Hasil pencarian
Cari di situs ini
10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- T.B. Simatupang, Jenderal Jenius yang Religius
KETIKA Panglima Besar Jenderal Soedirman mangkat pada 29 Januari 1950, pucuk pimpinan TNI diembankan kepada wakilnya, Jenderal Mayor TNI Tahi Bonar Simatupang. Kala itu, Simatupang baru sehari menginjak usia ke-30. Sejak itulah, Sim –panggilan akrabnya– diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) yang membawahkan tiap matra.
- Perlawanan Perempuan Nigeria Terhadap Kebijakan Pajak
PEMERINTAH resmi mengumumkan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang mulai berlaku 1 Januari 2025. Keputusan ini menuai penolakan masyarakat. Warganet di sosial media menggaungkan tagar #TolakPPN12Persen. Penolakan juga dilakukan dengan unjuk rasa. Kendati pemerintah mengatakan PPN 12 persen diterapkan pada barang dan jasa mewah atau premium, namun kebijakan ini akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Di masa lalu, pajak yang memberatkan rakyat seringkali memicu perlawanan. Seperti perlawanan perempuan Nigeria di masa pendudukan Inggris. Menurut Daniel Olisa Iweze, dosen senior di Departemen Sejarah dan Studi Internasional di Universitas Benin, Nigeria, dalam “Women’s Protests against Colonial Taxation in the Eastern Provinces of Nigeria”, termuat di Histories of Tax Evasion, Avoidance and Resistance, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya protes perempuan di tahun 1929, salah satunya berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat lokal di masa itu.
- Tertipu Paranormal Palsu
DUA minggu sebelum Natal 1847, seorang pandai besi, John David Fox, bersama istri, Margaret, dan kedua putri bungsu mereka, Maggie dan Kate, pindah ke lingkungan pedesaan Hydesville, New York. Empat anak mereka, Leah, Elizabeth, Maria, dan David sudah dewasa dan berkeluarga.
- Poorwo Soedarmo Sebelum Jadi Bapak Gizi Indonesia
NASIB kadang membawa seseorang pada tujuan dengan cara berliku yang tak pernah terpikirkan. Hal itulah yang dialami Poorwo Soedarmo, dokter di Hindia Belanda yang kelak menjadi “Bapak Gizi Indonesia”. Lantaran tak bisa berbuat banyak untuk membantu masyarakat di Jakarta karena situasi Perang Kemerdekaan tak memungkinkan kaum “Kiblik” bergerak bebas, Poorwo melamar pada sebuah perusahaan pelayaran. Lamarannya diterima. Petualangannya pun dimulai. Poorwo merupakan dokter lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) alias Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Koran De Locomotief, 6 Desember 1927, memberitakan secara singkat kelulusannya. Setelah menjadi dokter di beberapa kota di Jawa pasa-kelulusannya, Poorwo dipekerjakan di perusahaan timah di Bangka, Banka Tin Winning. Dirinya lalu kuliah lagi di sekolah tinggi kedokteran Geeneskundig Hogeschool (GHS) Batavia (kini Jakarta) agar bisa disamakan ilmunya dengan dokter-dokter Belanda. Ketika Jepang baru datang, dia baru dianggap lulus dari GHS yang sudah berganti menjadi Ika Dai Gakku.
- Pasukan Kelima, Kombatan Batak dalam Pesindo
PEMUDA Sosialis Indonesia (Pesindo) merupakan salah satu laskar terkuat di Sumatra Timur pada masa awal Indonesia merdeka. Dalam Pesindo terdapat Pasukan Kelima yang punya reputasi menonjol di Kota Medan. Selain pejuang kemerdekaan, anggota-anggota Pasukan Kelima juga dikenal doyan merampok.
