top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kiprah Tionghoa dalam Tinju dan Wushu

    WAJAH lebam dan berdarah tak mengendorkan semangatnya. Sempat dua kali terjatuh, Chris John akhirnya berhasil mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu usai mengalahkan petinju Thailand Chonlatarn Piriyapinyo pada November 2012 di Singapura.

  • Menuturkan Sejarah Jakarta Lewat Furnitur

    SEBUAH benda tak hanya memiliki nilai fungsional atau kegunaan tetapi juga mengandung banyak kisah, terlebih bila benda tersebut telah dibuat sejak ratusan tahun silam. Hal inilah yang hendak dikesplorasi dalam pameran temporer bertajuk “Furnitur Bertutur” yang diselenggarakan di Museum Sejarah Jakarta atau dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah.

  • Aidit dan Njoto Mengarak Jenazah Stalin

    D.N. Aidit dan Njoto belum genap berusia 30 tahun sewaktu keduanya mengambil alih pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bersama Lukman, mereka kerap dijuluki triumvirat atau tiga serangkai pimpinan PKI. Putusan pengangkat mereka tertuang dalam Sidang Pleno Central Comite (CC) PKI 1953. Aidit diangkat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKI, Lukman Wakil Sekjen I, dan Njoto Wakil Sekjen II. Dari ketiganya, Njotolah yang paling muda. Usianya baru 28 tahun saat itu.

  • Enam Momen Pemain Jadi Kiper Dadakan

    STADION Madejski (kini Select Car Leasing Stadium) di kota Reading, Inggris malam (14 Oktober 2006) itu jadi venue laga Premier League musim 2006/2007 antara tuan rumah Reading FC kontra Chelsea. Tetapi ketika laga baru berjalan lima menit, sekira 24 ribu penonton terhenyak gegara insiden horor lutut kanan pemain tuan rumah, Stephen Hunt, menghantam kepala kiper tim tamu, Petr Čech.

  • Pencabutan Artikel dan Permohonan Maaf

    Setelah melakukan mekanisme yang diperlukan, redaksi memutuskan mencabut artikel berjudul “Kisah Pengorbanan Seorang Babu” karya Dea Amalia Fauzia yang dimuat di laman historia.id pada 19 Juli 2023. Pencabutan ini didasari atas laporan dari Claire Ridha Budiana melalui email redaksi dan sosial media terkait dugaan plagiarisme pada artikel tersebut. Dalam suratnya, Claire Ridha Budiana menyatakan mulanya senang bahwa skripsinya menjadi acuan dalam artikel tersebut,” itu berarti dialektika dalam isu tersebut tetap bergulir dan hidup.” Skripsi itu berjudul “Kedudukan Pekerja Rumah Tangga Perempuan (Babu) dalam Kehidupan Orang Eropa di Hindia Belanda 1860-1942”, di Universitas Padjajaran, disahkan tahun 2022. Namun setelah Claire Ridha Budiana membaca isi artikel tersebut, ternyata tulisan tersebut menyalin sub-bab skripsinya dan hanya mengalami penyuntingan yang minim. “Bukan sekadar dua kalimat yang ia kutip sebagai tulisan saya. Melainkan seluruh isinya adalah kutipan dari skripsi saya,” tulisnya.  Selain pencabutan artikel tersebut, redaksi juga meminta maaf kepada Claire Ridha Budiana dan publik atas kekeliruan ini. Pada saat hampir bersamaan, Dea Amalia Fauzia mengirimkan beberapa surat melalui email redaksi yang menyatakan penyesalan atas kesalahanan yang dilakukannya sekaligus mengajukan permohonan maaf dan pencabutan naskah tersebut. Dea juga melampirkan beberapa screenshot halaman skripsi Claire Ridha Budiana. Dea memahami bahwa perbuatannya tidak sesuai dengan standar etika penulisan dan menyesal telah melanggar hak penulis asli. “Saya menyadari sepenuhnya kesalahan yang telah saya lakukan, dan saya ingin mengajukan permintaan maaf secara terbuka kepada pihak Historia dan Ridha Hamidah Budiana sebagai penulis yang dirugikan,” tulis Dea Amalia Fauzia. Dea juga menyusun surat pernyataan terbuka dan membagikannya melalui media sosial agar permintaan maaf saya dapat diketahui secara luas dan transparan. Berikut adalah tautan ke surat pernyataan tersebut: https://x.com/deyaunnie/status/1845696608966787072 https://vt.tiktok.com/ZS2wwBufK/ Plagiarisme jelas perilaku yang tidak dibenarkan. Sebagai pembelajaran bagi Dea Amalia Fauzia, redaksi memutuskan untuk memasukkan nama yang bersangkutan dalam daftar hitam ( blacklist ) kontributor historia.ID. Redaksi menghaturkan apresiasi dan terima kasih kepada Claire Ridha Budiana atas masukan maupun koreksi yang diberikan. Ini menjadi pembelajaran bagi redaksi agar lebih selektif, ketat, dan berhati-hati dalam pemuatan artikel. Prosedur jurnalisme, terutama disiplin verifikasi, akan tetap menjadi acuan dalam bekerja. *

