top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Riwayat Empat Daan Mogot

    MAYOR Daan Mogot tak hanya membawa beberapa perwira dan puluhan taruna Akademi Militer Tangerang, tapi juga delapan serdadu Inggris (Sekutu) asal India. Mereka hendak menipu serdadu Jepang di bawah Kapten Abe di Lengkong, Tangerang. Penipuan itu nyaris sukses karena tentara Jepang mulai percaya kepada Daan Mogot dkk. Ada gelagat tentara Jepang akan menyerahkan senjatanya. Namun, letusan senjata entah dari mana, mengacaukan semuanya. Pertempuran pun pecah, Daan Mogot dan beberapa orang bersamanya gugur dalam Pertempuran Lengkong pada 25 Januari 1946. Elias Daniel Mogo alias Mayor Daan Mogot, kelahiran Manado, 28 Desember 1928, gugur di usia 18 tahun. Sejak 1943, Daan Mogot ikut Seinen Dojo  (pelatihan pemuda) di Tangerang bersama Supriyadi, Zulkifli Lubis, dan Kemal Idris. Dari Seinen Dojo , mereka masuk tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Bersama Kemal dan Lubis, menurut Kemal Idris dalam Bertarung dalam Revolusi , Daan Mogot ikut membantu melatih tentara sukarela di Bali. Daan Mogot adalah anak dari Nicolaas Fredrik Mogot alias Nico Mogot, seorang pegawai negeri dari Minahasa. Daan Mogot masih terhitung sepupu dari Alex Evert Kawilarang, bekas panglima Divisi Siliwangi dan salah satu pendiri Komando Pasukan Khusus (Kopassus). “Seorang pemuda, famili dari pihak ibu saya, muncul. Ia mengenakan peci hijau, menaiki sepeda motor. Saya masih mengenalnya. Tak banyak berubah ia. Itulah Daan Mogot,” kata Alex Kawilarang dalam Untuk Sang Merah Putih . Daan Mogot dan Alex Kawilarang berbagi kabar keluarga mereka. Ayah Alex baru setahun terbunuh di perairan Muko-muko, Bengkulu sekitar September 1944 ketika jadi tawanan Jepang. Ayah Daan Mogot juga baru saja dibunuh oleh pihak yang tak bertanggung jawab pada 1945.   Pada masa revolusi kemerdekaan (1945–1949), banyak orang Ambon dan Manado menjadi sasaran, hanya karena banyak yang bekerja kepada pemerintah Hindia Belanda. Bahkan mereka dicap setia kepada Belanda. Padahal orang Jawa juga banyak yang bekerja kepada Belanda. Meski begitu Daan Mogot tidak ragu untuk setia kepada Republik Indonesia. Begitu pula sepupunya, Alex Kawilarang. Ketika Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut terbentuk di Jawa Timur, seseorang bernama Daan Mogot terlibat di dalamnya. Buku KRIS 45 Berjuang Membela Negara  menyebut Daan Mogot yang ini lalu gugur di Sidoarjo, Jawa Timur. Tidak banyak catatan tentang Daan Mogot yang gugur di Sidoarjo itu. Hal ini tidak aneh karena Mogot adalah sebuah marga Minahasa, Sulawesi Utara. Banyak orang bernama Daniel dari sana yang biasa disingkat Daan. Di dalam laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) masih ada Daan Mogot lain yang pernah menjadi koordinator di KRIS. Beberapa tahun kemudian, dalam pasukan SWK-103A di Godean, Yogyakarta, di bawah Mayor Herman Nicolaas Ventje Sumual terdapat seorang perwira intelijen bernama Daan Mogot. Begitu yang diingat Ventje Sumual dalam biografinya,  Menatap Hanya ke Depan . Seperti Ventje Sumual, ia juga pernah aktif di KRIS. Banyak orang Minahasa pendukung Republik bergabung dalam laskar KRIS. Daan Mogot yang terakhir adalah Daan Eduard Mogot. Menurut sejarawan Minahasa, Bode Talumewo, Daan Eduard Mogot berdinas di TNI hingga berpangkat mayor. Ia pernah menjadi komandan Komando Militer Kota (KMK) Manado sebelum menjadi pengusaha. Daan Eduard Mogot terseret arus pergolakan daerah dalam gerakan Permesta. Ia yang mengajak Kolonel Joop Warouw, Atase Militer Republik Indonesia di Beijing, ikut serta dalam Permesta. Sejak muda, Daan Eduard Mogot telah berhubungan dengan luar negeri. Apalagi ia seorang pengusaha. Menurut Bode, ia menikah dengan putri seorang jenderal Taiwan. Ventje Sumual menyebut Daan Eduard Mogot dan Jerry Sumendap berperan dalam usaha mendamaikan Indonesia dan Malaysia yang terlibat konfrontasi.*

