Hasil pencarian
Cari di situs ini
10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Misteri Sulap
HELMY KODHYAT mengangkat tangan, memastikan tak memegang apapun. Tangan kirinya mengepal, sementara tangan kanannya menarik sesuatu dari kepalan tangan kiri. Sebuah sapu tangan keluar! Dia memasukkannya kembali ke tangan kiri. Lalu kepalan tangan terbuka. Dan... sapu tangan menghilang!
- Menelusuri Perjalanan Mutiara
JURNALIS Stephen G. Bloom, yang menulis untuk beberapa harian di Amerika termasuk Los Angeles Times sekaligus dosen jurnalisme di University of Iowa, punya gairah dan keingintahuan terhadap mutiara yang telah memikat hati banyak orang selama bertahun-tahun. Dia terbawa kenangan masa kecilnya: seuntai kalung mutiara sederhana (dan satu-satunya) yang dikenakan ibunya setiap kali merayakan ulang tahun pernikahan.
- Meneguk Sejarah Kota Roma
SAYA tak pernah berpikir bagaimana Roma menunjukkan kekuatan dan spiritualitasnya melalui air yang mengalir di sejumlah air pancur. Hanya dengan melihat foto-foto di internet saya sudah tersedot oleh daya magisnya. Dan kini saya menginjakkan kaki di Roma, ibukota Italia.
- Mencitrakan Revolusi dengan Lengkap
MASIH pukul lima pagi. Beberapa orang dilanda kecemasan sekaligus antusiasme yang luar biasa. Ada desas-desus Bung Karno akan membacakan suatu proklamasi. Dan Jepang sudah mengendusnya.
- Genoa, Wajah Lain Italia
KERETA cepat antarkota seakan ingin bermain di tepi laut; begitu dekat. Dari balik jendela, saya melihat warna biru laut yang begitu jernih beradu dengan warna biru langit yang dipantulkannya. Saya tak bisa melepaskan pandangan ketika kereta terus bergerak sepanjang pesisir Laut Liguria, menyusuri apa yang dikenal oleh dunia sebagai Italian Riviera.
- Dua dari Tiga Haji Moskow
CORNELIS Clemens Wentoek dan Johannes Waworoentoe merupakan dua orang yang beruntung usai menjadi “pelaut”. Sebelumnya, Wentoek seorang petani dan Waworoentoe seorang montir di Keresidenan Manado. Dengan menjadi buruh laut, keduanya bisa mengarungi lautan dan mengunjungi tempat yang jauh dari daerah asalnya. Mereka mencapai Eropa pada 1924, lalu ke Moskow, Uni Soviet. Mereka pun belajar tentang komunisme.
- Dari Zoro sampai Komunis
MATTHEW Fox jarang berada di New York. Dia menghabiskan waktunya untuk menjalankan misi rahasia di tempat-tempat seperti New Delhi, Bangkok, dan Paris. Ketika pulang, dia tinggal sendirian di penthouse sembilan kamar yang didesain begitu indah. Dia masih bujangan.
- Bukan Aksi Film Hollywood
PADA 1947, atas permintaan Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Soemitro Djojohadikusumo berangkat ke Amerika Serikat untuk menyiapkan jalan agar sengketa Indonesia-Belanda masuk dalam agenda Dewan Keamanan PBB. Soemitro tak punya paspor, apalagi uang. Dia menembus blokade Belanda menuju Singapura dan berhasil meyakinkan Konsulat AS di sana untuk memberikan visa.
- Air Mata Duyung
KETIKA melintasi perairan Karibia menuju Rio del Oro pada 1493, Christopher Columbus menulis dalam jurnalnya: “... tampak tiga putri duyung yang muncul cukup tinggi di atas permukaan air. Namun mereka tak secantik dalam lukisan, walau mereka memiliki rupa manusia...,” seperti dikutip dari The Diary of Christopher Columbus, 9 Januari 1493. Catatan harian Columbus juga mencatat bahwa Sang Admiral melihat putri duyung ketika melintasi Semenanjung Manequeta di Guinea.
- Agar Samijaga Tetap Terjaga
DESEMBER 1972. Menteri Kesehatan Gerrit Agustinus Siwabessy mendapat undangan dari Komisi VIII DPR RI, yang membawahkan urusan sosial. Ini undangan rapat kerja rutin, yang bertujuan mendengar penjelasan pemerintah mengenai perkembangan kesehatan pada Pelita I.
- Jejak Pablo Neruda di Jakarta
HARI pertama Pablo Neruda di Batavia (sekarang Jakarta) tidak menyenangkan. Ketika mendatangi konsulat Chile dan memperkenalkan diri sebagai konsul yang baru, ia kena semprot. “Saya satu-satunya konsul di sini,” kata orang Belanda itu.
- Jurus Devaluasi dan Deregulasi Radius Prawiro
SUATU hari di bulan Maret 1966, Radius bersama ayahnya menonton siaran TVRI. Presiden Sukarno sedang mengumumkan nama-nama anggota Kabinet Dwikora III. Radius kaget ketika namanya disebut sebagai gubernur Bank Indonesia. “Saking kagetnya, seminggu saya tidak pergi ke mana-mana,” kata Radius, dikutip Dawam Rahardjo dalam Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa. Radius pantas terkejut. Dia tak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya. Dia juga tak melobi siapapun. Jabatan itu biasanya juga diduduki oleh senior yang sudah berpengalaman. Namun, pada akhirnya, dia tahu penunjukannya sebagai gubenur BI atas rekomendasi Sultan Hamengku Buwono IX, atasannya di Badan Pemeriksa Keuangan (Bepeka), yang kemudian jadi figur penting di awal Orde Baru. Radius tak mau berlama-lama menenangkan diri. Dia harus siap untuk menghadapi tugas berat ini di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Di awal menduduki jabatan itu, persoalan pokok yang harus diselesaikannya adalah mengembalikan independesi Bank Sentral dalam kebijaksanaan moneter. Pada akhir Desember 1966, Radius melakukan penyederhanaan direksi Bank Indonesia (BI). Langkah ini merupakan upaya memisahkan Bank Sentral dari Bank Negara Indonesia (BNI) unit-unit lain.





