  • Secuplik Sejarah Morotai yang Pernah Dipimpin Benny Laos

    SEBUAH kapal cepat terbakar di Pelabuhan Bobong, Taliabu, Maluku Utara, pada 12 Oktober 2024. Kejadian nahas tersebut menewaskan Benny Laos, yang merupakan calon gubernur Maluku Utara. Benny Laos sang pemilik Bela Group ini sebelumnya pernah menjadi bupati Kabupaten Pulau Morotai, juga di Maluku Utara.

  • Dewi Dja Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia di Amerika

    SOETIDJA, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Miss Dja atau Dewi Dja, tiba di Amerika melalui Eropa pada tahun 1939. Bersama sejumlah orang Indonesia yang tergabung dalam Devi Dja’s & Javanese Cultural Dancers, ia sebelumnya mengunjungi berbagai negara di Asia dan Eropa sebelum pecah Perang Dunia II.

  • Djamin Gintings Nyaris Dibunuh

    HARI pelantikan Djamin Gintings sebagai panglima Bukit Barisan harusnya jadi momen berbahagia. Namun sukacita sama sekali tak dirasakan sang istri, Likas Tarigan. Raut wajahnya tegang. Sakit meliputi sekujur tubuh calon nyonya panglima itu. “Intelijen melaporkan akan ada usaha sabotase dan percobaan pembunuhan terhadap suamiku. Ketakutan menyelimuti hatiku. Kami akan dibunuh, itulah suara hati yang merajaiku,” kenang Likas sebagaimana dituturkan kepada Hilda Unu Senduk dalam Perempuan Tegar dari Sibolangit.

  • Perdamaian Maludin Simbolon dan Djamin Gintings

    LETKOL Djamin Gintings gamang. Pemerintah pusat menunjuknya sebagai panglima Teritorium I/Sumatra Utara menggantikan Kolonel Simbolon. Gintings sebelumnya adalah kepala staf Teritorium I atau wakilnya Simbolon. Tapi, pemerintah belum percaya sepenuhnya pada Gintings. Andai kata Gintings gagal menjalankan peran barunya, pemerintah telah menyiapkan opsi perwira lain sebagai penggantinya, yaitu komandan Resimen II Letkol Abdul Wahab Makmur.

  • Djamin Gintings Sesepuh Golkar yang Tersisih

    MENJELANG Pemilihan Umum (Pemilu) 1971, Sumatra Utara (Sumut) sebagai daerah berpenduduk paling banyak di Sumatra menjadi ladang suara potensial bagi partai-partai peserta. Tiap-tiap partai mengerahkan juru kampanye terbaiknya ke daerah ini. Golongan Karya yang juga ikut pemilu untuk kali pertama mengutus salah satu pengurus pusatnya yang juga putra daerah: Mayor Jenderal Djamin Gintings. Kebetulan, di Angkatan Darat Gintings sedang “diparkir” alias tidak punya jabatan.

  • Djamin Gintings dan Selamat Ginting Bersitegang

    SEMASA ikut Perang Kemerdekaan , mendiang Mayor TNI (Purn.) Sumbat Sembiring merasakan dipimpin oleh komandan-komandan berpengaruh di Sumatra Utara. Mulanya Sumbat bergabung dalam Laskar Napindo pimpinan Mayor Selamat Ginting. Usianya baru 15 tahun saat itu (kelahiran 1930), dan bertugas di kompi perusak.

  • Serba-serbi Nanas yang Menggemparkan Penduduk Eropa

    NANAS merupakan salah satu buah tropis yang digemari banyak orang. Daging buahnya yang berwarna kuning tak hanya dapat disantap secara langsung, tetapi juga bisa diolah menjadi selai atau dikombinasikan dengan berbagai bahan makanan lain untuk menjadi sebuah hidangan lezat. Tak hanya memiliki rasa yang manis dan segar, nanas juga mengandung banyak manfaat untuk kesehatan, seperti dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi gangguan pencernaan, menjaga kesehatan tulang dan mata, hingga mengurangi risiko kanker.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page