- Perupa Pita Maha yang Karyanya Disukai Sukarno
KEINDAHAN Pulau Dewata telah menarik banyak wisatawan asing. Para turis yang kebanyakan berasal dari Eropa tak hanya terpukau oleh panorama alam, tetapi juga terpesona dengan beragam karya para perupa Bali. Salah satu perupa yang menonjol dan dianggap tokoh penting dalam penciptaan gaya baru seni lukis Bali yang berkembang sejak akhir tahun 1920-an adalah Ida Bagus Made “Poleng”. Sejarawan Australia, Adrian Vickers, menulis dalam Balinese Art: Painting and Drawings of Bali 1800-2010, selain menjadi salah satu pelukis tahun 1930-an yang tetap berdedikasi pada seni, Ida Bagus Made “Poleng” merupakan pemimpin dalam mengembangkan gaya Ubud. Ia juga menyusun ulang adegan dalam kisah kuno mitologi Bali seperti Rajapala menjadi gambar pedesaan yang indah, dan mengembangkan erotisme yang halus, tetapi tetap memiliki kesan kontemporer.
- Situs Cagar Budaya di Banten Lama
Danau Tasikardi Dibangun pada masa Sultan Maulana Yusuf. Luasnya lima hektar. Berfungsi menampung air dari Sungai Cibanten untuk memenuhi kebutuhan irigasi maupun air bersih untuk keraton. Pulau Keputren di tengah danau digunakan sebagai tempat beristirahat keluarga sultan. Pangindelan Terdiri dari Pangindelan Abang yaitu penyaring pertama air dari Danau Tasikardi; Pangindelan Putih yaitu penyaring kedua air dari Danau Tasikardi; dan Pangindelan Emas yaitu penyaring terakhir sebelum air dari Danau Tasikardi dialirkan ke Benteng Surosowan. Kompleks Keraton Surosowan Mulai dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin dan dipakai sebagai tempat tinggal sekaligus pemerintahan para sultan Banten. Keraton mengalami kehancuran total pada 1832 dan tak pernah dibangun kembali. Masjid Kasunyataan Diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf. Ia menjadi tempat berkumpul para ulama lokal dan mancanegara. Kompleks Keraton Kaibon Dibangun sebagai kediaman Ratu Aisyah, yang menjadi Wali Sultan Muhammad Rafiuddin yang masih kecil. Pada 1832, Keraton Kaibon dihancurkan pemerintah Hindia Belanda. Pelabuhan Karangantu Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 membuat para pedagang muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat enggan singgah di Malaka dan beralih ke Pelabuhan Karangantu. Kompleks Masjid Agung Banten Terdiri dari bangunan utama, tiamah, menara, dan pemakaman. Bangunan utama masjid didirikan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin. Di halamannya, berdiri menara yag menurut tradisi setempat dirancang Hendrik Lucaszoon Cardeel, arsitek Belanda. Cardeel juga membuat tiamah, bangunan tambahan di selatan masjid sebagai tempat bermusyawarah dan diskusi. Diduga, dulunya digunakan sebagai sekolah Islam atau pesantren. Di sebelah utara masjid terdapat pemakaman sultan dan keturunannya. Masjid Pacinan Tinggi Masjid ini dibangun untuk orang Tionghoa muslim di Banten. Merupakan masjid pertama yang dibangun Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang dilanjutkan Sultan Maulana Hasanuddin, putranya yang menjadi sultan Banten pertama. Kerkhof Pemakaman bagi orang-orang Eropa yang semasa hidupnya pernah bekerja di Kantor Dagang di Banten. Benteng Speelwijk Dibangun tahun 1683-1686 oleh Belanda di atas reruntuhan sisi utara tembok keliling kota Banten Lama. Arsiteknya Hendrik Lucaszoon Cardeel. Keleteng Avalokitesvara Tradisi setempat menyebutkan kelenteng ini dibangun sekira tahun 1652. Menurut catatan Valentijn (1725), kelenteng yang lama berlokasi di selatan Masjid Pacinan Tinggi sebelum dipindahkan ke Kampung Pamarican (Desa Pabean sekarang) tahun 1774. Majalah Historia Nomor 33, Tahun III, 2016 Slide ke kanan: Danau Tasikardi, Pangindelan Emas, Kompleks Keraton Surosowan, Masjid Kasunyatan, Kompleks Keraton Kaibon, Pelabuhan Karangantu, Kompleks Masjid Agung Banten, Masjid Pacinan Tinggi, Kerkhof, Benteng Speelwijk, dan Kelenteng Avalokitesvara. (Nugroho Sejati/Historia.ID).
