Hasil pencarian
Cari di situs ini
10074 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Anak-anak Marhaen
WALUJO Martosugito masih ingat kejadian setengah abad lalu itu. Suatu siang saat dirinya dan Wakil Perdana Menteri Roeslan Abdulgani tengah berbincang dengan Presiden Sukarno di bagian belakang Istana Negara, seorang perwira tiba-tiba datang menghadap. Ia melaporkan bahwa Istana Negara sudah dikepung oleh para demonstran dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). “Dilapori itu, Bung Karno sama sekali tidak panik. Ia malah bilang supaya dinamika anak-anak muda jangan dimatikan,” ujar lelaki kelahiran Klaten 80 tahun lalu tersebut.
- Mengenang Amelia Earhart yang Mampir di Bandung
GRAND Hotel Preanger, Bandoeng. Begitu keterangan yang tercetak di kop surat bertanggal 22 Juni 1937 dengan sisipan potret seorang perempuan pionir dirgantara berambut pendek mengenakan jaket kulit. Itulah potret Amelia Earhart si perempuan pilot pencari tantangan keliling dunia. Tapi surat yang dimaksud bukanlah surat dari tulisan tangan Earhart, melainkan navigator yang menemani Amelia berkeliling dunia, Frederick Joseph Noonan. Suratnya ditujukan untuk salah seorang sahabat perempuannya di Amerika Serikat (AS), Helen Day. “Helen tersayang…Aku memutuskan menulis surat ini sebelum pergi tidur. Kami tiba kemarin (di Bandung) dari Singapura dan kami perlu menyesuaikan beberapa instrumen kecil dan oleh karenanya kami memutuskan untuk tinggal sehari lagi. Aku punya beberapa teman di Palembang, Sumatra tapi saat aku tiba, ternyata mereka sudah pindah ke Batavia (kini Jakarta). Aku menelepon mereka dan mengatur waktu agar aku dan Amelia bisa mengunjungi mereka hari ini di Batavia,” begitu bunyi potongan surat Noonan kepada Day.
- Tak Akur dengan DPR, Gus Dur Lengser
SETELAH mencabut TAP MPRS Nomor 33/MPRS/1966 yang memberhentikan Sukarno dari jabatannya sebagai presiden, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kembali mencabut TAP MPR terkait pengakhiran kekuasaan eksekutif dua presiden lain, yakni Soeharto dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Hal itu diungkapkan Ketua MPR Bambang Soesatyo. “Menegaskan Ketetapan MPR Nomor II/MPR 2001, tentang pertanggungjawaban Presiden RI KH Abdurrahman Wahid saat ini kedudukan hukumnya tidak berlaku lagi,” kata Bambang, dikutip kompas.com, 25 September 2024.
- Sidik Jari untuk Orang yang Dicurigai
PADA abad ke-19, buruh sering berpindah-pindah pekerjaan. Maklum, karena bukan buruh terampil, mereka hanya mendapat kontrak singkat; sebagai besar buruh harian atau bulanan. Ini terjadi pada perusahaan milik pemerintah maupun swasta. Perluasan jaringan rel kereta api sejak 1870 memicu mobilitas buruh. Pengusaha menikmati melimpahnya buruh, namun mereka kesulitan dalam pengawasan. “Mereka khawatir tingginya mobilitas buruh menyulitkan kontrol terhadap buruh. Mengawasi buruh pribumi ‘yang tidak diinginkan’ menjadi perhatian utama perusahaan,” tulis John Ingleson dalam Buruh, Serikat, dan Politik: Indonesia Pada 1920an-1930an. Buruh yang tidak diinginkan tersebut antara lain buruh yang melakukan penggelapan di tempat kerja, memiliki catatan pidana, terdaftar sebagai anggota partai komunis, memiliki keterkaitan dengan serikat buruh, dan pernah memperkenalkan serikat buruh di tempat kerja atau melakukan pemogokan. Untuk mengawasi buruh-buruh diterapkanlah sistem sidik jari. Kartu identitas dengan sidik jari dan foto buruh dibuat untuk mempermudah pendataan.
- Layu Setelah Melaju
SABAN pagi, lurah Djoearta tak pernah absen menunggu lalu membaca Suluh Indonesia (Sulindo). Sebagai anggota fanatik PNI, dia tak mau melewatkan waktu untuk mengikuti perkembangan partai. “Saya ingat Sulindo selalu ditunggu-tunggu bapak saya, karena hanya dari koran itu ia bisa mendapatkan berita terbaru mengenai perkembangan politik di tanah air,” ujar Tresnawati (70), salah satu putri Djoearta, kepala desa Nagrak, Cianjur, era 1960-an. Sulindo, yang dikelola bagian Penerangan Propaganda (Penprop) PNI, terbit perdana pada 1 Oktober 1953, dengan empat halaman. Meski masih sederhana, partai mencetaknya 75.000 eksemplar. Distribusi dilakukan melalui dua cara: agen-agen suratkabar dan cabang-cabang partai. Penerbitan pertama ini langsung ludes, tetapi nyaris tanpa laba.