  • Kisah Tragis Seorang Komandan APRA

    JAKARTA 1953. Seorang perempuan bule berparas manis terlihat kebingungan di Kantor Jawatan Imigrasi. Dia tengah mencari informasi tentang seorang lelaki Belanda bernama J.H. van der Meulen yang tak lain adalah suaminya. Namun tak seorang pun petugas imigrasi yang tahu nama tersebut. Seorang petugas imigrasi kemudian berinsiatif membawa perempuan muda bernama Nancy Bruning itu kepada J.C. Princen, yang saat itu baru saja pindah ke jawatan imigrasi. Princen merupakan pejabat imigrasi Indonesia berkebangsaan Belanda yang dulu pernah berdinas di Divisi Siliwangi dan terlibat dalam berbagai operasi militer.

  • Jabatan Panglima APRA untuk Sultan Hamid II

    RAKYAT Indonesia pernah menerima teror mengerikan pasukan Belanda antara 1946-1950. Rakyat di sejumlah daerah, khususnya Sulawesi Selatan, menjadi sasaran pembunuhan massif militer Belanda. Aksi kejam itu dipimpin oleh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling. Pemerintah Belanda memberi hak khusus dalam setiap aksi Westerling tersebut. Itu karena tindakannya didasarkan atas cita-cita Belanda menguasai kembali Republik Indonesia. Dukungan untuk Westerling rupanya datang juga dari seorang Republik yang ingin mempertahankan kekuasan negerinya. Adalah Sultan Hamid II atau Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie, sultan ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak. Hamid cukup dekat dengan Westerling karena kerap bertemu di sebuah kafe (yang terletak di Jakarta) sepanjang Januari 1948.

  • Serdadu Ambon Gelisah di Bandung

    BANDUNG bukan kota yang asing bagi Elisa Sahertian. Nyong Ambon yang sudah punya pengalaman bekerja di pemerintahan ini lama menetap di kota berjuluk “Kota Kembang” itu. Hal itu dimungkinkan karena Bandung adalah kota terbuka bagi banyak etnis sejak dulu. “Pada bulan Mei 1948 saya mengundurkan diri dari RVD (Rijksvoorlichtingsdienst, red.). Saya kemudian menghabiskan beberapa bulan di Sorong, dan kemudian kembali ke Bandung untuk belajar elektro dan radio,” aku Elisa Sahertian, dikutip koran De Preanger tanggal 3 Februari 1956.

  • Mereka yang Diincar APRA

    SERSAN Mayor Soedarja masih ingat rumor yang beredar pada awal Januari 1950. Tersebutlah orang-orang Belanda yang tak puas dengan kesepakatan Konfrensi Meja Bundar (KMB). Mereka bermaksud membentuk gerakan tersendiri guna memanjangkan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia. “Kelompok itu bernama APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh eks komandan Korps Pasukan Khusus (KST), Kapten Raymond Westerling,” ujar eks anggota intelijen Divisi Siliwangi itu.