- Lika-liku Sejarah Pipa
KETIKA memutar keran air di rumah, bayangkanlah sejenak betapa besar peranan pipa. Anda tak lagi perlu mengangkut air dari sumber-sumber air ke rumah untuk beragam keperluan. Anda juga tak perlu ribet membuang kotoran ke tempat-tempat penampungan. Pabrik-pabrik tak lagi kesulitan mengalirkan cairan atau gas dari satu lokasi ke lokasi lain. Keberadaan pipa memudahkan pekerjaan manusia; lebih efektif dan efisien. Sejarah pipa dan sistem pemipaan merentang jauh ke belakang. Berikut lika-likunya. 4000-3000 SM Para arkeolog menemukan saluran pipa air yang terbuat dari tembaga di reruntuhan istana di Lembah Sungai Indus, India. Sementara di Yunani ditemukan jaringan pipa, terbuat dari tembikar, yang disalurkan ke kamar mandi. 2500 SM Penguasa Mesir membangun jaringan pipa tembaga yang bisa mengalirkan air ke kamar mandi di dalam piramida. Menurut kepercayaan kuno bangsa Mesir, makam seperti piramida harus dilengkapi kamar mandi sebagai pelengkap kehidupan orang yang meninggal di akhirat. Mesir juga membangun sistem irigasi dan sanitasi untuk kepentingan umum. 1500 SM Di Pulau Kreta, Yunani, berkembang jaringan pemipaan dari tembikar untuk mengalirkan air dan kotoran (sanitasi). Di lokasi berdirinya istana kuno di Knossos, pusat Pulau Kreta, para arkeolog menemukan sisa-sisa sistem suplai air minum dan sanitasi yang telah ditata dalam jaringan perpipaan. 500 SM Imperium Romawi membangun pipa air berbahan timbal untuk mengalirkan air panas dan dingin ke pemandian umum dan rumah-rumah pribadi. Juga dibangun selokan bawah tanah. 400 SM Orang-orang Tiongkok menggunakan pipa bambu, yang dibungkus lilin, untuk menerangi ibukota mereka, Peking. Tiongkok juga tercatat sebagai yang pertama menggunakan pipa untuk mengangkut hidrokarbon pertama sekira 2.500 tahun lalu. Orang Tiongkok menggunakan pipa bambu untuk mengirimkan gas alam dari sumur-sumur dangkal. 52 Roma memiliki terowongan, saluran air, dan pipa sepanjang sekira 220 mil untuk memasok sumur-sumur publik, bak mandi, dan rumah-rumah. Setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi pada 376, orang-orang Eropa kehilangan perhatian pada sanitasi dan kebersihan. 700-1500 Dianggap sebagai “zaman kegelapan dalam pemipaan dan kebersihan”. Timbul wabah penyakit. 1200-AN Pipa air berbahan kayu, umumnya dari pohon Elm, mulai digunakan di London, Inggris. Beberapa abad kemudian pipa sejenis juga dipasang di kota Hull, Plymouth, hingga Oxford. Pipa kayu Elm ini juga hampir digunakan semua perusahaan penyuplai air di London pada abad ke-16 hingga 18. 1455 Untuk kali pertama, pipa besi dipasang di Siegerland, Jerman. Para pengrajin Jerman telah belajar bagaimana membuat api cukup panas untuk melelehkan besi dan menuangkannya ke dalam coran untuk membuat pipa berlubang. 1596 Sir John Harington, anak baptis Ratu Elizabeth, mendesain toilet siram pertama yang disebut Ajax. 1664 Di Versailles, Prancis, Raja Louis XIV memerintahkan pembangunan sebuah jaringan pipa besi untuk membawa air sekitar 15 mil dari stasiun pemompaan ke air mancur istana dan daerah sekitarnya. 