- Di Balik Nama Buah Kiwi
SETIAP negara di dunia umumnya memiliki julukan atau ikon yang menjadi ciri khas. Julukan yang disematkan dapat berkaitan dengan berbagai hal: letak geografis, bangunan bersajarah, hewan hingga tanaman yang tumbuh di negara itu. Sebagai contoh, Kepulauan Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah dan dilintasi oleh garis ekuator membuat negara ini dijuluki Zamrud Khatulistiwa. Sementara negara tetangga Indonesia, yakni Australia, dijuluki Negeri Kangguru karena hewan tersebut banyak ditemukan di sana. Kisah menarik muncul terkait dengan julukan Negeri Kiwi yang disematkan kepada Selandia Baru. Sebagian orang menganggap julukan ini berasal dari buah kecil berdaging hijau yang dikenal sebagai buah kiwi. Namun tak sedikit orang yang menganggap bahwa nama kiwi sesungguhnya berasal dari seekor burung berbulu yang tidak bisa terbang. Hewan endemik yang menjadi ikon negara Selandia Baru itu bernama burung kiwi.
- Merawat Semangat Oposan
KABAR pertemuan Arnold Manonutu dengan Semaoen di kota Amsterdam, Belanda, tercium intelijen Belanda. Dia pun mulai dimata-matai. Bahkan, pemerintah Hindia Belanda melarang orangtuanya mengirim uang bulanan. Merasa tak nyaman, Arnold pulang ke tanah air. Tak berselang lama tinggal di Batavia, Arnold mendapat surat dari orangtuanya di Manado bahwa dia dicalonkan sebagai sekretaris di Minahasa Raad atau Dewan Minahasa, menggantikan G.S.S.J. Ratulangi. Namun, Arnold ditolak Residen Manado, karena dituduh pernah bekerjasama dengan Semaoen yang komunis.
- Secuplik Kisah Walikota Bandung yang Terlibat G30S
TIDAK hanya semata sebagai ruang terbuka hijau nan asri, Taman Sejarah Bandung juga menyajikan wahana untuk merekam cerita-cerita edukatif. Taman yang berhimpitan dengan sisi selatan Balai Kota Bandung itu turut menghadirkan sejumlah ilustrasi potret para walikota Bandung dari masa ke masa, tak terkecuali sosok kontroversial Kolonel R. Didi Djukardi Sastradiwirja. Sebagaimana yang ditampilkan di barisan ilustrasi potret beserta keterangan masa pemerintahannya, Didi Djukardi jadi walikota dengan masa jabatan tersingkat setelah Sjamsuridjal yang hanya menjabat 1 tahun 120 hari (1 November-1 Maret 1947). Adapun Djukardi hanya menjabat selama 2 tahun.
- Saat Baret Merah Dilatih Pasukan Katak
SEORANG perwira Angkatan Laut (AL) berpangkat mayor datang menghadap Kolonel Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) Moeng Parahadimulyo pada awal 1962. Urusannya terkait pelatihan pasukan khusus oleh pasukan khusus lainnya, dalam hal ini RPKAD dan Kopaska. Mayor AL itu bertanggungjawab atas pelatihan bawah air dan peledakan ala Underwater Demolition Team (UDT) Navy SEAL. Waktu itu musim hujan, laut bergelombang dan lebih dingin dari biasanya. Urip Santoso, nama mayor AL itu, berharap agar peserta latihan mendapatkan extra voeding alias makanan tambahan.
- Bung Karno dan Jenderal S. Parman Penggila Wayang
PRESIDEN Sukarno gemar sekali nonton wayang. Selama menjabat presiden, Bung Karno menggelar pertunjukan nonton wayang secara berkala di Istana. Dalang-dalang ternama diundangnya untuk melakonkan cerita-cerita epos Mahabharata. Bila tiba harinya, maka pertunjukan bisa berlangsung semalam suntuk. Kalau mau berangkat nonton wayang dari Istana Merdeka ke Istana Negara, menurut Mangil Martowidjojo, ajudan pribadi Presiden Sukarno, Bung Karno selalu diantar Kepala Rumah Tangga Istana, Mayjen Soehardjo Hardjowardojo, ajudan, serta para pengawal pribadi.
- Cara Mulus Mendulang Fulus
ALI Sastroamidjojo, ketua umum PNI, menyebarkan surat bernomor 1079/ PEG/024/’64 yang ditujukan kepada setiap kader PNI. Isinya, perintah untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan gedung PNI/Front Marhaenis. Surat tersebut tertanggal 13 November 1964. PNI ingin membangun gedung lima lantai di Jalan Salemba Raya No. 73. Pembangunan diharapkan selesai dalam dua tahun. Biaya yang dibutuhkan amat besar, sekitar setengah miliar rupiah. Untuk itulah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PNI berupaya melakukan penggalangan dana.
- Sarung Tinju Muhammad Ali Punya Cerita
SEBUAH sarung tinju merah lusuh yang pernah dikenakan Muhammad Ali pada 1963 masuk Rumah Lelang Stuart Bull Auctions. Walau hanya sebelah, diyakini memorabilia penting petinju legendaris bernama lahir Cassius Marcellus Clay Jr. itu bakal laku puluhan miliar rupiah. “Kami meyakini itu sarung tinju Cassius Clay paling penting yang pernah dipakainya. Setahun kemudian ia mengubah namanya jadi Muhammad Ali, jadi jika bukan karena sarung tinju ini mungkin kita takkan pernah mendengar tentang dia,” klaim Stuart Bull, direktur sekaligus pemilik rumah lelang itu, dikutip BBC, Senin (30/9/2024).





















