansi ini untuk melindungi kebun-kebun masyarakat dari para saudagar. Rancangan ordonansi memuat larangan saudagar-saudagar kopra membuat kontrak ilegal dengan para petani kopra. Pembuatan kontrak harus mendapat izin dari kepala pemerintahan setempat. Melalui surat izin tersebut, pembelian kopra hanya dapat dilakukan oleh saudagar yang terdaftar oleh Residen Manado. Saudagar yang tidak memperoleh surat izin namun tetap melakukan perjanjian ilegal, akan ditindak dengan hukuman setinggi-tingginya satu tahun penjara atau denda sepuluh ribu rupiah.  Ordonansi kopra dibuat dengan pengecualian. Jual beli atau gadai menggadaikan kopra tetap dapat dilakukan oleh masyarakat pribumi. Beberapa lembaga yang mendapat pengecualian seperti Algemeene Volkscredietbank serta badan-badan di bawahnya. Termasuk perkumpulan koperasi yang diakui oleh badan hukum menurut Staatsblad  1927 No. 91, seperti Volksbank Tonsea dan lembaga-lembaga pinjaman lain yang ditentukan oleh Residen Manado. Surat kabar Soeara Rakjat ,   28 Januari 1939 mewartakan, urgensi dibuatnya rancangan ordonansi kopra lantaran para pemilik kebun di Keresidenan Manado, khususnya Minahasa, tidak dapat menikmati hak-hak atas perniagaan kopra. Persoalan ini telah menjadi perhatian pemerintah sejak lama. Mulanya perjanjian kopra yang dibuat tanpa izin resmi meminta petani kopra menyerahkan kebun kelapa, baik beserta tanahnya maupun tidak, untuk selamanya atau sementara waktu, yang kelak menjadi tanggungan petani kepada saudagar. Petani juga diharuskan menggadaikan kopranya kepada para saudagar pada waktu lebih dari tiga bulan setelah perjanjian dibuat. Hal ini tentu memberatkan para petani.   Skema yang berlaku saat itu para saudagar kopra memberikan uang muka untuk mengikat para petani atau pemilik kebun kelapa. Bagi para saudagar, mulanya uang muka tersebut sebagai kepastian memperoleh kopra. Namun, uang muka tersebut justru menjadi utang bagi para pemilik kebun kelapa sehingga terpaksa menggadaikan tanahnya. Perjanjian ilegal sangat memberatkan kehidupan para petani. Terlebih saat harga kopra turun hingga 20%, pemilik kebun kelapa kian merugi. Dari kenyataan itulah semakin banyak saudagar yang berkuasa, sementara para petani atau pemilik kebun kelapa tidak berhak lagi atas kebunnya. Keadaan tersebut diperparah dengan situasi malaise dan tidak ada lagi uang muka kepada pemilik kebun kelapa  Pada akhir 1937 misalnya, para petani terpaksa menggunakan sebagian besar pendapatan penjualan kopra untuk membayar utang kepada saudagar. Penurunan harga kopra kian membuat petani terperosok. Bahkan tak jarang keadaan mereka tak tertolong meski harga kopra kembali naik. Guna memperbaiki keadaan itu, pemerintah berusaha melarang saudagar membuat perjanjian atau mempersulit petani dengan berbagai aturan, serta mendidik mereka. Tujuannya agar para petani tidak tergiur oleh janji manis para saudagar. Sehingga para petani dapat memperoleh keuntungan dari hasil usahanya. Pemerintah telah memberikan pendidikan maupun penerangan kepada petani atau pemilik kebun.Bahkan, sejak tahun 1923 pemerintah telah mendirikan Dinas Penerangan Perkebunan. Melalui lembaga tersebut para petani dapat memperoleh bimbingan guna mendapatkan hasil perkebunan sebagaimana mestinya.  Tak hanya itu, pemerintah juga memajukan organisasi rakyat dan memberikan kredit murah. Bantuan tersebut diberikan melalui kerja sama antara pemerintah dan lembaga yang mengaturperkoperasian serta Algemeene Volkscredietbank.*

  • Emilia Contessa Tinggalkan Panggung Selamanya

    KABAR duka mewarnai dunia musik Indonesia. Penyanyi kondang Emilia Contessa tutup usia pada hari Senin, 27 Januari 2025. Dia wafat dalam usia 67 tahun setelah menjalani perawatan medis di RSUD Blambangan, Banyuwangi. Sebelum meninggal dunia, Emilia diketahui memiliki riyawat penyakit diabetes. Sepanjang hidupnya, Emilia sangat mencintai dunia musik dan tarik suara. “Bagi saya tak mungkin ada pernyataan pisah dengan dunia musik dan tarik suara. Kalau pun usia tak memungkinkan saya bertahan sebagai vokalis, saya akan tetap menggeluti bidang musik dari sisi lain. Pokoknya semua aktivitas saya kelak pasti berhubungan dengan musik,” kata Emil ketika diwawancarai Bali Post, 10 Februari 1992. Dunia musik memang telah memberikan segalanya bagi Emilia Contessa yang lahir pada 27 September 1957 dengan nama asli Nur Indah Dewi Citra Sukmahati. Nama yang indah itu, menurut Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982, kemudian diubah menjadi Zahara Nurul Hazan atas kemauan kakeknya, orang Pakistan. Pada 1969, putri sulung Hasan Ali ini menyabet predikat juara umum kategori penyanyi pop ketika PON VII diselenggarakan di Surabaya. Ajang tersebut membuka jalan baginya menjadi penyanyi profesional. Nama Emilia Contessa pun melekat sebagai nama panggungnya usai menyelesaikan rekaman di Singapura pada 1970.

  • Lukisan Koleksi Istana Memakan Korban

    PAMERAN lukisan koleksi Istana di Galeri Nasional Jakarta (2-30 Agustus 2017) menampilkan 48 lukisan dari 41 pelukis. Salah satu lukisan yang dipajang adalah “Nyi Roro Kidul” karya Basoeki Abdullah (1915-2015). Sebelumnya, lukisan itu dipamerkan dalam peringatan seabad Basoeki Abdullah di Museum Nasional Jakarta pada 2015. Ada cerita di balik proses pembuatan lukisan Nyi Roro Kidul itu. “Saya melukis Nyi Roro Kidul karena saya memang merasa sering bertemu dengannya,” kata Basoeki seperti dikutip kritikus seni Agus Dermawan T. dalam biografi R. Basoeki Abdullah RA: Duta Seni Lukis Indonesia.

  • Hikayat Lukisan Gatotkaca

    BUNG KARNO dikenal sangat suka seni lukis dan dunia pewayangan. Tidak aneh, jika suatu hari di tahun 1950-an, dia pernah meminta Basoeki Abdullah, satu dari sekian pelukis kesayangannya, untuk membuatkan suatu karya lukisan bertemakan pewayangan. “Mengapa tidak melukis legenda keluarga Bima, prajurit besar dari keluarga Pandawa?” ujarnya kepada Basoeki Abdullah, seperti dikutip Agus Dermawan T. dalam Bukit-Bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu Sampai Kosmologi Seni Bung Karno.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page