1755 Alexander Cummings dari Skotlandia menerima paten pertama untuk toilet siram. Pipa perangkap atau tikungan pembuangan mirip leher angsa atau berbentuk “S” mempertahankan air secara permanen dalam mangkuk sehingga mencegah gas dari kotoran masuk. Sistem pemipaan ini bertahan hingga sekarang dengan modifikasi pipa perangkap berbentuk “U” atau “J”. 1804 Philadelphia, Amerika Serikat, menjadi kota pertama yang beralih sepenuhnya ke pipa besi cor untuk membuat sistem saluran air baru mereka yang rumit. 1815 William Murdock menggunakan saluran pipa besi untuk mengaliri gas batu bara yang digunakan untuk penerangan di kota London. 1829 Tremont Hotel di Boston, Amerika Serikat, adalah hotel pertama di dunia yang memiliki kamar mandi di dalam ( indoor plumbing ). 1830 Air untuk kebutuhan publik kali pertama dipasang di bawah jalan-jalan New York. Banyaknya kebakaran menunjukkan perlunya pasokan dan ketersediaan air yang cukup bagi pemadam kebakaran. 1824 James Russel menemukan metode membuat pipa seamless dengan cara menyatukan kedua tepi dari plat besi tipis. Pipa besi dikenal memiliki kekuatan, dan mampu bertahan hingga 100 tahun. Dinding pipa yang tebal membuatnya sulit ditembus. 1835 PVC ( polyvinyl chloride ) ditemukan secara tidak sengaja oleh ahli kimia dan fisikawan Prancis Henri Victor Regnault tahun 1835 dan ahli kimia Jerman Eugen Baumann tahun 1872. Tapi mereka tak melanjutkan penemuan itu karena kesulitan menangani materialnya. PVC baru bisa diproduksi tahun 1926. 1843 Pipa besi mulai digunakan untuk mengurangi bahaya dari pengiriman gas yang mudah terbakar dan meledak. 1851 Toilet publik pertama diperkenalkan di Crystal Palace, Inggris. 1891 Thomas Crapper memperbarui toilet modern dengan mematenkan desain katup otomatisnya. 1895 Perusahaan Jamaica Pond Aquaduct di Boston, Amerika Serikat, membangun jaringan pipa air sepanjang lebih dari 15 mil. Semua pipa terbuat dari kayu Hemlock berdiameter 5 inci. Dalam perkembangan kota, pipa air tidak hanya digunakan untuk menyalurkan air minum ke rumah tangga dan kantor, tetapi juga sarana utama pemadaman kebakaran. 1926 Waldo Semon, inventor Amerika Serikat, dan perusahaan perakitan pesawat terbang Amerika, B.F. Goodrich mengembangkan metode yang menjadikan PVC “benar-benar plastik” sehingga PVC lebih fleksibel dan mudah diproses. 1935 Pipa PVC pertama dibuat di Jerman, dan setahun berikutnya sebagian besar rumah tangga di Jerman menggunakan pipa PVC untuk instalasi air minumnya. Selama Perang Dunia II, PVC menjadi penting sebagai bahan pelindung kabel pada instalasi-instalasi militer. Kini, ia juga digunakan secara luas untuk suplai air dan pembuangan limbah rumah tangga. 1937 Keran bertuas tunggal untuk mengontrol air panas dan dingin diciptakan oleh Alfred M. Moen dari Amerika Serikat. 