  • Amuk Ratu Adil di Oude Hospitaalweg

    KABUT pagi masih tertinggal di Bandung, ketika sekelompok serdadu bersenjata lengkap memenuhi jalanan utama. Mereka yang datang dari arah Cimahi itu lantas menyebar dalam formasi tempur. Sebagian terlihat berlindung di balik pohon-pohon besar di pinggir jalan. Sebagian yang lain mengokang senjatanya di sela tembok-tembok gedung. Satya Graha masih ingat dia baru saja keluar dari rumah saat seorang prajurit TNI berpangkat kopral ditembak mati di depan Hotel Preanger. Kendati di sekitarnya ada beberapa polisi, namun mereka sama sekali tak bertindak. “Malah saya lihat mereka tertawa-tawa bersama serdadu-serdadu pembunuh itu,”kenang Satya, eks wartawan Soeloeh Indonesia . Sementara itu di Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Lembong), para serdadu yang belakangan diketahui berasal dari Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) itu melakukan gerakan mengepung Markas Besar Divisi Siliwangi. Jarum jam menunjukan angka 9, kala mereka memulai tembakan pembuka dari arah parit-parit seberang jalan yang langsung berhadapan dengan markas Siliwangi. “Kami jadi gugup dan berlarian ke sana ke mari di ruangan tamu,” ujar Letnan Kolonel R.Soetoko, Wakil Kepala Staf Divisi Siliwangi  dalam buku Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 (otobigrafi Kolonel Purnawirawan Mohamad Rivai). Namun hadirnya para perwira yang sudah makan asam garam pertempuran (seperti Letnan Kolonel Abimanyu dan Mayor Mashudi) di ruangan itu menjadikan situasi cepat terkendali. Dengan cara berpindah-pindah tempat, mereka bisa melakukan perlawanan melalui jendela-jendela yang ada di gedung tersebut. “Para pengawal berhasil opstelling (membangun kubu) sekitar markas sambil melepaskan tembakan-tembakan gencar ke arah gerombolan APRA,”kenang Soetoko. Dengan sepucuk Sten di tangan, Soetoko sendiri menembak terus menerus secara mengitar. Hamburan peluru dari senjatanya membuat para penyerbu lintang pukang dan tak berani mengangkat kepala mereka di dalam parit itu. Kendati sempat diimbangi, amuk para Ratu Adil itu akhirnya tak terbendung. Sebagai perwira yang jabatannya paling tinggi, Soetoko lantas memerintahkan para prajurit dan perwira yang sudah kehabisan peluru untuk meloloskan diri dengan cara melompati tembok belakang markas. Kehabisan peluru, Soetoko lantas menggunakan sepucuk pistol untuk melakukan perlawanan. Dalam posisi ditembaki, tetiba dilihatnya Mayor Mashudi masuk ke ruangan dengan membawa hower Sten penuh berisi peluru. Tanpa banyak basa-basi, dia meminta hower tersebut dan memasangnya di Sten yang masih tergeletak di dekatnya. Perlawanan pun berlangsung kembali. Sadar jumlah mereka yang hanya berlimabelas tidak seimbang dengan ratusan para penyerbu, Soetoko memutuskan untuk meninggalkan markas. Dalam pertempuran itu, telah gugur seorang prajurit Siliwangi sedangkan 14 lainnya berhasil lolos. Begitu tak terdengar lagi tembakan dari kubu Siliwangi, pasukan APRA yang terdiri dari unit Korps Pasukan Khusus (KST), Polisi Belanda, KNIL dan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KL) langsung merangsek. Secara brutal, anak buah Kapten R.P.P. Westerling itu menembaki setiap ruangan. “Mereka juga merampas uang yang ada, yakni gaji para prajurit TNI dari Divisi Siliwangi yang pertama kali akan dibayarkan,” tulis A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid II: Kenangan Masa Gerilya. Malang bagi Kepala Pendidikan Angkatan Darat Letnan Kolonel A.G. Lembong dan ajudannya Letnan Satu Leo Kailola. Mereka yang tidak mengetahui sama sekali Markas Besar Divisi Siliwangi sudah dikuasai musuh tanpa curiga memasuki halaman gedung tersebut. Namun sebelum memasuki halaman markas, para prajurit APRA langsung memberondong mobil yang ditumpangi keduanya dengan ratusan peluru. Keduanya langsung tewas seketika dalam kondisi luka sangat parah. Bahkan tidak puas hanya dengan menghantam Lembong dan Kailola dengan siraman peluru, para prajurit APRA secara keji merusak wajah keduanya dengan klewang dan bayonet.*

  • Marcel Dassault dan Jet Tempur Kebanggaan Prancis

    MUSIM semi 6 April 1945, sejumlah pasukan SS (Schutzstaffel/Paramiliter Nazi Jerman) penjaga kamp konsentrasi Buchenwald dekat kota Weimar, Jerman makin sibuk. Upaya evakuasi makin kacau seiring kian mendekatnya pasukan Amerika. Di hari itu, sekitar 46 nama masuk daftar evakuasi. “Daftar 46 tahanan diperintahkan untuk melapor ke gerbang depan pada 6 April 1945. Perancang pesawat Marcel Bloch satu di antaranya. Tetapi dia jadi satu-satunya tahanan yang diperintahkan kembali oleh SS (ke barak tahanan),” ungkap Harry Stein dalam Buchenwald Concentration Camp, 1937-1945: A Guide to the Permanent Historical Exhibition.

  • Ashin Jinarakkhita Membangkitkan Agama Buddha di Indonesia

    “GALILAH yang lama, sesuaikan dengan zaman dan lingkungan.” Demikianlah kata-kata mutiara yang terlontar dari mulut Ashin Jinarakkhita, biksu yang membangkitkan agama Buddha yang inklusif di Indonesia modern. Ashin dianggap sebagai biksu pertama Indonesia setelah 500 tahun keruntuhan agama Buddha pada era Majapahit. Sejak perkembangan Islam di Nusantara begitu pesat, lambat laun agama Hndu dan Buddha tersisih. Sebagian yang bertahan, mundur ke daerah pegunungan seperti ke Tengger, Bromo dan juga di Pulau Bali. Sepanjang era kolonialisme, agama Buddha lebih dikenal sebagai agama orang Tionghoa bersama Konghucu dan Taoisme. Pasca-Kemerdekaan, agama Buddha perlahan kembali memperlihatkan eksistensinya sejak kemunculan Ashin Jinarakkhita. Jinarakkhita memulainya dengan ceramah-ceramah Dharma ke berbagai daerah serta membuat agama Buddha lebih terbuka bagi semua etnis.

  • Biksu Pertama di Indonesia

    Biksu Ashin Jinarakkhita, biksu pertama Indonesia setelah 500 tahun keruntuhan agama Buddha pada era Majapahit dan ditahbiskan pada 1953.

  • Meledakkan Borobudur

    ANCAMAN peledakan Borobudur beredar di media sosial pada 15 Agustus 2014. Menurut laman The Jakarta Post , ancaman berasal dari akun Facebook bernama “We Are Islamic State”. Polisi menanggapi serius ancaman itu untuk menghindari peledakan Borobudur jilid II. Sebab, sekelompok orang pernah meledakkan Borobudur pada 21 Januari 1985. Jarum jam menunjuk pukul 01.20. Dua satpam Borobudur bergerak meninggalkan pos I untuk berpatroli rutin. Baru sepuluh menit berjalan, mereka mendengar suara keras. Sebuah ledakan! Keduanya berlarian. Pada langkah kesepuluh, mereka mendengar ledakan lagi. Dan lagi. “Ledakan terakhir pukul 03.40 adalah ledakan yang ke-9,” tulis Naning Indrati dalam “Sembilan Ledakan di Borobudur,” termuat di Rangkaian Peristiwa 1985 . Petugas Garnisun Magelang tiba pukul 04.30 dan lekas menyisir candi. Mereka melihat batu-batu candi berserakan. “Ledakan ternyata telah merusak 9 stupa berlubang: 3 yang berada di sisi timur batur pertama Arupadhatu , 2 lagi yang terdapat di batur kedua dan 4 lainnya di batur ketiga,” tulis Daoed Joesoef , mantan menteri pendidikan dan kebudayaan sekaligus tokoh pemugaran candi Borobudur, dalam Borobudur . Pagi pukul 09.00, masyarakat dan wartawan mulai berkumpul. Tiba-tiba kegemparan melanda lagi. Petugas menemukan dua bom aktif di lantai 8 dan 9 candi. Sersan Sugianto, ahli bom dari Yon Zipur IV Polda Jateng, berhasil mencegah bom meledak. Siang pukul 14.00, Pangdam VII Diponegoro Mayjen TNI Soegiarto menggelar konferensi pers. Dia berusaha menenangkan masyarakat, mengumumkan bahwa tak ada korban jiwa dan candi tak rusak berat. Tapi masyarakat tetap terkejut dan khawatir situs sakral bagi umat Buddha itu hancur. “ How come ?” tanya Daoed Joesoef. Dia marah dan malu bom bisa meledak di Borobudur. Indonesia seketika jadi sorotan internasional. “Ledakan yang menghancurkan itu pasti mencoreng muka Ibu Pertiwi yang beradab karena ternyata masih memiliki putra yang biadab,” tulis Daoed. Dia bilang sering menerima surat kaleng dan selebaran gelap. Isinya berupa makian, hujatan, dan kutukan; bahwa Daoed seorang kafir dan bertanggung jawab atas pembangunan berhala terbesar di tanah air. Spekulasi pelaku peledakan pun bermunculan. Pemerintah mengarahkan kecurigaan pada kelompok Islam radikal. Ketegangan antara pemerintah dan kelompok Islam meningkat sejak peristiwa Tanjung Priok September 1984 dan penolakan asas tunggal Pancasila. Kiai Haji Haman Djafar, pemimpin Pondok Pesantren Pabelan yang berlokasi 8 kilometer dari Borobudur, mencoba membedakan aksi peledakan dari ajaran Islam. “…Perbuatan itu tidak mewakili perbuatan sesuatu agama, tetapi perbuatan orang marah,” kata Haman, dikutip Naning Indrati. Dia juga mengajak semua pihak agar mawas diri dan saling tepa slira . Empat bulan setelah peledakan, polisi menangkap para pelaku. Antara lain Abdul Kadir bin Ali al-Habsyi dan Husein bin Ali al-Habsyi, dua bersaudara. Di pengadilan jaksa penuntut menuduh mereka meledakkan Borobudur sebagai balas dendam atas peristiwa Tanjung Priok 1984. Mereka menolak tuduhan jaksa, tapi pengadilan tetap memutuskan mereka bersalah. Abdul Kadir mendapat hukuman 20 tahun penjara, sedangkan Husein seumur hidup. Tapi Husein mendapatkan grasi dari pemerintah B.J. Habibie pada 23 Maret 1999. Peledakan Borobudur masih menyisakan misteri. Sebab, Mohammad Jawad, yang dituding Husein sebagai otak peledakan, sampai saat ini belum tertangkap.*