1950 Produsen plastik di Eropa Barat dan Jepang mulai memproduksi pipa ABS ( akrilonitril butadiena stirena ). Metode untuk memproduksi PEX ( cross-linked polyethylene ) juga dikembangkan pada 1950-an. Pipa plastik menjadi semakin umum dan banyak digunakan, dengan berbagai bahan dan perlengkapan yang digunakan. Paralon Pipa plastik diperkenalkan di Indonesia awal 1960-an. Orang yang membawa teknologi itu adalah Pandji Wisaksana. Dalam biografinya Mata Hati Sang “Pioneer” Indonesia disebutkan, ide membuat pipa plastik muncul saat Pandji pergi ke Jepang. Di sana pipa plastik dinamakan X-plon. “Kuatnya sama seperti besi, tidak karatan dan enteng, menyambungnya gampang, pakai lem,” kata Pandji. Pandji pun tertarik dan lantas mengirimkan anak buahnya ke Jepang untuk belajar. Dia kemudian mendirikan PT Prakarsa Pralon tahun 1963 yang menghasilkan pipa plastik yang diberi nama paralon –sebutan yang populer untuk menyebut pipa plastik di Indonesia hingga saat ini. Karena yang pertama menghasilkan pipa plastik, Pandji dijuluki “Bapak Pralon Indonesia”. Dan salah satu yang merasakan kegunaan paralon adalah Masjid Istiqlal di Jakarta. Pandji menyumbangkan ratusan paralon untuk instalasi listrik dan air untuk pembangunan Masjid Istiqlal. PT Prakarsa kemudian joint venture dengan Jepang dan terbentuklah PT Pralon Corporation.* Majalah Historia Nomor 29, Tahun III, 2016
- Antara Lenin dan Stalin (Bagian I)
FIGUR Vladimir Lenin lebih dari sekadar mentor soal Marxisme bagi Iosif Dzugashvili alias Joseph Stalin dalam gerakan politik kiri bersama RSDLP (Partai Buruh Sosial-Demokratik Rusia). Maka di dalam diri politikus muda berusia 27 tahun itu timbul ledakan antusiasme ketika akhirnya bisa kopi darat (kopdar) dengan Lenin yang dianggapnya sosok “agung” Faksi Bolshevik di pekan Natal 1905. “Saya antusias mengharapkan pertemuan dengan elang gunung partai kami, sosok yang agung, tidak hanya dalam konteks politik tapi juga (penampilan) fisik karena saya membentuk imajinasi saya sendiri dari sebuah foto dari Lenin sebagai sesosok raksasa yang perkasa dan representasi pria sejati,” ungkap Stalin dikutip Stephen Kotkin dalam Stalin: Paradoxes of Power, 1878-1928. Sejak rapat partai wilayah Georgia di akhir November 1905, Stalin bersama dua rekannya terpilih mewakili agenda konferensi pertama partai di St. Petersburg. Stalin dan kedua rekannya sudah tiba pada 3 Desember 1905 dan berencana untuk kopdar dengan Lenin dan para petinggi partai lain di konferensi.
- Umat Advent Hari Ketujuh, Penanti Kedatangan Yesus Kedua Kali
RIBUAN orang berkumpul di Rochester, New York. Di kemah-kemah, di lapangan terbuka, atau di rumah-rumah ibadah, mereka memandang ke langit menanti kedatangan Yesus. Seperti menghadapi hari akhir dunia, banyak yang sudah meninggalkan pekerjaan atau menjual hartanya. Ada yang menyiapkan jubah khusus. Mereka siap menyongsong kedatangan Yesus turun dari surga menjemput umat tebusan.
- PGHB, Organisasi Guru Pertama Orang Indonesia
Hari Guru di Indonesia diperingati saban 25 November. Rujukannya kepada gelaran Kongres Guru Indonesia pada 25 November 1945. Kongres itu melahirkan organisasi guru bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sebelum PGRI, guru-guru Indonesia telah memperjuangkan nasib dan dunia pendidikan melalui Persatuan Goeroe Hindia Belanda (PGHB).
- Jenderal-Jenderal dari SMP Tarutung
TAK jauh dari makam Sisingamangaraja dan patung dada Ludwig Ingwer Nommensen di Balige, Toba, Sumatra Utara, ada sebuah sekolah. Namanya SMA HKBP Tarutung. Dulu, HKBP Tarutung bernama Christelijke MULO Dr. Nommensen.





