  • Ketika Sukarno Berdandan Perempuan

    PADA masa pembuangannya di Ende (1934–1938) dan Bengkulu (1939–1942), Sukarno tak hanya berdiam diri. Selain membaca buku tentunya, ia juga menulis naskah sandiwara. Hubungannya dengan sandiwara sudah terjalin sejak ia mondok di rumah H.O.S Tjokroaminoto , di Surabaya . Kala itu, Sukarno aktif dalam Jong Java yang sering mengadakan kegiatan sosial di kampung-kampung, sekolah, dan lokasi terdampak bencana alam. Untuk mengumpulkan uang demi menyokong kegiatan itu, Jong Java mengadakan pertunjukan sandiwara. Jong Java tidak banyak memiliki anggota perempuan. Sukarno yang tampan kelihatan seperti anak gadis. Maka, ia pun memerankan perempuan dalam banyak pertunjukan sandiwara. “Dan potonganku lebih banyak menyerupai seorang perawan cantik, kalau Jong Java mengadakan pertunjukan diserahi memainkan peran wanita. Aku betul-betul membedaki pipi dan memerahkan bibirku,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Untuk mendukung peran perempuannya itu, Sukarno menggunakan dua buah roti yang dimasukan ke dalam bajunya. Alhasil, jadilah payudara buatan yang membuat tubuhnya yang langsing semakin mirip perempuan. “Untunglah dalam peranku itu tidak termasuk adegan mencium laki-laki. Selesai pertunjukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu saja karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam baju dan kumakan,” kenangnya. Harsono Tjokroaminoto, anak H.O.S Tjokroaminoto juga terkenang dengan peran perempuan yang dilakoni Sukarno. Dalam Menelusuri Jejak Ayahku, Harsono menyebut bahwa Sukarno juga sering bermain sandiwara dalam acara-acara ulang tahun. Dari ulang tahun perkumpulan-perkumpulan di sekolah hingga organisasi. “Peran yang sangat digemari oleh beliau, anehnya bukan peran laki-laki melainkan justru peran sebagai wanita. Dengan badan yang tinggi, langsing orang tidak akan mengira kalau yang berperan itu seorang pria. Tetapi karena mendengar suaranya maka barulah penonton akan mengetahui bahwa yang berperan itu seorang pria sejati,” kata Harsono. Harsono sering kali dimintai bantuan oleh Sukarno untuk mencari roti dan rambut palsu. Saat itu susah sekali mencari rambut palsu karena termasuk barang langka. Yang ada hanyalah rambut palsu yang dirangkai dari benang. “Zaman dulu rambut palsu dibikin dari benang besar yang namanya suyet. Selain rambut palsu saya juga harus mencari dua buah roti karambol yaitu roti bulat yang berbentuk payudara wanita. Zaman sekarang roti karambol juga ada tetapi sekarang dinamakan roti manis, tanpa campuran kismis ataupun coklat. Dua buah roti karambol ini sangat dibutuhkan untuk dipasang pada dada beliau,” sebut Harsono. Kenangan Harsono itu membuatnya heran ketika Sukarno telah menjadi presiden. Kegemaran berperan sebagai wanita itu, menurutnya sangat berbanding terbalik dengan sosok Sukarno yang gagah dan disukai banyak perempuan ketika menjadi presiden. “ …sebab kalau dulu Bung Karno dalam masa remajanya dalam bermain sandiwara selalu ingin menjelma sebagai wanita, tetapi kemudian apalagi sesudah menjadi presiden beliau justru menjelma menjadi seorang perkasa seperti yang dikemukakan ibu-ibu, Bung Karno ‘ He is a man and that is why we like him ’,” katanya. Dari Surabaya, Sukarno membawa pengalaman bermain sandiwara ke pembuangan. Setidaknya ia membuat 12 naskah di Ende dan empat naskah di Bengkulu. Namun, dari semua naskah itu, tidak ada aktor perempuan yang dilibatkan. Peran perempuan dimainkan oleh laki-laki. Taufik Rahzen dalam diskusi bertajuk “ Drama Bung Karno ” di Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa, 30 Juni 2020 menyebut hal itu berasal dari tradisi ludruk yang bisanya hanya laki-laki yang bermain. “Kenapa perempuan tidak main dalam tonil-tonil Bung Karno itu mengikuti tradisi ludruk sebenarnya. Ludruk di Surabaya, kalau anda tahu, hanya laki yang main. Dan kalau perempuan, ya dimainkan oleh laki-laki,” kata Taufik. Sementara itu, Sukarno menyebut bahwa perkumpulan sandiwara di Ende hanya beranggotakan laki-laki karena para perempuan takut dituduh terlalu berani. Meski demikian, peran perempuan dalam sandiwara-sandiwara Sukarno, baik di Ende maupun Bengkulu, bukan berarti tidak ada. Menurut Taufik, perempuan pertama yang berjasa besar adalah Inggit Garnasih . Inggit Garnasih berhasil membuat gagasan dan ide Sukarno bisa tertuang dalam sandiwara. Periode ini disebut Taufik sebagai periode “Negara Teater”. Di mana Sukarno berada dalam dunia ide dan Inggit yang membantu menyalurkan ide-ide itu. “Inggitlah yang memungkinkan memproduksi seluruhnya. Memungkinkan membuat tonil Kelimutu, memungkinkan membuat tonil Monte Carlo di Bengkulu,” kata Taufik. Periode “Negara Teater” kemudian berubah menjadi “Teater Negara” setelah Sukarno bertemu Fatmawati . Dari dunia ide, Sukarno masuk ke dunia realitas pada periode ini berkat Fatmawati . Senada dengan Taufik, penggiat teater Faiza Mardzoeki juga menyebut bahwa Inggit memang memiliki peranan besar bahkan hingga hal-hal detil dalam sandiwara. “Peran Inggit itu harus ditulis lagi. Bahkan saya juga membaca, Inggit selalu juga melakukan penataan make up untuk terutama aktor (yang berperan) perempuan,” kata Faiza. Taufik menambahkan, meskipun tidak tampil di atas panggung, Sukarno justru menempatkan nilai-nilai yang memperjuangkan perempuan dalam naskah-naskahnya. “Peranan perempuan di dalam Sukarno itu besar, bukan hanya besar tapi amat besar sebenarnya. Dan seluruh dari karya-karya dia itu adalah karya yang mengidolakan (perempuan). Tanpa pemain (perempuan), tapi sebenarnya nilai-nilai dasar perempuan itu yang diperjuangkan atau yang muncul dalam karya-karya Sukarno,” kata Taufik.*

  • A Historical Pilgrimage to Petamburan, Jakarta (2)

    Moving to the back of Petamburan Public Cemetery, we find one of the more magnificent graves. Although not as grand as Oen Giok Khouw's mausoleum, this grave is completely covered in marble. The gravestone is also large, providing a lot of information about the person buried there. Unfortunately, the glass frame holding the photo in the upper right corner of the gravestone is cracked, making the portrait unclear. "Here lies Dr. J.K. Panggabean. Age: 84 years old. Born: August 21, 1898 in Loboe Hole Tarutung. Died May 17, 1982 in Jakarta," reads the inscription on the tombstone. The same tombstone also bears J.K. Panggabean's titles and positions. They are listed as follows: Title of Sutan Mahopung Ompu Raja Pasang Batu II (a traditional title); Dr. Honoris Causa; MPRS (Provisional People's Consultative Assembly) in the Republic of Indonesia 1960-1968; Representative of HKPB (Batak Protestant Christian Church); GR. (teacher) Huria Menteng Lama HKBP; PT Piola Building. The last part of the tombstone describes J.K. Panggabean's extended family, which includes 16 children and in-laws, 60 grandchildren, and 12 great-grandchildren. The inscription on the gravestone closes with a verse from the Old Testament, Psalm 23:1.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page